I'm Sorry I Can't Protect You
.
.
I Love You
.
.
DO KYUNGSOO
KIM JONGIN
OTHER
.
.
A Multichapter fic about KaiSoo's Brothership Relationship
Genre: Family/Brothership
.
.
Don't like don't read.
Enjoy!
.
.
.
D.O melihat sosok berjubah hitam itu di depannya. Orang itu membelakanginya. Dengan berbekal keberanian, D.O berjalan perlahan dan perlahan sampai dia berada tepat di belakang sosok berjubah hitam itu.
Berbeda dengan sebelumnya, sosok itu tidak mencoba untuk membunuh D.O. dia tetap diam walaupun suara derap kaki D.O terdengar di ruangan yang serba putih dan yang ujungnya tidak terlihat itu.
D.O terkesiap saat sosok itu melepas jubah hitamnya perlahan dan terlihat sosok itu bertubuh kecil dan rambut panjang sepanjang pinggangnya.
Yang membuat tubuhnya tinggi dan tegap adalah kostum hitam mengerikan—bagi D.O—
"kamu datang juga"
D.O terlihat terkejut. Dia tidak menyembunyikan keterkejutannya, dia masih berdiri disana. Merasa penasaran dengan wanita di depannya ini dan tanpa berpikir panjang, dia berkata "siapa kamu? Kamu yang mencoba bunuh aku?"
"….. AHAHAHAHAHA!" si wanita tertawa terbahak-bahak sampai suaranya menggema di ruangan yang serba putih itu. dan menyebabkan D.O mengerutkan keningnya
Orang yang aneh.
Setelah berusaha menghentikan tawa-nya, wanita itu berbalik dan menatap D.O sembari tersenyum lebar.
"apa kamu tidak mengenalku?" tanyanya. Suaranya yang sedikit cempreng membuat wanita itu terkesan sangat ceria. Wanita ini juga sudah terlihat seperti wanita yang sudah menikah. Dan wanita itu dengan D.O memiliki banyak persamaan fisik.
Mata bulat, kulit seputih susu, hidung mancung, rahangnya, bibir yang sedikit tebal dan rambut hitam kecoklatan.
Tetapi, wanita ini mempunyai lesung pipi saat dia tersenyum.
"tidak" D.O menjawab dengan polosnya membuat wanita itu terkekeh pelan.
"sebenarnya…" dia menjeda kalimatnya, memasang pose berpikir
"namaku Hwang Yoo Ra!" lanjutnya menjetikkan jarinya.
"Hwang… Yoo Ra? Siapa i—" kalimat D.O terpotong oleh wanita bernama Yoo Ra itu
"ne! ne! tetapi aku menikah dengan pria bernama Do Kyungsang, jadi namaku Do Yoo Ra! Hehe"
Do? Itu margaku 'kan?
.
.
Dia— astaga!
Wajah D.O memerah, dan matanya yang mengabur akibat air mata menggenang di pelupuk matanya
"Do Kyungsang… Do Yoo Ra… lalu, apa kalian mempunyai anak?" D.O menjawab, memastikan sesuatu.
Yoo Ra terdiam. Ekspresi wajahnya berubah dan sedikit menunduk. Bukannya menjawab pertanyaan D.O, dia malah memeluk dirinya sendiri.
"punya" D.O terdiam, menunggu Yoo Ra melanjutkan kalimatnya.
Yoo Ra mengangkat kepalanya menatap D.O lalu melepas pelukan kepada dirinya sendiri. Sesaat kemudian, dia tersenyum cerah. Sorot matanya menandakan kerinduan yang teramat sangat.
D.O sedikit memiringkan kepalanya
"tetapi, dia melihatku dan Kyungsang hanya dua bulan dan setelah itu, aku dan Kyungsang dibunuh" nada bicaranya pelan, matanya sayu, dan alisnya bertautan.
D.O tertegun. Malang sekali nasib orangtua maupun anaknya.
Seperti nasibnya sewaktu kecil. Dia baru lahir dan saat berumur dua bulan, orang tuanya meninggal.
Dan dia yakin—
.
"namanya..
.
—wanita di depannya ini
.
.
.
…Do Kyungsoo"
.
—Ibunya
D.O tersenyum sangat sangat lebar. Matanya menyipit karena senyumnya yang sangat lebar. Air mata membasahi pipinya dan menetes seiring banyaknya air mata yang keluar
"eomma—aku yakin ini eomma" bisik D.O saat memeluk ibunya dengan erat. Ibunya mengangguk pelan, meyakinkan bahwa D.O adalah anak kandungnya.
"maafkan aku meninggalkanmu sendirian bersama kakak sepupumu" jawabnya dengan lembut sembari mengusap kepala D.O
"maafkan eomma karena kemarin hampir membunuhmu. Aku tidak ingin kakak sepupumu dibunuh oleh pembantai itu. aku tau, aku sangat tau kalau kakak sepupumu yang membantai kami. Tetapi aku tidak marah. Sungguh. Yang terpenting dia menjagamu dengan sangat baik saja sudah cukup. Melihatmu tersenyum saja sudah cukup. Melihatmu tertawa bersama Kai saja sudah cukup" lanjutnya mengeratkan pelukannya.
.
DEG
.
Ada satu kalimat yang membuat D.O tercengang.
Aku tau, aku sangat tau kalau kakak sepupumu yang membantai kami.
.
Apa benar?
Jadi selama ini, dia di asuh oleh orang yang membunuh orang tuanya?
Lalu kakak sepupunya dibunuh oleh siapa?
Seakan mendengar pertanyaan batin D.O, ibunya kembali berkata "kakak sepupumu, dibunuh oleh paman Kai. Paman Kai itu penderita skizofrenia tingkat 7. Aku mengetahuinya dari sini, aku mengetahuinya setelah aku berada di alam ini. Dan dia pembantai ulung saat ini. Dia berencana membunuh Kai juga"
Jadi begitu? Jadi pembantai itu adalah paman Kai? Dan apa yang harus D.O lakukan sekarang? Haruskah dia marah? Tetapi marah kepada siapa? Kakak sepupunya sudah meninggal, orang tuanya sudah meninggal. Dan dia hanya bisa diam.
"dia ber-delusi bahwa dunia ini miliknya sendiri. Konyol bukan?" D.O tertawa pelan. ya. Mana mungkin seseorang memiliki bumi ini? Berapa banyak orang yang harus dia bunuh?
"aku selalu ingin bertemu dengan eomma. Dengan appa" D.O melepas pelukannya
"aku juga. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu. Tetapi tidak sekarang" jawab ibunya mengangkat kedua sudut bibirnya; tersenyum. Melihat ibunya tersenyum, tidak sadar D.O juga ikut tersenyum.
Cantik. Sangat cantik.
D.O sangat bersyukur mempunyai ibu yang—terlalu—ceria. Dan cantik. Kurang lebih seperti Uzumaki Kushina, ibunya Naruto. Tetapi itu hanya anime. Dan ini dunia nyata. Dunia yang harus D.O jalani. Jalani apapun yang dihadapinya.
Walaupun yang dihadapinya saat ini adalah sesuatu yang membuatnya sakit. Batinnya sakit.
"ah—sudah waktunya aku pergi! Annyeong yeobo-ya! Aku menunggumu disini!" Yoo Ra merentangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar. Matanya pun terlihat menyipit. Perlahan, sosok Yoo Ra menghilang. D.O tidak bisa menahannya. Tubuhnya kaku. Yang bisa dia lakukan hanya menangis bahagia. Menangis karena impiannya telah tercapai—walau belum sepenuhnya tercapai—
.
.
.
"hei, bangun.." seseorang mencolek pundaknya. Dengan perlahan D.O membuka matanya. Di depannya, Luhan berdiri dengan sedikit membungkuk untuk membangunkannya.
"itu—mimpi?" D.O bergumam saat dia melihat keadaan sekitar "mimpi apa kau?" celetuk Luhan, membuat D.O menatapnya dengan bingung.
"bukan apa-apa. Nah sekarang aku akan membuat sarapan"
"tunggu, persediaan bahan makanan kita habis. Kita makan diluar saja" Luhan menyarankan. "…baiklah, 30 menit lagi"
.
.
Sementara itu, di kamar KaiSoo, Kai sudah terjaga. Dia hanya membuka matanya tetapi tidak bergerak dari posisi tidurnya. Tidak melakukan apapun, memang itu yang diinginkannya. Dia ingin menunggu malam tiba dan duduk di pinggir kolam air hangat dibawah.
Tangannya bergerak ke meja kayu yang terletak di antara kasurnya dengan D.O. mengambil sebuah kalender disana dan mencari tanggal hari ini.
24 Desember
Ah, akhirnya besok natal. Ingin rasanya Kai memberi D.O sesuatu. Tetapi apa? Mungkin dengan berjalan-jalan, dia dapat menemukan sesuatu untuk D.O. tetapi—apa yang terjadi dengan Kai? Bukankah ia membenci D.O?
Kai merubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur dan melirik ke kasur D.O. Kosong. Entahlah, Kai merasa ingin memeluk D.O erat-erat. Dia ingin berada di sisi D.O. dia tidak ingin kehilangan D.O. dia merasa ingin melindungi D.O. kapanpun, dimanapun.
"Aku berjanji, aku akan melindungi hyung!" Kai kecil berteriak kepada D.O yang sedang berdiri dibawah pohon rindang
Serpihan memori itu muncul di benaknya membuat Kai tertawa pelan. dia sudah menebak, itu pasti masa kecilnya dengan D.O
Kai beranjak dari kasurnya. Dia berjalan dengan malas ke livingroom dorm. Sebenarnya dia tidak ingin beranjak dari kasurnya. Mengingat salju turun cukup lebat diluar sana, membuat udara juga semakin dingin.
Kai terdiam di depan pintu saat seseorang membuka pintu terlebih dahulu. Dan benar dugaannya, itu D.O.
D.O yang membuka pintu juga terdiam melihat Kai.
"hyung!" Kai berteriak dan langsung memeluk D.O dengan erat. Terlalu erat sampai D.O susah bernapas. D.O melebarkan matanya, kaget karena Kai memeluknya dengan sangat erat. Dengan itu, semburat merah muncul di kedua pipinya
D.O sempat terpikir bahwa ingatan Kai sudah kembali. Itu membuat D.O senang, bahkan tidak keberatan bahwa Kai memeluknya sebegini erat. Tidak ada yang tidak mungkin 'kan?
"aku merasa ingin berada di sisi hyung. Bolehkah?" kata Kai masih memeluk D.O.
D.O menghela napasnya lalu menyandarkan kepalanya di dada Kai. Dia merasa ada yang berbeda dari Kai. Kai memeluknya secara tiba-tiba dan berbicara kalau dia ingin berada disisi D.O. tetapi D.O merasa ada sesuatu di benaknya yang ingin sekali mendengar sebuah kalimat dari mulut Kai. Dia tidak tahu apa itu. D.O tidak menjawab. Dia meletakkan kedua tangannya di dada Kai dan meremas baju Kai. Perlahan, D.O tersenyum senang. Kai memeluknya saja dia sudah sangat senang.
"hyung?" Kai memanggil D.O.
D.O tidak menyahut, dia hanya mengangguk dengan mantap. Menjawab pertanyaan Kai tadi.
Dan sungguh, D.O tidak ingin melepas pelukan ini walau hanya satu detik. Pelukan Kai hangat. Dia sangat nyaman berada di pelukan Kai. Dan begitu sebaliknya, Kai. Kai tidak ingin melepas D.O.
Dia sudah bertekad dalam hatinya. Dia akan melindungi D.O apapun yang terjadi.
"ekhem. Maaf aku mengganggu. Tetapi apa kita jadi makan diluar?" Luhan menginterupsi. Tersenyum kikuk dan mengusap tengkuk nya.
"Persediaan bahan makanan kita habis" lanjutnya, membuat D.O mendorong Kai sampai pelukannya terlepas
"ah tentu saja! Apa semuanya sudah siap?" jawab D.O kikuk. Semburat merah masih terlihat dengan jelas di kedua pipinya. Melihat wajah D.O yang masih merah, Luhan tertawa seperti rahangnya ingin melayang
"ya! Kau malu dipeluk Kai!" kata Luhan memegang perutnya yang setengah sakit akibat tertawa. Perkataan Luhan benar. Dia malu, dan Luhan melihatnya. Karena Luhan melihatnya, wajah D.O pun semakin memerah. Dia tidak bisa berkata apapun selain tersenyum kikuk
Kai mendekatkan wajahnya ke pipi D.O dan—
.
.
—chu~
Kai mengecup pipi D.O singkat. D.O melebarkan matanya saat bibir Kai bersentuhan dengan pipi merahnya, dan saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
Setelah mengecup pipi D.O, Kai langsung masuk ke kamar tanpa memperdulikan D.O dan Luhan di livingroom dorm.
"ah~ sepertinya ingatan Kai sudah kembali" kata Luhan, masih menahan tawanya. D.O mengangguk, meng-iya-kan kalimat Luhan.
"cepatlah siap-siap. Aku lapar" D.O mengalihkan pembicaraan dan duduk di sofa livingroom dorm. Mengetahui D.O mengalihkan topik pembicaraan, Luhan mendekati D.O dan menepuk pucuk kepala D.O
"yang lain saja belum aku bangunkan. Kasihan mereka tadi malam tidur larut" Luhan menduduki sofa di sebelah D.O dan menghidupkan game nya.
"jangan bermain video game terus ge. Baru saja aku matikan"kata D.O melirik Luhan. Luhan hanya mengangkat bahunya dan terus bermain tanpa memperdulikan D.O di sebelahnya.
.
.
.
D.O baru sadar bahwa besok adalah natal. Dan dia paling suka natal. Karena saat itu dia bisa menerima—mengambil—hadiah yang didapatnya dibawah pohon natal. Atau bermain salju di depan apartemen mereka. Yang lebih membanggakan lagi—bagi dia—dia bisa menghias pohon natal bersama Kai, dan yang lainnya. Membayangkannya saja sudah membuat dia senyum-senyum sendiri.
D.O jadi ingin menulis sesuatu di buku diary nya. Dengan semangat, dia membuka laci meja di samping kasurnya lalu mengambil kunci milik Kai di dalamnya.
Dia membuka pintu lemari dan membuka lacinya.
.
DEG
.
Senyumnya menghilang dan napasnya tercekat.
.
Diary itu hilang.
.
Tidak ada yang masuk ke kamarnya, selain dia dan Kai. Tetapi apa Kai mengambilnya?
Ingatan Kai tidak akan bisa kembali, jadi untuk apa Kai mengambilnya?
"shit" D.O mengumpat. Meraba laci itu sampai ujungnya dan tetap saja, diary itu tidak ada. Dengan lemas, D.O membuka laci meja di sebelah kasurnya. Membongkar semua isinya tetapi nihil. Tidak ada tanda dimana diary itu berada. Dia tidak mungkin bertanya kepada member lain, karena tidak ada yang tahu tentang keberadaan diary ini….kecuali Chen.
tetapi dia tidak melihat Chen memasuki kamarnya—ah! Mungkin saja saat dia tidur di malam hari.
"Chen hyung!" D.O berteriak saat berlari keluar kamarnya dan berlari ke kamar Chen. "hyung!" D.O mengetuk pintu kamar Chen dengan keras, membuat yang berada di dalamnya menjadi terganggu
"ada apa?" Chen membuka pintunya dan melayangkan tatapan malas ke D.O.
"kemari. Ikut aku" kata D.O melangkah kembali ke kamarnya diikuti Chen.
Sesampainya di kamarnya, D.O membuka laci lemari tempat dia menyimpan diary nya "hilang"
Chen mengangkat alisnya, tidak mengerti akan kalimat D.O barusan. D.O menghela napasnya dan melanjutkan kalimatnya "diary. Diary ku hilang"
Di detik selanjutnya, mata Chen melebar. Bahkan rahangnya seperti ingin lepas "apa?"
"kau mendengarnya dengan jelas 'kan?" D.O kembali melirik laci kosong itu.
.
.
Haruskah aku memberitahunya?
Haruskah aku membongkar semua topengku?
Haruskah aku berteriak lalu memeluknya dengan erat?
.
.
"aku yakin tidak ada yang memasuki kamar kami. Tidak saat kami tidur..." kata D.O menyibak selimutnya dengan kasar.
"mungkin saja ada yang menyelinap memasuki kamarmu saat malam hari" jawab Chen membantu D.O mencari diary nya
.
.
.
Tidakkah kau tahu?
Tidakkah kau mendengar teriakan pilu ini?
Tidak?
Haruskah aku mengakuinya?
Aku—
Aku bahkan takut untuk mengakuinya
.
.
.
"semua tempat sudah aku cari. Tetapi tetap saja tidak ada" keluh D.O menduduki kasurnya dengan lemas. Suasana di kamarnya saat ini sangatlah berantakan hanya karena sebuah diary.
Oh bukan, bukan 'hanya' tetapi memang karena sebuah diary. Diary itu sangat berarti bagi D.O dan Kai—tetapi itu dulu—dan yang hanya mengetahui keberadaan diary ini hanyalah dirinya, Chen, dan Kai—tetapi itu dulu—dan D.O selalu menutup mulutnya rapat-rapat tentang diary itu
"kau sudah memeriksa barang-barang milik Kai?"
.
DEG
.
D.O ingin sekali membuka tas milik Kai yang terletak di ujung ruangan, di sebelah kasurnya. Tetapi, dia tidak mempunyai keberanian. Bagaimana jika Kai memergokinya saat dia membuka tas miliknya? Bagaimana jika Kai mengetahui bahwa dia membuka tasnya? Bagaimana jika Kai menjadi lebih membencinya? Bagaimana—bagaimana...
"tidak berani?" kalimat Chen membuyarkan lamunannya. Terlihat dari raut wajah D.O, bahwa dia takut. Dia tidak memiliki keberanian untuk sekedar membuka tas milik Kai—bagi Chen, membuka tas Kai tidak begitu memerlukan keberanian—dan jika D.O tidak berani membuka tas Kai, maka Chen lah yang akan membukanya
"aku—" D.O menggigit bibirnya. Wajahnya memerah juga matanya. Dia terlihat seperti ingin menangis
Dan di detik berikutnya, D.O mengangguk pelan. "aku tidak berani"
"baiklah, aku saja yang membuka tasnya ya? Kau diam saja disitu" ujar Chen melangkah mendekati tas Kai. "tidak, ja—"
.
CKLEK
.
Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba. Dan nampaklah seorang Kai berdiri disana dengan mata yang melebar. Dia menoleh dan mendapati D.O memegang tangan Chen dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Dan tangan Chen sudah menyentuh tasnya.
Kedua anak manusia ini melihat Kai dengan kaget, atau bisa dibilang dengan rahang yang hampir melayang.
Kamarnya berantakan—atau bisa dibilang hanya daerah teritorial D.O saja yang berantakan—sprei yang sudah tidak berada di tempatnya, bantal dan selimut yang berceceran di lantai. Ditambah dengan rambut Chen yang acak-acakan.
Seperti habis bercinta.
.
.
Sakit
Bahkan kau melakukannya dengan orang lain.
Bukan denganku.
Haruskah aku memberitahumu
Kalau—kalau
Ah lupakan. Bahkan kau sudah mempunyai yang lebih baik dari aku,
Iya kan, hyung?
.
.
Dengan tak disangka, Kai tersenyum hangat pada Chen dan D.O.
"apa yang kalian lakukan dengan tasku?" kata Kai memasuki kamar dan mengambil tasnya dengan perlahan dan menggendongnya di bahu.
"maafkan aku" bisik D.O menundukkan kepalanya. Chen dan Kai menoleh kearahnya.
"hei Kai, ini bukan salahnya, ini salahku" sela Chen menarik tangannya dari tangan D.O. Kai mengangkat alisnya
"ini salahku juga, ah—bagaimana? Apa kau lapar?" D.O mengalihkan pembicaraan dan merapihkan kamarnya "tadi aku sedang mencari sesuatu. Yang bagiku penting" apakah bagimu juga penting?
"lalu Chen hyung membantuku, lalu jadilah kamar kita berantakan seperti ini hehe" lanjutnya menata kembali kasurnya yang berantakan, membiarkan Chen dan Kai mematung di belakangnya
"jangan berpikir yang tidak-tidak, Kai~ aku tidak melakukan apapun pada Chen hyung. Dia berantakan karena dia baru bangun ti—"
"hei aku lapar" Kai memotong kalimat D.O dan merangkul D.O dan Chen dengan erat "Chen hyung juga lapar kan? Luhan tadi mengajak kalian semua untuk makan diluar. Kajja ganti baju kalian! Nanti Luhan ge marah" Kai melepas rangkulannya pada D.O dan keluar bersama Chen. Membiarkan D.O sendirian di kamarnya dengan maksud membiarkan D.O mengganti pakaiannya.
.
"Oh Tuhan.." D.O terduduk—memeluk lututnya—menenggelamkan wajahnya di lututnya. Entah apa yang dipikirkannya, dia kembali menangis
.
hari ini, D.O tidak bisa tenang. Dia selalu merasa risih kapanpun, dimanapun. Bahkan saat sarapan tadi, rasanya nafsu makannya hilang entah kemana. Tetapi, Kai selalu merangkulnya. Bahkan mengecup pipinya, di depan umum. Dan D.O tidak bisa menutupi wajahnya yang memerah.
Untungnya, seluruh member EXO memaklumi itu
.
.
Aku bahagia berada di dekatmu.
Aku tidak ingin kita berpisah
Aku tidak ingin meninggalkanmu
Aku tidak ingin kau meninggalkanku,
Walau hanya 1 detik.
.
Rasa ini—
Aku tidak tahu.
Jika kau menatapku,
Rasanya berbeda. Sangat berbeda
Ada rasa senang
Dan juga
Sakit
.
.
11:00PM KST
Malam ini, D.O memutuskan untuk berendam di kolam air panas apartemennya. Malam ini tidak ada salju, cukup untuk menenangkan pikirannya.
.
Perlahan, D.O memasuki kolam dan bersandar pada dinding yang tingginya mencapai bahunya.
Setidaknya, biarkan aku melupakan dunia sejenak
Dia menutup matanya; berusaha melayang ke dunia mimpi.
.
"namaku Hwang Yoo Ra!"
.
Sosok ibunya kembali terbayang di benaknya.
Senyum yang lebar, mata bulat, rambut hitam kecoklatan yang panjangnya se-pinggang, suara cempreng, lantang dan terdengar sangat ceria.
Masih dengan menutup matanya, dia tertawa pelan.
Mirip sekali dengan tokoh Uzumaki Kushina. Bedanya ini nyata.
.
"ne! ne! tetapi aku menikah dengan pria bernama Do Kyungsang, jadi namaku Do Yoo Ra! Hehe"
Rasanya sangat damai ketika melihat ibunya tersenyum selebar itu, seceria itu. dia sangat beruntung memiliki ibu yang sangat ceria. Jika orang tuanya masih hidup, dia akan memilih tinggal dirumah, ketimbang di dorm. Walaupun dia belum bertemu ayahnya.
Lagi, dia tertawa pelan. membayangkan dia dimarahi ibunya, bagaimana reaksinya saat itu?
.
Aku tau, aku sangat tau kalau kakak sepupumu yang membantai kami
.
Perlahan, dia membuka matanya. Kembali lagi terngiang-ngiang potongan kalimat itu.
Apa benar rupa ibunya seperti itu? apa benar yang tadi itu ibunya? Apa benar yang dikatakannya?
D.O merasa tidak terima bahwa kakak sepupunya adalah orang yang membantai orang tuanya?
Ah entahlah. Bukannya tujuannya berendam disini untuk melupakan dunia? Walaupun untuk sesaat. Tetapi setidaknya dia bisa merasakan kepalanya ringan.
.
.
.
Kai terduduk di tepi kasurnya. Kedua tangannya bertautan dan kepalanya tertunduk dalam. Apakah pemuda ini tertidur?
Sepertinya tidak.
Dia mengangkat sedikit kepalanya dan melirik ke kalender di meja di sampingnya.
Besok tanggal 25 Desember. Dan tanggal 25 Desember adalah hari natal. D.O menyukai natal. Dirinya pun juga begitu.
Menghembuskan napasnya dengan kasar, Kai beranjak kearah tasnya.
Dia membuka risleting tasnya perlahan dan mencari sesuatu di dalam sana. Setelah mencari selama beberapa detik, dia menarik keluar benda itu yang sebenarnya adalah diary miliknya dan D.O.
Kai membaca diary itu setelah duduk di tepi kasurnya. Halaman demi halaman dibacanya. Terkadang isi diary itu membuatnya tertawa, dan mendengus pelan. dia terus membaca diary tebal itu, sampai dia membuka halaman terbaru. Halaman yang isinya baru saja ditulis beberapa hari yang lalu. D.O yang menulisnya, menulis di halaman ini dengan panjang. Dengan senyuman yang mengembang, Kai membaca diary itu.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Beberapa hari yang lalu, orang yang aku cintai tertimpa kecelakaan hebat.
Kai. Ya, aku mencintainya lebih dari sahabat. Lebih dari saudara. Lebih dari rekan satu tim di EXO.
Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya.
Aku bahkan rela tidak tidur demi menjaganya di ruang ICU. Demi dia melihatku pertama kali saat dia sadar.
Aku selalu mengajaknya berbicara, bahkan mengeluarkan lelucon yang garing. Hanya aku yang tertawa, Kai berbaring tidak sadar dalam keadaan koma-nya. aku bodoh kan? Kkk memang. Aku memang bodoh. Aku bodoh karena mencintai sahabat—bahkan Kai kuanggap saudaraku. Tetapi sungguh, aku terlalu mencintainya.
Saat aku menggenggam tangannya, percaya atau tidak dia membalas menggenggam tanganku juga pada saat dia dalam keadaan koma. Aku tidak bercanda. Kai bahkan hampir kehilangan nyawa nya.
Aku melihat alat pendeteksi jantung itu sudah munjukkan garis lurus. Tetapi keajaiban datang. Kai kembali bernafas. Dia kembali bernafas saat aku akan memanggil dokter.
Kali ini aku menggenggam tangannya erat. Dia membalas genggaman tanganku juga tak kalah erat. Tetapi, dia belum sadar. Sama sekali tidak sadar.
Dan beberapa hari kemudian, dia sadar. Betapa senangnya aku.
Aku sangat senang, bahkan hampir menangis saat bertatapan dengannya. Tetapi, suatu kenyataan membuatku seperti ditusuk ribuan pisau tak kasat mata dari belakang.
Kai amnesia. Permanen.
Amnesia permanen.
Ingatannya sudah tidak bisa kembali, sekecil apapun ingatan itu
Keesokan harinya Kai dipindahkan ke kamar rawat inap, bukan di ICU lagi. Seluruh member EXO ingin ingatannya kembali. Semuanya. Semua ingatannya. Agar kita semua kembali menjadi satu. Ingat semboyan kami? 'we are one!'
Tetapi tidak semudah itu.
Bahkan, dia menamparku. Menamparku dengan keras.
Kau tahu kan rasanya?
Sakit. Batinku sakit, fisikku sakit. Semuanya sakit, yang diakibatkan oleh Kai.
.
"mianhae, hyung" bisik Kai saat membaca diary yang ditulis oleh D.O
.
Kai, jika pagi datang, kumohon jangan menghilang. Dan katakan padaku jika kau selalu berada di sisiku sampai akhir hayatku. Sampai akhir hayatmu. Haha kita seperti menari dibawah sinar rembulan. Dengan dentingan piano, kakimu dan kakiku melangkah beriringan. Dan aku merasa aku tidak takut apapun saat bersamamu.
Sama sekali tidak, walaupun kau kehilangan ingatanmu.
Aku tetap bersyukur Kai, aku tetap bersyukur. Setidaknya, aku masih bisa melihat senyummu itu sekali lagi. Mendengar suaramu sekali lagi. Merasakan halusnya telapak tanganmu sekali lagi.
Aku ingin ingatanmu kembali. Kapanpun itu, aku tidak sabar menunggunya.
.
Senyum Kai semakin melebar membaca kalimat itu
.
Ingatanmu dan ingatanku bagaikan Neverland. Semua canda tawa kita, semua memori yang kita lakukan bersama, semuanya ada di Neverland. Kembalilah ke Neverland. Aku menunggumu.
Dan jika kau tidak ingin kembali ke Neverland, bawalah aku kemanapun kau pergi. Ijinkan aku berjalan bersamamu, di sisimu sampai akhir hayat ini.
Kumohon jangan pergi kemanapun. Dunia ini sangat sepi tanpa dirimu.
Seberapa keras kau tidak ingin kembali ke Neverland, aku akan berada disana, dimanapun kau berada.
Dan jika kau tidak mengijinkan aku berjalan bersamamu, aku akan menunggumu disini. Tidak peduli seberapa lama aku menunggu.
Karena ini bukan akhirnya, ini bukan akhirnya.
Aku merindukanmu. Aku mencintaimu, Jongin
.
Kai menutup buku itu dengan perlahan. Setidaknya, dia sudah mengetahui apa isi diary itu. dia menaruh diary itu di atas kasur D.O dan berjalan keluar kamar. Menuju kolam air panas dibawah. Instingnya menyuruhnya untuk mendatangi kolam itu. sebenarnya, dia juga sudah berencana berendam disana sampai fajar datang.
.
.
.
D.O membuka matanya saat merasakan seseorang memasuki kolam itu.
Matanya melebar saat melihat bahwa Kai-lah yang baru saja memasuki kolam air panas itu. dia bersandar pada dinding di belakangnya dan tengah menyeringai saat melihat D.O.
D.O tak sengaja menangkap tatapan Kai, terpaksa membuang mukanya saat dia merasakan wajahnya menghangat. Sudah berapa kali wajahnya memerah hari ini?
D.O memilih untuk tidak menghiraukan Kai di depannya. Lebih baik mengosongkan pikiran untuk saat ini saja.
Tidak ada percakapan diantara D.O dan Kai. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing, dan tidak memulai pembicaraan terlebih dahu—
.
"Kai"/"hyung"
.
Mereka sama-sama memanggil satu sama lain bersamaan.
D.O langsung menundukkan kepalanya, sedangkan Kai menatap D.O tajam, seperti D.O itu target mangsanya saja.
"a-apa?" kata D.O membalas tatapan Kai tak kalah tajamnya membuat Kai terkekeh pelan
"aku ingin menyampaikan sesuatu padamu" jawab Kai mendekat ke D.O. D.O akan memundurkan badannya tetapi—sial. Dinding itu menghalangnya.
"menyampaikan apa?" kata D.O dengan hati-hati. Kai tetap berjalan kearahnya dan menyeringai semakin lebar
.
GREP
.
Kai memeluk D.O dengan erat dan membenamkan wajahnya di leher D.O, membuat D.O merinding.
"aku sudah mengingat semuanya"
.
.
.
To Be Continued
halo! deblueflame kembali dengan chapter 11! 0.o
TBC nya ngegantung ya huhu u,u
fyi aja, chapter depan udah chapter terakhir huhu :'
makasih buat supportnya ya~ yang silent reader makasih juga udah baca ep-ep gaje bin abal ini. nggak cuma silent reader aja, semua readers :'
ide-ide yang terdapat di cerita ini murni imajinasi saya kok, jadi maapkan kalo ada kesamaan sama ff author lain T.T
nah di chapter ini sudah saya paparkan isi diary yang D.O terakhir buat, bukan setengah-setengah lagi (baca ch 8)
impian D.O juga udah tercapai setengah(?) ;3
itu memang ibunya D.O. cara ketemunya mereka berdua juga langsung ngalir gitu aja di otak saya. pas saya baca ulang...jadi kaya naruto yang pertama kali ketemu kushina itu ._. maafkan deh ya, kan kasian juga kalo dihapus /yaelah
sudah dulu ne~!
salam hangat dari deblueflame(?)~! bye bye 0.o/
