I'm Sorry I Can't Protect You
.
.
It Hurt
.
.
DO KYUNGSOO
KIM JONGIN
OTHER
.
.
A Multichapter fic about KaiSoo's Brothership Relationship
Genre: Family/Brothership
.
.
Don't like don't read.
Enjoy!
.
.
.
Ini ajaib. Setelah dinyatakan bahwa persentase hidupnya kurang dari 15%, Kai akhirnya sadar. Dia telah meninggalkan masa koma nya. Tetapi luka-luka di tubuhnya belum sembuh total dan itu menyebabkan dia masih harus dirawat di rumah sakit, tetapi bukan di ruang ICU lagi.
Tetapi sayang, Kai kehilangan seluruh memorinya dan tidak akan bisa kembali.
Dan itu berdampak pada semua member EXO. Terutama D.O
D.O sangat terpukul dengan hilangnya memori Kai secara permanen. Dia tidak bisa mengingat apapun. Dia tidak bisa mengingat D.O walau sudah berusaha dengan cara apapun. Dan itu hampir membuat D.O menyerah.
"aku tidak ingin Kai keluar dari EXO" kata Suho duduk bersimpuh di depan manajer oppa
"aku juga, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mengingat apapun. Bagaimana caranya dia perform?" kata manajer oppa. Suho menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa membantah lagi perkataan manajer oppa
Setelah hening beberapa saat, manajer oppa membuka suara "aku akan membiarkan Kai tetap di EXO. Tetapi dengan satu syarat—" kalimatnya terpotong oleh Suho
"apa itu?"
"EXO harus mengadakan goodbye stage secepatnya"
Suho tertegun. Mana mungkin dia dan teman-temannya harus mengadakan goodbye stage? Dan sedangkan mereka mempunyai jadwal yang sangat padat. Tetapi Suho tersenyum dan mengangguk dengan penuh semangat "baiklah. Semoga dengan ini bisa mengembalikan ingatan Kai"
Dan, disinilah mereka. Berdiri diatas panggung untuk menggelar goodbye stage setelah mendapat persetujuan dari pihak SM. Mereka terpaksa membatalkan seluruh jadwal mereka dan menggelar konser ini.
dan tentu saja, perform tanpa Kai.
Fans pun bertanya-tanya apa yang terjadi dengan EXO sampai menggelar goodbye stage dengan sangat mendadak? Dan mereka pun tidak tampil bersama Kai.
SM merahasiakan hal ini, entah dalam alasan apa. Dan bahkan SM tidak memberitahu fans/wartawan bahwa Kai amnesia permanen.
.
.
.
"hey Kai!" sapa Kris saat menjenguk Kai bersama seluruh member EXO lainnya. Kai tersenyum dengan lebar saat hyung-hyungnya menjenguk dirinya.
"hei" Kai menyapa kembali
D.O mendekati Kai dan menepuk bahu Kai
"apa kau sudah mengingat sesuatu?"
Kai menggeleng pelan "aku tidak bisa mengingat apapun. Dan apa yang membuatku berada disini juga tidak tahu"
"kau pasti ingin ingatanmu kembali kan?" tanya Chanyeol. Kai tersenyum dengan lebar dan menjawab
"tidak. Biarkan seperti ini"
Semuanya terdiam. Mereka semua kaget dengan jawaban Kai yang tidak ingin mengembalikan ingatannya. Kai ingin hidup dengan ingatan ini?
"haha jangan bercanda!" gelak Baekhyun, membuat Kai mengerutkan keningnya
"Baek, aku benar-benar tidak ingin mengembalikan ingatanku. Apa hubunganku dengan kalian juga aku tidak tahu. Apakah kalian temanku?" kata Kai dengan ketus dan memukul tangan D.O yang ingin menggenggamnya
"kau teman—bukan, saudara kami. Aku sudah memberitahu kemarin. Kami semua saudaramu dan kita adalah EXO!" kata Suho mengepalkan kedua buku-buku jarinya.
"EXO… aku pernah mendengar nama itu" kata Kai bergumam.
"kembalikan ingatanmu, ya? Aku ingin Kai yang lama kembali" ujar Chen tersenyum dan menepuk tangannya
"jangan memaksaku. Aku ingin istirahat sekarang" jawab Kai sedikit berteriak.
"Kai!—"
"diam! Aku ingin hidup seperti ini!" Kai memotong ucapan Lay dan menutup kedua telinganya.
"baiklah, jika itu maumu. D.O akan menemanimu disini. Kami makan siang dulu" pamit Lay dan langsung beranjak dari ruangan itu.
Kai POV
Mereka itu kenapa? Menyuruhku untuk mengembalikan ingatanku? Apa aku begitu penting di antara mereka?
Dan orang ini. Namanya D.O. kenapa dia terus ingin berada di sisiku? Memangnya aku siapanya? Jika berani, aku akan menghajarnya karena seenaknya menggenggam tanganku. Tetapi, aku takut pada Suho—hyung. Katanya sih dia yang paling besar di EXO, jadi aku harus memanggilnya dengan sebutan hyung
Jika dia marah, terlihat sangat seram. Maka dari itu aku takut memukul D.O itu
"Kai" D.O memanggilku. Aku masih berpura-pura tidur dan tetap membelakanginya
"Kai, apa kau benar-benar tidak mengenalku?" tanyanya lagi. Dia itu bodoh atau bagaimana? Bertanya sesuatu hal yang sudah jawabannya sudah jelas.
"Kai—"
PLAK
Dengan emosi, aku menamparnya saat dia berdiri di sisi ranjang. Aku tidak suka dipaksa. Seharusnya dia tahu itu.
Kepalanya menoleh kesamping kearah aku menamparnya. Pipinya memerah dan—basah? Apa dia menangis? Aku perhatikan sekali lagi, dan memang dia menangis. Menahan untuk tidak mengeluarkan suaranya dan perlahan, kepalanya menunduk.
Aku tidak ada niat untuk meminta maaf, karena bagiku dia yang salah. Dia memaksaku. Dan aku tidak suka. Aku tidak nyaman.
Dengan mengambil napas yang dalam, D.O beranjak dan meninggalkanku sendirian di kamar ini. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun sebelum pergi. Terakhir kulihat, dia berkata 'sakit' saat sebelum menutup pintu.
Persetan dengannya. Aku ingin sendiri sekarang.
Normal POV
Keesokan harinya, Baekhyun menemani Kai di rumah sakit. Kai sedang tidur dan Baekhyun mengganti-ganti channel tv dengan bosan.
Baekhyun mematikan tv dengan kesal dan melirik kearah Kai.
Semalam, dia tidak sengaja melihat tanda kemerahan di pipi kiri D.O, dan tanda itu seperti bekas tamparan. Tidak. Jelas sekali itu bekas tamparan.
Saat D.O membuat makan malam di dorm, bekas tamparan itu terlihat cukup jelas. Tetapi member lain tidak mempermasalahkannya; atau mungkin tidak ingin membahasnya. D.O juga tidak berbicara tentang bekas tamparan itu. jadi Baekhyun juga ikut diam.
Baekhyun bernyanyi dengan pelan. Itu lagu kesukaan Kai, dan dia sengaja menyanyikan lagu itu untuk mengembalikan sedikit demi sedikit ingatan Kai walau dia tahu bahwa amnesia yang diderita Kai adalah amnesia permanen.
EXO tidak bisa dengan Kai yang ingatannya hilang. Mereka merasa bahwa Kai adalah orang asing diantara mereka. Tetapi mereka sayang pada Kai, dan tidak membiarkan Kai keluar EXO begitu saja.
Entah Baekhyun sadar atau tidak, Kai sudah terjaga sejak Baekhyun menyanyi, tetapi Kai berinisiatif mendengarkan lagu itu sampai selesai karena Kai sangat menikmati lagu itu.
"aku tahu kau disana. Masuklah" kata Baekhyun setelah menyanyi.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan menunjukkan sosok D.O dengan membawa sebuah tas yang berisi bahan-bahan makanan
"hey" sapa D.O pada Baekhyun. Baekhyun mengangguk dan tersenyum ceria
"hey"
"bagaimana dengan Kai?" tanya D.O menaruh tas belanjaannya dan berdiri di salah satu sisi ranjang
"kau lihat sendiri kan? Dia sedang tidur"
"aku tahu, maksudku, bagiaman keadaannya?"
"keadaannya membaik, tentu saja" Baekhyun terkekeh pelan
"baguslah, cepat sembuh ya Kai! Semuanya menunggumu di dorm, hehe" kata D.O menepuk kepala Kai lalu mengambil dan menaruh beberapa buah jeruk dan apel diatas meja dari tas belanjaannya
"aku pergi dulu, Baek" D.O berlalu dari ruangan itu dan seketika ruangan itu menjadi sepi
"ugh.."
Baek tersentak dan menoleh ke Kai "ada apa?"
"tidak, apa barusan D.O kemari?" tanya Kai, Baekhyun mengangguk
"dia meninggalkan beberapa buah untukmu" kata Baek beranjak dari kursinya dan mengambil sebuah apel. "mau?"
Kai mengangguk pelan.
Baik Baekhyun maupun Kai, mereka berdua tidak melihat secarik kertas yang berada dibawah buah-buahan itu
.
.
.
Cepat sembuh, Kai.
.
.
.
"sial. Anak itu tetap hidup"
"kau menabraknya dari mana?"
"dari sisi kiri, jadi sewaktu menabrak mobilnya, dia kena benturan cukup keras. Bahkan dia terjepit antara jok dengan setir mobilnya. Tetapi dia selamat. Benar-benar anak ajaib"
"ah sial. Aku sudah berhenti mengirimi terornya, tetapi dia masih selamat. Apa kulanjutkan saja menerornya ya?"
"jangan begitu! Kudengar dia amnesia permanen, jadi jangan mengiriminya terror lagi. Mentalnya akan—"
"tidak mungkin lah! Mungkin hanya satu atau dua kali aku mengiriminya terror dan kemudian aku turun tangan untuk membantainya"
"ah jangan lupa, kita krisis ekonomi. Jadi tidak ada sesuatu untuk dimakan. Jadi, cepatlah bunuh anak itu dan kita akan mendapat keuntungan dengan menjual organ-organ tubuhnya di black market! Yeyy!"
"oh kalau urusan makan gampang. Kita cukup untuk membuat sup garam 3 kali sehari. Dengan begitu kita tidak akan kelaparan sebelum membunuh anak itu"
"dan setelahnya kita akan terkena darah tinggi. Ide yang sangat bagus"
"jangan mengejekku, bodoh. Baiklah aku tidak akan mengirimi terornya lagi. Pasti dia tidak akan menganggap serius akan surat yang kukirimi"
"tungu beberapa minggu saja dulu. Pastikan bahwa memorinya sudah kembali sedikit demi sedikit"
"dia itu amnesia permanen, memorinya tidak akan bisa kembali. beberapa minggu? Yeah maka dari itu kau terus cari informasi tentang anak itu, dan juga bocah yang namanya kyungsoo itu. dengan begitu, akan mempercepat aksi kita dan kita akan mengucapkan selamat tinggal kepada sup garam!"
"betul juga ya... Ah aku tidak sabar mencabik-cabik badan si Kai itu!"
.
.
.
Malam harinya, D.O tengah berkutat pada suatu buku yang cukup tebal. Dia menulis sesuatu dengan tulisan yang acak-acakan dan kertas yang hampir seluruhnya basah. Tangannya gemetaran dan sesekali terdengar isakan.
Itu, buku diary nya bersama dengan Kai.
Buku itu hanya dia dan Kai yang tahu. Dia menaruhnya di laci lemari dengan kunci yang mereka berdua pegang. Dan dengan begitu, tidak ada yang bisa membuka laci itu sembarangan.
D.O berhenti menulis dan mengambil sebuah tisu lalu menghapus air matanya. Dia terlihat sangat sakit. Bukan, dia memang sakit.
Kemarin dia ditampar Kai, membuat D.O syok akan perlakuan Kai yang begitu kasar terhadapnya. Sebuah pisau tak kasat mata menusuk dadanya hingga dia kesakitan; dia tidak bisa menahan ini lebih lama. Setiap menatap Kai, rasa sakit itu kembali datang dan selalu membuatnya menangis.
Entah mengapa, akhir-akhir ini D.O menjadi orang yang sangat gampang menangis.
Dengan kasar, dia menutup buku itu dan membanting dirinya di kasur. Beberapa saat kemudian, dia tertidur.
Karena kaca jendela yang tidak tertutup, angin berhembus dan membuka buku itu kembali, ke halaman yang baru saja D.O tulis.
"—ingatanmu dan ingatanku bagaikan Neverland. Semua canda tawa kita, semua memori yang kita lakukan bersama, semuanya ada di Neverland. Kembalilah ke Neverland. Aku menunggumu. Dan jika kau tidak ingin kembali ke Neverland, bawalah aku kemanapun kau pergi. Ijinkan aku berjalan bersamamu, di sisimu sampai akhir hayat ini.
Aku merindukanmu. Aku mencintaimu, Jongin"
.
.
.
To Be Continued.
Yey ini chapter 8 o/
Di chapter ini aku masih ngeblank, dan yang terakhir itu, yang isi diary itu baru cuplikan diary tersebut. Nanti seiring updatenya ff ini, akan aku perlihatkan isi diary itu yang lengkap '-'a
Isi diary itu aku juga terinspirasi dari lagu Peter Pan. Cuma terinspirasi kok hehe .-.
Nyaa~ sudah dulu ne~~
Mind to review? Kamsahamnida!
