Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : OOC, TYPO, Gaje, Bahasa nonformal dan formal kecampur, Dan lain-lainnya!

Happy reading!

Don't like? Don't read!

.

.

.

Otou-san

"Naruto!"Teriak Sasuke sembari memeluk Naruto dengan erat, Naruto sendiri berusaha melepaskan pelukan itu.

"Le-lepaskan aku !"Bantah Naruto dengan keras. Tapi, Sasuke tetap memeluk Naruto. "Apa maumu?!"Lanjut Naruto dengan kasar. Sasuke merasa sangat rindu akan diri Naruto.

"Naruto… mohon, dengarkan aku…"Ucap Sasuke sembari mengeratkan pelukan itu. namun, Naruto berusaha untuk melepaskan pelukan itu.

"Le-lepas Sasu-Sasuke!"Kata Naruto lagi, Sasuke seperti tidak mendengar kata-kata Naruto. Malah, Sasuke semakin mengeratkan pelukan itu, sampai-sampai Naruto tidak bisa bernafas.

"S-sasuke, a-aku ti-tidak bisa… bernafas!"Lanjut Naruto. Sasuke melonggarkan pelukannya.

"Gomen, tapi… kumohon Naruto, dengarkan aku…"Bisik Sasuke tepat di telinga Naruto. Naruto sedikit merasa aneh ketika merasakan nafas Sasuke di telinganya.

"Ugh, t-tak ada yang harus kau bicarakan! Lepaskan aku!"Teriak Naruto sembari mencoba melepas pelukan itu, dan pelukan itupun terlepas. Naruto berlari sekuat tenaga dari taman itu.

"Naruto!"Panggil Sasuke dengan keras Tapi, Naruto tidak menoleh ke belakang. Sasuke mencoba untuk mengejar Naruto, tapi Naruto menghilang di sebuah tikungan. Sasuke berhenti berlari dan menatap jalanan.

"Naruto… ini semua hanya salah paham…"Gumam Sasuke.

Naruto Pov.

Hosh…hosh… hosh…

a-apa-apaan tadi itu. tadi itu… Sasuke… Sasuke… Hiks, hiks. Cairan bening mulai jatuh dari mataku.

Kenapa? Kenapa aku harus bertemu dengannya hari ini?... dan kenapa… Sasuke ingin berbicara padaku?... aku sungguh tidak mengerti ini… Sasuke…

Aku, mulai berjalan sembari menghapus air mataku.

Aku, tak ingin mengingatnya lagi… saat-saat bersama Sasuke dan saat-saat kami berpisah.

"Okaa-san?"Panggil seseorang padaku, tapi suara itu begitu familiar untukku. Aku menoleh padanya.

"Suke?"Ucapku ketika melihat Suke anakku. Aku buru-buru menghapus air mataku yang masih ada.

"Okaa-san, ada apa? Kenapa menangis?"Tanya Suke, Suke mendekat padaku. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

"Tidak, tidak apa-apa kok."Jawabku. Suke tetap menatapku cemas. Lalu, aku melihat Tachi dan lainnya di belakang Suke. "Ne, ayo kita pulang? Ini sudah waktunya makan siang lho!"Ajakku sembari tersenyum.

"Baiklah, ayo!"Kata Suke. Dan kami pulang bersama. Ketika sampai di apartement kami, Tachi, Nega,Ruiji dan Shika ke apartement mereka sendiri-sendiri. Aku dan Suke pun juga. Aku segera masuk dapur ketika sudah membuka pintu apartement. Suke, masuk kamarnya untuk berganti baju.

Aku memasak dalam diam. Tapi, aku teringat lagi. Saat aku bertemu dengan Sasuke. Sebenarnya apa yang ingin di bicarakan Sasuke? Apa? Apakah tentang Suke? Dan dia ingin mengambil Suke dariku?

Tes

Air mataku mulai keluar lagi. Argh… kenapa jadi seperti ini…

"Ugh.. Hiks… kenapa?... kenapa?"Gumamku sembari memegang pisau yang kubuat untuk memotong sayuran. Kupegang erat pisau itu.

"Kaa-san menangis lagi..."Kata Suke yang tiba-tiba berada di dapur. Aku menoleh padanya. Suke…

Tangisku semakin menjadi.

"Hiks…uuhh..."Kutahan tangisku. Suke mendekat padaku dan memelukku.

"Kaa-san, ada apa? Kenapa kaa-san menangis? Sudah ya? Suke di sini…menemani Kaa-san."Ucapnya. Aku membalas pelukan Suke dan menjatuhkan pisau yang semula aku genggam.

"HUWAA! HAAA! Hiks! Hiks!"Tangisku. Suke memeluk erat diriku.

"Sudah Kaa-san…"Ucap Suke sembari menepuk punggungku. Aku mulai tenang. Aku melepas pelukan itu dan menatap Suke.

"Suke, akan selalu di dekat Kaa-san kan? Tidak akan meninggalkan Kaa-san?"Tanyaku padanya. Suke tersenyum dan mengangguk.

"Ya! Aku akan selalu ada di dekat Kaa-san!"Jawab Suke. Aku tersenyum.

"Nah! Kaa-san masak dulu ya? Hari ini special Tomat deh!"Kataku padanya. Suke tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah! Aku tunggu! Aku mau mengerjakan PR di ruang TV!"Ucap Suke sembari tersenyum.

Aku ikut tersenyum ketika melihat itu. lalu, mengerjakan potongan sayur yang belum selesai. Setidaknya, aku bahagia dengan Suke di apartemen ini!

Normal Pov

Di sisi lain.

Mension Uchia.

"Arghh!"Erang Sasuke sembari melempar jam weker ke cerminnya.

PRANG!

"Kenapa?! Kenapa kau tak mau dengarkan aku Naruto! Padahal aku ingin mengatakan bahwa itu hanya salah paham!"Teriak Sasuke frustasi. Itachi yang mendengar sesuatu yang pecah dari kamar Sasuke, segera berlari kearah kamar Sasuke.

"Ada apa Sasuke?!"Tanya Itachi sembari masuk ke kamar Sasuke yang memang tidak di kunci. Sasuke hanya melirik Itachi dan menenangkan pikirannya.

"Tidak apa-apa."Jawab Sasuke singkat. Itachi menatap Sasuke tidak percaya.

"Baiklah."Ucap Itcahi. "Tapi, jaga kesahatanmu Sasuke."Lanjut Itachi. Sasuke menatapnya datar.

"Hn."Jawab Sasuke lagi. Lalu, Itachi berjalan keluar dari kamar Sasuke. Setelah mendengar suara pintu yang di tutup. Sasuke membaringkan tubuhnya dan menutup kedua tanya dengan tangan.

"Naruto…"Gumam Sasuke.

Sasuke Pov.

Kenapa, Kau tidak mau mendengarkanku Naruto? Kenapa?... apa yang ingin aku katakana padamu itu sangat penting. Kenapa saat itu kau menatapku benci? Aku ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi…

Argghh!

Sebaiknya aku keluar mencari angin!

Aku beranjak dari kasurku, mengambil jaket di gantungan baju. Membuka pintu kamar, dan pergi berjalan keluar dari rumah.

Aku tidak membawa mobil ataupun motor. Aku ingin berjalan keluar sekali-kali. Haahhh… mungkin benar. Mencari angin adalah pilihat tepat.

Tap! Tap! Tap!

Aku mendengar suara derap kaki yang berlari, aku menengok kebelakang. Dan sedikit kaget karna ada yang berlari kearahku.

"Gyaaa! Awaass!"Teriak pemuda itu. aku tidak sempat menghindar dan akhihrnya di tabrak olehnya.

"Auch!"Desisku. Pemuda itu berdiri. Dan membukukkan badannya padaku.

"Gomen!"Ucapnya. aku menatapnya datar.

"Hn."Jawabku singkat. Pemuda itu menatapku bingung.

"Hn itu, artinya 'Ya' atau 'Tidak'?"Tanya pemuda itu. Hahh… merepotkan.

"Ya."Jawabku lagi. Pemuda itu tersenyum, t-tunggu! Senyuman itu… mirip… Naruto!?

"Arigatou!"Ucapnya. Aku tetap menatapnya tidak percaya.

"Na-namamu… siapa?"Tanyaku. pemuda itu menatapku sebentar dan menjawab,

"Suke, Uzumaki Suke!"Jawabnya. U-Uzumaki?! Itu marga Naruto… apa dia, sudah menikah? T-tapi… tadi aku tidak menemukan cicin di jari tangannya.

"Uzumaki Naruto… apa dia ibumu?"Tanyaku padanya. Suke menatapku curiga.

"Yah, anda mengenal ibuku?"Tanya Suke balik.

"Ya, kami… teman lama…"Jawab Sasuke pelan. Suke mengangguk mengerti dan menatapku.

"Gomen, sepertinya Saya harus pergi, sampai jumpa!"Kata Suke sembari berjalan pergi. Aku menatap nya.

"Tadi itu.. apa… anakku?"Gumamku. lalu aku berjalan pulang sembari berfikir tentang Suke.

Normal Pov.

Suke berjalan pulang sembari menenteng tas plastic yang berisi Tomat. Yap, Suke di perintah oleh sang Ibu aka Naruto untuk membeli Tomat. Padahal, Suke sedang sibuk mengerjakan PRnya.

"Aaahhh... rasanya dingin…. Mungkin, karena akan musim dingin…"Gumam Suke. Suke berjalan dengan cepat menuju apartementnya. Ketika sampai dia segara memberikan belanjaan itu pada ibunya dan segera melanjutkan PRnya.

Selain itu, Di tempat Itachi alias Ucihaha Mansion.

Ting..Tong…

Ryuuko yang mendengar suara bel, segara membukakan pintu.

'mungkin Sasuke-jii-san'Batinnya. Tapi, ketika Ryuuko membuka pintu, bukan Sasuke Jii-san yang datang. Tapi, hyuuga Neji dan sang istri, hyuuga Gaara.

"Aaah, hyuuga-san."Ucap Ryuuko ketika melihat sepasang suami istri itu. Neji tersenyum dan berkata,

"Otou-sanmu ada? Kami punya sesuatu yang harus di bicarakan."Kata sekaligus tanya Neji. Ryuuko mengangguk dan menyuruh Neji dan Gaara untuk Masuk. Ketika Ryuuko pergi untuk memanggil Itachi. Gaara tidak mengalihkan pandangannya pada Ryuuko.

"Dia… mirip Tachi."Gumam Gaara yang masih bisa di dengar Neji. Neji mengangguk setuju.

"Yah, aku setuju denganmu."Jawab Neji. Gaara mengangkat kedua bahunya.

"Yahhh… tapi, kenapa dia bisa mirip Tachi ya?"Tanya Gaara bingung. Neji sendiri juga tidak tau.

"Mana kutau, Gaara-koi."Jawab Neji lagi. Gaara sedikit kecewa dengan jawaban Neji.

"Aaah, Kalian, ada apa?"Tanya Itachi mendadak. Gaara dan Neji menatapnya.

"Maaf, mengganggu. Aku hanya ingin bertanya tentang bisnis kita."Ucap Neji. Itachi mengangguk mengerti dan duduk di depan suami-istri itu.

"Baiklah."Jawab Itachi dan Neji memulai pembicaraan tentang Bisnis. Ryuuko sendiri menyiapkan minum dan makanan untuk tamu ayahnya itu. setelah makanan itu siap, Ryuuko mengantarkannya.

"Aaa… Maaf, menyela. Ini minuman dan makanan."Ucap Ryuuko sembari menaruh makanan itu di meja. Gaara sekali lagi menatap Ryuuko.

"Terimakasih Ryuuko."Kata Itachi sembari menatap anaknya itu. Gaara ingin bertanya.

"Kenapa?"Tanya Gaara mendadak. Itachi, Neji dan Ryuuko menatapnya.

"Maksudmu Gaara-san?"Tanya Itachi. Gaara menatap Ryuuko.

"Kenapa Ryuuko mirip sekali dengan Tachi anak, tetangga apartement kami?"Tanya Gaara. Itachi menatap Gaara tidak percaya. Ryuukopun begitu.

"A-apa!?"Tanya Ryuuko dan Itachi bersamaan.

-TBC!-

Anisa : Gyaa! Maaf, baru updet sekarang! Entah kenapa Ide buat cerita ini menghilang :'( jadi maafkan saya! Terimakasih juga yang sudah mengikuti cerita ini dari awal! TOT)/ apa lagi yang nge Fav dan Follow! Gomen updet lama karna… Laptop sedang rusak. Jadinya saya Cuma bisa lanjutin dikit-dikit T_T dan saya janji kok. Ini bakal Tamat! XD soalnya saya sendiri penasaran sama kelanjutan ini Fic XD

Suke : alas an -_-"

Anisa : enggak alas an! Emank bener kok!

Suke : hn…

Anisa : sudahlah! Minna! Mohon Reviewsnya! :D Flame? Tak masalah! Buat kami itu motivasi :)

Anisa : Bye-bye! Sampai nanti! Dan buat FFn saya yang MinaKushi, akan saya lanjutkan setelah ini updet :) jadi yang sabar XD Jaanee!