I'm Sorry I Can't Protect You

.

.

It's Nightmare

.

.

DO KYUNGSOO

KIM JONGIN

OTHER

.

.

A Multichapter fic about KaiSoo's Brothership Relationship

Genre: Family/Brothership

.

.

Don't like don't read.

Enjoy!

.

.

.


D.O membalas pelukan Luhan dan ikut tertawa bersama Luhan. Sehun yang kalah oleh Luhan hanya bisa mendengus kesal dan menyeruput bubble tea nya sampai habis tak bersisa. Pasangan D.O-Luhan tidak kunjung melepas pelukannya sampai Sehun selesai meminum bubble tea miliknya.

"hei hyung-hyung sekalian" Sehun menginterupsi. Membuat D.O melepas pelukannya dan tersenyum lebar kepada Sehun "ada apa adik manis?"

Lagi, Luhan tertawa terbahak-bahak melihat D.O menggoda Sehun. Dengan kesal, Sehun melempari Luhan dengan gelas plastik bekas bubble tea nya tadi. "apanya yang lucu?! Kau menertawakanku?!" teriak Sehun

"bisa jadi" Luhan mengangkat kedua bahunya dan memulai game sendirian.

Livingroom menjadi sunyi. Hanya terdengar suara-suara khas video game dari televisi, tempat Luhan bermain video game

Dengan santai, D.O beranjak dan mendapati Sehun dan Baekhyun sedang bercanda bersama Kai di meja makan dorm.

D.O menghela napas panjang dan memasuki kamarnya. Dia lelah setelah merapihkan kamarnya bersama Chen dan dia ingin mengganti bajunya dengan piyama dan tidur di kasur empuknya

Setelah mengganti bajunya dengan piyama, D.O mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur yang berada di antara kasur D.O dan Kai.

Dia melirik jam kecil disana; pukul 11.23 PM KST.

Cukup lama juga dia merapihkan kamarnya dan bercengkerama dengan HunHan tadi. Dengan perlahan, dia merebahkan dirinya diatas kasur dan menarik selimutnya sebatas pinggangnya lalu mencoba untuk tidur.

.

.

.

D.O memutar badannya menghadap arah yang berlawanan pada posisi sebelumnya. diliriknya jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Dia mendesah pelan, karena tidak mungkin dia bangun dan membangunkan member lainnya. Yang ada dia akan ditendang.

Dia mengalihkan pandangannya menuju punggung Kai yang hanya terbalut kaus putih yang tipis. Punggungnya naik-turun beraturan, terlihat sangat jelas bahwa dia sudah tidak terjaga. Lagi, D.O mendesah pelan. Ditatapnya punggung Kai dengan seksama. D.O menyibak selimutnya dan membuka laci meja di sampingnya dengan perlahan, menunjukkan sebuah kunci lemari disana.

Dia mengambilnya dan terkejut melihat nama yang sengaja ditempel dengan selotip disana. Kai. Itulah yang tertera disana, bukan D.O.

Jika itu milik Kai, lalu milik D.O kemana?

Panik. D.O mulai panik. Dengan tergesa-gesa, dia membuka pintu lemari dan memasukkan kunci laci lemari dalam lubang yang memang disediakan untuk mengunci laci.

D.O tersenyum lega saat diary itu masih dalam keadaan seperti sebelumnya, menandakan bahwa tidak ada orang yang mengambilnya. Setelah memastikan diary tersebut aman, D.O mengunci laci itu dan menutup pintu lemari. Kunci milik Kai, dia teruh kembali di laci meja tidurnya.

"Kai…" ujar D.O lirih

D.O terdiam beberapa saat. Dan menghela napasnya.

Disisi lain, Kai sebenarnya masih terjaga. Dia mendengar apa yang terjadi, tetapi dia tidak ada niat untuk bergerak. dia ingin terlihat tidur oleh D.O

Kai mendengar D.O menarik selimutnya dan bergerak entah kemana. Setelah dirasanya D.O sudah terbang ke alam mimpinya, Kai membuka kepalan ringan tangannya yang berada di sebelahnya—yang berada di bantal—dan melirik sesuatu yang digenggamnya sedari tadi. Dia mendesah pelan lalu menggenggam kembali benda itu. beberapa detik kemudian, Kai benar-benar tertidur

Paginya, D.O bagun kesiangan. Dia bangun pukul 8 lebih dan seharusnya dia bangun pukul 6. Dia melirik ke kasur Kai. Kosong. Setelah mengumpulkan nyawa, D.O beranjak ke kamar mandi.

Suara percikan air terdengar, cukup lama. Terkadang sedikit asap keluar melalui celah-celah pintu menandakan bahwa D.O mandi dengan air hangat.

Setelah membersihkan dirinya, D.O keluar kamar mandi dan mengganti piyama nya dengan baju rumahan. Cukup kaus abu-abu polos dan celana dibawah lutut.

"lho?" D.O terheran melihat suasana dorm yang sunyi. Hanya ada Kris, Suho, Chanyeol dan Luhan yang terlihat. Yang lain…. Mungkin sedang mencari udara segar

"mana yang lainnya?" D.O bertanya pada Chanyeol. Chanyeol menjawab "mereka sedang shopping. Aku heran jam segini mereka berangkat shopping"

D.O terkekeh pelan saat mendengar jawaban Chanyeol. Ya memang, mana ada orang yang pergi shopping pada pukul 8 pagi seperti ini? Yang ada mereka melihat toko-toko yang belum dibuka.

"ah, begitu. Apa yang kau lakukan yeol?" D.O menghampiri Chanyeol yang sedang menonton tv dengan bosan.

"entahlah, berita ini membahas tentang pembantaian lagi" kata Chanyeol. Berita itu membuat D.O penasaran, dan ikut menontonnya.

"kau tahu, katanya Kai juga diincar sebagai korban pembantaian itu. entah benar atau tidak" kalimat Chanyeol sukses membuat D.O membulatkan matanya dan menoleh ke Chanyeol "apa?"

"kau pasti mengerti maksudku"

D.O terdiam. Dia sebenarnya ingin mengucapkan yang sebenarnya. Tetapi lidahnya kelu dan selain itu, hatinya menolak untuk mengatakan yang sebenarnya.

"benarkah? Mungkin mereka hanya membual" D.O tertawa ringan, diikuti Chanyeol "ya, bisa jadi. Atau hanya ingin mencari sensasi" tambah Chanyeol.

Mereka berdua kembali menonton tv, tanpa ada rasa khawatir akan apa yang dikatakan presenter tadi. Tetapi itu semua, adalah kenyataan. Bahwa Kai menjadi incaran pembantai sebagai korban. Tetapi entah kapan waktu itu akan datang.

.

.

.

D.O sudah berada di kamarnya, berbaring di kasurnya tanpa mengganti piyama terlebih dahulu. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan tidak ada tanda-tanda bahwa Kai bersama member lainnya sudah pulang. Dan sedetik tepat dia berpikir begitu, terdengar pintu dorm terbuka dan suasana diluar langsung terdengar sangat ramai. Mereka baru pulang, dan D.O tidak berinisiatif untuk keluar dari kamarnya. Dia memilih untuk tetap berdiam diri di kasurnya, menggenggam sebuah amplop cokelat yang tertuju untuk Kai.

Beberapa menit kemudian, suasana diluar menjadi hening dan pintu kamar terbuka, menunjukkan Kai yang memasuki kamar perlahan sembari menenteng jaket tebalnya.

"Kai" D.O memanggil Kai saat Kai sudah menarik selimutnya, dan membelakangi dirinya. Kai menjawab dengan mengerang pelan.

"ini, ada surat untukmu" D.O menaruh amplop itu di meja. Dan beberapa saat kemudian, Kai berbalik menatap D.O dengan tatapan bertanya-tanya

"dari?" tanya Kai. D.O mengangkat bahunya dan kembali merebahkan dirinya membelakangi Kai "aku tidak ingin membacanya. Mungkin saja itu privasi" jawab D.O menutup matanya membiarkan Kai membaca suratnya.

Setelah beberapa saat terdiam, Kai beranjak dan mencolek bahu D.O

"ini siapa?" tanya Kai lagi, membuat D.O membuka matanya dan mengubah posisinya bersandar pada kepala ranjang

"dia tidak mencantumkan namanya?" D.O bertanya balik, dan melihat Kai menggeleng pelan. Kai memberikan D.O suratnya mengisyaratkan untuk membacanya.

D.O mengambil surat itu dan matanya melebar melihat tulisan itu. persis seperti surat yang dikirim untuk Kai beberapa waktu yang lalu.

"ada apa?" Kai bertanya saat melihat ekspresi D.O

"bukan apa-apa. Biarkan aku membacanya" D.O mulai membaca surat itu


To: Kim Jongin

From: -

Hei bocah, apa kabarmu? Apa kau mengingat siapa aku?

Ah, bahkan kau belum mengetahui siapa aku haha

Semoga ingatanmu kembali ya, walaupun itu mustahil sih

Tetapi aku yakin. Kyungsoo dan Junmyeon percaya akan keajaiban

Aku pun juga.

Aku berharap kau datang ke kamar nomor 666, cukup mengetuk pintunya saja


SRAK

D.O sudah meremas surat itu sebelum dia menyelesaikan membaca surat itu. melihat itu, Kai semakin bingung "hei, ada apa?"

"bukan apa-apa" jawab D.O dengan memasang senyum lebarnya

"itu hanya sasaeng" lanjutnya, menirukan kalimat Kai saat pertama kali menerima surat itu. Kai mengangguk, pertanda mengerti apa yang dikatakan D.O barusan. Dia merebahkan dirinya di kasur dan mulai tidur dengan posisi menghadap D.O.

D.O menghela napasnya dan melanjutkan tidurnya.

D.O terbangun saat seseorang menarik kakinya. Dia melihat seseorang menarik kakinya dengan kencang. Berpakaian serba hitam, bahkan dia pun memakai topeng hitam.

"kembalikan kakakku…" orang itu bergumam, D.O yang merasa nyawanya sudah terbang setengah pun mengangkat alisnya. Apa maksud orang ini? Apa hubungannya denganku? Tanya D.O dalam hati.

"lepaska—"

"kembalikan. Kembalikan!" kalimat D.O terpotong saat orang itu berteriak dan menariknya dengan keras sampai jatuh ke lantai—

"HAH—!" D.O mengambil napas dengan sangat kasar dan membuka matanya dengan tiba-tiba. Walaupun udara dingin, keringat terlihat mengalir dari pelipisnya.

D.O perlahan membuang napasnya dengan perlahan, mengetahui itu hanya mimpi. Buruk. Ya, mimpi buruk.

Dia melirik ke jendela yang tirainya setengah terbuka. Salju kembali turun. Pantas saja mala mini udara terasa sangat dingin.

"mimpi apa itu?" gumam D.O. selimutnya sudah berada dibawah lututnya. Dia mengubah posisinya mejadi duduk dan bersandar di kepala ranjang.

"ada apa denganmu?" kata seseorang di ambang pintu. D.O menutup kedua matanya dan menghela napasnya pelan "aku… bermimpi buruk, hyung"

Suho tersenyum dengan lembut dan duduk di tepi kasur dan mengusap punggung D.O dengan lembut

"ibuku selalu begini jika aku mimpi buruk" katanya masih menyunggingkan senyum malaikat-nya "apa yang kau mimpikan?"

D.O tersenyum pelan dan berkata "begini hyung. Aku bermimpi ada orang bertubuh tegap menarik kakiku saat tidur—"

Suho masih terdiam, menunggu D.O melanjutkan kalimatnya.

"lalu dia berteriak 'kembalikan kakakku! Kembalikan kembalikan!' dan dia menarikku hingga aku terjatuh. Saat itu aku terbangun" D.O melirik Suho dengan tatapan bertanya

"aku tidak tau siapa orang yang menarikku. Dia mengenakan pakaian serba hitam. Bahkan memakai topeng hitam"

"mungkin saja ada orang yang merindukan kakak orang itu? atau mungkin kakak orang itu anggota keluargamu.." kata Suho masih mengusap punggung D.O "lupakan saja, mungkin kau terlalu banyak pikiran. Ayo keluar, sudah pagi" lanjut Suho menarik D.O untuk keluar dari kamar.

.

.

.

Itu hanya mimpi biasa. Ya, itu mimpi biasa. Tetapi tidak bagi D.O. mimpi it uterus terngiang di benaknya. Bahkan dia sampai menyentuh wajan panas karena terlalu memikirkan mimpi itu. siapakah orang itu? apa itu kakeknya? Ayahnya? Atau…pembantai itu? atau yang lebih parah….Kris?! oh tidak mungkin itu Kris. Kris tidak mungkin sejahat itu—tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mungkin saja kan?

Tetapi suara orang itu berbeda dengan Kris. Badannya pun sedikit lebih gemuk dari Kris. Tangannya tidak se kekar itu, dan Kris tidak mungkin sekuat itu menariknya—tidak ada yang tidak mungkin. Do Kyungsoo, kau melupakan bahwa Kris mantan pemain sepak bola dan basket.

Kenapa aku berpikiran yang aneh-aneh tentang Kris?

Alunan piano membuyarkan lamunan D.O. dia sudah menebak, pasti Lay bermain piano di livingroom dorm. Biasanya, disaat senggang seperti ini Lay selalu memainkan piano di dorm. Terkadang juga Chanyeol dan Baekhyun. Atau yang hanya bermain asal-asalan….Kai. Kai selalu mencairkan suasana dengan memainkan piano ala kadarnya, terkadang ia menekan tuts piano dengan sangat sembarangan. Dan itu membuat semua member EXO tertawa terbahak-bahak, lain halnya dengan Lay, Chanyeol dan Baekhyun yang akan mengusirnya dari kursi piano saat mendengar bermain piano dengan sembarangan. Tentu saja mereka hanya bercanda.

Kali ini Lay memainkan My Lady, lagu kesukaan Kai. Suasana dorm hening sesaat. Hanya terdengar suara letupan minyak dari wajan di dapur dorm. D.O mendapati beberapa member melirik ke Kai, dimana dia sedang duduk di livingroom mendengarkan Lay memainkan piano.

Apakah dengan mendengar ini, Kai akan kembali ingatannya?

"baek, ini lagu apa?" Kai berbisik pada Baekhyun di sebelahnya. Baekhyun tersenyum sangat lebar, masih memakan kue bolu yang tersaji di meja.

"kau tidak ingat lagu ini?" bisik Baekhyun. Kai menggeleng pelan dan mengangkat kedua alisnya "aku pernah mendengar lagu ini. Aku merasa sangat familiar dengan lagu ini" Kai berkata dengan keras, seluruh member menoleh ke Kai.

"hyung, apa impianmu?" Kai kecil bertanya pada D.O kecil saat mereka sedang berada di padang rumput tempat mereka pertama kali bertemu. D.O mendesah pelan lalu menatap langit senja. Tidak ada awan di langit sana, membuat pemandangan matahari tenggelam sangatlah indah, ditambah dengan munculnya beberapa bintang.

"impianku, bertemu orang tuaku" jawabnya dengan enteng. Se-enteng apapun nada yang D.O keluarkan, tersirat kesedihan yang mendalam dalam nada berbicaranya.

Kai tersenyum dengan lembut, dan menunjuk sebuah bintang di langit "lihat"

D.O melihat ke arah Kai menunjuk dengan telunjuknya "biarpun kau tidak bisa melihat orang tuamu, mereka melihat hyung duduk disini bersamaku" D.O mengerutkan keningnya

"itu Ayahnya hyung, kau bisa melihat bintang yang itu?" Kai bertanya, menatap D.O dan beberapa detik kemudian D.O mengangguk pelan dan kembali menatap bintang itu

"aku yakin ayah hyung sedang tersenyum melihat hyung!" lanjut Kai semakin melebarkan senyumnya

"dan bintang yang bersinar lebih terang itu adalah Ibunya hyung" Kai menunjuk bintang yang bersinar lebih terang. "mengapa harus ibu yang bersinar lebih terang?" tanya D.O

Kai masih tersenyum "karena ibu yang sudah melahirkan kita. Dia bahkan mengandung kita selama 9 bulan" dia masih menunjuk bintang itu

"ibunya hyung juga pasti tersenyum melihat hyung disini" Kai merendahkan volume suaranya. Dan mereka terdiam.

Kai menarik kembali tangannya dan memeluk kedua lututnya.

Mereka berdua tidak membuka suara, yang terdengar hanyalah angin yang berhembus pelan membuat rambut kedua bocah itu bergoyang pelan

"apakah mereka sayang padaku?" D.O berbisik, memeluk kedua lututnya semakin erat. Kai menoleh dan menatap D.O masih dengan senyumannya

"tentu saja hyung! Orang tua hyung sangat menyayangi hyung!"

"darimana kau tahu?"

Kai menepuk pundak D.O "orang tua selalu menyayangi anaknya"

Kalimat itu membuat D.O terdiam. Matanya sedikit melebarmendengar kalimat Kai. Dan kali ini angin berhembus cukup kencang.

Serpihan memori itu kembali membayangi D.O. dia tersenyum pelan dan kembali melihat Kai. Namja itu sedang bermain bersama Baekhyun. Sesekali Kai tertawa terbahak-bahak, apa yang mereka mainkan?

Keesokan harinya, D.O bangun lebih awal; pukul 5 pagi. Dia tidak bermimpi apa-apa. Dia menghela napas lega dan membuka pintu kamar.

Saat dia membuka pintu kamar, dia menemukan orang yang berada di mimpinya kemarin, laki-laki bertubuh tinggi dan tegap dengan berpakaian serba hitam, berdiri di depan pintunya.

D.O membulatkan matanya saat orang itu mencekiknya dengan keras, dia merasa kakinya sudah tidak memapaki lantai

"argh—lepaskan" D.O berteriak berusaha melepas tangan kekar orang itu, tetapi dia kalah kuat darinya

"kembalikan kakakku!" dengan geram, orang itu mengeluarkan katana dan jika di slow motion, topeng orang itu sedikit robek di bagian pipi kirinya tetapi D.O tidak menyadari itu.

"apa yang kau—ergh" D.O meringis saat tangan orang itu mencekik D.O dengan sangat keras

D.O merasa pandangannya kabur dan napasnya memburu. Ini akhir hayatku.

Dan mungkin kalimat itu benar. Orang itu langsung menusuk dada kiri D.O dengan katanya dengan sangat keras membuat darah terciprat kemana-mana—

"ARGHHHHH!" D.O berteriak menyibak selimutnya dengan kasar dan dengan spontan, dia terduduk. Napasnya memburu, dan juga keringat. Walaupun ini musim dingin.

Dia menoleh menemukan Kai terduduk di tepi ranjangnya dan terlihat sangat kaget. Rahangnya seperti ingin terbang dan mata yang hampir membulat dengan sempurnya.

"ada apa?" Kai bertanya setelah berusaha bersikap biasa walau dia tahu dia terlihat seperti orang dungu tadi.

D.O tersenyum dan mendengar pintu dibuka dengan kasar, menampakkan Suho, Kris, dan Baekhyun. Mereka bertiga terlihat khawatir.

"ada apa? Siapa yang berteriak tadi?" Kris bertanya dan menatap Kai-D.O bergantian.

"hey siapa yang berteriak?" Baekhyun bertanya lagi. Dia sudah menduga bahwa D.O yang berteriak karena melihat napas D.O yang memburu

Suho memasuki kamar KaiSoo diikuti Kris dan Baekhyun lalu mengusap punggung D.O

"kau bermimpi itu lagi?" Suho bertanya setelah menduduki tepi kasur D.O.

D.O menjawab dengan anggukan

"kau bermimpi apa?" celetuk Baekhyun menepuk pucuk kepala D.O

"mimpi buruk. Sudahlah lebih baik kita keluar" balas Kris menarik Baekhyun keluar. Baekhyun terpaksa mengikuti Kris.

Setelah pintu kamar ditutup, D.O membuka suara. Tidak hanya Suho, Kai pun juga ikut mendengar mimpi D.O

.

.

.

"...begitu?" Suho bertanya setelah mendengar mimpi D.O

"bukan mimpi biasa itu hyung, mengapa dia ada di mimpiku? Aku bahkan tidak mengenaln—"

"mungkin saja itu anggota keluargamu!" Kai memotong kalimat D.O dengan mengucapkan kalimat itu dengan sedikit lantang. Suho beranjak dan menepuk kepala Kai dengan pelan "mungkin. Tidurlah, ini masih tengah malam"

Suho keluar kamar KaiSoo dan beberapa saat kemudian, D.O memutuskan untuk kembali tidur

Berbeda dengan D.O, Kai tidak beranjak tidur. Dia masih terduduk di tepi kasurnya, melihat D.O yang tertidur

"hei" Kai berbisik, wajahnya terlihat sedih

"ada apa denganmu?" bisik Kai lagi. D.O tidak merespon, dengkuran halus D.O terdengar sesaat setelah Kai berbicara.

Kai merogoh sakunya dan mengambil sebuah kunci. Kunci laci dalam lemari mereka. Tetapi di kunci itu tertulis nama 'D.O'. jelas sekali itu milik D.O

Kai beranjak dari tempat tidurnya, menuju satu-satunya lemari di kamar mereka. Dengan perlahan, dia membuka kedua pintu lemari dan membuka laci kecilnya.

Kai tertegun melihat isi laci itu. Hanya ada sebuah diary yang cukup tebal. Dengan ragu, dia mengambil diary itu. Napasnya tercekat saat membaca nama yang tertera di sampul buku tersebut.


Kai

(Kim Jongin)

D.O

(Do Kyungsoo)


Siapa itu Kim Jongin? Siapa itu Do Kyungsoo? Pikirnya dalam hati.

Matanya melebar. Badannya gemetaran dan dia langsung mendekap buku itu.

Dia kembali menutup laci itu, menguncinya, dan menutup pintu lemari.

Buku diary itu dia taruh di salah satu ruangan di tas ranselnya bersama dengan kunci milik D.O.

Lampu kamar KaiSoo padam meninggalkan dua anak adam yang sudah terlelap di dalamnya.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, D.O masih saja bermimpi buruk. Terkadang dia pindah ke kamar Suho atau memainkan video game di livingroom dorm saat tengah malam. Dia tidak bisa tidur setelah bermimpi buruk.

Dia pun takut untuk tidur.

Pagi ini, D.O kembali ditemukan dalam keadaan tidak sadar, alias dia tertidur saat bermain video game oleh Luhan. Dia masih memegang stik game dan game dalam keadaan pause. Dengan hati-hati, Luhan membangunkannya

"hei, bangun.." bisik Luhan mencolek pundak D.O

.

.

.

To Be Continued