Review Section~
Jawaban buat Neko - chan :
Ada, kok.. Tinggal di upload aja.. Cuma berhubung tugas kuliah lagi numpuk jadi uploadnya nyicil.. hehehe.. thank you yaa.. :D
Jawaban buat 4fireking :
Sure, I'll check One Piece area.. I love Zorro! He's cool and awesome! ;)
The person who embraced all the painful wounds on my closed heart
I want to love you more and more, for eternity
Found you my love, The person I've been searching for
I want to share a heated embrace with you
Stay still and close your eyes
So I can kiss you on the lips
Stay still and close your eyes
So I can kiss you on the lips
I love you, it's you who I love
Found you
The one person I'll keep by my side
Thank you
For coming to my side
Senja itu Killua menikmati waktu-waktunya dengan melakukan 'peregangan tubuh' ringan. Setelah menjadi salah satu tim juri pada ujian hunter selama sebulan, ia merasa seluruh tubuh-tubuhnya kaku karena sibuk mengurusi para peserta. Sore itu adalah saat yang tepat bagi dirinya untuk melenturkan kembali otot-otot yang tegang kemarin di sebuah apartemen miliknya yang berada di dekat jantung Kota York Shin.
KRIING KRIING
"Halo?" Killua mengangkat teleponnya.
"Kill, sudah lama, ya?"
"Eh? Milluki? Tumben. Ada apa?"
"Aku meneleponmu karena ada hal yang harus kusampaikan. Pertama soal Mike. Dia sakit. Kurasa dia butuh penanganan khusus. Tadinya kita sudah berniat untuk membunuhnya tapi kau tahu kan bagaimana sulitnya mencari anjing baru yang seperti Mike? Gotoh memberi saran untuk mencari dokter hewan dari luar sana. Kau kenal seseorang?"
"Hmmm… Aku tidak yakin aku kenal seseorang seperti itu. Lalu, apa lagi?"
"Ibu. Dia ingin bertemu denganmu. Kau sudah beberapa tahun tidak pulang ke rumah. Ibu juga ingin bicara serius, kurasa soal masa depanmu."
"Kan aku sudah bilang kalau aku tidak tertarik untuk meneruskan bisnis keluarga?!" Killua mendadak jengkel.
"Hei, jangan marah padaku. Aku juga tidak mengerti mengapa ibu bersikeras kalau penerus itu haruslah kau. Menurutku, bukan itu yang ibu maksud."
"Jadi apa?"
"Aku juga tidak tahu. Datanglah saja ke rumah. Ayah juga tidak akan mengikatmu disini. Anggap saja kau kembali hanya untuk Mike. Dia merindukanmu, Kill."
"Hhhh~… akan aku pikir-pikir lagi. Ya sudah, sampai nanti."
Sambungan diputuskan.
"Oh, Tuan Killua. Selamat datang, anda mau bermain?"
"Tidak. Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Kurasa aku mau ke bar. Apa Kuro ada disana?"
"Ya, Tuan. Dia ada disana. Mau saya temani anda kesana?"
"Tidak perlu, Gen. Terima kasih."
Killua dengan tegapnya melangkah melewati kerumunan kelompok- kelompok ningrat di Tropical J senja itu. Hari itu ia datang bukan untuk bermain judi, tapi untuk menemui teman lama –Kuro. Kuro adalah partner kerja yang ia temui saat bekerja sebagai bodyguard. Karena mereka berdua merasa pekerjaan itu merepotkan, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan lain.
Tropical J adalah kasino langganan tempat Killua sering menghabiskan waktunya. Kasino yang satu ini merupakan salah satu kasino terbesar didunia dan para pendatangnya bukanlah sekedar penjudi amatiran saja. Semua yang datang adalah para god of gamblers yang memang terkenal lihai, kaya dan cerdik di dunia judi. Sayangnya dari semua god of gamblers yang ada, hanya setengah saja yang masih dapat berfikir waras. Setengah yang tidak adalah para gamblers yang merasa dirinya terhebat dalam perjudian sehingga tak jarang mereka mempertaruhkan uang yang sangat banyak. Kebodohan yang membangkrutkan mereka secara perlahan itu akan menaikkan derajat kekayaan gambler lain secara perlahan juga. Killua sendiri memanfaatkan kesempatan yang ada. Ia memanfaatkan kemampuannya yang lihai dalam judi dan 'kebodohan' orang-orang disana yang terlalu serakah. Killua tidak pernah kalah sekali pun dan hal ini membuatnya menjadi salah satu God di Tropical J.
"Hei, Kuro," sapa Killua pada salah satu bartender yang sedang merokok.
"Oh, Killua~! Bagaimana kabarmu?" balas si bartender.
"Baik-baik saja. Hahahaha." Killua duduk di kursi bar.
"Kudengar katanya kemarin kau menjadi salah satu juri Ujian Hunter. Benarkah?" Kuro memulai pembicaraan sambil membuatkan minuman untuk Killua.
"Ah, benar. Kau tahu juga?"
"Tentu saja. Semua orang disini tahu itu. Apa yang kau ujikan? Bagaimana dengan para pesertanya?"
"Ujianku sebenarnya mudah. Aku menyuruh mereka untuk menangkap beberapa penjahat yang sengaja kami lepaskan disebuah pulau. Tugas mereka adalah menangkap semua penjahat tersebut dalam waktu empat hari. Pesertanya sih biasa saja."
"Ah, aku sempat tidak menyangka kau menjadi juri pada acara seperti itu. Awalnya aku pikir kau akan mengujikan bagaimana melakukan judi. Nyatanya bukan. Kukira kau tidak tertarik pada hal-hal seperti itu."
"Memang tidak. Kebetulan aku sedang tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku masih tidak tahu pekerjaan apa yang cocok denganku. Jadi kupikir mengambil tawaran sebagai seorang juri akan memberiku inspirasi sekaligus menghabiskan waktu." Killua menenggak minumannya yang diberikan Kuro –Mariyuana.
"Hmm, begitu yaa.."
"Hhh~.. iya. Oh iya. Kuro, kau tahu tidak siapa dokter hewan yang hebat disini?"
"Mmmm… aku kurang tahu sih kalau hal seperti itu. Tapi sekitar dua minggu kemarin, ada seorang dokter klinik yang menyembuhkan anjing dan kucing dirumah pacarku. Pacarku itu bilang kalau sebelumnya dia sudah mencari berbagai informasi mengenai penyakit yang menjangkiti hewan peliharaannya dari berbagai situs internet. Dari informasi yang ada, penyakit itu termasuk penyakit serius bagi kucing dan anjing. Dokter hewan pun biasanya menolak pasien dengan penyakit itu. Alasan yang mereka pakai yaitu sama, karena hewan yang terjangkit penyakit itu pasti akan mati cepat atau lambat. Jadi percuma saja untuk melakukan pengobatan medis. Lalu akhirnya dia mendapat informasi dari temannya mengenai dokter yang mungkin dapat membantu masalahnya itu. Setelahnya tentu saja pacarku itu meminta tolong bantuan dokter yang dimaksud. Hebatnya, dokter itu mampu menyembuhkan penyakit anjing-anjing dan kucing pacarku dalam waktu hampir dua minggu. Bayarannya pun termasuk murah. Dia hanya meminta bayaran untuk obat-obatnya saja. "
"Hmm, siapa dokter itu. Kau tahu nama dan tempatnya bekerja?"
Kuro merogoh dompet yang ada disaku celananya. Setelah mengambil sesuatu yang berbentuk kartu, ia menyerahkan kartu tersebut kepada Killua. Saat Killua menerimanya, ia terlihat terkejut lalu tersenyum.
"Dasar. Bodoh sekali aku karena melupakannnya," gumam Killu. "Terima kasih, Kuro," ujar Killu pada sohib barunya.
Esok siang di suatu tempat…
KRINGG KRINGG
"Ya, halo?"
"Benarkah ini Cloud Pet Shop?"
"Ya, betul. Ada keperluan apa?"
"Begini, kurasa aku butuh seorang ahli yang dapat menyembuhkan anjingku. Dia sakit. Kebetulan aku adalah teman dari Hiju yang bekerja disini. Jadi bisakah kau memberikan telepon ini padanya?"
"Tidak bisa! Hiju sedang keluar karena ada panggilan dari klien. Kau tidak bisa menemuinya atau mengunjunginya."
"Yah kakek.. padahal tadinya aku hendak menawarkan harga yang tinggi. Sayang sekali, ya. Ya sudah.."
"Eeehhh,, tunggu dulu. Apa maksudmu dengan harga yang tinggi?! Berapa yang kau tawarkan?!"
Killua tersenyum. "Banyak. Tiket pesawat dan kereta, tempat penginapan, bayaran yang juga tidak sedikit langsung begitu ia sampai ditempatku dan jaminan hidup."
"Tempat penginapan dan tiket pesawat?! Maksudnya…"
"Yap. Anjingku tidak ada disini. Kakek tidak perlu khawatir. Aku akan menjaganya dengan baik. Tolong sampaikan padanya untuk bersiap-siap pergi malam ini. Tiket pesawat dan lainnya akan dikirimkan sore ini ke pet shop. Untuk penginapannya, pelayanku sendiri yang akan menyambutnya."
"Ba…baiklah. Akan kusampaikan padanya begitu ia tiba."
"Oke, terima kasih."
Telepon ditutup oleh Killua dengan senyum tersungging di wajahnya. Beberapa detik kemudian ia menekan beberapa nomor diponselnya dan menelepon seseorang.
"Selamat malam, dengan kediaman pelayan Keluarga Zaoldyeck disini." sapa seseorang diseberang sana.
"Gotoh? Ini aku Killua. Katakan pada yang lain kalau aku akan pulang dan membawa dokter untuk Mike. Hanya saja mungkin dokter itu sampai terlebih dulu daripada aku. Tolong katakan pada Zeburo untuk membawanya masuk hingga ke tempatmu dengan selamat. Bisa kau sampaikan?"
"Baik, tuan Killua. Informasi ini akan saya sampaikan pada nyonya dan para pelayan yang lain untuk menyambutnya. Ada lagi yang anda butuhkan, tuan?"
"Itu saja dulu. Tolong ya, Gotoh."
Malam harinya di Pet Shop..
"Huh, kakek itu! Kenapa mendadak begini sih?! Padahal kan aku ingin istirahat!" keluh Hiju seraya memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
"Hiju…" panggil seseorang dari luar pintu. Ada si kakek, Rozu berdiri disana.
Hiju menoleh. "Eh iya, ada apa?"
Kakek itu masuk ke kamar Hiju dan menyerahkan sebuah amplop. "Ini tiket pesawat dan kereta yang akan membawamu kesana. Temanmu tadi bilang kalau pelayannya yang akan menyambutmu. Di dalam situ ada peta dan no telepon seseorang yang disertakan untuk berjaga-jaga kalau kau tersesat."
"Oke. Tapi masalahnya aku tidak pernah punya teman diluar York Shin. Lagipula jika ia tinggal diluar York Shin, kenapa harus ke pet shop ini? Apa tidak ada pet shop ditempat tinggalnya itu?"
"Mana kutahu. Tapi jika ia sampai memanggilmu, berarti hubungan kalian begitu spesial kan? Apa mungkin temanmu itu…"
Hiju mendadak ingat seseorang. "Tidak tahu juga. Rasanya aneh kalau dia sampai memelihara binatang." Hiju menatap amplop tersebut dengan ekspresi sendu.
Kakek di depannya hanya diam memperhatikan.
"Berhati-hatilah, Hiju. Kau sudah berada di jalan yang benar. Aku tidak akan terima jika kau kembali pada mereka," ujar kakek itu sambil berbalik dan berjalan meninggalkan Hiju sendirian.
Amplop yang kini telah ada ditangan Hiju mendadak membuatnya senang sekaligus ragu. Tanpa terasa bibirnya tersungging panjang dan wajahnya memerah. Dalam keadaannya saat ini, ia hanya mengingat satu nama. Nama itu sudah terlalu lama bersarang dihatinya bersama dengan semua kenangan. Amplop itu kini membuat nama dan kenangan yang telah terkubur kembali muncul ke permukaan : meracuni otak dan memenuhi ruang hatinya.
'Feitan, apa itu kau?' tanya Hiju dalam hati.
Malam itu hujan turun sangat deras. Hiju berangkat ke bandara menggunakan taksi yang ia pesan satu jam sebelumnya. Malam itu merupakan malam pertama bagi Hiju untuk meninggalkan York Shin setelah beberapa tahun ia tinggal disana. York Shin adalah kota yang dapat membuatnya pulih dan berhasil bangkit dari masa lalu.
Ia mencintai York Shin, kota yang tidak pernah tidur. Ia mencintai segalanya : kemacetannya, keramaiannya, kehidupannya, keterlibatan kota itu dengan dunia mafia, keteraturan sistem negaranya dan orang-orangnya yang menurut ia sangat profesional dalam segala hal. Hujan di York Shin malam itu adalah saat-saat yang paling sejuk dan menenangkan baginya. Bersama hujan, ia mengingat momen-momen yang sudah lama sekali terjadi. Momen-momen yang membuatnya ia sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri seseorang adalah suatu jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kesempurnaan hidup. Hiju merasa dirinya memang ada dalam hidup yang sempurna saat ini.
Mengingat semua momen yang terjadi selama hidupnya telah membuat Hiju terlena hingga ia tidak sadar bahwa ia sudah sampai ditempat yang ia tuju, bandara. Ia akan ikut penerbangan dalam waktu sekitar dua puluh menit kemudian. Berdasarkan perkiraannya, ia akan sampai di bandara tujuan pada esok siang. Setelah itu ia harus pergi menuju stasiun terdekat untuk sampai ditempat tujuan.
Entah mengapa malam itu ia begitu senang dan tidak percaya. Sebuah amplop seperti membawa kebahagiaan untuknya. Namun, amplop itu juga memberikan pertanyaan baginya mengenai apa dan kenapa. Seperti tidak mungkin, nama yang ada dihatinya akan memanggilnya dengan cara seperti itu. 'Orang itu dapat menemuiku sendiri kalau ia mau,' pikirnya. Disisi lain, ia berharap orang yang ada dipikirannya telah berubah dan memutuskan untuk mengubah hidupnya sama seperti yang telah Hiju lakukan beberapa tahun yang lalu.
Lusa siang ia telah tiba ditempat tujuan. Didepannya berdiri sebuah gerbang raksasa yang kokoh dan beraura gelap. Disekelilingnya berdiri puluhan orang yang menatap takjub dan kagum akan ukuran gerbang tersebut –sama seperti dirinya. Mata Hiju dan orang-orang yang berdiri disekitarnya tidak mampu lepas dari gerbang tersebut. Sementara itu, pemandu bis yang ia tumpangi terus saja menerangkan apa dan siapa yang ada dibalik gerbang tersebut. Begitu mendengarkan penjelasan dari pemandu, sedikit demi sedikit aura orang-orang disekitar Hiju mulai berubah. Mereka yang tadinya semua kagum dan takjub menjadi sedikit takut setelah mendengarkan apa yang dikatakan pemandu. Hal itu tidak berlaku bagi Hiju. Jika orang lain menjadi semakin takut setelah mendengarkan pemandu, ia justru semakin heran.
'Mengapa dia membawaku kemari? Feitan, apa yang hendak kau lakukan?' Hiju semakin bingung. Di tengah kebingungannya, ia melihat ada pos penjaga di arah kanan, persis di pinggir gerbang raksasa tersebut. Instingnya mengatakan bahwa ia harus kesana dan menanyakan 'keberadaannya'. Dengan beberapa langkah, ia sampai di pos tersebut. Hiju melihat ada seorang bapak-bapak lanjut usia yang sedang duduk dengan tenang disana sambil membaca koran.
"Permisi, pak? Maaf saya mengganggu sebentar."
Bapak di pos penjaga itu menurunkan korannya dan memasang matanya pada Hiju. "Ya? Ada apa?"
"Saya butuh bantuan. Apa alamat yang ada dipeta ini adalah benar disini?" Hiju menunjukkan peta yang digenggamnya kepada bapak tersebut.
Bapak setengah baya itu meraih peta yang disodorkan kepadanya. Begitu ia melihat peta tersebut, ia ingat akan tugas yang pernah diberikan oleh majikannya dua hari yang lalu. "Bisa kau ceritakan padaku mengapa kau ada disini?"
"Ehmm,, aku tidak yakin. Seseorang menelepon bosku dan mengatakan kalau anjingnya sakit. Dia juga memberikan amplop yang berisi peta, tiket pesawat dan kereta serta nomor telepon yang bisa saya hubungi kalau saya tersesat."
"Boleh liat amplopnya?"
Hiju menyerahkan amplop yang ia terima dengan ragu-ragu. Bapak setengah baya itu segera membongkar dan memeriksa isinya. "Apa kau seorang dokter hewan?"
Hiju agak terkejut karena bapak itu mengetahui profesinya. "I…iyaa… kok anda tahu?"
Bapak itu segera berdiri dari kursinya dan tersenyum kepada Hiju. "Kami sudah menunggumu."
"E…eh? Kami? Maksudmu Feitan?"
Bapak itu tersenyum lagi. "Perkenalkan, nama saya adalah Zeburo. Saya adalah penjaga gerbang ini, gerbang keluarga Zaoldyeck. Alamat yang anda tunjukkan pada saya tidak salah. Itu adalah alamat disini. Kami juga sudah menunggu kedatangan anda disini."
"Zaoldyeck? Pemandu tadi bilang Zaoldyeck adalah nama keluarga pembunuh bayaran profesional kan?"
"Iya, benar. Gerbang ini adalah gerbang utama menuju kediaman Zaoldyeck."
"Tu..tunggu dulu, pak. Kurasa saya yang salah. Orang yang membuat saya hadir disini mengatakan pada bos saya bahwa ia adalah teman saya. Seumur hidup saya tidak pernah punya teman ataupun kenalan dari keluarga Zaoldyeck. Apa disekitar sini ada yang namanya Feitan?"
Bapak itu tersenyum. "Namamu Marsh Hiju, kan?"
Hiju terkejut lagi. "Lho? Kok bapak tahu lagi?!"
"Nona Hiju adalah dokter hewan dari York Shin, kan? Saya yakin disini ada sedikit kesalahpahaman. Yang jelas, sebenarnya saya mendapat tugas dari tuan muda untuk menyambut anda dan membawa anda ke kediaman pelayan didalam gerbang. Mari saya antarkan anda?"
Hiju masih bingung dengan semuanya. Akan tetapi, berhubung bapak yang baru saja ia kenal itu nampak seperti orang ramah dan jujur, ia mengikutinya. Bapak itu berhenti didepan gerbang kokoh yang dinamakan Gerbang Penguji. Tiba-tiba bapak itu berusaha dengan keras mendorong gerbang tersebut.
Hiju hanya terdiam heran melihatnya.
Bapak itu terus berusaha dengan keras mendorong gerbangnya. Dalam waktu enam detik, gerbang itu berhasil dibuka sedikit demi sedikit. Melihat keringat yang menetes di tubuh bapak itu dan usaha keras yang dilakukannya, Hiju yakin kalau gerbang yang baru saja terbuka itu sangat berat luar biasa. Hiju benar-benar dibuat kagum saat itu.
"Nona, ayo masuk ke dalam. Pintunya tidak dapat dibuka lama-lama.." Zeburo bicara pada Hiju yang masih terpaku melihat semuanya.
"Ah, iya~.." Hiju segera masuk kedalam melalui celah antara tubuh Zeburo dengan pintu. Celah yang dibuka dari pintu kiri ke pintu kanan kira-kira hanya sepanjang 60 cm.
Setelah Hiju masuk, ia kembali dibuat kagum dengan hamparan luas hutan yang terbentang didepan matanya. Hutan itu begitu gelap pada siang hari menandakan lebatnya pepohonan yang berdiri. Hiju terpaku melihat semuanya sampai- sampai ia tidak menyadari bahwa gerbang telah tertutup dan tidak mendengar suaranya yang gaduh saat pintu kanan dan kiri saling berbenturan.
Zeburo menghampiri Hiju yang masih speechless. "Mari, nona? Mike pasti akan sangat senang jika ia melihat nona datang untuk menyembuhkannya."
"Eh,, I,,,iya.."
Zeburo dan Hiju berjalan bersama. Diperjalanan Hiju lebih banyak terdiam karena masih banyak kebingungan dan kekaguman yang berkumpul didalam dirinya. Ia labih banyak menunduk dengan tatapan kosong ke tanah. Bahkan karena terlalu terkejut dan kagum, ia melewatkan beberapa awal perbincangan yang dilontarkan Zeburo kepada dirinya.
"Hehehehe.. Nona pasti masih sangat shock, ya?"
Perhatian Hiju teralih dan ia 'kembali ke dunia nyata'. Ia tersenyum. "I…iyaa.."
"Semuanya juga begitu. Gerbang yang tadi dinamakan Gerbang Penguji. Hutan ini, yang berada didalamnya merupakan kawasan pribadi keluarga Zaoldyeck. Mereka tinggal di puncak gunung yang ada didepan kita. Nona akan saya bawa ke kediaman para pelayan. Mike, anjing pribadi keluarga Zaoldyeck sudah menunggu disekitar situ."
"Hmm,, oke."
Suasana hening kembali.
"Oh ya, masalah gerbang tadi. Mengapa tidak ada kuncinya?" tanya Hiju dengan ekspresi penasaran.
"Gerbang itu adalah Gerbang Penguji. Gerbang itu dimaksudkan untuk menyeleksi siapa saja yang pantas dan yang tidak pantas untuk memasuki wilayah kediaman Zaoldyeck. Semua anggota keluarga Zaoldyeck dan para pelayan yang bekerja disini dapat membukanya. Saya sebagai petugas keamanan juga harus dapat membukanya karena itu adalah syarat utama mereka mau mempekerjakan saya walau hanya sebagai tukang bersih-bersih."
"Tukang bersih-bersih?"
Zeburo mengangguk. "Apa nona tadi melihat ada gerbang kecil didekat pos tempat saya membaca koran?"
Hiju mengingat-ingat. "Ah. Yang ada disisi gerbang itu, bukan?"
Zeburo mengangguk sambil tersenyum. "Benar. Itu adalah gerbang yang memang sengaja disiapkan oleh keluarga Zaoldyeck dan ada kuncinya. Profesi keluarga Zaoldyeck secara turun temurun adalah sebagai pembunuh bayaran profesional. Tidak heran jika mereka memiliki banyak sekali musuh. Gerbang kecil itu disiapkan untuk para musuh keluarga Zaoldyeck yang memang setiap hari datang kemari. Mereka umumnya mengira bahwa gerbang yang digunakan memiliki kunci. Padahal tidak. Gerbang yang sengaja dibuat dan mempunyai kunci bukanlah gerbang yang digunakan melainkan hanya jebakan saja. Gerbang yang barusan saya buka adalah gerbang sebenarnya yang digunakan."
"Begitu, ya. Benar-benar berbeda sekali dengan kehidupan orang biasa."
"Sudah beberapa tahun berlalu sejak terakhir kali tuan muda membawa temannya kemari. Hanya saja, mereka semua waktu itu laki-laki. Tuan muda berumur 12 tahun saat itu. Setelah beberapa tahun, kini tuan muda membawa teman lagi. Senang rasanya melihat tuan muda memiliki banyak teman dari luar sana."
Hiju sedikit terenyuh mendengarnya. Akan tetapi, kebingungan yang terus berputar dikepalanya tetap tidak bisa menghilang. Ia masih tidak mengerti mengapa dirinya bisa ada dikediaman Zaoldyeck jika ia benar-benar tidak mengenal satu pun anggota keluarga disana.
Setelah jalan selama hampir satu jam, akhirnya mereka tiba di kediaman para pelayan keluarga Zaoldyeck. Begitu Hiju dan Zeburo sampai, beberapa pelayan telah berdiri didepan mansion untuk menyambut.
"Gotoh-san, ini Nona Hiju, tamu tuan muda sekaligus dokter yang akan merawat Mike," ujar Zeburo pada Gotoh.
Gotoh dan keempat pelayan lainnya segera membungkukkan tubuh mereka untuk menghormati Hiju. "Selamat datang di kediaman kami, nona Hiju. Anggap saja mansion ini sebagai rumah anda sendiri selama anda tinggal disini. Segala keperluan yang menjadi kebutuhan nona akan kami penuhi. Mohon untuk tidak sungkan untuk meminta apapun dari kami," ujar Gotoh dengan senyum 'khas'nya.
Hiju makin gugup karena sambutan yang baru saja ia terima. "Eh, iyaa.. terima kasih banyak."
"Zeburo-san, tugasmu telah selesai. Selanjutnya, tugas kami untuk menyambut tamu tuan muda disini. Kau boleh melanjutkan tugasmu sekarang," ujar Gotoh pada Zeburo.
"Ya, baiklah. Saya permisi dulu. Selamat bekerja, nona Hiju," ujar Zeburo sambil membalikkan tubuhnya.
"Ahh,, terima kasih Zeburo-san."
"Sama-sama. Senang rasanya bisa melayani tamu dari tuan muda." Zeburo mengambil langkah menuju pos jaganya. Hiju memperhatikan Zeburo dari tempatnya berdiri. Entah mengapa sekarang ia merasa takut ditinggal Zeburo.
"Nona Hiju?" tiba-tiba Gotoh menyebut namanya.
"Eh, iya?"
"Anda pasti lelah karena perjalanan yang jauh. Mari saya antarkan anda menuju kamar yang telah kami persiapkan khusus untuk anda?"
"Hmm,, boleh tidak kalau aku lihat anjingnya terlebih dulu? Disambut dengan begitu baik disini membuatku merasa sangat canggung. Kurasa aku harus melakukan tugasku terlebih dulu, boleh kan?" Hiju bertanya sambil tersenyum.
Ekspresi Gotoh terlihat melunak. "Baiklah, akan saya temani anda untuk menemui Mike. Biar mereka yang membawa properti anda ke kamar."
Dari mansion itu, mereka berjalan ke arah tenggara sekitar sepuluh kilometer ke dalam hutan. Setelah sekitar 15 menit mereka berjalan, mereka sampai ditempat Mike berada.
"Ini dia nona Hiju : anjing kesayangan keluarga Zaoldyeck yang butuh penanganan medis dari anda. Namanya Mike," ujar Gotoh.
Hiju hanya terdiam begitu ia melihat Mike yang terbaring lemas tak berdaya di tanah dan dikurung dalam sebuah bangunan dengan dinding bebatuan. Disitu hanya ada tiga lampu besar di dinding kandang bagian atas yang menerangi seluruh bangunan itu. Akan tetapi, tiga lampu yang tersedia tidak mampu menerangi seluruh bagian kandang Mike. Luas dan tingginya kandang Mike membuat beberapa bagian dari bangunan tersebut tidak mendapatkan cahaya yang cukup. Karena pencahayaan yang kurang, Hiju khawatir ia tidak akan bisa melihat Mike pada malam hari. Tentu saja hal ini juga dapat mempengaruhi pekerjaannya. Karena saat itu siang hari, Hiju dapat melihat jelas bagaimana rupa dan ukuran Mike yang menakjubkan. Ia juga dapat memastikan kalau ia hanya dapat melakukan pekerjaannya pada siang hari saja.
"Besar sekali..Mike?" Hiju masih terpana. "Apa yang menjadi masalahnya?"
"Sejujurnya saya tidak begitu yakin untuk menceritakan gejalanya, tetapi saya mengira Mike mengalami masalah pada pencernaannya."
"Hmmm,, begitu ya. Aku hendak memeriksanya dulu. Dia gigit tidak?"
Gotoh tersenyum. "Ada saya disini, nona. Nona tidak perlu khawatir."
"Oke."
Dengan pelan Hiju menapakkan langkahnya sedikit demi sedikit mendekat Mike. Dalam benak Hiju, sebenarnya ia merasa sangat ketakutan. Anjing yang satu ini memang terlihat tidak berdaya tapi dia beraura monster.
Mike hanya bisa mengerang ketika Hiju membelai perutnya. Awalnya Hiju ragu dapat membuat Mike menjadi lebih tenang melalui belaian. Akan tetapi, keraguan itu dipatahkan saat ia melihat Mike yang semakin tenang karena dibelai.
Semakin lama semakin pudar rasa takut Hiju terhadap Mike. Monster dimatanya pada beberapa detik yang lalu kini telah berubah menjadi seekor anjing manis yang biasa ia temui. Hiju mulai mengeluarkan semua perlengkapannya untuk memeriksa tubuh Mike. Setelah beberapa menit, berlalu, Hiju membereskan perlengkapannya lagi.
"Bagaimana, nona?" tanya Gotoh.
"Sepertinya dia mengalami usus buntu. Permasalahannya sekarang, aku masih belum mendapatkan ide untuk metode operasi yang tepat. Maksudku, selama ini aku hanya melakukan operasi medis pada anjing peliharaan biasa, belum pernah pada yang sebesar ini. Akan tetapi, anjing tetaplah anjing. Aku pasti akan mendapatkan metode yang tepat malam ini sehingga operasi dapat dijalankan secepat mungkin," ujar Hiju dengan optimis.
Gotoh tersenyum. "Baiklah, anda pasti sangat kelelahan. Istirahat akan sangat membantu anda. Oh ya, mulai nanti malam dan seterusnya saya akan membawakan makan malam dan sarapa untuk anda ke kamar. Untuk hal-hal lain, mohon jangan sungkan untuk memberitahu saya mengenai kebutuhan anda selama disini."
"Baiklah, terima kasih." Hiju tersenyum ramah.
Dua jam kemudian, Killua sampai dirumah. Tidak ada yang tampak berbeda baginya. Setelah mendapat laporan dari Gotoh mengenai keadaan 'tamu normal'nya sore tadi, Killua berkunjung ke kastil dimana seluruh anggota keluarganya berkumpul.
Killua masih terus berjalan mengarungi lorong-lorong di kastil itu saat ia melihat Illumi bersandar ke tembok sambil melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Malam, kakak," sapa Killua pada Illumi, kakak pertamanya itu.
"Hai, Killu. Sudah lama sekali, ya?" Illumi berjalan mendekati adiknya. "Ku dengar ada temanmu yang lain lagi ya disini?"
"Ah," jawab Killua dengan dingin.
"Jika Mike tidak sakit, mungkin ia sudah membunuh temanmu itu. Ayah dan ibu bersyukur sekali. Mereka senang kau mendapatkan orang terbaik yang mampu menyembuhkan Mike. Itu tandanya Mike akan sembuh, bukan? Jika ia sudah selesai melaksanakan tugasnya, maka giliranku untuk membereskannya," Illumi bicara dengan datar.
"Kakak, kalau kau sampai menyentuhnya sedikitpun, aku tidak akan segan-segan untuk bertarung melawanmu," aura kegelapan Killua menyeruak. Mata tajamnya memandangi Illumi dengan penuh kemarahan.
"Wah, wah Killu. Gertakanmu sudah semakin bagus, ya? Kau seharusnya jangan sampai seemosi itu. Aku hanya bercanda. Orang normal seperti dia tidak akan sangat berarti jika aku bunuh. Kau seharusnya lebih khawatir pada ibu. Setidaknya, antara kau dan perempuan itu tidak ada hubungan selain teman, bukan? Ibu pasti akan lebih nekad jika perempuan itu spesial dimatamu. Ingat Killu, kau adalah bagian dari keluarga pembunuh, tidak peduli seberapa besar kau menyangkalnya. Kau adalah bagian dari kita. Jika kau mengambil orang biasa untuk masuk menjadi anggota keluarga kita, ibu tidak akan diam." Illumi memperhatikan gerak - gerik adiknya sepanjang ia mengingatkan pada Killu akan salah satu peraturan keluarga Zaoldyeck. Killu hanya diam.
I know and I believe in love at first sight.
When I open my eyes in the morning I can feel
the kiss that left me in last night's dream.
That feeling is still there and I smile all day thinking about you.
"Aku mengerti peraturan itu, kakak."
"Hmm, syukurlah. Ngomong-ngomong, Kalluto tadi bicara denganku mengenai temanmu itu. Ia memperhatikan saat temanmu memeriksa Mike. Kata Kalluto dia cantik. Jangan sampai tertarik padanya, ya?"
Illumi berhenti bicara dan meninggalkan adiknya yang masih terdiam menunduk.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Hiju masih terjaga memikirkan metode operasi yang tepat untuk Mike. Di meja -pada kamar besar untuknya sekarang- Hiju masih terus berfikir, baik mengenai Mike maupun orang yang telah membawanya kemari. Ia benar-benar tidak berhenti memikirkan siapa orangnya.
Malam semakin larut, ia masih berada di meja. Detik-detik suara jam yang ada didekatnya tetap membuat ia terjaga. Tiba-tiba saat itu,,
Ia merasa ada sesuatu yang hadir di dekatnya dan itu berada di luar jendela. Hiju mencoba memastikannya dengan melangkah ke arah jendela dan melihat ke sekeliling di luar.
'Tidak ada apa-apa,' pikirnya.
Ia mencoba memberanikan diri untuk membuka jendela tersebut dan berjalan ke balkon. Ia melihat ke sekeliling lagi. Berhubung ia ada di lantai tiga, Hiju juga memastikan bahwa tidak ada seorang pun dibawah sana.
"Woi,woi.."
Suara itu mengagetkan Hiju. Ia menoleh ke belakang.
Di belakangnya, berdiri Killua dengan posisi santai menyadarkan dirinya ke tembok. Dia tersenyum cool. "Hai, sudah lama, ya?" sapanya pada Hiju.
I am going to believe that it's you
Will you come to me
I want to be just a little closer to your embrace
Oh I love you my love
I'm always going to be this way
Hiju menatap Killua dengan seksama dari posisinya berdiri.
"Kenapa? Kau tidak menyangka ya kalau aku sekaya ini? Hahaha…"
"..Kau siapa?" pertanyaan datar Hiju mendiamkan Killua. Ia agak kesal karena tidak diingat.
"Woi! AKu ini Killua! Beberapa minggu yang lalu kita pernah bertemu di York Shin! Aku menolongmu dari para pemabuk disebuah jalan kecil! Masa kau lupa?!" Killua bicara sembari mendatangi Hiju.
Hiju nampak datar dan berfikir. "Hmmm… benarkah? Aku tidak ingat. Kenapa aku ditolong dari pemabuk?"
Killua makin kesal. "Kau ini..! Hari itu kau membantu seorang kakek-kakek dengan peliharaannya! Lalu saat kau pulang hari sudah malam! Karena kau berjalan sendirian dan entah sedang memikirkan apa, kau akhirnya sampai disebuah jalan yang sepi dan gelap dimana ada segerombolan pemabuk sedang bersarang disana! Kau yang tertangkap perha….," Killua berhenti bicara saat ia melihat perempuan dihadapannya tersenyum malu-malu lalu tertawa dengan terbahak-bahak sambil menutup mulutnya. Killua hanya terdiam heran memandangi gadis itu.
"Apanya yang lucu, hah?!" Killua merasa tersinggung. Ia yakin Hiju menertawainya.
Hiju masih tertawa terbahak-bahak. Butuh beberapa detik baginya untuk menenangkan diri dan bicara. "Maaf, bukan maksudku untuk memotong pembicaraanmu. Tapi apa kau sadar kalau kau benar-benar lucu?" Hiju bertanya pada Killua.
Killua jadi malu mendengarnya. Untuk menutupi rasa malunya, ia bicara dengan nada yang lebih kencang. "Ma..maksudmu apa?!"
Hiju tersenyum manis. Eye smilenya mampu 'membunuh' Killua saat itu. Killua menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sejujurnya aku tidak ingat apapun mengenai pertemuan di York Shin seperti yang telah kau ceritakan barusan. Tapi melihatmu menceritakannya ulang : nada bicaramu dan gerakan tubuhmu saat menceritakannya. Kau tahu? Aku menyukainya. "
Hiju tersenyum dengan eye smilenya lagi. Kali ini Killua blushing dibuatnya.
Hiju melanjutkan kalimatnya. "Kau sangat lucu. Itu alasannya kenapa aku tidak bisa berhenti tertawa. Tapi bagaimanapun, maaf karena aku benar-benar lupa soal pertemuanku denganmu. Aku tidak bisa mengingatnya, memang itulah kelemahanku. Maaf ya, Killua?"
Killua hanya diam di tempatnya berdiri sambil melihat ke arah lain. Ia terdiam malu dan tidak sanggup melihat ke arah Hiju. Ia mengepal tangannya kuat-kuat. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat itu selain rasa malu. Malu yang ia rasakan membuat jantungnya berdebar dengan cepat. Anehnya, rasa malu itu tidak mampu membuatnya marah atau membenci Hiju yang masih tersenyum manis menatapnya. Ingin rasanya ia menyangkal perasaan itu. Akan tetapi, disisi lain ia tidak mau menyangkalnya.
"Sial!" karena tidak kuat dengan perasaannya, Killu melompat dari balkon itu dan berlari dengan cepat menjauhi Hiju. Meninggalkan Hiju yang bingung dengan tingkah Killua.
Then and now those words still make my heart race,you love me.
I wait but am afraid that this feeling of emptiness might just be my own selfishness.
Even if I'm afraid of lonliness, I genuinely want you.
Super Junior – So I
