Ch 5 :
Cr : Nothing Can Stop Us Now - Rick Price & Secret Garden OST
WARNING : Gaje, plot less, kelamaan..
Gak cocok : buat orang yang lagi dikejer sama deadline tugas, buru-buru mau jemput mama, ada janji ama pacar, atau mau ujian besok..
Cocok : buat yang lagi di kelas dengan guru atau dosen yang kebanyakan ngomong #jangan dianggap, buat orang yang lagi nunggu dijemput #asal ditempat aman, yak. Awas dicopet.. ._.v, buat yang lagi nunggu pesanan makanan di restorannya dateng, buat yang lagi bengong #mending baca kan daripada bengong.. :P
###oke, abaikan semua ketikan tangan nakal saya..
Review Section :
G : thank you buat pujiannya.. :3 ...ehm, gak tau.. saya gak targetin ampe chapter berapanya.. woles aja nulis.. ._.v #peace
marciana : thank you buat reviewnya.. :)
=== ENJOY THE BISCUIT ===
Sudah dua hari sejak Hiju dibuat pingsan di dalam labirin. Sudah hampir empat puluh delapan jam Hiju terbaring di kamarnya. Sudah dua hari Killua tidak tidur demi menjaga kekasihnya. Untunglah Rozu tidak ada di sana sehingga Killua bebas mendampingi sang kekasih.
Selama Hiju terbaring, Killua-lah yang mengurus pakan-pakan hewan di pet shop. Setiap pagi dan malam ia mengurus kekasihnya yang terbaring tidak berdaya lalu mengurusi hewan-hewan yang ada di sana. Sisa waktu yang ada Killua gunakan untuk menunggui Hiju di samping ranjang. Ia ingin menjadi orang pertama yang Hiju lihat saat terbangun. Selama waktu itu, Killua tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk menghibur dirinya sendiri. Ia terlalu sibuk memikirkan hal negatif mengenai kondisi Hiju hingga tubuhnya tak pernah berhenti berkeringat. Toh, semenjak kehadiran Hiju dalam hidupnya Killua memang tidak pernah bisa tenang. Beban Killua semakin bertambah saat ia dan Hiju berada di teritori Zaoldyeck beberapa waktu yang lalu. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana alur dan percakapan yang mengalir saat terjadi konflik internal di keluarga Zaoldyeck saat Hiju datang untuk mengurus Mike.
Konflik itu terus meracuni pikiran Killua. Hatinya terasa seperti terbagi dua saat itu. Satu sisi Killua tahu persis apa yang ia inginkan dari hidupnya sekarang : ia ingin Hiju melebihi apapun. Sedangkan satu sisi yang lain seperti menolak Hiju dengan mengatasnamakan 'kebaikan' bagi Hiju sendiri. Hati yang satu lagi itu mengatakan kalau ia tidak pantas bagi orang yang bersinar seperti Hiju, ia tidak pantas untuk menikahi rakyat jelata seperti Hiju, ia juga tidak pantas menjadi ayah dari anak Hiju. Semuanya karena Killua adalah seorang pembunuh dan oleh karenanya, Killua hanya pantas melahirkan pembunuh dari seorang pembunuh seperti dirinya.
Entah darimana datangnya pikiran yang tidak bisa Killua bendung sama sekali itu. Di depan matanya terbaring perempuan yang sangat ia cintai. Jika ia bertanya pada Gon, Killua yakin Gon akan menyukai Hiju dan mendukung mereka untuk bersama. Killua pun ingin demikian. Ia ingin seluruh hatinya mendukung keputusannya untuk tinggal bersama Hiju tanpa terkecuali. Ia tidak akan sudi untuk meninggalkan satu cuil pun keraguan untuk mencintai wanita di depannya. Hal inilah yang membuat Killua berubah saat ia datang ke rumah Hiju kemarin. Ia masih ragu akan perasaannya : bolehkan ia mencintai Hiju, pantaskah Hiju sepenuhnya hanya untuk dirinya? Killua tidak mau jika ia hanya merasa pantas sepihak.
Killua mengusap kening Hiju lalu mengecupnya cukup lama. Sudah berkali-kali ia mengatakan pada dirinya sendiri kalau ia memang tergila-gila untuk wanita yang satu ini, tapi mengapa ia masih merasa kurang pantas?
I turned around many times already
I laughed like it was nothing
Even if I lied to my heart without words
Are you wandering because you don't know my heart
Suddenly I'm afraid, saying I love you
They're not words I'm used to saying
With hardened lips, I love you, I love you
I am shouting those words on your back
Mata Hiju bergerak. Killua yang menyadari itu segera menggenggam tangan Hiju erat-erat. "Hiju?"
Hiju berusaha membuka matanya. Tak lama, sepasang mata hitam itu terbuka sepenuhnya. Walau pandangannya masih kabur, Hiju tahu siapa orang yang ada di depan matanya saat ini. "Killua?" ujar Hiju lirih.
"Hiju-chan? Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Kau sudah dua hari pingsan."
Pandangan Hiju masih kabur. Ia menjawab agak lama. "Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Terima kasih, ya?"
Killua terheran. "Kenapa? Terima kasih untuk apa?"
Hiju tersenyum. "Untuk mengurangi rasa sakit ini. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih, ya? Kau memang yang terbaik."
Wajah Killua merona saat itu. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Bodoh. Membuatmu pingsan begini dan kau masih berterima kasih. Tapi,, sama-sama. Karena aku menyukaimu, aku tidak mau kau merasa sakit. Hiju-chan, aku benar-benar menyukaimu."
Giliran mata Hiju yang berkaca-kaca sekarang. Tidak berapa lama kemudian air matanya mengalir. "Killua-chan? Aku juga sangat menyukai Killua-chan. Terima kasih karena sudah menyukaiku. Aku akan terus melihatmu."
Killua tersenyum dan menghapus air mata Hiju yang mengalir. Ia juga mengusap air matanya dengan tangannya sendiri. "Sudah ah."
"Ini, makanlah," ujar Killua sambil menyodorkan semangkuk sup pada kekasihnya yang masih terduduk di ranjang.
"Terima kasih," balas kekasihnya sambil mengambil sup itu. "Wah, sup asparagus!" Hiju terlihat sangat senang saat melihat isi dari mangkuk yang dipegangnya.
"Kau suka?"
Hiju mengangguk.
Killua tersenyum dan mengambil duduk di samping ranjang.
"Hiju?" tanya Killua dengan nada serius.
"Hmm?" Hiju menoleh ke arah pacarnya.
"Siapa yang meremukkan tanganmu?" tanya Killu -diikuti dengan perubahan sorot matanya yang semakin tajam.
Hiju terdiam sebentar, memikirkan para orang yang berada di labirin waktu itu. "Aku tidak tahu siapa mereka, tapi kalau dilihat dari sorot mata dan pakaiannya, kurasa mereka kelompok kriminal. Mungkin perampok?"
"Perampok? Dalam labirin? Lalu, bagaimana caranya kau lolos?"
"Mereka memperbolehkanku untuk pergi."
Killu terlihat kesal sekali. "Kalau saja aku tahu siapa mereka, aku akan membuat mereka membayar untuk tanganmu. Seandainya aku terus ada di sampingmu, mungkin…"
Hiju tersenyum canggung. "Killua, tidak apa-apa. Sungguh. Aku kini sudah tidak apa-apa, kan? Kau tidak perlu kesal…"
"KAU TIDAK MENGERTI!" tiba-tiba Killu membentak Hiju. Hiju cukup terkejut saat kekasihnya bicara cukup lantang padanya. Menyesal telah membentak Hiju, Killua mencoba menahan amarahnya dengan mengepal tangan. Ia berusaha sangat keras untuk menahan emosi hingga keringatnya terus mengalir. "Kau tidak mengerti, Hiju. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri. Apapun dapat terjadi jika aku tidak bersamamu! … Kau terlalu berharga untukku. Aku… aku…"
"Killua?" Hiju menyebut nama kekasihnya dari ranjang tempat ia duduk. "Tidak apa-apa, sungguh. Jangan terlalu melindungiku. Aku memang bukan pemakai nen atau orang kuat seperti dirimu tapi… bagaimanapun juga aku adalah mantan anggota Genei Ryodan. Aku menolak jika kau anggap aku selemah orang biasa lainnya. Umur tujuh tahun aku sudah pernah mengalami patah tulang beberapa kali bahkan lebih parah dari ini. Buatku, tulang remuk bukan apa-apa. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Di dunia ini yang membuatku lemah hanya kau, Killu-chan." Hiju tersenyum dengan eye smile-nya.
Killua memandangi perempuan itu.
Déjà vu.
Rasanya Killua pernah melihat hal seperti ini. Ya. Dia ingat. Pemandangan seperti ini pernah ia lihat juga sebelumnya. Saat itu Gon meyakinkan dirinya bahwa Kite masih hidup. Gon sangat bercahaya saat itu, padahal dia baru saja bangun dari pingsan. Begitu juga dengan Hiju sekarang. Hiju mungkin tidak sebersinar Gon, tapi ada cahaya lembut yang menyelubungi gadis Killua itu. Cahaya emas yang ada di sekelilingnya selalu berhasil membuat Killua merasa nyaman. Killua tersenyum.
"Hiju? Apa tidak apa-apa jika aku terus bersamamu?" tanya Killua lirih.
"Apa maksudmu? Tentu saja tidak apa-apa. Kita akan terus bersama dan selamanya akan bersama, bukan? Kita akan saling mendukung satu sama lain selamanya!"
Killua menundukkan kepalanya seraya tersenyum. "Terima kasih."
"Killu?"
"Killu?"
"Killu?"
"Ka..kakak…"
"Bagaimana ini? Aduh maaf ya, aku tidak sengaja mengambil jantung dari tubuh Hiju, sungguh," ujar Illumi dengan tenang seraya memamerkan jantung yang ada di genggamannya. Jantung itu masih segar dan baru saja diambil dengan cepat, terlihat dari bagaimana jantung itu masih berdegup stabil di tangan besar Illumi.
Killua tidak bisa bicara saat melihatnya. Matanya penuh dengan keterkejutan dan wajahnya dibasahi keringat dingin.
"Ahh~.. Killu? Lihat tubuh pacarmu ini. Jika Illumi boleh mengambil jantungnya seperti itu, aku hanya butuh tubuhnya saja, boleh? Lumayan buat koleksi figurinku. Hmmmm…. Kurasa aku akan memakaikannya baju pramugari. Oh ya Killu, kau tahu? Kemarin aku berhasil menciptakan chip yang jika dipasangkan pada tubuh mati seperti ini, akan membuat dia bisa bicara lagi. Tapi tentu saja chip ini belum sempurna. Dia bisa merasakan apapun seperti saat hidup dan bisa bicara tapi masih kaku seperti robot. Untungnya dia punya wajah yang cantik, dia akan jadi figurinku yang paling cantik dan bagus," ujar Milluki sambil merangkul tubuh Hiju yang sudah tidak bernyawa lagi.
Killu geram mendengar kata-kata Milluki. Di sisi lain, ia melihat Kalluto yang berlumuran darah terduduk dengan ekspresi datar. Dia bergumam pada dirinya sendiri. "Kakak,, aku berhasil membunuh salah satu mantan anggota Genei Ryodan. Apa aku cukup kuat sekarang?"matanya begitu kosong, membuat Killua semakin ngeri melihatnya.
Killua speechless, tubuhnya gemetar dan lututnya sangat lemas. Killua terduduk karena ia merasa ia sudah tidak bisa bangkit lagi. Air matanya mengalir cukup deras karena melihat semua saudaranya yang begitu menikmati pembantaian kekasih yang ia cintai. Tiba-tiba…
"Kakak?"
Itu suara Alluka. Benar. Sebuah hal penting telah ia lupakan saat ini : Alluka dapat membuat Hiju kembali hidup. Tapi, saat Killua menatap ke arah sumber suara, ia melihat Alluka dengan mata dan mulut hitam. Alluka yang ada di depannya lalu bicara, "Akulah yang menginginkan Hiju-chan mati. Hahahahahahahahahahahahahahahahahaha~!" Alluka tertawa sangat puas.
Killua yang frustasi karena melihat apa yang dilakukan oleh semua saudaranya terhadap Hiju kini merasa tidak kuat lagi. "TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK~!"
..
..
Mata Killua terbelalak. Tubuhnya masih kaku dan kepalanya masih berat. Di depannya ia melihat langit-langit kamar. Udara yang ia hirup begitu segar disertai wewangian khas yang sangat familiar. Tangannya, terasa kaku dan sulit digerakkan. Dadanya juga terasa cukup berat. Ia baru sadar beberapa detik kemudian kalau ia baru saja mengalami mimpi buruk. Di dunia nyata sekarang, pada tengah malam itu ia terbaring di atas ranjang, hanya ditutupi selembar selimut dengan Hiju yang ada di sampingnya. Tubuh mereka menyatu tanpa selembar pakaian pun dan hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Dada Killu terasa cukup berat dengan kepala Hiju yang ada di atasnya, tertidur sangat nyenyak. Tangan kanan Killu agak kaku digerakkan karena entah sejak kapan, tangan itu telah lama berdiam di kepala Hiju. Udara yang ia hirup adalah udara malam dengan semerbak wangi tubuh dan rambut dari eva yang tertidur di sampingnya.
Killua menatap langit-langit kamar yang ia tempati sekarang, kamar Hiju. Ia masih terngiang akan mimpi buruknya barusan. Kenapa mimpi itu yang musti muncul sementara ia dan Hiju baru saja 'menyatukan' diri mereka beberapa jam yang lalu.
'Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang,' pikirnya.
Kini Hiju ada disampingnya terlelap seperti bayi dengan aroma khas vanilla, mengapa tidak menikmatinya saja?
Killu mengelus kepala bidadari di sampingnya itu. Tak disangka olehnya Hiju akan bangun dan menatap ke arah mata Killua. Mata besar yang jernih dan polos itu, selalu berhasil membuat degup jantung Killua tak beraturan.
"Killu? Kau bangun? Ada apa?" tanya Hiju polos.
Killu tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Maaf mengganggumu. Tadi aku mimpi buruk."
"Benarkah? Mimpi buruk apa?"
Killua terdiam cukup lama sambil melihat ke arah luar jendela. Hiju dapat melihat ekspresi takut di wajah Killua.
"Aku bermimpi buruk.. kalau aku akan kehilangan kau."
Seperti ada angin yang berhembus ke tubuh mereka berdua, mereka berdua mendadak merasa dingin. Killua terlihat murung setelah memberitahu mimpinya barusan. Tiba-tiba, ia mendapat serangan di bibirnya. Hiju memberikan serangan itu dengan begitu lembut dan bergairah. Killua dapat mendengarkan bagaimana cepatnya jantung Hiju berdetak saat itu. Setelah cukup lama bibir Hiju bekerja melayani bibir Killua, Hiju berhenti dan menatap Killu dalam-dalam.
"Killu, aku tidak pernah menanyakan ini, tapi.. apa kau menyukaiku?"
Killua agak gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu. "I..iya."
"Seberapa suka?"
"Sangat suka. Kau,, seperti angin segar. Tanpamu, aku merasa sangat jenuh dan tidak tahu harus melakukan apa. Aku merasa hidup jika bersamamu." Killua membelai pipi Hiju dengan telunjuknya. Hiju pun menahan tangan Killua di pipinya.
"Aku juga. Aku juga merasa sangat hidup jika bersama Killua. Jika Killua tidak ada aku tidak tahu harus berbuat apa. Sepi sekali, hampa sekali. Aku tidak mau itu terjadi. Aku mau terus bersama-sama dengan Killua, tidak peduli apapun yang terjadi."
Mendengar kata-kata gadis di depannya, entah harus berapa kali lagi Killua mengakui bahwa ia tersentuh setiap kali Hiju berusaha mengatakan kalau ia juga mencintai Killua sepenuhnya. Kata-kata dari Hiju mengenai perasaan sukanya pada Killua seperti obat paling mujarab yang tidak akan pernah dapat Killu temukan lagi di tempat lain.
Tangan yang masih hinggap di pipi Hiju ia lepaskan. Tangannya ia pakai untuk menggapai tempat yang lebih rendah, yaitu punggung Hiju. Dengan lembut Killua mendorong tubuh Hiju ke arah tubuhnya yang masih terbaring.
"Kemarilah. Ayo tidur lagi. Bicaramu sudah sangat ngawur, tuh. Aku peluk Hiju-chan, ya?"
Hiju hanya tersenyum mendengar kata-kata Killu. Ia tahu kalau sebenarnya Killu sedang sangat malu sekarang karena kata-katanya barusan.
Tangan Kill melingkari tubuh Hiju yang sangat menempel di sisinya. Begitu pun dengan Hiju yang kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh Killu dengan erat.
"Tidurlah yang nyenyak. Aku akan di sini bersamamu sepanjang malam," ujar Killu lagi sambil tersenyum bahagia.
Hari demi hari berlalu. Tulang Hiju yang remuk kini semakin pulih. Berangsurnya pemulihan tangan membuat Hiju dapat bekerja lagi sebagai dokter di pet shop itu. Killua yang tinggal di sana pun tidak hanya tinggal diam. Ia juga ikut membantu Hiju dalam melayani para pelanggan dan mengobati para hewan yang membutuhkan pertolongan. Sebagai orang yang baru di sana, tak jarang klien Hiju menanyakan siapa cowok berambut putih dengan mata biru tajam yang selalu sibuk kesana kemari. Hiju hanya tersenyum malu untuk menjawabnya. Tidak hanya itu, gadis-gadis seumuran Hiju yang datang ke pet shop atau telah menjadi pelanggan tetap malah menyimpan mata pada Killua. Hiju hanya tersenyum. Ia tahu akan sangat sulit bagi gadis-gadis itu untuk mengabaikan tampannya sosok Killua.
Killua sendiri terlihat sangat menikmati pekerjaannya sebagai asisten Hiju pada siang hari. Pada malam hari, mereka kembali memadu kasih sebagaimana pasangan. Banyak sekali waktu yang mereka habiskan bersama seperti menonton film di bioskop, jalan-jalan bersama anjing, bersepeda ke taman kota, makan siang dan makan malam bersama, menyiram bunga bersama, jogging bersama, nonton video di rumah hingga tertidur di sofa, memasak bersama, membersihkan rumah bersama, tidur di halaman bersama, berayun bersama, saling memanjakan satu sama lain seperti saling suap, saling mendorong saat bermain ayunan, dan memeluk satu sama lain.
Soft as a rainbow
Like stardust and moonglow
I see the love in your eyes
Like autumn leaves falling
And the first call of morning
It came to my surprise
True love calls just once in a lifetime
Why should we wait
The joy of surrender
So strong yet so tender
I give my heart to you
You know you can trust me
And that's how it must be
No matter what we do
Faithful friends and lovers forever
Right to the end we'll always be together
Nothing can stop this love we're making
Nothing can stand in our way
Nothing can block this road we've taken
Nothing can stop us now
Hingga tiba harinya. Saat itu Killua dan Hiju sedang berada di dapur dan mereka sedang membersihkan sisa makan malam mereka. Tiba-tiba Killu dan Hiju mendengar suara bel rumah berbunyi.
"Rozu?" ujar Hiju yang ingat kalau Rozu memang akan pulang hari itu.
Killu menaruh piring dan lap yang ada di tangannya ke atas meja. Dengan cepat Killu membuka celemeknya lalu memegang kedua lengan Hiju erat-erat dan mencium kening gadis itu. Setelahnya, Killu menatap mata Hiju dalam-dalam. "Aku harus pergi. Aku berjanji aku akan menghubungimu lagi nanti. Tunggu aku, ya?"
"Killu?" Kali ini giliran Hiju yang menarik tangan Killu saat Killu
siap untuk keluar melewati jendela.
Hiju mengecup kekasihnya di bibir. "Hati-hati, ya? Jangan lupa hubungi aku lagi nanti."
Killua mengangguk dengan tatapan lembutnya. Setelah itu, Killua menghilang di luar jendela dan Hiju segera membukakan pintu untuk Rozu.
Killua hanya butuh tiga kali lompatan tinggi dan lari selama sepuluh detik untuk berada di atap rumah orang lain. Ia melihat ke belakangnya, ke arah rumah kekasihnya. Rumah yang terlihat sangat hangat. Kini Killua merasa dingin karena terpaan angin pada tubuhnya. Betapa irinya ia pada anjing-anjing di sana yang dapat merasakan betapa hangat tangan majikan perempuan mereka. Ia juga iri pada Rozu yang berdiam di bawah atap hangat bersama Hiju berdua dan dapat melakukan banyak hal bersama-sama.
Killua menatap rumah itu dengan lirih. Killua tahu kalau ia tidak mau pergi dari rumah itu dan meninggalkan Hiju sendirian dengan perasaannya. Pelan-pelan Killua melangkahkan kakinya menjauh dari situ. Ia terus berjalan tak tentu arah dengan kepala tertunduk dan wajah yang agak sendu.
Beberapa jam kemudian Killu sampai di kediaman Zaoldyeck. Jalannya lambat dan kepalanya tertunduk. Wajahnya terlihat sedih, murung, takut dan khawatir.
"Killu?"
Panggilan itu mengalihkan perhatian Killua. Ia melihat ke arah sumber suara barusan.
"Kakak?" ujarnya saat ia melihat Illumi.
"Kau terlambat. Seharusnya kau sudah datang dua minggu yang lalu," kata Illumi pada Killua.
"Ah, aku tahu. Ada yang harus aku urus," ujar Killua sembari menundukkan wajahnya.
"Yah, mau bagaimana lagi. Masuklah ke kamar isolasi. Milluki sudah menunggu di sana."
Killua sempat terdiam agak lama. "Baiklah."
Dengan berat, Killua melangkahkan kakinya menuju ruang isolasi. Ada rasa takut pada diri Killua di setiap langkah yang ia tempuh.
Beberapa menit kemudian Killu sampai di ruang isolasi yang dimaksud. Milluki sudah menunggu dengan cambuk listrik di tangannya. Selain itu, ada Kalluto dan Zeno juga di sana.
"Hoi, Killua? Ayo cepat kemari! Aku tidak punya banyak waktu untukmu hari ini," ujar Milluki sambil mengayun-ayunkan cambuk listriknya.
"Ah." Killua melangkah dengan tenang sambil membuka satu per satu kaos dan celana panjangnya.
"Kali ini selama lima jam. Setiap dua detik, Milluki akan mencambukmu tidak peduli bagaimana kondisimu, baik saat menyerangku, hendak membunuhku, maupun saat kau terluka parah. Jika kalah, simulasi duel akan ditambah menjadi tiga jam. Killu, kau siap?" tanya Zeno pada cucunya sambil memasang kuda-kuda.
"Ah." Killua juga memasang kuda-kuda.
Zeno mengeluarkan 10% Ren di sekitar tubuhnya, begitu juga dengan Killua. Tatapan keduanya menajam.
"Siap? Satu, dua,, tiga." Seketika ketika Kalluto berhenti memberikan aba-aba, Zeno dan Killua menghilang di kegelapan ruangan itu. Kecepatan Killua dan Zeno untuk bergerak dan menyerang tidak akan dapat di lihat oleh mata biasa. Aura ruangan itu berubah menjadi semakin mengerikan akibat adanya banyak benturan energi dua pembunuh suksesor dari keluarga Zaoldyeck yang sedang melakukan simulasi duel. Milluki ada di sana sebagai seseorang yang bertugas untuk mencambuk Killua selagi adik dan kakeknya itu berduel. Sementara itu, Kalluto menjadi juri atas simulasi pertarungan (yang sebenarnya mematikan) antara Zeno Zaoldyeck dengan cucunya, Killu.
'Pertempuran' berlangsung mematikan. Walaupun Killu adalah cucu kesayangan bagi dirinya, Zeno tidak main-main dalam simulasi yang mereka lakukan. Begitu pun dengan Killu, meskipun Zeno adalah kakeknya, ia harus serius dalam simulasi itu untuk bertahan hidup. Perjuangan Killua semakin besar karena adanya cambukkan dari Milluki yang selalu saja berhasil mengenai tubuhnya. Milluki juga bukan kakak yang penuh dengan rasa takut akan menyakiti adiknya. Ia malah senang mendapat kesempatan untuk dapat 'menghancurkan' tubuh Killu seperti saat ini. Sedangkan Kalluto, sebagai juri ia harus memperhatikan seluruh gerak – gerik para pemain yang ia tonton. Di luar hal itu, Kalluto sebenarnya memiliki tujuan dengan menonton pertarungan antara kakak dan kakeknya, yaitu keinginannya menjadi kuat. Ia ingin tahu apa yang membuatnya 'kurang' selama ini. Dengan melihat pertarungan antara kakeknya yang merupakan penerus bisnis pada generasinya dan kakaknya yang ditaksir dapat menjadi salah satu pembunuh terkuat di sejarah keluarga mereka, Kalluto berpikir ia dapat menemukan titik kelemahan pada dirinya.
Lima jam sudah berlalu. Killua terbaring lemas dengan tubuh penuh luka dan bekas cambukan. Ia berkeringat sangat banyak dan tidak henti-hentinya mengambil udara. Di lain sudut, kakeknya terlihat biasa saja, begitu tenang dan kalem memperhatikan cucunya yang kelelahan. Dalam hatinya, Zeno mengagumi Killua lebih daripada cucu-cucunya yang lain. Terakhir kali Zeno dan Killua melakukan simulasi ini adalah dua minggu yang lalu. Ia masih ingat bagaimana parahnya luka Killua akibat simulasi. Sekarang Killua membuat banyak kemajuan. Tiga jam terakhir ia sudah berhasil menghindari cambukkan Milluki. Hal ini menandakan Killua sudah semakin lihai dalam menghindari satu serangan lain dalam satu pertempuran. Dengan begitu, cara mencambuk bukan hal yang tepat lagi untuk menguji si rambut putih berumur sembilan belas tahun. Zeno berfikir mengenai bahan lain untuk menguji Killu.
"Milluki?" panggil Zeno pada Milluki yang masih kesal karena Killua telah berhasil menghindari beberapa kali serangannya.
"Iya, kek?"
"Ikat Killua."
Milluki terlihat senang. "Baiklah, Kek!"
Dengan sigap, Milluki segera membawa tubuh Killua yang lemas ke bawah gantungan. Kedua tangan Killua diikat ke arah atas dan kakinya diikat ke arah bawah. Tubuh Killua tergantung pada ketinggian sekitar tiga meter dari tanah.
Milluki tersenyum puas saat melihatnya. Sementara Killua, ia hanya diam menunduk.
"Ayo Milluki, biarkan dia istirahat dulu," ujar Zeno sambil berjalan menuju pintu keluar di atas tangga.
"Baiklah, kek." Milluki mengikuti kakeknya untuk pergi dari tempat itu.
Tinggalah Kalluto dan Killua di sana. Kalluto menatap kakak ketiganya dengan tatapan heran dan bertanya. Sementara Killua masih terus menunduk dan diam menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Kakak?"
"Hmm?" kepala Killua belum terangkat.
"Kenapa?"
"…" Killua masih diam.
"Kenapa rela melakukan hal seperti ini? Kau sudah bisa keluar dari rumah, kenapa kembali? Kau tahu kan kalau kakek dapat membunuhmu dengan mudah tadi?"
Killua tersenyum pahit. "Kalluto?"
"Ya?"
"Kau belum menemukan orang yang kau suka lebih dari apapun. Kau tidak akan mengerti."
Kalluto terdiam mendengar kata-kata Killua. Killua melanjutkan.
"Aku melakukan ini karena aku sangat menyukainya. Aku rela melakukan apa saja asal bisa terus melihatnya. Yang keluarga ini butuhkan hanya aku sebagai pembunuh. Jika aku mampu mengabulkan permintaan mereka tanpa menyakiti orang yang sangat aku suka, aku rela menghadapi ini setiap hari."
Kalluto terdiam. "Seberapa penting dia bagimu?"
"Dia sangat penting. Yang aku inginkan sekarang hanya bersamanya. Aku tidak peduli berapa kali lagi aku harus menerima ini. Sebanyak apapun simulasi ini dilakukan, separah apapun lukanya, sesadis apapun yang kakek dan Milluki lakukan padaku, selama aku masih bisa melihatnya tersenyum, semua sakit ini akan hilang."
