Fiuh, mumpung di tempat kerja, dapet internet gratis(?)
Aupu: kok numpang.
Wa: hahahaha... *lempar TNT ke Aupu-san, pencet tombol*
TNT meledak...

Kuroragi Uum:

Bisa jadi... *anggukin pala*
Aupu: hati hati, tombak Xing Cai menuju kearahmu.
Wa: weks... *lari*
Aupu: hem... Okay, karena saya tidak sibuk. THANKS FOR REVIEW!

Yuuki Moon Chan:

Yups, masih berlanjut dan bukan oneshoot! Entah kenapa wa senang liat kepolosan Guan Ping dan kekesalan Xing Cai... Hahahaha... Kasihan juga sih liat Xing Cai... THANKS FOR REVIEW!

Kirina Fujisaki:

Tosh!
Aupu: tentu saja suka, pertama kali main DW dia langsung pake Xing Cai.
Wa: berisik kau Pu*tendang Aupu* yups, ini masih berlanjut!
Aupu: THANKS FOR REVIEW!

ScarletAndBlossoms:

Iya, karena wa paling senang liat Guan Ping ceria! Hahaha.
Maunya sih memang Guan PingxXing Cai... Sesuaiin request... Tapi Guan Ping mati di Fan Castle... *nangis nangis gaje*
Aupu: *pake payung dan jas hujan* THANKS FOR REVIEW!


Waktu cepat sekali... Kejam sekali... Bahkan sekarang sudah waktunya untuk perang... Itulah isi pikiran Xing Cai. Hari ini Xing Cai bertingkah seakan akan berbeda dengan biasanya. Contoh? Perlu diberi contoh? Baiklah...

.

Saat sedang makan bersama-sama jendral lain, Guan Ping pernah mencoba(Lebih ke bercanda) meminta asinan lobak milik Xing Cai, Xing Cai hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke Guan Ping dan tetap menikmati makanannya.

Aneh... Biasanya Xing Cai akan mengatakan "Tidak, kau sudah makan milikmu" begitu...

.

Guan Ping dan Liu Shan hanya menyimpan pertanyaan terbesar dan sangkaan terbesar. "Apakah Xing Cai terpeleset dan membentur kepalanya?" mungkin itu bisa jadi...

"Ping, kita harus pergi sekarang" ucap Guan Yu, menepuk pundak Guan Ping.

"... Baiklah ayah..." jawab Guan Ping mengikuti Guan Yu yang menaiki kuda merah bernama Red Harenya itu.

Guan Ping menoleh sebentar ke arah Xing Cai yang masih terlihat takut akan sesuatu. Apa dia benar benar terbentur? Sudahlah, Guan Ping menaiki kuda coklatnya dan menyibak tali kudanya dengan pelan.

Disana, gadis berambut pendek berwarna hitam meneguk ludahnya.

"Semoga kau pulang dengan s... Guan Ping..."

.

Anginnya sangat kencang dan dingin. Sepertinya akan ada badai di Istana Fan ini. Tapi ini sangat baik, seperti strategi yang disusun Zhuge Liang tadi. Sesuai rencana, Guan Ping harus membanjiri Istana Fan. Guan Ping berjalan kearah suatu tempat dan mengontrol gerak air.

Guan Yu mesti memberi banyak aba aba sampai tengorokan habis(?) hingga akhirnya berhasil mengikuti rencana.

"Lama tidak bertemu, Guan Yu..." sapa seseorang.

Guan Yu yang sadar tengah dipanggil, segera menoleh kearah suara.

"Xu Huang? Kau datang juga? Aku sangat bangga..." ucap Guan Yu mengelus jenggotnya.

"Ya, dulu... Kau memang temanku, tapi sekarang kau musuhku!" Xu Huang menjulurkan kapaknya yang cukup panjang.

"Lakukan semaumu..."

Guan Yu segera mengayun tombak tajamnya kearah Xu Huang, dan ditahan oleh kapaknya. Guan Yu mendorong terus tombaknya dengan dorongan terkuat yang dia bisa, Xu Huang mengeretakkan giginya. Xu Huang tetap punya kekuatan yang bagus dia menahan serangan Guan Yu yang semakin kuat.

TRANG!

"Tidak mungkin!"

Kapak milik Xu Huang terpotong, hingga terbelah dua. Tombak milik Guan Yu mengoresi pinggang Xu Huang. Cukup dalam, tapi tidak terpotong. Xu Huang mundur dengan langkah besar dan jatuh ditempat.

"Kau memang kuat, tapi kau tak bisa menandingiku, Xu Huang!" ucap Guan Yu, meletakkan tombaknya di depan leher Xu Huang.

"Heh, ini baru awal, wahai teman lamaku Guan Yu"

Dari belakang, seseorang mendorong Guan Yu dan menimpanya. Tombak Guan Yu teseret jauh dan tangannya tak dapat menjangkau tombak itu.

"Kau baik baik saja Xu Huang?" tanya orang itu.

"Saya baik baik saja, hanya kamu saja yang telat" ucap Xu Huang, menutupi luka goresannya.

"Saya akan membawanya ke dalam Istana Fan"

Cao Ren menahan kedua tangan Guan Yu. Sehingga Guan Ping yang melihat ayahnya, Guan Yu. Segera lari dan meninggalkan pekerjaannya.

"Ayah!" teriak Guan Ping, berlari kearah sang Ayah yang tertahan ditanah.

"Tidak, jangan Ping! Jangan medekati A..."

Perkataan Guan Yu terpotong saat dari salah satu jendral pemanah memanah dada Guan Ping dari belakang. Guan Ping memperlahan langkahnya dan tiba tiba terlutut. Matanya kosong dan perlahan lahan badannya terjatuh. Kepalanya dimiringkan dan mencoba menatap kearah sang Ayah.

Guan Ping menyeret tubuhnya kearah sang Ayah, dengan nyawa yang masih bisa dia kumpulkan, dan dengan nafas yang memburu cepat.

"Ayah..."

Guan Ping menunduk dan membiarkan keningnya menyentuh tanah. Matanya terpejam, Guan Yu hanya terpaku melihat anaknya mati didepan matanya sendiri.

Sedangkan dibalik sebuah rumah, ada lelaki berbaju hijau yang melihat aksi berikut dan segera menuju markas.

.

"Master Zhuge Liang!" teriaknya.

"Ada apa Guan Suo?" tanya Zhuge Liang membalik badannya.

"Hah... Hah... Kak Guan Ping dan Ayah ditangkap! Kak Guan Ping meninggal!"

.

Setelah mendengar laporan tersebut, Zhuge Liang harus menghentikan peperangan. Dan pulang dengan tangan kosong dan mayat mayat yang terbunuh. Tapi, saat ada peti hitam yang sedikit panjang, diangkut oleh beberapa Jendral teratas.

Xing Cai menghampiri salah satu jendral dan menatap inggin tahu. Sang jendral menggeleng pelan, satu gelenggan cukup menguncang suasana Xing Cai.

Artinya...

Guan Ping mati? Jadi dengan siapa dia dlindungi? Dengan siapa dia membentak? Dengan siapa...?

.

.

.


Fiuh! Reviews guys?