Ch 6 : The Reason
Marciana : Wah, thanks udah like fic ini.. :') hu-uhm, saya pengen banget nunjukkin kalo Killuanya bener-bener sayang sama pacarnya, mungkin karena itu saya jadinya bikin fic ini panjang banget.. ^^"
Kehidupan Hiju masih seperti biasa. Setelah kepergian Killua beberapa hari yang lalu, kini ia menjalani hari –lagi- bersama Rozu. Hari-hari Hiju dipenuhi berbagai macam kegiatan yang sangat menyita waktunya. Padatnya aktivitas yang ia tekuni setiap hari kerap kali membuatnya lupa akan Killu.
'Hal itu terulang lagi', pikirnya. Hal di mana Killua seperti menghilang begitu saja dari kehidupannya. Tapi ada yang berbeda kali ini. Walaupun Killua masih belum memberikan kabar sejak kepergiannya kemarin, Hiju merasa kalau Killua selalu ada untuknya, selalu ada di sisinya dan selalu mengawasinya. Entah hanya firasat atau apa, tapi kali ini Hiju yakin kalau Killua adalah sosok yang ia cari selama ini dan ia tidak akan pernah pergi jauh.
Hari itu hari Kamis. Rozu sedang sibuk menemui banyak supplier yang mendistribusikan pakan hewan peliharaan ke toko mereka. Berhubung terjadi inflasi yang cukup lumayan di York Shin, Rozu datang kepada mereka dengan niat untuk melakukan negosiasi masalah harga. Di pet shop, Hiju baru saja selesai membersihkan lantai saat ia merasa perutnya tiba-tiba mual. Pada dua jam berikutnya, ia sudah dua kali muntah. Hiju juga ingat kalau pada bulan baru itu ia sudah terlambat datang bulan selama empat hari. Merasa ada yang tidak beres, Hiju segera menggunakan test pack tanpa sepengetahuan Rozu. Saat ia melihat lambang '+' pada test pack itu, betapa bahagianya Hiju. Namun di sisi lain, kebahagiaannya sirna saat ia membayangkan reaksi Rozu mengenai kehamilannya.
'Rozu akan sangat membenci ini,'
Di tempat lain, firasat Killua mengenai Hiju akhir-akhir ini terasa kurang baik. Setelah menyelesaikan simulasi duel sesi dua dengan kakek Zeno, pada tengah malam itu Killua memutuskan untuk menghubungi Hiju di tengah hutan. Ia tidak peduli dengan perutnya yang lapar, tubuhnya yang penuh keringat, dinginnya malam saat itu dan banyaknya luka yang membuat ia merasa perih. Baginya, menghilangkan firasat buruk mengenai Hiju adalah hal yang paling penting untuk Killua saat ini. Lagipula, walau tubuhnya penuh dengan luka dan memar, Killu telah menjadi lebih kuat sekarang. Fisiknya memang lemah karena kelelahan tapi di dalamnya ia telah menjadi lebih kuat.
Jantung Killua berdegup lebih cepat daripada nada sambung yang ia dengar. Sudah tiga kali Hiju tidak mengangkat telepon dari Killua saat itu. Debaran jantung Killua makin tidak karuan ketika ia ingat kalau Illumi belum pulang sejak ia pergi kemarin untuk menjalankan tugas. Saat Killua baru saja memikirkan kemungkinan terburuk yang dialami Hiju, Hiju mengangkat teleponnya.
"Halo?"
Killua menghembuskan nafas lega begitu mendengar suara lembut yang sangat ia kagumi dari seberang sana. "Hhhh~… kenapa lama sekali mengangkatnya? Kau membuatku takut."
"Ah, maaf. Tadi aku sedang menyetrika pakaian dan ponselnya aku tinggal di kamar. Aku pikir tidak akan ada telepon atau pesan."
Killu tersenyum. "Begitu, ya?"
"Killu sendiri, tumben sekali kau meneleponku. Kau kemana saja? Kenapa menelepon pada jam seperti ini? Kau belum tidur?"
"Maaf, aku baru bisa meneleponmu malam ini. Sejak aku pulang waktu itu, aku terus sibuk memenuhi perintah ayah dan ibu, seperti yang kau pinta. Jadi, baru malam ini aku meneleponmu. Maaf, ya?"
Hiju terdiam sebentar. "Oh, begitu ya? Syukurlah jika hubungan Killu dengan orang tua baik-baik saja."
"Hiju?" Killua mulai terdengar serius.
"Hmm?"
"Apa kau sedang mendapat masalah sekarang?"
Hiju terdiam di seberang sana.
"Hiju?" panggil Killua lagi.
"Eh? Emm, tidak. Aku tidak mengerti maksudmu. Masalah seperti apa memangnya?"
Killua menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung bagaimana harus menjawabnya. "Ehmmm,, apapun. Mungkin ada yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini atau ada orang yang mengganggumu sehingga kau tidak merasa tenang. Yah, apapun itu, kau bisa ceritakan padaku. Aku akan senang mendengarnya. Mungkin kita bisa mencari solusinya bersama-sama?"
Di seberang sana, air mata Hiju mengalir deras mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Killua. Dengan cepat Hiju mengambil salah satu gumpalan tissue yang berserakan di lantai kamar dan menghapus air matanya berkali-kali. Hiju mencoba untuk tidak 'berisik' saat menangis. Ia tidak mau Killua jadi mengkhawatirkannya.
"Tidak, aku tidak apa-apa, kok. Sungguh…. Killu?"
"Hmm?"
"Kapan kau ke York Shin?"
Killua terdiam untuk berfikir. "Sebulan lagi, mungkin."
"Ohh.. masih lama, ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Ah, tidak. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Rasanya sudah lama sekali sejak kau pergi."
"Maaf, ya. Bukannya aku tidak mau bertemu denganmu, tapi.. ada yang harus aku selesaikan dulu saat ini. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan ini secepat mungkin jadi aku dapat bertemu lagi denganmu. Kau mau menunggu, kan?"
Hiju merasakan kehangatan saat Killua memberinya janji untuk bertemu. "Tentu saja."
Killua tersenyum. Ia memandang ke atas, menatap bulan yang sedang bersinar terang kepadanya. "Kau bisa melihat bulan, Hiju?"
Hiju merangkak ke arah jendela dan melihat ke luar-atas. "Iya."
"Bagus, ya? Walau tempat kita berbeda tapi kita dapat melihat hal yang sama. Mendadak aku ingin punya sesuatu yang mengingatkanku pada Hiju. Sesuatu yang dapat aku lihat dan aku bawa kemana pun aku pergi. Jika aku rindu pada Hiju, aku hanya tinggal melihat benda itu maka aku akan melihat Hiju juga. Rasanya ingin sekali punya benda itu. Oh! Apa lebih baik kita punya aksesoris couple ya? Menurut Hiju, bagusnya apa?"
Hiju terdiam. "…. Entahlah."
Mendengar suara Hiju yang berubah parau dan nada bicaranya yang dingin, Killua merasakan ada sesuatu yang aneh, tapi ia tidak mau dianggap sebagai pacar yang 'mengusik' terlalu banyak. "Hiju, apa kau sudah mengantuk?"
Hiju diam saja di seberang sana, tidak ada jawaban.
Merasa Hiju memang sudah mengantuk, Killu tersenyum maklum dan memutuskan untuk mengakhiri teleponnya malam itu. "Baiklah, selamat tidur ya. Semoga mimpi indah. Aku… sangat suka Hiju. Tunggu aku, ya?"
Killua menutup panggilannya dan menghembuskan nafas panjang. Sejenak Killua diam untuk memikirkan banyak hal : Hiju, keluarganya dan urusan Killu di rumahnya itu. Sementara itu di kejauhan, Hiju memeluk kedua lututnya erat-erat dan menempelkan kedua matanya pada lutut. Ia menekannya sekeras mungkin agar air matanya tidak keluar. Wajah Hiju juga memerah karena Hiju terlalu berusaha untuk memendam tangisannya. Hatinya juga terasa sangat sakit dan berat untuk menampung air matanya agar tetap tidak keluar. Di sekelilingnya, baik di lantai maupun ranjang dan meja, banyak sekali perabotan yang berserakan. Bola tissue memenuhi lantai kamar Hiju, pecahan bingkai foto dirinya dan Rozu di lantai, jam yang hancur, gunting besar di dekat ranjang dan isi dari kotak P3K yang berserakan di dekat gunting tersebut, semuanya benar-benar membuat kamar Hiju terlihat sangat kacau.
Bulan sedang ada di masa super moon saat itu. Besarnya mencapai tiga kali lipat dari biasanya pada jendela kamar Hiju. Ukuran bulan yang semakin besar membuat cahaya yang ia pancarkan lebih besar pula. Di kegelapan malam itu, Hiju yang bermandikan cahaya berdiri di hadapan cermin dan membuka kemeja tidurnya. Ia melihat ada banyak sekali memar ungu kebiru-biruan memenuhi tubuh. Tidak hanya pada tubuh, ia juga merasa perih di sekitar kening kanannya. Saat ia melihat bayangannya di cermin, ia melihat ada luka sepanjang tiga sentimeter di kening kanan atas dan sepertinya masih akan terus mengalirkan darah.
"Narukamiiiii!"
Zeno yang kesulitan untuk memasang En agar dapat melindungi dirinya sendiri kini tidak bisa melakukan apapun. Dengan sangat terpaksa, ia menahan Narukami dari Killua dengan kedua tangannya yang telah diselubungi banyak aura. Pertempuran berlangsung menegangkan bagi Milluki, Kalluto, Silva dan Kikyo yang ada di sana. Suara yang timbul dan gempa dari serangan akhir sang cucu pada sang kakek mampu menggetarkan tanah Zaoldyeck hingga sampai ke kediaman Seaquant. Terkejutnya Seaquant dan Zeburo karena mendengar gemuruh dan merasakan gempa yang bersumber dari kediaman majikan mereka belum apa-apa. Jika mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri mengenai sengitnya pertempuran antara Zeno dan Killu, mereka akan lebih terkejut dari ini. Keterkejutan itulah yang dialami Silva, Kalluto, Milluki dan Kikyo. Seminggu yang lalu Killua mampu menyamai 10% kekuatan Zeno. Hari itu, Killua telah berhasil menyamai 35% kekuatan kakeknya.
Killua terduduk lemas. Tubuhnya penuh dengan luka yang dibasahi keringat akibat terlalu banyak mengeluarkan tenaga saat akan melepaskan Narukami. Kakeknya –Zeno- masih sanggup berjalan dengan bajunya yang compang – camping akibat menahan serangan Killua yang terakhir.
Zeno tersenyum puas. "Kau boleh istirahat sekarang," ujarnya pada Killu yang disertai dengan senyum.
Killua terbaring lemas dan sibuk mengambil nafas. Satu per satu dari anggota keluarganya yang ada di sana meninggalkan kamar isolasi. Mulai dari Zeno yang diikuti oleh Milluki dan Kalluto lalu Kikyo. Sementara itu, Silva menghampiri anaknya yang masih terbaring di lantai.
"Killu?"
Killu menatap wajah ayahnya yang berdiri di samping.
"Temui ayah satu jam lagi. Ada yang harus ayah bicarakan padamu."
"Killu?"
"Ya, ayah?"
Silva menatap anaknya lekat-lekat sedangkan anaknya menunduk dan melirik ke arah lain.
"Bagaimana dengan teman perempuanmu itu?"
"Ehm, kurasa dia baik-baik saja. Aku belum menghubunginya lagi."
"Killu?"
"Ya?"
"Apa kau akan menemuinya lagi?"
Killua terdiam sejenak. "Iya."
"Pergilah."
Kata Silva yang terakhir cukup menarik perhatian Killua. Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang ayah.
"Pergilah sebentar untuk menemuinya. Kau memang belum bisa mengecoh ayahku tapi, kau mengalami banyak kemajuan. Kau baru saja kembali selama seminggu tapi kekuatanmu telah meningkat cukup banyak. Kurasa tidak ada salahnya untuk membiarkanmu pergi sebentar. Lagipula besok adalah hari ulang tahunmu. Rayakan hari ulang tahunmu dengan orang yang sangat kau suka. Kembalilah secepatnya. "
Killu tersenyum senang menatap ayahnya. Dengan cepat, Killua segera meminta Gotoh untuk menyiapkan tiket menuju York Shin. Malam itu juga, Killua terbang menuju York Shin dengan perasaan senang dan gembira.
Tepat pukul 00.00, sebuah pesan muncul di ponsel Killu. Pesan itu adalah pesan pertamanya pada tanggal 7 Juli yang dikirim dari kekasihnya, Hiju. Isinya mengenai ucapan selamat tahun dan doa-doa serta harapan manis Hiju untuk kekasih berambut putihnya.
Killu tersenyum saat membacanya. Ia tidak menuliskan pesan saat membalas. Yang Killu lakukan adalah mengirim sebuah gambar di mana ada sepasang kekasih yang terlihat saling mencintai satu sama lain dengan sedikit tulisan di bagian bawah gambar itu : Loved you yesterday, Love you still, Always Have, Always will...
Killua makin tidak sabar untuk dapat bertemu dengan kekasihnya.
Sore harinya Killu meminta Hiju untuk datang ke pantai. Saat senja menjelang, Killu yang sedang duduk santai menikmati angin tiba-tiba mencium wangi tubuh yang sangat familiar di hidungnya. Saat ia menengok ke belakang, ia melihat sosok yang ia tunggu di sore itu.
Perempuan itu tersenyum manis seperti biasa.
Mereka berjalan-jalan di sekitar pantai, bermain air, menggambar di pasir putih dan saling mengejar satu sama lain. Pasangan yang berbahagia, itu yang dipikirkan setiap orang yang melihat Hiju dan Killu.
Killu dan Hiju masih berjalan menyusuri pantai saat hari sudah menjelang malam. Karena air yang makin meninggi ke permukaan, mereka memutuskan untuk menikmati pantai dari atas jembatan kayu.
"Hiju-chan?"
Hiju menoleh.
Saat itu juga Killua memperlihatkan dua buah kalung berliontin. "Masih ingat dengan keinginanku untuk memiliki barang yang dapat saling mengingatkan satu sama lain?"
Hiju mengagguk.
"Ini dia~.. satu liontin ini untukmu. Ada foto serta namaku di dalamnya. Jadi, di mana pun dirimu berada, saat kau jauh dariku, kau akan terus mengingatku. Aku juga begitu. Tak peduli seberapa jauhnya kita, aku hanya perlu memandang liontin ini setiap kali aku merindukanmu. Ini untukmu," ujar Killua sembari menyodorkan satu kalung silver dengan liontin kecil.
Liontin itu memiliki desain ala victoria klasik dengan sedikit sentuhan gothic. Hiju mengambil liontin itu dan menatapnya baik-baik. Hiju tahu kalau Killua tidak mengeluarkan sedikit uang untuk membelinya.
"Ini mahal sekali," Hiju bergumam dengan nada bicara penuh rasa bersalah.
Killua tersenyum enteng. "Tidak apa-apa. Aku pakaikan, ya?" Killua bangkit dari tempat duduknya dan meraih liontin yang dipegang Hiju. Dengan gentle Killua melingkarkan kalung pemberiannya ke leher jenjang perempuannya. Setelah itu, Killu mengecup pipi kekasihnya. Ia merasa puas melihat Hiju dengan kalung pemberiannya.
"Cocok denganmu. Jaga baik-baik kalung itu, ya?" Killua menepuk kepala Hiju dengan senyum manis sementara Hiju hanya terdiam menatap Killu. Masih blushing karena Killu sempat mengecupnya tadi.
Mereka berdua berdiri dan berjalan sedikit menuju pagar jembatan. Di sana mereka menikmati lagi deburan ombak dan angin selama beberapa menit sambil mengobrol. Hingga akhirnya Killu merasa ada yang berbeda dengan Hiju pada menit-menit terakhir. Hiju terlihat resah sekali.
"Hiju, kau kenapa?" tanya Killua dengan ekspresi cemas.
Hiju tersenyum kecut. "Killu, aku hamil."
Killua terkejut bukan main saat mendengarnya. Awalnya ia sempat berfikir kalau Hiju sedang bermain-main. Pada sekon selanjutnya, ia melihat ekspresi murung pada Hiju. Ia menyimpulkan Hiju sedang tidak bercanda. "Hamil?"
Hiju mengangguk pelan. "Rozu juga sudah tahu dan ia marah besar. Ia ingin aku menggugurkan anak ini."
Killu terdiam. Mendadak jantungnya berdebar tidak keruan, tubuhnya dipenuhi keringat basah. Bagi Killu, berita kehamilan Hiju bukanlah berita baik baginya. Ini lebih seperti mimpi buruk. Sejujurnya, Killu tidak suka kalau Hiju hamil.
"Gugurkan saja."
Hiju menoleh ke arah Killua. "Eh?"
"Jika dia mati, akan lebih baik baginya."
"Killu, apa maksudmu?" Hiju nampak heran dengan sikap Killu yang seolah tidak mau bertanggungjawab.
"Aku tidak bisa membesarkannya. Aku belum siap. Melahirkannya pun tidak akan berguna karena cepat atau lambat anak itu pasti akan dibunuh keluargaku."
Mendengar kata-kata Killu tanpa terasa air mata Hiju mengalir. "Kenapa? Kau tidak mau melihat anakmu sendiri?"
"Bukan begitu, Hiju. Masalahnya, aku tidak bisa karena orang tuaku! Orang tuaku akan sangat marah jika mereka tahu kalau kau mengandung anakku!"
"Tapi kita kan bisa pergi dari sini! Kita bisa mencari jalan bersama-sama! Kau kan yang bilang kalau kita tidak bisa saling hidup sendiri! Sekarang ada anak ini, harusnya kau lebih kuat untuk keluar dan pergi bersamaku!"
Killua menggigit bibir bawahnya. "Tapi aku tidak bisa! Gugurkan saja bayi itu! Apa susahnya?!"
"Aku ibunya! Aku tidak mau membunuh bayi ini! Ini semua karena keluargamu atau hanya karena kau tidak mau bertanggungjawab?!"
"Ini karena keluargaku!"
"Kalau demi keluargamu kenapa demi Gon kau rela pergi dulu?! Kenapa tidak denganku?! Katanya kita akan menghadapi masalah bersama! Mana janjimu?" suara Hiju bergetar hebat.
Killua hanya terdiam. Ia tidak mau melihat Hiju sama sekali. Melihat reaksi Killu yang seperti itu, Hiju hanya mengeluskan dada. "Astaga, Killu. Selama ini yang kau katakan semuanya bohong."
"AKU TIDAK BOHONG!" Killua mendadak histeris.
"KAU BOHONG! KATANYA KAU SERIUS DENGANKU TAPI MANA BUKTINYA?! Hidup denganku seumur hidup? Menerima bayi ini pun saja kau tidak bisa!"
Killua terlihat makin emosi. "Kalau begitu ya sudah! Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi."
Killua pergi meninggalkan Hiju sendirian di jembatan itu. Dengan cepat ia segera menghilang dari mata Hiju yang masih basah karena air mata.
Hiju menangis histeris sementara Killua terus berlari tanpa arah. Hatinya terasa sakit, kepalanya terasa pusing dan matanya terasa berair. Killua masih merasa shock dan hancur secara bersamaan. Hatinya terasa lebih sakit daripada luka cambukkan pertama dari Milluki. Saat itu Killu menangis.
Killu terus berlari. Malam itu ia segera pulang ke rumahnya di Gunung Kukuru.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Killu sampai di rumah. Baru saja hendak membuka Gerbang Penguji, perhatian Killua dialihkan dengan panggilan dari Zeburo.
"Tuan muda Killua, ada paket untuk anda."
Killua menatap paket yang ditujukan untuknya : sebuah pohon mawar putih kecil yang di wrap dengan plastik. Melihat paket 'unik' di depan matanya, Killu jadi tertarik untuk melihat kartu ucapan selamat yang sengaja ditempelkan di plastik pembungkus bunga (walaupun sebenarnya ia sudah memiliki bayangan mengenai si pengirim). Saat Killua membuka kartu itu, hati Killu terasa remuk. Dugaannya mengenai Hiju yang memberikan bunga itu nyatanya benar. Di kartu itu Hiju menulis :
"Aku tahu kau merasa kesulitan saat membantuku di Cloud kemarin. Mulailah dengan memelihara bunga ini. Aku sangat suka mawar putih. Jika kau berhasil membuatnya berbunga hingga merambat, itu artinya kau punya tangan perawat~.. ^^
Selamat ulang tahun, Killu. Segala yang terbaik hanyalah untukmu.
PS : Karena kau bilang kau akan ke York Shin sebulan lagi, akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan bunga ini ke rumahmu agar kau cepat menerimanya~.. "
Killu speechless saat membaca isi kartu itu.
"Zeburo, kapan paket ini datang?"
"Kemarin siang, tuan. Sebenarnya Gotoh sudah menyuruh saya untuk membuang paket ini tapi saya pikir tuan harus melihatnya dulu. Karena itu saya masih menyimpannya di sini."
Killu terdiam memandangi kartunya. Ia memperkirakan pengiriman ini dilakukan oleh Hiju sebelum ia tahu kalau Killu akan menemuinya kemarin. Pengiriman dari York Shin ke Padokia membutuhkan waktu minimal selama 24 jam dan itu adalah waktu tercepat. Itu artinya, paket itu dikirimkan sebelum Killu menyakiti Hiju di pantai.
Tanpa dibantu oleh Zeburo, Killua membawa paket bunga dari Hiju ke sebuah tempat di dekat kandang Mike. Ia yakin jika ia menempatkannya di sana, Mike tidak akan merusak bunga itu. Dengan penuh kehati-hatian Killua memindahkan bunga itu ke tanah. Di bibirnya ada senyum tapi di matanya berlinangan air mata. Killu merasa sangat bersalah karena sudah bicara dengan begitu jahat pada Hiju kemarin.
Setelah selesai dengan tanamannya, Killua menghadap sang ayah.
"Ayah, aku ingin mengajukan tawaran mengenai perjanjian kita."
"Apa itu, Killu?"
"Jika aku berhasil mengecoh kakek Zeno, tidak peduli pada batas waktunya, maka aku bebas untuk melakukan apa yang aku mau. Apapun itu, termasuk menjadikan orang biasa sebagai istriku."
Ayah Killu terkekeh. "Maksudmu, Hiju?"
Killu mengangguk.
Ayahnya tersenyum. "Boleh saja, tapi kau tahu kan bagaimana kuatnya kakek Zeno? Dan apa kau sudah memikirkan mengenai kehidupanmu dengan Hiju nantinya?"
"Iya, aku tahu kakek Zeno memang kuat. Tapi aku tidak peduli. Seberapa kuat pun, jika aku harus mengalahkannya, aku akan terus berusaha. Aku juga sudah mempertimbangkan mengenai kehidupanku dengan dia nantinya."
"Kau yakin, Killu? Bagaimana dengan janjimu yang satunya lagi?"
Killu terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya.
"Bagaimanapun juga Hiju adalah orang biasa. Apa kau sudah memikirkan bagaimana jadinya kehidupanmu dan kehidupan dia nantinya? Jika kau membawanya kesini, aku jamin hanya kakak dan ibumu saja yang protes. Aku dan Zeno sangat mengerti perasaanmu pada gadis itu. Ada kalanya kau juga harus memikirkan perasaan dia nanti. Jika kau membawanya kemari, ia harus terbiasa hidup seperti kita walaupun ia bukan pembunuh. Ia juga harus mau merelakan anaknya di didik menjadi seorang pembunuh bayaran. Jika kau dan dia hidup di luar sana, bagaimana dengan janjimu pada kami, Killu? Hiju dapat Illumi bunuh dengan mudah. Tentu kau tidak mau melihatnya bergelimangan darah, bukan? Bagaimana dengan nasib anakmu juga? Kau tetap harus pergi menjalankan tugasmu sebagai pembunuh bayaran sementara anakmu harus mengenal sosok ayahnya sebagai pembunuh atau sebagai orang lain dengan identitas palsu. Hiju juga akan tetap tertekan pada akhirnya, kan?"
Killu terdiam.
Silva melanjutkan kata-katanya. "Tentu semua terserah padamu, Killu. Aku hanya memberikan pandangan saja. Sekarang, sudah waktunya kau menemui Zeno di ruang biasa."
Killu diam dan melangkahkan kakinya keluar kamar itu menuju kamar isolasi. Selama ia berjalan Killua terus memikirkan kata-kata ayah yang sebenarnya memang benar.
Ketika Killu sampai di ruang isolasi, Zeno, Milluki dan Kalluto sudah ada di sana. Kali ini bukan cambuk yang dipegang Milluki, melainkan granat. Granat itu adalah penemuan Milluki yang ditujukan bukan untuk meledakkan. Granat itu dirancang untuk merasakan suhu panas manusia pada jarak sekitar -paling jauh- 2 cm. Jika ia merasakan suhu panas manusia selama 0,8 detik, granat itu akan mengeluarkan asap beracun yang mematikan. Asap akan keluar selama lima menit dan selama asap itu keluar, granat itu akan sedikit demi sedikit menghilang juga. Seperti kapur barus yang akan menebarkan baunya dan di saat yang bersamaan ia juga akan menghilang sedikit demi sedikit tanpa jejak.
Granat itu disebar di beberapa tempat. Tujuan dari penempatan granat pada simulasi kali ini adalah untuk melatih pergerakan Killu saat bertarung karena jika tanpa jebakan apapun Killu akan bebas bergerak kemana saja. Ketika ia berhadapan dengan cambuk listrik, Killu hanya perlu menghindari pergerakan cambuk. Dengan granat ini, Killu akan lebih sulit bergerak karena granat yang disebarkan berjumlah lebih dari empat puluh buah sehingga Killua harus lebih tanggap dalam menghindar, mendarat dan bergerak.
"Killu, ayo kita mulai," ujar kakek Zeno.
Killu berdiri berhadapan dengan kakeknya pada jarak sekitar 3 meter.
"Siap, Killu?"
"Iya."
Duel antara kedua Zaoldyeck pun dimulai. Selama pertarungan Killu cenderung tidak konsen. Pada tiga puluh menit awal ia sudah terkena delapan granat dan duel terpaksa dihentikan sebentar untuk menunggu Killu pulih dari racun. Kalluto, Milluki dan Zeno menganggap kekurangtanggapan Killu sebagai adaptasi pada granat. Padahal, semenjak duel dimulai yang Killu pikirkan adalah semua hal yang terjadi bersama Hiju hingga hari ini dan apa pendapat keluarganya selama ini.
Otak Killu melakukan kilas balik.
Semuanya berawal dari pertemuannya dengan Hiju di York Shin, saat Hiju menabraknya. Saat itu Killu terus membuntuti Hiju. Gadis itu terus berjalan hingga ia sampai di sebuah rumah yang agak jauh dari keramaian. Sesampainya di rumah itu, Hiju berjalan dengan dituntun seorang kakek renta. Ia membawa Hiju ke halaman belakang rumahnya di mana ada seekor anjing sedang terbaring tidak berdaya. Killu juga ikut masuk ke dalam rumah itu dan menggunakan Zetsu agar keberadaannya tidak disadari penghuni rumah.
Killu memperhatikan bagaimana gadis itu memeriksa keadaan anjing yang sakit dengan penuh kelembutan. Ia dapat merasakan ketulusan pada diri gadis itu saat ia menolong anjing yang sakit dan bicara pada sang kakek. Killu juga melihat saat gadis itu tersenyum dengan lembut pada anjing dan kakek di sana. Pada detik itu, Killu merasa ada hembusan angin yang dahsyat di hatinya. Wajah Killu memerah dan matanya tidak bisa berpaling pada hal lain. Ia terus memandangi Hiju yang berusaha menolong si anjing dengan usahanya sendiri dengan hanya berbekal peralatan dan obat-obatan yang ia bawa di sebuah kotak.
Menjelang malam, Hiju keluar dari rumah kakek itu untuk berjalan pulang. Killua masih mengikutinya dari jarak sekitar 4 meter. Ia terus memperhatikan gadis itu dari atap rumah orang, arah pinggir, belakang dan area manapun yang membuatnya merasa nyaman untuk mengintai gadis itu. Killu sempat tersenyum saat melihat perempuan itu berputar-putar keriangan karena baru saja menyelamatkan satu ekor anjing hari itu. Hingga tiba waktunya bagi Killua untuk show off.
Saat Hiju menemukan bahaya di depannya, Killu turun dan menyandera salah satu pemabuk yang ada di sana. Beruntunglah tempat itu gelap sehingga Killu dapat membaur tanpa disadari oleh pemabuk-pemabuk itu. Cukup dengan ancaman dan menunjukkan kuku tajamnya, Killu berhasil mengusir para pemabuk yang ada. Saat semua pemabuk berlarian, wajah Hiju sangat mencuri perhatian Killu. Umumnya perempuan normal akan merasa shock dan takut saat menyadari dirinya tengah diganggu orang-orang usil seperti pemabuk-pemabuk barusan, tapi tidak dengan gadis ini dan Killu tertarik karenanya. Gadis ini menunjukkan ekspresi yang begitu tenang namun manis. Matanya jernih dan dalam. Dan di saat itu, Killu memutuskan untuk mendekatinya. Ia belum sadar kalau ia sedang jatuh cinta.
Sayangnya, cara Killu untuk mendekati gadis itu salah. Ia malah berdiri di belakang gadis itu dan membuat Hiju kaget saat berbalik. Tapi harus Killu akui, walaupun pertemuan pertama itu tidak semulus yang ia harapkan, Killu tetap merasa senang.
Beberapa hari kemudian, Killua bertugas sebagai penguji para peserta Ujian Hunter. Saat itulah ia mulai melupakan sosok Hiju dan sosok itu kembali saat salah satu teman dekatnya memberikan rekomendasi soal dokter hewan untuk Mike.
Semuanya terasa seperti telah direncanakan bagi Killu. Hiju menabraknya dan entah mengapa Killua merasa ia harus membuntutinya, para pemabuk yang membuat Killu akhirnya mengetahui nama gadis itu, Mike sakit dan Killua harus pulang membawa dokter, temannya mengenal Hiju dan merekomendasikannya, Hiju bersedia datang ke Gunung Kukuru dan akhirnya mereka bertemu kembali. Killu merasa Hiju memang ditakdirkan untuk bertemu dengannya dan mungkin untuk hidup bersamanya. Sayangnya hal itu tidak mudah.
Saat Hiju datang ke kediaman Zaoldyeck, Illumi seolah sudah tahu kalau Killu menaruh perasaan pada Hiju. Kalluto yang penasaran dengan dokter hewan rujukan Killua telah sengaja menunggu di dekat gerbang penguji pada hari perkiraan Hiju datang. Sejak Hiju masuk wilayah kekuasaan Zaoldyeck dengan ditemani Zeburo, Kalluto sudah mengikutinya. Kalluto terus mengikuti Hiju hari itu. Gotoh pun tahu akan hal itu. Menurut Kalluto, Hiju memang cantik dan pintar. Ia yakin kalau kakak tengahnya dapat dengan mudah jatuh ke pelukan gadis itu.
Saat malam, Kalluto tidak keberatan untuk membagi informasinya pada seluruh anggota keluarga yang telah berkumpul. Killua saat itu belum muncul.
"Bagaimana dia menurutmu, Kalluto?" tanya Kikyo.
"Dia cantik dan pintar. Kurasa ia dapat menyembuhkan Mike."
"Seberapa cantik dia?" tanya Kikyo lagi.
Kalluto blushing. "Kurasa dia cantik sekali. Matanya hitam jernih dan dalam, rambutnya hitam panjang dan ujungnya keriting. Rambutnya juga halus seperti rambut kita. Kulitnya putih, bibirnya merah tipis, hidungnya tinggi dan lancip. Wajahnya kecil dan agak tirus. Lehernya tinggi dan kokoh. Tubuhnya tidak lebih tinggi dari ibu tapi sangat semampai. Perawakannya juga sangat tenang. Sepertinya dia bukan tipe penjilat."
"Jika mendengar penjelasanmu sepertinya dia benar-benar sempurna. Killua mungkin menyukai gadis itu," ujar Silva sambil tersenyum.
Mendengar itu Kikyo panik. "Apa maksudmu, sayang?! Dia hanya seorang dokter hewan! Mana mungkin Killu akan menyukai gadis itu?!"
"Killua adalah anak yang berprinsip kuat. Dia berbeda dengan kita. Tidak mustahil baginya untuk menyukai gadis seperti yang diceritakan oleh Kalluto barusan."
Kikyo geram sendiri.
"Apa harus aku bunuh dia, ibu?" tanya Illumi dengan tenangnya.
"Jangan, Illumi. Kita butuh dia untuk Mike," Zeno menjawab pertanyaan Illumi dengan cepat.
"Kalau begitu, bunuh saja dia setelah Mike sembuh!" seru ibunya.
"Tapi kurasa Killu akan marah jika kita melakukan hal itu. Killua itu nekat. Ibu ingat kan saat dia hendak keluar dan mengikuti Ujian Hunter dulu? Dia melukaiku dan ibu dengan sangat parah. Jika kita membunuh temannya ini, bisa-bisa dia lebih mengerikan." Milluki bicara.
Satu ruangan itu diam.
"Biarkan saja gadis itu. Dia bukan ancaman bagi kita. Awasi saja Killua jika kau tidak mau ia jatuh cinta pada gadis itu," ujar Silva pada Kikyo.
Kikyo terdiam sebentar. "Kalluto? Bisakah kau awasi mereka? Beritahu apapun yang penting ketika kau mendapat sesuatu, mengerti?" tanya ibunya.
"Baik, bu." Kalluto menjawab dengan penuh kepatuhan.
"Killua sudah tiba," ujar Zeno tiba-tiba.
Saat itulah Illumi menemui adik keduanya itu dan memberikan arahan untuk tidak menyukai Hiju, gadis yang sebenarnya sudah ia sukai sejak beberapa minggu sebelumnya. Sudah terlambat bagi Killu untuk menghentikan perasaan indahnya, apapun yang terjadi.
Malam itu Killu tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan semua kata-kata kakaknya dan Hiju secara bersamaan. Ia memikirkan perasaannya yang kini sudah tidak mungkin lagi untuk dibuang jauh-jauh dan ia juga memikirkan keluarganya yang tidak mungkin menyerah untuk mencarikan Killua seorang istri yang pantas, seorang pembunuh juga.
Killu melihat ke arah jam. Sudah hampir jam satu malam dan matanya tidak terasa berat sama sekali. Satu ide terlintas dalam benaknya : aku belum melihat tamuku, mengapa tidak sekarang aku menyapanya? Dengan senyum tersungging di wajahnya, Killu segera pergi menuju tempat di mana Hiju menginap.
Setelah beberapa menit Killua menyusuri hutan, Killu berhenti di sebuah dahan pohon besar yang ada di dekat kediaman pelayan. Dari dahan itu ia bisa melihat satu kamar yang lampunya masih terang.
'Pasti dia ada disana,' pikirnya dalam hati.
Killua melanjutkan penelusurannya hingga ia tiba di halaman kediaman pelayan. Saat ia hendak berjalan mendekat, ia tidak sengaja menginjak ranting kecil di sana. Killu yang terkejut segera melompat hingga mencapai atap lantai tiga. Saat itu Killu melihat Hiju keluar kamar dengan menggunakan dress tidur. Ia menengok ke kiri dan kanan, atas dan bawah seperti sedang mencari sesuatu. Selagi Hiju ada di balkon, Killua melompat turun dari atap dan berdiri di belakang Hiju yang masih kebingungan menengok kesana dan kemari. Ia mampu mendarat dengan halus tanpa menimbulkan suara sekecil pun sehingga Hiju tidak menyadari kalau Killua telah berdiri di belakangnya dan memasang pose santai. Killu hanya tersenyum memandangi punggung perempuan di depannya.
"Woi,, woi,,"
Suara itu mengagetkan Hiju dan ia menengok ke belakang.
Killu harus mengakui saat itu bahwa ia cukup malu melihat Hiju dengan pakaian yang lumayan mengekspos bentuk tubuhnya. Killua terus berusaha untuk tetap tenang. Namun nyatanya pertemuan itu malah memancing emosinya keluar. Ia malu dan kesal pada Hiju hingga akhirnya di saat bersamaan ia memutuskan untuk berlari. Di pelariannya, ia sempat menghujat Hiju sebagai perempuan aneh dan lain-lainnya, tapi di dalam hati ia merasa biasa saja. Entahlah. Hiju memang aneh untuknya saat itu tapi di saat yang bersamaan sangat menarik.
Esok pagi-pagi sekali, Killua memutuskan untuk datang kembali pada Hiju. Pagi itu juga sama, Killu masih malu melihat Hiju yang jalan bersama Gotoh. Baginya sangat cantik sekali.
Hiju selalu memanjakan matanya, selalu membuatnya malu, selalu membuatnya gugup, selalu membuatnya merasa tersentuh, selalu membuatnya merasa tenang dan damai. Terasa sangat sebentar jika bersama Hiju. Sejak ia menyadari semua perasaan ini, Killu memutuskan untuk 'menjaga' Hiju selama 24 jam tanpa henti. Setiap pagi ia mengikuti Hiju mengobati Mike dan malamnya ia duduk dan tidur di sebuah dahan pohon. Sepanjang malam ia terus memanjakan mata dan hatinya. Saat Hiju sudah tertidur lelap, Killua mendekati kamar Hiju. Dari jendela ia dapat melihat bagaimana pencuri hatinya begitu manis saat bermimpi.
Ketika pagi pertamanya di dahan pohon, Killu begitu bersemangat saat ia melihat Hiju berada di balkon dan tersenyum melihat ke sekeliling. Ia begitu bersinar dan menawan bagi Killu. Kulitnya merona dan rambutnya sangat berkilauan. Semuanya tentang Hiju membuat Killu tidak bisa melepaskan matanya dari gadis itu. Tidak bisa sama sekali. Bahkan ketika Hiju mengganti pakaiannya, Killu tidak berpaling sama sekali. Ia blushing dan lebih gugup dari sebelum-sebelumnya.
Hiju selalu membuatnya lepas kendali. Malam itu, ketika Hiju mengutarakan perasaannya mengenai Feitan, entah mengapa Killua merasa sangat kesal. Saat itu Killu merasa kalah, merasa bodoh, dan merasa benci pada dirinya sendiri. Rasanya ingin sekali ia memukul pria yang bernama Feitan itu. Killu sungguh berharap saat itu Hiju dapat menyadari perasaannya yang begitu dalam dan hangat. Killu juga menyadari akan sulit untuk membuat Hiju menyukai dirinya. Feitan sudah lama masuk dalam kehidupan Hiju dan ada di saat Hiju sedang dalam kesusahan. Sedangkan dirinya, baru muncul kemarin dan sudah meminta banyak. Killu tahu dirinya egois. Ia membutuhkan waktu lebih dari tiga jam untuk menenangkan hati dan pikirannya saat itu. Setelah pikirannya tenang, ia dapat berfikir jernih. Ia sadar akan butuh waktu yang lama untuk membuat Hiju menyadari perasaannya. Dan di saat itulah Killu bertekad akan sabar menunggu dan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan perhatian gadis incarannya itu.
Pagi harinya Killu terbangun ketika ia merasakan aura ibunya yang sedang berjalan menuju ke dekat kediaman pelayan. Karena ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, Killu mengikuti Hiju seperti biasa dengan kewaspadaan tinggi. Ia terus melihat ke sekeliling selagi menguntit Hiju pagi itu.
Benar saja.
Ibunya dan Kalluto menghalangi jalan Hiju dan Zeburo. Saat ibunya memarahi Hiju karena telah membentak Killu semalam, Kalluto melihat ke arah Killu. Rupanya Kalluto menyadari kalau Killua ada di atas pohon mengawasi mereka. Kalluto hanya diam, seolah membiarkan Killu untuk tetap di sana dan mengetahui segalanya.
Ketika ibunya mengeluarkan serangan untuk Hiju, saat itulah Killua turun dari pohon dan menghempaskan serangan itu dengan menggunakan tangannya. Killu memang menyadari kalau selama ini ada orang yang selalu membuntuti dirinya dan Hiju ketika bersama. Awalnya Killu mengira kalau orang yang memberitahu segalanya pada Kikyo adalah Gotoh. Akan tetapi saat Killua memarahi Gotoh habis-habisan karena itu, ia sadar kalau Gotoh bukanlah dalang dari semua ini. Saat itu, Killua merasa yakin kalau mata-mata yang ia cari adalah salah satu anggota keluarganya sendiri.
Hari demi hari berlalu. Killua semakin sering bersama dengan Hiju. Mereka melakukan hampir segalanya bersama. Mereka tertawa bersama, main bersama, bercanda bersama, mengobrol bersama, bernyanyi bersama, dan mengurus Mike bersama. Hari-hari Killu yang terasa hilang kini seperti kembali. Bersama Hiju, Killu merasa hidup seperti saat ia bersama Gon. Pernah pada suatu malam Killu menghubungi Gon dan bercerita banyak soal Hiju. Gon juga sangat senang ketika ia mendengar suara sahabatnya yang sebenarnya sedang jatuh cinta. Gon bahkan bicara kalau ia sangat ingin bertemu dengan Hiju dan berteman dengannya.
Setiap malam Killu selalu menghubungi Gon untuk menceritakan semua hal tentang Hiju. Perlahan Gon menyadari kalau temannya sudah benar-benar jatuh cinta. Suatu malam, Gon menyarankan Killu untuk berterus terang pada Hiju mengenai perasaannya. Awalnya Killu sempat ragu. Namun setelah beberapa kali Gon meyakinkan Killu, Killu akhirnya setuju dan bertekad kuat untuk mengutarakan perasaannya. Malam itu ia mendapat sebuah ide manis untuk melancarkan niatnya.
Dini hari itu, ia meminta salah satu koki keluarga Zaoldyeck untuk mengajarinya satu buah menu sarapan. Selama belajar bersama koki, Killua menjelaskan alasan mengapa ia rela bangun lebih awal untuk menyajikan sebuah sarapan pagi. Begitu mendengar alasannya, koki yang mengajari Killua merasa tersentuh. Begitu juga dengan pelayan-pelayan lain, termasuk Gotoh.
Ketika sudah waktunya Hiju terbangun, Killua meminta salah satu pelayan untuk membawakan masakan Killu ke kamar Hiju. Killu tidak mau melewatkan momen di mana Hiju baru bangun dari tidurnya. Bagi Killu, Hiju terlihat sangat menarik ketika ia baru bangun dan menatap indahnya pagi. Ketika Hiju mencoba masakannya, Killu sempat was-was karena takut masakannya tidak enak. Ia sangat lega dan senang saat Hiju memuji masakannya dan makan dengan lahap.
Tibalah momen di mana Killu akan mengutarakan perasaannya. Killu berfikir jika ia mengutarakan perasaannya di luar teritori Zaoldyeck maka tidak akan ada satu anggota keluarganya yang akan tahu. Killu sempat khawatir kalau Hiju akan menolak perasaannya saat itu juga. Akan tetapi, perasaan Killu ternyata salah dan pada kenyataannya Hiju juga sangat menyukainya. Killu sangat bahagia hari itu. Saat Killu mencumbu pacarnya untuk pertama kali, Killu merasa sangat hidup. Ia merasakan emosi indah pada hatinya yang selama ini begitu kosong. Ia bersumpah kalau ciuman pertamanya dengan Hiju adalah hal yang paling indah yang pernah ia rasakan. Bibir Hiju manis bagaikan permen yang melting di mulutnya.
Hari itu tatapan Killu begitu lunak. Hari itu adalah hari di mana Killu berbahagia dan tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia sudah memutuskan untuk pergi dengan Hiju besok pagi dan memulai kehidupan bersama di luar gerbang Zaoldyeck untuk seterusnya. Sayang, semua rencana indah yang telah disusun harus kandas ketika Illumi menyeretnya ke hadapan satu keluarga. Malam itu Killu disidang oleh semua anggota keluarganya.
"Kau punya hubungan spesial dengan gadis itu, Killu?" tanya ayah Killu.
"Ya," jawab Killu sambil menundukkan wajahnya.
PLAAKK..
Satu tamparan keras dari tangan Kikyo mendarat di pipi Killu. Killu meludah darah.
"Kikyo." Zeno menahan tangan Kikyo yang siap menampar Killua lagi.
"Killu! Kau benar-benar anak nakal! Beraninya kau punya hubungan serius dengan orang biasa itu! Kau tidak pantas untuknya!" Kikyo bicara histeris pada Killu yang memegangi pipinya.
"Apa yang tidak pantas?"
"Dia itu hanya orang biasa! Harusnya kau mencari pembunuh profesional untuk dijadikan istrimu! Bukan perempuan rendahan seperti itu!"
Tatapan Killu berubah menjadi tajam. "Dia tidak rendah, bu."
"Kikyo, sudahlah!" Silva memerintahkan istrinya agar lebih tenang. "Killu?" lanjutnya. "Sudah berapa lama kau berhubungan dengannya?"
Killu menjawab pelan. "Baru sejak siang tadi."
"Kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan?" tanya Silva lagi.
Killu mengangguk.
"PUTUSKAN HUBUNGANMU DENGANNYA! ATAU HIJU YANG AKAN MATI!" Kikyo berteriak lagi.
Mendengar itu Killua menjadi geram. Ia bahkan secara refleks mengubah tangannya menjadi kering dan berkuku runcing.
"Killu, tenanglah. Kikyo, tolong." Zeno menengahi.
Kikyo malah menangis. "Apa yang kau lakukan, Killu?! Keluarga ini berharap besar padamu sebagai penerus utama! Kenapa kau malah melakukan ini, Killu?! Aku benar-benar tidak percaya kau bisa begitu tega menelantarkan keluargamu sendiri!"
Kikyo terus menangis histeris sementara anggota keluarga yang lain terdiam dan menatapi Killua yang terus menunduk.
"Killu, seberapa besar kau menyukai Hiju?" tanya Silva.
"Sangat suka."
"Ayah, apa lebih baik Hiju aku habisi saja?"
"ILLUMIII!" Killua menatap kakaknya dengan tatapan penuh kebencian.
"Tidak usah," jawab Silva. Kemudian ia melanjutkan, "Killu?"
Killua menatap ayahnya.
"Aku masih belum menggoyahkan keinginanku. Bagi kami semua hanya kau yang cocok untuk menjadi penerus keluarga ini. Kami sangat berharap banyak padamu, Killu. Aku akan memberikanmu sebuah syarat. Jika kau bisa memenuhi syarat ini, aku akan membiarkanmu untuk menemui Hiju dan ia tetap hidup. Bagaimana?"
"Apa syaratnya ayah?"
"Syaratnya adalah kau harus tetap menjadi seorang pembunuh bayaran. Kau boleh menemui Hiju sesekali di luar sana, akan tetapi jangan sekali-kali kau mencoba kabur. Jika kau mencoba kabur, Hiju akan ayah bunuh."
Killua terkejut saat mendengarkan kalimat ayahnya. Silva melanjutkan.
"Setelah kau menemuinya, kau harus kembali kemari untuk melakukan latihan duel bersama aku dan kakek Zeno. Jika kau sudah berhasil mengalahkan kami, kau akan bebas untuk tinggal di luar tapi tetap menjalankan tugasmu sebagai pembunuh bayaran. Pikirkan, kau dapat menemui Hiju kapanpun kau mau tetapi jangan jadikan Hiju sebagai istrimu. Jika Hiju menjadi istrimu, jangan harap Hiju akan hidup."
Killua terdiam mendengarkan syarat dari ayahnya.
"Bagaimana Killu? Apa yang kau pilih? Melihat Hiju hidup atau membuatnya mati?"
Killu dalam posisi tertekan. Ia mengepal kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya. "Aku pilih dia hidup."
"Begitu?" tanggap Silva. "Baiklah. Kau telah membuat keputusan yang bijak. Tapi berhubung kau telah membuat hubungan yang lebih serius dengannya, kau tahu apa akibatnya kan, Killu?"
Killu mengangguk.
"Milluki?" Silva memanggil Milluki yang ada di pojok ruangan.
Milluki mengangguk tanda ia mengerti maksud ayahnya. Dengan agak kasar Milluki menyeret Killu keluar dari ruangan itu dan membawanya ke ruang isolasi. Sepanjang malam itu, Killu terpaksa merelakan tubuhnya dicambuk berkali-kali.
Esok paginya Killu terbangun dengan kondisi tangan dan kaki masih diborgol. Mengingat pagi itu Hiju akan pergi dari kediamannya, Killua segera melepaskan dirinya dengan menghancurkan borgol-borgol yang membelenggu dan berlari menuju kamar Hiju. Ia bahkan lupa akan bajunya.
Hiju tidak ada di sana.
Killu segera berlari menuju Gerbang Penguji. Setelah beberapa kilometer ia berlari, ia dapat menemukan Hiju yang sedang berjalan. Sebelum ia menemui Hiju, ia mencabik sebuah kulit pohon. Ia mengalirkan nen-nya pada kulit pohon itu dan menempelkannya ke bagian tubuh yang luka untuk menutupi luka-luka bekas cambukan, sama seperti yang dilakukan Hisoka saat bertarung dengan Kastro dulu.
Setelah itu Killu turun dan menghampiri kekasihnya. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedih dan lelah dari wajahnya. Konflik keluarga semalam tiba-tiba muncul memenuhi seluruh benak Killu dan secara otomatis telah menghilangkan senyumnya hari itu.
Hiju telah resmi meninggalkan teritori Zaoldyeck. Killua terus memperhatikan Gerbang Penguji selama beberapa menit hingga ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ia menoleh, ada Kalluto di sana.
"Kakek memanggilmu untuk segera datang ke ruang isolasi besar," ujar Kalluto pada kakaknya.
Tanpa bicara, Killu segera berjalan menuju ruang yang dimaksud. Ia berjalan melewati Kalluto seolah Kalluto tidak ada di sana. Killu tahu kalau Kalluto adalah mata-mata yang selalu mengikuti kemana Hiju dan dirinya pergi serta mengawasi apa yang Killu dan Hiju lakukan bersama. Secara tidak langsung, Kalluto juga lah yang menyebabkan terjadinya konflik keluarga semalam. Di luar itu, Killu mengerti kalau kalluto melakukan itu karena hasutan ibunya. Killu tidak bisa menyalahkan Kalluto seutuhnya.
Setelah beberapa langkah berjalan, Killu akhirnya sampai di sebuah ruang besar. Ruang itu adalah ruang isolasi yang ditujukan untuk menahan banyak orang. Dengan datangnya Killu, duel segera dimulai.
Killu tahu kalau ia tidak cukup kuat untuk mengalahkan anggota keluarganya, bahkan hampir tidak akan mungkin terjadi. Karena Hiju lah dirinya kuat dan mampu bertekad kuat untuk menghadapi syarat dari keluarganya.
Dalam duel, Killu harus mengalahkan Zeno terlebih dulu lalu Silva dan terakhir, keduanya secara bersamaan. Duel diadakan setiap pagi selama tiga jam. Setelah itu Killu boleh istirahat sekaligus makan selama satu jam. Duel kedua dilaksanakan setelah Killu istirahat dan dilakukan selama tiga hingga empat jam. Setelah itu Killu kembali diborgol hingga pagi hari. Jika Killu beruntung, Milluki tidak akan datang untuk mencambuknya. Sayang karena hal itu jarang terjadi.
Selama beberapa hari Killu mengalami penyiksaan dan duel tanpa henti. Ia tidak pernah keluar dari ruang isolasi walau hanya sekedar untuk berjalan-jalan semenit. Ponsel, mp3, lisensi hunter, semuanya dijauhkan dari Killu. Hingga akhirnya pada suatu malam Kalluto datang padanya.
"Kakak?"
Killu melirik. "Hmm?"
"Malam ini tanggal 15 Mei."
Killu awalnya heran dengan Kalluto yang bicara mengenai tanggal hari itu. Setelah beberapa lama, Killu ingat akan janjinya pada Hiju tempo hari. "Benarkah?"
"Kurasa lebih baik kau pergi saja menemuinya. Ini sudah menjelang tengah malam dan mungkin ia sudah tidur jika kau menghubunginya lewat telepon. Lagipula, jika kau menghubunginya melalui telepon, akan sangat mudah bagi kita untuk menemukannya. Jika begitu, akan sangat mudah bagi ibu atau Illumi untuk membunuhnya. Temui ayah dulu. Kupikir ayah akan mengizinkanmu pergi." Kalluto mengambil kunci borgol dan membuka semua borgol yang membelenggu Killu.
"Baiklah." Killu meregangkan tubuhnya setelah lepas dari borgol. "Terima kasih, Kalluto. Kurasa hanya kau yang mengerti perasaanku saat ini."
"Tidak. Aku tidak mengerti sama sekali. Aku hanya ingin kau menepati janjimu, itu saja. Kau terlihat sangat bahagia jika bersama wanita itu. Sama bahagianya seperti saat kau bersama dengan Gon dan Kak Alluka."
Begitu Kalluto menyelesaikan kalimatnya, Killu sudah menghilang dari ruang itu. Dengan terburu-buru Killu segera berlari menuju kamar orang tuanya.
"Kumohon, ayah. Aku harus menemuinya saat ini juga. Aku sudah berjanji padanya."
"SAYANG, JANGAN IZINKAN KILLU UNTUK KELUAR DARI SINI!"
Killu bersujud pada ayahnya. Matanya sudah bergetar dan kupingnya terasa panas mendengar rewelan sang ibu.
"Ayah, aku mohon. Aku akan kembali tanggal 18. Aku berjanji, kau boleh melakukan apapun setelah aku pulang."
"SAYANG, JANGAN BIARKAN DIA BERTEMU DENGAN PEREMPUAN ITU! INI MASA-MASA PENTING BAGI KILLU!"
Silva terdiam memandangi Killu dan ia mendengarkan semua kata-kata istrinya. Di depan matanya, bersujud anak kesayangan yang diramalkan akan menjadi penerus profesinya. Hanya anak itu yang menjadi harapan Silva mengenai masa depan keluarganya. Anak itu, spesial. Dia punya keinginan untuk membentuk kehidupannya sendiri, berprinsip, dan lebih banyak mengenyam pengalaman hidup jika dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Silva sungguh sangat tidak ingin kehilangan anaknya itu dan ia sangat menyayanginya. Merelakannya bebas dulu untuk berpetualang bersama Gon bukanlah hal yang sulit baginya. Ia mengerti anaknya walau jarang sekali mereka berbicara satu sama lain.
Sementara itu, berdiri di sampingnya ibu dari anak yang dicintainya. Dia akan berusaha melindungi anaknya dari apapun dan sangat memperhatikan masa depan anaknya. Ucapan istrinya memang benar kalau saat itu adalah masa-masa penting bagi Killu untuk menjadikannya sebagai pembunuh terkuat. Akan tetapi, terkadang Silva merasa kalau perhatian istrinya sangat berlebihan dan menjadikannya sangat protektif. Ia lebih suka anaknya diam di rumah dan tidak melakukan apapun. Bagaimanapun, Silva pernah merasakan posisi sebagai Killu dan itu tidak menyenangkan baginya.
"Killu?"
Killu menatap ayahnya.
"Pergilah. Jangan lupa kalau kau harus pulang tanggal 18."
Mendengar itu Killu tersenyum dan matanya terlihat bersinar. "Terima kasih, ayah."
Silva hanya tersenyum menatap anaknya. Sedangkan Kikyo yang mendengar keputusan suaminya merasa jengkel dan terus mengeluh pada suaminya. Ia terus mengatakan pada suaminya bahwa apa yang telah ia lakukan adalah hal yang salah dan tidak patut dilakukan.
Setelah Killu berjalan beberapa meter dari kamar ayahnya, ia bertemu Kalluto yang berdiri berhadapan dengannya. Kalluto menghampiri Killu dan menyerahkan tiket pesawat. "Aku akan mengantarmu hingga bandara dengan menggunakan balon udara. Mungkin sekitar pagi hari kita akan tiba di sana."
Killua yang mendapatkan bantuan dari Kalluto tersenyum cool. Ia menepuk-nepuk kepala Kalluto lalu memeluknya dengan erat.
"Terima kasih. Terima kasih banyak ya, Kalluto."
Kalluto yang baru pertama kali dipeluk merasa tekejut atas reaksi Killu. Perlahan matanya melunak dan Kalluto tersenyum.
"Ayo kita pergi sekarang? Gotoh sudah menyiapkan balon udaranya."
Mereka berdua segera berlari menuju lapangan balon udara pribadi.
16 Mei, sore hari, Killu sampai di York Shin. Ia mengunjungi apartemennya terlebih dulu untuk mandi, mengobati luka dan menyembunyikannya dengan nen serta pakaian yang akan dikenakannya.
Sekitar pukul setengah sembilan malam Killu sampai di tempat Hiju. Dengan lihai Killua melompati pagar dan memutar kenop pintu.
'Tidak bisa dibuka.'
Killu pergi menuju belakang. Di belakang juga terkunci. Satu ide terlintas dalam benak Killu saat ia melihat balkon dan jendela yang terbuka dis ana. Dengan satu kali lompatan Killu berhasil mencapai balkon dan masuk melalui jendela. Setelah berhasil masuk Killu mencari kamar Hiju. Voila! Dengan familiarnya wangi tubuh Hiju di hidungnya, Killua dapat dengan mudah menemukan kamar yang ia cari. Kamar itu terletak tepat di samping kamar berbalkon tempat Killua masuk tadi.
Killua masuk ke kamar Hiju dan mencoba menyatu dengan suasana gelap di sana. Tidak berapa lama ia mendengar langkah kaki seseorang masuk ke kamar itu. Killu dapat melihat dalam kegelapan. Ia dapat melihat Hiju seperti sedang mencari sesuatu di sekelilingnya. Hiju bahkan sempat berputar dan berhadapan dengan Killu, hanya saja perempuan itu tidak menyadarinya. Saat ia berhadapan dengan Hiju, tanpa sadar air mata Killua mengalir dan ia tersenyum. Sakit yang timbul dari luka-luka bekas duel seperti hilang begitu saja.
Setelah agak lama, Killu berjalan mendekati Hiju lalu memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Killu sengaja memeluk gadis itu dengan lembut dan kuat. Sudah lama sekali bagi Killu sejak terakhir kali ia memeluk Hiju. Ia ingin sosok yang ia peluk sekarang tidak pernah pergi dan selalu berada di sisinya tak peduli sesakit apapun situasi yang kini tengah ia hadapi. Killu juga menempatkan kepalanya ke samping sebelah kanan kepala Hiju agar ia bisa menghirup udara segar dari leher wanita pujaannya itu. Aroma manis seperti es krim susu vanilla yang selalu membuatnya merasa bergairah dan segar.
Sayangnya kesegaran itu memudar untuk sementara ketika ia dan Hiju berargumen. Hiju kesal dan merasa dipermainkan oleh Killu karena tidak menepati janjinya dan Killu mengerti mengapa Hiju bisa semarah itu. Killu tidak bisa mengatakan apapun mengenai keluarganya pada Hiju karena Hiju pasti akan sangat sedih. Killu tentu tidak mau itu terjadi.
Setelah berkali-kali Killu mencoba meyakinkan gadisnya mengenai keseriusannya, akhirnya Hiju mulai tenang. Di saat tenang Hiju mulai tenang, Killu mencium bibir gadis itu. Ciuman itu berlangsung selama beberapa detik yang diteruskan dengan Killu mulai menciumi daerah pangkal leher Hiju dengan sedikit liar.
Killu mungkin terlihat liar di luar, dalam hati Killu bingung harus melakukan apa. Ia mencintai Hiju sama seperti dia mencintai Gon dan Alluka –sebagai kekasihnya, tentu saja-. Killu akan melakukan apapun agar ia dapat terus bersama Hiju dan melihat Hiju bahagia. Killu tahu hal ini sangat sulit karena jika ia terus menyembunyikan keadaan sekarang, perlahan Hiju akan terluka. Hiju tidak akan mengerti mengapa Killu tidak pernah meneleponnya, Hiju tidak akan mengerti mengapa Killu begitu jarang menemuinya. Semua 'keabsenan' Killu sebenarnya adalah demi Hiju sendiri. Jika tak ada keluarganya, Killua akan memberikan bunga pada Hiju setiap hari dan mencium keningnya setiap pagi. Bersama Gon adalah saat yang paling menyenangkan baginya, memeluk Alluka adalah saat paling manis untuknya dan bersama Hiju adalah kebahagiaan untuknya. Jika setiap orang berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan, maka Killua pun melakukan hal yang sama.
Malam itu adalah malam pertama bagi Killua untuk tinggal bersama seorang perempuan. Killu tidak bisa tidur karena masih terus membayangkan apa yang terjadi pada dirinya dan Hiju beberapa jam yang lalu. Hiju sudah tertidur nyenyak di sampingnya, dalam rangkulannya. Malam itu, Killu seperti orang rakus dan Killu tidak menyangka kalau ia bisa sampai di tahap ini. Di tengah kekagetannya, Killu tersenyum. Ia membelai rambut hitam Hiju dan mencium keningnya. Ia berterima kasih pada Hiju karena telah menjadi orang yang masuk ke kehidupannya tanpa syarat apapun dan sudah memberikan banyak hal untuk Killu. Mulai dari kesabaran, kasih sayang, pertemanan, harapan, kesetiaan dan kehormatan. Semuanya tulus dan tak ada harganya. Killu tahu itu. Ketika kedua tangan Killu dengan kasarnya merobek pakaian perempuan yang terbaring di bawahnya, mata Hiju tidak bergetar atau merasa takut. Matanya teduh, seolah ia tahu kalau Killu sedang dalam kondisi yang tidak stabil saat itu. Hiju seakan merelakan tubuhnya untuk dijadikan penenang Killua.
Killua tidak bisa tidur hingga pagi hari datang. Perjanjian dengan orang tuanya seperti hantu yang terus mengikuti kemanapun Killu pergi : Apakah mungkin ia dapat mengalahkan kakek dan ayahnya sendiri? Apakah mungkin ia dapat melakukannya? Sampai kapan? Apakah Hiju mau menunggunya hingga selama itu?
Killu sempat berfikir mengenai kemampuan Alluka. Alluka tentu tidak akan keberatan untuk menolongnya. Permasalahannya, sampai kapan Killu harus terus tergantung pada Alluka untuk keinginan egoisnya? Ia ingin seluruh keluarganya menerima Hiju apa adanya tanpa terpaksa. Killu juga ingin mendapatkan Hiju dengan caranya sendiri, tanpa bantuan orang lain.
Setelah Hiju bangun dan menemuinya, Killu makin tertekan. Melihat senyum manis Hiju di pagi itu rasanya sangat menyakitkan bagi Killu. Killu tidak tahu sampai kapan ia dapat melihat senyum itu, senyum bahagia kekasihnya yang begitu tulus.
Kembali ke pertarungan duel yang masih berlangsung. Sudah tiga jam berlalu dan Killu sudah terkena lima belas granat. Kepalanya terasa berat dan pandangannya mengabur. Tubuhnya yang kini sudah terlalu banyak terkena racun akan menjadi lumpuh selama sepuluh menit. Dalam situasi tidak prima seperti itu tentu akan sangat mudah bagi Zeno untuk membunuh Killu jika ia mau. Tapi Zeno tidak berfikir demikian. Melawan Killu yang tidak berdaya baginya tidak akan berguna. Zeno akan serius untuk membunuhnya jika Killua dalam kondisi prima. Ia tidak suka permainan kotor 'melawan kelinci dengan Bazooka' seperti itu.
Zeno menunggu Killua pulih di ujung ruangan. Kalluto memperhatikan dari jauh dan Milluki kembali menaruh granat yang baru.
Memoir Killua kembali berputar…
Saat itu ia dan Hiju sedang memasuki wahana labirin. Di labirin itu berdiri tujuh orang yang menghalangi jalan Killu. Ketika satu orang bicara dengan nada yang sangat familiar di telinganya, keenam orang lainnya mulai bicara dengan nada yang berbeda tapi tetap familiar di telinga Killu. Killu saat itu ingat apa yang dikatakan penjaga wahana mengenai ujian cinta yang akan mereka hadapi. Tujuh orang yang Killu temui adalah penguji cintanya.
Tujuh orang itu semuanya mewakili keluarga Killu : Silva, Kikyo, Zeno, Illumi, Milluki, Alluka, dan Kalluto. Penguji cintanya yang mewakili anggota keluarga Zaoldyeck bisa jadi menandakan bahwa keluarganyalah yang menjadi penghalang untuk hubungannya bersama Hiju. Dan itu benar. Tujuh orang itu meminta Killu untuk mengikuti jejak mereka. Salah satu dari mereka, yang mewakili Kikyo terus meyakinkan Killu mengenai Hiju yang bukan perempuan tepat. Persis seperti apa yang dikatakan Kikyo di dunia nyata.
Tujuh orang itu menghalangi jalan Killu. Killu terdiam dan ia terus mendengarkan apa yang 'Kikyo palsu' katakan. Sambil mendengarkan, Killu merasakan aura yang sangat kuat dari arah ketujuh orang tersebut. Saat Killu memutuskan untuk menggunakan Gyo di matanya, ia melihat bahwa orang-orang itu adalah nen. Bisa jadi orang bertipe Gugenka yang membuat mereka. Akan tetapi, jika pada kenyataannya semua peserta yang masuk ke dalam labirin dan mengalami ujian cinta yang berbeda satu sama lain dan persis seperti dengan kehidupan nyatanya, bisa jadi orang yang mengendalikan nen itu adalah orang bertipe Tokushitsu.
Ketika Killu berhasil meyakinkan dirinya sendiri kalau mereka hanyalah nen yang menyerupai manusia, Killu berjalan ke arah mereka. Akan tetapi, empat dari mereka menyerang Killu habis-habisan. Killua membutuhkan waktu beberapa puluh menit untuk melawan nen tersebut. Mereka sangat kuat. Salah satu dari mereka berkata. "Jika kau tidak bisa mengalahkan kami, maka pacarmu akan mati."
Mendengar hal itu, Killu berubah. Ia yang tadinya bertarung dengan mode normal berubah menjadi mode haus darah. Tanpa ragu Killu berusaha menghabisi mereka semua. Akan tetapi semuanya terasa sia-sia. Mereka bahkan tidak terlihat akan hancur sedikit pun. Berbeda jauh dengan Killu yang sudah kelelahan, apalagi kondisi tubuhnya memang sedang tidak fit karena belum tidur selama beberapa hari sama sekali.
"Jika itu yang kalian inginkan, baiklah. Aku akan mengalahkan kalian, tidak peduli berapa lama. Jika membunuh kalian adalah hal yang harus aku lakukan agar aku bisa bersama dengannya, tidak peduli berapa tahun atau abad, aku akan berusaha membunuh kalian. Walaupun itu artinya aku harus mati, aku lebih baik mati melawan kalian daripada hidup dan membiarkannya mati. Ia sangat berharga. Percuma saja jika aku hidup dan dia pergi meninggalkan aku sendiri."
Setelah Killu menyelesaikan kata-katanya, satu per satu dari ketujuh orang tersebut menghilang. Saat Killu kembali ke mode normal, ia baru menyadari kalau orang-orang tersebut telah pergi dan labirin yang tadinya buntu, kini memiliki cabang jalan. Killua berfikir kalau apa yang telah ia katakan tadi adalah hal yang tulus. Penjaga wahana bilang 'kalau kau berhasil melewati ujian, maka kau akan menemukan jalan'. Jika jalan yang tadinya buntu kini tidak lagi buntu, maka itu berarti Killu telah lulus melewati ujiannya dengan mengatakan kata-kata yang tulus dari hatinya. Tidak hanya tulus, tapi kata-kata itu jujur dan menjadi tanda akan kekuatan cintanya pada Hiju.
Cinta yang kuat berhasil membuat Killu menemukan jalan malam itu, cinta yang kuat membuat tekadnya semakin bulat, dan cinta yang kuat membuatnya melanggar janji malam itu. Ketika Hiju dengan tulang yang remuk ia buat pingsan, Killu menelepon keluarganya dan mengatakan kalau ia akan pulang terlambat dari janjinya. Ia merelakan dirinya untuk 'lebih dibantai' saat pulang nanti. Tidak apa-apa baginya, asalkan ia bisa menemani Hiju di kala susah hingga ia dapat kembali bersinar.
Dua minggu menjadi waktu yang sangat membahagiakan bagi Killu. Ia menghabiskan hari-harinya bersama Hiju tanpa memikirkan apa yang akan terjadi dengannya saat pulang nanti. Mengapa harus sibuk memikirkan penderitaan jika ia bisa menikmati cintanya bersama Hiju selama full dua minggu itu? Setidaknya sampai Rozu datang dan Killu terpaksa kembali ke rumahnya. Hari saat dia pulang adalah hari terakhir ia merasakan lembut dan manisnya bibir Hiju. Terakhir kali Killu meninggalkan Hiju adalah dengan membuatnya menangis dengan ucapan perpisahan.
Tapi Killu berjanji pada dirinya sendiri saat mengubah perjanjian dengan ayahnya kemarin. Perpisahannya dengan Hiju hanya akan sementara. Selama perpisahan itu, Killu akan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan ujian cintanya. Ia akan menghancurkannya demi Hiju dan saat semuanya selesai, ia akan kembali pada Hiju dan menjelaskan semuanya. Ia yakin Hiju akan mengerti.
Kesadaran Killu sudah kembali dan Zeno telah berdiri untuk kembali berduel dengan Killu. Pada hitungan ketiga, mereka berduel kembali. Kali ini Killu lebih serius, ia lebih konsen dan lebih cepat tanggap, dan serangannya pun lebih bertenaga. Di balik sengitnya duel yang sedang berlangsung, Zeno tersenyum. Di depan matanya Killu bukanlah sekedar cucu dari keluarga pembunuh bayaran profesional. Di matanya saat ini, Killu yang dipenuhi ambisi dan tekad merupakan mesin pembunuh terbaik yang pernah ada di keluarga Zaoldyeck.
Kalluto memperhatikan. Dari luar ia terlihat sangat tenang. Dalamnya, hatinya bergetar.
Hal yang telah ia pelajari selama menonton duel antara kakak dan kakeknya adalah : orang akan semakin kuat jika ia bertekad untuk melindungi orang lain. Ia melihat itu dari kakaknya. Kakaknya mungkin memang tidak pernah mengalahkan kakek Zeno dalam beberapa duel yang telah berlangsung, tapi Kalluto dapat melihat kemajuan pada kemampuan kakaknya. Kakaknya kini lebih cepat dari sebelumnya, lebih tanggap, lebih sadis dan lebih menguasai penggunaan nen.
Kakaknya berkembang sangat cepat. Semuanya karena satu orang biasa yang datang ke keluarga mereka. Orang itu telah membuat kakaknya menjadi kuat dan memiliki keinginan. Kalluto iri pada kakaknya. Ia ingin seperti kakaknya. Tapi apakah mungkin?
"Kau belum menemukan orang yang kau suka lebih dari apapun. Kau tidak akan mengerti."
Itulah yang dikatakan Killua pada Kalluto saat Kalluto menanyakan pada Killu mengenai kerelaannya untuk 'mati' di rumah sendiri. Kalluto masih tidak mengerti.
'Seperti apa orang yang disukai itu?' pikirnya.
'Apakah itu orang yang membuatmu merasa berbeda? Apakah dia orang yang tersenyum padamu? Apakah itu orang yang terus hadir dalam pikiranmu dan membuat latihanmu kacau?' pikir Kalluto lagi.
