Hallo, readers! :D

Lama tak jumpa! Setelah pengumuman tentang hiatus autor di chapter lalu, mungkin agak aneh melihat update ini -_-a bela-belain update pas 14 februari loh :o Happy Valentine's Day all ;*

Yah, hiatus itu dimaksudkan untuk 'mostly' fic author yg cruel temptation D:

Bukan berarti bound together tidak kena hiatus -_- pasti kena hanya belum…

Cukup bacotnya, let's get on with the story! And sorry this one is kinda shorter…

*thanks to kazuki's girl , Kazuki NightNatsu , Lady Spain non login, Kaze Ka-Zumi ,dan Maydgooner for the ah-may-zing reviews ;_; apalah arti seorang author tanpa readers-nya…

.

.

.

.

.

"Jangan menyesal karena sekarang sudah terlambat."

Aku menatap Sasuke tidak percaya. Berharap dia tidak benar-benar mengucapkan apa yang kupikir ia katakan. "Apa..."

"Jangan seenaknya!" protesku sambil berdiri.

"Memangnya kau punya pilihan?"

"Hei!" seruku melihat Sasuke berdiri hendak beranjak pergi. "Ini bukan aku tidak punya pilihan! Ini kau yang tidak punya pilihan!"

"Hn." gumamnya dibalik syal putih yang entah mengapa tidak kusadari membalut leher si kepala pantat ayam. Mataku sontak turun memperhatikan jaket trench coat hitam melekat di tubuhnya. Rasa-rasanya aku familiar dengan desain itu...apa Burberry?

"Mungkin itu benar. Tapi kalau aku terus berada di sampingmu mengawasi maka kau tidak punya pilihan."

Aku mengangkat pandanganku. "Eh-tapi! Itu bukan alasan..." aku meremas bahuku pelan ketika angin berhembus menerpa. Tanpa dikomando tubuhku menggigil, suhu udara sudah jatuh beberapa derajat.

Sasuke memutus kontak mata kami. Sesuatu menarik perhatiannya. "Hn."

"Pokoknya-HACHOOO!"

...

Sroot! Aku mengusap hidungku. Aah...nggak keren banget, sih! Marah-marah malah bersin.

Sasuke memandangku remeh. "Kau pakai jaket trench coat yang tipis sekali."

"Bu-bukan urusanmu!"

"Hn." Sasuke berjalan ke arahku.

"Apa yang-Ha-CHOO!"

"Seharusnya kita diskusi di apartemenmu saja."

"Ehm...?" aku mengusap hidung menggunakan lengan. Sensasi menusuk memenetrasi kulit hidungku yang sudah nyaris membeku. Trench coat-ku dingin sekali!

Sasuke memiringkan kepalanya. "Hn. Kau kedinginan."

"Ng-nggak, kok! Biasa aja!"

Ia mengerutkan sebelah alisnya seakan berkata 'kau yakin?'

"Aku baik-ba-CHOO!"

Sasuke memutar bola mata onyx. "Tentu."

"Haaah..." aku menghela nafas dengan hidung yang memerah. "Aku nggak butuh belas kasihanmu!" sikerasku.

"Hn. Aku memang nggak berniat memberimu belas kasihan-ku." balasnya dingin. Sepasang bulu mata lentiknya jatuh menyentuh pipi putih ivory. "Tapi aku berniat memberimu ini."

"Eh..." aku mendadak kehilangan kata-kata begitu Sasuke melingkarkan syal putih kepunyaannya di leherku. Dia cukup terampil memakaikannya padaku tanpa harus mengira-ngira berapa putaran syal harus ia buat. Bahkan sisa syal masih cukup panjang menjuntai, memberi kesan stylish. Tak usah ditebak aku langsung tahu Sasuke sudah terbiasa melakukan ini berkali-kali.

Deg.

Aku merundukkan pandangan. Radiasi kehangatan tubuh Sasuke masih menempel di tiap rajutan syal. Begitu juga wangi parfumnya. Aroma yang menenangkan.

"Lumayan hangat, bukan."

"Ng..." aku memejamkan mata, jemari meremas lembut permukaan syal. "...lumayan."

Sasuke mengernyitkan dahi ketika tangan kami bergesekan ringan. "Tanganmu..."

"Eh?"

Grep!

"Uah!" aku memekik kaget.

Sasuke merilekskan ekspresinya. Tangan kecilku ia remas pelan, seperti mencari-cari sesuatu. "S-sasuke?" aku nge-sweatdropped. "Dingin." katanya singkat.

"Ah..." bohlam lampu menyala di atas kepalaku. "Wajar, kan...aku tidak memakai sarung tangan." aku mengalihkan pandangan kasual seolah sedang tidak mengalami kesulitan dalam mengusir debaran tidak karuan di dada. Gerik Sasuke memangnya selalu se-tidak terbaca seperti ini, ya? "Tapi kalau tangan cowok itu beda, ya. Kayaknya hangat terus."

"Hn." Sasuke masih menaruh perhatian ke tangan kecil di genggamannya dan seakan tidak mau lepas. "'Kayaknya'...?" Sasuke akhirnya mengangkat pandangan, kedua alisnya berkerut tipis. "Kenapa aku mendapat kesan kau sering bergandeng tangan dengan cowok?"

Bayangan wajah Naruto langsung muncul di benakku. "Naruto-nii-chan kan hampir setiap hari menggandeng tanganku. Tentu aku tahu."

Sasuke terdiam begitu nama Naruto kusebut. Mungkin perasaanku saja namun bisa kurasakan aura Sasuke menjadi lebih dingin. Kebencian yang cukup banyak, eh?

"Kita harus melakukan sesuatu tentang tanganmu ini."

Aku mendongak, membuang jauh-jauh spekulasi mengenai mengapa Sasuke tidak menanggapi pernyataanku dan justru mengalihkan topik pembicaraan. "He?"

Ia menurunkan tangannya yang berisi tangan kiriku, menatapku lekat, kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas di benakku oleh seorang Uchiha Sasuke akan lakukan; menyusupkan jemarinya bersilang diantara jemariku. Aku terpekik lagi namun buru-buru kutahan karena Sasuke mencuri nafasku saat dia menoleh. "Masukkan tanganmu satunya di saku trench coat."

Deg.

Aku langsung melakukannya tanpa suara. Sasuke memang tidak mengatakan apa-apa, tapi melihat arah kami berjalan ia tampak berniat mengantarkanku pulang. Ah...daripada dipusingkan tingkahnya aku lantas menanyakan yang ingin kuketahui darinya.

"Sasuke..."

"Hn." responnya singkat tanpa menoleh.

"Kalau sedikit sentuhan saja bisa membuat alergimu kambuh...lalu bagaimana dengan semua coklat yang kau terima?"

"Kubuang."

...

"Eeeh!"

"Sudah pasti, bukan."

Aku menatapnya tidak percaya. Sasuke sebegitu tidak punya emosi-kah? "Tapi...para fans-mu sudah susah payah membuatkannya! Itu sih kelewat kejam!"

"Kau tahu dari mana kalau mereka membuatnya sendiri?"

Aku terdiam dan berpikir ulang. "Y-yah...kalaupun mereka membelinya, setidaknya hargai pemberian mereka!"

Salju masih mendera, gesekan angin dengan guguran salju terdengar jelas diantara ranting dahan pepohonan. Sasuke tidak menjawab dan tetap memandang lurus ke jalanan yang terbentang di hadapan kami berdua. Oke...mungkin aku salah sudah berpikiran kami berdua bisa akrab-

"Kau sendiri?"

"Eh?"

"Coklat yang kau beri ke Naruto." ucapnya pelan. "Buatanmu?"

Aku menggaruk pipiku tersipu. "Bisa dibilang begitu. Meskipun aku nggak begitu yakin tentang rasanya, sih." baru saja aku hendak mengucapkan sesuatu namun tiba-tiba aku menyadari suatu hal. "Eh! Kau kan tidak ada disana sewaktu aku menyerahkannya! Kau tahu dari mana?"

Seolah mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui ia melirikku sekilas, lalu membuang pandangannya.

Aku mengerutkan alis. Apaan, sih? Dasar susah dipahami.

.

.

.

.

.

Saat pintu apartemenku sudah berada di hadapanku, aku buru-buru membukanya dengan kunci milikku. Hawa dingin menusuk malam musim dingin langsung menghujam tubuhku. Aku menggigil. Ah, tanpa sadar aku menghempaskan kehangatan Sasuke begitu saja. Pantas rasanya mengagetkan. Aku menoleh padanya. Ia masih setia menunggu di depan pintu. Ketika mata kami bertemu aku segera mengalihkan pandangan canggung. "Emm..."

Sasuke tidak mengucapkan apa-apa. Seakan menantiku melanjutkan perkataanku, ia memasukkan tangannya ke kantong trench coat miliknya, merundukkan kepalanya sedikit; mencari postur tubuh yang nyaman.

"Em..." gumamku lagi. "Kau...mau masuk?" aku meringis segera setelah kata-kata meluncur dari bibirku. Seperti apa kedengarannya bagi Sasuke? Yang jelas bagiku diriku terdengar sangat corny. Bodoh. Mana ada perempuan mengundang masuk laki-laki ke dalam apartemen tempatnya tinggal seorang diri? Dan...sudah jam berapa sekarang? Sekelumit ekspresi terkejut melintas di wajah Sasuke. Mata onyx-nya melebar sedikit, kelopak matanya berkedip cepat sesekali. "Maksudku..."

Sasuke tersenyum tipis melihat tingkahku. "Tidak, terima kasih. I'm fine." ujarnya dengan lancar, ia malah tampak menikmati mengucapkannya.

Aku merutuk dalam hati. Bagaimana bisa dia setenang itu, sih. "Kau yakin?" tanyaku, menambah kadar ketololan image-ku di mata Uchiha Sasuke.

"Hn." Ia mengangguk pelan.

"Kalau begitu..." aku terhenti. Apa? Kalau dia bersikeras mau pergi, itu justru membuatku lega. Tapi masa aku langsung masuk rumah begitu saja? Ayo katakan sesuatu, Tenten! "Anu..."

"Hn."

"...aku masih tidak setuju tentang kau mengawasiku."

...

Aduh! Kok malah itu yang keluar! Tapi benar juga, sih. Aku memang nggak pernah menyetujui ultimatum sepihak darinya. "Hn."

Aku terkejut sedikit. Yang barusan bukan 'hn' biasa. Terdengar seperti itu tapi kalau diperhatikan lebih teliti lagi, tadi itu persis dengus tawa datar.

Benar saja, sengiran congkak miliknya memamerkan diri. "Kau bicara seolah kau punya pilihan."

Aku terpana sesaat menyadari betapa nyarisnya aku menarik keluar emosi si poker face, Uchiha Sasuke. Namun ketika aku berkedip, seketika semuanya terlempar jauh dari benakku. Self-defense mechanism: on. "Eh! Kenapa lagi kau memutarbalikkan fakta? Yang tidak punya pilihan itu kamu!"

"Do we need to talk this over again?"

"Kau!" geramku. "Anggap saja percakapan ini tidak ada! Aku muak dengan permainan katamu!"

"Kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang pandai mencemoohku. Interesting."

"Argh! Aku tidak mau tahu lagi! Kau menyebalkan!"

"Tapi aku tidak pernah berpikir kalau kau itu menyebalkan."

Deg!

"E...eh?"

Sasuke memandang penuh perhatian ke dalam bola mata coklatku. "Daripada menyebalkan, kau itu menghibur."

Deg.

"A...apaan, tuh!" sengitku, muka merah padam tanpa alasan yang jelas. "Kau menutupi sarkasmemu lagi dengan kata-kata bak madu."

"Itu kan anggapanmu."

"Ha?"

"Aku mengatakan yang sebenarnya."

Aku melongo. Seriously?

"Hn." Ia mengalihkan pandangannya dariku. "Aku tidak keberatan sih...masuk ke sana." Lalu ia melirikku lagi. "Kau tahu..." sengiran nakal.

Otak ngeresku langsung bekerja cepat. "Me-mesum!"

"Hn." dengusan itu lagi. "Kau yang menawarkan padaku."

"Ta-tapi bukan itu maksudku!"

"Oh? Begitukah?"

"Sejak kapan topik pembicaraan kita berubah dari kau mengawasiku menjadi kau masuk ke...ke-'dalam'?"

Sasuke menatapku dengan aura keusilan yang seksi-maksudku, yang sangat kentara. "Sejak wajahmu merona tanpa henti...Tenten."

Deg!

Brak! Pintu kubanting keras bersama debaran jantungku yang menjadi tidak menentu. Dingin permukaan pintu di punggungku tak kuindahkan. Yang jelas aku sangat...sangat...!
"Pulang sana! A-aku muak melihatmu!" teriakku dari sisi lain pintu. Huah! Dia pasti sedang menertawaiku dibalik pintu! Hari yang benar-benar kacau!

"Hn. Jangan lupa untuk mengunci pintu."

Eh...

Derap langkah kaki Sasuke terdengar menjauh. Aku melangkah menjauhi pintu, jemari menyentuh permukaannya ragu. "Sasuke...?"

...

...bodoh. Aku mengantukkan dahiku ke pintu. Dadaku berkecamuk. Bukan, bukan begini seharusnya...bukan itu yang seharusanya kusampaikan padanya. Kenapa gengsiku sebegini besar kalau menyangkut Sasuke, sih? Apa dosanya padaku-tunggu, coret itu. Dosanya banyak. Ngomong-ngomong kenapa aku jadi bicara pada diriku sendiri begini? Ah, aku tidak tahu lagi!
"...baka." aku meringis kesal. Ah, sudahlah...Sasuke juga sudah pergi. Apa kukatakan saja?

Fuuuh...

Menempelkan dua tanganku ke pintu, aku mencoba menahan rasa malu yang mendera. "...ari...gato..."

Setelah beberapa saat tak ada tanggapan, aku menarik nafas lega. Sepertinya dia benar-benar sudah pulang. Agak kecewa sih...aku sudah mengumpulkan sebegini banyak keberanian untuk mengucapkannya tapi tidak tersampaikan. Aku memejamkan mata. Kalau begitu, kali ini aku pasti bisa mengucapkannya dengan baik.

"Arigato gozaimasu, Sasuke."

Kehangatan menyebar di seluruh tubuhku. Kehangatan yang familiar, mirip dengan hangat tubuh Uchiha Sasuke. Pandanganku jatuh ke syal putih di leherku. Rasanya lembut tersentuh jari. Wol? Atau cashmere?

.

Tanpa kusadari sesosok laki-laki berambut pantat ayam sedang berdiri bersandar di sisi lain pintu, bersabar menanti sesuatu.

"Arigato gozaimasu, Sasuke."

Perlahan garis lurus yang tercetak di bibirnya terdeformasi. Salah satu ujungnya membengkok lembut, membentuk senyum. Sayup terdengar di antara derasnya guguran salju yang menelan sosoknya dalam kegelapan, tanggapan yang singkat, jelas dan padat mengiringi langkah sunyi kakinya yang membawanya pergi; "Hn."

.

.

.

.

"Aaah...nikmatnya..." desahku begitu air hangat bathtub menelan tubuhku yang setengah beku-oke, itu bohong. Tanpa merasa perlu mengikat rambut kubiarkan rambut coklatku terurai bebas, sebagian darinya tercelup air. Samar terpintas di benakku mengenai masakan yang kutinggal di dapur. Aku harus segera mengeringkan diri kalau masih ingin merasakan makan malam.

Menenggelamkan diri hingga cuping hidungku menyentuh garis air, otakku mengulang-ulang kejadian hari ini. Banyak yang terjadi membuatku pusing dibuatnya. Rasa-rasanya seperti emosiku diperas paksa keluar. Mulai dari Kakashi-sensei bermain matchmaker dengan aku dan Sasuke sebagai subjeknya, Sasuke yang punya penyakit aneh, Naruto-nii-chan yang bersikap sok dewasa, lalu Sasuke yang bersikap lembut tanpa alasan yang jelas...

"Hhh...dasar, laki-laki memang seenaknya saja." gerutuku seraya bangkit untuk mengeringkan tubuh.

'Sejak wajahmu merona tanpa henti...Tenten.'

Dheg!

Zruuut!

"Whoa!"

Splash! Air menyambutku kembali dengan semangat. Kakiku terpeleset dan membuatku harus menerima kalau malam ini rambutku harus ikut dibilas. Damn! Semua ini hanya karena wajah Sasuke tiba-tiba melintasi benakku.

"Terkutuklah kau Uchiha Sasukeeeee..."

.

.

.

.

.

Selesai berkutat di dapur dan mengenakan piyama, aku bergegas merebahkan tubuh diatas kasur. Kasur yang tidak begitu besar di dalam kamar yang tidak begitu luas, namun nyaman bagiku dan itu sudah cukup. Aku menghela nafas. Hari yang melelahkan. Aku harus menenangkan diri...batinku yang membalikkan tubuh ke samping. Harum tubuh Sasuke menyeruak di hidungku, membuatku meringis. Aku sampai berdelusi dibuatnya! Sasuke kan tidak ada disini, bagaimana ceritanya-

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Mata brownies-ku terpaku menangkap siluet panjang berwarna putih susu tepat di mukaku.

Hmmm...harum tubuh Sasuke...

"Ah! Oh iya! Syalnya!" kataku tersadar, bangkit tiba-tiba. Apa yang kupikirkan, sih! Sampai lupa mengembalikan syal miliknya-huah, aku benar-benar bodoh! Hati-hati aku menyisiri permukaan lembut syal cashmere-ataukah wol?-Sasuke. Memang lembut...ukh. "Ke...kelihatannya mahal..." gumamku ke diri sendiri. Aku memukul keningku. Baka! Bagaimana kalau Sasuke memanfaatkan ini untuk memerasku? Bisa saja kan, dia menganggap barang yang sudah kugunakan membuatnya jadi tidak berharga lagi dan dia memintaku mengganti yang baru-tentu aku tidak mampu membayarnya berapapun itu-dan, dan memaksaku bekerja untuknya atau lebih parah, jadi budaknya? Aaaah!

...

Oke, yang barusan itu agak berlebihan. Aku tahu Sasuke nggak akan berbuat sejauh itu...ya kan?

Aku merebahkan tubuhku yang mulai terasa berat kembali. Besok saja kukembalikan. Yah, mulai besok aku harus berakting seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sweatdrop. Memang aku bisa begitu? Kalau dia tidak memancing pertengkaran lebih dulu, suasana anjing-kucing kami tidak akan tercipta. Yaa...pada kenyataannya Sasuke is the asshole, kan. Berpura-pura kesal padanya sepanjang waktu padahal dia sudah bersikap manis padaku itu...sulit. Meski kalau dibandingkan dengan apa yang sudah dilalui Naruto-nii-chan demi aku Sasuke tidak ada apa-apanya, tapi tetap saja dia sudah menunjukkan sifat lainnya yang aku cukup kagumi. Prinsipku, sejahat apapun orang, sekali dia menampakkan sisi kemanusiawiannya, aku tidak akan tega mengusik. Tapi...

"Kita masih bisa saling mencemooh satu sama lain dan melakukan kontak kulit seperti biasa. Yang harusnya kau pikirkan adalah bagaimana caranya menutup mulut."

Tapi...

"Lidah wanita akan mulai gatal untuk bercerita tentang rahasia setelah 47 jam. Survei sudah membuktikan. Kau bukan pengecualian."

Tapi...

"Aku masih belum percaya padamu."

Grrr...

"Masa bodoh dengan itu! Aku ini yang memegang rahasianya! Titik kelemahannya! Punya hak apa dia mengataiku begitu? Dan, mengawasiku setiap waktu? Memikirkannya saja sudah absurd!" celotehku ke langit-langit. Terlambat, aku sudah terpanasi oleh perkataan seenaknya Sasuke si kepala pantat ayam aka sasugay yang terputar ulang di otak. Sebuah resolusi sudah tercipta untukku, dan sambil mengucapkannya kuyakini dalam hati kali ini tidak akan aku luluh karena ucapan manis Sasuke.

"Aku yang kali ini akan menaklukkannya! Lihat saja, Uchiha! Memang sejak kapan kau memegang kendali akan hidupku? Hah!"

Tentu saja, aku tidak memperhitungkan de ja vu yang melibatkan penampakan Sasuke di dalamnya melintasi benakku yang labil. Tersenyum.

'Sejak wajahmu merona tanpa henti...Tenten.'

Dheg!

Sehabis itu, aku teriak.

.

.

.

.

.

Sasuke merutuk di antara nafasnya sedikit kepayahan sembari berusaha melangkahi timbunan salju lunak yang memakan suhu tubuhnya perlahan tapi pasti. Salju masih terus turun mengakibatkan menumpuknya massa benda berwarna putih dingin itu dimana-mana. Sial, kenapa orang sepertinya harus melalui hari bersuhu dingin seperti ini? Kalau saja Kakashi tidak memintanya untuk meminta maaf ke Tenten, mungkin sekarang ia sudah berada di komplek rumah Uchiha di kamarnya yang hangat dan penuh fasilitas kelas atas-dan kenapa pula ia memutuskan untuk menyusul gadis panda itu dengan jalan kaki? Sekarang ia musti menanggung konsekuensinya seorang diri. Handphone-nya tertinggal di kelas dan syal hangatnya sudah ia berikan pada Tenten. What a bad day.

Sigh...Sasuke mendengus pelan. Rasa kesalnya setidaknya terbayar oleh wajah Tenten yang merona tak jemu-jemu. Seringai tipis muncul di bibirnya mengingat ekspresi priceless si brunette. Seriusan, gadis itu berurusan dengan laki-laki yang salah; semua hal yang dilakukan Sasuke hanyalah akting belaka, tak lebih dari sekedar permainan. Ternyata dia justru lebih gampang digoda dibanding gadis-gadis lain aka fans-nya. Apa dia pikir Sasuke melakukannya karena benar-benar ingin berbaikan? Heh. Kalau benar demikian, berarti rencananya berjalan mulus.

Baginya Tenten hanyalah obat dari alergi yang dideritanya. Tidak kurang, tidak lebih. Sengiran di bibir Sasuke memudar. Dari sekian banyak gadis...kenapa harus dia? Kenapa harus Tenten?

Langkah kaki Sasuke terhenti. Hawa panas berhembus dari bibirnya, menguap ke udara bebas malam musim dingin.

"...apa maumu?"

Sepasang mata cerulean berkilau dalam kegelapan. Kemilau yang tampak membuatnya seolah bersinar dari dalam. Luas biru lautan miliknya terbatasi lekukan tajam alisnya, sementara bibirnya membentuk garis lurus yang dilihat saja ketahuan kalau geraham Naruto menegang. Sosoknya berdiri di tengah bentangan karpet putih salju bermeter-meter di depan Sasuke. Sikap tubuh yang menantang.

"…aku tidak tahu menahu soal menggenggam tangan itu. Sepertinya seseorang lupa memberitahuku."

Hmpf. Sasuke mendengus. Karbondioksida dari mulutnya teroksidasi di udara. Ia ragu Naruto bakal menyadarinya sih. "Gomen. Tanpa sadar aku sudah menyulut kecemburuan Naruto-nii-chan."

"Itu sama sekali tidak lucu."

Sasuke membuang jauh rasa terhiburnya. "…I wasn't joking, neither."

"Kita sudah sepakat, Sasuke." Naruto mengeratkan kepalan tinjunya.

"Hn." Sasuke mengangguk. "What's so special about her anyway…?"

"Are you one to talk?" tandas Naruto. "It's you who needs her. Not otherwise."

Bakal sengiran di wajah Sasuke memudar. "Oh, dan dia spesial, sangat spesial." Imbuh Naruto dengan penekanan yang memojokkan Sasuke. "Dia satu-satunya penawar penyakitmu itu dalam radius antar planet. Bukan begitu, Uchiha?" Naruto menyipitkan matanya. "Hormati dia sedikit. Jangan buat dia bingung dengan permainanmu. Kau ingat kesepakatan kita?"

"Hn."

"Aku hanya berbagi sebentar denganmu karena aku kasihan. Camkan itu."

Kret…rahang Sasuke mengerat. Ia salah mengambil langkah.

"Hanya sampai kau menemukan obat yang membuatmu sembuh. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai mencampuri perasaannya."

Sekarang kedudukan berubah. Sasuke terjerat di belenggu buatan Naruto.

"Tenten is mine."