Shi (): Three

.

Onew a.k.a Lee Jinki masuk ke dalam kamarnya, dengan secangkir kopi panas di tangannya. Tanpa menutup pintu kamar, ia segera duduk di hadapan laptop di meja belajarnya.

Onew tinggal di rumah itu bersama Lee Taemin, adiknya. Terkadang orang tua mereka datang dan menjenguk, selebihnya kedua orang tua mereka tinggal di Busan bukan di Seoul.

Jika boleh jujur, kehidupan namja bergigi kelinci ini cukup pahit. Seperti kopi yang dibuatnya. Sebenarnya, ia bukan anak dari ayahnya. Dahulu, ibunya diperkosa oleh pamannya sendiri. Si paman langsung melarikan diri, enggan untuk bertanggung jawab. Ayah Onew adalah sosok yang baik hati. Ia mau menerima Onew yang notabene-nya adalah anak haram itu seperti anak kandungnya. Barulah, Lee Taemin adalah anak kandung mereka, lahir dua tahun setelah kejadian itu. Sebenarnya tidak terlalu pahit kehidupannya jika orang-orang di sekitar mau menerima dia apa adanya. Namun, ada sedikit masalah lagi. Onew mencintai seseorang yang berjenis kelamin sama seperti dirinya. Namanya Key. Ayahnya dan Taemin merestui hubungan mereka. Bagaimana pun juga kebahagiaan itu nomor satu. Tidak peduli walaupun mereka sesama jenis, karena cinta itu buta. Tetapi, sang umma... sepertinya ia tak suka. Jika ada Key disini, cara memandangnya selalu berbeda. Seperti, sangat membencinya. Bahkan terlalu membencinya.

Drrt… Drrt…

Handphone yang Onew letakan di samping laptopnya bergetar. Sebuah panggilan masuk. Onew menatap layar sebelum mengangkatnya.

Nae Umma

Dengan senang hati, Onew menekan tombol hijau pada layar handphone-nya.

"Yoboseyo."

"Yoboseyo. Onew, sedang apa?" tanya sang umma manis.

Onew tersenyum, umma-nya masih sayang 'kan kepadanya?

"Aku sedang bermain laptop, hehe. Umma sendiri sedang apa?"

"Umma? Umma sedang membereskan dapur sambil mengasah pisau. Taemin sudah tidur, sayang?"

"Ah, sepertinya sudah umma. Lagipula ini sudah larut malam."

"Ah, ne, Jinki juga jangan lupa tidur lho."

Onew tertawa kecil, memamerkan gigi kelinci yang tak bisa umma-nya lihat untuk kali ini.

"Ne, umma. Tapi berikan aku beberapa menit lagi untuk bermain laptop."

Umma-nya tertawa di sebrang sana. "Kurangi lho kebiasaanmu bermain laptop."

"Ne, umma~."

"Bagaimana sekolahmu?"

Jinki tersenyum. "Baik-baik saja, umma. Kemarin aku dapat banyak nilai A+ dari lima mata pelajaran berbeda."

"Wah? Pintar ya anak umma yang satu ini?"

"Iya dong! Siapa dulu umma-nya~!" Onew kembali tertawa kecil.

Ia juga mendengar tawa kecil dari umma-nya.

Tetapi... setelah itu, "Jinki.." nada sang umma berubah pelan.

"Ne, umma? Waeyo?"

"Kau masih berhubungan dengan Key?"

"Ah? Ne, umma?"

Umma-nya mengulang pertanyaan. "Kau masih berhubungan dengan Key?"

Onew terdiam saat itu juga. Ia tidak berani menjawab pertanyaan umma-nya.

"Jujurlah pada umma..."

Tak ada jawaban.

"Jinki..."

Jinki menelan ludahnya dengan susah payah. "N-nde..."

Bisa Onew dengar dengan jelas bahwa umma-nya menghela napas di sebrang sana.

Onew tidak tahu harus bicara apa mendapati umma-nya hanya terdiam di sebrang sana.

"U-umma..."

Diam. Tak ada suara.

"Umma.."

Lagi. Hanya diam.

"Umma.."

Sekali lagi. Diam.

"U-umma.."

"Ne, Jinki?"

DEG!

Hanya perasaannya saja atau perkiraannya benar? Ia merasakan umma-nya bukan bertanya 'Ne Jinki?' dari sebrang telpon, melainkan...

Onew berbalik dengan perlahan.

JLEB!

"U-u-ummah…"

Ibu kandungnya sudah berdiri di hadapannya. Dengan sebilah pisau dapur panjang yang kini sudah menusuk tepat di perut Onew. Tangan bebas umma-nya menggenggam handphone sedangkan handphone milik Onew sendiri sudah jatuh ke lantai.

"Um..mahh..."

Sang umma menarik pisaunya kemudian menusukannya kembali ke dada kiri Onew.

JLEB!

"Kau itu anak tak tahu diuntung! Kau itu anak haram dan gay! Aku tidak mengharapkan manusia sepertimu lahir dari rahimku!"

JLEB!

Satu tusukan lagi. Darah berwarna merah pekat memaksa keluar dari sisi-sisi sobekan yang ditimbulkan oleh pisau tajam itu.

"Kau bahkan tak pantas disebut manusia! Bisa-bisanya kau lahir ke dunia ini hanya untuk mempermalukan UMMA?!"

JLEB!

Sekali lagi, di bagian perutnya.

"U..ummahh…"

"Mati lebih baik untukmu! Aku tak pernah berharap kau adalah sebagian dari darah dagingku!"

JLEB!

Lagi...

"Ummmmaahh…."

JLEB!

Lagi...

JLEB!

Lagi...

JLEB!

Lagi...

JLEB!

Dan untuk yang terakhir..

"...mm…..mah.."

Sebenarnya, kita harus mengetahui satu hal. Seseorang bisa mati tiba-tiba. Dimana dan kapan saja. Dan kita juga tidak tahu, bahwa takdir akan berkata... ibu kandung kita yang ternyata membunuh kita sendiri.

.

死死死

.

.

.

.

No basa basi

Maaf ya, buru-buru berangkat u,u

Mind to RnR?