Reinkarnasi itu Fiktif, Liza..

Title: Reinkarnasi itu Fiktif, Liza..

Scriptwriter: Rizuki

Cast(s):

Liza

Lay

Other casts: Kris

Genre: Romance, Angst, Fantasy

Duration: Chaptered

Rating: Teenager

Disclaimer: This story is belong to me. Lay is belong to himself.

Author's note: Yosh! Ini chapter keduanya.. Enggak mau banyak ngomong, cuman kasih inpoh kalo mungkin fict ini akan jadi tiga chapter aja.. hehe :')

Semoga feelnya dapet.. ^^

Summary: Keajaiban itu, tak selamanya membawa keberuntungan, Sayang. Dengarkan aku! –Kris-

oOo

Langkah panjang dan melelahkan Liza akhirnya sampai di sebuah cafe sederhana di ujung jalan. Sejenak dia menghentikan langkahnya yang baru saja memasuki cafe beraroma cokelat itu. Pandangan mata Liza beredar ke seluruh penjuru ruangan cafe itu. Dia terlihat seperti tengah mencari seseorang.

"Kak Liza!" terdengar sapaan lembut dari seorang gadis dengan pakaian casualnya. Liza menatap gadis itu, kemudian tersenyum. Liza melangkah mendekati tempat gadis itu berdiri.

"Ah, ternyata benar! Aku sampai-sampai ragu, yang aku lihat tadi itu Kak Liza atau bukan? Hehe.." gadis dengan pakaian kasual itu juga berjalan mendekati Liza.

Liza menepuk pundak gadis yang mungkin dua tahun lebih muda darinya itu, kemudian Liza terdiam sejenak. Dia menatap lensa berkilauan milik gadis muda itu. Mata indah itu, mengingatkan Liza pada seseorang. Yup, tentu saja pada kekasihnya, Lay.

"Kak Liza.." gadis itu melambaikan tangannya di depan wajah Liza yang terlihat sangat jelas sedang melamun.

"Eh? Fei! Eum, apa kabar?" Liza memamerkan senyuman manisnya.

"Baik, kak. Kak Liza sendiri?"

"Oh, seperti yang kau lihat. Oh ya, aku pesan hot chocolate dan pastry ya? Di tempat biasa, Fei." Liza mengerlingkan matanya kepada gadis muda bernama Fei itu.

"Siap, kak!^^" Fei segera melesat ke dapur cafe itu, sementara Liza bergerak menuju sebuah kursi yang berada di ujung ruangan. Fei adalah adik Lay. Jadi, setelah Lay pergi, kafe ini otomatis menjadi tanggung jawab sang adik, Fei.

Liza segera mendudukkan diri di kursi kayu itu. Lagi, dia menebar pandangan ke seluruh ruangan kafe sederhana itu. Kafe yang tak terlalu megah. Lantainya saja terbuat dari kayu, pun begitu dengan beberapa sisi dindingnya. Alunan musik klasik menggema di seantero ruangan kafe ini. Seperti sudah menjadi ciri khas dari kafe ini. Suasana tenang juga damai jelas terasa di dalam kafe bernuansa coklat ini.

Jadi, dapat dipastikan setiap orang yang datang ke kafe ini, terutama pada siang hari seperti saat ini adalah untuk menenangkan dirinya. Atau mungkin setidaknya ingin menyendiri untuk sementara waktu.

Dan, seperti Liza saat ini. Dia duduk tenang di sudut kafe. Di dekat rak buku dan majalah tentang musik. Tanpa mengedipkan kedua lensanya, Liza masih tetap asyik dengan kegiatannya melamun.

"Saya pesan hot chocolate!" ujar seorang gadis -yang baru saja mendudukkan diri di kafe yang baru pertama dia kunjungi itu- kepada lelaki yang kini berdiri di sampingnya.

Lelaki dengan pakaian rapi tapi tetap santai itu segera menulis pesanannya di kertas menu yang dia bawa.

"Ah, aku pikir Nona akan memesan jus tomat.." kata lelaki manis tersebut sebelum beranjak. Spontan, gadis yang tadi memesan mengangkat wajahnya untuk menatap lelaki tersebut. Kedua alis gadis itu mengernyit, seakan meminta penjelasan.

Lelaki itu tersenyum, "Nona punya sepasang mata yang indah. Aku pikir Nona menyukai jus tomat. Hehe.." lelaki itu meringis, dia khawatir gadis itu tak menyukai kata-katanya.

Salah.

Gadis itu kini tersenyum simpul. Semburat kemerahan terlihat jelas di pipi putih gadis itu.

"Eh, baiklah! Tunggu sebentar, oke?" lelaki yang ternyata mempunyai lesung pipi itu segera melenggang pergi menuju dapur.

Tak berselang lama, pemuda manis itu sudah kembali di meja gadis tadi. Dia meletakkan secangkir hot chocolate dan juga segelas jus tomat di meja sang gadis. Tapi gadis dengan baju sekolah ber-name tag Liza Wu itu, seakan tak menyadari jika pesanannya tiba. Gadis itu terlihat masih asyik dengan buku sketsa dan pensil gambarnya.

Pemuda manis itu tak ingin menrusak konsentrasi sang gadis. Dia memutuskan untuk menunggu gadis tersebut selesai dengan aktifitasnya. Pemuda tersebut duduk di kursi di samping sang gadis. Matanya hanya menatap penuh kagum pada gadis putih di sampingnya.

"Eh?" Liza terkejut saat menyadari ada segelas jus tomat yang ada di atas mejanya. Pandangan gadis itu melayang ke seluruh kafe. Tentu saja untuk mencari pemuda tadi. Hingga akhirnya, lensa Liza bertatap dengan lensa berkilauan milik pemuda manis itu.

Pemuda tersebut tertawa saat Liza menampilkan wajah kebingungan. Tanpa perintah, pemuda dengan lesung pipi itu segera menggeser duduknya di dekat Liza.

"Aku Lay." pemuda tersebut mengulurkan tangannya pada Liza.

"Liza.." akhirnya tangan mereka berjabat. Cukup lama, sebelum akhirnya Liza melepas tautan tangan mereka.

"Aku sengaja membuatkannya untukmu. Aku suka melihat matamu. Jadi, minumlah jus itu! Anggap saja salam perkenalan dariku.." Lay mengedipkan sebelah matanya pada Liza.

Liza tersipu. Pipinya sudah memerah sejak tadi, "Ah, kau terlalu berlebihan, Lay. Ehm, tapi, terimakasih. Senang mengenalmu, Lay.." ujar Liza jujur.

"Aku jauh lebih senang mengenalmu, Liza. Baiklah, jangan bosan-bosan datang ke kafe ini ya? Aku janji, tiap kau datang, aku akan membuatkanmu jus tomat. Hehe.."

Mata Liza mengerjap. Ah, dia teringat perkenalan pertamanya dengan Lay. Dia semakin merindukan Lay. Perlahan, tangan Liza mengambil hot chocolate yang tak lagi panas itu. Dia meneguknya perlahan.

Kini, penglihatan Liza tertuju pada sebuah piano yang terletak di salah satu ujung kafe. Liza terkejut. Kedua pupil matanya membesar.

"Lay..." ucapnya tertahan.

Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Lay tengah duduk di depan piano itu? Bagaimana mungkin Lay tengah memainkan piano itu? Ini pasti halusinasi. Liza terlalu merindukan Lay. Liza hanya terlalu ingin bertemu dengan kekasihnya itu. liza benar-benar tengah merindukannya.

Liza menggelengkan kepalanya cepat. Berharap bayangan itu segera pergi. Ini bukan pertama kalinya Liza merasa dia melihat Lay. Sehari setelah pemakaman Lay, Liza melihat Lay tengah menunggunya di depan kampusnya seperti yang dulu selalu Lay lakukan. Tiga hari berselang, mata Liza kembali menangkap sosok Lay tengah menunggunya di depan rumahnya. Lay tersenyum saat melihat Liza. Tidak hanya sampai di situ, tiap Liza mencoba memainkan pianonya di rumah, dia merasa Lay duduk di sampingnya. Lay menemaninya bermain piano. Lay menegurnya saat dia salah memencet balok notasi pianonya.

Sudah sebulan berlalu, dan Liza merasa Lay masih mengikutinya. Liza semakin yakin jika Lay juga merindukannya. Lay masih ingin bersama Liza. Akhirnya, Liza teringat pada buku Orpheus. Liza teringat pada mimpinya mengenai suara aneh itu.

Liza beranjak dari duduknya. Dia berpamitan pada Fei. Dia hanya ingin segera sampai di rumahnya. Dia benar-benar harus membawa Lay pulang.

oOo

Orpheus benar-benar patah hati dan sangat kehilangan kekasihnya, maka ia pun meratap dengan memetik dawai hingga lagu sedihnya memenuhi hutan.

Dunia seakan kiamat bagi Orpheus. Hari-hari dan mimpi malamnya dihantui oleh bayangan Eurydice yang seolah mengajaknya melanjutkan nyanyian dan tarian yang tak sempat terselesaikan di lembah tersebut. Akhirnya timbul tekad yang sungguh berani dalam diri Orpheus. Dia memutuskan pergi ke Hades, kerajaan orang-orang mati, untuk menjemput kembali jiwa Eurydice.

"Ha-des?" Liza mengulang kata itu berkali-kali. Hades kerajaan orang-orang mati?

Liza menghela nafas, kemudian mengubah posisi duduknya sebentar. Sedetik kemudian, matanya kembali membaca kata demi kata dalam buku itu.

Orpheus memang bukan pahlawan seperti Hercules yang sanggup menyelesaikan dua belas raksasa. Bukan pula Theseus yang membunuh Minotaur, makhluk setengah manusia setengah banteng yang memangsa rakyatnya.

Namun cintanya yang besar pada Eurydice dan derita berat yang harus ditanggung karena kehilangan dirinya telah memberi Orpheus keberanian dan kekuatan seluruh pahlawan. Banyak orang berusaha membujuk agar dia mengurungkan niatnya. Namun Orpheus mengabaikannya, dia pergi meninggalkan kerajaannya untuk menuju ke Hades.

Kini, Liza semakin paham. Sekarang ini, dia bagaikan Orpheus yang kehilangan Eurydice. Dia merasa seperti menjadi reinkarnasi dari Orpheus. Liza beranjak dari duduknya. Meletakkan buku itu di meja belajarnya.

Haruskah aku mengikuti Orpheus? Batin Liza.

Mungkinkah ini yang dinamakan petunjuk seperti dalam mimpiku itu? Mungkinkah benar seperti ini caranya agar aku bisa menemui Lay? Pergi ke Hades? Bagaimana aku bisa pergi ke sana?

Berbagai macam pertanyaan mampir di otak Liza. Dia semakin penasaran dengan buku itu. Tangannya kembali meraih buku itu untuk melanjutkan kegiatan membacanya.

Baru saja kaki Orpheus melangkah masuk ke dalam kegelapan gua di kaki Gunung Avernus yang berhubungan dengan Hades ketika seseorang menepuk pundaknya. Ternyata orang tersebut adalah, duta dewata yang bertugas mengantar jiwa-jiwa menuju ke Hades. Seperti yang lain, juga membujuk Orpheus membatalkan niatnya."Antarkan aku menghadap Pluto Penguasa Hades!" adalah jawaban Orpheus. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat berdiam diri sejenak sebelum kemudian maju memimpin langkah-langkah Orpheus menuju Hades.

"Liza.."

Belum sempat Liza mencerna maksud dari paragaraf yang baru saja dia baca, telinga Liza mendengar suara berat Kris tengah memanggilnya dari luar rumah.

Liza mendengus. Dia merasa tak suka jika kegiatannya terganggu seperti ini. Dengan langkah berat, Liza berjalan untuk membuka pintu.

"Ada apa?" tanya Liza malas setelah dia melihat tubuh tinggi Kris. Liza masih sedikit jengkel pada kakak angkatnya itu.

"Hei, kau masih marah, hum?" tanya Kris sambil mengikuti langkah kaki adiknya itu.

"Bukan urusanmu! Sudah katakan kau ada perlu apa?" Liza menatap Kris tajam. Kris tak menjawab, dia meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar Liza.

"Ya! Kris, kau mau kemana?" Liza mengejar langkah panjang Kris. Dia tak ingin Kris tahu jika dia masih berurusan dengan buku itu. Karena sejak dua minggu lalu, Kris sudah memperingatkannya untuk tidak berurusan dengan buku itu.

Kris menatap penuh selidik pada Liza yang kini tengah mencoba menghalanginya untuk masuk ke dalam kamarnya.

"Kau masih menyimpan buku itu?" tanya Kris tepat sasaran. Mata elangnya kembali menajam.

Liza meneguk ludahnya susah payah. Kris terlihat menakutkan sekarang. Belum pernah Liza melihat wajah Kris yang seperti itu.

"JAWAB AKU, LIZA!"

Liza terkejut. Belum pernah dia mendengar Kris membentaknya sekeras itu. Catat, ini pertama kalinya Kris berkata keras pada Liza. Oh, jangan lupakan mata elang Kris yang seakan berkilat menunjukkan kemarahan. Gadis itu semakin ketakutan. Butiran air mata mulai bersiap meluncur dari balik pelupuk matanya.

Kris menyadari itu. Kris sadar jika adiknya ini ketakutan. Akhirnya, pandangan Kris berubah. Kedua tangannya tergerak merengkuh tubuh Liza.

"Maaf. Aku tak bermaksud memarahimu. Maafkan aku.." ucap Kris lembut. Dia merasakan tubuh Liza sudah berguncang. Gadis itu menangis. Tapi tangisannya teredam oleh dada Kris.

Beberapa lamanya tak ada yang membuka suara. Hanya suara tangisan teredam Liza yang terdengar. Kris masih mengusap punggung sang adik. Lelaki itu hanya bisa mengepalkan tangannya.

"Keajaiban itu tak selamanya membawa keberuntungan, Sayang. Dengarkan aku!" Kris berkata lebih lembut.

"Apa kau tahu tentang buku itu, Kris?" tanya Liza yang masih sesenggukan.

Kris menghela nafas, dia melepas pelukannya. Dia tatap mata adik yang sangat dia sayang itu. Ya, Kris sangat menyayangi adik satu-satunya itu. Meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi hanya Liza yang Kris punya saat ini.

"Papa pergi karena buku itu, Liza. Papa pergi karena dia ingin mencoba seperti yang dilakukan tokoh utama dalam buku itu. Papa ingin menyusul Mama kandungku yang meninggal setahun sebelum Papa meninggal. Aku tak ingin kau meninggalkanku juga, Liza. Itu alasanku, kenapa aku menyuruhmu tak berurusan lagi dengan buku itu. Buku itu terlalu kejam untuk manusia biasa seperti kita, Liza!" Kris menghentikan ceritanya. Terlihat setitik air mata menetes dari mata elangnya.

"Reinkarnasi itu hanya fiktif, Liza. Tak ada yang seperti itu di dunia ini. Itu hanyalah mitos Yunani kuno. Jadi, kumohon berhenti di sini, Liza. Jangan teruskan lagi!" Kris menatap penuh permohonan kepada Liza.

Liza kini berbalik memeluk Kris. Dia tahu jika papa Kris meninggal. Tapi, yang dia tahu papa Kris meninggal karena sakit. Liza berada di persimpangan saat ini. Apakah buku itu benar-benar kejam seperti yang dikatakan Kris? Tapi, dia masih merasa harus membawa Lay pulang.

Bukankah tadi Kris bilang, jika keajaiban tak selamanya membawa keberuntungan? Liza yakin, tak ada yang mengetahui takdir manusia. Jadi, siapa yang akan menyangka jika saja nanti Liza benar-benar berhasil membawa Lay pulang? Tak ada yang tak mungkin kan di dunia ini?

Liza semakin merasa pusing. Benarkah jika kali ini dia mencoba, dia kan gagal seperti Papa Kris?

To be continued..