Memories Bring The True Love

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre: Friendship & Romance

Pairing: NaruSaku and little bit other

Warning: Ooc, typo(s), dan kesalahan lainnya

Don't Like Don't Read

Happy Reading :)

Chapter 3

.

.

Sakura memasuki kedai ramen Ichiraku dengan terengah-engah disusul oleh Naruto dengan keadaan yang sama, mereka berkejaran satu sama lain. Sakura tertawa renyah dibarengi dengan tawa nyaring Naruto. Mereka duduk berdampingan sambil mengambil pasokan udara sebanyak-banyaknya, karena mereka memang terlalu lelah setelah berkejar-kejaran seperti tadi.

Naruto mengalihkan pandangannya pada wajah ayu Sakura, ia tatap lekat-lekat setiap lekuk wajah gadis yang ia cintai dulu, sekarang maupun nati, nanti dan nanti. Cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya yang selalu ia impikan. Naruto benar-benar tak menyangka, semua impiannya selama ini tercapai setelah berbagai rintangan ia lalui.

Cita-citanya menjadi hokage sudah di depan mata, dalam waktu satu tahun lagi semua sudah bisa ia capai. Semuanya telah ia lalui, dari seorang zero menjadi seorang hero. Bila mengingat bagaimana saat ia kecil dulu, rasanya sangat miris, tak ada yang mau mengakui keberadaannya, tak ada yang mau menjadi temannya atau bahkan dekat dengannya.

Ia selalu sendiri, selalu dipandang monster oleh setiap warga konoha, tatapan-tatapan mereka yang begitu tajam dan menusuk. Semuanya begitu menyakitkan, tapi, sekarang bahkan hampir seluruh orang di dunia ninja mengenal namanya. Seorang pahlawan dalam perang dunia ninja ke-4, Uzumaki Naruto.

Bahkan, impiannya untuk bisa mendapatkan senyuman Sakura berhasil ia dapatkan. Senyuman manisnya yang begitu menawan menurut Naruto dan bisa membuatnya untuk merasakan jatuh cinta lagi, lagi dan lagi, tanpa ada rasa lelah untuk mencintainya. Senyuman yang dulu selalu Sakura persembahkan untuk sahabatnya, Sasuke.

Ia merasa benar-benar menjadi seorang yang beruntung bisa menggapai cita-citanya juga bidadari cantik yang sedang ia tatap ini. Perjuangannya selama ini tak sia-sia, memang untuk mendapatkan dan meraih segala sesuatu butuh pengerbonan yang besar. Tak sedikit yang ia lakukan untuk mewujudkan impian-impiannya.

Dari mulai seorang murid di akademik ninja yang selalu diremehkan karena memang ia payah. Ia ingat bahkan ia tak berbakat untuk melempar kunai, sampai-sampai kunai yang ia lempar hampir mengenai Iruka. Berbeda dengan rivalnya, Uchiha Sasuke yang menjadi idola para gadis maupun para guru, karena memang ia keren dan pandai.

Begitupun dengan gadis dihadapannya ini yang selalu meneriakan 'Sasuke-kun' setiap Sasuke akan melakukan aksinya. Mengenang masa lalu itu benar-benar menyedihkan, tapi, nyatanya tanpa ada masa lalu tak akan pernah ada masa sekarang. Bagaimanapun juga semua yang ia dapatkan sekarang karena masa lalu yang selalu menjadi acuannya untuk menajdi yang lebih baik lagi agar diakui oleh warga desa.

Tanpa sadar Naruto tertawa kecil mengingat masa kanak-kanaknya dulu, yang selalu diremehkan, yang selalu mencoba mengambil perhatian Sakura dan akhirnya malah mendapatkan tonjokan darinya.

Sakura mengerutkan dahinya mendengar tawa kecil yang keluar dari mulut Naruto. Ia arahkan direksi netranya pada sang pelaku tertawa itu. Mendapati Naruto yang memandanginya terlalu intens, kerutan dahinya semakin menjadi. Sebenarnya apa yang sedang Naruto pikirkan tentang dirinya sampai tertawa kecil seperti itu.

"Heii Naruto…kau kesambet? Kenapa ketawa seperti itu, aneh!" Kini giliran Sakura yang melambaikan tangannya di wajah tan Naruto.

Naruto tersentak kaget, ternyata ia sudah terlalu dalam melamun sampai ia tertawa sendiri seperti itu, "aku tak apa Sakura-chan, hanya sedikit mengingat masa lalu," ucap Naruto sambil tersenyum simpul ke arah Sakura.

Sakura hanya mengangkat bahunya tak peduli, "Paman Teuchi aku pesan ramen satu porsi," pesan Sakura sambil kembali mengarahkan pandangan netranya ke depan.

"Ah iya, ramen jumbonya satu ya Paman Teuchi." Naruto baru sadar bahwa ia belum memesan ramen sedari tadi. Rasanya senang sekali, akhirnya ia bisa benar-benar kencan dengan Sakuranya. Sedari dulu ia belum pernah kencan seperti ini dengan Sakura. 'Kami-sama terimakasih untuk semuanya' ucap Naruto dalam hati.

"Hei Shika, cepat sedikit dong jalannya, aku sudah lapar, ingin makan ramen." Terdengar suara feminim dari luar kedai, sepertinya Sakura mengenali suara ini, seorang gadis berambut pirang dan berkuncir kuda satu dengan poni menutupi sebelah matanya memasuki kedai disusul oleh pemuda berambut hitam seperti nanas.

"Iya-iya, mendokusai na," sahut pemuda berambut seperti itu dengan malas.

"Hai, Shikamaru…dan Ino?" Naruto menautkan alisnya bingung, "apa kalian juga sedang berkencan?" lanjut Naruto melempar sebuah pertanyaan pada dua sejoli tadi, Shikamaru dan Ino.

"Juga? Maksudmu kau juga sedang berkencan dengan Sakura, Naruto?" Kini giliran Ino mengeluarkan pertanyaan, pemilik nama yang disebut barusan hanya bisa memutar manik emeraldnya bosan, pasti sahabat pirangnya ini akan bertanya lebih banyak hal lagi. Naruto juga kenapa harus memberitahu queen of gossip Konoha ini.

"Tentu, ini kan kencan pertama kami setelah menjadi sepasang kekasih," jawab Naruto antusias, ia sepertinya memag terlalu senang dan bangga menjadi kekasih Sakura.

Ino hanya bisa bersweatdrop ria mendengar jawaban Naruto yang terlalu berlebihan menurutnya itu. Tak lama kemudian, Ino pun memicingkan matanya ke arah Sakura, sontak Sakura pun menatap Ino dengan malas, "apa?" Pertanyaan ambigu keluar begitu saja dari mulut mungil Sakura, ia yakin setelah ini mungkin ada sesi introgasi.

"Sejak kapan kau pacaran dengan Naruto, Sakura? kenapa aku tidak tahu? kau sengaja menyembunyikannya dariku?" Benar saja insting Sakura, Ino sudah memulai acara introgasinya, ia mengeluarkan rentetan pertanyaan.

Sakura selaku terdakwa hanya menatap sang hakim dengan malas. Apa-apaan itu pertanyaannya, sengaja menyembunyikan dari gadis itu katanya, bahkan dia dan Shikamaru adalah orang pertama yang mengetahuinya. "kau bicara apa Ino, aku dan Naruto baru saja beberapa menit yang lalu jadian, lagipula apa hal seperti itu harus diumbar." Sakura menghela napas malas, ia benar-benar mengutuk pertemuannya dengan Ino.

"Apa-apaan itu ucapanmu, aku kan sahabatmu, tentu kau harus memberitahuku berita bahagia ini," ucap Ino dengan cerewetnya.

"Sudahlah Ino masalah seperti ini tak usah dibahas, mendokusai." Suara Shikamaru seolah penyelamat bagi Sakura, ia menghela napas lega, sang pengacara sudah bisa membukam sang hakim. Ino mengalihkan direksi netranya ke arah Shikamaru dan mengurucutkan bibirnya sebal. Dia berpikir kenapa kekasihnya ini malah lebih membela Sakura dibanding dirinya.

Ino selalu saja seperti itu, padahal Shikamaru hanya tak suka mendengar ribut-ribut hanya karena masalah sepele. Shikamaru mengacuhkan pandangan tak suka dari kekasihnya, ia lebih memilih duduk di samping sahabatnya, Naruto. Melihat Shikamaru duduk, Ino semakin sebal, akhirnya ia pun duduk di samping sahabat pinknya, Sakura.

"Paman Teuchi pesan ramen satu porsi," ucap Ino dengan ketus, dia masih sebal dengan sikap Shikamaru. "aku juga Paman Teuchi," sahut Shikamaru seolah tak memiliki salah sedikit pun. Ya sebenarnya memang ia tak bersalah, Ino saja yang terlalu berlebihan.

Atmosfer di sekitar mereka tiba-tiba menjadi hening, Sakura sadar akan perubahan sikap Ino, dia pasti tak suka dengan ucapan Shikamaru yang seolah membela dirinya itu. Sakura menghela napas pelan, sahabatnya ini memang terlalu sensitif, padahal maksud Shikamaru kan baik, dia hanya ingin tak ada adu mulut.

Mereka terlanjur fokus dengan pikirannya masing-masing, Ino masih dengan kekesalannya karena sikap Shikamaru. Sakura dengan pikirannya tentang perubahan sikap Ino. Shikamaru yang menerawang jauh entah kemana, dan Naruto yang masih tak peduli dengan keadaan sekitar, Naruto ini memang benar-benar tidak peka.

"Shika, kukira kau pacaran dengan Temari, mengingat dulu saat aku baru sampai di Konoha, kau jalan berdua dengannya." Ucapan yang baru Naruto lantunkan, membuat tiga pasang mata itu beralih padanya, ia menjadi titik fokus mereka bertiga sekarang. Naruto mengernyit bingung dengan reaksi tiga orang temannya.

Sakura menghembuskan napas keras-keras, kekasihnya ini memang benar-benar tak bisa membaca situasi. Membuat atmosfer semakin buruk, Ino sudah menunjukan muka tak suka lagi, belum hilang kekesalannya tadi, sekarang Naruto membuat hatinya terbakar cemburu.

"Mendokusai, aku hanya mengantarnya keliling Konoha waktu itu, dia kan tamu, jadi, dia kurang tahu seluk beluk Konoha," jawab Shikamaru dengan santai. "lagipula aku sebenarnya sudah tertarik kepada Ino sejak lama, meskipun dia gadis merepotkan," lanjut Shikamaru sambil melirik Ino sebentar. Dia cukup cerdas untuk mengetahui perubahan air muka Ino.

Mendengar penuturan Shikamaru, Ino tak bisa menampik lagi, pipinya merona merah, kekesalannya runtuh begitu saja. Rasanya kekasihnya ini tahu saja bagaimana caranya membuat hatinya luluh. Mendapati jawaban Shikamaru, Naruto hanya menggerakan kepalanya ke atas ke bawah sebagai tanda bahwa ia mengerti dengan kalimat yang dilafalkan Shikamaru.

Setelah itu suasana pun menjadi hening kembali, mereka tak berniat untuk memulai pembicaraan sedikitpun. Paman Teuchi pun mengantarkan pesanan mereka masing-masing, dengan santai Sakura, Ino dan Shikamaru melahap ramennya masing. Berbeda dengan Naruto yang melahap ramen berukuran jumbonya dengan ganas seolah ia tak makan bertahun-tahun.

Sakura yang melihat cara makan Naruto memutar manik emeraldnya bosan, kebiasaan seseorang memang tak bisa hilang. Namun, tiba-tiba kedua ujung bibir Sakura terangkat membentuk sebuah lengkungan kecil, rasanya sudah lama Sakura tak makan ramen bersama Naruto. Semenjak perang dunia ninja ke-4, setelah perang usai pun ia sibuk dengan tugasnya di rumah sakit.

"Slurrppp…hahh…kau kenapa Sakura-chan?" ucap Naruto setelah menyeruput sisa ramennya. Ia heran melihat Sakura yang tersenyum kecil sambil menatapnya. Merasa ada yang memanggil namanya, Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali, "ehh, aku tak apa-apa kok," sahut Sakura dengan sedikit salah tingkah, ia tak menyangka Naruto menangkap basahnya sedang menatap dirinya.

Sakura pun kembali menatap ramennya dan memakannya sedikit demi sedikit, pipinya melihatkan gurat-gurat merah tipis. Ia masih malu tertangkap basah tengah memerhatikan orang bahkan oleh orang yang tengah ia perhatikan itu.

Ia akui ia memang merindukan Naruto, apalagi dulu saat perang kurama sempat lepas dari tubuh Naruto, dan membuat Naruto sekarat, ia benar-benar takut akan kehilangan pemuda ini. Untung saja Naruto masih bisa diselamatkan, ia tak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya dirinya bila Naruto memang benar-benar meninggal pada saat itu.

"Sakura, besok kan ada hanabi, apa kau akan melihatnya?" Ino mengeluarkan pertanyaan kembali di sela-sela makannya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Sakura dan menatap mata Sakura. "tentu, Sakura-chan akan datang bersamaku." Bukannya Ino mendapat jawaban dari Sakura, malah ia mendapatkan jawabannya dari Naruto.

Sakura hanya menganggukan kepalanya membenarkan ucapan Naruto. Selesai mendapat jawaban, Ino kembali terhadap fokusnya, yaitu ramennya yang belum habis sedari tadi. Shikamaru dan Ino pun menyelesaikan acara makannya, lalu pamit duluan, karena Ino masih punya banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan di rumah sakit.

"Sakura, aku dan Shikamaru duluan, kertas-kertas di mejaku sudah menunggu dari tadi. Kau juga masih harus memeriksa beberapa pasien, bukan?"

"Iya Ino, nanti aku menyusul, lagipula waktu memeriksanya masih lama."

Ino dan Shikamaru pun beranjak dari kedai, kini tinggal mereka berdua yang berada dalam kedai. Sebenarnya Sakura sudah selesai dengan acara makannya, namun, Naruto masih belum kenyang juga walau sudah makan empat porsi ramen berukuran jumbo.

"Naruto, sudah lama rasanya kau tak mengunjungi kedai ramenku bersama kekasihmu ini," ucap Paman Teuchi yang tiba-tiba berdiri di hadapan mereka berdua. Naruto hanya menunjukan deretan giginya, ia bingung harus merespon apa.

"Apa kau masih akan memesan beberapa mangkuk lagi Naruto?" Kini Sakura yang mengeluarkan suaranya. Ia benar-benar kagum sekaligus aneh dengan selera makan Naruto. Sampai-sampai ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tumpukan mangkuk di sebelahnya.

"Tidak, Sakura-chan. Aku sudah kenyang." Naruto lagi-lagi mengeluarkan senyuman lima jarinya seperti biasa sambil mengusap-usap perutnya.

"Yasudah kalau begitu, ayo kita pergi." Sakura melenggangkan kakinya keluar dari kedai ramen ini disusul Naruto setelah membayar ramen mereka. Tentu saja Naruto yang membayar, biasanya memang yang laki-laki yang harus membayar setiap kencan, bukan?

Mereka pun pergi bersama tanpa tahu akan pergi ke arah mana. Namun, iringan langkah Naruto membawanya pergi mengunjungi akademik ninja. Sakura yang sedari tadi hanya mengikuti setiap langkah Naruto bingung kenapa pemuda ini tiba-tiba berjalan ke arah sini.

Dengan kerutan di dahi, Sakura menolehkan kepalanya ke samping, menatap Naruto dengan penuh tanda tanya. Yang ditatap hanya hanya mengulum senyum dan terus melanjutkan langkahnya. Sakura pun mengangkat bahunya tak mengerti, lalu, mengikuti arah kaki Naruto.

Sesampainya di akademik ninja, Naruto duduk di ayunan yang selalu ia pakai ketika merasa kesepian dulu saat masih menjadi murid di akademik ninja ini. Sakura yang tak mengerti hanya berdiri di hadapan ayunan yang sedang Naruto naiki itu.

"Sakura-chan, apa kau tahu, ayunan ini adalah salah satu kenanganku saat masih sendirian dulu." Naruto melantunkan sebuah pernyataan terhadap Sakura dan yang diberitahu pun hanya menganggukan kepalanya sebagai respon.

"Ahh, rasanya itu sudah lama sekali, sekarang pun aku sudah tak sendirian lagi." Lagi-lagi Naruto mengeluarkan suara sambil tertawa hambar.

"Sudahlah Naruto, kau memang tak sendirian lagi sekarang. Ada aku di sini yang akan selalu ada di sisimu, ada Kakashi-sensei, Yamato-taichou, Sasuke-kun, teman-teman lain, maupun warga konoha." Sakura mencoba menghibur Naruto yang tampak sedih mengingat masa lalunya.

"Kau benar Sakura-chan. Rasanya aku tak percaya bisa menjadi seperti ini, aku bahkan waktu dulu bukanlah siapa-siapa."

"Tapi, kau, kau selalu berusaha Naruto. Tak pernah lelah untuk berjuang, selalu menasehati orang lain. Kau mengalahkan musuhmu dengan cara yang berbeda, dengan caramu sendiri. Aku kagum padamu." Sakura mengulum senyum termanisnya ke arah Naruto.

"Benarkah? Hati-hati lho Sakura-chan, nanti kau tambah tergila-gila padaku." Ucapan Naruto menimbulkan sudut siku-siku di kening Sakura. Tanpa ampun lagi Sakura memukul pelan perut Naruto. Bisa-bisanya di saat serius seperti ini dia malah bercanda.

"Ittai…Sakura-chan…aku kan hanya bercanda." Naruto memajukan bibirnya, merajuk seperti anak kecil ke arah Sakura. "salahmu sendiri bercanda di saat aku sedang serius," sahut Sakura sambil membuang muka ke arah lain.

"Kau benar-benar mirip kaa-chanku, Sakura-chan," keluh Naruto lagi masih sambil memegangi perutnya. Ucapan Naruto membuat dahi Sakura kembali berkerut, "bagaimana kau tahu? bukankah kau tak pernah bertemu dengannya?"

"Aku pernah bertemu dengan kaa-chan saat berlatih dengan Bee-jiisan. Ia benar-benar galak sepertimu, mengerikan, bahkan tou-chan mengakui hal itu," ucap Naruto sambil begidik ngeri membayangkan ibunya. Sudut siku-siku kembali terlihat di kening lebar Sakura, apa-apan itu kata Naruto, ia mengerikan. Memangnya ia monster, seperti kyuubi misalnya.

Menyadari perubahan air muka Sakura, Naruto kembali merasakan bulu kuduknya berdiri, ia bergidik ngeri melihat Sakuranya seperti itu, "oke-oke Sakura-chan, aku tak bermaksud bilang seperti itu," ucap Naruto cepat-cepat sebelum sebuah pukulan kembali mendarat di tubuhnya.

"Baiklah…baiklah…ehh iya Naruto, apa maksudmu dengan Minato-sama pun mengakuinya?" Sakura kembali bertanya kepada Naruto.

"Ya, saat dia melihatmu memukulku waktu aku mengiyakan bahwa kau pacarku, tou-chan langsung teringat pada kaa-chan. Menurutnya kau begitu mirip dengan kaa-chan."

"Ehh, kenapa kau bisa mengetahuinya?"

"Tentu saja tou-chan yang menceritakannya padaku setelah Madara dikalahkan, aku kan sempat mengobrol dengannya sebagai ayah dan anak." Sakura mengangguk mengerti dengan yang Naruto terangkan itu.

Mereka kembali terdiam, menikmati sapuan angin yang menerpa wajah mereka, terasa begitu sejuk. Menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang terasa begitu murni, serasa menjadi seorang yang hidup kembali setelah mengistirahatkan diri dari dunia ini. Mereka mensyukuri atas apa yang terjadi hari ini.

Terlebih Sakura, semua orang yang ia temui hari ini setidaknya sedikit ikut andil dalam membantunya menyadari perasaannya sendiri, menyadari siapa orang yang benar-benar ia cintai. Saat Sai mengingatkannya tentang kejadian di tanah besi, ia mulai berpikir apa alasan utamanya ia menyatakan cinta pada Naruto, karena benar apa yang dikatakan Sai masih banyak cara lain yang dapat dilakukan.

Lagipula, ia melakukan itu hanya mengikuti kata hatinya. Pertemuannya dengan taichou dan senseinya membuatnya sadar, memang orang yang selama ini ada untuknya dan selalu bersamanya adalah pemuda pirang yang berada di dekatnya ini. Pertemuannya dengan Ino membuatnya menyadari bahwa ia dan Naruto memang sudah tertaut oleh benang merah.

Pertemuannya dengan Sasuke menyadarkannya bahwa Naruto selalu membantunya dan tak sungkan untuk direpotkan olehnya. Dan yang terakhir pertemuannya dengan Hinata setidaknya membuatnya sadar perasaannya terhadap Sasuke sudah tak seperti dulu lagi, apalagi pada saat Hinata mengatakan ia ingin merebut Sasuke, tak ada rasa cemburu sedikitpun yang ia rasakan.

Tiba-tiba Sakura membantu mengingat sesuatu. Ia ingat bahwa Hinata memiliki perasaan terhadap Naruto, dia pernah menyatakannya saat invansi pein. Lalu, kenapa Hinata sekarang tiba-tiba menyukai Sasuke, padahal yang Sakura tahu mereka tak pernah terlihat berinteraksi sedikitpun. Tapi, entahlah yang penting itu artinya ia tak terlalu menyakiti perasaan Hinata.

Tapi, apa Sakura tak tahu, sebenarnya Hinata memang masih menyukai Naruto dengan sangat. Ia mengatakan hal itu karena ia ingin membantunya memastikan bagaimana perasaannya kini terhadap Uchiha bungsu itu, Sasuke. Sakura tersenyum sambil menghirup udara yang begitu menyejukan ini.

"Sakura-chan ayo kita pergi, antar aku menemui Tsunade-baachan. Aku harus melapor padanya sebelum Tsunade-baachan mengamuk," ajak Naruto dan langsung menarik tangan Sakura pergi dari akademik ninja tersebut, meninggalkan udara yang begitu sejuk ini.

"Oh iya, Sakura-chan jangan lupa besok malam kita melihat hanabi bersama, hanya berdua lho," ucap Naruto mengingatkan, "iya-iya…sejak kapan kau cerewet seperti pig, Naruto!" keluh Sakura sambil memutar manik matanya.

0

0

Semua warga konoha berkunjung ke kota untuk menikmati hanabi dan berbelanja beberapa barang. Karena ini adalah malam peringatan atas kemenangan aliansi shinobi dalam perang dunia ninja ke-4. Hampir semua ninja dari beberapa desa berkunjung ke Konoha hanya untuk memperingati hal ini. Karena memang Konohalah yang ditunju untuk menjadi tempatnya sesuai kesepakatan.

Semua orang terlihat senang, tentu saja, setelah perang yang menewaskan banyak korban telah berakhir dan semoga saja itu adalah perang terakhir di dunia ninja. Semoga setelah ini mereka rukun satu sama lain dan saling membantu, tanpa ada rasa ingin menguasai satu sama lain.

Perang kemarin menunjukan, ketika kita bersama-sama menyatukan kekuatan untuk memerangi sebuah kejahatan maka kita akan berhasil. Semuanya terasa begitu sempurna, apalagi untuk pemuda pirang satu ini yang sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, Sasuke, Shikamaru, Shino, Kiba, Lee, dan Chouji.

Dia sedang menunggu kekasihnya Sakura. Dia terlihat senang bisa berkumpul kembali seperti ini, tapi, ia tertunduk mengingat Neji sudah tak ada bersama mereka lagi, dia telah menjadi pahlawan yang gugur di medan perang. Tapi, ia tak boleh bersedih, apa yang dilakukan Neji sangat berharga, Neji pasti akan ikut bersedih bila ia bersedih sekarang.

Tak lama kemudian para kunoichi angkatan mereka pun datang, Sakura dengan yukata merah mudanya, Ino dengan yukata warna ungunya, Hinata dengan yukata warna putihnya dan Tenten dengan yukata warna coklatnya. Mereka terlihat cantik dengan gaya rambutnya yang disanggul menggunakan tusuk konde.

"Kau lama sekali, Sakura-chan," keluh Naruto setibanya Sakura. Sakura hanya mengangkat bahunya tak peduli dengan ucapan Naruto. "tentu Naruto, kita kan harus merias diri dulu agar terlihat cantik, iya kan, Hinata?" Ino mengeluarkan suara, alasan yang cukup masuk akal, wanita memang butuh waktu lebih untuk merias, bukan?

"I-iya Ino-san," jawab Hinata dengan gugup sambil mengulum sebuah senyuman.

"Shika, ayo kita ke tempat ikan, kau ingatkan waktu hanabi penyambutan Tsunade-sama dulu, kita juga bermain di sana," ajak Ino kepada kekasihnya-Shikamaru-dan menggeretnya ke arah tempat yang Ino tunjuk tadi.

Belum sampai di tempat tujuan, Temari datang menghadang mereka. Ino kelihatan tidak suka dengan kedatang Temari, tentu saja, menurutnya hanya menganggu acara kencannya dengan Shikamaru. Shikamaru menghela napas panjang, dia yakin kali ini dia akan dihadapkan pada sesuatu yang merepotkan. Kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti ini, "mendokusai," keluh Shikamaru.

Dari jauh Naruto dan Sakura yang melihat Shikamaru di damping oleh wanita-wanita yang merepotkan dan juga terjebak dalam situasi yang begitu merepotkan pastinya menurut anak dari Nara Shikaku itu hanya bisa terkikik geli. Kasian juga Shikamaru harus menghadapi situasi seperti itu.

"Ayo, Sakura-chan, kita mencari tempat yang sedikit sepi." Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Sakura dan menampilkan senyum lima jarinya seperti biasa. Sakura hanya mengangkat bahunya dan berjalan mengikuti Naruto.

Di tempat ini hanya terlihat Hinata, Sasuke, Karin, dan Shino. Karena Lee dan Tenten sudah pergi ke arah tempat makan, begitupun Kiba dan Chouji. Jadi, sekarang hanya tersisa mereka berempat.

"Sasuke, ayo kita juga jalan-jalan sebelum hanabinya dimulai!" ajak Karin pada Sasuke, yang diajak hanya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sebagai jawaban. Karin mendecih pelan, dia sebal karena Sasuke menolak ajakannya.

"Hinata apa kau kedinginan?" tanya Sasuke pada Hinata, karena sedari tadi ia rasa Hinata mendekap tubuhnya, jadi, dia pikir Hinata merasa kedinginan. Sang objek yang ditanya hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.

Melihat respon Hinata, Sasuke menolehkan kembali kepalanya tak peduli. Shino yang mendengar pertanyaan Sasuke terhadap Hinata langsung membuka jaket yang dipakainya dan memakaikannya kepada Hinata. Hinata hanya menolehkan kepalanya ke arah Shino dan mengerutkan keningnya, "pakai saja, benar kata Sasuke kau terlihat kedinginan."

"Arigatou Shino-kun."

Di tempat lain, Tsunade sedang memerhatikan seluruh warganya dari atas gedung hokage. Direksi netranya menatap seorang pemuda berambut pirang dan gadis berambut soft pink yang sedang berjalan beriringan. Tsunade tersenyum kecil melihat mereka berjalan beriringan seperti itu.

'Naruto akhirnya kau bisa mendapatkan Sakura dengan segala perjuanganmu. Hey, Jiraiya lihat anak didikmu itu, ia berhasil mendapatkan gadis pujaannya. Kau dikalahkan oleh anak didikmu sendiri, memalukan… Jiraiya, bagaimana keadaanmu di sana? Apa kau bertemu bidadari yang cantik? Andai kau masih hidup, kau pasti akan menjaili Naruto, ya…'

'…aku bertemu kembali dengan Dan kau tahu, aku juga bertemu kembali dengan kakek dan Saratobi-sensei. Orochimaru juga sekarang sudah kembali ke desa dan memilih jalan yang benar. Hah, apa kau mendengarkanku, berbahagialah di sana. Seharusnya aku tahu, aku harus melarangmu pada saat dulu, aku merindukanmu, sangat merindukanmu, aku harap aku bisa cepat menyusulmu' pikir Tsunade dengan mengulum senyum.

Tanpa Tsunade sadari air mata sudah menetes dari kelopak matanya. Setelah sadar ada air yang keluar dari pelupuk matanya, ia menghapus jejak air matanya itu. Memang generasi sekarang sudah bisa melampaui generasi sebelumnya, bukan hanya dalam masalah kekuatan ,tetapi, juga dalam masalah cinta.

Memang banyak keparallelan antara kisah cinta Naruto dan Sakura, Tsunade dengan Jiraiya, dan Obito juga Rin. Mungkin, Tsunade dan Jiraiya juga Obito dengan Rin tak bisa bersatu, namun, Naruto dan Sakura membuktikan bahwa mereka bisa bersatu di masa sekarang.

"Hey, Tsunade sedang mengingat Jiraiya?" ucap seseorang sambil menepuk bahu Tsunade. Tsunade pun terlonjak kaget dan menengokan kepalanya ke arah sumber suara. Ia mendapati Orochimaru sedang tersenyum ke arahnya.

Tanpa memedulikan pertanyaan Orochimaru. Tsunade kembali memusatkan pandangannya pada dua insan yang sedang ia jadikan objek penglihatannya sedari tadi.

"Ahh, bukankah itu Naruto dengan murid kesayanganmu itu, Tsunade." Orochimaru kembali mengeluarkan suaranya sambil melihat objek yang sedang diperhatikan oleh Tsunade. Sang objek yang dipanggil hanya menganggukan kepalanya pelan sambil mengukir senyum bangga.

"Ya, kalau tidak salah namanya Sakura. Kenapa ia dengan Naruto? yang aku tahu dia menyukai Sasuke."

"Hati perempuan itu rapuh, sekuat apapun seorang perempuan, sekasar apapun mereka, tapi, tetap akan luluh juga dengan kelembutan dan kasih sayang yang tulus. Naruto…dia itu tak pernah patah semangat untuk mengambil perhatian Sakura, dia selalu ada untuknya…" ucap Tsunade tanpa mengalihkan pandangannya sediktipun dari objeknya.

"…dia…dia begitu tulus. Siapapun wanita yang menjadi di posisi Sakura pasti akan luluh," lanjut Tsunade dengan senyuman yang begitu bangga pada Naruto. Ia bangga pada pemuda pirang itu yang selalu semangat dalam menggapai semua cita dan cintanya.

"Yah, selera Naruto tak jauh berbeda dengan Minato, menyukai wanita tsundere seperti itu…" sahut Ororchimaru sambil tersenyum kecil, menurutnya Sakura dan Kushina memang cukup mirip, "juga tak jauh beda dengan guru mereka, Jiraiya." Ororchimaru melanjutkan kalimatnya. Tsunade tertohok mendengar ucapan Ororchimaru barusan.

Tsunade tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Orochimaru itu. Siapapun tahu Jiraiya hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya, meskipun dia seorang hentai kelas kakap sekalipun, Namun, hatinya hanya untuk satu perempuan, hatinya tak pernah bisa mencintai wanita lain, bahkan sampai dia meninggal, hanya satu, dirinya, Senju Tsunade.

Tsunade kembali tertunduk sedih, ia cukup menyesal, ia sudah menyianyiakan kesungguhan Jiraiya. Tapi, sesuatu memang akan terasa begitu berarti setalah kita kehilangannya, kan? Rasanya andai waktu bisa diulang Tsunade ingin sekali merubah semuanya. Merubah hidupnya dari awal, tapi, nyatanya itu sesuatu yang mustahil.

Sedikitnya Tsunade bersyukur, murid kesayangannya, Sakura tak melakukan hal bodoh sepertinya. Menyadari orang yang begitu menyayanginya setelah orang itu telah tiada. Sekarang sudah tak ada yang bisa ia lakukan. Hanya menunggu takdir, semoga di alam lain ia bisa bertemu kembali dengan Jiraiya.

"Sudahlah Tsunade, Jiraiya akan ikut bersedih di sana, kalau kau bersedih. Dia tak pernah hilang di hati kita semua, kan?" ucap Orochimaru mencoba menghibur dan menegarkan Tsunade.

Seberapa kuatpun fisik seorang perempuan, namun, hatinya begitu lemah dan rapuh. Terlalu sensitif untuk disakiti, terlalu mudah untuk dibalikan.

"Ayo, keluar hanabinya sebentar lagi dimulai, bergabunglang dengan para kage lain," lanjut Orochimaru dan melenggang pergi dari ruangan hokage. "Jiraiya, aku merindukanmu, semoga kau berbahagia di sana," ucap Tsunade pelan dan mengikuti langkah Orochimaru keluar dari ruangannya ini.

Sang objek yang menjadi pusat direksi Tsunade sedari tadi, kin sedang duduk berdua menatap langit menunggu hanabi. Mereka tersenyum bahagia, semua masa sulit sudah mereka lewati bersama. Semua beban serasa sudah luruh semuanya bersamaan dengan senyuman kebahagiaan mereka.

"Kau ingat Sakura-chan, dulu juga kita duduk di sini. Tapi, tidak berdua, kita bertiga dengan Sasuke-teme. Namun, aku tetap senang karena bisa melihat hanabi bersamamu." Ucapan Naruto memecah ke heningan atmosfer di sekitar mereka. Sakura hanya mendengarkan tanpa ada niat untuk merespon sedikitpun.

Ia hanya ingin menikmati buaian angin malam yang begitu menyejukan hati dan pikirannya. Tiba-tiba suara kembang api membuat keduanya tersenyum merekah sambil menatap langit yang luas dan begitu indah karena dihiasi ratusan kembang api yang begitu indah.

Tanpa Sakura sadari, kepalanya ia sandarkan pada bahu lebar Naruto. Ia istirahatkan kepalanya, terasa begitu membahagiakan malam ini. Kisah mereka, kisah perjuangan Naruto semuanya selesai, berakhir dengan happy ending mungkin. Hanya masing-masing mereka semua yang bisa merasakannya.

Dari jauh telihat perpaduan warna yang cocok pink dan orangenya sedang duduk bersama di sebuah padang hijau. Siapapun mengakui pasangan ini sangatlah cocok, sangat heboh dan membantu satu sama lain, saling mengingatkan dan saling memberi semangat satu sama lain. Karena itulah mereka seperti langit dan bumi yang saling melengkapi.

Mungkin langit dan bumi terlihat seperti berjauhan, seperti memiliki perbedaan yang sangat jauh. Tak akan bisa bersatu, tapi, tahukah mereka langit dan bumi itu saling berpegangan teguh. Mencoba menumpu satu sama lain, bisakah dibayangkan langit tanpa bumi, atau bumi tanpa langit?

Sampai kapanpun langit tak akan bisa dipisahkan dari bumi, begitupun sebaliknya. Mereka membutuhkan satu sama lain, sama seperti dua tokoh ini, Naruto dan Sakura.

Fin

A/n: Hai minna! Nasa balik lagi nihh *melambaikan tangan*dilemparin uang sama readers* #plakk , um, sebelumnya masih inget kan ya sama fic ini, Readers: Pede banget sih nih author.

Maaf ya updatenya lama, dan yah seperti biasa pasti chapter kali ini juga mengecewakan seperti chap sebelumnya-_- . Udah lama update, malah ngecewain lagi *gigit jari*

Makasih ya yang udah mau luwangin waktunya buat baca dan review fic aneh gaje bin abal ini hiks…hiks*terharu* Makasih minna! Buat yang udah memfav ataupun alert fic ini hiks…hiks*terharu lagi* semua review kalian Nasa baca kok, maaf yang belum sempat dibalas ya:))

Oh iya, flame apapun itu Nasa terima kok, menurut Nasa selama reviewmu itu memberi koreksi dan tak ada niat buat menjatuhkan namanya bukan flame^^ , jangan lupa ninggalin reviewnya ya di chap terakhir ini =))

Okk, Nasa sadar chapter ini juga masih terlalu banyak kesalahan, jadi silakan tuangkan segala kritik, saran, ataupun concrit di kotak review :), So, don't forget to…

\Review/

Please!^^

.

.