Failed
Title: Failed
Scriptwriter: Rizuki
Cast(s):
Liza
Lay
Kris
Genre: Romance, Angst, Fantasy
Duration: Chaptered
Rating: Teenager
Disclaimer: This story is belong to me. Lay and Kris is belong to himself.
Author's note: akhirnyaa, ini chapter terakhir. #usapkeringat #cipokYixing XD
Kayaknya di chapter ini, bakalan lebih panjang dari chapter sebelumnya. Kekeke~ soalnya, ini chapter penghabisan (?). Semoga enggak ngecewain yaa? Dan maaf kalo diluar dugaan endingnya. hehe..
Summary: Kau benar, Kris. Keajaiban tak selamanya membawa keberuntungan –Liza-
oOo
Liza menghembuskan nafas. Pandangannya segera ia alihkan pada layar notebooknya. Ribut suara hujan dari luar, membuat gadis bermata indah itu mendecak kesal. Sejak kecil, gadis itu tak pernah menyukai hujan. Dia tak suka dingin, terlebih pada kilatan petir dan gelegar halilintar.
Tanpa jeda, gadis itu segera melangkah untuk duduk di kursi samping ranjangnya. Perlahan kedua matanya terpejam. Dan kini, bayangan Kris muncul di pikirannya. Dia teringat kata-kata Kris kemarin siang.
Kini, kedua tangan Liza telah menggenggam buku aneh itu. Liza berpikir sejenak. Dia masih sangat ingin bertemu Lay. Tekad kuat untuk membawa Lay ke dunia masih tertanam di benaknya.
Liza kembali membuka buku itu. Tangannya bergetar. Ini pertama kalinya tangan Liza bergetar saat membuka buku itu.
Aku akan tetap pergi. Aku harus membawa Lay pulang. Batin Liza kembali bergemuruh.
Liza memejamkan matanya sejenak. Tangannya mulai bergerak menuliskan sesuatu di atas secarik kertas.
Maaf. Aku akan kembali, Kris. Jangan khawatir! Aku menyayangimu.. –Liza-
Selesai dia menulis kalimat itu, Liza mencari sesuatu dalam buku itu. Benar. Sebuah mantra yang nantinya akan membawanya ke Negeri Hades. Seperti yang dilakukan Orpheus.
Wingardium Laviosa!
Liza mengamati sejenak kalimat yang tertulis di halaman belakang buku itu. Kalimat yang tercetak dengan font berukuran besar dan tebal itu terasa aneh. Seperti sebuah.. Ah ya, mantra.
Liza menghela nafas berat, tapi dalam detik berikutnya bibirnya bergerak mengucapkan mantra itu. Tiga kali.
Kini Liza tak dapat merasakan apa-apa. Dia hanya bisa memejamkan matanya saat merasa nyawanya tertarik menembus berbagai macam kesenyapan juga kegelapan. Liza merasakan jika tubuhnya terasa sangat ringan saat ini. Hingga akhirnya dia membuka matanya, dan mendapati sebuah tempat yang berada di luar dugaannya.
Benar. Dia sudah sampai di HADES. Negeri orang-orang mati.
oOo
Kris mencoba membuka pintu rumah Liza, setelah sejak beberapa menit lalu dia mengetuk pintu tak mendapat jawaban. Telfonnya juga tak diangkat Liza. Akhirnya, Kris memutuskan untuk membuka paksa pintu rumah itu. Perasaan pemuda tampan itu semakin khawatir.
Setelah berusaha cukup keras untuk membuka pintu, akhirnya Kris dapat memasuki rumah yang hanya ditinggali Liza seorang itu. Tanpa membuang waktu lagi, langkah panjang Kris segera terarah menuju kamar Liza. Jangan lupakan teriakan dari mulut Kris yang terus memanggil nama adiknya itu.
"Liza, kau-" ucapan lelaki itu terpotong saat dia memasuki kamar Liza yang ternyata kosong.
Lensa Kris melebar saat mendapati buku Orpheus itu terbuka di atas lantai. Kris menghampiri buku itu.
Orpheus menjumpai pemandangan yang suram tak menyenangkan. Tampak olehnya jiwa-jiwa berbaris menunggu keputusan dijatuhkan oleh Justitia, dewi keadilan, dan Hakim-hakim Hades bagi mereka apakah mereka harus melanjutkan hidup di Tartarus (neraka) atau di Padang Elysium (surga) sesuai dengan perbuatan mereka semasa hidup. Duduk di atas tahta Hades yang bertatahkan batu-batu mulia Pluto, penguasa Hades yang keras hati, dewa yang ditakuti setiap makhluk hidup
"Tidak mungkin!" Kris berkata lirih. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tanpa dia sadari, air mata mulai mengalir membasahi pipi tirusnya.
"Liza..."
Ya, Kris baru saja membaca pesan Liza yang tertulis di secarik kertas di dekat buku besar itu. Kris ingin menyusul Liza. Dia mencoba berkali-kali mengucapkan kata-kata mantra itu. Meskipun dia tahu, apa yang dilakukan hanya akan berakhir sia-sia. Mantra itu hanya berlaku bagi seseorang yang ingin menemui separuh jiwanya yang berada di Hades. Sedangkan Kris?
"ARGH! LIZA, KENAPA KAU TAK MEMPERCAYAIKU?" Kris berteriak semakin histeris. Dia melempar keras buku Orpheus itu ke arah pintu.
Tak ada yang bisa dilakukannya. Kris hanya bisa menangis. Dia merasa gagal menjaga Liza. Dia tak mampu menahan kepergian Liza. Dia mengutuk dirinya sendiri. ya, Kris marah pada dirinya sendiri.
oOo
Liza sejenak mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya di tempat itu. Tubuhnya terlonjak ke belakang, setelah baru saja matanya menangkap pemandangan yang mengejutkan. Ini terlihat sangat suram dan menakutkan. Dia melihat banyak sekali jiwa-jiwa manusia tengah berbaris menunggu keputusan untuk kehidupan meraka selanjutnya.
Gadis itu juga melihat beberapa dewi-dewi yang tengah menjalankan tugasnya untuk memberikan hukuman kepada manusia yang berbuat jahat semasa hidupnya.
"Kris.." entah mengapa Liza sangat ingin Kris berada di sini saat ini. Dia sangat ketakutan sekarang.
Tapi, tiba-tiba bayangan wajah manis Lay menghampiri pikirannya. Ketakutan itu perlahan tergantikan oleh keberanian demi kekasihnya. Liza menghela-hembuskan nafasnya berkali-kali.
"Aku akan menemukanmu, Lay.." ucap Liza sekedar untuk menyemangi dirinya sendiri.
"Siapakah manusia itu?" telinga Liza berdengung saat menangkap sebuah suara yang baru saja dia dengar. Liza mendongakkan kepalanya. Dia terkejut saat mendapati kini sesosok lelaki yang tengah duduk di atas singgasananya.
Dialah Pluto. Penguasa Hades yang sangat keras hati dan ditakuti setiap makhluk hidup.
"Penguasa Hades yang agung, namaku Liza, aku datang kemari untuk menjemput jiwa kekasihku, Lay. Aku masih sangat membutuhkannya. Kini aku memohon kemurahan hatimu agar bersedia mengembalikan jiwa Lay pada kehidupan. Sungguh, aku masih membutuhkannya."
Entahlah, Liza sendiri tak tahu bagaimana dia mendapat keberanian untuk berbicara seperti itu. Dia hanya mengikuti setiap pergerakan dari bibirnya.
oOo
"Penguasa Hades yang agung, aku Orpheus, putra Apollo dari Calliope, datang kemari untuk menjemput jiwa istriku,Peri hutan Eurydice. Kami hidup berbahagia di atas sana sampai pada hari saat takdir kejam merenggutnya dari sisiku. Kini aku memohon kemurahan hatimu agar bersedia mengembalikan jiwa Eurydice pada kehidupan. Sebab kurasakan terlalu singkat kebahagiaan yang telah kami nikmati, terlampau pendek hari-hari yang telah kami jalani bersama."
Kris menghela nafas. Giginya semakin gemeretak setelah membaca deretan kalimat di dalam buku itu. Ini sudah hari kedua Liza belum kembali. Dan dua hari ini, Kris seperti kehilangan semangatnya melanjutkan hidup.
Lihatlah kondisinya saat ini. Rambutnya berantakan dengan kemeja putih yang dia gunakan sejak dua hari lalu. Dia tengah duduk di lantai samping ranjang Liza. Ya, sejak dua hari lalu Kris tak pulang ke apartmentnya. Dia memutuskan untuk menunggu Liza.
Wajah Kris semakin pucat. Dia benar-benar terlihat kacau.
"Liza.."
oOo
"Lancang! Kesombongan macam apa yang kau pertontonkan di hadapanku ini? Tak tahukah kau bahkan Jupiter Penguasa Semesta, sendiri enggan untuk meminta padaku mengembalikan jiwa orang yang telah mati kembali pada kehidupan? Dan kau! Atas nama siapa yang telah membuatmu berani mengajukan permohonan yang mustahil ini? Dasar manusia!" suara Pluto terdengar sangat menyakitkan. Terlalu menusuk bagi siapapun yang mendengarnya.
Tapi Liza bertahan. Demi Lay.
"Cinta! Aku masih terlalu membutuhkannya. Aku masih terlalu mencintainya. Dengan dasar itu, aku memohon kepadamu!"
Tidak. Ini bukan Liza yang berkata. Liza merasa seperti tengah mendapat dorongan dari seseorang. Bibirnya seperti sudah terprogram untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Liza.."
Belum sempat Pluto menjawab ucapan Liza, kini terdengar sebuah suara yang sangat Liza rindukan. Suara itu menyeruak di tengah keheningan.
Semua mata kini tertuju pada barisan jiwa-jiwa yang tadi dilihat Liza. Bibir Liza melengkungkan sebuah senyuman. Itu Lay.
Liza mencoba berlari ke arah Lay. Gadis itu mencoba merengkuh sang kekasih. Air mata juga mulai memenuhi wajahnya. Tapi sayang, Lay hanyalah sebuah jiwa. Bagaimana mungkin Liza dapat merengkuhnya? Akhirnya mereka hanya bisa saling bertukar pandang yang penuh akan kerinduan satu sama lain.
"Lay.." suara Liza gemetar. Dia terlihat sangat menahan tangisannya.
Semua dewa-dewi yang berada di sana menatap penuh cemas pada Liza dan jiwa Lay. Mereka khawatir jika sebentar lagi Pluto akan murka. Bagaimana mungkin jiwa yang sudah mati akan kembali bersatu dengan manusia?
Bibir Lay tersenyum sendu melihat kedatangan kekasihnya. Dan tiba-tiba saja Lay mulai bersenandung. Lagu yang menjadi kesukaan mereka berdua, dulu. Lagu mellow yang dikatakan bisa membuat hati siapa yang mendengarnya tersentuh.
Liza segera mengerti. Dia ikut bersenandung bersama jiwa Lay. Mereka bernyanyi dengan penuh perasaan. Hingga tak mereka sadari banyak air mata yang menetes mendengar nyanyian mereka.
Untuk beberapa saat lamanya semua mata yang berada di Hades meneteskan air matanya berkat lagu yang dinyanyikan oleh sepasang kekasih itu. Bahkan, isakan ringan juga mewarnai Hades.
"Baiklah..." suara Pluto menghentikan suasana yang tiba-tiba menjadi melankolis itu.
Liza mengalihkan tatapannya ke arah Pluto. Ketakutan yang sedaritadi terselip dalam hatinya, kini benar-benar hilang.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu, Liza. Tapi, kau juga harus berjanji untuk memenuhi syarat yang ku minta!"
"Benarkah? Aku berjanji! Apapun itu, Penguasa Hades.." mata Liza menyiratkan kebahagiaan. Demi Lay, apapun akan dia lakukan.
"Biarlah jiwa Lay berjalan mengikutimu kembali ke dunia. Namun pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya, selama kau berada dalam kegelapan Hades. Kau cukup berjalan di depannya hingga sampai di dunia. Jika syarat ini kau langgar, maka Lay akan kembali berada di sini, di antara jiwa-jiwa yang lain, saat itu juga. Kau mengerti?"
Liza mengangguk cepat. Dia memilih untuk menyanggupi syarat yang tampaknya ringan tersebut. Kemudian, pasangan kekasih itu segera meninggalkan Hades. Liza berjalan di depan sedangkan Lay mengikutinya dari belakang.
oOo
Dan Orpheus melihat bayangan Eurydice memudar dalam kegelapan Hades. Sia-sia lengannya terulur mencoba menggapai jiwa Eurydice. Bayangan Eurydice telah sirna. Dia berlari kembali mencoba mengejarnya. Namun kesempatan kedua tak pernah ada bagi Orpheus. Orpheus kembali ke tempatnya, kehilangan Eurydice untuk kedua kalinya. Sungguh kehilangan yang sekali ini lebih berat dirasanya daripada kehilangan yang pertama. Dan sungguh ironis!
Kris sudah benar-benar lelah. Dia lelah fisik juga batinnya. Ini adalah hari ke empat Liza belum juga kembali dari Hades. Dan jangan pernah tanyakan bagaimana keadaan lelaki turunan Kanada itu. Bayangkan saja, empat hari dia benar-benar kehilangan semangatnya. Empat hari itu dia gunakan hanya untuk meratapi kesedihannya. Menunggu sang adik kembali pulang.
Kris menatap foto Liza dari layar smartphonenya. Sungguh, Kris benar-benar merindukan Liza saat ini.
Kris mendekap erat buku Orpheus, karena dia merasa Liza ada di dalam buku itu. Kris tahu itu terlalu naif. Tapi Kris tak peduli. Bagi Kris yang terpenting saat ini adalah kepulangan Liza.
oOo
Beberapa kilometer dari Hades, Liza masih cukup tenang menjalankan syarat yang diminta Pluto. Tapi, menginjak lorong kegelapan Liza semakin khawatir. Perasaanya tak menentu. Dalam pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan dan kemungkinan buruk.
Bagaimana jika Pluto berbohong? Bagaimana jika Lay tak benar-benar mengikutinya di belakang? Lalu, jika benar Lay berada di belakangnya, apakah dia baik-baik saja? Bagaimana jika dia terluka? Atau bagaimana jika Lay tak mampu mengikutinya karena kegelapan ini?
Liza tak lagi bisa menahannya. Dia terlalu khawatir pada Lay. Dia tak ingin usahanya sia-sia. Dia hanya ingin memastikan apakah Lay benar-benar mengikutinya? Apakah Lay baik-baik saja?
Akhirnya Liza menoleh ke belakang. Dia mencari sosok Lay. Tapi..
"Argh! Liza..." jiwa Lay kembali tertarik ke belakang. Tertarik kembali ke Hades.
"LAYYY..." Liza berteriak keras. Air matanya juga mengalir sangat deras. Liza mencoba kembali, tapi langkahnya seakan terhenti. Dia tak lagi bisa menggerakkan kedua kakinya.
"Liza.." suara Lay terdengar semakin lemah. Dan bayangan jiwa Lay bergerak semakin menjauhi Liza. Liza berusaha bergerak untuk menarik tangan Lay, tapi sia-sia saja usahanya. Karena sesuai janjinya, jika Liza menoleh ke belakang, maka Lay akan kembali tertarik ke Hades, dan Liza tak akan pernah bisa lagi membawanya pulang.
Air mata Liza semakin deras mengalir. Tubuhnya masih terpaku. Dan dia terjatuh. Lututnya menempel di senyapnya lorong kegelapan. Liza menyesal. Lay kini telah pergi. Dia tak akan pernah kembali untuk selamanya.
Penyesalannya semakin membesar karena Lay pergi oleh kecerobohannya. Lay pergi karena kekhawatirannya. Lay pergi karena besarnya cinta Liza untuk Lay. Dan Liza kembali kehilangan Lay untuk kedua kalinya dan untuk selamanya.
Liza merasa menjadi orang paling bodoh saat ini. Kehilangan kali ini terasa begitu menyesakkan. Terasa jauh lebih menyakitkan dibanding pertama dulu.
Kepala Liza mulai terasa pening. Pandangannya memburam. Hingga akhirnya dia terpejam...
oOo
Kris melangkah perlahan meninggalkan rumah Liza. Di harinya yang ke enam dalam menunggu Liza, dia akhirnya menyerah. Liza belum juga kembali. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke apartmentnya.
Beberapa langkah setelah dia melewati pintu rumah Liza, dia berhenti. Mulut Kris ternganga menyaksikan pemandangan di depan matanya saat ini.
Sesosok gadis tergeletak beberapa langkah di depan pintu rumah Liza. Dia terlihat tak sadarkan diri. Tubuhnya pucat. Kris tersentak saat dia melihat wajah sang gadis.
Benar. Itu Liza.
"LIZA..." Kris menangis histeris. Dipeluknya erat tubuh tak berdaya Liza. Air mata mengalir sangat derasnya dari pelupuk mata elang Kris. Kris benar-benar tak menyangka akan menemukan sang adik dengan kondisi seperti ini.
Sejenak, Kris meraih pergelangan tangan Liza. Dia mencari denyut nadinya tentu saja. Masih ada, meskipun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, Kris segera menggendong Liza. Rumah sakit adalah tujuannya saat ini. Kris tak ingin kesempatan hidup Liza akan berakhir sia-sia. Kris harus mempertahankan adiknya itu, bagaimana pun caranya.
.
Di dalam salah satu bangsal rumah sakit itu, Kris sedang menunggu Liza sadarkan diri. Tangan dingin Kris masih terus menggenggam erat jemari Liza. Tangan Kris yang satu dia gunakan untuk merapikan beberapa helai rambut yang menjuntai di dahi Liza.
"K-Kris..."
Mata Kris mengerjap ke arah Liza. Benar. Gadis itu sadar.
"Liza.." Kris tersenyum lega. Dia mengusap lembut pipi kanan Liza.
"Maafkan aku. Kau benar, keajaiban itu tak selamanya membawa keberuntungan!" ucap Liza pelan. Suaranya sedikit bergetar. Mata indah Liza menatap penuh penyesalan ke arah sang kakak.
"Mungkin aku akan segera menemui Lay kali ini, Kris.."
"Liza.. apa yang kau bicarakan? Kau istirahat saja dulu, jangan pikirkan hal itu lagi. Ku mohon.."
Liza tersenyum, air matanya mengalir perlahan.
"Aku yakin kali ini aku akan bersama Lay lagi, Kris. Terimakasih, Kris.. Kau sudah menjadi kakakku yang paling baik. Aku.. menyayangimu, Kris.."
Bunyi alat kedokteran yang berada di meja samping ranjang Liza itu akhirnya berbunyi. Mata Liza akhirnya terpejam. Bibir pucat itu juga mengatup.
Kris menarik nafas. Dia tak lagi mampu histeris, meskipun air matanya kini mengalir sangat sangat deras. Kris hanya mendekap erat tubuh dingin Liza. Lelaki itu mengecup pipi dan seluruh wajah Liza berkali-kali.
Kris bisa saja menangis histeris, ataupun menjerit dan berteriak keras seperti kebanyakan orang yang ditinggal pergi orang yang disayangi. Tapi Kris memilih tak melakukannya. Emosinya tertahan. Matanya hanya mengalirkan banyak air mata. Dan dia terisak perlahan.
"Selamat jalan, Sayang. Semoga kau benar-benar menemukan kebahagiaanmu bersama Lay, di sana."
oOo
Kris mengembalikan buku Orpheus di perpustakaan tempat Liza meminjamnya. Mata Kris masih menatap cukup lama pada buku dengan sampul coklat itu.
"Orpheus? Cih! Sudah dua orang terbunuh karena buku sialan ini!" Kris berkata pelan tapi penuh penekanan pada tiap kata-katanya.
"Reinkarnasi? Hades? Ck! Buku ini benar-benar menyebalkan!" Kris meletakkan buku tebal itu di sebuah meja. Tak ada niatan sama sekali untuk mengembalikannya di rak yang sebenarnya.
Kris melangkah meninggalkan perpustakaan itu.
oOo
Hembusan angin memaksa masuk ke dalam ruangan perpustakaan itu. Membuat sebuah buku tebal yang terletak di atas meja itu terbuka.
Orpheus-Eurydice...
END.
