The Cupid of YunJae

Cast:Kim Jaejoong (25 years old)

Jung Yunho (25 years old)

Jessica Jung as Jessica Lee (24 years old)

Leeteuk as Leader of Angel (28 years old)

Shim Changmin as Cupid of Yunho (24 years old)

Kim Junsu as Cupid of Jaejoong (25 years old)

Park Yoochun as Yunho Best Friend (25 years old)

Go Ahra as Yunho's Gitlfriend (25 years old)

Cho Kyuhyun as himself (Evil sure :D , 24 years old)

Kim Kibum (SJ) as Cho Kibum (36 years old)

Author: Kim Fabia/Kinomoto Fabia

Genre:Humor, Fantasy, Romance

Summary:Dua malaikat cinta (cupid) putus asa, Junsu dan Changmin tak sengaja bertemu untuk menyatukan YunJae yang sudah lama terpisah. Bagaimana usaha kedua malaikat ini untuk menyatukan YunJae sementara Yunho akan menikah 1 hari lagi?

Warning:no edit, typo(s) everywhere, yaoi ^^

Story Copyright ©Kim Fabia/Kinomoto Fabia

Malam yang pekat dan dingin telah berlalu, digantikan oleh pagi yang hangat dan cerah. Terlihat saat ini baru jam enam pagi lewat sepuluh menit, tapi dua malaikat cinta yang biasanya terlihat bersantai-santai kini terlihat mondar-mandir di depan pintu istana, membuat beberapa malaikat melirik curiga kea rah mereka berdua.

"Aish! Bagaimana ini? Kenapa Krystal belum juga datang?!" gerutu Junsu. Jika kalian bertanya siapa itu Krystal dia adalah malaikat dari kelas menengah yang bertugas menjaga pintu gerbang malaikat.

"Hyung, bisakah kau tidak membicarakan yeoja gatel itu?" ujar Changmin sembari melotot tajam kea rah Junsu. Bisa-bisanya sahabatnya itu memerkeruh paginya yang sudah keruh dengan menyebut-nyebut nama Krystal. Ah, kalian pasti bertanya-tanya mengapa Changmin terlihat tak senang dengan nama Krystal kan? Itu karena Krystal hobi sekali mengejar dan membuntuti Changmin dan tak jarang itu membuat Changmin kesal. Dari pada harus bertemu Krystal lebih baik ia bertemu sahabatnya saja, Kyuhyun. "Hyung, lewat sini!" desis Changmin sembari menarik keras tangan Junsu, nyaris membuat namja berpantat bebek itu terjungkal.

"Ya! Pelan….hmppfffttt" cepat-cepat Changmin membungkam Junsu dan membawanya terbang secepat mungkin, menghindari Onew yang tak sengaja lewat. Bagi Changmin terkadang Onew mirip tangan kanan Leeteuk. Dan kalau sampai mereka tertangkap oleh Onew itu sama saja dengan bunuh diri.

"Diamlah dan jangan berisik. Kita lewat pintu belakang kandang Pegasus saja" ujar Changmin yang kini tengah sampai di kandang Pegasus yang masih sangat sepi, Junsu mengekor dibelakangnya. "Sssttt….diamlah kuda-kuda manis" Changmin bicara sendiri saat berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang kandang Pegasus yang memang berbatasan langsung dengan langit Bumi.

"Changmin-ah, setelah ini bagaimana?" tanya Junsu setengah khawatir. Diliriknya Changmin yang terbang dengan kecepatan sedang disampingnya.

"Entahlah, hyung. Kita tunggu saja hasilnya nanti. Aku harap kau bisa memercepat kedatangan Jaejoong ke gereja sehingga mereka bisa bertemu secepat mungkin" ujar Changmin. "Kita berpisah disini dan bertemu di Gereja setengah sembilan. Sampai nanti, hyung!" pamit Changmin yang mulai memisahkan dirinya dari Junsu dan pergi kea rah rumah Yunho.

Sementara itu, dilain tempat dibawah sana, di kediaman keluarga Jung, tepatnya disalah satu kamar di lantai dua, tepatnya kamar Yunho, terlihat suasana masih begitu lengang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi namun entah kenapa Yunho terlihat tenang-tenang saja. Ah, dibandingkan lengang sepertinya lebih pantas jika disebut sepi meski disana ada penghuninya tentu saja. Dari sini dapat terlihat jika sang pemilik kamar tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Jung Yunho tengah duduk di pinggir tempat tidurnya sembari memandangi setelan tuxedo yang terpajang rapi di gantungan baju dengan pandangan kosong.

Entah kenapa, semakin mendekati waktu upacara pernikahannya perasaannya semakin tak menentu. Dia sendiri tak tau apa yang terjadi dan terus bertanya-tanya ada apa dengan dirinya? Dibandingkan rasa gugup, perasaannya lebih mirip seperti ketakutan yang tak jelas. Ketakutan seolah dia akan kehilangan sesuatu. Tapi untuk apa dia harus takut? Bukankah harusnya ia berbahagia karena sebentar lagi akan menikah?

TOK…..TOK….TOK….

Suara ketukan pintu menyadarkan Yunho dari lamunannya dan sebelum ia sempat menjawab, ibunya sudah masuk ke kamarnya.

"Aigooo…..Yun! Kenapa kau belum berganti pakaian juga? Kau bahkan belum mandi! Cepat mandi dan ganti pakaian sana! Kalau kau tidak cepat-cepat yang ada kita bisa ketinggalan!" ceramah panjang lebar.

"Eomma…." Panggil Yunho tiba-tiba, membuat menatap putranya dengan pandangan bingung.

"Ne?"

"Aku….aku bingung eomma. Perasaanku sangat tidak menentu" ujar Yunho sembari menatap wajah ibunya, mengamati jikalau ada perubahan ekspresi disana.

menghampiri putranya, seulas senyum tergambar jelas diwajahnya. "Yunho…." Panggil ibunya yang kini mulai membelai kepala putranya penuh kasih sayang, "Gwenchana. Tidak apa-apa jika kau merasa perasaanmu tak menentu, gugup dan sebagainya. Itu semua adalah normal. Hampir semua orang mengalaminya ketika akan menikah, begitu juga eomma dan appamu. Jadi tenanglah, itu semua hal wajar yang akan dialami ketika akan menikah setelah itu pasti semuanya akan baik-baik saja" terang panjang lebar.

Benarkah semuanya akan baik-baik saja?, batin Yunho. Karena entah mengapa ia merasa jika perkataan ibunya tidak cocok sama sekali dengan perasaan hatinya. Bukannya semakin tenang, yang ada Yunho malah semakin bingung.

"Jja! Cepat mandi dan ganti pakaian. Akan sangat memalukan jika mempelai prianya datang telat" ujar menepuk pelan pundak Yunho.

"Eomma, ngomong-ngomong siapa saja yang akan datang?" tanya Yunho ketika ibunya mulai beranjak meninggalkannya, membuat ibunya berhenti sejenak di ambang pintu.

"Keluargamu dan Ahra, beberapa sahabat eomma dan appa, juga beberapa sahabat baikmu" ujar dengan pandangan menerawang. "Ah! Eomma hampir saja lupa! Jaejoong dan keluarganya juga akan datang" lanjut dengan wajah semangat.

"Ne?" ulang Yunho, mendadak perasaannya sedikit membaik mendengar nama Jaejoong.

"Jaejoong, Kim Jaejoong. Sahabatmu sendiri waktu kau di Jinan, tetangga kita. Jangan bilang kalau kau lupa?" ujar .

Yunho hanya bisa membalas kata-kata ibunya dengan seulas senyuman. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan seorang Kim Jaejoong, eoh? Sahabatnya yang unik dan cerewet itu.

"Jja! Jangan diam saja! Cepat bersiap-siap sana!" teriak membuyarkan lamunan Yunho. Dan Yunho tak bisa melakukan apa-apa kecuali menuruti kata-kata ibunya.

XoXoXoXo

"JAEJOONGIE! SAMPAI KAPAN KAU MAU TERUS TIDUR?!" teriak Kim Heechul membahana ketika ia sampai di kamar Jaejoong dan mendapati putra bungsunya itu masih berada dibawah selimut. "Ya! Cepat bangun! Lihat ini sudah jam berapa?! Ya!" teriak Heechul sembari membuka lebar-lebar jendela kamar Jaejoong.

CTARRRR

Jendela kamar Jaejoong dijeblakkan dengan kerasnya hingga menimbulkan suara yang membuat beberapa ekor burung yang tengah bertengger di pohon cemara milik keluarga Kim langsung terbang ketakutan. Sedangkan di lantai bawah Hangeng hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan istrinya. Untung saja dia tidak punya penyakit jantung! Kalau iya dia pasti sudah kena serangan jantung berkali-kali.

"Ya! Sampai kapan kau aka tidur terus, eoh?! Bukankah kau sudah berjanji akan menghadiri pernikahan Yunho?!" teriak Heechul sembari menarik-narik selimut Jaejoong.

Jaejoong diam saja dan kembali menarik paksa selimutnya. Sebenarnya bukannya ia tidak mendengar kata-kata ibunya. Ia mendengarnya, tentu saja. Hanya saja ia mendadak malas menghadiri pernikahan Yunho. Yah, menurutnya lebih baik ia tidak usah menghadiri pernikahan Yunho sekalian dari pada ujung-ujungnya sakit hati gara-gara melihat orang yang sangat ia cintai menikah dengan orang lain.

"Aku masih ingin istirahat, eomma. Aku rasa aku tidak akan berangkat ke pesta pernikahannya saja" jawab Jaejoong dengan suara lirih, nyaris menyerupai bisikan. Ia harap untuk kali ini saja ibunya mengerti bagaimana perasaannya dan tidak memaksanya.

"Aish! Kau kan sudah istirahat 10 jam! Sudah jangan banyak alasan! Cepat mandi dang anti baju!" namun sayangnya ibunya tak menghiraukannya dan kembali menyeretnya untuk bangun. Kali ini langsung menyeretnya ke kamar mandi. "Jangan lama-lama! Ini sudah jam delapan lewat lima belas menit! Aku tak mau kita terlambat!" teriak Heechul saat Jaejoong sudah berada di dalam kamar mandi.

Dan saat itu juga Jaejoong berharap untuk mati saja dari pada harus menghadiri upacara pernikahan Yunho!

XoXoXoXoXo

Jam menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit ketika seorang Jung Yunho tengah berdiri diantara para tamu undangan yang hadir di halaman gereja yang tak lain adalah para sahabatnya sendiri.

"Akhirnya kau akan menikah juga, Yun! Aku ikut bahagia atas pernikahanmu!" ujar Yoochun dengan nada ceria sembari menepuk pelan lengan atas Yunho.

Yang sayangnya, diabaikan begitu saja oleh Yunho. Namja bermata musang itu malah mengedarkan pandangannya kesana kemari, mencari seseorang. Dari wajahnya terlihat jelas kegelisahan yang meliputinya.

"Kau ini sedang mencari siapa sih?" mau tak mau akhirnya Yoochun bertanya juga saking gemasnya melihat kelakuan sahabatnya.

"Ani. Aku tidak mencari siapa-siapa" ujar Yunho secepat kilat berusaha bersikap tenang. Namun gagal. Dan hal itu semakin membuat Yoochun curiga. "Aku minta satu" ujarnya pada pelayan yang tak sengaja lewat membawa satu nampan penuh berisi 7 buah gelas berkaki ramping berisi wine.

"Ah, tidak, tidak! Tidak lagi! Kau sudah minum dua gelas wine tadi, ingat?" cegah Yoochun yang langsung mengambil gelas wine Yunho dan mengembalikannya pada pelayan. Meski Yoochun tau jika Yunho tak gampang mabuk, tapi ia tidak akan membiarkan sahabatnya ini mabuk-mabukkan di pernikahannya sendiri. Tidak sebelum upacaranya berakhir.

Yunho kembali mondar-mandir tak jelas sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di tangga di samping gereja dan mengusap wajahnya dengan kasar.

Yoochun menepuk pundak Yunho pelan. "Hei! Tenanglah sedikit, oke? Aku tau kau mungkin gugup dan sebagainya tapi tidak usah berlebihan!" ujar Yoochun yang kini ikut-ikutan duduk di samping Yunho.

Yunho hanya menatap Yoochun sekilas dan kembali mengedarkan pandangannya ke para tamu yang datang. Berharap yang ia cari akan segera ia temukan. Yah, lagipula bagaimana Yunho bisa tenang jika orang yang ia cari sejak setengah jam yang lalu belum juga datang? Padahal lima menit lagi upacara pernikahan akan berlangsung. Dan entah mengapa setiap detik yang berlalu, setiap detik mendekati upacara pernikahannya, Yunho semakin merasakan ada hal aneh yang terus mengusik hati dan pikirannya yang seolah mengatakan jika semua ini tidak benar! Jika semuanya salah! Dan disinilah Yunho mulai ragu dengan pilihannya. Benarkah ia menginginkan Ahra? Benarkah ia mencintai Ahra?

Lain Yunho, lain lagi Changmin yang tengah terbang rendah di samping Yunho dengan senyum lebar terlukis di wajahnya melihat keraguan yang muncul di hati Yunho. Jika sudah ada keraguan sedikit saja akan orang yang akan dinikahi Yunho itu berarti kabar bagus! Karena dengan begitu benang merah yang salah akan lebih mudah di putuskan.

Namun secepat kilat wajah Changmin berubah ekspresi menjadi shock dan takut saat mulai memanggil Yunho untuk masuk ke dalam gereja, pertanda upacara akan segera dimulai. Dan Changmin sudah tidak bisa untuk tidak tenang lagi sekarang sementara sebentar lagi upacara pernikahan akan dimulai dan Jaejoong belum ada disini! Dan parahnya, Kyuhyun juga belum ada disini! Gosh! Bagaimana ini?!

Secepat kilat Changmin mengambil handphonenya dan menghubungi Junsu yang tengah berada entah dimana. "Ya! Apa yang kau lakukan, bebek bodoh?! Cepat bawa Jaejoong hyung kemari! Upacara pernikahannya akan segera dimulai!" ujar Changmin ketika Junsu mengangkat teleponnya.

BLETAK!

Sebuah handphone dari Junsu terbang mengenai jidat mulus Changmin. "Ya! Katakan sekali lagi aku bodoh dan kupastikan akan kulempar kau dengan pedang milik Choi Minho!" teriak Junsu emosi setengah mati. Baru saja ia sampai di gereja, dengan keluarga Jaejoong tentunya, ia sudah mendapat telepon dan makian dari Changmin.

"Ouch…." Changmin hanya bisa memegangi jidatnya yang memerah akibat lemparan dari Junsu yang tidak kira-kira sadisnya. Mungkin dulu Junsu sempat terobsesi menjadi pelempar bola di American Foot Ball tapi gagal makanya lemparannya sangat keras dan tepat sasaran. "Lagian hyung lama sekali sih" keluh Changmin yang tengah meringis kesakitan.

"Masih bagus juga Jaejoong hyung mau datang. Kau tau? Tadi dia tidak berminat datang sama sekali" ujar Junsu sembari mengelap peluh yang menetes dari jidat mulusnya. "Oh ya, ngomong-ngomong dimana kekasihmu?" tanya Junsu.

"Kekasih?" Changmin tak mengerti.

"Iya, kekasihmu. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun? Kalian pasti akan menghasilkan malaikat setengah setan yang lucu jika menikah nanti" lanjut Junsu setengah menggoda Changmin. Dan benar saja! Changmin langsung malu-malu kucing minta ditendang setelah mendengar kata-kata Junsu.

"YA! SIAPA YANG MAU MENIKAH DENGANNYA?!" sebuah suara mengagetkan mereka berdua, yang tak lain dan tak bukan adalah Kyuhyun. "Lebih baik aku tidak usah menikah seumur hidup dari pada harus menikah dengannya. Membayangkannya saja membuatku ngeri" ujar Kyuhyun dengan pedasnya.

"Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Aku tak mau misi ini hancur gara-gara pertengkaran bodoh kalian" ujar Junsu berusaha melerai. "Tapi ngomong-ngomong siapa disana?" tanya Junsu sembari menunjuk seorang namja berpakaian serba abu-abu yang terbang di belakang Kyuhyun dengan pedang terselip di pinggir pinggangnya.

"Dia ibuku" ujar Kyuhyun dengan nada sangat lirih, nyaris tak terdengar.

"Mwo?! Apa kau sudah gila?! Untuk apa membawa ibumu segala?!" desis Changmin sembari menatap horror kea rah namja berparas tampan dingin yang sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

"Kenalkan. Aku Cho Kibum, ibu dari Cho Kyuhyun. Aku disini untuk membantu kalian. Jadi jangan takut" ujar Kibum dengan wajah tenangnya. "Kalau kalian bertanya-tanya mengapa aku melakukannya, singkatnya karena aku punya dendam pribadi dengan Jessica. Lagi pula aku tak akan membiarkan putra sahabatku, Kim Jaejoong, menderita" ujar Kibum. Dan setelah berkata begitu ia langsung terbang masuk ke dalam gereja meninggalkan duo MinSu yang kebingungan.

"Jangan tanya aku kenapa. Kata eomma itu rahasia. Katanya nanti kalian juga akan tau sendiri pada waktunya" ujar Kyuhyun ketika menyadari duo MinSu menatapinya dengan pandangan menuntut penjelasan.

Merasa tak ada yang perlu dipertanyakan lagi, mereka segera menyusul Kibum ke dalam gereja.

"Ya! Apa yang kalian lakukan disini?!" sebuah sambutan 'hangat' langsung datang dari Jessica begitu mereka masuk ke dalam gereja dan berdiri tak jauh dari altar tempat upacara akan dilangsungkan.

"Harusnya aku yang menanyakan kenapa kau disini, malaikat kegatelan" ujar Kibum dengan sadisnya. Kyuhyun bahkan sampai bergidik ngeri melihat tingkah ibunya. Jarang sekali ibunya memaki orang secara langsung.

"Mwo?! Harusnya aku yang bertanya begitu pada kalian! Iblis tidak boleh memasuki gereja! Ini tempat suci!" ujar Jessica tak kalah sengit.

"Cih! Memangnya kau ini suci? Semasa hidup dulu kau bahkan terang-terangan ingin menghancurkan hubungan Heechul dan Hangeng" ujar Kibum.

CHECKMATE!

Jessica langsung membatu seketika.

"Ups. Maaf keceplosan. Hahaha" ujar Kibum yang membuat Kyuhyun, Changmin dan Junsu sweatdrop seketika. "Ya! Jangan diam saja! Cepat lucuti senjatanya dan amankan kuman pengganggu ini!" perintah Kibum.

Dengan cepat Junsu mengayunkan tongkatnya dan melucuti tongkat Jessica. Nyaris saja ia terlambat jika Kyuhyun tidak membantunya meringkus Jessica.

KLOTAK! SRASH!

Kyuhyun langsung melempar sebuah benda berbentuk menyerupai kelereng berjumlah lima buah yang langsung berubah menjadi tameng tak kasat mata yang memenjarakan Jessica di bagian luar gereja.

"Satu masalah selesai. Sekarang, tinggal kita urus YunJae" ujar Changmin sembari menatap kea rah Yunho yang tengah berdiri di altar, didepan pendeta.

Yunho berdiri di depan altar dengan perasaan was-was. Bunyi lonceng gereja yang harusnya bisa menenteramkan suasana hati semua orang nampaknya tak berlaku padanya. Sementara didepannya terlihat seorang yeoja yang tengah berjalan dengan menggambit tangan ayahnya, seorang yeoja yang nampak anggun dibalut gaun pengantinnya yang berwarna putih tulang yang sederhana, yang entah bagaimana terlihat biasa saja di mata Yunho sekarang.

Yang ada, Yunho malah tengah mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sedari tadi ia sangat harapkan kehadirannya. Dan matanya pun berhenti pada seorang namja yang duduk dipojokan baris keempat yang tengah menatapnya balik sebelum akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam saat menyadari jika tak lama lagi ia harus melepas orang yang sangat dicintainya.

Ya. Kim Jaejoong. Itulah nama dari orang yang dipandangi Yunho sedari tadi. Seorang namja yang nampak sangat cantik dalam balutan jas sewarna cokelat gurun pasir yang tengah duduk di pojokan baris keempat tanpa berani memandang ke depan dan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan agar air matanya tak jatuh saat mendengar suara sang pendeta yang memulai membuka upacara pernikahan.

"Eomma, aku mau pulang saja. Mendadak aku pusing" ujar Jaejoong yang berniat berdiri, meninggalkan kursinya.

"Sssttt….tahan sebentar lagi. Sangat tidak sopan kalau kita tiba-tiba menghilang" ujar Heechul sembari menahan tangan putranya.

God! Kenapa disaat seperti ini ibunya tak juga mengerti keadaannya?! Haruskah ia berteriak kepada ibunya jika hatinya sakit melihat semua ini? Haruskah ia mengatakan perasaannya yang sebenarnya dulu agar ibunya paham keadaannya?!

Jaejoong hanya bisa menunduk ketika Pendeta mulai mengatakan kata-kata suci tentang pernikahan dan janji suci pernikahan, ia berharap untuk saat ini saja telinganya menjadi tuli sehingga ia tak usah susah-susah mendengarkan hal-hal menyakitkan dihadapannya.

"Ya! Cepat sedikit!" ujar Changmin pada Kyuhyun yang telah berdiri disamping Yunho dan berusaha mencabut panah cinta yang menancap di jantung Yunho.

"Cho Kyuhyun! Hati-hati! Kalau kau tidak, kau bisa membunuhnya!" teriak Junsu yang langsung membuat Kyuhyun freeze dan langsung berhenti dari pekerjaannya.

Changmin dan Kibum menatap Junsu dengan pandangan 'Benarkah?

"Eung….kenapa kalian memandangiku?" tanya Junsu dengan kepolosannya.

GUBRAK!

"Lanjutkan saja, Kyu! Abaikan kata-katanya tadi!" ujar Changmin setengah berteriak dan melempar deathglare ke arah Junsu. Sayangnya Junsu tak menyadari hal itu, jadi dia cuek-cuek saja.

Setelah berkata begitu, Kyuhyun pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, mencabut panah cinta yang menancap di hati Yunho. Sesekali Kyuhyun mendengus kesal ketika tak bisa mencabut panah cinta itu. Fiuh! Ternyata susah juga melakukan hal ini. Changmin, Junsu dan Kibum yang melihatnya hanya bisa was-was sembari berdoa agar panah cinta itu lepas dari jantung Yunho.

KRAK…..KRAK…..KRAK….

Sebuah retakan kecil tercipta di panah cinta tersebut ketika Jung Yunho mendadak terdiam saat pendeta membacakan janji suci pernikahan. Perasaan takut dan perasaan bersalah dihati Yunho terasa semakin membesar saat matanya menangkap sosok Jaejoong yang tengah menunduk dengan punggung bergetar. God! Ia tidak tau kenapa semuanya bisa terjadi, namun di sini, di dada kirinya, ia merasa sesak melihat Jaejoong menangis.

Bibir Yunho terbuka dan berujar tanpa suara. "Joongie….." ujar Yunho lirih, sangat lirih hingga tak seorang pun yang dapat mendengarnya bahkan para cupid dan Evil disana.

"Go Ahra, apakah kau berjanji menerima menerima Jung Yunho sebagai suamimu yang sah dalam hdiupmu, mencintainya keadaan suka dan duka?" ujar sang pendeta pada Ahra.

Ahra menjawab dengan mantap. "Ya, aku bersedia" ujarnya dengan senyum merekah di wajahnya.

Kyuhyun rasanya ingin sekali muntah mendengarnya. Sedangkan Jessica tersenyum penuh kemenangan saat melihat Kyuhyun belum juga berhasil mencabut panah cinta yang menancap di hati Jung Yunho.

Sekarang sang pendeta mengalihkan pandangannya pada Yunho. "Jung Yunho, apakah kau berjanji menerima Go Ahra sebagai istrimu yang sah dalam hidupmu, mencintainya dalam keadaan suka dan duka?" ujar sang pendeta. Ia menepuk pelan pundak Yunho saat namja itu tak mengindahkan kata-katanya dan kembali mengulangi kata-katanya.

Yunho terdiam sejenak sebelum menjawab. Dipandanginya pendeta didepannya yang tengah menunggu jawaban, Go Ahra yang berdiri dengan senyum terukir di wajahnya, kedua orang tuanya dan orang tua Ahra yang tersenyum sembari mengangguk ke arahnya, sahabatnya sejak SMP–Park Yoochun dan terakhir…..Jaejoong yang mulai beranjak dari tempat duduknya.

Ani, ani, ani! Yunho tak ingin Jaejoong pergi meninggalkannya! Tidak untuk sekarang dan tidak untuk selamanya. Tidak! Jaejoong tak boleh pergi! Ingin sekali Yunho berteriak dan mencegah Jaejoong agar tidak pergi darinya. Tapi mana mungkin? Semua orang pasti akan kebingungan jika ia melakukannya. Tapi….

Oke! Sudah cukup Yunho menjadi pengecut sepuluh tahun lalu dengan tidak mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Jaejoong! Dan ia tak ingin hal itu terulang kembali! Tidak untuk yang kedua kalinya! Jika ini memang benar hari bahagia Yunho, hari dimana ia bisa memutuskan akan hidup bahagia dengan pendamping hidupnya maka hanya satu orang yang akan ia pilih untuk menemaninya hingga akhir hayatnya.

CRACK!

Bunyi panah cinta yang berhasil dicabut oleh Kyuhyun terdengar tepat bersamaan dengan Yunho yang menyadari pilihannya salah. Dan saat itu juga Kyuhyun mengambil pedangnya dan

CRASH!

Bunyi sesuatu yang terputus yang tak lain adalah benang jodoh berwarna kuning kemerahan yang berada di jari kelingking Yunho dan Ahra terputus sudah. Tepat saat Yunho membalikkan dirinya dan mulai berlari mengejar Jaejoong, meninggalkan Ahra dengan wajah marah dan kecewa yang mendalam dan para tamu yang hadir dengan wajah bingung. Saat itu juga, secepat kilat Junsu terbang dan menembakkan panah cinta Jaejoong ke jantung Yunho sebelum Jessica yang mengamuk sempat meloloskan diri.

DRAP….DRAP….DRAP…..

Suara langkah kaki Yunho yang tengah berlari di halaman gereja terdengar oleh Jaejoong yang memang berjalan belum jauh. Syukurlah Yunho belum terlambat untuk mengejar Jaejoong.

Jaejoong yang melihat Yunho cepat-cepat menghapus air mata yang ada di wajahnya, meski ia tak bisa menghilangkan jejak air matanya dan matanya yang berwarna merah. "Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak masuk ke dalam?" tanya Jaejoong dengan suara dibuat setenang mungkin, meski begitu ia tak bisa menyembunyikan suaranya yang serak dan terdengar sedih.

"Mengejarmu" ujar Yunho membuat Jaejoong menaikkan alisnya, meski sebenarnya dalam hati Jaejoong senang setengah mati, tapi ia tak mau salah paham dan menyembunyikan perasaan bahagianya. "Joongie…." Yunho mulai meraih kedua tangan Jaejoong dan menggenggamnya erat, membuat Jaejoong membulatkan matanya, "jika ini adalah hari dimana aku akan menentukan kebahagiaanku, dengan siapa aku hidup hingga akhir hayat nanti, aku ingin hidup dengan orang yang sangat aku cintai seumur hidupku. Dan orang itu bukanlah Ahra atau siapa pun. Melainkan kau, Kim Jaejoong" lanjut Yunho panjang lebar sebelum Jaejoong sempat memotong perkataannya.

"T–tapi, kita belum pernah pacaran, Yun. Lagi pula, apa kau yakin dengan semua ini? Kau belum mengenal kebaikan dan keburukan dalam diriku. Bagaimana jika kau menyesal nantinya?" ujar Jaejoong. Ia belum yakin dengan semua ini, jika ini memang keajaiban, maka ini semua terlalu cepat!

Yunho meletakkan telunjuknya di bibir cherry Jaejoong yang membuat pipi namja cantik itu langsung memerah tanpa bisa dicegah. Yunho tersenyum melihatnya. "Kau ingat? Kita pernah bersama delapan tahun yang lalu, sejak aku pertama kali pindah ke Jinan hingga hari kepindahanku ke Seoul. Dan delapan tahun itu sudah lebih dari cukup untuk mengenal semua yang ada dalam dirimu" ujar Yunho.

"Tapi…..bagaimana jika aku berubah tanpa kau sadari?" tanya Jaejoong.

"Aku akan menerima segala hal yang ada dalam dirimu, baik yang dulu maupun sekarang" ujar Yunho mantap.

"Meski aku berubah ke arah yang lebih buruk?" uji Jaejoong. Ia ingin melihat seberapa jauh Yunho mencintainya dan mau menerimanya.

Yunho mengangguk. Ditariknya tangan kanan Jaejoong dan ditempelkannya ke dada kirinya, kemudian ia juga melakukan hal yang sama –menempelkan tangannya ke dada kiri Jaejoong. "Lihatlah, bahkan jantung kita pun bergerak seirama" ujar Yunho meski terkesan sedikit tidak nyambung.

Kali ini, Yunho berlutut didepan Jaejoong, mengabaikan rerumputan yang basah yang bisa saja mengotori celana jeansnya. "Kim Jaejoong, dengan rendah hati, aku memintamu menjadi istriku. Mau kah kau menerima cinta dari pria bodoh dan sederhana ini?" ujar Yunho sembari menatap doe eyes didepannya.

Jaejoong terkikik mendengar ucapan Yunho sebelum akhirnya menatap sepasang mata musang didepannya yang memancarkan kesungguhan dan ketulusan. "Tanpa kau tanya dua kali, aku dengan senang hati menjawab 'ya'" ujar Jaejoong.

Saat itu juga Yunho langsung bangkit dan menggendong tubuh Jaejoong, memutar-mutar tubuh ramping calon istrinya itu sembari tertawa histeris. Jaejoong hanya bisa tersenyum melihat tingkah Yunho yang sedikit kekanakkan.

Yunho kemudian menurunkan Jaejoong dan menggandeng tangan namja cantik itu. "Sekarang, kita masuk ke dalam. Kita sempurnakan cinta kita didalam" ujarnya yang dibalas anggukan oleh Jaejoong.

Benang merah yang tadinya terputus kini pun menyambung kembali diantara kedua namja yang tengah jatuh cinta itu.

XoXoXoXo

Lima belas menit berlalu sudah sejak Yunho pergi meninggalkan Ahra, pendeta dan para tamu undangan yang hadir di upacara pernikahan. Beberapa orang kini mulai bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Kekacauan kecil pun mulai terjadi saat sang mempelai pria tak juga datang.

Ahra hanya bisa menahan air matanya agar tak jatuh saat menyadari Yunho tak juga kembali. Mungkinkah ini nasibnya? Dipermalukan dan ditinggal pergi di acara pernikahannya sendiri?

"Rasakan itu yeoja pengganggu hubungan orang!" ujar Kyuhyun dengan sadisnya. Sepertinya kebaikan yang ia lakukan hari ini cukup untuk tidak membuatnya kepanasan di tempat suci ini. Changmin, Junsu dan Kibum yang tengah berdiri di atap gereja mengangguk semangat mengiyakan kata-kata Kyuhyun.

KRIET….BLAK….

Perlahan pintu terbuka dan menjeblak, menampakkan Yunho yang berdiri diambang pintu, membuat semua orang yang ada digereja mengarahkan pandangan bahagia dan lega saat sang mempelai pria kembali. Begitu juga dengan Ahra yang kembali menyunggingkan senyumnya. Pernikahannya gagal batal, kira-kira itulah yang ada dibenaknya.

Namun senyum Ahra tak bertahan lama ketika melihat Yunho tak datang sendirian, melainkan bersama orang lain! Dan Yunho menggandeng tangan orang itu sepanjang jalan menuju altar, tempat sang pendeta berada.

"Anda sudah kembali, tuan Jung?" ujar sang pendeta yang baru menyadari jika Yunho sudah berada di depannya. "Lalu, siapa yang tengah bersama Anda?" tanyanya kemudian, melirik Jaejoong yang sudah berdiri disamping Yunho.

"Pak Pendeta yang terhormat, pernikahan itu adalah hal sakral yang hanya akan dilakukan sekali seumur hidup dengan orang yang kita cintai, kan?" ujar Yunho. Sang pendeta hanya bisa mengangguk membenarkan kata Yunho. "Kalau begitu, aku akan melakukan pernikahan ini dengan orang yang aku cintai segenap hatiku. Kim Jaejoong" ujar Yunho. Ia kemudian menatap Ahra dan membungkuk kecil. "Maaf Go Ahra, aku memang akan menikah tapi bukan denganmu. Karena orang yang kucintai sesungguhnya, sejak delapan belas tahun lalu hingga sekarang dan selamanya hanyalah satu, Kim Jaejoong" ujar Yunho sembari menggenggam erat tangan Jaejoong.

"MWO?!" Ahra tak bisa untuk tidak menyembnyikan kekagetannya mendengar kata-kata Yunho. "Apa maksudmu?! Kau bilang kau mencintaiku?! Bukankah kau yang mengatakannya sendiri waktu memintaku menjadi pacarmu?!" teriak Ahra emosi. Ia mulai beralih ke sisi Jaejoong dan hendak mengamuk Jaejoong. "Ya! Kau! Lepaskan calon suamiku! Kau sama sekali tak berhak atas Yunho! Pergi! Lepaskan!" teriak Ahra histeris. Air mata mulai jatuh membasahi wajahnya.

Secepat kilat Yunho pasang badan untuk melindungi Jaejoong dari amukan Ahra. Sang pendeta yang melihatnya hanya bisa menyebut nama Tuhannya.

"Ahra, Ahra! Tenanglah! Kau tidak boleh begitu, chagy! Yunho bukan untukmu" ujar sang ibu yang kini mulai menarik anaknya diibantu oleh dua orang laki-laki sahabat Ahra.

"Tapi eomma, Yunho tercipta untukku dan hanya aku yang berhak menikah dengan Yunho!" ujar Ahra histeris. Ia meronta-ronta minta dilepaskan.

"Tidak Ahra! Yunho bukan untukmu! Sadarlah!" teriakan membuat Ahra membatu seketika. Saat itu juga saat Ahra diam, menyuruh orang untuk membawa pergi Ahra. "Maafkan aku atas kekacauan yang dibuat putriku" ujar pada semua tamu undangan yang ada dan keluarga Jung. Ia berjalan menghampiri Yunho. Untuk sesaat Yunho mengira akan memarahinya, namun yang terjadi selanjutnya memmbuat Yunho kaget. "Yunho, aku meresetuimu menikah dengan siapa pun yang kau cintai. Dan aku harap dia tak mengecewakanmu. Jagalah suamimu kelak, Nak" ujar yang kini menepuk sayang kepala Jaejoong dengan senyuman sebelum akhirnya meninggalkan gereja, menyusul putri dan istrinya yang telah pergi terlebih dahulu.

Ruangan gereja kini mendadak menjadi sepi dan lengang. Nyaris tak ada yang berbicara setelah kepergian keluarga Go.

"Jadi, bagaimana sekarang? Kita lanjutkan acaranya?" tanya sang pendeta yang kini menatap couple baru didepannya, YunJae.

Semua orang kini menatap Yunho dan Jaejoong penuh tanda tanya akan apa yang terjadi selanjutnya. Orang tua Yunho telah mengangguk ke arah putra dan calon menantu mereka, pertanda memberi restu. Kini giliran keluarga Jaejoong yang angkat bicara.

"JANGAN KHAWATIR JOONGIE! KAMI MERESTUIMU!" teriak Heechul dari tengah kursinya, membuat semua orang menoleh ke arahnya. Hangeng dan Siwon pura-pura tak kenal dengan Heechul, Changmin, Junsu dan Kyuhyun tertawa melihatnya, Kibum tersenyum singkat sembari membatin 'dia sama sekali tak berubah', sedangkan Jaejoong rasanya ingin pergi dari sana saat itu juga melihat kelakuan ibunya dan Yunho hanya bisa tersenyum penuh pengertian ke Jaejoong.

"Baiklah, kalau begitu kita mulai acaranya kembali sekarang" ujar sang pendeta kembali memulai membacakan janji suci pernikahan dan segala tetek bengeknya sebelum ke acara inti.

Baik Yunho maupun Jaejoong tersenyum bahagia. Sesekali mereka memandang satu sama lain dengan pandangan bahagia yang tak dapat terlukiskan dengan tangan yang saling bergandengan.

"Kim Jaejoong, apakah kau berjanji menerima Jung Yunho sebagai suamimu yang sah dalam hdiupmu, mencintainya dalam keadaan suka dan duka hingga mau memisahkan?" tanya sang pendeta.

"Ya. Aku bersedia" ujar Jaejoong tanpa melepaskan pandangannya dari sepasang mata musang didepannya.

Sang pendeta kini beralih pada Yunho. "Jung Yunho, apakah kau berjanji untuk menerima Kim Jaejoong sebagai istrimu yang sah dalam hidupmu, mencintainya dalam keadaan suka dan duka hingga maut memisahkan?" tanya sang pendeta. Kali ini cukup satu kali karena Yunho tak teralihkan perhatiannya seperti tadi.

Yunho menatap doe eyes milik Jaejoong dengan seulas senyum sebelum menjawab. "Ya. Aku bersedia" ujarnya.

"DUDE!" teriak Yoochun yang berdiri di baris kedua dan….

SYUUU! GREP!

Lemparan Yoochun yang tak lain adalah sebuah kotak kecil berbalut beludru berwarna merah berhasil ditangkap oleh Yunho. Ternyata diam-diam Yoochun sudah menyiapkan cincin nikah untuk YunJae karena ia yakin suatu saat nanti mereka pasti akan bersatu kembali.

Jaejoong menatap kotak kecil yang berada di genggaman Yunho dan matanya membulat saat melihat cincin pernikahan cartier yang sempat ia taksir ketika di Jepang. "Bagaimana bisa?" ujarnya tanpa suara pada Yunho.

Yunho hanya menjawab dengan kerlingan mata yang seolah mengatakan, "Itu rahasia" yang membuat Jaejoong memukul lengannya pelan sebelum sepasang couple itu tertawa kecil.

"Ehem" deheman sang pendeta menyadarkan mereka berdua untuk berhenti bercanda. Para tamu yang melihatnya sontak terkikik geli.

Yunho mengambil cincin yang lebih kecil dan memasangkannya ke jari manis Jaejoong, sebuah cincin dari perak dengan garis dibagian bawahnya dengan batu berlian kecil menghiasi tengah-tengahnya. Didalamnya terukir nama mereka masing-masing. Jaejoong untuk cincin yang lebih besar dan Yunho untuk cincin yang lebih kecil. Dan kini giliran Jaejoong yang memasangkan cincin yang satunya–yang lebih besar, ke jari manis Yunho.

"You may kiss your bride" ujar sang pendeta memersilahkan kedua mempelai berciuman.

Perlahan, Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Dan saat Jaejoong merasakan jika wajah Yunho semakin mendekat–saat ia merasakan nafas Yunho yang menderu pelan di atas bibirnya (philtrumnya)–ia memejamkan matanya. Tangannya otomatis mengalung di belakang leher Yunho saat namja bersstatus suaminya itu mulai melumat bibirnya pelan dan penuh dengan kasih sayang, dengan tangan Yunho berada di pinggan ramping Jaejoong.

"Saranghaeyo, Boo" bisik Yunho ditelinga Jaejoong.

"Nado saranghae, Yunnie" balas Jaejoong dengan senyum tulus dan pipi merona setelah berciuman. Dan setelahnya terdengar riuh rendah tepuk tangan dari semua yang hadir disana, termasuk empat mahluk tak kasat mata di langit-langit gereja.

"Kalian sah menjadi sepasang suami istri" tutup sang pendeta.

Dan benang merah yang sempat terputus pun kini menyambung kembali, menjadi lebih kuat dan bersinar lebih terang sesuai dengan cinta mereka.

END