I'm Sorry I Can't Protect You
A Piece of Fact
DO KYUNGSOO
KIM JONGIN
OTHER
A Multichapter fic about KaiSoo's Brothership Relationship
Genre: Family/Brothership
Don't like don't read.
Enjoy!
Tik tok tik tok…
Sebuah jam weker di kamar D.O, menunjukkan pukul dua dini hari. Bocah kecil itu masih terlelap dalam tidurnya, dia merapatkan selimutnya dan berbalik ke suatu sisi. Dengkuran halusnya juga terdengar cukup jelas.
"dio…" ujar kakak sepupunya. Dia menumpukan kedua lututnya di salah satu sisi ranjang dan mengusap kepala D.O, tetapi tidak menginterupsi tidurnya D.O.
"Kalau aku meninggalkanmu, jadilah anak yang bisa hidup mandiri ya? Kalau perlu bantuan, mintalah bantuan tetangga atau Kai, tetapi jangan sampai merepotkan mereka" lanjutnya lagi. Dia tersenyum, tersenyum sedih dan air matanya yang menetes
"minta tolong ajarkan neneknya Kai bagaimana caranya memasak, agar kau bisa mengasah kemampuan memasakmu itu. Sampaikan pada Kai dan neneknya bahwa aku senang mengenal mereka, dan satu la—"
"hentikan omong kosongmu itu" potong seseorang dengan sebuah katana di tangannya. Kakak D.O menoleh dan ekspresinya tidak berubah, seperti telah mengenal orang itu
"bunuh aku setelah aku menyelesaikan kata-kataku untuk adikku" jawabnya dan kembali menatap D.O kecil yang masih terlelap. D.O bergerak dan mengubah posisinya menjadi terlentang, lalu dengan kasar dia menarik napas lalu membuangnya
"satu lagi, aku menyayangimu, Do Kyungsoo" katanya. Entah sudah berapa banyak air matanya yang menetes di kasur D.O.
Orang itu, yang memegang katana, mendekat dan berhenti di belakang kakak D.O, setelah kakak D.O berdiri dan sedikit menjauh dari ranjang D.O, orang itu langsung menusuk perut kakak D.O, membuat darahnya mengalir dengan deras. Orang itu menangkap kakak D.O setelah sebelumnya hampir terjatuh dan membuka perut kakak D.O dengan kasar
Kakak D.O, yang masih sadar merasakan sakit yang luar biasa, dia hanya bisa menangis menyesali perbuatannya dulu dan sekarang, perbuatannya akan dibalas
Orang itu menarik usus kakak D.O sampai habis dan mengeluarkan organ-organ tubuh lainnya. Ginjal kanan dan kirinya juga ikut diambil, dan disaat orang itu akan mengambil ginjalnya, kakak D.O menghembuskan napas terakhirnya, dengan darah yang melumuri seluruh tubuhnya.
Setelah orang itu puas mengobrak-abrik isi perut kakak D.O, orang itu kembali melubangi dada kiri kakak D.O, persis di tempat jantung berada.
Dia menghancurkan tulang rusuk kakak D.O dan mengambil jantungnya dengan paksa.
"ini balasan perbuatanmu" kata orang itu memasukkan katana ke dalam kantung katana-nya dan pergi dari kamar D.O
.
.
.
D.O membuka matanya dengan tiba-tiba. Napasnya terengah-engah dan peluh yang mengalir dari pelipisnya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk dan menoleh ke sisi kiri ranjangnya, mendapati sebuah jam weker biru tua menunjukkan pukul dua dini hari
"apa itu tadi?" gumamnya, napasnya masih terengah-engah
"itu hanya mimpi 'kan?" tanyanya pada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian dia mencium bau anyir darah yang sangat kuat, dan seketika tubuhnya gemetaran
"bohong, ini pasti imajinasiku saja…" D.O memberanikan dirinya menoleh ke kanan dan—
"HAAAA! TIDAK MUNGKIN!"
D.O menemukan tubuh kakak sepupunya yang terbujur kaku dengan perut yang terbuka sangat lebar dan dada kiri yang terlihat seperti dihancurkan
Organ tubuhnya seperti usus, hati, kedua ginjal dan jantungnya tercecer di lantau dan lantai kamarnya sudah penuh darah
"kak bangun…" bisik D.O berlari ke tubuh kakaknya dan menggoyangkan kedua bahunya, tidak ada respon. Tubuh kakak D.O sudah dingin dan kaku
"kakak… bangun kak…" kata D.O lagi
"kak…KAKAK!" teriak D.O memeluk tubuh kakak sepupunya yang sudah tidak bernyawa.
Syok. Itu yang dialami D.O sekarang. Dia tau bahwa dia sudah tidak mempunyai orang tua, dia diasuh selama delapan tahun oleh kakak sepupu nya. Setiap pagi, siang, sore, bahkan malam, D.O selalu mempunyai teman sehari-hari nya. D.O belajar memasak dari kakak sepupunya itu, bersekolah dibiayai oleh kakak sepupu nya dan kebutuhan lainnya. D.O bergantung kepada kakak sepupunya. Tetapi mulai saat ini, D.O sudah tidak mempunyai siapapun lagi.
.
.
.
"hyung, kalau ingin menangis, menangis saja. Jangan seperti manusia tidak berekspresi begitu" kata Kai pada D.O
Kedua bocah ini memutuskan untuk menghabiskan waktunya di padang rumput tersebut. Mereka tidak melakukan apapun kecuali berdiam diri di bawah pohon dan menatap sang surya menjelajahi langit hari ini
"hyung…" kata Kai dan menggoyangkan bahu D.O dengan sangat keras
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
D.O mengerjap dua kali dan melirik Kai dengan tatapannya yang datar. Berbeda dengan D.O yang Kai kenal
"hyung menangi—"
"KAI! Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan! Apa aku harus menangis?! Berpura-pura tegar?! Berdiam diri seperti orang yang hanya mempunyai setengah nyawa?!" teriak D.O memeluk Kai dengan erat dan menangis di bahu Kai dengan sesenggukan.
Kai terdiam mendengarkan D.O dan membalas pelukan D.O lalu mengusap punggungnya
"aku sudah tidak mempunyai siapapun lagi, aku sudah tidak mempunyai keluarga. Kumohon tolong kembalikan semua anggota keluargaku agar aku tidak hidup sendiri" lanjut D.O
"aku ingin memeluk orang tuaku tetapi tidak bisa! Aku ingin hidup lebih lama bersama kakakku juga tidak bisa!"
"tolong kembalikan kakakku Ya Tuhan… kumohon, aku tidak bisa hidup sendiri… siapa yang membiayai sekolahku nanti? *hiks* Siapa yang menjadi orang yang selalu menyambutku dirumah saat aku pulang?" D.O masih menangis
"*hiks* kau tau rasanya Kai? Benar-benar sakit. Aku belum bisa menerima ini semua *hiks*" kata D.O dengan suara yang sedikit melemah
Kai masih terdiam, dia mengerti betul apa yang dirasakan D.O. dia juga pernah merasakan hal yang sama seperti D.O saat orang tuanya meninggal 4 tahun yang lalu
D.O masih menangis, sesenggukan. Perlahan-lahan dia berhenti menangis dan napasnya yang mulai teratur.
"aku mengerti hyung, aku pernah merasakan hal yang sama" kata Kai melepas pelukan D.O dan tersenyum lebar
D.O menatap Kai dengan senyum yang dipaksakan
"jangan tersenyum kalau tidak bisa tersenyum untuk saat ini. Hyung, kau boleh menangis tetapi cukup sekali saja, kalau kau terus bersedih kakak sepupu hyung tidak akan tenang disana" lanjut Kai masih tersenyum dan menepuk-nepuk kedua pipi D.O
"aku masih belum menerima kenyataan" balas D.O dengan murung
"mau tidak mau kau harus menerima kenyataan, hyung… tinggallah bersamaku" kata Kai mengajak D.O berjalan mengelilingi padang rumput itu
"tapi—"
"tidak ada tapi-tapian! Aku tidak ingin melihatmu kesepian terus. Nenekku pasti mengerti" potong Kai memukul lengan D.O. yang dipukul hanya diam saja. Kai menunjuk ke langit dan D.O ikut melihat apa yang Kai tunjuk
"aku pernah bermimpi bahwa burung yang terbang itu adalah ayam goreng yang terbang…" kata Kai tertawa pelan
"memangnya ada ayam goreng terbang?" timpal D.O menoyor Kai
"suatu saat pasti ada" jawab Kai dengan percaya diri.
Kedua bocah itu tertawa bersama di tengah-tengah padang rumput itu.
Inilah kenyataan. Maka pada suatu saat nanti, D.O harus bisa menerima kenyataan…
Tetapi mereka melihat matahari terbenam di padang rumput itu sambil bercanda, membuat D.O lupa akan apa yang terjadi pada hari itu…
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Ini chapter tiga loh, chapter tiga O- wkwkwk
Di chapter tiga ini masih menceritakan masa kecilnya mereka berdua…
Chapter depan sudah cerita yang sebenarnya .-.
Maaf ya kalo ff ini masih banyak kurangnya, apalagi nggak dapet feelnya pas kakak sepupunya D.O dibantai…
Sekian dulu untuk chapter tiga~! Ditunggu ya chapter empat nya XD
