I'm Sorry I Can't Protect You
.
.
It's not the end
.
.
DO KYUNGSOO
KIM JONGIN
OTHER
.
.
A Multichapter fic about KaiSoo's Brothership Relationship
Genre: Family/Brothership
.
.
Don't like don't read.
Enjoy!
.
.
.
Previous chapter
"Kai"/"hyung"
.
Mereka sama-sama memanggil satu sama lain bersamaan.
D.O langsung menundukkan kepalanya, sedangkan Kai menatap D.O tajam, seperti D.O itu target mangsanya saja.
"a-apa?" kata D.O membalas tatapan Kai tak kalah tajamnya membuat Kai terkekeh pelan
"aku ingin menyampaikan sesuatu padamu" jawab Kai mendekat ke D.O. D.O akan memundurkan badannya tetapi—sial. Dinding itu menghalangnya.
"menyampaikan apa?" kata D.O dengan hati-hati. Kai tetap berjalan kearahnya dan menyeringai semakin lebar
.
GREP
.
Kai memeluk D.O dengan erat dan membenamkan wajahnya di leher D.O, membuat D.O merinding.
"aku sudah mengingat semuanya"
.
Mata D.O melebar saat Kai mengucapkan kalimat itu. apa? Apa yang Kai katakan barusan?
"apa?"
Kai kembali menyeringai dan semakin memberanikan dirinya untuk mengecup leher D.O "aku mengingatnya. Aku mengingat semuanya. Ingatanku—
.
Sudah kembali"
.
DEG
.
"b-bohong" bisik D.O terbata-bata
"kali ini aku serius" jawab Kai menangkup kedua pipi D.O dan menatap D.O dalam. Membiarkan D.O menatapnya untuk mencari kebohongan disana. Tetapi seberapa keras D.O mencari kebohongan disana, dia tidak dapat menemukannya. Dia tidak dapat menemukan kebohongan disana
"kau-" D.O tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia terlanjur kaget dengan kembalinya ingatan Kai yang tiba-tiba.
Kai tersenyum lebar dan menempelkan dahi miliknya dan D.O. "maafkan aku hyung. Maafkan aku"
D.O memejamkan kedua matanya. Tidak bisa ia bendung lagi airmata yang berada di pelupuk matanya "pabo"
Kai mengerutkan kedua alisnya, tanda tidak mengerti dengan ucapan D.O "maksud hyung ap—"
D.O menempelkan bibirnya diatas bibir Kai. Memotong kalimat Kai sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Hanya ciuman biasa, tidak ada nafsu yang melandasi ciuman mereka. Dengan perlahan, Kai menggerakkan kedua tangannya melingkari pinggang D.O, menyeringai di sela ciuman mereka. Karena kebutuhan oksigen yang semakin menipis, D.O menarik kepalanya menjauh dari Kai membuat ciuman mereka terlepas.
"berani juga" kata Kai masih menyeringai. Entah menyeringai karena melihat keberanian D.O atau hal yang lain.
"aku bukanlah D.O yang dulu. Bukan D.O yang selalu menangis jika dijahili. Bukan D.O yang selalu takut hanya untuk melompati batu-batu di atas sungai kecil. Dan bukan D.O yang selalu tertutup, tidak mau menceritakan apa yang membebaninya" jawab D.O membalas seringai Kai. Merasa ditantang, Kai kembali menenggelamkan wajahnya ke leher D.O
"benarkah?" bisik Kai menjauhkan wajahnya. D.O mengangguk pelan dan berusaha menjauh dari Kai.
"aku sudah berjanji akan berada di sisimu. Aku sudah berjanji akan menjagamu kapanpun di manapun" kata Kai mengusap rambut D.O pelan. D.O meringis tertahan, mengingat kalimat Kai yang bersikeras untuk berada di sisinya dan menjaganya kapanpun dimanapun. Kalimat masa kecil mereka, dan kalimat yang Kai ucapkan. Apa dia benar-benar memegang kalimatnya?
"terima kasih" kata D.O dan sekali lagi, dia mengecup Kai di bibirnya. Kali ini, bukan hanya sekedar menempelkan bibirnya, mungkin terdapat hawa nafsu disana. Entahlah.
Dan dari ciuman itu, mereka bercinta di kamar mereka entah bagaimana caranya.
.
.
.
Matahari sudah mulai memunculkan dirinya di ufuk timur. Melakukan tugasnya untuk menyinari bumi. Membangunkan beberapa manusia dengan sinarnya yang masuk melalui celah-celah jendela. Termasuk kedua sejoli yang masih bergelut di bawah selimut yang cukup tebal itu.
Kali ini Kai dan D.O tidur dalam satu ranjang. Mengingat aktivitas mereka tadi malam cukup melelahkan, D.O tidak sanggup untuk berjalan ke kasurnya sendiri walau hanya memerlukan dua atau tiga langkah saja. Selain itu, Kai memeluknya dengan erat, membuatnya juga tidak bisa bergerak.
"aku tahu kau sudah bangun" bisik D.O menepuk kedua pipi Kai dengan gemas. Kai mengeratkan pelukannya dan membuka matanya
"ini masih malam, tidurlah" kata Kai asal-asalan "ini sudah pagi! Hei Kkamjong ayo bangun!" ujar D.O mendorong dada Kai agar pelukannya terlepas. Dengan terpaksa, Kai melepas pelukannya dan memutar badannya ke sisi lain. Punggungnya menghadap D.O
Melihat itu, D.O mendengus kasar dan beranjak. Mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai dan memakainya. Dengan langkah gontai, D.O melangkah ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Sesudah mandi, D.O melihat ranjang Kai sudah kosong. Biasanya Kai paling susah bangun tidur. Dan jika sekali di bangunkan, Kai tidak akan segera bangun. Pasti mulutnya akan menggumam 'ini masih malam' atau 'lima menit lagi' saat lima menit berlalu, dia di bangunkan dan tetap saja tidak akan bangun.
D.O mengangkat kedua bahunya dan membuka tirai jendela kamarnya. Melihat jalanan Seoul dibawah yang penuh dengan lampu-lampu warna-warni kecil. Salju pun kembali turun cukup lebat membuat beberapa orang yang berjalan di trotoar menggunakan jaket tebal dan baju hangat berlapis. Tidak sedikit juga anak-anak kecil membuat boneka salju dan berlari di trotoar dengan sebuah hadiah di genggamannya. Dan tentu saja, kebanyakan memakai pakaian berwarna merah. Imut sekali.
Hangatnya sinar matahari sudah tidak terasa di kulit mereka. Yang mereka rasakan hanyalah hawa dingin, dan kebahagiaan.
Melihat suasana yang serba merah di bawah sana, D.O mengalihkan pandangannya untuk melihat sekeliling ruangan. Hanya ada sebuah kaus kaki merah kecil tergantung di atas meja kecil disamping kasurnya. Saat masih kecil, dia dan Kai berlomba-lomba memasang kaus kaki merah di pintu kamar mereka. Jika Santa Klaus menaruh hadiah di kaus kaki itu, dialah yang menang. Yah walaupun tidak ada yang menang.
D.O tak sengaja melihat diary nya diatas kasurnya. Sejak kapan berada disana?
Dengan perlahan, D.O melangkah dan menduduki tepi kasurnya. Tangannya bergerak untuk mengambil diaru itu dan membacanya dari awal sampai terakhir. Untuk memastikan kalau tidak ada tangan-tangan jahil yang memperjelek diary berharga itu.
Tetapi mungkin tidak ada tangan-tangan jahil yang menyentuh diary nya. Semuanya masih sama seperti saat terakhir kali dia melihat diary ini sebelum diary ini menghilang. Dan muncul diatas kasurnya seperti diary itu telah lelah mengarungi dunia. Walaupun diary miliknya adalah benda mati.
Mata D.O melebar saat membuka halaman dibalik halaman yang berisi tulisannya. Senyumnya mengembang dan mempererat genggamannya pada diary itu.
Disana terdapat sebuah kalimat menggunakan tinta merah dan ditulis dengan tulisan latin, bukan hangul.
.
.
Merry Christmas,
Do Kyungsoo (hyung) !
I Love You
More than a brother
More than a roommate
More than a best friend
Sincerely,
Your Kim Jongin 3
.
.
D.O hampir tertawa terbahak-bahak jika saja dia tidak menahannya. Kai bisa berbahasa Inggris? Oke mungkin kali ini D.O terlalu kelewatan mengatakan Kai tidak bisa berbahasa Inggris. Tetapi sungguh, selama ini Kai yang dia tahu adalah Kai yang paling tidak suka jika diajak berbahasa Inggris. Dia lebih memilih bermain game bersama Luhan atau ikut mengambil snack milik Lay bersama Xiumin ketimbang belajar bahasa Inggris atau menanggapi orang yang berbicara kepadanya dengan bahasa Inggris. Terlebih jika mendengar Kris berbicara dengan bahasa Inggris. Ugh—tidak usah dijelaskan.
Jauh di lubuk hati D.O, dia merasa sangat senang. Perasaannya selama ini terbalas. Ah, apa Kai mengetahui perasaannya? Entahlah, dia akan menemui Kai dan menyatakan perasaannya selama ini. Anggap saja sebagai membalas pesan Kai yang berada di halaman terakhir diary nya itu
Dengan senang, D.O melangkah keluar dengan membawa diary nya. Kali ini dia membiarkan semua orang mengetahui keberadaan diary nya. Dia tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah menemui Kai. D.O membuka pintu kamarnya dan mengedarkan pandangannya. Pandangannya terhenti saat melihat Kai yang tengah menatapnya dengan heran. Dengan senyum mengembang, D.O berlari dan memeluk Kai dengan erat, membuat Kai sedikit terhuyung dan terjatuh di sofa dengan D.O masih memeluk lehernya dengan erat
"ada ap—"
"AKU MENCINTAIMU KIM JONGIN BODOH!" D.O berteriak dengan sangat keras dan lantang. Dia masih memegang diary nya erat.
Kai membulatkan matanya, kaget akan kalimat D.O yang terkesan tiba-tiba ini. Terlebih D.O tidak melihat keadaan sekitarnyakalau seluruh member EXO berada disana. Tetapi mata mereka melihat adegan mengharukan di depan mereka.
Kai dan D.O tidak memperdulikan itu. Yang ada di benak mereka adalah ingin memeluk satu sama lain dan menganggap dunia ini milik mereka sendiri
"kau menemukannya huh?" bisik Kai mengusap punggung D.O dan tersenyum lembut. Mengerti apa yang Kai maksud, D.O mengangguk semangat dan kembali mengeratkan pelukannya.
"kau membacanya?" lagi, D.O mengangguk semangat dan menatap Kai dengan mata yang berkaca-kaca "ya. Iya. Iya! Aku membaca halaman terakhir itu! Aku membacanya!" teriak D.O dan tidak bisa membendung air matanya. "kau benar-benar mengingatnya. Kau mengingatnya! Terima kasih Kai!" lanjut D.O melepas pelukannya sembari tersenyum menatap Kai, dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
"aku mencapai mimpiku Kai! Aku bertemu ibuku!" ujar DO tersenyum sangat lebar
"ah—bagaimana bisa?" tanya Kai "ceritanya panjang. Bagaimana kau mengingat semuanya? Kapan ingatanmu kembali?"
"aku mengingat semuanya, saat Lay memainkan My Lady" jawab Kai mengacak-acak rambut D.O membuat D.O mengerucutkan bibirnya kesal
"kau—mengingatnya?" celetuk Lay, dan sebelum Kai menjawabnya, seluruh member EXO memluknya dengan erat. Aura yang sangat bahagia, terpancar dari pelukan mereka semua
.
.
.
Kini Kai dan D.O berada di sebuah taman kecil yang cukup indah. Mereka tidak mengenakan sesuatu yang berwarna merah. D.O hanya menggunakan baju hangat berwarna hitam sepanjang lututnya, sepatu boot rendah dan sarung tangan tebal. Baginya itu cukup.
Mereka berdua berjalan beriringan mengelilingi taman kecil yang sangat sepi itu. Hanya ada mereka berdua disana.
"aku merindukan rumah kayu ku" gumam D.O memasukkan kedua tangannye ke saku jaketnya. Kai yang berada di sebelahnya tentu saja mendengar apa yang dikatakannya "aku juga. Aku juga merindukan padang rumput itu. Kue mochi nenekku, dan kaus kaki merah yang dulu selalu kita gantung di pintu kamar kita" jawab Kai menyamakan langkahnya dengan D.O. dia melihat sekeliling. Lampu kecil warna-warni, boneka salju dimana-mana, dan pepohonan yang memutih terkena salju. Tetapi sedingin apapun udaranya, Kai tidak merasa dingin. Karena? D.O berada di sisinya.
"kau mengingat teror itu?" kata D.O menatap Kai dari samping. Hidungnya yang mancung dan garis rahangnya yang tercetak begitu jelas.
Sempurna. Entah kapan lagi D.O menemukan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna seperti Kai. Biarpun Kai lebih muda darinya, Kai begitu dewasa dan suka membuat lelucon yang cukup garing. Tetapi biarpun begitu, itu semua adalah bagian yang melengkapi kesempurnaan Kai.
"aku, aku mengingatnya" jawab Kai menatap D.O balik sembari tersenyum lembut membuat pipi D.O memerah dan mau tak mau memalingkan wajahnya agar Kai tidak melihat pipi merahnya
"kau tidak mendapat terornya lagi, bukan?" ujar D.O memberanikan diri menatap Kai. Kai mengangguk "dia tidak mengganggu hidupku lagi" Kai menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya dan menatap langit kelabu "setidaknya untuk saat ini—"
.
.
.
"kau tidak mendapat terornya lagi, bukan?" ujar D.O memberanikan diri menatap Kai. Kai mengangguk "dia tidak mengganggu hidupku lagi"
D.O merasa ada sesuatu yang aneh. Ya aneh. Dia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapapun disana. Ke samping, juga tidak ada apa-apa. Mungkin saja halusinasinya atau apa. Tetapi sesuatu membuatnya melangkah mundur dan memposisikan dirinya tepat di belakang Kai. Wajahnya menghadap punggung Kai. Dan belum ada 2 detik dia berada di posisi itu—
.
JLEB
.
"agh—" sebuah katana—yang sepertinya baru saja di asah—menusuk dada kirinya hingga menembus jantungnya. Seseorang dengan baju serba hitam menusuknya hingga ujung tajam katana itu berada di dada kiri D.O dan menyentuh punggung Kai.
Dan saat Kai menoleh, dengan kejamnya orang itu kembali menarik katana nya dengan keras dan berusaha melarikan diri. Dia tidak menyadari bahwa katana miliknya terjatuh.
"hyung—HYUNG! ADA APA?!" teriak Kai memegang kedua bahu D.O yang perlahan melemas.
Mata Kai melihat katana yang tadi menusuk D.O. dengan emosi yang memuncak, Kai mengambil katana itu dan berlari ke seseorang yang diduga yang sudah membunuh D.O.
Orang itu terus berlari secepat mungkin menghindari Kai yang berlari di belakangnya dengan sebuah katana yang tentu saja miliknya. Tetapi Kai dapat menjangkau orang itu, saat dirasanya sudah cukup dekat, Kai menusuk dada kiri orang itu hingga menembus jantungnya. Dan tanpa ampun Kai menarik katana itu sekuat mungkin dan menjatuhkan katana itu
"KAU TAHU APA YANG SUDAH KAU PERBUAT?! DASAR BAJINGAN! TERIMALAH INI PEMBANTAI! BUNUHLAH AKU! JANGAN KAU BUNUH D.O!" teriak Kai meninju perut orang itu dengan kasar, dan menginjak perutnya.
Setelah merasa orang itu sudah tidak bernyawa, Kai berlari ke tempat dimana D.O berada.
"hyung, jangan. Kumohon jangan menutup matamu! Bukalah kedua matamu kumohon!" teriak Kai menangkup kedua pipi D.O dan menatap D.O dengan nanar. Air mata sudah berada di pelupuk matanya dan hanya dengan sekali kedip, air mata itu jatuh ke atas salju yang berwarna merah karena darah D.O tidak berhenti keluar dari dadanya.
D.O membuka kedua matanya dan meringis tertahan. Memegang kedua tangan Kai, merasakan hangatnya tangan Kai yang terakhir kalinya. Banyaknya darah yang terbuang, membuat Kai dengan cepat mengalungkan tangan kiri D.O di lehernya dan bersiap membawanya ke rumah sakit terdekat. Walaupun yang terdekat kurang lebih 3 kilometer dari taman ini.
"kau tahu... jika saatnya nanti—"
"jangan berbicara! Aku akan membawamu ke rumah sakit hyung! Kumohon bertahanlah!" teriak Kai berusaha membawa D.O ke rumah sakit secepatnya, walaupun dia tahu tidak ada waktu untuk menyelamatkan nyawa D.O. jantungnya hampir berhenti berdetak dan darahnya tidak berhenti keluar. Hanya tinggal menunggu beberapa menit saja...
"hentikan, bodoh..." bisik D.O dengan suaranya yang serak. Berusaha memeluk Kai seerat mungkin. Tidak perduli dengan baju Kai yang terkena darahnya. Dia ingin hidupnya berakhir di pelukan Kai. Merasakan hangatnya pelukan Kai yang terakhir kalinya. Bersandar di dada bidangnya yang terakhir kalinya.
Melihat itu, Kai semakin tidak bisa menahan air matanya untuk berhenti. Dia memeluk D.O erat dan menahan isakannya sekuat mungkin.
"kau tahu... aku percaya, kau adalah peter pan ku..." bisik D.O dengan lemas. Kai terus menangis tanpa menjawab kalimat D.O mendengar suara indahnya, sekali lagi
"tanpamu... aku bukanlah apa-apa... karenamu.. aku merasakan manis dan... pahitnya hidup..."
"kita sudah melalui semuanya... bersama... dan inilah saatnya untuk mengakhiri... semuanya"
"ssh! Hentikan. Ini bukan akhirnya! Kau belum menceritakan bagaimana kau bertemu ibumu!" bisik Kai menahan isakannya. Dan tetap memeluk D.O. D.O tertawa pelan dan menutup kedua matanya sembari tersenyum
"biarkan aku pergi... ya? Aku..akan menjelaskannya nanti..." bisik D.O lagi. Dan kali ini, Kai sudah tidak kuat menahan isakannya. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Menumpukan dagunya di pucuk kepala D.O dan mengecupnya dengan sayang
"tidak hyung. Tidak akan!" lagi, D.O tertawa pelan "bodoh..."
"apa?"
"izinkan aku pergi... lepaslah kepergianku... dengan tersenyum ya? Kita.. akan bertemu lagi kok" tanpa Kai sadari, D.O menangis dalam diam
"kau malaikatku. Peter pan ku... izinkan aku pergi... dan tersenyumlah saat... melepas kepergianku"
"maafkan aku... maafkan aku Kai... berjanjilah padaku untuk mengubur perasaanmu padaku... dan carilah yang lebih baik... dari aku. Dan disaat kita... kembali bertemu... izinkanlah aku untuk kembali... mencintaimu..." dan dengan perlahan, tubuh D.O mendingin membuat Kai melepas pelukannya dan mengecup D.O
"apa yang kau katakana? jangan pergi! Kumohon hyung bertahanlah!" teriak Kai memegang tangan D.O yang sudah dingin
"aku mencintaimu... kim jongin bodoh.." bisik D.O menatap Kai dengan sayu dan tersenyum lembut. Sedetik kemudian, D.O menghembuskan napas terakhirnya, disusul tubuhnya yang mendingin dan kaku.
Kai tersenyum miris. Dengan erat, dia memeluk tubuh D.O yang tidak bernyawa, sembari menangis terisak.
"nado saranghae, hyung"
.
.
.
Beberapa surat kabar Seoul membuat artikel terbaru. Dan beberapa media sosial juga membuat artikel yang sama. Yang paling menggemparkan adalah berita meninggalnya D.O, dan Kai sebagai pelaku pembunuhan.
Entah ulah siapa yang membuat berita ini, tetapi berita ini diperkuat dengan adanya bukti foto yang menunjukkan beberapa foto Kai yang sedang memegang katana dan menginjak perut si pelaku yang membunuh D.O
Tetapi biar begitu, Kai bersikeras karena tidak merasa membunuh. Ah ya, dia memang membunuh tetapi membunuh seorang pembantai! Tetapi apakah polisi tidak tahu jika Kai sudah membantunya menangkap si pelaku pembantaian?
.
.
.
Kai POV
Hari ini, adalah hari ke 3 sejak meninggalnya dia. Siang ini matahari menunjukkan dirinya dan menghangatkan Seoul, walaupun musim dingin belumlah berakhir.
Dan hari ini, hari ke 3 pula aku dicap sebagai buronan. Aku awalnya tidak peduli, sampai para polisi itu menghancurkan dorm kami. Dorm EXO. Akibatnya manager hyung mengasingkan aku ke Busan. Ke sebuah pondok kecil disamping pantai Busan. Hanya berbekal sebuah mobil, uang, dan beberapa potong pakaian aku diasingkan ke sini.
Berkali-kali aku selalu dikejar oleh polisi dan terdapat hanyak luka di sekujur tubuhku. Aku ini, bukanlah Kai yang dulu kau kenal.
Aku mengubah warna rambutku menjadi hitam. Kulitku yang sedikit mencoklat dan tubuh yang hampir sama seperti si besar Chanyeol. Walaupun begitu, begitu banyak orang yang masih mengenaliku.
Polisi datang lagi. Mereka datang dan mengejarku hingga aku terpojok dan tidak tahu harus berlari kemana. Dan setidaknya, sebuah perahu speedboat yang terparkir di sebuah dermaga kecil. Aku berjalan terhuyung dan dengan cekatan aku menghidupkan speedboat itu lalu pergi membelah lautan. Aku harap mereka tidak bisa menemukanku.
Tetapi aku salah. Mereka mempunyai angkatan laut dan aku lupa akan hal itu. Saat mereka menghancurkan satu-satunya pondok yang aku miliki, aku sudah tidak tahu harus kemana lagi. Tubuhku yang penuh luka pun semakin banyak luka yang mereka buat. Sebuah senapan, air keras, peluru, dan pisau mengenaiku. Harusnya aku sudah mati sekarang. D.O hyung, inikah pahitnya hidup?
Aku teringat D.O hyung. Aku merasa dia tengah memelukku, dan menangis di punggungku. Hyung, tolong selamatkan aku... aku tidak memperdulikan rasa panas di tangan kiri ku akibat terkena siraman air keras. Peluru yang menembus lengan kiriku juga, dan senapan yang menggores pipiku hingga pipiku berlumuran darah.
Aku sudah tidak menyadari bahwa air mata sudah membasahi pipiku. Entah menangis karena apa. Aku merasakan sakit yang teramat sangat di lengan kiri dan pipiku. Dan juga, batinku terasa sungguh sakit. Lautan yang tadinya penuh kapal nelayan dan beberapa pulau kecil, kini sudah lenyap. Menyisakan aku, speedboat kecil ini dan polisi angkatan laut dengan kapal-kapal besarnya di belakangku di lautan yang sungguh luas ini. Kompas pun sudah tidak menentu. Apakah aku di segitiga Bermuda?
Ah, kulihat langit yang semakin lama semakin gelap dan meneteskan air hujan. Aku memberhentikan kapal kecil ini dan mengeluarkan sesuatu di kantung jaketku. Itu diary kami... semakin banyak air mata yang menetes dari pipiku
Aku membuka diary itu. Halaman demi halaman aku baca kembali. Tidak aku hiraukan air mataku membasahi lembaran itu. Ada beberapa foto kita disana. Foto masa kecil, maupun foto kami yang sudah beranjak dewasa.
Saat ini aku bukan di Seoul, ataupun Busan. Aku tidak tahu tempat ini namanya apa. Sangat tidak tahu. Berdiri di atas speedboat dan membaca diary kita.
Kulihat tulisan terakhirnya dia. Sangat rapih. Kembali aku meneteskan air mataku membasahi lembaran itu, membuat tinta pulpen yang digunakannya luntur.
Aku teringat saat dia yakin bahwa kita akan bertemu lagi. Ya hyung. Iya. Kita akan bertemu lagi. Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu?
Aku kemarin mengunjungi kampung halaman kita di Busan. Desa kecil kita yang dulu, telah runtuh. Sisa bangunan rumahmu masih ada, rumahku masih ada. Aku menemukan kaus kaki berwarna merah yang sering kita gunakan saat hari natal tiba. Dan padang rumput itu... tidak berubah.
Aku mencoba untuk menggali kenangan kita dahulu. Aku berdiri dibawah pohon rindang yang dulu sering kita pakai untuk berteduh di siang hari. Pohon itu berwarna putih, padang rumput itu, juga berwarna putih karena salju yang kemarin turun.
Saat sore hari tiba, sinar matahari menerpa tubuhku begitu hangat. Sehangat saat kau selalu berada di sisiku. Aku berbaring ditengah padang rumput dan menyaksikan matahari terbenam. Dulu kita sering menonton matahari terbenam sembari berbaring menatap langit dan matahari yang semakin menurun di ufuk barat bukan? Tetapi kali ini, aku menyaksikannya sendirian. Tanpamu. Tanpamu di sisiku.
Lalu aku berjalan di tepi padang rumput. Saat kita akan pulang, kita selalu berjalan di pinggiran padang rumput ini. Selalu. Seperti padang rumput ini bagian dari hidup kita juga. Aku merasa kau berjalan mengikutiku. Aku tahu bahwa kau datang menemuiku. Rasa hangat itu kembali menjalar. Hangat yang selalu aku rasakan jika kau datang datang berada di sisiku. Tetapi mengapa kau menghilang, saat aku ingin melihatmu? Mengapa kau hanya memberikanku kehangatan yang sementara? Kau tahu, aku begitu merindukanmu.
Kau pergi disaat semua ingatanku telah kembali. Kau pergi disaat aku merasa kembali mencintaimu. Kau pergi disaat aku masih ingin bersamamu. Pergilah. Pergilah jika aku sudah muak denganmu!
Aku merasa diriku ini pecundang. Aku berjanji bahwa akan melindungi dirimu. Tetapi aku tidak bisa memenuhi janjiku sendiri. Aku tidak bisa melindungimu. Maafkan aku hyung. Maafkan aku.
Maafkan aku, aku menjadi seorang buronan. Beberapa kapal besar angkatan laut tengah mengejarku.
Ini bukan akhirnya. Ya. Aku tahu aku akan bertemu denganmu lagi hyung.
Maka dari itu, izinkan aku masuk ke duniamu
Aku menutup diary itu dan mendekapnya tepat di dada kiriku. Aku tahu ini saatnya aku pergi. Perjuanganku sudah berakhir disini. Satu per satu air hujan membasahi kepalaku, membasahi diary ini.
Setidaknya, aku mendengar suara tembakan. Aku tahu mereka di belakangku. Dengan sepersekian detik saja, peluru tu menembus jantungku, juga diary ini.
Akhirnya. Akhirnya inilah waktuku untuk menyusul D.O hyung...
Dengan perlahan, aku berdiri di tepi speedboat dan menghirup udara dingin ini sekali lagi. Menatap langit kelabu dunia ini, untuk yang terakhir kalinya.
D.O hyung, dia muncul. Dia tersenyum sangat lembut, merentangkan tangannya dan mengusap pipiku. Dia begitu menawan.. aku menutup mataku, merasakan bahwa ini nyata. Merasakan tangannya mengusap pipiku, memberi kehangatan yang nyaman. Ya. Itu dia. Dia datang..
Dan saat aku membuka mataku, D.O berdiri membelakangiku. Menghela napasnya pelan dan menatapku kembali. Tatapan sayu, dan senyum miris. Dan lagi, dia mengusap kedua pipiku. Aku menggerakkan tangan kananku. Berusaha menyentuhnya. Tetapi saat aku menyentuhnya, dia menghilang bersama dengan angin yang berhembus kencang.
Aku menarik tanganku dan menatap diary itu yang sudah tenggelam di lautan tidak berdasar ini.
Dan tanpa ragu, aku menceburkan diri ke laut dan membiarkan tubuhku tenggelam. Tidak berniat untuk berenang atau sekedar mengambil napas. Aku ingin hidupku berakhir disini.
D.O hyung, tunggu aku..
Aku tersenyum senang. Akhirnya, perjuanganku berhenti sampai disini
.
.
.
THE END
TAMAT! YAAAA MAAF KALO INI FF GAJE BANGET. MANA KAGAK NYAMBUNG LAGI CERITANYA *BOW 180 DERAJAT* /CAPS
Yah endingnya gaje amat yak? XD
Makasih buat semua para readers yang sudah support saya ;;A;; ada yang ngefollow cerita ini... ada yang fav pulak. Makasih banyak ya, padahal ini kan ff gaje ;;_;;
Gimana kesan kalian ttg ff ini? Hohoho ini multichap pertamaku lho XD
mohon maaf kalau banyak typo dan eyd yang kacau u,u saya bukan orang yang sempurna ;;;
Yah sudah dulu yah, saya mau melanjutkan ff saya yang lain '-')9 annyeonghaseyo!
