Konnichiwa, minna-san! :D #plakplok
Muahahahaha! Akhirnya update juga fic ane (meski bukan fic yang fokus utama)
Eniwei makasih buat yang udah nungguin terus apalagi ampe kebawa mimpi _ maaf!
Sebagai permintaan maaf author akan update 2 chapter sekaligus! ;D
Hehe, makasih buat para reviewer: Na Fourthok'og, Maydgooner, SevenRadcliffe, Mae-chan, Patsha dan Widia for the amazing reviews! Thanks guys~~~ Love you all!
Dear Diary...(yang nggak pernah kumiliki, by the way, karena terlalu merepotkan)
Ini pasti mimpi buruk ter-klise yang pernah kualami...(karena terlalu sering terjadi di layar tv)
Ini...
"Hn."
...yang benar saja.
BRAK!
Aku membanting pintu, terengah. Wajahku pucat pasi. Mulutku yang sedikit menganga membuat busa odol yang masih baru menetes jatuh bersama saliva ke permukaan handuk yang kulingkarkan di leher. Yap, aku masih di tengah rutinitas pagiku.
"Ahaha..." aku terkikik garing. Air mukaku masih belum berubah. "...haha..." pelan kuremas surai kecoklatan di dahi. Mataku terpejam. Yang tadi itu cuma halusinasi, kan? Ya, kan?
...nggak mungkin Sasuke datang menghantuiku sepagi ini, kan?
Cklek! Pintu kubuka sedikit.
"...hoi." sapanya kalem.
BRAK!
"UGYAAA!" teriakku. Ekspresiku makin menjadi-jadi. Bukan mimpi! Ngapain Sasuke mengetuk pintu apartemenku sepagi ini! "Ka-kau! Apa maumu pagi-pagi begini?! Menyerang musuh disaat ia sedang mandi?!"
Suara Sasuke terdengar samar tersumpal dinding. "Yang harusnya bertanya itu aku. Membanting pintu di hadapan tamu? Tata kramamu buruk sekali."
Brats! Aku segera membuka pintu lebar-lebar kembali. Komposurku sudah tenang. "Kau pikir tamu waras mana yang mampir sepagi ini! Ini masih jam 6, bodoh!" tandasku menunjuk-nunjuk jam dinding yang dapat dilihat dari pintu masuk.
Sasuke mendengus. "Benarkah?" Ia melangkah masuk paksa, mendorongku serta dengan massa tubuhnya. Aku menggeram. "Hei!"
Sasuke memicingkan mata onyx. Jam terang-terang menunjukkan pukul 06.02. Ia membandingkan dengan jam tangan Rolex miliknya yang kuperhatikan berbeda model dengan jam di hari sebelumnya. Ia membalikkan tubuhnya, melipat kedua tangan diatas dada angkuh. "Jam dinding itu mati."
Aku berkedip. "Nani?"
"Tenten, jam dinding murahan itu kehabisan baterai." tekannya menggunakan emphasis di kata 'murahan'.
"Hei!" aku menyentak. "Nggak perlu menyatakan murahan nggaknya, kan! Setidaknya masih bisa berfungsi!"
Sasuke mencaplok dahinya. "Bagian mana dari 'kehabisan baterai' yang tidak kau mengerti?"
"Memangnya separah apa sih jam dinding rusak bisa menempatkanku dalam masalah?! Paling-paling cuma selisih lima menit dari waktu aslinya!"
Persimpangan jalan muncul di dahi Sasuke. "Tenten, kau tahu sekarang jam berapa?"
"Nggak! Duh, keluar deh sana! Aku masih mau sikat gigi, terus sarapan-"
Greb! Sasuke mengungkung kepala berlumur coklat eboniku di cengkramannya. Wajahnya seolah mengatakan 'Aku harus bersabar menghadapi gadis serampangan ini sampai obat alergiku ditemukan? Persetan dengan kesabaran.'
"Ini sudah jam 07.20, Mickey Mouse. Sekarang bersihkan sisa odol di wajahmu sebelum aku merobek paksa piyamamu dan memakaikanmu seragam."
"Eeeeh?!"
.
.
.
.
.
Drap! Drap!
"Hah! Hah! Li-lima menit lagi!" kataku ngos-ngosan. Pemandangan akan gerbang sekolah mulai terlihat. Berlari-lari sejak tiba di stasiun menuju sekolah memang melelahkan, tapi aku tidak punya pilihan.
"Hh-kau-memangnya selalu-hah! Telat begini-hah?!" sergah Sasuke di belakangku.
"Heh!" aku terkekeh melihat dia kewalahan. "Ini juga bisa dianggap sebagai olahraga! Nggak kayak kamu, kesana kemari diantar mobil ferrari! Anak manja!"
"Apa katamu?!"
Lampu bohlam menyala diatas kepalaku. "Ngomong-ngomong...-hosh-...ngapain kamu nampang didepan pintu apartemen-ku?! Kamu serius-hosh-soal mengawasiku itu?!"
"Hosh...tentu saja, aku menjemputmu!"
"Kamu sinting, Sasugay!"
"Diam, Mickey Mouse!"
"Oh!" aku sontak berhenti. Di depan gerbang yang sudah tertutup beberapa siswa dan siswi berbaris, dan guru terbawel seantero Konoha menciprati (baca: memarahi) mereka dengan muncratan air ludahnya; Danzo. Sasuke ikut berhenti. Baginya ini kali pertama menaruh pandangan ke sudut sisi lain dari kehidupan bersekolah untuk murid teladan macam dia. Oh ya, sudah pasti. Mengingat Ferrari dan Mercedes silih berganti mengantar jemput pangeran kecil satu ini, terlambat itu hampir tidak mungkin.
Tanpa pikir panjang lagi aku bertolak ke sisi kanan gerbang sekolah, berharap tak ada yang menangkapku. Dan kemungkinan tertangkap sedikit sekali terima kasih kepada Danzo, otoriter paling dibenci di sekolah. Sekali ia berbicara tak akan ada murid berani mengangkat muka. Guru-guru menyerahkan pemberian hukuman kepada si tua bangka itu, tanpa tahu hukuman berat apa yang harus diemban para murid. Takluk sama Danzo? Aku sih ogah!
Kalau perkiraanku benar, penegak disiplin dari kelas 3 yang biasa berpatroli di sekitar pekarangan sekolah guna menggiring murid-murid bandel yang melompati pagar pasti sudah dikerahkan. Dahiku mengerut. Danzo sudah kumat sepagi ini, pasti penjagaan diperketat. Aku harus lebih hati-ha-
"Jangan bilang kau mau kita melompat pagar."
...
Aku menoleh. "Kita? Dan apa yang kau pikirkan sedang kau lakukan...menguntit aku?" aku melempar pandangan risih. Sejak kapan dia menjadi bayanganku?
"Aku mengawasimu." balasnya dengan nada tegas yang tidak meninggalkan ruang untuk protes. "Sekarang apa rencanamu."
Aku melengos geli. "Rencanaku? Rencana apa? Apa kau sadar saat menyatakan pertanyaan retorikalmu barusan, heh?"
Sasuke menatapku berbahaya. "Itu bukan retorikal."
"Oh ya? Menurutku iya." aku melipat tangan di dada. "Karena orang bodoh pun tahu kalau melihat 'antrian' di depan gerbang sekolah seperti tadi, hanya ada satu jalan masuk tanpa tertangkap Danzo."
Ia berkacak pinggang, dagu ia angkat tinggi-tinggi agar aku sadar kalau ia lebih tinggi. "Kalau demikian, berarti aku bukan si bodoh yang kau maksud itu." tatapannya sinis dan lebih dingin dua kali lipat.
Aku mendecak jengkel. "Smart-ass."
Sasuke menanggapi santai. "Silly Tenten."
"Pokoknya jangan dekat-dekat aku! Kamu itu bawa sial!" bentakku sebelum beranjak menjauh.
"Itu kata-kataku." licin dan dingin Sasuke memulai. " Dan karena alergi bodoh ini aku harus mengawasi gadis menyebalkan sepertimu juga bukan kemauanku." derap langkah kaki Sasuke mengekori dari belakang terdengar.
"Peduli setan! Mati saja kau karena penyakitmu itu!" diawali satu langkah lebar, aku melesat menyusuri kokohnya dinding pagar sekolah dibawah teduh rimbun pepohonan. Waktu untuk memenetrasi celah patroli semakin menipis dan jika Sasuke menolak untuk berhenti ngedumel, aku yang akan menjauh.
'Dasar...disaat seperti ini-'
"Kyaaah!" jeritku kaget melihat sosok Sasuke berlari bersanding di sisiku. Dia serius!
"Kau mau coba kabur dariku, ya?"
"Dasar bodoh! Bukan saatnya membahas hal itu!"
"Mencoba mengalihkan topik? Sayang tidak berhasil."
"Ughh! Terserah!" geramku kehabisan akal. Sepertinya hari ini dia harus kubawa sekalian ke dalam. "Hei, Sasuke! Kau lihat bagian pagar di ujung sana, yang ditumbuhi tanaman rambat?"
Sasuke menatap objek yang kumaksud. "Hn."
"Ya? Ya? Aku mau kau menengadahkan telapak tanganmu dan lontarkan aku ke atas pagar itu saat aku meloncat." ujarku terburu di tengah sesi lari, membuat mata Sasuke menatapku seolah aku sudah gila. "Nggak ada waktu untuk menjelaskan! Kau akan kutarik setelah aku diatas sana, jadi lekas lakukan!"
"Apa ini semacam praktek cheerleader dadakan?" tukas Sasuke sarkastik.
"Lakukan saja!"
Menatapku aneh selama beberapa saat, Sasuke akhirnya menengadahkan tangannya. "Aku tidak tahu apa maumu tapi akan kulakukan kalau itu bisa menyelamatkanku dari meladeni Danzo."
Mataku berkilat semangat. "Percayalah! Ini bisa!"
Mengambil kuda-kuda, aku segera meloncat ke atas kedua telapak tangan Sasuke. Sepersekian detik setelahnya ia menghempaskanku ke udara, ke arah tembok pagar sekolah yang ditumbuhi tanaman rambat. Bersalto, aku sengaja bertumpu pada kedua tangan diatas permukaan tembok. Aku tersenyum penuh kemenangan sampai aku sadar Sasuke mendongak dibawah proyeksi bayanganku. Mendadak semuanya terasa membeku.
"S...! Jangan lihat!"
Sasuke yang memang sudah memandangi sosokku menggeliat di udara terdiam. Peringatan yang sia-sia. Keliman kain rokku sudah turun dibawa gravitasi membuat apa yang ada di dalamnya terekspos bebas.
"Dasar bod-" kata-kataku tidak pernah selesai meski aku sudah berusaha menutupi apa yang harusnya kulakukan sedari awal. Panik, dengan bodohnya aku menghempaskan tubuhku sendiri ke bawah.
"Tenten!"
Jatuuuh!
Bruk!
Membuka kelopak mata yang entah sejak kapan terpejam refleks, tubuhku yang terasa ringan tidak kunjung jatuh ke permukaan tanah kebun sekolah. Rasa sakit yang menghujam sebagai impak hukum sebab-akibat tidak terjadi padaku dan sebagai gantinya rasa melayang menyelimuti.
"L-lho...?"
"Hampir saja."
Aku sontak menoleh ke arah suara yang tidak lain dan tidak bukan berasal dari atas...kurang lebih begitulah. Ekspresi kaget bercampur gembira tercetak di wajahku melihat penyelamat hariku yang menangkapku dengan pose akhir dramatis.
"Ohayo, Tenten."
"O-ohayo, Sasori-senpai!" seruku sedikit merona melihat caranya menggendongku gaya pengantin.
Senyum tipis tersimpul di sudut bibir senpai berambut merah marun itu. Mata merah keruhnya menatapku lembut dengan aura bijak seorang senior terpantul jelas di pelupuknya. Di balik sweater hitam yang ia kenakan terdapat sematan kartu penegak disiplin. Dan tercantum pula dengan tebal...
Ketua Badan Penegak Disiplin Sekolah
School Official Head of Discipline
"Terlambat lagi? Ini sudah ketiga kalinya minggu ini."
Aku tersenyum canggung. "Ehehe...gomen, senpai..."
"Tenten!"
Brats!
Eh...aku melongo. Iya ya, kan ada dia. Aku meminta senpai menurunkanku sebelum melambai ke arah Sasuke yang baru saja meloncati pagar pembatas. "Oi, Sasuke! Aku baik-baik saja, lho!"
Sasuke yang tampak lusuh misuh-misuh tidak jelas. "Dasar! Padahal aku sudah khawatir kamu tidak sadarkan diri! Kenapa tidak berteriak dari tadi...!"
Aku mengacuhkan Sasuke yang masih sibuk ngedumel. "Itu temanku kak, yang itu kakak serahkan ke danzo atau apa aku juga nggak masalah kok."
Sasori-senpai membetulkan letak kacamatanya-apa aku sudah bilang kalau dia memakai kacamata? "Kamu...Uchiha."
Eh?
Alis Sasuke berkerut samar. Aku hampir saja tidak bisa melihatnya saking stoic ekspresinya. Bibir tipisnya mengeras. Sweater yang ia kenakan identik dengan sweater Sasori-senpai meski warna putihnya jadi lusuh karena debu juga lumut permukaan dinding kokoh pagar sekolah. Celana panjang yang melekat di kaki jenjang Sasuke ikutan lusuh. Padahal ia terlihat menunjukkan ketidaksukaan kepada senpai, tapi aku tetap merasa kalau sosok Sasuke terlihat sangat badass...uhuk.
"Akasuna." komentar Sasuke kalem.
Eh?
"L...lho..." aku melempar pandangan bergantian dari Sasuke ke Sasori-senpai.
"...kalian saling kenal?"
Hening. Aku mengerutkan dahi. Kok suasananya...
"Rupanya kamu bisa memelihara mainan."
...canggung-eh?
"Ma...mainan?" tanyaku lirih.
Sasuke membuka bibirnya perlahan. Ia mengambil jeda untuk bicara namun memilih untuk mengatupkan bibirnya kembali. Kalau saja tatapan bisa membunuh, maka Sasori-senpai dan Sasuke bisa dibilang tengah bertarung. Di keadaan yang membingungkan itu Sasuke melesat ke arahku, membisikkan sesuatu.
"Ayo pergi."
Tangannya menyambar pergelangan tanganku kasar dan mengacuhkan ketika aku memekik kesakitan. Ia menarikku menjauh dari senpai ke arah yang berlawanan, menuju koridor utama sekolah. Ada apa sebenarnya?
"Itachi-san berpesan padaku-"
"Diam."
"Aduh!" keluhku kesakitan begitu Sasuke mendadak berhenti. Hidungku menabrak punggungnya yang lebar. Aku buru-buru mengusap-usap, berharap rasa perih yang mendera cepat lenyap.
"Ternyata benar." Sasori-senpai lagi-lagi berucap sepihak kepada Sasuke. "Kamu tidak akan bisa menjadi seperti dia."
Saat kukira keadaan tidak bisa jadi lebih membingungkan lagi, cengkraman Sasuke bertambah kuat hingga membuatku meringkik sakit seperti kuda yang lagi melahirkan. Rasa malu plus kaget menyerangku kembali. Bisa-bisanya dia mempermalukanku di hadapan senpai!
"WADAOW! Sasuke! Apa-"
Nafasku tercekat. Tampaknya dia memang jago melakukan itu padaku. Mencuri nafasku. Kali ini dengan mengangkat jari tengahnya ke udara.
"Sa-sasuke? Aduh!" pekikku kebingungan.
Sasori-senpai hanya diam menatap punggung kami berdua ditelan koridor penghubung. Ia tidak membalas Sasuke.
.
.
.
.
.
"Sas! Sakit, nih!"
"Diam. Tahan sebentar bisa kan."
"Aduh! Jangan diremas dong!" keluhku yang sudah entah keberapa kali. Tapi serius, pergelangan tanganku sakit sekali. "Aku nggak peduli kamu marah karena apa, tapi lepasin! Sakit tahu-"
Bruk!
Aku terengah kaget, oksigen di paru-paruku terkompresi keluar begitu Sasuke mendorongku ke dinding, kedua tanganku ia cengkeram di atas kepala.
"Kamu...nggak boleh berada di dekat dia lagi. Kamu mengerti?"
Aku merintih kesakitan, tapi masih bisa mengutarakan ketidakpahamanku. "K-kenapa...?"
"Pokoknya kamu harus menjauh dari dia. Dengarkan saja apa yang kubilang." desaknya.
Ekspresiku mengeras. "Kalau aku bilang tidak mau?"
Sasuke menatapku tajam. Saat kukira ia akan lebih memaksa dengan caranya yang tidak berperikemanusiaan, anehnya kali ini ia langsung melunak. "Baiklah, terserah kau saja. Lagipula kau tampak bisa dipercaya."
Mataku melebar mendengar perkataan Sasuke. "Kau percaya padaku? Eh...tapi tentang apa dulu nih?"
Sasuke melepaskan kedua tanganku. Ia berjalan menuju kelas, tidak berniat sedikitpun menjelaskan seluruh situasi membingungkan ini. Jelas saja aku berteriak frustasi. "Aaagh! Selalu saja sok misterius! What are you hiding?!"
"Bukan hal yang ada hubungannya denganmu." sergah Sasuke cepat. "Tapi sekarang iya."
Aku menarik lengan Sasuke kasar, otakku yang pas-pasan sudah nggak tahan menerima informasi berbelit tanpa sedikitpun pelurusan yang diterima dan kalau dia tidak mau memberi, two can play this game.
"Dengar, Sasugay."
Alis Sasuke mengerut begitu aku memanggil nama nistanya. "Pertama kau mengatai aku perempuan jadi-jadian. Kedua, kau seenaknya memvonisku sebagai obat penyakitmu yang aneh itu-"
"Alergi."
"Terserah." ujarku seraya menggeleng. "Sudah jelas pernyataan irasional nggak berdasar itu tidak mungkin memiliki pembenaran-meskipun secara praktikal memang aku bisa memukul mundur alergimu, tapi kita belum tahu apa orang lain juga bisa begitu."
Sasuke hanya diam, menungguku melanjutkan. Aku menghirup nafas dalam-dalam. "Ketiga, nggak ada angin nggak ada hujan kau memutuskan untuk jadi stalker-ku. Alibimu pun nggak jelas; untuk memastikan aku nggak memberitahu siapapun tentang alergimu..." aku menggeleng sambil tertawa sinis. "...apa aku harus senang saat fan girls-mu yang ganas itu memburuku setiap hari karena mereka tahu aku satu-satunya perempuan yang bisa mendekati kamu?"
Bibir Sasuke membuka sekilas, namun menutup kembali tak lama kemudian. Ia mendehem. "Lanjutkan."
Aku memutar bola mata. "Keempat, kamu bersikap seperti majikan psikopat terhadap hewan peliharaannya setiap saat kamu mau menjelaskan sesuatu atau memberitahuku. Stop, biarkan aku bicara dulu."
Sasuke mengangkat rendah kedua tangannya sebelum menurunkannya kembali, menghela nafas panjang. "Kelima, kamu selalu bicara berbelit disaat genting, keenam, kamu sudah bersikap tidak sopan sekaligus sudah mempermalukanku di hadapan senpai yang kukagumi dengan melontarkan gestur 'fuck you' barusan, terima kasih banyak."
"Ketujuh," aku menekankan intonasi karena Sasuke mendengus mendengar aku mengucapkan 'senpai yang kukagumi'. "...fucking explain the whole thing to me. Or I'll leave and it's a no-show."
"Karena, Sasugay..." sergahku tepat sebelum Sasuke hendak memuntahkan satu dua kata, bersikap sok menganalisis untuk membuatnya kesal dan ternyata sangat berhasil melihat ekspresi merengut yang dibuatnya. Tentu saja. Siapa sangka Tenten tak bermarga bisa secerewet ini disaat ia mau. "...kalau bukan aku yang mengenal betul sikapmu, siapa yang mau bertahan kau perlakukan seenaknya sampai detik ini?"
"You really are one to talk much, aren't you?" komentarnya sarkastik. "Kau pikir para gadis itu bertahan mengerubungiku karena sikapku? Kau salah besar."
"Oh, enlighten me then." jawabku lebih sarkastik lagi. "Maaf aku tidak tahu kalau Sasugay yang agung, tidak tahu sopan santun, seenaknya dan suka menyembunyikan sesuatu yang aku terlibat didalamnya itu...punya nilai lain yang dilihat para penggemarnya. Wow."
Sasuke membuang muka sambil menghela nafas lagi. Ia menyisir jemarinya diantara rerumputan obsidian. Setelah beberapa detik kontemplasi, ia menoleh padaku. "Okay. You deserve to know."
"Aku mendengarkan-"
"Sepulang sekolah nanti jangan pulang dulu. Ikut aku."
"Ha?"
Sasuke menatapku dalam-dalam. "Aku akan jelaskan semuanya."
