Yatta! Chapter 6 yang dijanjikan!

Selamat menikmati!


"Aku akan jelaskan semuanya."

Satu pasang bola mata kecoklatan milikku tidak berkedip menatap Sasuke dan wajah seriusnya. Akhirnya dia menunjukkan sedikit ekspresi. Wow. Seharusnya aku mengabadikan momen ini dengan kamera hapeku. Setidaknya salah satu dari sekian banyak fans bodoh Sasuke akan membeli jepretan impromptu ekslusif ini dengan harga mahal.

"Kamu...serius?"

Sasuke merengut. Ah, hilang sudah sekelumit ekspresi itu. "Kamu memperhatikanku atau tidak sih?"

Aku menggeleng, bibir kukulum canggung. "Maksudku...barusan kamu nunjukin ekspresi serius."

Bola mata hitam obsidian miliknya berputar. "Bodoh."

"Hei!" sahutku tidak terima. Kedua tanganku kuangkat menunjukkan ekspresi kemana-perginya-gentleman-yang-kemarin? dengan sedikit bubuhan gestur menyindir.

Sasuke, tentu saja sudah berbalik dingin sedingin salju yang mulai berguguran di luar jendela koridor. Aku mendecak kesal. Kemudian satu hal muncul di kepalaku; alasan sikap dingin tiba-tiba Uchiha Sasuke di area sekolah adalah...?

"Dasar muna'!" seruku muak sembari berlari mendahuluinya melompati tangga. Jadi alasan dia bersikap dingin di sekolah itu karena dia punya image yang harus dijaga? Orang-orang gengsian seperti Sasuke-lah yang membuat dunia ini penuh dengan konspirasi terselubung! Berada satu ruangan dengan orang sepertinya saja membuatku ingin menjaga jarak sejauh mungkin.

Sasuke tampak terkejut mendengarku bicara demikian. Bisa kurasakan glare ala Uchiha-nya memanasi punggungku. Kalau tatapan bisa membunuh, Sasuke akan jadi manusia terakhir yang pernah ada di muka bumi ini dengan aku sebagai korban pertama.

"Itu adalah kata-kata yang paling nggak ingin kudengar datang dari kamu." kelancaran Sasuke mengucapkan kalimat balasan membuatku hampir mengira ia akan sungguh-sungguh membunuhku menggunakan hanya tatapannya.

Aku mendengus. "Well sorry to burst your bubbles, tapi aku baru saja mengatakannya."

"Kamu-" kalimat Sasuke terpotong ketika aku memutuskan untuk menoleh. Tangan putih ivory terbalut kemeja putih plus jaket merk ternama kepunyaan sang idola sekolah yang tadinya memegang selusur tangga kini terpaku di udara. Sang empunya menatap tangannya sebelum melirikku. "...kemari."

Aku melongo. Bagaimana bisa ia lupa akan alerginya sendiri dan menyentuh fasilitas umum sarang kuman penyakit-oke itu agak melenceng sedikit. Pokoknya, sudah jelas ada murid perempuan yang menyentuh selusur itu, bukan? Dan jelasnya berapa siswi? Konoha Gakuen punya 500 murid!

"Kamu bodoh, ya?"

"Kubilang, kemari." Sasuke mulai menapaki anak tangga, mengeliminasi jarak kami berdua.

"Nggak mau!" seruku lantang. Aku menjulurkan lidah padanya sebelum mengambil langkah seribu.

"Tenten!" sahut Sasuke dari beberapa anak tangga di bawah. Derap langkah kakinya terdengar mendekat dan terburu-buru. Heran, padahal sebelum-sebelum ini dia baik-baik saja berada di kerumunan perempuan. Kalau dulu kambuh dan tidak ada aku, apa yang dia lakukan?

"Ceh, peduli setan." bisikku pada diri sendiri di tengah pelarian, suara langkah kaki panjang Sasuke membuatku mempercepat tempo. "Coba tangkap akuuu~" candaku sambil meloncat-loncat.

"Kamu!"

"Eh-"

GUBRAK!

"Aduh! Adududududuh! Sakit! Kamu ngapain sih!" erangku jelas-jelas kesakitan. Bagaimana tidak? Sasugay menarik tasku paksa lalu menghempasku ke arah dirinya sendiri! Jelas saja kami berdua terlempar bersama hingga jatuh ke lantai koridor. Kalau dia menjadikan dirinya bantalan saja okelah, tapi ini?

"T-tulang ekorku..." desahku, air mata menggenangi pelupuk mata, masih terperangkap di pelukan Sasuke. Aku membungkuk kesakitan, rahangku mengeras. Kedua tangan Sasuke mendekap erat, satu kepalannya mencengkram bahuku sementara yang lainnya bersarang di pinggang. "Sasuke, lepas." pintaku lemas. Bagaimana aku mau menggosok pantatku kalau dia memeluk erat begini, coba?

"Sas-"

"...nggak." bisik Sasuke kasar.

"Eh?" aku mengerutkan dahi curiga, tanganku kuangkat guna melepas kedua tangan bak besi yang menempel di abdomen-ku secara menyilang itu. Tapi yang kudapat justru vice versa grip. "Sas!" panggilku lantang, mempertanyakan sikapnya yang aneh. Ia menunduk lebih rendah, hidungnya menyentuh bahuku dan juntaian rambut hitamnya menusuk-nusuk lembut. Aku meneguk ludah mendapati kaki kanan dan kirinya menekuk ke dalam, memenjarakanku. Kalau seseorang menangkap kami dalam posisi seperti ini bisa berabe. "Sas, ini sudah cukup, kan? Alergimu nggak mungkin kambuh separah-"

"...kamu nggak tahu rasanya."

Aku menoleh separuh, wajah Sasuke yang tertutupi oleh surai hitam legam menyambut pandanganku. "Sas?"

"...terbakar."

"Ha?"

Pelan Sasuke melonggarkan pelukannya guna memberiku ruang untuk mengekspansi ruang bernafas. Dengan gerakannya yang tidak terbaca itu ia menggenggam tangan kiriku, tangan lain menarik lengan jaket dan seragam hingga hanya kulitku yang terpampang. Aku terlonjak begitu Sasuke meremas lembut di antara celah jemari. Namun rasa kaget itu tertumpang tindih oleh panasnya permukaan kulit tangan keturunan Uchiha ini.

Kebalikan dariku, Sasuke justru menghayati detik-detik kolisi friksi semu kulit kami memukul mundur semburat merah polkadot mini di tangannya. Hela nafas lega terhembus dari bibir Sasuke, menggelitik telinga, membuatku merinding. "Sekarang kamu mengerti?"

"E-eeh..." akhirnya mukaku memerah tanpa izin. Sasuke sudah menyeretku ke dalam posisi yang absurd dan setiap hal yang dilakukannya (aku baru sadar) sudah melewati batas intimasi antar teman-apakah kami bahkan sudah mencapai tingkat itu?-dengan reputasi anjing-kucing Konoha.

Sasuke bertambah rileks terlihat dari semakin longgar kungkungan tubuhnya padaku. "Alergi ini bukan alergi biasa." Ia mengambil jeda, suaranya bertambah berat seakan ia sebenarnya benci menjelaskan hal ini. "Ini lebih seperti kutukan."

"Me-memangnya seperti apa rasanya?"

"..." nafas Sasuke teratur menghembus peluh di leherku. Aku meneguk ludah dibuatnya. "Rasanya seperti terbakar."

"...yah, biar kujelaskan pun kamu tidak akan mengerti." dengusnya. "Pokoknya...rasanya sakit."

"Tapi kamu bilang kemarin-"

"Aku bohong." timpalnya cepat.

Aku terdiam. Sasuke...ternyata dia kesakitan selama ini?

"Maaf aku harus menjelaskannya dengan cara begini. Meski kuberitahu dari awal, kamu tetap akan lari." tuturnya tenang.

"...ya." aku bertambah muram. Aku baru sadar seburuk itu tabiatku tidak mengindahkan penjelasan orang lain.

Sasuke mengangkatku hingga berdiri tegak, tangannya menepuk-nepuk telaten mengusir debu dari seragam dan jaketku. Meski ia sudah menunjukkan sikap perhatian dadakannya kemarin tapi aku masih saja tercengang.

"Bagaimana caranya kamu bertahan?"

"Hn?" Sasuke menatapku heran.

Aku mengulum bibir. "Sebelum ini...sebelum kamu tahu aku bisa...penyakitmu."

"Oh." Sasuke melanjutkan inspeksi kebersihan kecil-kecilannya. "Mudah saja. Aku minum obat penghilang rasa sakit-masih prototype, sih."

...

"Nah!"

"!" Sasuke terkejut mendapati telunjukku berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Mataku berbinar-binar, membuat ia mendapatkan firasat buruk.

"Prototype itu dibuat 3 tahun yang lalu, kan!?" tanyaku semangat tidak sabaran.

"...ya, benar, tapi-"

"Nah, kan waktu sudah berlalu! Pasti obat prototype itu sudah mengalami banyak kemajuan, kan! Ya ampun Sasuke, kenapa kamu nggak bilang dari tadi!"

Sasuke menatapku nista. Orang ini sudah gila, ucap tatapannya itu. "Aku nggak yakin kemana percakapan ini mengarah-"

"Kan sudah ada obat, jadi nggak perlu kontak intim seperti tadi! Case solved!"

"Ten-"

"Sasukeeee~!" panggilku penuh canda seakan kami sahabat karib. Jelas aku tidak akan memberinya kesempatan untuk angkat bicara. "Aku juga senang kok, mimpi buruk bertemu kamu setiap hari bisa berakhir secepat ini! Aku mendoakanmu yang terbaik; semoga obat prototype itu sudah mendekati sempurna sekarang jadi kita nggak perlu ketemu kayak gini lagi!"

"Kamu ngomong apa sih-" kekesalan Sasuke kembali muncul tapi aku tidak akan pernah mengizinkannya menyelesaikan kalimatnya.

"Bye!" seruku kelewat ceria sambil memutar badan, bersiap berlari ke arah kelas.

"Hei!"

Aku terhenti di langkahku, Sasuke kembali menahan tanganku dengan kasar. "Kamu kira mengonsumsi obat prototype itu enak?"

Aku hanya bungkam sembari menunduk, bersyukur Sasuke hanya bisa melihat punggungku.

"Lalu apa-apaan aktingmu ini?" amarah Sasuke terdengar di nada bicaranya yang terlalu kalem. "Ini bukan permainan, bodoh. Kalau ini cuma kelakar, aku tidak akan menyentuhmu seenaknya."

"Ka-kamu salah." aku tertawa canggung. "Aku cuma...nggak mau kamu kesakitan gara-gara aku nggak mau disentuh sama kamu."

"...bullshit." nada bicara Sasuke saat mengucapkannya benar-benar terdengar meremehkan. Namun, sekilas aku mendengar ia seolah ingin menertawakanku. "Kalaupun begitu, kamu hanya perlu menurut saja setiap aku perlu menyentuhmu-"

"Aku serius, bego!" akupun menoleh, muka memerah malu bercampur kesal. "Mungkin fans-mu yang fanatik suka kau sentuh-heck, bahkan mereka mungkin mau-bukan, pasti mau kau apakan saja-tapi aku...HYAAA?"

Aku memekik kaget kala Sasuke mengangkatku tanpa kesulitan, itu sebelum ia membopongku di bahunya.

"SAS!? Ini apa-apaan-"

"Halo?" Sasuke memanggil seraya berjalan menuju arah beranda sekolah, meninggalkan koridor penghubung ke koridor utama. "Jemput aku sekarang. Kuberi waktu 5 menit." perintahnya singkat jelas dan padat, suara handphone flip menutup terdengar segera setelahnya.

"Sas!? Kamu mau bawa aku kemana!?"

"Diam sebentar bisa tidak sih, mickey mouse?" geram Sasuke entah bagaimana masih bisa terdengar tenang. "Aku akan menunjukkan alasan kenapa meski kau tidak suka, aku tidak bisa melepasmu begitu saja."

Aku menggeleng menolak hawa panas merambat pipi, mencoba menekan rasa ge-er yang menggelembung. Salah paham! Sasuke memang suka begitu ngomongnya, jangan dianggap serius! Jeritku heboh sendiri di dalam hati. "Tapi gimana dengan pelajaran-"

"Kakashi akan kuhubungi nanti." adalah jawaban singkat tanpa simpati dari Sasuke. Langkahnya bertambah cepat, dan pemandangan dari atas sini memberitahuku kalau kami sudah di luar beranda. "Aah...si tua bangka itu masih di sini?"

Seruan perintah 'Serok saljunya yang benar!', 'Jangan pura-pura kedinginan-serok sebersih mungkin!' dan 'Setelah ini lari mengitari lapangan 20 kali!' semakin jelas terdengar olehku. Danzo. "Sasuke-baka! Kenapa kau malah lewat sini!?" bisikku kasar, walaupun aku tahu Danzo tidak akan mendengar.

"Urusai! Aku akan menggendongmu bridal style-jadi berpura-puralah sakit."

"Kalau aku tidak mau?"

"Rokmu akan kusibak."

"What the-dasar mesum! Anak nakal!"

Begitu tangan Sasuke mencengkram kain rokku, aku nyaris memekik. "Dan anak nakal ini serius."

"Aaah! Oke! Oke! Aku akan pura-pura pingsan! Puas!?"

"You'd better be." nada lega Sasuke terdengar. Tak lama kemudian dia menurunkanku, mengubah pose menggendong karung menjadi pose...pengantin. Tsk. Kalau saja kemungkinan Danzo melihatku tidak ada, aku pasti sudah menendang tempat-dimana-matahari-tak-menyinari milik Sasuke.

"Kau harusnya merasa beruntung aku tidak menghabisimu sekarang." bisikku seraya mengatur postur tubuh tak berdaya.

"Urusai." tanggap Sasuke acuh tak acuh.

"Well, what have we here?" tukas Danzo tajam, dengan mata tertutup pun aku tahu ia pasti menatapku penuh arti-eh salah, penuh curiga. Aku merutuk dalam hati. Tentu saja, si jago olahraga Tenten pingsan di tangan musuh bebuyutannya? Pemandangan macam apa ini?

"Ohayo gozaimasu, sensei." Sasuke memasang sikap hormat terbaiknya. Aku nyaris saja memutar bola mata karenanya. Kenapa sih dia nggak bisa bersikap begitu saat berhadapan denganku? "Mickey mou-maksudku Tenten-san tadi pingsan di koridor. Aku membawanya pulang-ada mobil jemputan yang sudah menunggu."

Rahangku mengeras, mati-matian berusaha keras tidak membentaknya. Setidaknya pakailah basa-basi, baka!

"Dan kenapa aku harus percaya padamu?"

Ouch. Dingin sekali. Aku penasaran bagaimana tanggapan Sasuke-

"Dan lagi, melihat seragammu..." Danzo mengambil jeda sebentar, membuatku berkesimpulan ia menunjukkan apa yang ia katakan dengan memindai penampilan Sasuke dari ujung kaki hingga kepala. "...lusuh begitu, bukankah seharusnya aku menghukummu karena tidak mengenakan atribut sekolah dengan pantas?"

Damn right. Aku mengangguk dalam hati. Danzo memang jago mencari-cari kesalahan orang. Pantas saja ia masih perjaka sampai sekarang.

"Di samping itu, apa kau tadi terlambat, Uchiha-san?"

"!"

"Penampilanmu cocok dengan profil anak-anak nakal yang berhasil lolos dariku. Ini spekulasiku saja, menurutku kau meloncati pagar sekolah agar terhindar dariku...benar?"

Uweeeh! Ini guru atau peramal, sih!?

"Well, sebenarnya..." Sasuke memperbaiki posisi, berat badanku menyedot energinya dan posisiku merosot dari dekapannya. "...aku sedang berjalan di dekat pagar sekolah saat seseorang tiba-tiba melompati pagar lalu menimpaku. End of story."

Bohong banget! Seruku dalam hati, shock akan bodohnya cerita karangan Sasuke. Siapa yang bakal percaya kalau kayak begitu ceritanyaaaaa!? Dan lagi kenapa kau membocorkan kebiasaan burukku, haaaah!?

"Lalu kau mau bilang itu penyebab kotornya bajumu?" aura gelap Danzo menyelimuti kami bertiga.

Sasuke bodoooh!

"Hai." jawab Sasuke enteng.

"Kenapa bukan kau yang pingsan?"

"Entahlah. Sesuatu membuat Tenten-san tak sadarkan diri ketika melompat. Yang kutahu ia menggenggam botol obat yang sudah kosong."

AKTINGMU BURUK SEKALI HEI UCHIHA!

"Oh? Tapi aku tidak melihat botol apapun."

KAMU JUGA DANZO! SUDAH TAHU DIA BOHONG JUGA KENAPA MASIH KAU TANYAI!? AAAH KENAPA AKU DIKELILINGI ORANG-ORANG ANEH INI, SIH!?

"Itu karena botolnya jatuh di sisi lain pagar, Danzo-sensei."

Eh-SUARA SASORI SENPAI!?

"Kamu lagi, Akasuna? Apa yang membuatmu bicara begitu?" suara Danzo terdengar bosan, namun sudah lebih friendly.

"Itu karena tadi aku kebetulan melihat kejadiannya. Terlebih, aku yang memintanya mengantar Tenten-san pulang. Uchiha-kouhai, you're free to go."

Sasori-senpai, you're my lifesaver! Pembimbing badan disiplin sekolah pun pasti akan menuruti Ketua Penegak Disiplin sekolah! Hidup Akasuna!

"Hn." adalah ucapan terima kasih ala Sasuke yang sedingin kulkas. Gayanya berjalan cepat menjauhi Danzo dan Sasori-senpai pun terkesan angkuh dan tidak hormat. Aku mengeluskan kepalaku manja ke bahu Sasuke, sebuah senyum manis mengembang. "You ungrateful jerk."

"Thank you." responnya santai.

"Itu bahkan bukan pujian."

"Kamu pikir aku tidak tahu?" wajah Sasuke saat mengatakannya membuatku saaangat ingin menyundul dahinya 'penuh cinta', tapi sayang aku tidak mendukung penyiksaan terhadap hewan.

"Bye, Tenten!"

"Eh-" aku menoleh ke arah suara-di balik bahu lebar Sasuke, Sasori-senpai melambaikan tangan ke arahku. Danzo tengah sibuk menyusuri tangga ke beranda sekolah diantara guguran salju yang ternyata sedari tadi bertambah deras. Dengan polosnya, aku melambai balik.

Greb! Sasuke menyambar tanganku dengan kekuatan yang tidak perlu. "Dasar bodoh! Kenapa kamu melambai!?"

"E-eh?" aku tersenyum canggung. "Tapi kalau tidak kubalas kan tidak sopan-"

"Kalau Danzo melihat, bagaimana!?" sengitnya penuh kekesalan. "Ah, aku capek marah terus padamu!"

"Oof!" desahku tidak menyangka akan dilempar ke jok mobil. Sejak kapan mobil Sasuke datang?

Drak! Pintu mobil dibanting. Aku meringis mendengarnya. "Bawa aku ke mansion di Fukuoka." perintah Sasuke. Tidak ada ruang untuk argumen di sana.

"F-fukuoka?" aku memekik kala mobil mewah-apa ini yang namanya Rolls' Royce?-kepemilikan Uchiha itu melaju tanpa ampun menerjang badai salju, melemparku di atas kursi penumpang.

"Kenapa? Kau tidak mungkin benar-benar percaya aku akan membawamu pulang ke apartemen bobrok itu, kan?"

"HEI!"

"Diam dan-" tangan-tangan jenjang secepat kilat Sasuke membebatku menggunakan seat belt. "-cobalah untuk tidak membunuh dirimu sendiri."

Bibirku mengerucut. Lagi? Kebaikan yang ditutupi dengan kata-kata dingin. Iiih! Kenapa mengesalkan sekali, sih berurusan dengan yang namanya U-chi-ha!?

Sasuke bersender pada pintu mobil di sisinya, menerawang ke luar jendela. Akupun ikut-ikut melamun. Semuanya tampak kabur karena salju dan kecepatan tinggi mobil. Hanya dengan kerupawanannya saja bisa membuat memandang sia-sia ke luar jendela mobil menjadi menarik...karunia yang mengerikan.

Brak!

Aku terlonjak. Sasuke memukul langit-langit mobil tanpa sebab, rahangnya mengeras. "Sas...?"

"Kh...! Jangan bilang kau baru saja mengantar Mikoto!" bentaknya lantang kepada supir.

Dahiku mengedut. Mikoto?

"I-iya, tuan muda."

"Sudah kubilang jangan pakai mobil yang ini!"

"Sas? Jangan bilang kalau-"

"Diam...!" serunya kewalahan, bulir keringat menuruni dahinya. Dugaanku benar, pola polkadot merah muda mulai menggerogoti putih ivory kulit bersihnya, tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk melebur menjadi satu corengan besar yang meradang.

"Sasuke..." ucapku khawatir. Kali ini kambuh penyakitnya tampak serius.

"Tenten..." nafasnya menjadi eratis, terengah. "...aku minta kau diam." pintanya putus asa. Sesakit itukah?

Aneh...terlalu aneh. Padahal biasanya Sasuke akan langsung menyambar tanganku-

'Aku cuma nggak mau kamu kesakitan karena aku nggak mau disentuh sama kamu.'

Ya ampun...aku menghela nafas sambil memejamkan mata. Dia menanggapi kata-kataku dengan serius. Aku memang menolak untuk disentuh, tapi-

"Graaah!" Sasuke melenguh keras. Dasi di lehernya pun akhirnya putus setelah beberapa saat bertarung dengan kekuatan jemarinya sendiri. Mereka frantis menggerayangi kemeja seragamnya, usaha putus asa yang didorong rasa sakit tak terkira.

"Tuan muda, obatnya." saran supirnya hati-hati.

"Ch. Aku sudah menghabiskan pil terakhir tadi pagi." gigi mengerat, punuk-punuk punggung tangan Sasuke memutih. Ia menarik nafas dengan susah payah. "Lagipula rasanya seperti sampah."

Aku mengulum bibirku gemas. Lalu kenapa kau masih mengonsumsinya?

"Tapi tuan-"

"Menyetir saja dengan benar! Aku bisa menahannya sendiri."

Brak! Jendela penghubung antara supir dan penumpang tertutup rapat. Apa semua Rolls' Royce punya fitur ini ataukah Uchiha memodifikasinya? Aku menggeleng. Bukan saatnya memikirkan itu.

Plak!

Sasuke memandangku horor. "Apa yang kamu lakukan?"

"The right thing to do." bisikku tidak meyakinkan. Bahkan tangan dan kakiku berkeringat dingin, jelas-jelas tidak mempercayai bahwa di dalam mobil berkecepatan tinggi ini, aku baru saja menempatkan pemiliknya dalam bahaya; selusur seat belt Sasuke terpelanting kembali ke gulungannya di sisi kursi, membuat sang keturunan Uchiha tidak terlindungi dari turbulensi-memangnya ini pesawat?-mendadak.

"What the hell are you-!"

Greb!

Aku memejamkan mata seerat mungkin. Keringat dingin masih melumasi telapak tangan dan kakiku tanpa henti. Rentetan dentum jantung dalam dadaku makin menggila, mengiringi naiknya suhu pipiku.

"D-diam saja dan pegangan padaku."

Selama beberapa saat, kesunyian derum mesin rolls' royce Sasuke terdengar begitu kencang di telingaku, meredam gaduhnya pikiranku. Ataukah itu denyut jantungku yang berkali lipat menggedor tulang rusuk-ya Tuhan-wajah Sasuke menempel di dadaku erat. Aku akan menyesali ini, pikirku. Jemariku bersilang di punggung leher keturunan Uchiha itu, berharap kontak sedekat ini bisa memukul mundur alergi tidak jelas kepunyaannya. Tujuan dari posisi memalukan ini? Mudah saja.

Aku tidak ingin ia melihat wajah meronaku.

"...kau ini bodoh, ya?"

"Eh-"

Sret!

"...! Ja-ngan dekat-dekat-"

Mata Sasuke menatapku tajam, tangannya mencengkram tanganku. Kenapa sih dia suka sekali kontak jarak dekat seperti ini? Aku tidak suka caranya memandangku begitu-

"Kau perawan, ya?"

...

"...ha?"

Sasuke mengangguk. "Perawan, kan?"

Kaaaats! Mukaku merona parah. Lagi-lagi omongan yang susah ditebak. "K-kamu ngomong apa, sih!"

Sasuke melepaskan tanganku dengan ekspresi stoic terplester di wajahnya. "Reaksi berlebihanmu itu yang menunjukkan kalau kamu masih perawan. Awalnya kukira cuma aktingmu saja." ujarnya kalem seolah sedang membincangkan cuaca hari ini.

"TUNGGU DULU! MAKANYA-INI APA HUBUNGANNYA-"

"Kalau mau membantu, biar aku saja yang melakukannya."

"Unf!" aku melenguh kaget mendapati diriku terhempas ke dada Sasuke. Kasar sekali, sih! Eh tunggu-

Bola mata onyx menatapku malas. Ekspresi kesakitan menakutkan tadi lenyap entah kemana tergantikan ekspresi merendahkan. Khas Uchiha. Kedua bibir tipisnya terbuka sedikit, menggodaku dengan kesan seolah ia mengatakan 'kau berani melawanku?' seraya mengenggam kedua lenganku di dua sisi tubuhnya agar aku tidak kabur kemana-mana.

...heh?

"...! Ka-kamu ngapain!?" seruku masih merona tanpa ampun melihat posisiku yang entah sejak kapan menduduki pangkuan Sasuke. Mataku mencari-cari seat belt dan benar saja, sabuk pengamanku sudah terlepas dalam kejadian yang sepersekian detik barusan. Atau lebih tepatnya, dilepas.

Sasuke menurunkan alisnya. "Mencari posisi yang lebih nyaman, of course. What do you think?"

"YOU'RE CRAZY!"

"Itu kata si perawan yang mencoba membunuhku dengan menjejalkan dadanya ke wajahku?"

"That's much better than this! Dan aku tidak menjejalkan dadaku ke wajahmu, dasar mesum!"

"Dan kau sedang duduk di pangkuan orang mesum itu, mickey mouse." jawabnya santai.

"Let me go!" pintaku kesal, lenganku terasa sakit mencoba melepaskan cengkramannya yang sudah jadi terlalu familiar bagiku. "Sasugay, ini sama sekali nggak lucu!"

"Hn." Sasuke menarik tubuhku ke arahnya dengan mudah. Saat dirasanya cukup untuk membungkamku dengan menekan wajahku ke dadanya, ia meraih seat belt kemudian memerangkap tubuh kami berdua di dalamnya menggunakan satu tangan.

"Hmpfdablufbrzamm!"

"Gomen, aku sudah lama tidak mempelajari bahasa jerman." ejeknya dingin.

"Fuah!" aku mendesah lega bisa bernafas dengan memutar kepalaku ke satu sisi. "I-tu bukan-sampai kapan kau berniat membuatku berada di posisi ini!?"

Bahuku bergidik saat Sasuke menurunkan tangannya ke punggungku masih menggunakan tekanan yang sama kuatnya. Aku hanya bisa manyun. Tenagaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia, sekarang aku harus bagaimana?

"Menurutmu?"

"Fuck you." bisikku kasar.

Aku nyaris bisa mendengar senyum sinisnya. "Kau yakin? Perawan sepertimu akan kesakitan-tapi aku bisa mencoba melakukannya dengan lembut."

...

Cukup sudah. Kutarik lagi kata-kataku! Aku memang menyesal sudah berbelas kasihan padanya!

PLAK!

Ia pantas mendapatkan tamparan itu!