Guaaaaah... *lari ngiterin pom bensin*
Aupu: *semprot Wa pake minyak, lempar korek api*
Wa: GYAAAAH!
Aupu: kamu ngapain sih? Kurang kerjaan amat...
Wa: kejam *gosong* waktu wa cuma 10 menit untuk fic ini!
Aupu: sekarang udah terpakai satu menit.
Wa: NOOOO! *lari*
Aupu:tambah satu menit lagi...
ScarletAndBlossoms:
Yups, Xu Huang sangat hebat! *tos pake Bazooka sama kapak Xu Huang* poor thing... Tapi tenang saja Guan Ping! Kau akan wa hidupkan lagi! *bagaimana caranya...* entahlah, tapi THANKS!
KuroragiUum:
Xing Cai, pasti bisa sedikit bersabar! *percaya diri* ehem, kalau K-senpai mau sama Xing Cai, Da Qiao-nya dikemanain...? THANKS!
Yuuki Moon Chan:
Sabar... Sabar Yuuki-san... Ini wa kasih tissue dulu.. *berenang menuju Yuuki, kasih tissue* kita lihat lanjutan... THANKS!
"UUUGH!"
Xing Cai melempar kerikil didekatnya sampai memantul ditiap getaran air. Dia menghela nafas dan mendengus kesal, rasanya bergetar dan butuh waktu lama untuk bisa menenangkan diri. Nafasnya berburu cepat, padahal udara tersebar dimana mana. Apa ya itu namanya?
Xing Cai, kemudian duduk ditempat sambil memeluk kedua lututnya. Membenamkan wajahnya disana. Mencoba menginggat lagi, bahwa perkataan Guan Ping yang mengatakan 'Maukah kau meneruskan God Of War' itu sulit. Kenapa bukan Guan Suo? Guan Xing? Guan Yinping? Kenapa harus dia?
Biarkan apapun didekatnya memberitahunya. Author juga tidak tahu(?)
"Hai, Xing Cai" panggil seseorang, Liu Chan...
"Yang Mulia Liu Chan..." ucap Xing Cai memiringkan sedikit kepalanya agar dapat melihat orang yang menghampirinya.
"Anda baik baik saja?" tanya Liu Chan duduk juga.
"Sedikit..."
"Bagaimana jika kita pergi kemakamnya?"
"Tidak..."
"Oh ya, itu akan menyakitkan"
Liu Chan dan Xing Cai kembali hening.
Memang benar bukan?
Jika tidak ada Guan Ping, siapa yang akan ia bentak? Siapa yang akan menjadi biang kerok? Siapa?
Inti intinya... Tidak seru.
Disaat seperti ini, Guan Ping akan mendorong keras punggung Xing Cai dan Liu Chan, hingga menimbulkan Liu Chan terjatuh kedalam sungai dan terbawa arus. Terpaksa Xing Cai dan Guan Ping berlari mendahului Liu Chan untuk menangkap Liu Chan.
Dan Xing Cai akan langsung menendang Guan Ping ke sungai membiarkannya terbawa arus tanpa ditolong, karena itu pelajaran untuknya.
Tapi sekarang? Mana ada lagi sejarah macam itu...
"Xing Cai, bukankah kau pikir kita harus latihan?" tanya Liu Chan.
"Oh ya, benar..."
Xing Cai berdiri dari tempatnya dan berdiam sebentar, membiarkan Liu Chan jalan terlebih dahulu lalu Xing Cai yang mengikutinya. Tidak inggat waktu lagi sepertinya dunia ini... (Ngertikan? Kalau tidak mengerti, kita senasib-plak)
Xing Cai mengambil tombak dan tamengnya yang masih bagus dan belum berkarat. Dia jarang berperang, dan diwaktu seperti itu, dia akan berbicara dengan Guan Ping.
Guan Ping lagi, Guan Ping lagi. Orang yang sudah tidak ada, berarti tidak ada yang perlu dibicarakan untuknya.
"Xing Cai? Apa kau sudah menemukan tombak dan tamengmu?" tanya Liu Chan diluar pintu itu.
"Ah, maafkan saya membuat anda lama menunggu, saya hanya berpikir bahwa tombak dan tameng saya sangat bersih..." ucap Xing Cai keluar dari ruangannya, sambil menunduk sopan didepan Liu Chan.
"... Kau berbicara lucu..."
"Be, benarkah...?"
Liu Chan hanya menghela nafas lalu mengangguk pelan. Setelah itu berjalan sambil membawa bawa pedangnya. Xing Cai merasa dia cukup kesepian saat ini. Rasanya menganjal dan membosankan... (I know how you feel...)
"Zhang Xing Cai" panggil seseorang sambil menepuk pundak Xing Cai dari belakang, seketika, Xing Cai membalik badannya untuk melihat siapa itu.
"Kak Zhang Bao..."
"Yups"
"Ada apa?" tanya Xing Cai dengan wajah lurus.
"Tidak, hanya saja dari tadi pagi wajahmu lesu dan pucat melulu"
"Terima kasih atas koreksinya"
"Itu bukan maksud Kakak kok... Begini, Liu Bei sedang menyiapkan perang Yi Ling, dia memintaku untuk membawamu kedalam medan perang itu"
"... Baiklah..."
"Kau mau ikut?"
"Tentu saja"
"Baiklah, berkumpul diruang rapat setelah ini"
Zhang Bao melambaikan tangannya dan meninggalkan Xing Cai. Xing Cai yang sadar apa yang telah ada dipikirannya, segera beranjak pergi ke halaman Istana dimana Liu Chan latihan.
.
"Yang Mulia Liu Chan, bukankan lebih baik jika latihan kecepatan tangan? Pedang itu berat, jadi..." koreksi Xing Cai.
"Jadi?"
"Kecepatan tangan sedikit berkurang"
"... Baiklah..."
Liu Chan meletakkan pedangnya menyender di dinding Istana.
"Bagaimana caranya belajar kecepatan tangan?" tanya Liu Chan.
"Mengayun tangan, seperti berlari. Tahu?"
"Ehm..."
Liu Chan hanya mengangguk dan mencoba mempraktekkan apa yang dilakukan saat berlari. Kecepatannya bagus, tapi karena lengan bajunya cukup panjang, ya... Kamu tahu.
"Yang Mulia Liu Chan, apakah kau mnegikuti perang Yi Ling?" tanya Xing Cai.
"Tidak" jawab Liu Chan.
"Begitu..."
Liu Chan tidak ikut? Mungkin karena peperangan kali ini sulit sehingga Liu Bei tidak membawa Liu Chan kemedan perang. Tapi, apa arti dari perang itu? Kenapa tidak damai? Apa seseorang senang melihat kehancuran ini? Tidak ada gunanya bertanya pada diri sendiri, dia harus kemedan perang Yi Ling untuk lebih jelas.
"Baiklah Yang Mulia Liu Chan, latihan hari ini selesai" ucap Xing Cai, meninggalkan halaman Istana.
"Baik"
.
Xing Cai mulai berjalan menuju ruang rapat, tapi langkahnya berhenti saat melihat gerbang perkuburan. Xing Cai mulai berpikir. Untuk memasukinya.
Tanpa pikir panjang, Xing Cai mendorong gerbang itu dan melihat lihat sekeliling. Semua mati secara tidak layak... Tidak ada yang mengerti, tidak ada yang perlu dipertanyakan. Xing Cai berhenti disebuah batu nisan perak dengan ukiran halus.
Xing Cai menunduk sehingga tingginya hampir menyamai nisan itu, mengangkat tangannya dan menempel ke ukiran batu nisan itu, nama yang sangat familiar dilihat...
"Kenapa tidak seorangpun memberitahuku arti dari perang..." bisik Xing Cai. "Apakah perang itu, pembunuhan abadi... Apa benar begitu... Guan Ping..."
Xing Cai mengusap matanya dengan punggung telapak tangannya.
"Kau idiot..."
Xing Cai berdiri dan segera meninggalkan nisan itu. Ukiran tulisan nama, dan warna perak yang berkilau. Menuju ruang rapat, dan mempersiapkan perang. Hanya ituah.
'...'
'...'
'...'
'...'
'Aku bukan idiot...'
.
.
.
Wa juga bukan idiot.
Aupu: *pukul Wa pakai sapu* siapa juga yang ngomongin kamu!
Wa: etatatatata... It's hurt, Y U NO!?
Aupu: no!
Wa: jeez, wa tidak suka bertengkar, itu sakit, dan juga ini sedang di fanfiction.
Aupu: whatever, review anyone?
Wa: and merry christmas! Hohoho! Oh yeah, happy birthday for kakak pengajar Yenti Mitzuhiko, Happy birthday!
