Sorry for the late update ._.
And thanks for Inainae-chan , Kazuki NightFlame47 , finata-chan, and Fla Afa-chan for the amazing reviews
Reviews are like, drugs I would kill to get.
.
"Aku minta kalian renungkan perbuatan kalian selama aku pergi. Mengerti?"
Aku dan Sasuke kompak menjawab yang ujung-ujungnya kami saling melempar death glare. "Mengerti."
Persimpangan jalan muncul di dahi Kakashi-sensei. "Kalau aku mendengar ribut-ribut lagi, detensi kutambah jadi tiga jam."
"Mengerti." jawab kami lagi.
"Lalu..." ia menggaruk-garuk pipi. "...entah bagaimana ngomongnya..."
"Mengerti." sahut kami berdua.
Kakashi-sensei nge-sweatdrop. "Aku belum selesai bicara."
"Mengerti." sahut kami lagi.
"Woi!"
"Menge-"
Brak!
Kami terdiam melihat meja malang yang dipukul sensei kuat-kuat. "Diam. Diam!" ucapnya emosi. Seketika aku dan Sasuke gantian sweatdrop.
Ia menghela nafas sembari menaruh satu tangan di pinggang. "Aku sudah bicara dengan kepala sekolah tentang kejadian hari ini."
Mataku terbelalak mendengarnya. Sontak aku berdiri, menuding Sasuke frontal. "Dia! Dia yang mulai duluan, sensei! Aku nggak bermaksud bikin ribut, sumpah!"
Sasuke melotot penuh amarah ke arahku. "Kau menginjak kakiku duluan."
Aku menoleh. "Setan memang nggak ada yang ngaku setan!"
"Apa katamu? !"
"Hei, hei. Sudah. Cukup!" sanggah sensei, memintaku untuk duduk dengan isyarat tangan. "Aku tidak akan membuatmu diskors atau dikeluarkan dari sekolah, aku hanya meminta pendapat beliau tentang usulku memasangkan kalian berdua di setiap kegiatan belajar mengajar."
Alisku bertaut. "Kau bercanda, sensei?"
Tampaknya Sasuke juga tidak percaya. "Usulmu itu konyol dan tidak berguna. Memangnya kepala sekolah mau mempertimbangkannya?"
Kakashi-sensei memegangi kepalanya yang terasa berat. Ya ampun, dua murid ini kok nggak punya respect sama guru sama sekali, sih. "Aku tidak bercanda. Beliau justru mendukung usulku itu."
"APA?"
Mata malas sensei memandang kami seolah tidak punya rasa bersalah. "Tidak hanya kegiatan belajar mengajar, tapi festival sekolah, study tour, proyek lainnya kalian akan dipasangkan bersama. Semakin cepat kalian akur, makin cepat pula ketentuan ini dicabut. Karena keputusan ini semi-formal, kepala sekolah merasa tidak perlu adanya izin wali murid ataupun izin dari kalian. Ini kan demi kebaikan kalian sendiri. Bersyukurlah aku membujuknya untuk tidak usah memberi tahu wali kalian dan jangan beritahu orang tua kalian tentang ini kalau kalian tidak mau mendapat masalah."
Aku hanya bisa menganga tolol mendengar penjelasan sensei yang panjang lebar. Entah bagaimana dengan Sasuke. Mana aku peduli.
Sensei menilik jam tangannya. "Ah, aku ada rapat guru-guru. Kalian pulanglah kalau sudah dua jam disini. Ciao!"
Greeek! Brak! Pintu kelas ditutup.
Aku masih tidak bisa menerima kenyataan mengerikan yang dituturkan Kakashi-sensei. Lagian, kenapa juga kami berdua dikasih detensi? Memangnya beberapa jam lalu aku ngapain?
Flashback Beberapa Jam Yang Lalu~~~
"I'll make your life a living hell."
Buk!
"Auw!" Sasuke memegangi kepalanya yang kulempari buku.
"Itu akibatnya kalau kau berani mendekat! Selain terpaksa, jangan berada didekatku kurang dari lima meter!"
Grak! Kakashi-sensei bangkit dari bangkunya. "Kalian berdua jangan pulang setelah jam pelajaran dan...KELUAR!"
End Of Flashback~~
Oh, ya. Begitu ceritanya.
Aku menutupi wajahku frustasi. Dewi fortuna tidak berpihak padaku hari ini.
"Sasuke-kuuuuun!"
"Kyaaaaaa!"
Aku langsung mengangkat wajahku. Nama Sasuke disebut-sebut? ! Oh, pertanda buruk!
Sekelebat warna pink dan kuning, ditemani warna-warna lain menyeruak masuk ke dalam kelas. Suara teriakan makin kencang terdengar dan posisiku tersingkir dari sisi Sasuke. Fan girls memang brutal.
"Aduh! Apaan, sih? !" teriakku kesal begitu mereka mendorongku dan melempar tasku ke lantai. "Berperikemanusiaan dikit, dong! Aku kan manusia!"
Ino dan Sakura mendelik ke arahku. Aura mereka menunjukkan mereka tidak suka. "Eh. Maaf. Kita nggak liat."
"Iya, kita kira nggak ada orang."
Mereka cekikikan melihatku melotot sia-sia. Kurang ajar! Awas kalian! Aku menghela nafas lelah, perlahan mengambil tas lalu beranjak keluar kelas. Berlama-lama di dekat Sasuke dan fan girlsnya tidak baik untuk kesehatan tubuh. Apa aku sudah bilang kalau mereka juga mengidap virus penyakit mental?
"Tunggu, Ten. Kau mau kemana?" tanya Sasuke dari antara para fan girls, saling berlomba untuk dapat menarik perhatiannya. "Kakashi bilang-"
"Aku mau pulang." ucapku tegas.
"Tunggu sampai dua jam dulu. Kita masih dalam hukuman."
"Kalau aku bilang aku mau pulang, ya pulang!" ngototku, uratan.
"Kau ini!" kudengar suara decitan bangku. Aku menyimpulkan Sasuke berdiri untuk menyusulku. Terang saja aku langsung menancap gas kabur.
"Jangan sentuh aku!"
Shiiing...
Langkahku terhenti ketika teriakan menuju tingkat bentakan Sasuke menggema sampai ke koridor. Kuputar badan supaya bisa melihat ke arah pintu kelas dimana para fan girls berkerubung. Fuh. Memang benar kata pepatah, dimana berkerubung lalat di sana ada bangkai.
"...aku tidak enak badan. Jangan sentuh aku." terdengar suara Sasuke lirih.
Mendengarnya aku mengangkat alis, takjub. Sekali seumur hidup bisa juga Uchiha Sasuke berkata-kata yang kesannya menyesal. Sesal karena sudah membentak-bukan, menunjukkan sisi asli dirinya. Rasio-ku mengatakan ini saat tepat buatku melontarkan perkataan seperti "Ngibul kamu, Sasuke!" tapi mengingat tidak mungkinnya keadaan aku urung.
Beberapa saat berlalu tanpa suara. Lalu seluruh fan girls bertumpahan keluar seperti air dari lubang bocor. Mereka berbisik satu sama lain, kebingungan terhadap sikap Sasuke. Kulihat di tangan mereka tak terdapat lagi bungkus-bungkus kado valentine. Garuk-garuk kepala, aku menunggu kerumunan fan girls habis kemudian setelah menghela nafas tak habis pikir aku paksa dua kakiku membawaku ke dalam kelas.
Di atas meja Sasuke tumpukan bungkus coklat valentine berdesakan. Beberapa yang kurang beruntung terjatuh di lantai kelas. Warna mereka yang nano-nano membuatku meringis. Sasuke hanya duduk disana, muka ditekuk, mata menatap kosong ke pangkuan.
Oke...awkwaaard...
"Sasuke...?"
Ia tetap diam tak bergeming. Bahkan kelopak matanya seakan tidak berkedip. Kuberanikan diri mendekatinya lebih lagi. Auranya mengkhawatirkan. Cih, aku ketularan semua fan girls bodoh itu. Sejak kapan aku jadi peduli tentang Uchiha Sasuke seperti saat ini?
"Hei...kau tidak apa-apa?" aku mengucapkan apa? Apa dia baik-baik saja? Sungguh? Ha. Aku harus menemui psikiaterku. Bilang padanya aku mulai gila. "Apa salah satu fansmu membuatmu terluka?" ucapku lagi, mengingat ulang bahwa ia meminta agar tidak disentuh tanpa alasan jelas.
Masih saja ia menunduk, tak ada suara sedikitpun. Aku meraih rambut hitamnya. "Hei...?"
Plak!
Hah? ! Aku cengo mendapati perih menjalari tanganku.
"Jangan sentuh." Sasuke memperingatkan. Kali ini ia lupa sikap dinginnya dan menatapku lurus.
Amarahku memuncak sampai ubun-ubun, beragam diksi kasar memenuhi otakku, melaju dengan kecepatan penuh menuju ujung lidah. "Kau-!"
"Ah." semburat merah melumuri wajah Sasuke samar-samar.
Sekonyong-konyong otakku membeku. Ekspresi marahku berangsur melembut, menjadi ekspresi bingung. "Sa...sasuke?" jariku menunjuk bintik-bintik pink di kulit ivory-nya itu. "Kau kenapa?"
Sasuke makin tenggelam dalam kelesuannya. Ia tutupi wajahnya gengsi. Padahal pola polkadot merah muda itu menyebar ke seluruh badan. "...ku alergi..."
"Hah? Apa?"
"...a...gi..." gumamnya sekali lagi.
"Iih! Ngomong yang jelas, kek! Cowok kok kemayu, sih? ! Yang jantan, dong!" bentakku tidak sabaran.
Brak! Meja ia pukul, mengesampingkan rasa malu, Sasuke berdiri mengintimidasiku dengan badannya yang lebih tinggi dariku itu. "Aku bilang aku alergi, tuli!"
"Ya alergi apa, pantat ayam? !"
"Alergi cewek, mickey mouse!"
Aku langsung terdiam. Aku nggak salah dengar kan? "Alergi...cewek?" aku menurunkan alis bingung. Semacam gynophobia gitu? Tunggu, gynophobia kan penyakit takut lawan jenis. Kalau itu sih harusnya dari dulu Sasuke sudah terbirit-birit dikejar cewek. Memang sih, dia selalu menghindari fan girls. Jadi ini sebabnya.
"PFFT!" aku menunjuk Sasuke dan menutup mulutku yang menggembung, mengancam akan meletus tertawa kapan saja. Seolah-olah berkata alergi-macam-apa-itu. Sasuke yang sadar ia baru saja memberi garam pada musuh, geram tanpa alasan yang jelas. "Jangan tertawa."
Nyehehehe. "Kalau begitu, tadi kau memukul tanganku karena kau sebenarnya menganggapku cewek, kan?" dua telunjukku menuding Sasuke. "Ya kan, ya kan, ya kan? Ngaku!"
"I...tu nggak benar." bantah Sasuke masih dengan muka memerah dan pola polkadot di kulit. "Aku yakin kau bukan cewek. Aku memang tidak suka disentuh. Lagipula ini bukan saatnya kita bertengkar."
Ctik! Persimpangan urat menonjol di dahiku. "Apa, sih! Kalau memang nggak suka padaku, bilang! Pake ngatain aku bukan cewek segala, lagi!"
"Aku sudah bilang, ini bukan waktunya kita bertengkar. Sekali saja bersikap manis kenapa, sih?"
Aku membuka mulut, siap merilis diksi ejekan baru khusus untuk Uchiha Sasuke tercinta saat sebuah ide melintasi otakku. "Hei. Memangnya tanda-tanda alergimu kambuh itu apa?"
Sasuke menatapku heran. Ekspresi batal-ngajak-ribut-nih melekat di wajahnya yang lagi diserang polkadot pink. Oh, tenang, Sasuke. Aku hanya sedang mengubah strategi. Letusan berikutnya sudah dekat, kau tidak usah khawatir. Fufufu.
"...cepat, sangat cepat. Selang dua detik sejak kulit bergesekan langsung kambuh. Dan gatal." jelasnya singkat, dan kebenarannya teruji melihat sekali dua kali ia menggaruk-garuk.
"Lalu...kalau ada yang menyentuhmu lagi dalam interval sebelum kau pulih kembali bagaimana?"
Alis Sasuke mengerut. Ia tidak suka kemana percakapan ini mengarah. "Kenapa aku harus memberitahumu?"
Aku memutar bola mata. Tanpa ragu kubalik badan, seolah hendak beranjak dari hadapan Sasuke. "Ya sudah. Tapi Naruto pasti senang sekali kalau tahu rivalnya lemah sama cewek." aku melirik ke arah belakang, menunggu respon Sasuke. "Aku bisa membayangkan Naruto mendorong para fan girls-mu sampai jatuh berurutan seperti kartu domino. Yah, bagiku itu akan jadi tontonan menarik, sih."
"Tung-ugh." Sasuke menahan keinginan berteriak, soalnya bagi Uchiha berteriak itu dosa berat. Ia membayangkan berapa kali kontak kulit langsung (baca: kumat) yang akan dia alami jika itu terjadi. Yang biasa saja ia mati-matian jaga jarak, kalau kambuh ia biasanya mengambil alternatif ke kamar mandi, lah kalau jatuh dikepung kerumunan cewek? Belum bangun saja sekujur tubuhnya akan berteriak gatal, apalagi harus bangkit lalu lari menyembunyikan sosok pink-nya?
Aku menoleh, pura-pura menatapnya kasual. "Hn?"
Tawaku hampir membludak melihat muka Sasuke. Sudah berpola polkadot, merah berasap karena amarah pula. Kalau Ino dan Sakura lihat, citra cool Sasuke pasti hancur. Ia menggeretakkan gigi. "Gatal. Berkali lipat." geramnya kesal.
Aku tersenyum, berjalan pelan mendekati Sasuke. "Begitu, dong." menetak-netak dagu, aku kembali berpikir. "Kalau kambuh biasanya sampai berapa lama?"
Mata onyx menyipit. "Sampai aku mati tak akan kuberi tahu."
Aku menghela napas. Keras kepala sekali, sih. Kukeluarkan handphone, membukanya lalu memasukkan nomor Naruto. Saat gambar Naruto menyundul kamera dengan sumpit bersama tulisan 'calling' muncul tombol speaker kupencet. Tuuut...nada tunggu handphone terdengar cukup kencang bagi kami berdua. Sasuke memandangku penuh prasangka. Di saat begini apa yang kulakukan?
Tut. Cklek.
"Halo?" terdengar suara di seberang.
Mata onyx Sasuke melebar. Aku menelepon Naruto.
"Halo? Onii-chan?" panggilku mesra, sengaja menarik perhatian Sasuke. "Tenten? Ada apa? Hukumanmu sudah selesai?"
"Ah? Sudah, kok. Aku sedang bersama Sasuke ini." aku melirik ke arah Sasuke. "Naruto-onii-chan, tahu nggak?"
"Hng? Tahu apa?"
Sengiranku berubah jadi sengiran evil. "Ternyata Sasuke itu, ya-"
Grasp!
Aku tersentak. What the! Handphone-ku dirampas! Aku menoleh ke samping, mulut terbuka dalam protes. "Hei-"
Grrrh...
Aku sweatdropped. "Eh?" aku tersenyum serba salah. Sasuke memancarkan aura tidak bersahabat dari jarak dekat. Wajahnya terlindung bayangan amarah, mata onyx-nya menghakimi. "S-sasuke?"
Kretek...handphone-ku bergemeretak di kepalan Sasuke. "Tiga jam. Tidak ada obatnya. Berhentilah bertanya atau kau..." Sasuke mengambil jeda, menarik satu telunjuk ke depan lehernya dari sisi kiri ke kanan membentuk garis lurus kasat mata.
Hieeey~ Aku meneguk ludah, mengangguk. Aku tidak mau mati dipenggal Sasuke. Kalaupun mati aku inginnya saat aku sudah mapan nanti. Dua anak, hidup berkecukupan, dua mobil, rumah dua tingkat, suami sih satu aja dulu. "I...iya, Sasuke." jawabku, tangan menengadah menerima handphone-ku kembali.
"Jadi..." mulaiku setelah handphone settled di kantong seragam.
"Hn?"
"Tak ada obatnya, huh?"
Sasuke menurunkan alisnya curiga. "Hn."
Criiing! Mataku berkilau tanda bahaya; bagi Sasuke. Aku menarik tanganku ke samping, tangan lain menekuk ke depan. "TOUCH!" Bak pitcher, kutarik kuat-kuat lenganku ke arah Sasuke yang nyaris saja terhempas telapak tanganku. Mendapati angin di genggaman aku mendecak kesal.
Sasuke menatapku seolah aku sudah gila. "Tenten! Sudah kubilang aku tidak suka disentuh!"
"Alibimu konyol! Padahal kau cuma gengsi mengakui kalau aku cewek, dan bisa membuat alergimu kambuh juga, ya kan!"
Sasuke meloncat ke atas meja, mejaku pastinya, menghindari seranganku. "Aku serius, Tenten. Bukan itu masalahnya. Kalau itu benar, sudah dari tadi aku meminta ditukarkan tempat duduk, bukan denganmu." desaknya.
Ctik. Uratku muncul beberapa lagi. Membabi buta kuarahkan tendangan kepadanya, kalap. "Kau secara tidak langsung menuduhku bukan cewek, kan! Kau pikir aku bodoh? ! Aku tahu saat kau menutupi sarkasmemu atau tidak, Sasugay!"
"Sudah kubilang, bukan itu masalahnya!" jawabnya (sambil menghindar) naik satu oktaf, komposur tenang warisan keturunan Uchiha-nya luntur. "Jangan paksa aku bersentuhan denganmu. Kau nanti menyesal!"
"Sini! Kupatahkan teorimu!" tantangku lepas kontrol.
"O-oi!" serunya panik melihatku berdiri di atas mejaku yang beberapa detik lalu ia pijaki. Sekarang dia berdiri di bawah, wajah penuh ekspresi entahlah, aku terlalu fokus ingin menjamahnya dan menyaksikan 'sihir'-ku bekerja hingga tidak memperhatikan apapun. Itu ketika kakiku kehilangan pijakan dan benang transparan gravitasi melilit tubuhku, menarik dengan kecepatan penuh, menyadarkanku bahwa ada lantai keras di bawahku. "Ah..."
"Tenten!"
Gyuut...
Bruk! Gubrak! Drak!
"Auh!" jeritku kesakitan, mata terpejam. Badanku serasa dihantam dinding kokoh, sakit tak terkira. Aku membuka mata. Kain seragam alps Sasuke membelai pipiku lembut. Astaga. Aku jatuh menimpa badannya.
"Kau..." ucap Sasuke, suaranya berat. Kali ini suaranya lembut bak sutra namun tajam bak pisau menyusupi telingaku. "...benar-benar..."
Aku salah tingkah sendiri, mencoba bangkit. "Aduh...gomen, Sasuke." kataku canggung, sesekali tertawa berusaha mencairkan suasana. Kulihat wajahnya terhalang rambut raven andalannya itu, memberi kesan ekspresi dingin. Mataku menangkap meja belakang tergeser dari tempat seharusnya dimana Sasuke tergeletak, menyadarkanku. "Eh...jangan-jangan...kepalamu menghantam meja saat menahanku jatuh, ya?"
Meski tidak menjawab, desis sakit Sasuke tidak terlewatkan olehku. Ia menutup kedua matanya dengan lengan kiri, sebuah wujud putus asa dalam menyembunyikan rasa sakit yang ia alami. Suara hantaman saat kami berdua jatuh kan kencang sekali. Kemungkinan tengkorak Sasuke mengalami cedera cukup besar mengingat meja terbuat dari besi dan kayu.
"Sa...sasuke! Kamu tidak seharusnya berbuat begitu..." kataku khawatir, menatapnya dari posisi duduk. Aku meraih lengan kirinya ragu, dan benar saja ia menolak kusentuh. "Sakit, ya? Sakit, Sasuke?" tanyaku lagi, rasa bersalah memenuhi dadaku. Kalau saja aku bersikap lebih manis sedikit mungkin ini tidak akan terjadi. "Mau kubawa ke UKS? Ah, tapi nanti alergimu kambuh. Bagaimana ini..."
Aku memperhatikan gigi Sasuke yang menggigit bibirnya sendiri. Bibir yang tipis menggoda. Wajahnya, meski tertutup lengan berkulit putih tanpa cacat tetap punya kesan misterius ala Uchiha. Kesal sih, mengakuinya, tapi dia memang cakep banget. Aku menggeleng. Tidak, tidak! Bukan saatnya berpikir yang aneh-aneh. Memangnya kenapa kalau Sasuke berperawakan tampan, tinggi, pintar, dan berkulit putih bersih-
Eh...
Masih duduk di atas Sasuke, aku terhenyak. Kenapa aku baru sadar? "Sasuke...kulitmu..."
Ia tetap bungkam, menungguku menyelesaikan perkataanku.
"...sudah kembali normal...?"
"Hh...sudah kubilang, bukan..." bisiknya penuh nada pasrah. Suaranya mengingatkanku pada suara anak kecil yang merajuk. Hanya saja lebih dingin. "Jangan sentuh."
Aku menggeleng kecil, mulut membuka tidak percaya seraya menyeret pandanganku ke sekujur tubuh Sasuke. Saat jatuh pasti kulit kami bergesekan. Tapi bukannya tambah parah, kulit Sasuke justru kembali normal. Aneh. Alisku bertaut menandakan aku sedang berpikir keras. Bukannya Sasuke bilang alerginya kumat kalau bersentuhan kulit cewek?
"Berdekatan dengan cewek sedikit saja rasa gatal bisa menyerangku. Tapi kalau dengan sejenis, biasanya tidak terjadi apa-apa."
Aku mengacuhkan rasa sakit di hatiku. Bisa kupastikan kemana percakapan ini mengarah.
"Ini juga alasan kenapa aku memilih duduk di sebelahmu. Karena kalau di dekatmu, aku tidak pernah merasa alergi."
Tik.
"Eh..." Sasuke mengangkat lengannya, mata onyx melebar.
Tik. Tik.
"...karena aku bukan perempuan?"
Dapat kurasakan lantai tempatku duduk bergeser. Lagi, aku mengingatkan diriku bahwa aku masih menempati lingkar paha Sasuke. "Bukan-Tenten...? Kau menangis?"
Aku mengangkat kepalaku. Entah sejak kapan cairan hangat menetes dari bola mataku. "Eh...?" kuraba pipiku pelan. Air mata?
"Tenten..." panggil Sasuke lirih. Tangannya meraih rambutku di dahi.
Plak!
Mata coklatku menatap dingin mata onyx Sasuke. "Jangan sentuh aku."
Setelah yakin kakiku cukup kuat menumpu aku buru-buru bangkit. Sasuke juga mencoba bangun, meski harus mendesis beberapa kali. Tanpa mempedulikan usahanya yang sedang terluka aku berlari keluar kelas, merutuk dalam hati. Baka. Baka.
"Tenten! Tunggu!"
Aku tidak dengar, tidak dengar, Ulangku membatin. Kuusap air mataku kasar memakai punggung tangan. Baka. Air mata ini keluar di saat yang tidak tepat.
Bruk!
"Ah. Tenten?" sapa Kakashi-sensei, tidak menyangka akan bertubrukan denganku di koridor. "Aku baru saja mau memberitahu kalian sudah boleh pulang..." kalimat sensei terpotong saat mata kami bertemu. Sial. Aku mengusap mataku sekali lagi, lalu memasang senyuman. "Ah, kebetulan sekali. Aku sudah harus pulang dan menyiapkan makan malam. Otsuka-resama, sensei." celotehku cepat. Menunduk hormat, aku tidak menunggu tanggapan sensei. Segera setelahnya aku berlari ke arah sensei datang, menjauh dari kelas dan...Sasuke.
.
Kakashi memandangi sosok muridnya menjauh, matanya tak sarat emosi. Ia menoleh hanya saat nafas berat Sasuke terdengar di dekat pintu. Wajah stoic itu tampak kusut. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang mudah ditebak.
"Tenten...ke mana dia?"
Kakashi memijat dahinya lelah. Bagaimana bisa mengurus dua remaja SMA lebih susah daripada mengawasi kumpulan anak TK?
"Sasuke...jangan bilang kali ini kau melakukan hal bodoh lagi."
