Holaaa~.. Ini dia chapter tiga dari kelanjutan fic-ini yang makin menjadi sinetron daripada sekedar fic.. =_=

Untuk yang udah review, thank you ya karena udah ngasi motivasi buat terus upload cerita ini.. Sejujurnya saya masih bingung soal rate cerita ini karena sebenarnya di fic ini ada adegan XXX nya.. *terdakwanya bukan Killua kok.. ada yang bisa kasih ide? ._.v

WARNING : Chapter ini kepanjangan.. :V

Cr : 2PM - Give It To Me & DBSK - Hug

..

..

ENJOYY..


Esok paginya -setelah sarapan pagi-, Gotoh mengantar Hiju untuk berkunjung ke kandang Mike. Di tengah jalan, mereka dihalangi oleh Killua yang berdiri menyandar ke pohon sambil melipat kedua tangan didepan dadanya.

Killua menengok ke samping –arah dimana Gotoh dan Hiju berada-.

"Gotoh, bisa tolong tinggalkan kami berdua? Biar aku saja yang mengantarnya ke kandang Mike." pinta Killua dengan tegas.

"Baik, tuan muda." Gotoh membungkukkan tubuhnya.

Hiju terhenyak saat mendengar Gotoh memanggil Killua 'tuan muda'. "Tu…tuan muda?!"

"Saya permisi dulu, nona Hiju. Tuan muda Killua akan mengantar anda ke kandang Mike. Selamat bekerja." Gotoh membungkukkan tubuhnya dan pergi.

Kini tinggal Hiju dan Killua. Didepan Hiju, Killua masih dengan ekspresi malu-malu kesal. Ia juga tidak mau melihat ke arah Hiju. Sementara Hiju yang masih terkejut (karena dia berdiri dihadapan tuan muda) mendadak merasa canggung. Suasana begitu sunyi, tidak ada satu pun yang bicara. Saat Killua mencoba menatap ke arah Hiju, ia mendapati Hiju tersenyum manis kepadanya. Killua blushing.

"Ayo, aku antar kau," ujar Killua seraya membalikkan tubuhnya.

"Killua-san?"

Killua menoleh ke arah Hiju dengan ragu-ragu. Ia melihat Hiju yang nampak menyesal dan canggung saat itu dari tempatnya berdiri sekarang.

"Apa tidak apa-apa?"

Killua terheran. "Apa maksudmu?"

"Semalam aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkanmu."

"Eh?!" wajah Killua jadi memerah seluruhnya.

"Aku merasa bersalah karena aku tidak bisa mengingat hari dimana kau dan aku bertemu di York Shin. Daya ingatku mengenai seseorang memang lemah. Tak jarang aku dimusuhi banyak orang karena ini. Mereka berfikir aku orang yang tidak pernah menghargai orang lain. Aku percaya kalau kita pernah bertemu sebelumnya karena kau yang bilang begitu. Aku yakin aku yang salah karena aku lupa mengingatmu. Jujur, aku sangat senang sekarang karena kau mau menemaniku. Itu artinya kau masih mau berbicara atau melihatku," ujar Hiju dengan eye smilenya.

Killua menatap Hiju dengan wajah merah padam. Entah mengapa ia jadi merasa takut berhadapan dengan Hiju. 'Ada apa ini? kenapa aku jadi segugup ini?' tanya Killua dalam hati.

"Iya, tidak apa-apa. Anggap saja pertemuan kita di balkon semalam adalah pertemuan kita yang pertama."

"Emh! Baiklah!" Hiju tersenyum dan mengangguk senang. Mendadak Hiju ingat sesuatu. "Oh iya? Apakah Killua-san yang memintaku kemari untuk mengobati Mike?"

Killua masih tidak mau memandang Hiju. "Iya," jawabnya singkat.

"Oh, begitu." Hiju melangkahkan kakinya mendekati Killua. Kini mereka saling berhadapan. Hiju yang lebih pendek dari Killua mendongak ke atas untuk memperhatikan wajah Killua. Killua jadi merasa aneh.

"Kau kenapa sih?! Dasar aneh! Sudahlah, ayo kita ke kandang Mike! Kasihan dia sudah menunggu!"


Begitu sampai di kandang, Hiju segera melakukan operasi pada Mike. Mike cukup penurut saat itu. Dengan adanya bantuan dari Killua yang terus berada disampingnya, Hiju sukses melaksanakan operasi pada Mike selama hampir dua setengah jam beserta prosedur penjahitan luka.

"Operasinya sudah beres. Sekarang tinggal menunggu reaksinya ke depan. Mungkin aku akan disini selama beberapa hari untuk memantau keadaannya. Sekarang dia masih lemah karena pengaruh operasi. Untuk makanan, sebaiknya berikan ia makanan yang mudah dicerna."

"Syukurlah~..," ujar Killua sambil tersenyum cool.

Hiju tersenyum memandangi Killua.

Killua sadar dirinya diperhatikan. "Hmm? Ada apa?"

"Kau manis sekali saat tersenyum," ujar Hiju.

Killua jadi diam. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hentikan, ah!"

"Eh? Killua-san tidak suka dipuji, ya?"

"Jangan memanggilku dengan akhiran-san! Bukan begitu, aku… malu…," Killua masih tidak berani melihat ke arah Hiju.

"Kenapa harus malu? Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu aku lancang bicara seperti ini, tapi bagiku, Killua tidak tampak seperti pembunuh."

"Tentu saja! Aku sudah tidak membunuh lagi sejak lama! Aku sudah berhenti!"

"Tapi Killua-san berbeda."

"Apa?"

"Semalam saat aku melihat Killua-san, yang aku lihat bukanlah seorang anggota keluarga pembunuh atau pun mantan pembunuh. Aku hanya melihat orang biasa, orang yang sepertinya tidak ditakdirkan menjadi pembunuh dan tidak akan pernah membunuh. Kalau boleh jujur, awalnya aku takut saat menginjak tanah keluarga Zaoldyeck ini. Bagaimana pun juga, aku ada di kediaman pembunuh bayaran profesional. Secara garis besar, aku takut akan mengecewakan disini. Tapi setelah bertemu denganmu semalam, aku merasa aku akan baik-baik saja." Hiju bicara sambil menunduk.

Killua terdiam memandangi Hiju. Ada sedikit perasaan tersentuh dihatinya. Saat itu, Hiju mengingatkannya akan sosok Gon. Gon lah orang pertama yang mengatakan bahwa Killua bukan seorang pembunuh. Kali ini, ia mendengarkan hal yang sama lagi dari mulut orang yang berbeda setelah beberapa bulan ia berpisah dari Gon. Entah mengapa ada perasaan hangat dalam diri Killua saat itu. Perasaan itu selalu mengalir setiap kali ada yang mengatakan kalau ia bukanlah pembunuh. Tapi ada yang berbeda kali ini. Hangat yang ia rasakan begitu spesial. Sama spesialnya dengan pemberian dari Gon, tapi lebih menyenangkan.


Malamnya, Hiju tidak bisa tidur lagi. Sudah sekitar dua jam ia terus membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang agar bisa tidur tapi hasilnya nihil. Dengan asumsi ia belum merasa lelah, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di dekat kediaman pelayan.

Setelah berjalan beberapa langkah, Hiju menemukan pohon tua yang mungkin sudah berusia lebih dari seratus tahun. Melihat akar-akarnya yang kokoh, Hiju tertarik untuk berdiam diri sebentar disana. Dari tempat ia duduk ia dapat melihat bagian bawah mansion kediaman pelayan. Ditempat itu juga Hiju dapat memandangi langit yang nyatanya begitu luas. Banyak sekali bintang bertebaran yang ia lihat saat itu. Tak henti-hentinya Hiju mengucapkan kata kagum pada indahnya pemandangan yang ia lihat.

"Sedang apa?" suara itu tiba-tiba mengejutkan Hiju. Ia menoleh ke arah kiri maupun kanan dan tidak menemukan siapapun disana.

"Diatas sini." Suara itu muncul lagi. Kali ini Hiju pelan-pelan mendongakkan kepalanya. Saat ia melihat ke atas, "Killua-san?"

Killua yang sedang duduk diranting pohon melompat turun dan mendekati Hiju. "Kan sudah kubilang : jangan panggil aku dengan akhiran-san!" Killua nampak kesal.

"Ha..habis, kau kan tuan muda disini. Tidak enak rasanya jika tidak memanggilmu dengan akhiran-san," ujar Hiju.

"Hhhh~.. umurmu berapa?"

"Delapan Juli nanti aku akan berumur sembilan belas tahun,"

Mata Killua terbelalak. "Sembilan belas tahun?!"

"Kenapa?" Hiju memandang dengan tatapan agak tersinggung.

"Aku juga. Aku juga akan berumur sembilan belas tahun, pada tanggal tujuh Juli."

"Hee? Jadi selisih umur kita cuma sehari?!"

Keduanya sama-sama terkejut. Tiga detik kemudian mereka berdua tertawa bersama-sama. Setelahnya, Killua mengambil duduk disamping Hiju.

"Hebat juga kau. Umur sembilan belas tahun sudah menjadi dokter hewan!"

"Ah? Sebenarnya Rozu yang mengajariku menjadi dokter hewan. Jika yang kau maksud adalah dokter hewan yang memiliki sejarah pendidikan, kau salah. Aku tidak pernah sekolah kedokteran atau apapun. Rozu yang mengajarkanku semuanya."

"Rozu?"

"Iya. Dia membawaku sejak kecil ke York Shin. Masa kecilku kurang baik. Saat dia menemukanku pada umur sembilan tahun, dia membawaku ke York Shin. Dia mengajariku segalanya mengenai ilmu medis untuk para hewan. Walaupun terkesan kasar, jahat dan acuh, sebenarnya aku tahu kalau dia orang yang baik. Dia bahkan sudah aku anggap sebagai kakekku sendiri. Jika tidak ada dia, entah bagaimana nasibku selanjutnya."

Melihat Hiju yang bercerita panjang lebar, Killua jadi tertarik untuk berbagi ceritanya juga.

"Sama. Masa kecilku juga bisa dibilang tidak normal. Aku lahir dari keluarga ini. Masa kecilku dihabiskan dengan latihan membunuh. Pada umur dua belas tahun aku merasa jenuh sekali. Saat itu aku mendengar mengenai Ujian Hunter. Banyak sumber yang mengatakan kalau ujian itu sulit. Bagiku itu sangat menarik! Karena itu aku putuskan untuk mengikuti Ujian Hunter agar rasa jenuhku itu hilang. Aku bersyukur sekali karena aku mengikutinya. Di ujian itu aku bertemu dengan Gon, dia teman baikku yang agak bodoh dan tidak pernah berfikir panjang mengenai apapun. Gon adalah sahabat pertamaku. Dia mampu membuatku melihat dunia secara normal. Kita sudah melakukan banyak hal bersama-sama. Aku jadi belajar banyak hal mengenai dunia ini darinya dan…." Killua berhenti bicara saat ia menangkap Hiju sedang asyik mendengarkan ceritanya. Mata dan senyum dari gadis disampingnya sanggup membuat Killua lupa apa kata-kata selanjutnya.

"Ke..kenapa?" Killua bertanya gugup dibarengi dengan kemerahan pada mukanya.

"Tidak apa-apa. Hanya saja saat Killua tadi bercerita mengenai teman yang bernama Gon, mata Killua terlihat sangat bercahaya. Bagus sekali. Sepertinya Gon adalah orang yang sangat berarti bagi Killua, ya?"

"Iya. Dia adalah temanku yang sangat berarti. Dia sangat-sangat baik pada semuanya. Kau tahu? Dia bahkan rela menjadi sandera Genei Ryodan demi melindungi teman kami yang lain."

"Ge.. Genei Ryodan? Kapan?"

"Iya, Genei Ryodan. Kelompok perampok dan pembunuh yang terkenal itu. Itu sudah berlalu sekitar tujuh tahun yang lalu."

"Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana bisa kau berhadapan dengan mereka?"

"Panjang ceritanya." Killua memperhatikan raut wajah Hiju yang kelihatan tegang dan penasaran. "Kau kenapa?"

"Apa kau bertemu Feitan saat itu?"

Killua mengerutkan alisnya. "Iya. Memangnya kenapa? Kau tahu Feitan?"

Mendengar itu, Hiju tampak senang sekali. "Benarkah?! Bagaimana dia saat itu?!"

"Maksudmu apa dengan 'bagaimana'? Yaaa… begitulah. Aku rasa dia bukan tipe orang yang susah mati. Ada apa sih memangnya? Kau mengenal Feitan juga?"

Hiju menenangkan dirinya. Setelah dia cukup tenang ia kembali melihat bintang yang ada dilangit lalu menoleh lagi ke arah Killua. "Tidak hanya sekedar mengenalnya. Dia itu cinta pertamaku."

Mendengar itu Killua kaget setengah mati. "APAAAA?! SI PENDEK ITU CINTA PERTAMAMU?!"

Hiju nampak kesal karena Feitan dibilang pendek. "MEMANGNYA KENAPA KALAU PENDEK, HAH?!"

Killua masih ingat betul bagaimana penampilan Feitan saat bertemu : pakaian ala bandit, mata sipit tajam, aura sadis, tubuh pendek, psikopat. Jika ia melihat Hiju yang ada didepannya, ia dapat menggambarkan bahwa Hiju adalah perempuan yang hidup normal, pintar, manis dan apa adanya. Killua merasa mereka tidak cocok satu sama lain. Saling mengenal pun rasanya tidak mungkin.

"Selera tipe cowokmu jelek sekali, ya?"

"JANGAN MENGATAKAN APAPUN TENTANG FEITAN, YA?!"

Hiju diam sebentar. "Walaupun begitu, dia juga telah membuatku hidup."

"Hmm?" Killua melirik ke arah Hiju tanda ia tertarik dengan kata-kata perempuan itu.

"Aku lahir di Meteor City. Kau tahu kan kota macam apa itu? Aku berumur lima tahun saat aku kehilangan ayahku. Tujuh bulan kemudian aku kehilangan ibuku. Aku anak tunggal, jadi aku sendirian begitu mereka tidak ada. Aku juga tidak punya teman. Saat itu, Feitan adalah satu-satunya orang yang mau menemaniku. Awalnya aku menganggap dia sebagai kakak yang baik. Setelah beberapa bulan aku baru sadar kalau aku tidak menganggapnya sebagai kakak, tapi lebih. Aku sangat mengaguminya! Dia pekerja keras, baik hati, ramah dan bersedia untuk menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya."

'Beda sekali gambarannya dengan yang aku temui,' ujar Killua dalam hati. Feitan yang ada dikepalanya sungguh berbeda dengan yang diceritakan Hiju. Killua memotong cerita Hiju sebab ada yang tidak masuk akal baginya. "Woi..woi, apa kau tidak salah orang? Aku pernah berhadapan dengan Feitan dari Genei Ryodan dan dia sangat jauh berbeda dengan yang kau ceritakan barusan! Yang aku tahu dia itu sadis, menyeramkan dan seperti antisosial! Bagaimana bisa kau menyukai cowok seperti itu?!"

Hiju memandang Killua dengan tatapan yang sendu. Matanya layu dan senyum yang tersungging dibibirnya begitu minim.

"Ya. Ini sudah beberapa tahun berlalu. Aku tidak akan menyalahkanmu karena kau bertemu Feitan yang berbeda dengan yang aku temui sebelumnya. Feitan orang yang baik saat aku bertemu dengannya. Suatu hari, Kuroro datang. Feitan sangat mengagumi Kuroro. Hanya dalam waktu beberapa hari, Feitan secara resmi telah menjadi salah satu dari kaki tangan Kuroro. Kuroro adalah sosok pemimpin yang tepat baginya. Feitan bahkan mengatakan untuk pergi saat itu bersama Kuroro dan yang lain. Ia juga berharap kalau aku akan ikut dengannya. Demi dia saat itu, aku belajar nen pada saat umur enam tahun dan berhasil menguasainya menjelang tujuh tahun. Aku menguasai tipe Gugenka dan panah adalah senjataku saat itu. Umur tujuh tahun, aku menjadi anggota Genei Ryodan nomor delapan."

"Ka..Kau? Genei Ryodan?!"

Hiju mengangguk mantap. "Tapi itu tidak lama. Aku bergabung dengan Ryodan hanya sekitar dua tahun. Saat itu Ryodan belum sehebat yang sekarang. Kami masih sangat amatir saat itu dan menguasai nen seratus persen adalah fokus kami yang utama."

"Lalu kenapa kau tidak bersama mereka lagi?"

"Aku bergabung saat aku masih sangat kecil. Aku bahkan tidak tahu apa tujuan Ryodan saat itu. Aku hanya tidak mau berpisah dari Feitan, itu saja. Feitan juga bilang kalau aku dapat menemukan pembunuh mama-papa jika aku bergabung dengan Ryodan. Kenyataannya, aku memang bertemu dengan siapa yang membunuh mereka. Saat aku keluar dari Ryodan, aku telah berhasil membunuh pembunuh orang tua ku."

Killua jadi terhanyut dengan cerita dari Hiju. Hiju melanjutkan, "Entah mengapa aku menjadi merasa tidak berarti. Harusnya aku senang saat itu, tapi tidak. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk bicara pada Kuroro kalau aku belum siap menjadi anggota Ryodan. Kuroro tentu sulit menerima hal ini. Agar bisa keluar, aku merelakan ia untuk mengambil kemampuan nen ku tanpa tersisa sama sekali."

Suasana semakin malam. Hiju melanjutkan kalimat-kalimatnya. "Waktu itu aku masih tidak mengerti betapa pentingnya nen yang kau punya. Setelah Kuroro mengambil semua nen milikku, Ryodan meninggalkanku sendirian di tengah padang pasir, tepat dipinggir York Shin. Setelah dua hari berjalan tanpa tahu tujuan, tanpa makan, tanpa minum, akhirnya aku menyerah. Kurasa waktu itu aku pingsan. Saat aku terbangun, aku melihat wajah Rozu ada diatasku dan aku terbaring di rumahnya. Rozu menolongku. Sejak saat itu aku dan Rozu tinggal bersama. Aku membantu mewujudkan cita-citanya dan alasan mengapa ia menjadi seorang Hunter, hingga saat ini." Mata Hiju terlihat berkilauan sekali malam itu walaupun raut wajahnya terlihat sedih

Killua memperhatikan Hiju dengan seksama. "Lalu, saat kau keluar, bagaimana dengan Feitan?"

Hiju melirik ke arah Killua sedikit. "Dia membiarkanku. Feitan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia ikut dengan Ryodan dan tidak bicara apapun."

"Tuh kan! Apa aku bilang?! Dia itu cowok yang jahat! Masa dia lebih memilih Ryodan daripada kau…!"

Hiju memotong kata-kata Killua. "KAU SALAH!"

Killua terdiam.

"Feitan memang tidak bicara apapun lagi setelah Kuroro berhasil menghapus nen dari tubuhku. Tapi dia yang telah menguatkanku untuk keluar dari Ryodan..

Feitan : "Maaf, aku telah membuatmu jadi terpaksa seperti ini. Sejujurnya aku masih tidak bisa memilih antara kau atau Kuroro. Aku tidak ingin lagi tinggal di Kota Meteor dan aku tidak mau menjadi orang yang lemah seperti orang tua kita dulu. Keluarlah jika itu yang kau inginkan. Aku juga tidak ingin kau mati karena kau menjadi Ryodan. Suatu saat, aku akan menemuimu lagi."

Killua berdiri. Ia mengepal kedua tangannya. Dari ekspresi wajahnya, Hiju tahu kalau ia sedang menahan emosi. Sayangnya, Hiju tidak mengerti mengapa Killua emosi. "Terserah apa katamu sajalah! Bagiku, Feitan tetap bukanlah sosok yang baik! Ia jelas telah salah membawamu masuk ke Ryodan dan melemparmu begitu saja! Mana tanggung jawabnya?! Jika ia ingin kuat, bukan berarti ia bergabung dengan organisasi seperti Ryodan dan meninggalkanmu sehingga kau hampir mati! Kau masih menganggapnya teman? Dimana akal sehatmu, hah?! Teman sejati itu tidak akan meninggalkanmu!"

"Kau juga lupa satu hal yang penting! Teman sejati itu akan mendukung apapun keputusanmu! Kau lupa ya kalau dia lebih memilih untuk melihatku hidup tapi berada diluar Ryodan daripada mati dalam Ryodan!"

Killua makin kesal mendengar self defense dari Hiju. "Ya sudahlah! Aku tidak akan peduli denganmu lagi! Kau benar-benar membuatku muak!" Killua segera pergi dari tempat itu begitu ia menyelesaikan kata-katanya tanpa sempat Hiju membalas. Hiju sendiri kembali ke mansion dengan kesal dan segera menuju ke kamarnya.


Esok harinya Hiju kembali ke kandang Mike untuk melihat keadaannya pascaoperasi. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit disana, Hiju berjalan menuju kediaman tukang kebun dekat sungai. Kali ini ia ditemani Zeburo. Hari itu Hiju berencana untuk membantu Seaquant membuatkan makanan yang tepat untuk Mike. Saat mereka baru setengah jalan, Hiju bertemu dengan ibu dari Killua dan ada Kalluto disampingnya. Mereka berdua diam memandang Hiju.

Berbeda dengan Zeburo yang langsung membungkukkan tubuhnya, Hiju terus memandangi balik dua orang anggota keluarga Zaoldyeck dihadapannya.

"Jadi kau dokter hewan itu? Marsh Hiju?" tanya ibu Killua.

"Iya," jawab Hiju singkat.

"Hmm.. BERANI SEKALI KAU MEMBENTAK ANAKKU, KILLUA SEMALAM! KAU PIKIR KAU INI SIAPA, HAH?!"

Saat itu juga, ibu dari Killua segera mengeluarkan tembakan yang berasal dari kipasnya menuju Hiju. Ketika tembakan itu hanya berjarak 1,5 cm dari wajah Hiju, tiba-tiba ada tangan yang menghalangi tembakan tersebut agar tidak mengenainya. Tangan itu memukul tembakan yang baru saja dilontarkan tanpa senjata sama sekali.

"Sudah kubilang, bu. Jangan mengganggunya."

Hiju cukup terkejut saat melihat Killua berdiri didepannya, melindunginya.

"Killu, kau ini kenapa?! Orang biasa itu sudah bertindak kurang ajar! Tugas dia hanya untuk mengurus Mike! Bukannya malah duduk dan mengobrol!"

"Aku yang mengajaknya mengobrol! Aku yang membawa dia kemari dan itu berarti dia tamuku! Kalau ibu berulah lagi, aku tidak akan main-main." Mata Killua berubah tajam. Kalluto hanya terdiam melihat ekspresi kakaknya sementara Kikyo sangat kesal.

"Terserah kau saja! Ayo, Kalluto? Kita pergi dari sini!" Kikyo dan Kalluto meninggalkan Killua, Zeburo dan Hiju dengan cepat. Suasana masih tegang dan Killua belum bisa menenangkan dirinya.

"Zeburo-san?"

"I…iya tuan?"

"Pergilah. Biar aku yang menemani Hiju mengurusi urusannya," ujar Killua dingin.

"Baik, tuan." Zeburo membungkukkan tubuhnya dan mengundurkan diri.

"Killu?" tiba-tiba ada satu tangan yang menepuk bahu Killua.

"Eh?" Killua melirik ke belakang. Dibelakangnya, Hiju tersenyum ragu-ragu dengan satu tangannya yang ada dibahu Killu.

"Terima kasih dan.. maaf, sudah membuatmu bertengkar dengan ibumu."

"Sudah, tidak apa-apa. Lagipula aku yang membawamu kemari jadi aku yang harus bertanggungjawab."

Hiju tersenyum dan Killua blushing melihatnya.

"Woi, bisa tidak jangan senyum seperti itu?" Killua tidak mau memandang ke arah Hiju.

"Kenapa?"

Killua terdiam sejenak, bingung bagaimana harus menjawabnya. "Kau,, membuatku malu, tahu!"

Hiju hanya tersenyum saat mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Killua. Tanpa disadari, Hiju juga blushing.


Malamnya, beberapa meter didepan kandang Mike, diatas sebuah bukit kecil.

"Jadi, berapa lama lagi?" tanya Killua.

"Hmm?"

"Mike. Kapan dia sembuh?"

"Ohh,, kurasa sekitar satu minggu. Dia memiliki tubuh yang sangat besar, kemungkinan sembuh dalam waktu singkat juga akan sangat besar."

"Oh, begitu. Jadi, apa yang mau kau lakukan setelah keluar dari sini?" tanya Killua sambil sesekali melirik ke arah Hiju yang duduk disampingnya, memperhatikan rambut panjang bergelombang milik gadis itu.

"Hmm? Tentu saja aku akan kembali ke York Shin. Aku akan menceritakan Mike pada Rozu. Dia pasti akan sangat penasaran pada Mike." Hiju tersenyum sembari memperhatikan Mike yang tertidur dari jauh.

"Hiju?" Killua mengucapkan namanya dengan nada yang dalam.

"Ya?"

Killua terdiam sejenak. "Apa kau menyukai saat-saat bersamaku?"

Wajah Hiju mendadak merah seketika. Ia berubah menjadi gugup dan jadi salah tingkah. "Ehh? Apa maksudmu?! I…itu kan tidak perlu dipertanyakan. Lagipula.. antara kau dan aku kan seperti klien.. dan.. aku…"

"Hahahhahahahahahahahahaha!"

Suara tertawa Killua yang kencang menghentikan dialog Hiju yang masih gugup saat itu. Didepan matanya, ia dapat melihat Killua yang tertawa puas sambil memegang perutnya.

"Kau menyukaiku, ya? Wajahmu memerah tuh~! Ayo akui saja~!" goda Killua.

Hiju yang malu tanpa ragu-ragu segera menjitak kepala Killua. "Tidak ya! Aku hanya terkejut kau mengatakan hal seperti itu! Lagipula sepertinya kau yang menyukaiku! Sudah berkali-kali marah, tetap saja kau mendatangiku!"

Kali ini wajah Killua yang memerah. "Enak saja! Aku ini hanya berperilaku baik sebagai tuan rumah pada tamu! Kalau aku tidak datang, kau sudah jadi kornet tadi!"

"Terus apa masalahmu? Kau kan tidak menyukaiku!"

"I…ituu kaann…" wajah Killua makin merah.

"Nah lhoo~… merah tuh mukanya~!" wajah Hiju berubah seperti rubah.

"Diam ah!" Killua makin malu saat mengetahuinya.

Killua dan Hiju terus ribut sepanjang malam. Tanpa mereka sadari, didekat mereka Kalluto sedang memperhatikan. Ditempat lain, Gotoh dapat mendengar percakapan antara Killua dan Hiju. Gotoh tersenyum kecut setiap kali ia mendengarkan suara Killua. Ia tahu, kalau sebentar lagi Killua akan keluar dari kediaman Zaoldyeck dan mungkin tidak akan kembali lagi.


Sudah lewat tengah malam, Killua berjalan dengan santai didalam rumahnya. Ia tersenyum disetiap langkah yang ia pijak. Senyum itu adalah senyum yang sudah lama sekali ia tidak tunjukkan, senyum yang selalu hanya dapat ia tunjukkan setiap kali ia bersyukur dapat bertemu dengan Gon. Killua bahkan tidak menyangka kalau ia akan tersenyum seperti itu lagi secepat ini.

"Killu?"

Suara itu membuyarkan senyum Killua.

"Silva menunggumu," ujar Zeno Zaoldyeck, kakek dari Killua.

Killua sempat terdiam untuk memikirkan apa alasan ayahnya untuk memanggil dirinya pada tengah malam seperti saat itu. "Baiklah, kek."

Di kamar Silva :

"Killu?"

"Ya, ayah?" sahut Killua dengan sedikit gugup.

"Katanya kau melawan ibu lagi?"

Killua menganggukkan kepalanya pelan-pelan.

"Kenapa?" tanya Silva pada Killu yang duduk disampingnya.

"Aku… aku hanya tidak ingin Hiju terluka. Dia telah kubawa kemari jadi aku harus bertanggungjawab untuk menjaganya," jawab Killu dengan penuh ragu-ragu.

"Kau melindunginya, ya? Apa kau menyukai dia?"

Killu terkejut mendengar ayahnya bertanya seperti itu. "Ti..tidak. Aku hanya merasa bertanggungjawab atas keselamatannya. Itu saja."

Silva terdiam sejenak. "Kau yakin kau tidak menyukainya?"

Killua malu untuk mengakui bahwa dirinya menyukai Hiju. Selain itu, ia juga takut apabila ia mengatakan hal yang sebenarnya, Hiju akan terancam.

Silva hanya tersenyum. "Sudah kuduga. Kau memang menyukai gadis itu."

Killua jadi terpaku. Saat itu ia tidak mungkin untuk berbohong lagi. "Mungkin."

Silva jadi tertawa. "Hahahaha. Akhirnya kau jujur juga. Apa alasannya? Kata Kalluto dia cantik sekali dan pintar. Benarkah?" mendadak suasana di kamar Silva saat itu berubah menjadi hangat. Killua jadi tidak segan lagi untuk menjawab apa yang ayahnya tanyakan.

"Iya. Dia pintar dan,,, cantik.." tatapan Killua begitu melunak saat mengatakan kata'cantik'. Pipinya juga berubah merona.

Silva hanya tersenyum melihat anaknya yang sedang jatuh cinta.


Hampir dua setengah minggu berlalu. Mike kini sudah dapat berlari kesana kemari seperti sediakala. Selain itu, Mike juga kini sudah terbiasa dengan kehadiran Hiju yang selalu menemaninya pada pagi hingga sore hari. Hiju pun demikian. Ia sudah begitu menyayangi Mike sebagaimana anjing-anjing normal yang selalu ditemuinya.

Begitu pun dengan kediaman pelayan. Mereka mulai terbiasa dengan kehadiran manusia biasa di mansion mereka. Gotoh kini sudah menganggap Hiju lebih dari sekedar tamu. Ia kini terbiasa menganggap Hiju sebagai salah satu keluarganya. Akan tetapi, disisi lain Gotoh selalu merasa tidak tenang setiap kali ia melihat Hiju. Ia tahu kalau suatu saat nanti Kikyo akan menangis lagi karena Killua akan pergi, yang mungkin untuk bersama Hiju selamanya.

Disisi lain, Killua semakin akrab dengan Hiju hari demi hari. Setiap hari, dari mulai pagi hingga sore hari Killua selalu menemani Hiju kemana pun ia pergi. Mulai dari mengantarnya mengurus Mike, jalan-jalan, istirahat, makan, hingga bersantai. Tanpa Hiju ketahui, sebenarnya Killua tetap menemaninya ketika ia tidur. Hiju tidak tahu jika selama ini, ketika ia sudah tertidur, Killua selalu memperhatikannya diam-diam dari atas sebuah ranting atau dahan pohon di kejauhan. Killua bahkan tidur diatas dahan pohon selama hampir dua minggu hanya untuk menjaga Hiju yang tidur dengan sangat nyenyak.

I want to be your bed in your room for just a day

I want to make you go to sleep, comfortably, warmly in my arms

For you, I'd win over all your problems and all your busy errands,

Even the monster in your dream

"Pagi~.."

"Mmm?" Hiju menengok ke luar jendela, lalu tersenyum bercahaya. Di tempat ia menaruh matanya, ia melihat Killua sedang duduk di pagar balkon kamar, tersenyum dengan lembut.

My heart is like this

Just the fact that I can watch over you,

Makes me so grateful, Im so happy, even if I lack a lot

Melihat itu Hiju segera turun dari ranjangnya dan membuka jendela. "Pagi, juga."

Hiju tersenyum. Killua blushing saat melihat senyum Hiju di pagi itu. Apalagi melihat Hiju yang masih memakai dress tidur. "Tidurmu nyenyak?"

"Hmm!" Hiju mengangguk mantap.

TOK TOK.

Dari kejauhan Hiju mendengar ada suara ketukan pintu.

"Nona Hiju, selamat pagi. Kami membawakan sarapan pagi untuk anda. Kami akan menaruh sarapan ini diluar kamar. Selamat menikmatinya," ujar suara dari balik pintu kamar Hiju.

Rupanya salah satu pelayan membawakan sarapan untuk Hiju pagi itu.

"Killua sudah sarapan pagi?" tanya Hiju dengan ramah dan membuat Killua menjadi gugup.

"Eh? I,, iya sudah."

"Mau menemaniku sarapan? Aku suka makanan disini. Enak sekali!" Hiju bersorak polos.

Killua hanya tersenyum.

Dengan segera Hiju mengambil sarapannya dari balik pintu kamar lalu membawanya ke ranjang. Killua segera duduk diranjang saat itu. Hiju dan Killua duduk berdampingan dengan nampan diantara mereka.

"Ayo makan, Killu?"

"Kau saja yang makan. Aku ingin tahu bagaimana rasa masakanku."

"Baiklah. Eh?! Masakanmu?!" mata Hiju membulat saat mendengarnya.

Killua tersenyum. "Iya. Aku ingin kau mencobanya." Killua blushing.

"Baiklah," ujar Hiju sambil mendaratkan sesuap sup ke dalam mulutnya. Hiju mengunyahnya dengan penuh penghayatan untuk beberapa lama lalu menelannya. Ia terlihat terkejut saat berhasil menelannya.

Killua menanti jawaban dari Hiju dengan was-was. "Bagaimana?"

"Ini enak sekali! Wah, Killua hebat sekali! Kau sangat berbakat untuk menjadi seorang koki!" Hiju melanjutkan makannya dengan lahap.

Mendengar jawaban dari Hiju Killua tersenyum lega. Ia bersyukur Hiju menyukai masakannya. Tiba-tiba, Hiju mendaratkan satu sendok sup didepan wajah Killua. "Apa ini?"

"Rasanya tidak menyenangkan kalau hanya aku yang makan. Killua juga, yuk? Ayo buka mulutnya? Aaaaa~…"

Killua jadi malu saat ia tahu kalau Hiju berniat menyuapinya. "Eh?! Jangan gitu ah! Itu kan kekanak-kanakkan banget!"

Saat killua berbicara, Hiju segera memasukkan sendok berisi supnya. Killua jadi terdiam dan merona pipinya. Ia menelan masakannya sendiri.

"Mau disuapin lagi?" tanya Hiju menawarkan.

"Ah, tidak! Aku akan melihatmu saja!" Killua bicara dengan kemerahan diwajahnya.

Di lantai bawah, tepatnya didapur, semua pelayan dan koki termasuk Gotoh tersenyum senang.

"Hhh~.. tuan Killua sudah besar, ya? Lihat saja, dia bahkan rela bangun jam empat pagi untuk belajar memasak!" ujar salah satu dari koki yang ada disana.

"Iya, benar. Tuan Killu juga benar-benar pintar! Padahal hanya tiga jam, tapi dia sudah bisa membuat sarapan yang enak untuk nona itu! Aku saja butuh seharian saat mencoba membuatnya untuk pertama kali!" timpal yang lain.

"Tuan muda yang sedang jatuh cinta sangat manis, ya? Kau lihat kan beberapa kali jarinya teriris saat memotong sayuran? Aku akan sangat terharu jika ada seorang pria yang hendak melakukan itu padaku," ujar salah satu maid.

"Benar sekali! Tapi aku ragu. Masalahnya tuan muda adalah seorang anak pembunuh bayaran. Sementara itu nona Hiju adalah rakyat biasa. Apa mungkin mereka dapat bersatu? Nyonya Kikyo.. kau tahu kan bagaimana?"

Sekitar dua puluh menit kemudian Hiju berhasil menghabiskan seluruh isi nampannya pada pagi itu.

"Hmmm! Kenyang! Enak sekali! Terima kasih ya, Killua. Masakannya benar-benar enak!" Hiju terlihat sangat senang.

"Ah, bukan apa-apa kok." Killua menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertunduk malu.

"Kalau begitu, aku akan ganti baju."

"Ah, silakan saja." Killua dengan tenang menimpali.

"Hmm? Killua tidak mau pergi?" Hiju mengambil beberapa pakaian dari dalam kopernya.

"Buat apa? Tiap pagi…" Killua hampir keceplosan. Bagaimanapun, Hiju tidak boleh tahu kalau selama ini Killua selalu memperhatikannya selama 24 jam. Killua hampir saja membocorkan rahasia kalau memang hampir setiap pagi ia melihat Hiju berganti pakaian.

"Tiap pagi.. apa?" Hiju kembali bertanya.

"Bu…bukan apa-apa kok.. hahahahahahahahahaha. Baiklah, aku akan menunggumu diluar. Oh iya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau mau?" tanya Killua malu-malu.

"Eh? Kemana?"

"Kau akan tahu nanti. Habis dari sini kita akan mengunjungi Mike. Setelahnya, kita akan pergi ke tempat itu."

Hiju terdiam beberapa lama. "Baiklah~.." eye smile Hiju muncul lagi. Killua membalasnya dengan senyum hangat.


"Hhhh~.. akhirnya tugasku selesai!"

Killua berhenti bermain yoyo. "Eh? Apanya?"

Hiju menaruh kedua tangan dipinggangnya. "Mike. Dia sudah sembuh total. Lihat anjing manis ini~.. hooo~… lucunyaaa~..," jawab Hiju dengan kepala terdongak ke atas melihat Mike yang sedang berputar-putar.

Sementara Hiju terus memuji Mike seolah dia adalah majikannya, Killua termenung dengan tatapan ke arah Hiju. Tidak terasa waktu sudah berlalu lama, kini Hiju akan pergi meninggalkan kediamannya. Killua mendadak merasa hampa dan kesepian.

I want to be your kitty for just a day

You feed it warm milk and softly embrace it

Seeing your playfulness with the cat and your cute kisses to it

I guess I even felt a little jealous

"Killua?" panggil Hiju yang membuyarkan lamunan Kill.

"Hmm? Apa?"

"Tadi katanya kau mau mengajakku ke suatu tempat. Kemana kah?" tanya Hiju senang.

Killua tersenyum sendu. Ia merasa ini benar-benar menjadi perpisahan. Tiba-tiba terlintas ide dibenaknya.

"Hiju, katamu tadi Mike sudah sembuh total. Apa maksudmu dia sudah tidak sakit lagi?"

"Iya. Dia sudah sembuh total."

Killua mengeluarkan rotten smilenya yang cool. Dia berjalan mendekati Mike. Dari bawah, Killua memberikan perintah kepada Mike dengan penuh percaya diri. "Woi, Mike!"

Si anjing menyahut, ia menatap ke wajah majikannya yang ada dibawah.

"Kau sudah sembuh total, kan? Bisa antar aku dan nona cantik ini jalan-jalan ke belakang rumah?"

Wajah Hiju memerah begitu mendengar kata-kata Killua pada Mike. Hiju merasa sangat malu.

"Hiju, ayo?" tiba-tiba Killua sudah ada disamping dan mengulurkan tangan kirinya. Hiju mengangguk malu-malu dan menggapai tangan kiri Killu. Dengan cepat Killu melingkarkan tangan kanannya dipinggang Hiju sehingga tubuh mereka berdekatan satu sama lain, tanpa jarak.

"Kau siap?" tanya Killua dengan killer smile dan eyesnya.

"I..iyaa.."

Dengan sekali hentakkan dari kaki kanannya, Killua berhasil membawa dirinya dan Hiju naik ke punggung Mike. Hiju yang masih terkejut segera diposisikan oleh Killua untuk duduk dibelakangnya.

"Ayo, Mike."

Dua kata itu membuat Mike segera berlari membawa kedua manusia dipunggungnya pergi. Seperti berkuda, Killua nampak menikmati duduk diatas Mike sambil menungganginya. Sementara itu Hiju yang agak takut dengan ketinggian dan belum terbiasa menunggangi anjing kini sibuk menyeimbangkan diri. Ia menutup matanya erat-erat dan tertunduk saking takutnya.

"Hiju?" panggil Killua di depannya.

"Ya?"

"Peluk aku."

"Eh?" Hiju agak kaget mendengarnya. "A..apa?"

PLEK

Dengan cepat Killu menaruh kedua tangan Hiju di diafragmanya. Tidak hanya itu, Killua juga menahan kedua tangan Hiju agar tetap menempel dibagian atas perutnya tersebut.

"Jangan takut, ada aku. Kalau kau jatuh, aku pasti akan menangkapmu. Untuk sekarang, begini saja tidak apa-apa, kan? Oh iya, jangan lihat kebawah, nikmati saja. Oke?" Killua melirik perempuan yang ada dibelakangnya dengan senyum terpancar.

Hiju memerah malu-malu. Dengan senyum manisnya Hiju membalas kata-kata Killua. "Oke."

Killua kembali melihat ke depan. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit lagi untuk sampai dibelakang rumahnya. Didepannya terhampar hutan-hutan luas yang begitu menyejukkan mata. Bagi Killua saat itu, pemandangan hutan yang terhampar didepannya bukanlah apa-apa. Perasaan hangat yang menyelimuti tubuhnya, degupan jantung yang membuat darahnya berdesir, aroma manis yang muncul dari belakang tubuhnya serta memori bagaimana ia dapat membawa Hiju sampai sejauh ini lebih terasa seribu kali lebih indah dan menyejukkan baginya.


"Sudah sampai. Kau boleh pergi, Mike," ujar Killua pada anjing besarnya. Dengan itu, Mike kembali berlari pulang.

Killua dan Hiju kini berdiri diatas benteng yang memisahkan kekuasaan keluarga Zaoldyeck dengan hutan biasa. Killua nampak menikmati desiran angin yang menyerbu kepadanya. Disisi lain, Hiju yang masih shock dengan semuanya masih beradaptasi. Angin-angin yang membawa rambutnya terbang membuat aroma shampoo yang ia pakai masuk menyeruak ke dalam hidung Killu. Killu semakin merasa angin begitu segar saat itu. Ia menatap gadis manis disampingnya.

"Hiju?"

Yang dipanggil menoleh.

"Kau percaya padaku, kan?"

Hiju menatap Killua dengan tatapan sendu miliknya, lalu mengangguk. "Iya."

Tatapan Killua melunak saat mendengar Hiju. Pelan-pelan Killua memangku Hiju dengan kedua tangannya. Killu juga memerintahkan Hiju untuk melingkarkan kedua tangannya di leher Killu. Mata Killu yang sebiru lautan benar-benar indah saat ia memadangi Hiju yang terbaring ditangannya. Hiju sendiri menyukai warna biru yang mengalir dimata Killua, begitu jernih dan menenangkan.

"Kita akan terbang, jadi peganglah aku dengan erat. Kalau kau tidak sanggup melihat ke arah tanah, lihat aku saja," ujar Killua dengan tegas tapi romantis dimata Hiju.

Hiju mengangguk sambil menggigit bibirnya yang tersungging.

Pada hitungan ketiga, mereka terbang. Atau tepatnya melompat dari benteng istana keluarga Zaoldyeck.

Hiju yang masih belum terbiasa berusaha fokus untuk menatap Killua yang dengan santainya melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Mata yang tajam itu, walaupun hanya dari samping, sudah mampu membuat Hiju takluk tidak berdaya. Hiju yang malu tidak sanggup menatap ke arah mata itu lagi, ia memilih menatap ke arah samping, arah dimana mata Killua tertuju lurus. Sedikit demi sedikit Hiju mulai terbiasa.

Setelah sekitar tiga menit Killua berlompatan dari pohon ke pohon, mereka kini sampai ditengah hutan dan duduk disebuah pohon tua dekat air terjun. Dari dahan pohon tempat mereka berpijak, mereka bisa melihat puncak air terjun yang kira-kira berjarak sekitar dua meter dari tempat mereka berada. Mereka berada ditempat yang tenang tapi sedikit bergemuruh karena suara air.

Setelah selesai memuji indahnya alam yang diperlihatkan oleh Killua, mereka berdua terdiam menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh mereka.

"Kau suka?" tanya Killua pada gadis yang duduk disampingnya.

"Sangat. Sangat suka! Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini. Terima kasih, ya," ujar Hiju pada Killua disertai senyuman mautnya.

"Hee? Untuk apa?" tanya Killua heran.

"Untuk semuanya. Killua telah menolongku dari pemabuk di York Shin, mengundangku datang kemari, mempercayaiku untuk merawat Mike, menemaniku setiap hari selama disini, mau bermain denganku, mengobrol denganku, bicara padaku, memasakkanku sesuatu, hingga mengajakku jalan-jalan seperti ini. Aku… aku sangat berterima kasih pada Killua. Tidak. Aku sangat senang bisa berjumpa dengan Killua!" Hiju mengatakan semuanya dengan ekspresi dan senyum yang tulus. Bisa dilihat dari sorot matanya, sorot mata yang selalu berhasil membuat Killua tergila-gila setiap hari.

"Ah… sama-sama. Aku juga harus berterima kasih padamu karena telah menyembuhkan Mike. Semua yang telah aku beri rasanya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang telah kau lakukan," puji Killua sembari melirik lawan jenisnya itu.

"Tapi… Killua.. aku masih merasa bersalah," tiba-tiba tatapan Hiju berubah sedih.

"Hee? Kenapa?"

"Waktu itu, aku membuat kau dan ibumu bertengkar. Jujur, aku merasa sangat bersalah. Seharusnya aku melerai saat itu dan meminta maaf pada beliau, tapi dengan bodohnya aku malah terdiam."

Killua menatap Hiju. Melihat wajah menyesal makhluk disampingnya membuat Killu tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau tidak perlu khawatir. Duniaku dan duniamu berbeda. Sejak dari kecil kami dibiasakan dengan hidup yang sulit. Sosok ibu rasanya jauh dari bayanganku. Aku tahu Gon punya bibi yang baik dan dia mengakuinya sebagai ibu, namanya bibi Mito. Saat aku bertemu bibi Mito, aku mendapat gambaran mengenai ibu yang sesungguhnya. Berbeda dengan ibuku! Dia cerewet dan hanya bisa mengadu dan menangis! Kalau kau berfikir aku telah menyakiti makhluk lemah lembut yang dari kecil memanjakanku, kau salah besar."

Hiju menyimak dialog Killua baik-baik.

"Yaahh.. santai saja. Kau tidak perlu merasa bersalah karena kau memang tidak bersalah," lanjut Killua.

"Killua, maaf jika aku membuat mood-mu memburuk lagi, tapi…. dia adalah ibumu. Apapun yang ia lakukan, kurasa itu demi kebaikanmu. Tanpanya, mungkin kau tidak akan sekuat ini bahkan mungkin kita tidak akan bertemu. Bagaimanapun, aku juga sangat berterima kasih pada keluarga Killua dan Gon! Kau masih beruntung karena masih memiliki mereka bagaimanapun mereka padamu. Selama masih ada, dengarkan mereka, jangan bertengkar. Oke?"

Killua menggigit bibirnya.

"Janji?" Hiju mengacungkan kelingkingnya. Hal itu mengingatkannya pada Gon. "Janji, Killua?" tambah Hiju. Entah ada kekuatan darimana, Killua melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Hiju tanda ia mau berjanji.

Hiju tersenyum senang. Killua membalas senyum itu. Padahal didalam hatinya, Killua membuat pengecualian sendiri. Pengecualian yang melibatkan perasaannya sendiri.

"Hiju?"

"Ya?"

"Bisa kau jawab dengan serius? Karena aku serius menanyakan hal ini. Apakah kau senang jika bersamaku?"

Every day, every night, only you could fill me up

It's alright, it's alright, now please answer my heart

Mata Hiju tidak bisa berkedip saat mendengar kata-kata Killua barusan. Ia juga tahu kalau Killua tidak sedang bercanda.

"Ma..maksudmu?"

Killua menunduk, lalu menengok ke arah lain. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm,, aku senang berada didekatmu. Ya,, aku juga tidak tahu. Tapi bersamamu membuat perasaanku damai dan tentram." Killua blushing.

Hiju terdiam sejenak mengamati Killua.

"Apa itu artinya kau menyukaiku?" Hiju balik bertanya.

DEG.

"Mmmm… i..iya mungkin. Hiju sendiri, apa Hiju menyukaiku?" Killua menatap Hiju tersambar petir pada siang hari, Hiju merasa semuanya begitu tiba-tiba hari itu. Saat telinganya mendengar pertanyaan Killua yang terakhir, Hiju juga dapat mendengar isi hatinya yang berkata 'ya'. Bukan hanya sekedar berkata, tapi berteriak.

Even if your blood type is A like mine, even if your eyes disappear when you laugh like mine,

Even if your birthday is Aquarius like mine, beyond that we really have a lot of similarities

If you say you can't love me I won't look at you, if you say you're like me just come to me

Give me a feeling I've never felt before, generously give me the love you wanted

Be by my side when you wake up in the morning, give me a kiss above my almost half open eyes

Even if you don't call or text I'll just understand, I won't wait forever

Just appear in my dreams every night, gently unravel me with your melting smile

I have a lot to give you, It's all about you and me ok?

"I..iya.." jawab Hiju beberapa lama kemudian dengan wajah merah padamnya.

"I…iya?" Killua memastikan dan agak histeris.

Hiju mengangguk dengan eye smilenya di wajah.

"Tapi… suka yang kumaksud ini… lebih kompleks.." Killua berusaha menjelaskan.

"Iya, aku tahu, kok." Hiju tersenyum.

Melihat bidadari tersenyum didepannya, Killua jadi meleleh dan tatapannya berubah menjadi sangat manis. Ia tersenyum, bahagia, senang dan malu secara bersamaan. Saking senangnya ia segera memeluk Hiju dengan kuat.

"Kau serius menyukaiku, kan?" Killua memastikan sekali lagi.

"Emhh!" jawab Hiju.

I want to be your lover forever

When you are in my arms, I want to become stone

So we can stay this way forever

"Kalau begitu, kita akan bersama-sama mulai sekarang, Hanya aku dan kau. Kau mau?"

Hiju memerah dalam pelukan Killua. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hiju merasa amat sangat bahagia. "Aku mau."

Killua melepas pelukannya. Didepannya, terduduk seorang perempuan seumuran dengannya dengan mata bulat tapi memberikan pandangan yang dalam, kulit kuning halus dan lembut seperti butter, rambut hitam panjang setengah punggung yang selalu dikuncir dua dengan poni oval bertengger dikeningnya, hidung tinggi dan bibir tipis berwarna peach. Killua tidak pernah bisa berhenti blushing jika ia berada didekat wanita itu.

"Hiju-chan?"

"Ya?"

"Sekarang, kau resmi punyaku, ya."

Hiju jadi semakin malu.

"Satu hal lagi. Maaf, aku tidak bisa menahannya lebih lama..." Killua dengan cepat mendaratkan satu ciuman dibibir Hiju. Hiju yang tidak sempat memberikan respon lain hanya terdiam shock saat ia merasakan ada bibir Killu dikedua bibirnya. Cukup lama Killu bermain bibir dengan pacar pertamanya itu. Begitu lembut dan penuh hasrat disaat yang bersamaan. Setelah beberapa menit, Killu melepaskan bibirnya, ia menatap Hiju dengan malu-malu.

"Kau… tidak marah kan?" tanya Killu.

Hiju hanya tersenyum dan menggeleng.

Killu membalas senyuman Hiju. "Syukurlah."


Malamnya di mansion para pelayan Hiju sibuk membereskan semua propertinya. Tugasnya sebagai dokter untuk Mike resmi selesai siang itu. Besok pagi ia harus pergi ke stasiun kereta untuk mencapai bandara, lalu naik pesawat menuju York Shin.

Hiju sudah tidak sabar lagi untuk pulang. Ia memandangi tiket perjalanan yang sudah ada ditangannya. Rasanya sudah terlalu lama ia meninggalkan York Shin. Tetapi pada saat yang sama, ia merasa akan kehilangan semuanya. Hiju mencintai rumah Killua ini. Walaupun terkesan dingin saat pertama kali ia datang, kini rumah itu terasa sangat hangat baginya. Di tempat itu pula ia dan Killua menjadi lebih dekat. Setelah keluar dari rumah itu, apakah Killua masih dapat berjumpa dengannya?

Setelah berfikir banyak, Hiju membaringkan dirinya diatas ranjang. Ia tersenyum memikirkan saat-saat manis bersama Killua selama kurang lebih dua minggu terakhir. Sepanjang malam itu, hanya ada Killua dibenaknya.

Keesokkan paginya Hiju berpamitan pada seluruh pelayan di keluarga Zaoldyeck. Hiju sempat mengutarakan niatnya untuk pamit pada keluarga Zaoldyeck secara langsung kepada Gotoh tapi Gotoh dengan tenang dan dingin menyikapi keinginan Hiju sebagai hal yang tidak perlu. Gotoh akan melaporkan kepergian Hiju pada Kikyo secara langsung.

Setelah berpamitan pada semua pelayan dan Mike, Hiju melangkahkan kakinya menuju gerbang penguji. Gotoh bilang Zeburo akan menunggu dirinya disana. Setelah beberapa menit Hiju berjalan, tiba-tiba Killua muncul dihadapannya. Ia melompat turun dari atas pohon dan tubuhnya penuh dengan keringat, shirtless.

"Kau sudah mau pergi?" tanyanya sambil menghampiri Hiju.

"Iya. Tugasku kan sudah selesai disini," jawab Hiju dengan manis.

Mendengar itu Killua terlihat murung. Air mukanya berubah sedih.

I wonder how a day without me passes by for you

Im so curious to how much you really love me

"Kau kenapa?" tanya Hiju.

Killua memalingkan pandangannya. "Tidak apa-apa."

Hiju tersenyum. "Kapan kau akan kembali ke York Shin?"

"Entahlah." Killua masih terlihat murung.

Hiju agak bingung menghadapinya. Ia menyentuh bahu Killua dengan satu tangannya. Killua kembali menatap ke arah Hiju. Di depan matanya, perempuan bersinar itu memancarkan senyum charming yang selalu saja dapat membuat Killua merasa nyaman.

"Aku akan menunggumu di York Shin. Ada perayaan kota tanggal 17 nanti. Kita pergi bersama-sama, ya?"

Killua terdiam memandangi Hiju. Tanpa menjawab, Killua malah memeluk Hiju dengan erat. "Tunggu aku, ya."

I want to be your lover forever

When you are in my arms, I want to become stone

So we can stay this way forever

Perempuan didekapannya tersenyum senang dan mengangguk.

"Aku akan mengantarmu hingga gerbang penguji. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu lebih jauh sekarang."

Hiju memunculkan eye smilenya. "Iya, tidak apa-apa, kok. Terima kasih sekali, ya."

Setelah itu Killua mengantar Hiju untuk sampai ke gerbang penguji. Sepanjang perjalanan Killua hanya terdiam dan menunduk. Ia hanya bicara jika Hiju bertanya. Ia akan terlalu diam jika Hiju diam.

Setelah hampir satu jam mereka berjalan, mereka sampai didepan gerbang penguji. Hiju dan Killua dapat melihat Zeburo yang sudah bersiap diri menyambut mereka dan mengantar Hiju keluar.

"Sampai nanti, ya? Hubungi aku jika kau hendak main ke York Shin," ujar Hiju pada kekasih disampingnya.

"Hiju." Killua menarik tangan Hiju yang baru saja hendak melangkah menuju Zeburo.

Hiju menoleh.

Masih dengan air muka khawatir, Killu segera memeluk kekasih pertamanya itu dengan erat. Killu bahkan sampai memejamkan matanya seakan takut kehilangan Hiju saat itu juga.

When you are in my arms, I want to become stone

So we can stay this way forever

"Killu, kau kenapa?" mendadak Hiju merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Killua melepas pelukannya dan ia tidak menjawab pertanyaan Hiju. Killua hanya mengecup kening Hiju cukup lama dengan lembut lalu kembali menatap kekasihnya itu.

"Hati-hati, ya. Nanti akan aku hubungi kau pada tanggal 15."

Hiju tersenyum senang sekali dengan pipi yang merona. "Baiklah, aku akan menunggumu."