A/N: Hola ! :D

Long time no see! #sokinggris yaiyalah terakhir aku update fic ini kapan -_-

Sumimasen for the long wait :' life's been harder for an eleventh grader like me…

Dan ini untuk keseluruhan readers-ku juga, kalau untuk tahun-tahun ini dan ke depannya author bakal masuk mode indefinite hiatus; sesuai namanya, hiatus untuk batas waktu yang nggak ditentukan. Padatnya materi pelajaran yg harus dienyam terpaksa harus diprioritaskan. Jadi intinya sebenarnya bakal hibernasi tanpa mengenal musim -_-

Untuk para readers yang nunggu semua fic-ku untuk di-update maaf, tapi aku usahakan update tiap kali aku dapat kesempatan. Dan untuk urusan gimana ke depannya aku nggak akan menelantarkan fic-ficku begitu aja karena aku tahu sakitnya digantung sama author fic yg kita baca.

Oh yaaa chap 3 ini 19 halaman word, lho #gakpenting

Special thanks for May9121, Arisachan, RitSuKa-HigaSasHi , Hiru'Na' Fourthok'og, Airventure18 , Fuyu no MiyuHana , Kazuki NightNatsu , Inainae-chan for the wonderful reviews. Long live SasuTen! (?)

.

.

.

.

.

Hah...hah...
Aku lambatkan kakiku hingga benar-benar berhenti sama sekali. Uap panas dari mulutku menguap di udara bebas sekitarku. Tanpa kusadari hari sudah mulai gelap, mentari perlahan tenggelam di balik bentangan horizon. Namun aku masih belum sampai ke rumah. Kupeluk tubuhku erat. Udara senja musim dingin benar-benar membuat beku. Padahal sudah pertengahan februari. Seragam sailor-ku masih melekat di tubuh, hanya terbungkus sweater dan trench coat abu-abu. Sedikit kurasakan kehangatan radiasi tubuhku tertelan guguran salju.

"Tenten?"

Kuangkat kepala mendengar namaku dipanggil. "Eh?"

"Sudah jam segini kau baru pulang? Aku khawatir, tadi kau menelepon langsung terputus. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Naruto..." aku tersenyum getir melihat onii-chan angkatku berdiri di depanku. Dia mengenakan jaket orange andalannya, hood di kepala yang terbalut beanie hat putih rajutan tangan. Celana training hitam yang ia pakai memberitahuku ia tengah jogging sore. Semburat merah di pipi dan hidungnya samar terlihat akibat dinginnya suhu Konoha. "...yah, kau tahu. Aku harus mengurus beberapa hal." ujarku, mengangkat bahu. Dalam hati aku menolak munculnya kilas balik di otakku mengenai pertengkaranku dengan Sasuke. Aku tidak mau mengingatnya lagi.

"Perempuan tidak baik pulang sendirian menjelang malam. Kalau ada orang jahat bagaimana?"

Deg.

Aku memukul bahu Naruto, menahan rasa panas yang menjalari pipi. "Kamu aneh-aneh aja. Ya nggak lah! Aku kenal betul daerah sekitar sini."

Naruto meringis menahan sakit kupukul. "Aduh! Iya juga, sih. Mana ada preman berani sama Tenten."

"Iya, dong. Aku kan cewek kuat." sumbarku bangga, memukul dada.

Naruto hanya terdiam sambil tersenyum tipis membelakangi pemandangan matahari terbenam di penghujung langit. Yang menurutku, respon yang aneh dari seorang Uzumaki Naruto. Kemana perginya kehebohan khasnya?

"Naruto-nii-chan...?"

"Tenten..." panggilnya lirih, kepala durian menunduk. Uap yang terhembus dari mulutnya menambah kesan misterius.

Aku mengerutkan dahi. "Iya?"

"...apa tidak lelah?"

Deg.

"Eh?" tanyaku tidak yakin. Apa aku salah dengar?

Mata biru langit miliknya menatapku lekat, efek dari pantulan redup sinar matahari di pelupuk matanya membuat penampilan Naruto seperti predator nokturnal. "Apa tidak capek...menjadi kuat terus menerus?"

Deg.

Tanganku mengepal, perasaan aneh menyelimutiku. "A...aku nggak ngerti maksudmu..."

"Kamu yakin benar nggak ngerti maksudku?"

Deg.

Apaan, sih...
"Aku nggak mengerti. Aku kuat begini karena aku mau." sikerasku.

Untuk beberapa saat kami cuma bertatapan satu sama lain tanpa suara. Aku yang menatap penuh bingung dan Naruto yang menatap balik meminta jawaban yang bahkan aku nggak tahu jawabannya. Aku yang sebenarnya tahu...apa arti dari pertanyaan itu tapi tidak mau mengakuinya.

Akhirnya Naruto tersenyum padaku, membasuh semua rasa takutku pergi. "Dingin, ya. Ayo kuantar pulang."

Hoh...aku melepas nafas yang entah sejak kapan kutahan. Perubahan mood Naruto yang spontan membuatku agak takut. Sekilas...aku melihat karakter Sasuke di sela-sela sifatnya yang ceria itu. Aku tidak menyukainya.

"A...ayo." sahutku getir.

Senyum rubah Naruto kembali, membuatku sedikit tenang mengambil sodoran telapak tangannya. Kugenggam erat, seolah tidak akan pernah kulepas. Kebiasaan sejak dua tahun lalu ini susah sekali untuk kutinggal. Tapi karena Naruto tidak keberatan, ya sudahlah. Pasti dia tahu sesuatu terjadi hanya melalui pancaran mataku. Dia memang bisa membaca pikiranku. Sikapnya yang tenang ini...aku tidak tahu. Apa mungkin Sasuke memberitahu tentang pertengkaran kami, atau dia menerka kami akan bertengkar hebat. Yang mana saja, yang jelas untuk sekejap aku takut ditatap bola mata biru langitnya. Rasanya seperti ditelan.

Suara salju terinjak mengisi kesunyian kami berdua yang berjalan beriringan. Kebetulan rumahku lumayan dekat dari rumah Naruto, jadi terkadang kami bermain sampai sore bersama, kadang dia mengantarku pulang. Sekarang sudah tahu kan kenapa aku memanggilnya nii-chan?

"Naruto-nii-chan, arigato ne. Sebenarnya tidak perlu sampai begini." ucapku merasa bersalah membuat dia khawatir.

"Nggak apa-apa. Aku kan nii-chan yang selalu menjagamu." diiringi senyuman rubah.
Aku cuma bisa tersenyum mendengarnya. Biasanya kami heboh bersama tentang banyak hal. Dengan keadaan sekarang seperti bukan kami saja. Aku remas pelan tangan lebih besar Naruto. Aku menahan tawa geli. Kalau orang lain melihat kami begini, bisa-bisa kami dikira sepasang kekasih.

"Naruto-nii-chan!"
"Hm? Hegh!"

Bruk!

"Ahahaha! Sudah lama nggak begini, kan?" tawaku ceria.

"Tenten! Berat!" keluh Naruto yang punggungnya kuhinggapi.

"Habis...kan sudah lama kamu nggak menggendongku. Sekali-kali nggak apa-apa kan?"

"Haaah...ya sudah, deh."

"Ehe...!" aku tertawa lagi.

Naruto menggeleng melihat tingkahku. Kurasakan kedua tangannya merambat menopang pahaku.

"Wuah!"

"Wuaa!"

Grek! Tanganku menarik leher Naruto bersamaku ke bawah.

"Ugyaaa!"

Gusrak!

"Adudududuh!" aku memegangi kepalaku kesakitan. "Gimana, sih? Megang pahaku aja sepanik itu!"

"Aduh..." Naruto meringis sambil memegangi punggungnya. "Gomen. A-aku belum siap mental..." ucapnya konyol.

Aku masang wajah wtf. "Memangnya kenapa? Ini kan hal yang biasa kita lakukan sejak dulu."
Kulihat ia menunduk, masih memunggungiku. "Itu kan dulu."

Aku mengerutkan dahi. Naruto bertingkah aneh. "Masa kau keberatan menggendongku?"

"Ah..." samar warna pink melumuri pipinya yang punya tiga goresan seperti kumis kucing. Aku tidak terlalu yakin sebab aku duduk menghadap punggungnya. "P-pahamu...dingin sekali, Ten-chan." bisiknya malu tanpa menoleh, tangan menggaruk-garuk rambut pirang durian.

"Eh?" aku langsung menjatuhkan pandangan ke pahaku. Kalau dipikir-pikir, berjam-jam aku diluar hanya mengenakan rok pendek sekolah dan trench coat. Wajar kan, kalau kulitku ikut dingin seperti salju. "Kau kaget karena itu? Seperti bukan dirimu saja." celetukku seraya berdiri.

Naruto menyusul, dengan terburu-buru dan tampak gelisah membantuku membersihkan rok dari serpihan salju. Ia kelihatan normal sampai tangannya mengikuti tanganku yang akan membersihkan paha. Naruto membeku, ia buru-buru menarik tangannya lalu membuang pandangan ke arah lain. Aku mengerutkan dahi. Oke...memang ada sesuatu yang aneh disini.

"Uh...um. Kurasa lebih baik kita jalan sekarang."

"Ya...?" aku menatap Naruto penuh curiga. "Baiklah."

...

"Hiiih! Dingiiin!" keluhku sambil menggosok kedua tanganku bersamaan.

Naruto memandangiku prihatin. "Kamu pakai baju tipis begitu, sih. Sini, masukin tanganmu ke sakuku." Naruto menunjuk saku jaketnya. Aku cuma bisa meniup hawa panas ke tangan sambil menggosok-gosok, sedikit terbengong mendengar tawaran Naruto. "Nggak apa-apa, nih?"

"Kamu bicara apa?" Naruto tertawa melihat ekspresiku. "Ini kan sudah biasa." dan lekas selepas dia selesai mengucapkannya aku mendapati tangan besar Naruto menuntun tanganku bersemayam di kantongnya. Aku tersentuh merasakan kehangatan yang diproduksi tebalnya kain jaket Naruto. "H-hangatnya!" seruku senang.

"Ya, kan? Lebih baik kalau begini."

"Wuah!"

"Hahahaha...!" tawa Naruto melihatku kaget. Bagaimana tidak, sementara satu tanganku di dalam saku jaketnya, ia merangkulku menggunakan tangan yang ia gunakan untuk menuntun tanganku juga. Tubuh kami berdekatan, menghapus jarak antara kami berdua. "Hangat..." gumamnya sambil menekan pipinya dengan pipiku.

Aku hanya merengut melihat tingkah Naruto. Kalau sedekat ini biasa saja, kenapa menggendongku tidak bisa? "Ya, ya. Ayo, cepat. Sudah gelap, nih."

.

.

.

.

.

Cklek!

"Ah, arigato nee, naruto-nii-chan!" aku menahan diri dari terburu-buru memasuki apartemen, tangan menahan pintu dari tertutup sendiri. "Meski sebenarnya aku bisa menjaga diriku sendiri..."

Plok!

Naruto mengusap-usap kepalaku gemas, senyuman ala rubah melekat di bibir. "Dasar. Sudah kubilang, kan. Bermanjalah sedikit."

Aku mengeluh diperlakukan seperti anak kecil, tapi terhenti. "Bermanja-manja...?"

"Ya, kau tahu...berhenti berlagak kuat." Naruto memasukkan tangannya kedalam saku jaket sebelum berbalik, hendak meninggalkanku sendiri. "Jaa ne!"

"Tunggu!"

Greb!

"Apa maksudmu berlagak kuat? Aku begini karena mauku!" seruku ke wajah kaget Naruto yang tidak menyangka akan dihentikan olehku. "Naruto-nii-chan menganggapku lemah?"

Ekspresi bijak muncul di wajah Naruto. Dia pun berbalik, perlahan melepas cengkramanku dari lengannya. Aku terengah kecil, mata eboni coklat menatap ke bagian bawah tubuhnya. "Gomen..." bisikku lirih. Kuusap mulut menggunakan punggung tangan kanan. Konyol sekali. Aku sebegitu tidak terima dianggap lemah. Padahal Naruto-nii-chan belum mengatakan apapun.

"...aku tidak pernah menganggapmu lemah, Ten-chan."

Deg.

Sangat perlahan kuangkat kepala, mencari-cari ekspresi mengolok yang tidak bisa kutemukan dari wajahnya. Pfft, memang sejak kapan Naruto pernah memasang wajah serius begini? Sudah sewajarnya kan aku mengira dia bercanda; mengingat rekor keusilannya yang tak habis-habis.

"Aku cuma bilang, kalau kamu tidak sendiri."

"Eh...?"

Dapat kudengar pelan hembus nafas Naruto. "Ne, aku pun ingin melindungimu."

Deg.

Tanpa pikir panjang kuraih dada yang berdenyut. Mukaku terasa panas. P-perasaan sakit apa ini?
Mata biru Naruto berhasil menangkap perhatianku. Meski gelap, samar warna kebiruan pudar mengkilat. "Tidak apa-apa...meski Ten-chan lemah sekalipun..."

Deg.

Tak bisa kupungkiri ada sesuatu yang menarikku untuk tetap memandangi wajah Naruto. Maksudku, lihatlah; mendadak semua fitur wajahnya jadi sangat menarik bagiku; mata biru, kulit putih sedikit terbakar matahari, bibir, rambut pirang durian yang tertutup hood jaket-

"...aku tetap akan ada untuk melindungi Ten-chan."

Deg!

Plak! Aku langsung memegangi kedua pipi. Ke-kenapa? Tiba-tiba aku jadi kesulitan bernafas. Pipiku juga bertambah panas. Lalu, degup jantung yang begitu cepat...

Naruto tampaknya menyadari keanehan sikapku. "Ten-chan?"

Aku terlonjak kaget, serba salah. "E-eh? Ya?"

"Kau mendengarkanku atau tidak?"

"E-eeh..." aku berusaha keras memproses jawaban dari pertanyaan itu. "Nee...a-aku dengar, kok."

"Kau yakin kau baik saja? Wajahmu merah sekali."

Glek! Aku langsung menggeleng cepat. "Ng! Cuma kedinginan, kok!" dan kuakhiri dengan senyuman konyol.

"Jadi kau mengerti?" tanyanya lagi.

"Aaa-iya, mengerti!" jawabku sembari tertawa-tawa. Apa yang kutertawakan, sih?

"Baguslah kalau begitu." Naruto tersenyum kembali, suatu tindakan yang entah bagaimana berhasil membuatku terpaku lagi. "Aku juga cowok, kau tahu."

...

"A-apa maksud dari perkataanmu itu?"

Naruto menunduk, membuat wajahnya tertutup sebagian kecuali senyum di bibirnya. Ia berbalik, dan kali ini aku tidak menghentikannya meski kebingungan mendera. "Nii-chan...?"

Beberapa meter dari tempatku berdiri di depan pintu Naruto memutar badannya. Senyum ala rubah. "Aku ingin melindungimu di saat kau lemah."

Deg!

"Jaa ne!" Naruto melambaikan tangannya dari jauh. Ia pun berlari, kembali ke aktivitas jogging-nya yang tertunda.

Aku meremas kain baju lebih keras kali ini, bibir terkulum gigi. Mataku menyipit berbarengan rasa panas yang menyelimuti tubuhku. Aneh...ini tidak pernah terjadi sebelumnya...untuk berdebar-debar di hadapan Naruto seperti tadi...ini pertama kalinya...

Aku mendongak. Langit malam musim dingin bertabur bintang yang sepi menyambutku. Perasaan seperti tadi...aku baru pertama kali...

"Tenten."

Seolah tersedot ke dalam adegan klimaks sebuah film, sekujur tubuhku tidak dapat digerakkan. Perlahan, kekuatan untuk mengendalikan anggota tubuhku kembali, namun semuanya terasa lambat. Aku menoleh, secepat yang kumampu, sehelai dua helai rambutku menampar pelan pipiku. Jantungku seketika berhenti berdetak begitu perawakan siluet orang yang memanggil namaku menjadi jelas dibawah sinar redup senja. Padahal aku tidak ingin melihat wajahnya...

"S-sasuke..."

Wajah stoic itu memandangku dingin seperti biasa. Tidak ada kata-kata terluncur dari bibirnya.
"Kh..." aku menggigit bibir. Tanpa buang waktu lagi kuraih gagang pintu. Bisa kudengar derap kakinya menapaki permukaan lantai dari semen apartemenku mendekat.

Grep!

Deg! Jantungku berdetak keras ketika tangan besar Sasuke mencengkram tanganku di atas gagang pintu. Seperti yang kuduga, kekuatannya lebih dominan daripada kekuatanku sampai-sampai aku tidak bisa menepis gerakannya. Rasa panik menelanku. Melihat caranya menatapku lekat...tidak, aku takut! Kini apa yang dia mau dariku?

"Le-lepaskan! Apa-"

"Will you hear me out?" Sasuke geram.

Aku membalas tatapannya sengit. Tapi kali ini aku tidak mampu menutupi ketakutan di wajahku.

"Kenapa kau bisa disini? Masih belum cukup puas mengataiku bukan perempuan?"

"Kau ini, bisa tidak jangan mengambil kesimpulan dulu!"

"Aku nggak mau dikatai begitu olehmu, Sasuke!" bentakku.

"Aku juga tidak mau dihindari begini olehmu, Tenten! Kau mau Kakashi menanggapi hal ini lebih aneh lagi? Belum cukup kita dipasangkan selalu berdua? Jawab!"

Deg!

Mataku yang berwarna coklat melebar karena rasa kaget yang amat sangat. Untuk kali pertama Sasuke membentakku-ya, benar-benar membentakku. Tapi bukan kebencian yang terpampang di wajahnya.

Uap panas menguap dari mulutnya mengiringi tempo naik turun dadanya. Kali ini bisa kurasakan aura keseriusan. "...gomen."

Tik. Air mataku menetes pelan. Bagai sekelumit kebisingan di kesunyian yang berhasil membuatku fokus hanya pada kebisingan itu, tidak kudengar perkataan Sasuke. Kau bisa bilang aku tengah menyibukkan diri mengacuhkan rivalku itu. Namun persistensi ala Uchiha-nya merontokkan usahaku yang susah payah, menambah kegusaran pilu-ku. "...gomen."

Aku menolak uluran dekapannya. "Nggak...Sasuke...kumohon..." rengekku cengeng. Apa yang salah dariku? Mengapa semua jadi begitu rumit?

Dia memaksa. "Tidak, Tenten. Kita harus bicara. Aku sungguh...menyesal."

Ha...! Dia mengambil jeda sebelum kata menyesal! Kau sungguh mudah ditebak, Uchiha. "...kita lupakan saja yang terjadi hari ini...p-pulanglah..."

"Tenten..."

"...besok semua akan jadi seperti sedia kala...aku janji..." imbuhku, kepala merendah.

"Dengar-"

"...aku akan bujuk sensei..."

"-apa yang terjadi-"

"...bilang tidak terjadi apa-apa..."

"-semua ada alasannya-"

"...kita akan dipisahkan kembali..."

Sasuke menegang, ia sangat tercengang hingga tidak melanjutkan perkataannya yang kuinterupsi tanpa henti. "...apa?"

Kuberanikan diri menatap wajahnya. Tak kuindahkan hancurnya tatanan wajahku. "Besok kau tidak harus duduk di sebelahku. Katakan saja pada sensei tentang alergimu...pastinya jangan bilang kalau aku tidak membuatmu kambuh."

Air muka Sasuke berubah. Rahangnya beradu dan bisa kulihat ekspresi stoic andalannya mengeras. Lantas aku mendapat firasat buruk. Apa yang kukatakan salah? Buru-buru kuralat perkataanku, apapun untuk membuatnya beranjak dari pandanganku. Dan kali ini aku bisa mengucapkannya tanpa harus kalut. "Kau boleh mengataiku perempuan jadi-jadian seperti biasa lagi besok. Pulanglah."

BRAK!

"...apa?"

Druk! Aku mendapati diriku terduduk dengan punggung menggesek pintu. Sekujur tubuhku lemas. Apa...suara dentuman kasar di sebelah telingaku barusan?

"Kau ini bicara apa?"

"A...?"

"Jangan seenaknya memutuskan sepihak begitu!"

Deg!

Lagi, Sasuke membentakku. Seumur-umur aku tidak pernah meski memiliki hubungan buruk bersama si kepala pantat ayam mendapatkan perlakuan seperti ini darinya. Aku sampai bingung apa aku harus membencinya atau apa. Lututku terasa lemas, dingin lantai depan pintu apartemen-ku (yang dibanting tutup oleh Sasuke) sampai tidak kusadari sudah merayapi paha. Aku menggigil.

Entah karena menyadari keadaanku atau kebetulan menangkap gemetar tubuhku, Sasuke memejamkan matanya dalam wujud tindakan menenangkan diri. Aku hanya merunduk pasrah. Hari ini adalah hari yang sangat buruk. Kurasa Sasuke hanya berusaha membuat semuanya lebih mudah namun terpancing sikapku...pada dasarnya ini semua salahku...begitu?

"Aku membutuhkanmu."

...

"Eh..." aku terperangah. Agar aku tidak harus menanggung malu akan pendengaran yang buruk-mengingat cacian Sasuke yang menuduhku tuli-aku memasang wajah apa-kau-bilang agar dia sudi mengulang.

Desahan pelan. "Alasan dari semuanya...karena aku membutuhkanmu."

Perlahan panas dari leherku merayap naik menuju pipi. Eh...bukan, Tenten! Pasti bukan membutuhkan dalam artian 'itu'! Kau ge-er banget, sih! Batinku dalam hati. Aku bersyukur oleh kemampuanku akan membuat stoic face menyerupai Sasuke meski tidak seahli dia. Di saat-saat seperti ini kemampuan yang demikian itu sangat kristis diperlukan. Terutama dalam menjaga image.

Sasuke menggeleng kecil seolah sedang melalui debat dengan hatinya. Kemudian ia memandangi sosok kebingunganku di bawahnya sebelum mengulurkan telapak tangannya yang lebih besar dan diluar dugaan sangat hangat. Membingungkan, pikirku. Dia memakiku, bahkan membentakku, sekarang menawarkan kenyamanan padaku. Tapi meski semua itu ia lakukan, ketika sepasang bola mata onyx lekat menatap bola mata kecoklatan milikku, rasa benci yang dulu biasa kurasakan terhadapnya lenyap begitu saja terbawa angin sore musim dingin. Yang lebih mencengangkan lagi, aku tidak mengharapkan sentuhan lembut jemari Sasuke yang menghapus jejak air mataku sesaat sebelum dia bertutur, "Di dekat sini ada taman. Temani aku kesana?"

...well, memangnya aku punya pilihan?

.

.

.

.

.

"S...sasuke..."

"Hn."

"Apa...kau yakin kepalamu tidak terbentur terlalu keras tadi?"

Seulas senyuman tipis. "Apa kau yakin kau tidak seharusnya justru bertanya 'Apa kepalamu kurang keras terbentur, sas? Aku bersedia memberi bonus'?"

Aku menahan rasa geli mendengarnya. Kalau sekarang masih di masa-masa kami berkelahi hebat-memangnya sudah nggak?-pasti tidak akan ada suasana tentram seperti sekarang ini. Mungkin aku mulai terbiasa dengan Sasuke yang baru. Atau jangan-jangan dia memang selalu jenaka seperti ini?

"Err...ya, tentu saja. Bonusnya Karin, Sakura dan Ino. Mau?"

Sasuke bergidik ngeri. "Simpan saja bonusnya, aku tidak butuh."

Dan untuk pertama kalinya kami memandangi satu sama lain tanpa kebencian dalam dua tahun terakhir ini. Kebencian itu tergantikan senyum geli dariku dan senyum tipis Sasuke. Wow! Hubungan kami berubah seketika dari hate-hate menjadi friendly-hate hanya dalam waktu kurang dari sehari! Kami-sama, aku tidak bermimpi, kan?

"Ehm. Sebenarnya, aku mau bertanya tentang..." mulaiku canggung.

"Hn?"

Aku merona. Sasuke tampak tidak merasakan beban. Bagaimana bisa? Dia itu kelewat jenius atau bebal gak ketulungan, sih! "Ano...tanganku...bisa kau lepas?"

Sasuke menatap malas ke arahku. Ekspresi kasual, namun ia belum juga melepaskan tanganku dalam genggamannya. Berarti ada sesuatu, kan? "Ano...dari tadi aku merasakan hawa menusuk dari sekitar..." kuedarkan pandanganku ke sekeliling kami dimana banyak orang berkerumun lalu lalang. Satu hal yang menggangguku adalah tatapan menilai para perempuan di sini. Aku tahu aku tidak pantas terlihat bergandengan di publik dengannya...aku tahu, dammit! "...sebelum nyawaku terancam diburu fans dadakanmu, bisa tolong-"

Chu.

"!"

"Kyaaaaaaah!"

Mukaku meletup-letup panas. Keringat dingi melumasi permukaan tanganku. Tanganku yang dikecup Sasuke. Yeah. "S-sasuke!"

"Hn?"

"Ap-apa yang k-kau lakukan!"

Sasuke memasang wajah tersinggung seakan yang ia lakukan senormal bernafas. "Kau tahu pasti kan saat lelaki mendaratkan bibirnya artinya ia mencium?"

"T-t-t-tapi kenapa tib-tiba-tiba!"

Sasuke menyengir, punggung tanganku masih terperangkap antara silang jemari Sasuke dan bibirnya. "Kau baru pertama, ya?"

"A-apa!"

"Tidak kusangka kau sepolos ini."

"Ap-apaan, sih?"

"Aku sengaja melakukannya."

Aku terdiam. Syukurlah bukan karena yang tidak-tidak. "Coba kau lihat fan girls dadakan di sekitar. Sungguh menyusahkan."

"Oh...jadi kau menggunakanku sebagai obat nyamuk, begitu?"

Dia menoleh, menatapku aneh sambil berpura-pura kami sedang bercakap-cakap mesra. Huek! Memikirkannya saja aku mual! Dia hanya sedang berakting sambil menggoda untuk melihat reaksiku, dasar playboy! "Atau kau mau kita melakukan the real thing?"

Aku memasang muka besi. "Hell no, sasugay."

"Kau memang mickey mouse yang berkepala batu."

"Kau juga tetap kepala pantat ayam yang menyebalkan!"

Lagi, bertatap muka. Kami tidak mencoba menutupi kekesalan kami. Buat apa? Toh aku dan dia sudah bermusuhan selama dua tahun terakhir. Bertengkar tiap beberapa saat bukan hal baru, bukan?

"Dengar, Sasuke. Aku bukannya sepenuhnya membencimu, kalau kita mau berdamai, aku tidak akan menolak niatmu itu mentah-mentah. Tapi jelas harus ada beberapa hal yang perlu ditegaskan disini." ujarku serius.

"Hn. Akupun berpikiran sama." tandasnya dingin. Ukh, tuh kan! Dasar playboy bertopeng dua! Tadi sok manis, sekarang keluar lagi bejatnya.

Aku tersenyum paksa memendam amarah. "Sebaiknya kita tetap menjadi anjing-kucing seperti biasa dalam batasan yang normal agar tidak ada yang curiga. Aku malas berurusan dengan fans club-mu yang beringas itu."

Sasuke memandang lurus tanpa ekspresi. "Kurasa itu yang terbaik."

O...orang ini...
Mengerikan! pekikku dalam hati. Poker face level dewa! Aku harus waspada menyikapi kepribadiannya ini. Mood-nya yang berubah-ubah sangat menjebak, bisa-bisa salah jawab saja aku akan dipermalukan habis-habisan olehnya. Tatapan matanya saja-aku baru pertama melihat keintensitisan seperti sekarang. Sebenarnya seberapa jauh Sasuke berniat menunjukkan sisi lainnya padaku?
"Sudah, sudah! Aku capek kau beginikan! Cepat beritahu apa rencanamu membawaku kesini!"

"Kau memang tidak sabaran." celetuk Sasuke ringan. Tuh, kan. Nada suaranya berubah lagi. Membingungkan. "Pertama-tama duduk disana dulu." di ujung taman yang kami tuju terdapat dua ayunan. Yang benar saja...aku harus menahan diri dari mengusap wajahku sendiri. Dia tidak datang sejauh ini...untuk bilang kalau dia sangatlah kesepian dan butuh aku untuk menemani main ayunan, kan? Iya, kan?

"Terserah! Sekarang katakan apa maumu." tandasku segera setelah kami berdua menempati ayunan. "It better be worth my time."

Sasuke memandangiku kalem. Ya ampun, tidak bisakah dia menunjukkan sedikit ekspresi selain poker face? "Aku datang untuk tiga hal. Pertama..."

Aku mengangkat wajahku antusias. "Yeah?"

"...seperti yang kukatakan, aku membutuhkanmu."

Deg. Ah...lagi-lagi dia mencuri detak jantungku hanya dengan gaya bicaranya. Yah, biarlah. Hanya sedikit tidak akan melukai, kan? Tidak! Bukan karena aku suka, kok! Aku nggak akan mungkin suka dia!

"Aku sudah mengidap alergi ini sejak kira-kira 2 tahun yang lalu. Kau boleh mengambil hipotesa perkiraan waktu sekitar awal kita menunjukkan ketidaksukaan satu sama lain."

Eh? Aku terpana. Berarti, penyakit ini tergolong baru? "Bisa aku tahu apa penyebabnya?"

Sasuke menatapku lagi. "Kau."

...

"Eeh!"

"Tidak mungkin kan, dasar bodoh."

"Ah, kaget aku." kuusap dada lega. "Habis nada bicaramu kelewat serius."

"Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Memori-ku dua tahun silam agak mengabur. Dan itu mencakup sebagian besar kejadian awal mula alergi yang aneh ini."

Aku terdiam. Sasuke bercerita begini padaku...aku tidak mengkhayal, kan?

"Kedua..." mata onyx menahan pandanganku lagi. "...entah mengapa aku tidak pernah merasa alergi jika melakukan kontak dengan sejenis."

Mood-ku semerta berubah. Ah, there he goes. "Ini bagian dimana kau menghancurkan suasana hatiku dengan menuduhku perempuan jadi-jadian, bukan?"

Sasuke mengerutkan dahi. "Kau bicara apa? Kau itu memegang gen dengan kromosom maskulin yang dominan meski sedikit lebih banyak kromosom perempuan dalam DNA-mu."

...

"He?"

"Pheromone yang terpancar dari auramu berbeda dari perempuan pada umumnya. Kau mengerti?"

"Kau bicara berbelit-belit, aku tidak paham!"

Sasuke menekan dua jari di dahinya. "Kau lebih bodoh dari yang kukira."

"Maaf deh, aku bodoh!"

"Intinya," Sasuke berkata cepat. "alergiku tidak akan kambuh didekat laki-laki dan wanita setengah-maksudku, tomboy seperti kau ini."

"Haa? Jadi aku semacam obat dari penyakitmu itu?"

"Bukan penyakit, tapi alergi."

"Tetap saja penyakit! Aneh begitu."

"Beda jauh! Bisa tidak sih kau berhenti memancing pertengkaran?"

"Eh! Kau sendiri berlagak pintar!"

"Aku hanya menyatakan kenyataan!"

"Smart-ass!"

"Mickey mouse!"

"Kau-" aku mengangkat kepalan tinjuku.

Greb!

Sasuke menangkap seranganku dengan mudah. Wajahnya kusut melihat tingkahku. "Mungkin bukan saat yang tepat, tapi...terima kasih."

Ekspresi marah di wajahku berangsur melunak. "Terima...kasih?"

Ia mengangguk. "Ada perempuan yang duduk di sini beberapa jam yang lalu. Karena tinjuanmu ini, alergiku bisa kupukul mundur."

"Apa...?"

"Sisa sentuhan ringan di rantai ayunan ini saja, jika kusentuh..." Sasuke meraih permukaan rantai ayunan yang mulai membeku karena salju. Hasilnya, bintik-bintik merah jambu samar muncul di kulit seputih saljunya.

"Eeeh!"

"...alergiku akan kambuh. Tapi..."

"Eh..."

Masih memegangi tanganku, Sasuke hanya bungkam tanpa melakukan apa-apa. Tak lama kemudian polkadot di kulitnya memudar, seolah sesuatu menyapu bersih semua noda di bawah terang lampu taman di belakang kursi kami. Bola mata coklatku melebar.

"Kau sudah mengerti?"

"Ah..." aku merunduk. Tentu saja. Kalau diperlihatkan seperti itu, siapa yang tidak paham? Aku mengangkat pandanganku takut-takut. Sasuke masih menatapku lekat. Bulu matanya panjang. Hidungnya mancung seperti model. Garis bentuk wajahnya tegas di setiap lekukan yang ada. Wangi shampoo-nya...

Pipiku merona. Apa yang kupikirkan disaat begini? Tapi...wangi shampoo cowok itu ternyata begini, ya...beda dengan shampoo yang kupakai. Hegh! Lagi-lagi perhatianku teralihkan! Pheromone yang mengerikan!

"A...aku mengerti!" aku cepat-cepat menarik tanganku kembali. Aku punya firasat buruk tentang ini semua, tapi tidak tahu apa. "Kau perlu aku untuk menyembuhkanmu disaat alergimu kambuh, kan? Itu saja, kan!"

Si Uchiha di sebelahku terheran-heran melihatku berseru. "Ya...kenapa wajahmu memerah?"

Glek! "Bu-bukan urusanmu!"

"Seperti cewek saja."

A...ah...! Aku mematung mendengar perkataan pedas Sasuke. Aku segera merengut manja sebelum membuang muka ke arah berlawanan, rantai ayunan di tangan. Menggembungkan pipi kesal aku menggerutu. "Sudah! Sudah! Aku nggak mau tahu lagi! Biar saja kalau penyakitmu itu kumat lagi!"

Sasuke ingin mengoreksi 'penyakit' dengan 'alergi' tapi melihat keadaanku sepertinya berapa kalipun ia koreksi sia-sia saja. Ia menghela nafas pelan. "...dasar cewek."

Aku menoleh cepat. "Apa-!"

Eh? Seketika protes verbal yang kusiapkan di dalam hati melayang entah kemana. Tadi...

Seakan membaca pikiranku, sengiran tipis mendahuluiku bereaksi diatas wajah tampan Uchiha Sasuke. Bola mata onyx tak ketinggalan meredup separuh memberi kesan cool.

"Hal ketiga yang ingin kusampaikan adalah..."

Tanpa kusadari nafas ini kutahan. Apa? Apa yang ingin ia sampaikan?

Clik. Mata onyx melirikku.

"..gomen."

Ah...

"Gomen nasai...Tenten."

Deg.

Aku tersenyum getir. "Apa..."

"Aku selalu menyebutmu bukan perempuan, tapi nyatanya dimataku aku terus menganggapmu perempuan..." sengiran licik. Tapi, aku tidak bisa menyangkal kombinasi ketulusan terdapat di dalamnya. "...kau perempuan yang berisik."

Wajahku merona. Kesal, kugigit bibirku pelan. Sial...kenapa disaat begini aku berpikiran kalau dia itu keren, sih?

"Ka...kau mengatakan itu hanya untuk membuatku berpikir kau bukan brengsek seperti selama ini, kan! Kau sebegitu membutuhkan aku?"

"Tidak. Tapi itu terserah padamu percaya atau tidak." tandasnya dengan sikap yang begitu kalem membuatku ingin mencubit pipi untuk tahu apakah ini mimpi atau bukan. Ukh...serius sekali dia. "Entahlah, Sasuke." gumamku seraya mengalihkan pandangan. "Aku tidak yakin mengenai ide kucing dan anjing konoha gencatan senjata. Terlalu banyak kecurigaan akan muncul."

Sasuke berpikir dalam diam. Sudah pasti apa yang kukatakan ada benarnya. "Kita masih bisa saling mencemooh satu sama lain dan melakukan kontak kulit seperti biasa. Yang harusnya kau pikirkan adalah bagaimana caranya menutup mulut."

...What?

Aku menoleh, mendelik. "Excuse me?"

"Lidah wanita akan mulai gatal untuk bercerita tentang rahasia setelah 47 jam. Survei sudah membuktikan. Kau bukan pengecualian."

Aku melongo. Mentang-mentang dia sudah mengakuiku perempuan lantas dia melabeliku perempuan macam Sakura dan Ino? Seenaknya saja! "Maaf, ya, aku bukan seperti para fan girls-mu itu! Dan aku tidak tertarik membeberkan aib-mu ini pada siapapun! Aku malah senang aku memegang kelemahanmu!"

Alis Sasuke berkerut sebelah. "Siapa saja?"

"Siapa saja!"

"Lantas mengapa kau berniat memberitahu Naruto?"

Lidahku mendadak kelu. Ingatan beberapa jam lalu di sekolah kembali. "I...I...itu...!"

"Hn."

"Aku melakukannya agar kau memberiku informasi yang kuinginkan! Aku tidak berniat memberitahu Naruto, kok...!"

Sasuke membuang muka sambil menghela nafas pelan. Persimpangan jalan muncul di dahiku. "Eh! Sikap macam apa itu!"

"Aku masih belum percaya padamu."

"Aku bisa tutup mulut, kok!"

"Hn."

"Kalau nggak percaya, awasi aja aku! Beres, kan!"

...

"Hoo...begitu ya?" ucapnya ditemani sengiran licik.

Glek! Aku mendapat firasat buruk...

Tanpa peringatan jari telunjuk Sasuke mengangkat daguku secara sensual. Terdisorientasi karena pergantian arah percakapan yang mendadak, aku hanya bisa terbelalak. Salju mulai berguguran lebih deras dan penerangan dari lampu taman pelan-pelan meredup tergantikan temaram malam musim dingin ketika Sasuke berkata-kata.

"Kalau begitu...mulai besok kau berada dibawah pengamatanku. Dan seterusnya..."

"T-t-t-tunggu dulu..." aku tergagap. Entah mengapa sulit bagiku memproses apa maksud 'mengamati' yang dikatakan Sasuke.

Ia menggeleng. "Tidak ada 'tunggu'. Aku tidak mengambil resiko kau memberitahu siapapun saat mataku tidak padamu."

"A-aku-aku-bagaimana dengan privasi-ku!"

"Aku tidak peduli. Kau harus diawasi setiap detik kalau perlu, tapi aku juga punya kehidupan yang harus kuurus."

"I-i-i-itu berlebihan!"

"Kau sendiri yang bilang agar aku mengawasimu."

Ugh! Aku tidak bisa menyangkalnya dan menghapus sengiran jarang miliknya itu.

"Jangan menyesal karena sekarang sudah terlambat untuk itu."