==Part Sebelumnya==

"Ya tuhan, sepertinya kau akan mendapat masalah hari ini Neji-kun," ujar temannya sambil mengelap peluh di dahinya. Neji menoleh ke arah teman kerjanya sejenak, kemudian dia melihat kearah yang temannya Lihat. Disana terlihat seorang gadis cantik yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.

"Neji-kuuuun…." teriak gadis yang bernama Hotaru.

"Ya Tuhan, kenapa dia datang lagi kesini?" gumam Neji.

"Tentu saja dia sering datang kemari, karena dia anak dari presdir proyek ini dan tentunya dia tergila-gila padamu," celetuk teman Neji.

"Tamatlah riwayatku," gumam Neji pelan.

YOUR LIFE / CHAPTER 3

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : NaruNejihina

Rating : T

WARNING

INI ADALAH KELUARGA YANG IMMPOSIBLE BANGET. MAKSUD DARI KELUARGA IMPOSIBLE ADALAH SAMPAI KAPANPUN HYUGA TAK BISA JADI NAMIKAZE KALAU MELIHAT MANGA ASLINYA. BERHUBUNG INI UNTUK KEPENTINGAN CERITA JADI AKU JADIKAN HYUGA MENJADI KELUARGA NAMIKAZE hehehe.

.

.

.

Neji tidak mempedulikan Hotaru, dia asyik melanjutkan kembali pekerjaannya. Hotaru duduk di depan Neji sambil melihatnya itu memandang Neji penuh arti. Kedua telapak tangannya menopang dagunya, terlihat semburat merah dipipi mulusnya. Neji terus berusaha untuk tidak memperdulikannya namun tingkah Hotaru namun lama kelamaan ia sedikit merasa terganggu. Hotaru adalah anak tunggal dari pemilik proyek ini, dia sebaya dengan Naruto adiknya. Gadis berambut pirang dan bergelombang ini menyukai Neji sejak pertama kali Neji bekerja disini. Sayangnya, ayah Hotaru mengetahui hal ini, ia sempat menegur Neji agar menjauhi putrinya. Kalau Neji tak menurut, ia akan dipecat. Sampai detik ini Neji tak memiliki perasaan sedikit pun pada Hotaru. Ia tak pernah memikirkan urusan asmara, karena adik-adiknya jauh lebih penting daripada itu.

"Neji-kun, hari ini kau terlihat sangat tampan," ucap Hotaru tanpa rasa malu. Neji sama sekali tak peduli, ia terus saja mengaduk semen dan pasir. Teman Neji menahan tawa mendengar ucapan Hotaru. Neji menghela nafas, ia sedikit frustasi menghadapi tingkah Hotaru yang kekanak-kanakan ini.

"Hotaru-sama, aku mohon jangan di depanku, nanti anda terkena pasir ini!"perintah Neji.

"Tidak mau, aku ingin melihat Neji-kun seperti ini," ucap Hotaru ngotot.

"Nanti kalau ada apa-apa,aku yang dimarahi ayahmu."

"Tidak mungkin, ayah tidak akan marah jika aku merayunya hehehe."

Untuk keseskian kalinya, Neji hanya bisa menghela nafas. Dia sudah tidak tahu bagaimana cara menghadapi putri presdir proyek ini. Bagaimanapun Neji mengabaikanny, bahkan terkadang marah pada gadis berambut pirang ini, namun Hotaru terus datang padanya. Neji sudah kehabisan akal menghadapi gadis ini. Gadis yang dua tahun lebih muda darinya. Teman Neji yang bernama Kagawa memberi saran Neji agar beristirahat, ia tak mau kalau putri kesayangan presdir ini kotor dan ujung-ujungnya para pegawai yang dimarahi oleh presdir. Mau tak mau Neji menurut, Kagawa pun mengambil alih pekerjaan Neji untuk sementara.

Semua pasang mata sudah melihat Neji dengan tatapan heran, penasaran bahkan ada beberapa pegawai lain yang tertawa melihat tingkah Neji. Dua diantara beberapa pegawai itu mengacungkan jempol pada Neji. Mereka menganggap Neji adalah pria hebat yang bisa meluluhkan bahkan membuat putrid presdir tergila-gila padanya. Melihat ulah teman-temannya, neji hanya menggelengkan kepala dan tersenyum simpul. Neji melangkahkan kakinya dan berteduh dibawah pohon besar, ia duduk sambil mengusap keringat yang membasahi sekujur wajahnya. Cuaca hari ini sangatlah panas, hal ini membuat Neji mudah terserang dehidrasi. Seolah tahu apa yang Neji rasakan, Hotaru memberikan satu botol air mineral dingin, senyum manis Hotaru menghiasi wajah cantik gadis itu. Neji mengambil botol air mineral dingin itu kemudian menenggaknya rakus.

"Ahhhhh, arigatou," ucap Neji sambil tersenyum. Hotaru terdiam dan menundukan kepalanya. Seluruh wajah Hotaru memerah layaknya tomat rebus. "Kenapa?" tanya Neji. Hotarukemudian menengadahkan kepalanya, mata gadis itu penuh berkaca-kaca. Neji kaget, ia tak mengerti kenapa Hotaru tiba-tiba menangis. "Hei, kenapa kau menangis?"

"Baru pertama kali ini Neji-kun tersenyum padaku. Aku sangat terharu," jawab Hotaru polos.

"Hassshh, kau ini benar-benar aneh."

"Aku tidak tahu kenapa aku begitu menyukai Neji-kun yang dua tahun lebih tua dariku. Aku merasa kalau Neji-kun orang yang penuh kasih sayang, hangat, ramah dan baik pada semua orang, selain itu juga pekerja keras. Neji-kun memang laki-laki terbaik di dunia ini."

"Chhh, aku bukan orang seperti itu,kau salah besar. Aku ini orang yang pemarah, pemabuk dan jahat."

"Ahh, Neji-kun jangan berbohong padaku hehe," ucap Hotaru manja.

"Aku serius dan tidak bohong."Neji memasang pasang tampang sesserius mungkin agar gadis itu percaya dan tidak menyukainya lagi. Hotaru diam sejenak, matanya memandang Neji dalam-dalam.

"Aku tidak peduli dengan semua itu karena aku hanya mencintai Neji-kun hehe," ujar gadis cantik ini tanpa canggung meyandarkan kepalanya ke bahu Neji.

Neji menyerah menghadapai sikap Hotaru, maka dari itu dia tidak bisa mengatakan apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Neji terus meneguk air mineral yang ada ditangan kananya. Cuaca yang begitu panas membuat Neji membutuhkan asupan air yang banyak. Sedangkan Hotaru, ia begitu menikmati suasana seperti ini. Berada di dekat Neji membuat Hotaru merasa aman dan nyaman.

ooOOoo

Naruto duduk tenang sambil membolak-balikan sebuah buku tebal tentang kesehatan. Dia membaca semua ragam buku yang ada kaitannya dengan kanker tulang. Dia mencoba mencari pengobatan alternatif buat penyembuhan kanker tulang tanpa harus operasi dan mengeluarkan banyak biaya. Sudah sekitar satu jam ia berkutat dengan buku kesehatan, namun tak membuahkan hasil. Naruto mengobrak-ngabrik mejanya,semua buku kesehatan yang ia baca berserakan di lantai. Kebrisikan yang Naruto buat membuat semua orang diperpustakaan tertuju padanya.

"Hei, kau yang disana, bisa diam tidak," ucap seorang pria kutu buku dari kejauhan.

Naruto tak menghiraukan omelan orang, yang ada dibenaknya hanyalah Hinata dan kesembuhannya. Naruto memebenamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya. Eri mengambil beberapa buku yang berserakan di lantai dengan hati-hati. Eri datang disaat Naruto galau berat. Eri menghela nafas melihat sikap sahabatnya yang mudah emosi akhir-akhir ini. Eri membaca sekilas buku yang terbuka dan tergeletak di depan Naruto. "Cara menyembuhkan Kanker tulang" tertulis jelas disampul.

"Naruto, apa yang telah kau lakukan?"

"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk Hinata, Eri. Hinata butuh operasi tapi aku dan Neji-san tak punya uang. Aku sudah putus asa," keluh Naruto.

"Jangan berkata begitu. Tuhan itu tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya. Aku yakin masih ada jalan lain Naruto. Sekarang sudah malam, bukankah ini waktunya kau untuk mengunjungi adikmu. Berkemaslah, kita berangkat bersama karena aku juga sangat merindukan Hinata," bujuk Eri.

Naruto sedikit terhibur dengan perkataan sahabatnya. Perlahan ia mengemasi barangnya lalu kemudian pergi bersama Eri. Kampus Naruto dan Rumah sakit tempat Hinata di rawat lumayan jauh dan menghabiskan waktu setengah jam untuk samapi ke sana. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Naruto tak mengatakan sepatah katapun. Pria tampan berambut pirang ini sibuk dengan pikirannya sendiri. Eri hanya bisa memandang sahabatnya itu denggan penuh rasa iba dan simpati yang amat besar. 'Andai aku punya banyak uang,pasti aku akan membantumu Naruto,'batin Eri. Tak terasa sudah sekitar 15 menit mereka ada didalam taksi.

Namun kali nasib mereka tidak beruntung. Tiba-tiba jalanan macet karena ada kecelakaan di ujung jalan, padahal sebentar lagi sampai. Eri dan Naruto memilih untuk berjalan kaki karena rumah sakit tempat Hinata dirawat tak begitu jauh dari tempat mereka berada. Eri mengambil beberapa lembar yen dan memberikannya kepada sopir.

"Naruto, lebih baik kita jalan kaki saja," jelas Eri. Naruto hanya mengangguk kecil dan turun dari taksi.

Sebenarnya Eri tidak begitu hafal jalan menuju rumah sakit. Tapi dia yakin kalau jalan yang ia lewati sudah benar. Naruto masih tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengekor Eri kemanapun sahabatnya pergi. Semakin lama jalanan yang Eri lalui terasa semakin aneh. Banyak sekali tempat hiburan malam, casino dan penginapan-penginapan kecil. Yang membuat Eri terkejut adalah banyak sekali gadis-gadis muda berdiri didepan penginapan dengan pakaian seksi bahkan sesekali mereka menggoda dan menggandeng bermata indah dengan iris biru samudra berusaha menghindar dari serangan-serangan para gadis muda itu. Tak hanya gadis yang berkeliaran, banyak juga paman yang mendatangi Eri dan Naruto untuk menawarkan penginapan murah. Sebisa mungkin mereka berdua menolak tawaran itu secara halus.

"Eri, sepertinya tempat ini tidak beres," ucap Naruto.

"Aku rasa juga begitu, kelihatannya aku salah jalan," jawab Eri. Selain tidak beres dengan tempatnya Erijuga merasa ada yang tidak beres dengan perutnya. "Naruto, apa disini ada toilet?"tanya Eri pada Naruto.

Naruto mengedarkan pandangan disekitarnya, untung saja ada toilet yang dekat dengan mereka, "Disana ada toilet, aku antar kau kesana, karena sepertinya tempat ini berbahaya untuk seorang gadis."

Naruto berdiri diluar toilet, ia menyumpalkan earphone dan memainkan beberapa musik yang ada diplaylist ponselnya. Naruto hanya ingin menghilangkan rasa bosannya karena Eri sepertinya tidak hanya sekedar buang air kecil. Mata Naruto terus memperhatikan hal-hal yang ada dihadapannya, selain paman yang berlalu lalang, tante-tante, gadis-gadis bertubuh seksi bahkan para lelaki tampan juga berseliweran didepannya. Ada beberapa dari mereka memandang Naruto penuh arti bahkan ada seorang gadis yang berani mengedipkan mata padanya. Tubuh Naruto mendadak kaku mendapat perlakuan seperti itu, Naruto kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Dari jauh ia melihat sosok wanita dewasa berumur sekitar dua puluh tujuh tahun berusaha mendekatinya. Pakaiannya seksi, seseksi tubuh wanita itu, bagian dadanya juga terlihat sangat menonjol dan menggoda. Naruto juga laki-laki normal, matanya pun tidak lepas dari pemandangan indah ini.

"Hai, adik tampan apa kau mau menemani nee-chan malam ini? " ajaknya dengan gelagat genit. Naruto tahu arah pembicaraan ini kemana. Ternyata perempuan ini mengira Naruto adalah pekerja seks pria yang sedang ,encari pelanggan.

"Maaf nee-chan, aku bukan seperti itu. Aku tidak bekerja untuk itu," sanggah Naruto halus.

"Sudahlah, kau jangan berbohong padaku. Kau benar-benar sangat tampan. Siapa namamu?"

"Honey….," panggil seorang pria, kalau dilihat lagi pria itu seumuran dengan Naruto. "Sedang apa kau disini?"

"Ahhh tidak, aku hanya ingin menyapanya saja. kalau begitu aku pulang dulu, bye."

Laki-laki muda itu tersenyum ramah dan wanita itupun pergi. Berkat laki-laki ini Naruto selamat. Setelah Naruto perhatikan lagi wajah pria ini, Naruto merasa pernah melihat dia sebelumnya. Sepersekian detik dia berpikir, akhirnya Naruto ingat kalau pria yang ada di depannya adalah Deidara teman sekolah menengahnya dulu.

"Bukankah, kau Deidara?" tanya Naruto ragu. Pria berambut pria panjang ini terdiam dan melihat Naruto sejenak. Senyumpun tersungging di bibirnya.

"Astaga, kau Namikaze Naruto?"tanya Deidara sambil menunjuk wajah Naruto. Mereka kemudian tertawa dan saling memukul kecil sebagai tanda pertemanan.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Naruto.

"Ah, aku bekerja disini," jawab Deidara.

"Bekerja apa kau disini?"

Deidara diam sejenak, dia sedikit ragu untuk menceritakan pekerjaannya kepada Naruto. Eritiba-tiba muncul di balik gang kecil tempat toilet berada. Dia tampak heran dengan sosok orang asing yang kenal akrab dengan Naruto. Deidara tersenyum manis kepada Erisebagai tanda perkenalan.

"Siapa dia, pacarmu?" goda Deidara.

"Ah..tidak, dia sahabatku sejak kecil namanya Eri," jawab Naruto.

"Salam kenal," sapa Eripada Deidara.

"Salam kenal juga. Naruto bagaimana kalau kita minum-minum sejenak?"

"Ehm boleh,ayo pergi. Aku juga ingin mengobrol dengan teman lamaku."

Akhirnya Eri, Naruto, dan Deidara pergi ke sebuah bar yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu. Kondisi dalam bar sangat menakutkanbagi Eri. Banyak sekali preman dan yang lebih ekstrimnya lagi ada beberapa penari striptis yang asyik menari dan mempertontonkan lekuk tubuhnya pada pria-pria hidung belang. Naruto juga terkejut dengan keadaan ini. Mereka bertiga mengambil tempat duduk tepat di tengah kerumunan orang. Dengan leluasa Naruto bisa melihat tingkah erotis sang penari. Eri tak suka jika Naruto dengan leluasa bisa melihat hal-hal mesum seperti itu.

"Naruto-kun, apa boleh aku duduk disitu?" tanya Eri.

"Ehh, kenapa?" tanya Naruto polos.

"Sudahlah jangan banyak tanya," sergah Eri.

Eri menarik paksa Naruto untuk duduk ditempat begitu, Naruto membelakangi penari itu dan tidak bisa melihat mereka bertingkah mesum lagi. Deidara tertawa kecil, karena dia tahu maksud Eri yang sebenarnya, hanya saja Naruto sama sekali tak paham dan tak peka.

"Bagaimana kabarmu dan kedua saudaramu? Semakin lama kau terlihat semakin tampan," puji Deidara pada Naruto.

"Kabarku tidak sebaik dulu Deidara," jawab Naruto.

"Kenapa?"

"Hinata mengidap kanker tulang. Aku membutuhkan uang sebanyak dua puluh juta yen untuk pengobatan adikku. Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, sedangkan Hinata harus di operasi secepatnya. Uang hasil kerjaku dan Neji-san tidak bisa memenuhi itu semua."Deidara diam sejenak, dia merasa kasihan melihatkisah teman lamanya.

"Deidara-kun, sebenarnya tempat macam apa ini?" tanya Eri tiba-tiba.

"Ini adalah kompleks lokalisasi," jawab Deidara enteng. Eri dan Naruto terdiam kemudian saling pandang satu sama lain. Mereka sama sekali tidak menyangka bisa berada di tempat seperti ini.

"Kalian pasti menganggap tempat ini tempat yang menjijikan, kotor dan sarang HIV. Tapi buatku tempat ini adalah surga dunia. Tempat ini telah merubah hidupku."

"Apa maksudmu Deidara?" tanya Naruto.

"Deidara yang miskin menjadi Deidara yang kaya, Deidara yang culun menjadi Deidara yang stylish, serta Deidara yang tak punya apa-apa menjadi Deidara yang punya segalanya, semua itu aku dapat dari tempat ini. Tidak hanya wanita yang melayani kepuasaan lahiriah pria, namun pria juga bisa melakukan hal itu," ucap Deidara santai.

"Jangan katakan kau itu….."tanya Eri ragu.

"Benar aku aku adalah orang seperti itu dan aku bekerja seperti itu. Dulu aku sama seperti Naruto. Aku adalah anak pertama dari dari tiga bersaudara. Ibuku saat itu terkena penyakit TBC akut. Di dalam keluarga aku berperan sebagai ayah buat adik-adiku. Aku selalu bekerja keras untuk biaya pengobatan ibu dan sekolah adiku, namun pekerjaan itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Sempat aku merasa terpuruk dan hampir bunuh diri. Tapi tiba-tiba, ada sosok wanita muda namun dia lebih tua dariku. Dia mencegahku untuk bunuh diri dan kemudian ia mengajakku bekerja dini. Dia adalah wanita yang menyapamu tadiNaruto dan sekarang dia adalah kekasihku. Awalnya aku menolak tapi karena kebutuhan untuk ibu dan adik-adikku, aku dituntut untuk mendapatkan banyak uang. Dia berkata dalam waktu singkat aku akan mendapat banyak uang dan ternyata apa yang dikatakan wanita itu benar, kalau dalam waktu singkat aku bisa mendapatkan banyak uang."

"Benarkah kau bisa mendapatkan uang dalam waktu singkat?" tanya Naruto antusias.

Eri melirik Naruto dan memperhatikan Naruto secara seksama. Wajah Naruto yang murung berubah mendjadi cerah, Eri tahu Naruto tertarik dengan hal ini. Eri mulai was-was,dia menyenggol kaki Naruto sebagai tanda teguran dan mengingatkan Naruto agar tidak terjerumus kedalam lubang hitam hanya karena uang. Namun Naruto tidak mengindahkannya, dia melengos begitu saja.

"Iya benar, kau bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Apalagi fisikmu yang sempurna. Semakin tampan orang, maka harganya pun akan semakin mahal. Aku yakin kau akan lebih mahal dariku," Naruto tak mengatakan apapun. Dia hanya berkonsentrasi mendengar perkataan Deidara. "Berikan ponselmu?"

Naruto tak bertanya untuk apa nomer ponselnyaitu. Dia memberikannya begitu saja, Deidara terlihat menekan beberapa tombol diponsel Naruto lalu mengembalikannya pada Naruto.

"Ini adalah nomerku, jika kau membutuhkanku hubungilah aku. Aku tidak punya waktu banyak jadi aku harus pergi dulu. Sampai jumpa teman. Ingat tanpa uang kita tidak bisa menyelamatkan orang yang kita sayang," ujar Deidara. Setelah itu Deidara pergi meninggalkan mereka berdua.

"Naruto, kau tidak akan melakukan hal ini kan?" tanya Eri was-was. Naruto tak mengatakan apapun, dia beranjak pergi meninggalkan sahabat karibnya. Eri mengejar Naruto keluar dari bar. "Hei, Namikaze Naruto, dengarkan aku!" teriak Eri. Naruto membalikan badan dan memandang Eri sinis. Tanpa banyak bicara Eri merebut ponsel Naruto.

"Apa yang kau lakukan?!"tanya Naruto.

"Aku akan menghapus nomer ponsel Deidara!" jawab Eri.

"Apa kau gila?!" Naruto merebut ponselnya secara kasar dari tangan Eri.

"Naruto-kun, aku tahu kau membutuhkan uang, tapi ini bukan jalan yang baik. Aku mohon jangan lakukan ini. Aku akan membantumu untuk mendapatkan uang biaya operasi Hinata."

"Tahu apa kau? memang bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Apa kau tahu bagaimana rasanya hidup dalam keadaan ekonomi sepertiku? tentu saja kau tidak pernah merasakannya, karena kau anak orang kaya. Apa kau pernah merasakan, bagaimana rasanya kalau saudaramu jatuh sakit tak berdaya dan terbaring di rumah sakit. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah tahu. Aku akan melakukan apapun demi kesembuhan Hinata dan meringankan beban bagi Neji-san. Aku akan melakukan apapun walaupun aku harus bekerja seperti ini, mengerti!" teriak Naruto tepat di depan Eri.

PLAAK! Eri spontan menampar Naruto. Mulut Eri bergetar menahan tangis. Cairan bening mentes deras dipipinya. Naruto memegang pipinya yang memerah dan memandang Eri tajam.

"Apa kau benar-benar bodoh Naruto!" ucap Eri sambil menangis.

"Jangan sekali-kali kau ikut campur. Ini adalah hidupku jadi semuanya adalah tanggung jawabku. Aku akan melakukan apapun demi Neji-san dan Hinata. Terima kasih kau sudah menamparku. Aku tidak mau betemu denganmu lagi."Naruto pergi meninggalkan Eri begitu saja. Dia marah , atas dasar dan hak apa Eri menampar sesuka hatinya.

"Naruto-kun, aku peringatkan kau. Jangan pernah terjerumus dalam kegelapan. Sampai kapanpun aku akan mencegahmu untuk melakukan hal ini, walaupun kau akan membenciku bahkan jika kau akan membunuhku, aku tidak peduli. Apa kau mengerti!

TO BE CONTINUE

RENUNGAN :

TERKADANG ORANG YANG MELAKUKAN PEKERJAAN HARAM BUKAN KARENA MEREKA "INGIN" TAPI KEADAAN YANG MEMAKASA MEREKA SEPERTI ITU.