Memories Bring The True Love
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre: Friendship & Romance
Pairing: NaruSaku and little bit other
Warning: Ooc, typo(s), dan kesalahan lainnya
Don't Like Don't Read
Happy Reading :)
Chapter 2
.
.
Seorang perempuan berambut indigo sedang menabur bunga pada sebuah makam yang bertuliskan 'Hyuuga Neji'. Hinata-nama perempuan ini-rindu kepada kakak sepupunya. Makanya saat ada waktu luang seperti ini, ia menyempatkan dirinya pergi ke makam. Hyuuga Neji adalah salah satu korban saat perang dunia ninja ke-4 kemarin.
Hinata hanya bisa menatap kosong pada makam di depannya, ia ingin sekali bertemu dengan kakak sepupunya dan menceritakan masalahnya. Ya Hinata memang sangat suka mengunjungi makam Neji, bahkan dalam kurun waktu sehari bisa sampai empat atau lima kali.
Apalagi saat ini, saat ada yang mengganggu pikirannya. Rasanya Hinata ingin sekali berbagi dengan Neji mengenai sebelum ia pergi ke sini, ia tanpa sengaja mendengar perbincangan Sakura dengan Sai di jalan menuju rumah sakit, pembicaraan antara mereka begitu kuat terekam dalam memori Hinata.
Ia mendengar semuanya, ia mendengar bahwa Sakura menyatakan cinta pada Naruto. Apa yang diucapkan Sai membuat hatinya hancur berkeping-keping bersamaan dengan harapannya yang pupus.
###############
Aku harusnya memang sadar aku tak akan mempunyai kesempatan untuk bersanding dengan Naruto-kun. Neji-nii kenapa hatiku rasanya sakit sekali, andai saja kau ada di sini mungkin bisa mengurangi rasa sakit ini sedikit saja. Neji-nii kau pernah meminta kepada Naruto-kun untuk menjagaku, kan? ia mungkin tak bisa terus berada di sampingku.
Tapi, aku yakin ia tak akan mengingkari janjinya untuk menjagaku, karena aku pun warga konoha dan teman baiknya. Neji-nii aku tak boleh egois, kan? meskipun rasanya sakit dan sesak merelakan Naruto-kun dengan Sakura-san, tapi, itu yang harus aku lakukan agar Naruto-kun bisa bahagia.
Mungkin menurut orang lain pengorbananku begitu besar, tapi, sebenarnya pengorbanan Sakura-san lebih besar, iya, kan Neji-nii? Ia bahkan rela dibenci Naruto-kun untuk membuatnya bahagia, selain itu, ia juga pasti merasan sakit saat memutuskan untuk melakukannya, ia juga harus siap kehilangan sosok Naruto-kun.
Tapi aku, meskipun merasakan sesak dan perih, aku masih bisa melihat Naruto-kun dari kejauhan dan melihatnya bahagia. Aku masih bisa menyentuh tubuhnya ataupun berbincang dengannya, juga masih bisa becanda dengannya. Kenapa dulu aku bisa sebegitu egoisnya, Neji-nii? Kenapa aku tak sadar kalau memang mereka saling menyukai? Aku memang terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Neji-nii aku harap kau ada di sini dan mendengarkan segala keluh kesahku dan membantuku menangani masalah ini juga klan kita. Aku tak bisa bila sendirian, aku membutuhkan seorang partner, dan partner yang paling cocok adalah kau Neji-nii. Neji-nii aku benar-benar menginginkanmu di sampingku saat ini.
Kami-sama buat Neji-nii bahagia di sana. Neji-nii aku harap kau bahagia di sana, walaupun kau tak ada di sisiku lagi, bila Neji-nii bahagia, aku pun akan berbahagia untukmu. Do'akan aku agar kuat menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Salam untuk Hizashi-jiji di sana ya, semoga kalian dipertemukan.
Sepertinya mentari sudah naik sedikit demi sedikit, aku harus segera pergi dari sini dan menemui Shino-kun juga Kiba-kun, kita kan sudah berjanji akan menjenguk Sasuke-kun dengan Naruto-kun. Aku pun berdiri di depan makam Neji-nii dan melangkahkan kaki keluar dari area pemakaman.
Tujuanku saat ini pergi ke kedai ramen ichiraku, aku, Kiba-kun, dan Shino-kun sudah bejanji untuk bertemu di sana dengan Naruto-kun sebelum waktu untuk menjenguk habis. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menundukan kepala, pembicaraan antara Sai-san dengan Sakura-san yang tak sengaja kudengar selalu saja terngiang di telingaku.
Itu benar-benar seperti menamparku dengan keras untuk membuatku tersadar bahwa pengorbananku selama ini tidak seberapa untuk Naruto-kun. Untuk menyadarkanku bahwa impianku untuk selalu di samping Naruto-kun terlalu berlebihan. Untuk menyadari bahwa cintaku selama ini terlalu egois.
Kami-sama kuatkan hatiku ini, kuatkan diri ini agar bisa merelakan Naruto-kun bahagia walaupun itu artinya akan membuat hatiku perih. Naruto-kun kau sangat menyukai juga menyayangi Sakura-san, begitupun sebaliknya, semoga kalian bisa bersatu dan bahagia.
Akan kudo'akan yang terbaik untuk hidupmu Naruto-kun. Ah, kenapa kau tak pernah melihat atau sekedar melirikku sejenak saja Naruto-kun? sepertinya yang berada dari jangkauan netramu hanya Sakura-san.
Mungkin aku memang bodoh tak menyadari bahwa Naruto-kun dan Sakura-san selalu bersama sejak genin, bahkan, Sai-san saja yang baru di antara kami bisa menyadarinya. Sepertinya aku hanya memoroskan rasa cintaku pada diriku sendiri, tak bisa melihat sekitarku atau bahkan tak mau melihat perasaan orang yang aku cintai.
Apa hal seperti itu bisa dikatakan cinta? jika aku lihat perasaan Naruto-kun untuk Sakura-san, sepertinya tak seperti itu. Dia rela melakukan segalanya untuk Sakura-san walaupun harus mengorbankan hati juga nyawanya. Mungkin untuk nyawa aku bisa mengorbankan untuknya seperti keegoisanku saat invansi pein, tapi, untuk hati aku tak akan bisa melakukannya.
Sepertinya aku sejak dulu memang terlampau egois. Kenapa aku belum juga berubah, mungkin sekarang aku sudah jauh lebih kuat, tapi, dalam sikap aku bahkan tak bisa mengubah sikap egoisku.
Sepertinya aku memang harus belajar banyak, dan sedikit demi sedikit merubah sikapku ini. Aku harus bisa meneguhkan hati untuk mejadi yang jauh lebih baik. Untuk urusan cinta, semoga saja kelak aku bisa mendapatkan yang lebih baik lagi, ya semoga saja seperti itu Kami-sama.
#############
"Hinata, kau habis dari makan Neji?" tanya seorang pemuda berkaca mata kepada sulung hyuuga itu. Hinata yang sedang memikirkan banyak hal pun tersentak kaget dan mendongakan kepalanya ke arah sumber suara. Terlihat Shino dan Kiba berjalan ke arahnya.
"Um, iya." Hinata hanya mengangguk malu dengan rona merah di pipinya. Ia malu, bagaimana dua sahabatnya ini bisa ada di daerah dekat pemakaman, bukankah seharusnya mereka sedang menunggu di kedai ramen, sepertinya ia terlambat, bahkan sampai disusul seperti ini.
"Tak perlu merasa malu begitu. Padahal kita sudah lama satu tim," keluh Kiba sambil memutar bola matanya bosan. Sifat pemalu Hinata belum sepenuhnya hilang ternyata.
"I-iya Kiba-kun. K-kenapa kalian b-bisa ada di sini? apa aku t-terlambat?" tanya Hinata pada kedua sahabatnya itu. Kalau benar ia terlambat rasanya tak enak sekali.
"Ya bisa dibilang seperti itu Hinata. Tapi, tak masalah ayo kita pergi ke rumah sakit sebelum waktu menjenguk habis," ucap Kiba langsung melangkahkan kakinya menuju rumah sakit. Di belakang, Hinata dan Shino mengekorinya juga akamaru.
Hinata merasa ada yang kurang, dimana Naruto? apa dia sudah pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. Kalau begitu sepertinya ia memang datang sangat terlambat, bahkan Naruto sudah pergi lebih dulu. Menyadari Hinata yang memandangi sekitar seperti mencari seseorang, Shino menepuk pelan bahu Hinata tanpa menolehkan sedikitpun pandangannya ke wajah cantik Hinata.
"Kau mencari Naruto? tadi aku dan Kiba bertemu dengan Sai, tapi, katanya Naruto tak terlihat sejak kemarin," ucap Shino. Ia cukup tahu bahwa Hinata menyukai Naruto dan pasti yang Hinata cari adalah pemuda itu, saat mereka juga Kiba mengantar Naruto pulang ke rumahnya sekeluar Naruto dari rumah sakit, dia mengajak mereka menengok Sasuke hari ini.
Sebenarnya memang meskipun Naruto masih di rumah sakit , mereka bertiga sering mengantar Naruto menjenguk Sasuke di kamar rawatnya. Jadi, bisa dibilang mereka sudah cukup dekat dengan Sasuke maupun tim taka. Seharusnya kemarinpun mereka menjenguk Sasuke, tapi, berhubung godaime memerintahkan mereka untuk memeriksa keadaan desa maupun sekitarnya, jadi, mereka tak sempat untuk menjenguk Sasuke.
"Be-begitukah? memang Na-naruto-kun kemana?" tanya Hinata pada Shino, air muka Hinata berubah khawatir. Tentu saja, ia pasti khawatir terhadap Naruto, bukankah Naruto baru saja keluar dari rumah sakit.
"Tidak tahu, bahkan Sakura pun tak mengetahuinya." Ucapan Shino membuat Hinata bergeming, bahkan Sakura pun tak mengetahuinya. Benar, bukankah apapun yang dilakukan Naruto, Sakura pasti mengetahuinya. Hinata lagi-lagi merasa menjadi orang bodoh, bahkan yang tahu banyak hal tentang Naruto bukan dirinya tapi Sakura.
Mungkin memang selama ini ia terlalu bangga dengan perasaanya sampai tidak menyadari perasaan orang-orang sekitarnya.
"Kau kenapa Hinata? Ada masalah?" tanya Shino sambil mengalihkan pandangan netranya ke arah Hianata. Sepertinya Shino terlalu peka untuk menyadari perubahan sikap Hinata yang langsung menundukan kepalanya dan terdiam tanpa menyahut ucapannya sebelumnya.
"Ah, ti-tidak ada apa-apa Shino-kun," ucap Hinata sambil mendongakan kepalanya ke arah Shino dan tersenyum manis untuk membuat Shino percaya. Ia tak mau membuat teman satu timnya ini khawatir.
"Hm, syukur kalau begitu." Shino kembali menatap lurus ke depan ke arah jalan. Pipinya memerah melihat senyum Hinata yang kelewat manis menurutnya, rasanya Shino jadi salah tingkah sendiri.
Sesaat setelah Shino sudah tak menatapnya lagi, Hinata menghela napas lega karena Shino tak banyak tanya. Syukur Shino percaya pada ucapannya begitu saja. Hinata tersenyum simpul, setidaknya ia masih mempunyai dua sahabat satu timnya ini yang peduli padanya. Mereka selalu peduli pada kesehatannya dan mengingatkannya agar tak lupa makan.
Mereka mau menemaninya kemanapun Hinata pergi, dan selalu ada saat ia membutuhkan pertolongan. Bahkan ke makam Neji pun biasanya mereka bersama kadang kala Tenten juga Lee ikut bersama mereka. Ia masih punya orang yang peduli dan sayang pada dirinya. Kenapa ia selalu saja terlalu memikirkan Naruto, padahal dua sahabatnya ini yang selalu ada untuknya.
Bahkan saat Shino menawarkan bantuan dan menyuruh Hinata untuk beristirahat di medan perang dulu, Hinata menolaknya hanya karena ia merasa ia harus melakukan yang terbaik bagi Naruto. Kenapa ia hanya memikirkan Naruto dan Naruto terus, Hinata menggelengkan kepalanya mengingat segimana ia terlalu terobsesi kepada Naruto dulu.
Tak terasa mereka akhirnya sampai di depan rumah sakit konoha, yang sudah bagus kembali karena renovasi beberapa hari ini. Langkahnya terhenti saat melihat kunoichi merah muda-Sakura- hendak keluar dari rumah sakit dengan raut muka yang menggambarkan beberapa perasaan bercampur menjadi satu.
Hinata tersenyum miris melihat Sakura, lagi-lagi perbincangan Sai dengan Sakura terngiang di benaknya yang membuatnya semakin sesak. Tapi, ia sudah meneguhkan hatinya untuk merelakan Naruto dengan Sakura, ia harus kuat pasti Kami-sama sudah merancang kehidupan yang lebih baik untuknya.
"S-sakura-san," sapa Hinata saat jaraknya dengan Sakura tak terlalu jauh, ia tersenyum ke arah Sakura dan menghentikan langkahnya sebentar.
"Ah, hai Hinata, Kiba, Shino, kalian mau jenguk siapa?" sapa balik Sakura dengan senyum manis yang sudah terpatri di bibir mungilnya.
"Sasuke, Sakura. Ngomong-ngomong apa benar Naruto tak terlihat sejak kemarin, Sakura?" tanya Kiba kepada kunoichi di depannya itu.
"Kata Sai sih begitu, tapi, aku belum sempat melihat Naruto sejak dia keluar dari rumah sakit," jawab Sakura, hatinya benar-benar mengutuk sudah terjebak perbincangan dengan mereka bertiga, kenapa lagi-lagi harus membicarakan Naruto.
"Begitukah? apa Naruto-kun belum sempat mengungjungi Sakura-san?" Hinata ikut andil memperlebar perbincangan yang tanpa ada unsur kesengajaan ini.
Sakura hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Hinata. Haruskah lagi-lagi ia mendengar celotehan orang-orang mengenai ia dengan Naruto, seperti tak ada topik perbincangan lagi. Terlalu menyebalkan dan membosankan.
"Apa Sakura-san habis bertugas?" Hinata lagi-lagi mengeluarkan pertanyaannya.
"Um, iya Hinata, tadi aku habis memeriksa Kakashi-sensei, Yamato-taichou dan Sasuke-kun." Sakura dengan lugas menjawab pertanyaan Hinata, setidaknya ini tak terlalu menyangkut ia, Naruto, maupun perasaannya terhadap Sasuke.
"Lalu, b-bagaimana keadaan S-sasuke-kun sekarang, Sakura-san? apa s-sudah membaik?"
Sakura terdiam sebentar mendengar penuturan Hinata barusan, Hinata memanggil Sasuke dengan suffix kun, dia juga terlihat peduli padanya, sejak kapan mereka saling mengenal juga dekat. Dan mereka bertiga sengaja ke rumah sakit untuk menjenguk Sasuke. Sepertinya ada yang Sakura tak ketahui.
"Sasuke-kun sudah mulai membaik Hinata, besok juga sudah boleh pulang," jawab Sakura sambil tersenyum lembut.
"Ahh syukur k-kalau begitu, berarti Sa-sasuke-kun bisa melihat ha-hanabi atas kemenangan dunia ninja dan a-aliansi ninja besok."
"Um, begitulah. Sepertinya kalian sudah dekat ya." Sakura menyeringai kecil ke arah Hinata bermaksud menggodanya. Mendengar apa yang diucapkan oleh Sakura, pipi Hinata mengeluarkan rona merah yang membuatnya tampak manis. Dia jadi gugup sendiri digoda oleh Sakura.
"Sudahlah Sakura, kita masuk dulu ya, jaa.." sahut Kiba sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit disusul oleh Shino di belakangnya.
"Sakura-san, kau sudah tak menyukai S-sasuke-kun lagi, bukan? jadi, tak masalah kan kalau a-aku berusaha me-mengambil ha-hati Sasuke-kun?" ucap Hinata dengan rona merah yang sudah menjalar dan pergi meninggalkan Sakura yang mematung mendengar apa yang dituturkan oleh Hinata tadi.
Sakura tak salah dengar, kan? apa Hinata sudah tak menyukai Naruto lagi dan malah menyukai Sasuke? Apa ia tertidur selama beberapa abad. Bahkan ia tak tahu kalau tim delapan dekat dengan Sasuke.
Sibuk beberapa hari ternyata seperti dikucilkan dari dunia beberapa tahun, yang bahkan membuatnya ketinggalan beberapa berita ataupun peristiwa. Sakura menghela napas sebentar, lalu, melanjutkan langkahnya lagi pergi ke kedai ramen untuk makan siang, mungkin saja, ia akan bertemu dengan Naruto di sana.
Laki-laki berambut pirang bejalan santai memasuki gerbang konoha, ia terlalu lelah oleh misi yang diberikan oleh godaime untuk menghadiri rapat yang membahas mengenai kerja sama antara lima kage. Naruto sebenarnya bingung kenapa harus ia yang menghadiri acara itu, kenapa tidak godaime sendiri saja, atau mungkin Shikamaru.
'dasar Tsunade-baachan menyebalkan' pikir Naruto, ia terus melangkahkan kakinya menulusuri jalanan konoha, ia belum sempat mengunjungi Sakura setelah ia keluar dari rumah sakit. Jadi, tujuannya saat ini adalah pergi ke arah rumah sakit menemui kunoichi merah muda itu. Naruto tersenyum merekah membayangkan wajah cantik Sakura.
Hatinya senang bukan main, ia sudah benar-benar rindu dengan Sakura, semenjak perang dunia ninja ke-4 berakhir, Sakura selalu saja sibuk dengan tugasnya, semoga saja sekarang dia sedang tidak bertugas. Tsunade benar-benar keterlaluan pikir Naruto, karena dia menugaskan Sakura memegang kendali rumah sakit. Karena itu ia jadi susah memiliki waktu untuk mengunjunginya.
Rencananya ia ingin mengajak Sakura makan siang di kedai ramen, bukankah ini sudah hampir waktunya makan siang. Kalau memang ada waktu ia ingin mengajak Sakuranya itu jalan-jalan sebentar sebagai pengobat rasa rindunya itu. Naruto sudah memikirkan hal-hal yang membahagiakan dan tersenyum cerah seperti biasa.
"Naruto-kun." Sapaan dari seseorang membuatnya menengokan kepalanya ke arah sumber suara. Terlihat pria berambut hitam juga berkulit pucat tersenyum ke arahnya. Sai-pria itu-berjalan menghampiri Naruto.
"Oh, konichiwa Sai," sahutr Naruto dengan senyum lima jarinya seperti biasa.
"Konichiwa Naruto-kun, mau kemana? kelihatannya buru-buru." Sai mengernyitkan alisnya bingung.
"Ah, aku mau ke rumah sakit Sai, mau bertemu Sakura-chan," ujar Naruto dengan rona merah yang sudah mulai menjalar di pipinya.
"Begitu, ya tadi memang Sakura-san ada di rumah sakit, um, apa Naruto-kun akan menyatakan cinta pada Sakura-san?" Naruto tersentak mendengar penuturan Sai barusan, menyatakan cinta katanya, ia hanya ingin mengajak Sakuranya makan siang saja, tidak ada rencana sedikitpun untuk menyatakan cinta.
"K-kau bicara apa Sai? A-aku tidak akan menyatakan cinta pada Sakura-chan," ucap Naruto dengan menundukan kepalanya.
"Kenapa lagi memangnya Naruto-kun? bukankah waktu itu Naruto-kun bilang bagaimana bisa aku melakukannya, bahkan aku belum bisa menepati janjiku, tapi kan sekarang janji Naruto-kun sudah terpenuhi, jadi, tunggu apa lagi?"
"I-iya kau memang benar Sai, tapi, aku belum berani, sepertinya Sakura jga masih menyukai Sasuke." Naruto menghela napas pasrah, ia tak mengerti kepada Sai, bahkan orang lainpun tahu hati Sakura masih tertuju pada bungsu Uchiha itu.
"Menurutku tidak Naruto-kun, apa Naruto-kun ingat kejadian di tanah besi dulu? aku pernah bilang Sakura-san menyatakan cinta kepada Naruto-kun karena itu demi Sasuke-san, sepertinya asumsiku waktu itu salah, sebenarnya Sakura-san melakukan itu untuk kebaikan Naruto-kun sendiri."
"Maksudnya bagaimana Sai? Aku tidak mengerti." Naruto menunjukan tampang bodohnya, menjadi pahlawan atas perang kemarinpun tak mengurangi sedikitpun kelemotannya ternyata.
Naruto memang harus banyak belajar lagi sepertinya apabila ia masih ingin untuk menjadi hokage.
"Intinya Sakura-san peduli pada Naruto-kun, mungkin dia juga sudah mulai menyukai Naruto-kun." Lagi-lagi Sai mengatakan praduganya yang belum tentu benar, sifat sok tahu Sai memang benar-benar sudah kelewatan, sepertinya dia juga memiliki bakat untuk menjadi paranormal.
"Benarkah Sai? Baiklah kalau begitu aku akan memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Sakura-chan hari ini," teriak Naruto membuat semua orang menengok ke arahnya karena terlalu berisik.
Dengan perasaan yang tak bisa tergambarkan Naruto melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit, ia jadi tak sabar melihat Sakura dan mengutarakan perasaannya. Jutaan kupu-kupu terus behilir mudik di hatinya, sebagai perlambang kebahagiaanya yang membuncah. Semua terasa manis apabila dibayangkan, semoga saja rasa manis itu tidak akan berubah menjadi sebuah rasa pahit.
Naruto sampai lupa, seharusnya sepulang dari misi ia harus melapor telebih dahulu pada Tsunade, namun, karena misi hidupnya lebih penting daripada misi yang harus ia laporkan. Ia jadi lebih memilih untuk menjalankan misi hidupnya terlebih dahulu.
Dari jauh Naruto melihat seorang perempuan bersurai merah muda sedang bejalan santai keluar dari rumah sakit, sepertinya itu Sakura yang hendak pergi ke kedai ramen ichiraku. Dengan semangat yang menggebu Naruto berlari menuju Sakura, jangan sampai ia terlambat. Sambil berlari Naruto pun terus menyerukan namanya berharap Sakura bisa menghentikan langkahnya.
"Naruto!" Sakura kaget saat membalikan badannya dan melihat siapa yang sedari tadi melafalkan namanya begitu berisik. Matanya membulat sempurna melihat makhluk kuning di depannya. Yang ia tahu Naruto tak terlihat di desa sejak kemarin, terus kenapa orang ini bisa tiba-tiba ada di belakangnya.
Sakura mengerjapkan matanya berulang kali memastikan makhluk di depannya bukan sekedar halusinasinya saja. Sepertinya Naruto yang di depannya ini memang nyata, karena meskipun ia sudah mengerjapkan matanya berulang kali Naruto tak kunjung hilang daru jangkauan netranya.
"Kenapa kau ada di sini Naruto?" Dengan spontan Sakura mengeluarkan pertanyaan, seolah ia enggan melihat Naruto. Namun, sebenarnya bukan itu maksud Sakura, ia hanya bingung kenapa Naruto bisa tiba-tiba memanggilnya dan berada tepat di belakangnya. Ia harap Naruto tak akan salah paham.
"Kau mengusirku Sakura-chan?" Naruto mengerucutkan bibirnya sebal, sudah semangat-semangat dia berlari mengejar Sakura, tapi, respon dari gadis pinky ini malah seperti itu. Sepertinya harapan Sakura agar Naruto tak salah paham tak terkabulkan.
"Gomen Naruto, bukan seperti itu maksudku. Bukankah kata Sai kau tidak terlihat sejak kemarin? Lalu, kenapa kau tiba-tiba ada di sini?"
"Oh, begitu. Aku memang kemarin pergi ke suna menghadiri rapat kage untuk membicarakan mengenai hubungan regional lima negara."
"Ehh? Kenapa tidak Tsunade-shisou saja yang menghadirinya secara langsung?" Sakura menautkan alisnya bingung. Apa shisounya memang benar-benar lelah sampai hampir semua tugas penting ia limpahkan pada orang lain.
"Entahlah Sakura-chan, katanya aku kan sebentar lagi akan dipromosikan menjadi hokage, jadi, aku harus mulai belajar mengenai ketatanegaraan."
"Apaa? Jadi hokage? Kau? Benarkah? Kapan Naruto?" Berbagai pernyataan tidak percaya dan perntanyaan keluar dengan spontan dari mulut mungil Sakura. Ia tak percaya secepat ini Naruto akan meraih cita-citanya sejak kecil itu. Tak bisa dipungkiri, hati kecilnya ikut berbahagia mendengar kabar ini.
"Sstt,, jangan berisik Sakura-chan, tapi, itu masih satu tahun lagi. Yang tahu kabar ini baru kau saja." Naruto meletakan jari telunjuk di bibirnya berusaha memberi intrupsi pada Sakura untuk memelankan suaranya.
"Ehh? Baru aku? Kenapa?"
"Karena aku menganggap Sakura-chan spesial." Ucapan Naruto barusan membuat pipi Sakura memerah. Terasa manis di telinga dan hatinya, menimbulkan efek berbeda untuk hati dan jantungnya, karena ia merasa tiba-tiba perasaan bahagia membuncah di hatinya dan jantungya bertalu-talu dengan cepat.
Naruto selalu saja mencoba untuk menggodanya, tak pernah kehabisan kata untuk itu. Dia selalu mempunyai segudang cara untuk membuat Sakura merasakan bahagia. Sejak kecil hingga saat ini, Naruto selalu berhasil membuatnya bahagia maupun tertawa. Sakura mengingat semua kejadian saat Naruto berhasil menguatkan hatinya untuk tegar dan tetap tersenyum.
Sakura sadar selama ini yang selalu siap berada di sisinya hanyalah Naruto. Saat dia memiliki masalah pasti Narutolah yang akan membantunya, saat ia berada dalam jurang keputusasaan, Naruto yang akan membangkitkan semangatnya kembali. Dan yang selama ini ia pikirkan keselamatannya yaitu Naruto, bukan yang lain, bukan Uchiha bungsu itu juga.
"Kau kenapa Sakura-chan?" Naruto bingung melihat Sakura yang tiba-tiba tersenyum seperti itu, apa ia senang dikatakan spesial, sepertinya praduga Sai memang benar pikir Naruto.
"Tidak apa-apa Naruto," jawab Sakura sambil tersenyum simpul ke arah Naruto.
"Apa Sakura-chan sedang tidak ada tugas?" Sakura menganggukan kepalanya sebagai jawaban, "baiklah kalau begitu, ayo ikut aku ke taman." Naruto menggenggam tangan Sakura dan menyeretnya agar Sakura mengikutinya pergi ke taman
Sesampainya di taman, Naruto duduk di ayunan, sedangkan Sakura berdiri di ayunan sebelah kiri ayunan Naruto. Mereka terus mengayunkan ayunannya masing-masing sambil menikmati sejuknya angin di siang hari bercampur dengan sinar mentari yang terik.
"Sakura-chan, apa kau ingat saat ayahku menanyakan apakah kau pacarku atau bukan?" Tanpa memberhentikan ayunannya Naruto memulai perbincangan di antara mereka.
"Ya, memangnya kenapa Naruto?" Dengan santai tanpa memberhentikan ayunannya juga Sakura menjawab pertanyaan Naruto.
"Kalau begitu ayo kita pacaran, aku sudah menyukai Sakura-chan sejak masih kecil, Sakura-chan masih ingat dengan Yota?"
"Jangan bercanda Naruto, Yota ya? tentu aku masih ingat."
"Ya, sejak saat itu, bukan bukan, sebelum itu juga aku sudah tertarik pada Sakura-chan. Bagaimana Sakura-chan? Aku harap tidak akan menerima penolakan."
"Jangan bercanda Naruto. Apa mungkin seorang perempuan akan percaya terhadap laki-laki yang pernah menolaknya?" Sakura turun dari ayunan dan pergi melangkahkan kakinya hendak keluar dari taman. Namun, tiba-tiba Naruto menahan tangan Sakura.
"Tunggu, Sakura-chan. Waktu itu aku pikir, kau hanya bercanda dan terpaksa melakukan itu, aku tak mau bila kau membohongi perasaanmu."
"Apa bedanya kalau sekarang juga aku menganggap kau bercanda?" Sakura menyipitkan matanya ke arah Naruto seolah tak percaya. Memang ia tak percaya, mana mungkin ia percaya padahal pemuda sudah tegas menolaknya di tengah turunnya salju.
"Tapi, ini beda Sakura-chan, aku takut kau hanya berbohong pada perasaanmu sendiri." Naruto mencengkram kuat kedua bahu Sakura seolah memberi kode bahwa ia memang sedang tidak bercanda.
"Kenyataannya yang tahu bagaimana perasaanku hanya aku dan Kami-sama, kan Naruto?" Sakura tersenyum meremehkan ke arah Naruto. Enak saja Naruto menggunakan kata-kata itu, siapa bilang waktu itu dia berbohong, dia benar-benar ingin mencoba membuka hati untuk Naruto, dan Naruto menyia-nyiakannya begitu saja.
"Ya. Tapi, bahkan Sai pun berkata begitu, kau melakukan itu demi Sasuke-teme."
"Kau lebih percaya Sai, ehh?" Naruto menundukan kepalanya dalam menggambarkan penyesalan di raut wajah tannya itu. Memang ia terlalu percaya perkataan Sai, bahkan percaya begitu saja kalau Sakura sekarang mulai menyukainya. Mungkin ia memang harus sadar seberapapun ia berusaha Sakura tak akan melirik ke arahnya. Tapi, asal Sakura bahagia ia rela walau harus merasakan perih.
Seperti apa yang ia katakan dulu pada Putri Shizuka, ia memang akan berbahagia jika kelak Sakura akan menerimanya, tapi, melihat Sakura bahagia saja itu sudah cukup baginya. Meskipun ia tak akan bisa mendapatkan senyum gadis ini, tapi, ia rela.
"Iya, kau benar Sakura-chan, seharusnya aku tak boleh begitu saja percaya pada Sai. Aku juga tak boleh percaya pada apa yang ia ucapkan tadi, katanya kau mulai menyukaiku." Naruto tersenyum pahit dan melepaskan tangannya dari bahu Sakura.
"Sai mengatakan itu? dia benar-benar sok tahu, tapi, apa yang dikatakan Sai memang benar. Bahkan sejak dulu aku sudah mulai tertarik padamu, jadi, apa yang aku ucapkan waktu itu bukan kebohongan, aku memang ingin mencoba membuka hatiku untukmu."
"Benarkah Sakura-chan? Maaf waktu itu aku kasar padamu, aku tidak bermaksud, a-aku hanya…"
"Sudahlah Naruto, yang lalu yasudah biarkan saja." Sakura mengulum senyum ke arah Naruto.
"Jadi, apa yang dikatakan Sai bahwa kau melakukan itu untuk kebaikanku juga benar?"
"Sai, sebenarnya apa saja yang ia katakan. Dia benar-benar keterlaluan." Sakura malah bersweatdrop ria mengetahui Sai yang begitu senang mengumbar praduganya, padahal bisa saja itu bisa menimbulkan kesalahpahaman atau mungkin lebih parah lagi konflik.
"Tidak, aku tidak melakukan itu hanya untukmu, itu memang untuk kebaikan kau juga Sasuke-kun, tapi, yang lebih penting itu untuk kebaikan desa, Naruto."
Sakura menjelaskan kenapa ia memilih menyatakan cinta pada Naruto, bukan, yang ia lakukan bukan demi Sasuke ataupun Naruto, tapi, itu untuk kebaikan desa Konoha , mungkin ia melakukan hanya untuk kebaikannya saja, tapi, sekarang ia bukanlah seorang anak kecil lagi yang bisanya merengek.
Ia lakukan ini semua untuk desa, perkataan Shikamaru yang mengatakan kemungkinan akan terjadinya perang antar desa bila kita tidak menyerahkan Sasuke untuk ditindaklanjuti secara internasional yang melatarbelakangi tindakannya itu. Namun, memang sebenarnya masih ada cara lain yang bisa dilakukan tapi ia lebih memilih cara yang satu ini.
Karena dia juga berniat ingin sedikit saja membahagiakan Naruto dan mencoba membuka hati untuknya. Hatinya yang mendorong melakukannya, perasaannya ikut andil memprovokasinya juga ucapan Sai. Tapi, alasan yang satu ini tak akan ia beberkan pada Naruto, cukup ia dan Kami-sama yang mengetahuinya.
"Begitu ya Sakura-chan, wah Sakura-chan benar-benar mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi ya," ucap Naruto saat Sakura mengakhiri ceritanya mengenai alasannya melakukan itu. Matanya berbinar-binar bangga seolah apa yang dilakukan Sakura adalah perkara besar. Sakura hanya bisa cekikikan melihat ekspresi Naruto seperti itu. Namun, tiba-tiba raut wajah Naruto murung.
"Kau kenapa Naruto?" Sakura heran melihat perubahan raut wajah Naruto yang kelewat tiba-tiba itu.
"Padahal aku udah senang saat mendengar Sakura-chan melakukan itu untukku." Ucapan polos Naruto membuat Sakura tertawa terbahak-bahak, konyolnya Naruto memang tak bisa hilang.
"Hahaha…sudahlah Naruto, apa kau tidak ingin makan siang di kedai ramen ichiraku?"
"Ahh, iya tentu saja Sakura-hime."
Duag…
Sakura memukul pelan perut Naruto, berani-beraninya memanggil Sakura dengan sebutan hime. Sepertinya dia sudah bosan hidup, dan ingin mati di tangan Sakura.
"Jangan panggil aku seperti itu, aneh, Sakura-chan saja sudah cukup," ucap Sakura ketus, dia langsung menunjukan muka juteknya lagi.
"Yah, kau kan sudah resmi jadi pacarku…" Melihat mata Sakura yang sudah tidak bersahabat Naruto jadi merinding sendiri, "Baiklah…baiklah Sakuchan-hime." Seringaian Naruto semakin menjadi. Akhirnya terjadilah aksi kejar mengejar di antara mereka. Namun, tiba-tiba Naruto berhenti dan langsung membalikan badan sepenuhnya ke arah Sakura.
Sakura bingung dengan perbuatan Naruto yang tiba-tiba ini, ia pun menyipitkan matanya ke arah Naruto, berjaga-jaga agar Naruto tak melakukan hal yang di luar dugaannya. Semakin bingung ia saat orang yang ditatap malah menatapnya semakin intens dan lembut. Tanpa disadari oleh pemiliknya, pipi Sakura menunjukan rona merah.
Cepat-cepat Sakura palingkan wajahnya sebelum Naruto menyadarinya. Namun, sangat disayangkan ia kalah cepat oleh Naruto yang sudah memegang pipinya, sampai matanya bisa langsung menatap mata biru cerah Naruto. Tanpa ada persetujuan tiba-tiba Naruto mencium kening Sakura, Sakura yang tak menyangka hanya diam membatu, tak bisa mengeluarkan sebuah verba sekalipun.
"Keningmu terlihat manis, membuatku tak tahan untuk menciumnya." Frasa yang cukup panjang itu membuat Sakura semakin membulatkan matanya. Ia sangat mengenali frasa bermakna ini. Ini adalah sebuah frasa yang pernah Sasuke ucapkan dulu, dulu sekali, saat ia baru menjadi anggota tim tujuh.
Pikiran Sakura terus bertanya-tanya bagaimana pemuda di depannya ini bisa mengetahui kalimat yang pernah Sasuke ucapkan itu. Apa Naruto sampai membututi dan mengintip segala hal yang dilakukannya dulu. Kalau tidak, bagaimana cara pemuda hyperactive ini mengetahuinya.
"Kenapa Sakura-chan? Mengenali kalimat itu?" tanya Naruto jail sambil mengedipkan sebelah matanya. Sakura malah menggembungkan pipinya sebal, Naruto masih sempat-sempatnya meledek saat dia penasaran setengah mati.
"Haha kau jelek bila cemberut begitu Sakura-chan, tentu saja aku bisa mengucapkan hal yang sama seperti Sasuke dulu, karena yang menjadi Sasuke dulu itu juga aku yang henge menjadi dirinya." Sakura langsung menghadiahi Naruto pukulan di bahunya dengan cukup keras sampai Naruto mengaduh kesakitan.
"Apa! jadi yang waktu itu kau, Narutoo!" Sakura shock bukan main, selama berapa tahun, ia baru mengetahuinya sekarang. Jadi, yang memuji dahinya pertama kali bukanlah bungsu Uchiha itu melainkan pemuda pirang di depannya, Naruto.
Sakura diam seribu bahasa, dia tak menyangka sama sekali, karena itu memang hal yang tak mungkin dia lupakan, seseorang yang pertama memuji dahinya. Itu juga salah satu kenapa ia masih menyukai Sasuke dulu, tapi, ternyata yang selama ini seseorang yang ia pikirkan bukanlah seseorang yang benar-benar memujinya.
Melihat Sakura masih terdiam tanpa berkutik sedikitpun, Naruto melambaikan tangannya di depan wajah Sakura mencoba mengembalikan kesadaran Sakura yang pergi entah kemana. Sakura tersentak kaget, ia pun langsung mendongakan kepalanya menatap manik sapphire Naruto dengan tatapan masih terheran-heran.
Tapi, akhirnya Sakura sadar seseorang yang ia sukai-ralat mungkin lebih tepat cintai-selama ini adalah Naruto. Naruto yang pertama memujinya, Naruto yang selalu bisa membuatnya tertawa, Naruto yang selalu bisa menambahkan semangat baru untuknya. Narutolah yang selalu ada untuknya dan membuatnya merasa lengkap.
Sakura tersenyum merekah, akhirnya ia sadar hatinya memang sudah tertuju pada pemuda ini. Ia pun tak tahu sejak kapan, tapi, sepertinya dari dulu hatinya memang sudah memilih yang terbaik, namun, pikirannya selalu memberi sugesti bahwa ia masih mencintai Sasuke.
"Cepat ke ichiraku, aku sudah lapar," ucap Sakura sambil melenggang pergi dari taman disusul Naruto di belakangnya. Naruto pun mempercepat langkahnya mencoba menjajarkan diri dengan Sakura.
"Baiklah, ini kencan pertama kita setelah jadi sepasang kekasih."
"Hah? kekasih katamu? Aku tak merasa menerima perasaanmu." Sakura menyeringai jail ke arah Naruto. Naruto hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebal, ia merajuk ke Sakura seperti anak kecil meminta permen lollipop.
"Terserah, tapi menurutku kita adalah sepasang kekasih. Oh ya, Sakura-chan. Saat hanabi besok, kita melihat bersama ya, hanya kita, jangan seperti dulu saat hanabi penyambutan Tsunade-baachan, ada Sasuke juga."
"Ehh, maaf aku sih mau ngajak Sasuke-kun tuh," sahut Sakura sambil menjulurkan lidah ke arah Naruto. Naruto pun mengejar Sakura. Mereka terlihat seperti anak kecil berlari-lari sambil tertawa bersama dan meledek satu sama lain.
TBC
A/n: Sebelum banyak omong, Nasa mau ngasih tanggepan buat beberapa reviewer yang nggak login^^ , ini dia,,
Nagasaki: hehe iya^^ , makasih udah review:)
Guest 1, 2 dan 3: Makasih udah bilang menarik dan udah review:) , ini dia nextnya^^
Cindy elhy: Makasih nee udah review dan semangatnya^^ sip ini lanjutannya:)
Zoe: Makasih udah review ini lanjutannya^^
Ns: Sipp ini lanjutannya^^ , makasih udah review:)
My NaMe Viko: Ini bukan oneshot dan ini lanjutannya^^ , makasih udah review , gapapa kok^^
El bany blueblack: Makasih udah review^^ , gantung ya? hehe biar ga gantung ini dia lanjutannya:D
Sebelumnya minta maaf chap pertama keupdate lagi ada kesalahan teknis T.T , dari tadi bingung sendiri T.T
Okk, ada yang masih inget sama fic ini? :( , maaf updatenya nggak bisa cepet ya, soalnya, kemarin-kemarin UAS, udah gitu pulsa modem sekarat dan baru diisi kemarin…Sebenernya udah dibuat lama chapter ini, tapi, tiba-tiba kena wb, jadi, mentok tengah jalan. #plakk malah curhat ._.
Kalian pasti ada yang mikir, kenapa scene awal harus Hinata? Nggak tahu kenapa aku ini peduli sama perasaan Hinata, karena aku tahu gimana rasanya :( *curhat lagi* ._. , jadi, buat perasaan Hinata clear dulu dan ngelepasin Naruto :D . Oh iya aku nggak ada niat bashing chara lho ya, maaf ya kalau emang ada beberapa kata yang keterlaluan^^
Sebenernya ide fic ini tuh waktu aku mikir-mikir gimana ya ending Naruto, terus baca salah satu blog yang isinya ada kalimat 'Masashi-sensei masih punya hutang beberapa chapter untuk mejelaskan mengenai pairing' kurang lebih sih gitu kalimatnya XD , apalagi scene di tanah besi yang masih ambigu menurutku.
Jadilah fic ini :D , um, ada juga yang nanya sampai berapa chapter, ini nggak bakal banyak chapter. Sebenernya di sini juga udah bisa diending, tapi, berhubung ide masih ada, jadi, kira-kira cuma tiga chapter, jadi, next chap tuh chap terakhir.
Um, apalagi ya, oh iya, buat yang udah review chapter kemarin Nasa benar-benar ucapkan banyak terimakasih^^ . Nasa sayang kalian^^ jangan lupa ninggalin jejaknya lagi XD, um, boleh promosi fic lain kan ya? Ada yang suka ShikaIno nggak? Kalau ada, boleh dong mampir ke fic ShikaIno pertama Nasa yang judulnya 'diet'^^ XD.
Maaf ya kalau kelewatan ooc charanya T.T , Nasa tahu udah lama updatenya chapnya juga ngecawain gini T.T , mohon maklumi ya, ini juga maksa soalnya takut kalau nanti-nanti tambah stuck, jadinya tambah lama update T.T
Okk, Nasa sadar fic ini juga masih terlalu banyak kesalahan, jadi silakan tuangkan segala kritik, saran ataupun concrit di kotak review :), So, don't forget to…
\Review/
Please!^^
.
.
