Review Section :
marciana : thank you buat pujiannya.. ^^ berhubung ini fic pertama, jadi saya bener-bener pikirin konfliknya.. hehe.. thanks buat supportnya~.. :)
..
..
..
Setahun telah berlalu, Killu sudah mampu menandingi kemampuan Silva dan Zeno. Kekuatannya sudah jauh meningkat dari sebelumnya. Peningkatan kecepatan mencapai 98% daripada setahun sebelumnya, kekebalan terhadap racun meningkat 76%, peningkatan daya tahan tubuh terhadap penyiksaan atau pertarungan sebesar 88%, dan peningkatan kemampuan menyerang sebesar 89%.
Hari itu pun datang, yaitu hari di mana Killu mampu mengalahkan Zeno dan Silva. Mereka berdua tidak mati. Hari itu Killua mengecoh ayah dan kakeknya. Di saat ayah dan kakeknya sedang lengah itulah Killu berniat melancarkan serangan kepada mereka berdua.
Zeno dan Silva mengira Killu telah pingsan. Kesalahan mereka dengan terdiam memperhatikan Killua yang –dikira- pingsan memberikan kesempatan pada Killu untuk -bergerak ke belakang mereka dan menyerang dengan- menggunakan Godspeed. Akibatnya, Zeno dan Silva tidak dapat menggunakan nen mereka selama beberapa menit karena ada dalam pengaruh serangan listrik.
Killu tentu tidak membunuh mereka. Perjanjiannya adalah untuk mengalahkan Zeno dan Silva. Kekalahan yang dimaksud adalah pertarungan hingga salah satu mengaku kalah, tidak dapat menyerang lagi, dan si pemenang dapat menghancurkan jurus nen lawan.
Nafas Killu terengah-engah. Bertarung selama tujuh jam tanpa henti pada hari itu sangat melelahkan bagi dirinya. Kali itu duel dilaksanakan di ruang terbuka dan dihadiri oleh Kikyo, Illumi, Kalluto, Milluki, Maha, Alluka, dan para pelayan.
Zeno dan Silva tersenyum. Mereka berdua bertepuk tangan untuk Killu, dilanjutkan dengan tepuk tangan dari para pelayan dan anggota keluarga yang lain.
Killu yang merasa lelah tiba-tiba terjatuh dan pingsan.
Beberapa jam kemudian…
"Kak?"
'Siapa itu?'
"Kakak?"
'Siapa itu?'
Killua membuka sedikit matanya. "Alluka? Itu kau?"
"Ah, kakaaaaakk~!"
Tiba-tiba Killu merasa sesak. Saat ia membuka seluruh matanya, ia melihat Alluka yang dengan gemas memeluk tubuhnya.
"Oi oi Alluka, sesak nih~.."
Alluka tersenyum. "Hehe.. Habis kakak pingsan lama sekali. Sudah dua hari, lho. Kakak benar-benar capek, ya?"
Killu mengambil posisi duduk di ranjang itu dan mengucek-ngucek matanya. Ia memang masih merasa pusing pada kepala dan pegal di sekujur tubuhnya. "Ah, benarkah? Lama juga, ya? Tapi badanku masih pegal sekali rasanya."
"Kakak masih harus banyak istirahat. Melawan kakek dan ayah sekaligus tentu melelahkan. Kakak benar-benar hebat! Kakak bisa membuat ayah dan kakek terkecoh!" Alluka berseru.
"Hahaha, iya. Syukurlah." Killu mengacak-acak rambut Alluka.
Alluka tersenyum senang. "Oh iya, kak. Ini." Alluka mencari sesuatu dari dalam sakunya dan menyodorkan sesuatu kepada Killua.
Killu memperhatikan barang yang diberikan oleh Alluka.
"I..ini? Liontinku?" Killu terkejut saat melihat liontinnya ada di tangan Alluka. "Kenapa bisa ada di tanganmu?" Killua mengambil liontinnya.
"Sepertinya liontin itu jatuh saat kakak bertarung dengan ayah dan kakek. Aku kebetulan menemukannya saat berjalan pulang ke kastil."
Killu membuka liontin itu. Tatapan matanya berubah lembut saat ia melihat foto Hiju di dalamnya. Rasanya sudah lama sekali sejak Killu melihat isi liontin itu. Beberapa bulan ini Killua terlalu sibuk memikirkan cara untuk mengalahkan Zeno dan Silva. Ia seakan lupa akan tujuannya.
Killu terlihat sedih saat ia mulai ingat kembali bagaimana momen terakhirnya dengan Hiju. Waktu itu Hiju menangis dan Killu malah meninggalkannya.
Alluka tersentuh melihat kakaknya. "Dia cantik ya, kak? Pantas saja kakak sampai mati-matian begini melawan ayah dan kakek. Aku tidak pernah bertemu dengannya karena terus dikurung tapi aku rasa dia sangat baik. Aku sangat suka matanya," ujar Alluka.
Killu tersenyum dengan semburat kesedihan di wajahnya. "Iya, dia punya mata yang indah."
Alluka bingung dan heran melihat kakaknya."Kakak kenapa? Sepertinya kakak sedih sekali."
Killu terdiam sejenak. "Terakhir aku bertemunya kita bertengkar. Aku… terlalu egois padanya. Aku harusnya mengerti dia saat itu. Dia sudah begitu sabar denganku tapi aku telah membuatnya kecewa dan sedih. Aku takut dia sudah tidak mau menerimaku lagi sekarang. Aku sudah meninggalkannya sendirian terlalu lama."
Alluka merasakan kesedihan pada diri kakaknya.
"Aku tidak tahu mengapa aku ingin sekali mengatakan ini pada kakak. Saat melihat matanya aku tahu kalau dia memiliki kenangan yang sangat buruk tapi ia berhasil bangkit lagi sebagai orang yang lebih baik. Jika kakak membuatnya sakit kemarin, kurasa dia sudah bangkit lagi sekarang. Kebanyakan orang yang berhasil bangkit dari kesedihannya adalah orang yang mengerti dan mengambil hikmah dari kejadian pahit. Jika begitu, kurasa dia sudah mengerti kalau kakak meninggalkannya karena ada alasan tertentu. Jika kakak bertemu dengannya nanti, jelaskan saja semuanya. Aku yakin dia pasti mengerti kalau keluarga kita memang 'berbeda'." Alluka tersenyum.
"Benar juga. Jika aku menjelaskan semuanya pada Hiju dia pasti mengerti. Alluka, apa kau mau ikut menemui Hiju?"
"Eh? Tidak usah. Kakak harus menemuinya sendiri. Kakak dan dia butuh waktu berdua, kan?"
Killu tersenyum dan mengelus kepala adiknya. "Aku akan menemuinya. Jaga dirimu, ya?"
Alluka mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah. Semangat ya, kakak."
Sebelum pergi, Killua menghadap ayahnya terlebih dulu. Ia hendak memastikan kalau semua perjanjian telah selesai.
"Ayah, aku akan keluar untuk mencarinya. Duel sudah selesai, bukan?"
Di samping Silva, Kikyo menangisi Killua sebagai tanda ia bangga pada Killu karena sudah menjadi lebih kuat dan sebagai tanda kalau ia benar-benar kesal karena Killu hendak pergi lagi dari rumah.
"Apa kau akan membawa Hiju kemari?" tanya ayah Killu.
Killu masih terlihat bingung. "Tidak. Aku akan menemaninya di luar sana. Kau bisa menghubungiku jika kau ingin aku melakukan sesuatu."
"Kau yakin tidak akan membawanya ke sini?"
Killu mengangguk mantap.
"Baiklah," ujar ayah Killu.
Demikianlah percakapan ayah dan anak pada hari itu. Killu melangkahkan kakinya menuju Gerbang Penguji untuk segera berangkat ke York Shin. Sepeninggal Killua dari kamar orang tuanya, Kikyo dan Silva berdebat lagi.
"Sayang, apa sih yang kau pikirkan?! Kenapa kau selalu membiarkan Killu pergi dari rumah?! Dia sudah lebih hebat sekarang! Jika ia keluar dari rumah ini bisa saja kan dia jadi lemah lagi?!"
Silva tersenyum. "Kikyo?"
"Ya?"
"Kau mengerti kan mengapa kita memiliki anak laki-laki?"
Kikyo terdiam.
"Selain karena anak laki-laki lebih kuat, anak laki-laki juga bisa memperpanjang garis keturunan kita. Memang benar kalau keluarga kita adalah keluarga pembunuh. Sebagai generasi penerus keluarga Zaoldyeck tentu saja menikahi pembunuh adalah hal yang tepat. Killu, dia sudah menjadi lebih kuat sekarang. Siapapun yang menjadi istri Killu bukanlah masalah. Siapapun wanita yang Killu pilih, ia akan melahirkan anak dengan darah dari keluarga kita, darah pembunuh dari keluarga Zaoldyeck. Sebagai seorang anak dari Killu tentu saja ia akan mewarisi sifat yang Killu punya. Ia akan mewarisi sifat Killu yang hebat, bukan?"
"Apa maksudmu?" tanya Kikyo tidak mengerti.
"Siapapun bisa menjadi pembunuh. Dengan latihan yang tepat dan keras siapapun bisa menjadi pembunuh yang hebat. Alluka lahir di keluarga kita tapi dia bukan pembunuh karena kita tidak menciptakannya untuk menjadi pembunuh. Jika kita bisa melatih seorang bayi untuk menjadi pembunuh, mengapa tidak dengan anak dari Killua?"
Kikyo mulai mengerti. "Jadi, maksudmu adalah..."
"Benar. Jika kita tidak bisa mendapatkan satu Killua, mengapa kita tidak bisa mendapatkan keturunannya?"
Siang itu cuaca sangat cerah. Killu menghirup kuat-kuat segarnya udara di Bandara York Shin. Tubuhnya terasa lebih segar saat merasakan udara baru di kota itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menghirup udara perkotaan yang sibuk seperti sekarang. Tidak ada bau darah, tidak ada ketegangan, tidak ada kesunyian, dan tidak ada duel.
Killua menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kuat. Ia menatap ke jalan di depannya, di mana semua orang berlalu lalang. Wajahnya dihiasi senyuman penuh percaya diri saat dirinya melangkahkan kaki menuju jalur subway. Hanya perlu beberapa menit lagi hingga dirinya bertemu dengan orang yang sangat spesial, orang yang sangat ia rindukan.
Killua memegang liontin yang di kalunginya. Ia berjalan sambil membayangkan skenario apa yang akan terjadi dan apa dialognya. Ia sudah memikirkan untuk menceritakan semua yang terjadi kepada Hiju. Setelah itu, Killu berniat melamarnya. Ia sudah menyiapkan cincin yang akan ia sematkan pada jari Hiju nanti. Cincin yang sudah lama sekali ia beli, cincin yang tadinya hendak ia sematkan saat tengah malam tanggal 8 Juli tahun kemarin. Sayangnya, hal itu gagal karena pertengkaran mereka.
Sepanjang perjalanan dengan menggunakan bis, Killu tersenyum memikirkan semua rencananya. Ia membayangkan bagaimana bahagianya ia yang hidup bersama Hiju nanti. Mereka akan membesarkan anak bersama dengan menyantap masakan rumah setiap harinya.
Killu tidak berpikir mengenai perjanjiannya dengan sang ayah untuk tetap membunuh. Sangat berat baginya jika ia harus memikirkan, baik kesenangannya dengan Hiju maupun perjanjian dengan sang ayah secara bersamaan. Killu mengerti bahwa saat ini adalah ia yang salah, ia telah melanggar peraturan keluarga Zaoldyeck yang harusnya ia tepati. Tapi sampai kapan Killu harus terus mengalah? Untuk sekali saja dalam hidupnya, Killu ingin mendapatkan apa yang ia mau dan Hijulah keinginannya sekarang.
Beberapa menit kemudian akhirnya Killu sampai di Cloud Pet Shop. Dengan jantung yang berdebar-debar dan langkah yang tegap, Killu melangkahkan kakinya menuju pintu masuk lalu mengetuknya. Setelah beberapa kali mengetuk, betapa terkejutnya Killu saat ia melihat seorang pria muda yang membuka pintu.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu dengan ramah.
Killua yang terkejut dan merasa heran sempat berpikir kalau pria itu adalah suami Hiju. "Anda siapa, ya?" tanya Killu dengan ketus.
Pria itu terlihat bingung dan heran. "Saya dokter hewan di sini. Nama saya Abehari. Apa anda perlu bantuan?" pria itu masih berusaha ramah.
"Dokter hewan?" tanya Killua.
"Iya."
"Bukannya dokter hewan di sini adalah Marsh Hiju?" tanya Killua lagi.
"Ah, kau mencari Hiju? Kalau boleh tahu, nama anda siapa?"
Killua sempat terdiam. Ia ragu-ragu untuk menyebut namanya sendiri. "Namaku Killua. Benar, aku mencari Hiju."
"Killua?" mendadak ekspresi cowok itu berubah jadi lebih tajam. "Apa kau pacarnya Hiju?"
"Iya," jawab Killua tegas.
"Hiju sudah tidak ada lagi di sini. Dia sudah lama pergi."
Killua terkejut saat mendengarnya. "Pergi? Ke mana?"
"Entahlah. Saat aku bertanya pada ayahku, dia juga tidak tahu."
"Ayahmu? Lalu sejak kapan kau menjadi dokter hewan di sini?"
"Sejak lima bulan yang lalu. Iya, ayahku. Dia adalah pemilik pet shop ini."
"Ayah? Maksudmu Rozu adalah ayahmu?"
Cowok itu mengangguk.
"Lalu di mana dia? Aku ingin bertanya padanya. Siapa tahu Hiju meninggalkan sesuatu yang Rozu tahu."
Abehari terlihat murung. "Rozu sudah meninggal."
Killua cukup kaget. "A..apa?"
"Masuklah. Akan aku ceritakan selagi kau minum kopi."
Abehari masuk ke dalam rumah dengan Killu yang mengikutinya dari belakang. Abehari membawanya ke ruang tamu dan ada Mango yang sedang tidur di sofa. Ia bangun ketika melihat Killua datang.
"Duduklah, akan aku buatkan kau kopi."
"Ah, terima kasih," ujar Killua sambil duduk di sofa, tepat di samping Mango.
Mango terus memperhatikan Killua. Ketika Killua menatap Mango balik, Mango terus menatapnya dengan tatapan tidak berdosa. Sepertinya ia masih ingat siapa cowok berambut putih yang sedang ia tatap sekarang.
Tidak lama kemudian Abehari datang membawa dua gelas kopi hangat. Ia duduk di sofa, berhadapan dengan Killua dan menyodorkan satu cangkir yang ia bawa pada lawan bicaranya.
"Ayah meninggal beberapa bulan setelah Hiju pergi. Awalnya polisi bilang kalau ia adalah korban dari perampokan. Bagiku aneh sekali. Rozu adalah seorang hunter yang bisa ilmu bela diri. Jika ada rampok yang menyerangnya mengapa ia bisa sampai meninggal? Karena aku mengungkapkan kejanggalan ini pada polisi, polisi sempat mencurigai Hiju. Mereka berfikir jika Hiju yang mendatangi ayah malam itu dan ayah akan lengah sehingga dapat dibunuh dengan mudah. Setelah itu polisi berusaha mencari Hiju, tapi ia juga tidak pernah ditemukan. Polisi menduga ia sudah lari ke luar kota atau memberikan catatan sipil palsu ke mana pun ia pergi."
"Tetap saja aneh rasanya. Aku rasa sangat aneh jika Hiju yang membunuh ayahmu. Setahuku Hiju sangat menghormati beliau."
"Memang. Aku juga merasa kalau hal itu mustahil. Hiju yang aku kenal begitu lembut dan tenang, mampu berpikir dingin dan cenderung pasrah. Jika Rozu berbuat jahat padanya, kurasa Hiju akan lebih memilih untuk diam daripada bertengkar. Bagaimanapun juga, kematian ayahku memang janggal."
"Jika ayahmu adalah seorang hunter dan memiliki kemampuan bela diri, berarti lawannya itu pun bukan orang biasa, bukan?"
"Benar sekali."
"Lalu, Hiju bagaimana?"
"Oh. Aku tahu itu dari ayahku. Aku sekolah kedokteran hewan di luar York Shin karena beasiswa. Setiap seminggu sekali aku meneleponnya ke sini. Hiju adalah orang yang paling sering menerima telepon tapi tidak pada suatu sore. Sore itu aku langsung bicara dengan ayahku. Saat aku bertanya pada ayah ke mana Hiju, dia menjawab Hiju sudah tidak ada di sini lagi dan ia tidak tahu Hiju ada di mana. Begitu aku mendapatkan kabar soal kematian ayahku, aku segera kemari. Killua-san, kau mau lihat kamar Hiju di atas? Mungkin ada yang bisa kau temukan sebagai petunjuk?"
"Iya, terima kasih."
Abehari mengantar Killu ke kamar Hiju di lantai dua. Saat Killu dan Abe masuk ke kamar Hiju, Killu melihat kalau hampir semua barang-barang Hiju seperti baju, peralatan kosmetik, tas, boneka tidak ada di sana. Kursi, meja, lemari, ranjang masih ada di sana dan tertata sangat rapi, tidak berantakan sama sekali.
"Tidak ada yang aku ubah sejak aku pulang. Bukankah aneh jika perampokan? Catatan polisi mengatakan kalau tidak ada satu pun barang yang hilang dari rumah ini. Rumah ini pun tidak berantakan seperti rumah yang habis dirampok. Melihat begitu rapinya kamar ini, kurasa Hiju pergi dengan sengaja."
Selama Abe bicara, Killu melihat ke sekeliling ruangan. Setelah melihat ke sekeliling, mata Killua tertuju pada test pack yang ada di meja Hiju. Test pack bertanda '+'. Killua mendadak ingat masalah Hiju yang hamil dan Rozu tidak menyukainya. Ia berpikir kalau Hiju meninggalkan rumah karena konflik dengan Rozu.
"Killu-san?" tanya Abe dengan nada yang cukup tajam. "Hiju, apa ia mengandung anakmu?" Abe menatap Killu dengan tatapan dingin.
Killu yang mendapat tatapan itu dan masih merasa bersalah karena telah menelantarkan Hiju hanya menunduk murung. "Ya, dia hamil anakku."
Abe kelihatan geram namun masih berusaha menahan emosinya. "Aku sempat berpikir kalau Hiju meninggalkan rumah ini karena ia hamil dan ayah tidak menyukainya. Aku selalu bertanya heran mengapa ayah tega membiarkan perempuan hamil pergi sendiri ke arah yang tidak tentu. Kenapa? Kenapa kau baru datang hari ini, Killua-san?"
Killu masih menunduk. "Masalah keluarga. Ada masalah internal pada keluargaku. Aku harus menyelesaikan masalah itu terlebih dulu secepatnya. Masalah itu baru selesai kemarin dan akhirnya aku berada di sini. Aku datang ke sini untuk membawa Hiju pergi dan bertanggungjawab."
Abe memandangi Killu dengan tatapan tajam. Suasana hening sejenak.
"Aku suka Hiju. Aku yang bertemu dia terlebih dulu. Hiju seperti angin segar bagiku. Bertemu dengan Hiju telah membawaku ke sekolah kedokteran. Aku selalu bilang kalau aku menyukainya dan ia selalu menjawab kalau ia tidak cukup baik untukku. Walaupun selalu begitu jawabannya, aku terus berusaha untuk membuatnya menyukaiku. Suatu hari Hiju mengatakan kalau ia ingin hidup bersama orang yang mampu menjaga hewan. Karena itulah aku memutuskan untuk masuk ke sekolah kedokteran. Sayangnya, atau mungkin aku yang pergi terlalu lama, ia mulai melupakanku. Saat aku pulang, aku menemukan test pack itu persis di tempat di mana tadi kau memungutnya. Saat tahu Hiju hamil, aku benar-benar merasa kecewa dan putus asa. Aku bahkan sempat bertanya mengenai siapa yang menghamili Hiju. Dan hari ini, aku melihatmu di hadapanku."
Killua menatap Abe yang berdiri di dekatnya.
'Jadi dia juga menyukai Hiju?' pikir Killu dalam hati.
"Killua-san, aku sangat bersyukur jika kau mau bertanggungjawab atas perbuatanmu. Berjanjilah padaku kalau kau akan menjaga Hiju dengan sangat baik. Jika tidak, walaupun aku harus mati, aku akan benar-benar menghajarmu."
Killua menatap Abe dengan santai. "Tenang saja, aku pasti akan menjaganya. Sampai nanti." Killua keluar dari kamar itu dan pergi dari Cloud Pet Shop.
Dalam benaknya, Killua merasa tak tahu harus bagaimana. Kini Hiju menghilang tanpa petunjuk sedikit pun. Untuk mencari keberadaannya melalui situs Hunter pun akan sangat sulit. Berhubung hari itu sudah senja, Killua memutuskan untuk pulang ke apartemennya dan memikirkan cara terbaik untuk menemukan Hiju.
Malam harinya, di suatu tempat, dengan ukuran ruang yang sedang, berdiri seorang perempuan di pinggir jendela yang terbuka. Perempuan itu melihat ke arah bulan dengan semilir angin yang terus menerus menerpanya. Dari jauh ia dapat mendengar banyak suara di tempat itu. Begitu ramainya di luar sana. Tak jauh di belakangnya terdapat box bayi dengan lampu musik pada langit-langit, tepat di atas box bayi tersebut. Kamar itu begitu sepi dan gelap.
Perempuan itu menutup jendela dan menguncinya lalu ia berjalan menuju box bayi yang ada di tengah ruangan. Ia menengok ke dalam box dan tatapannya terhenti pada dua bayi yang sedang lelap tertidur. Wajah mereka terlampau manis saat itu.
Perempuan itu tersenyum memandangi kedua bayinya. Ia membelai kedua pipi mereka dengan lembut menggunakan telunjuk sambil menyanyikan lagu tidur.
"Hmm, mereka anak-anakmu, Hiju?"
Suara yang baru saja terdengar dari arah belakangnya mengagetkan perempuan itu. Ia menoleh ke belakangnya dan ia dapat melihat sesosok laki-laki muncul dengan pakaian serba hitam dengan penutup mulut. "Sudah lama sekali, ya? Apa kabar?"
"Feitan?"
Tiba-tiba muncul beberapa anggota Genei Ryodan yang lain. Ada Shalnark, Phinx, Machi dan Nobunaga.
"Ah, Hiju-chan? Apa kabar? Sudah lama sekali sejak kita bertemu, ya?" Nobunaga menyapa Hiju sambil menguncir rambutnya.
"Nobunaga?"
"Hei, Hiju-chan. Masih ingat aku, kan?" sapa Shalnark.
"Shalnark-kun? Tentu saja. Kalian, ada apa? Kok bisa menemukanku di sini?"
"Ah, Hiju. Kenapa kau bisa ada di sini? Ini jauh sekali dari York Shin, kan?" tanya Machi. "Bayimu?" tanyanya lagi saat melihat dua bayi dalam box.
Hiju mengangguk dengan raut wajah sedih. Feitan memperhatikannya.
"Di mana ayahnya?"
"Tidak ada di sini."
"Oh, sayang sekali," ujar Feitan.
"Oh iya, kenapa kalian bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Hiju lagi.
"Mudah. Seperti biasa. Feitan melakukan wawancara 'khusus' dengan beberapa orang," jawab Machi.
"Ah, iya. Wawancara dengan kakek tua itu juga. Dia cukup sulit dibujuk jadi aku terpaksa memaksanya. Maaf ya, Hiju."
"Jadi, yang membunuh Rozu adalah kalian? Berita itu ada di mana-mana dan mereka sempat mengira kalau pelakunya adalah aku. Nyatanya gara-gara kalian, ya?"
Feitan tersenyum. "Setidaknya, kita tidak perlu menghadapi ia lagi. Gara-gara dia kami sulit membujukmu untuk bergabung kembali tiga tahun lalu. Masih ingat, kan?"
"Ah, iya. Tujuan kita kemari adalah membujukmu untuk bergabung kembali. Hiju, kau mau kan?"
"Kenapa aku? Kurasa masih ada banyak orang di luar sana yang tertarik untuk bergabung dengan kalian."
"Kami membutuhkan bantuanmu. Pakunoda, Ubo, dan Shizuku sudah tewas. Pimpinan juga masih belum dapat menggunakan nen. Dengan kemampuanmu, mungkin kau dapat membantu kami untuk mengalahkan pengguna rantai," ujar Nobunaga.
"Jadi permasalahannya masih sama seperti tiga tahun yang lalu, ya?"
"Ya. Hanya bedanya kini sudah tiga orang yang tewas. UV-mu akan sangat membantu kami."
"Kalian lupa, ya? Aku sudah tidak bisa menggunakan nen lagi."
"Tidak. Kau dapat menggunakan nen lagi, Hiju," ujar Shalnark.
"Bagaimana caranya?" tanya Hiju.
"Tiga tahun yang lalu kami membawa orang yang mampu membebaskan nen yang tersegel bukan? Aku baru sadar kalau nenmu bukan di segel, tapi di ambil oleh pimpinan. Kami baru saja menerima anggota baru dan kemampuan dia adalah mengambil nen orang lain, hampir sama seperti pimpinan. Perbedaannya, orang ini mampu mengambil nen orang lain yang bahkan tidak bisa menggunakan nen sama sekali. Orang ini bertipe Tokushitsu. Jika pimpinan harus melihat kemampuan orang dulu untuk bisa mencuri nennya, orang ini hanya perlu bertemu dengan si calon korban dan mengetahui sifat-sifatnya saja. Menurutnya jenis nen memang dipengaruhi oleh sifat dan itu memang benar, kan? Jika ia menganggap nen yang ia ambil salah atau ia anggap sampah, ia akan membuangnya. Secara otomatis nen itu akan kembali kepada pemilik sebelumnya. Kita sudah meminta bantuannya untuk mengambil nen-mu dari tubuh pimpinan. Dan, ini dia." Shalnark menunjukkan sebuah amulet ke hadapan Hiju. "Ini nen milikmu."
Hiju mengambil amulet itu.
"Tinggal kau pakai saja di tubuhmu. Katanya memang sakit saat amulet itu menempel pertama kalinya, tapi kemampuanmu akan kembali."
"Tapi bukankah Pakunoda berpesan untuk jangan mengejar pengguna rantai itu?"
"Memang. Tapi setelah mengetahui Shizuku sudah mati, kami merasa kalau menghindarinya akan sangat percuma. Orang yang kami harap dapat membebaskan pimpinan juga sudah tewas karena kebodohannya sendiri. Jadi, tidak ada cara lain," ujar Phinx.
"Lagipula, pelelangan York Shin sebentar lagi akan diadakan. Dengan kemampuanmu, kau tidak perlu bertarung, hanya tunjukkan saja UV-mu," ujar Machi.
"Benar. Nah, Hiju, bagaimana keputusanmu?" tanya Shalnark.
Hiju terdiam dan memandangi amulet yang ia pegang.
"Boleh aku memikirkannya dulu? Aku sekarang sudah punya anak."
Semua anggota Ryodan yang ada di sana terdiam.
"Baiklah. Beritahu kami lagi paling lambat minggu depan, oke? Kami ada di Sky Valley. Jika kau sudah bertekad kuat untuk bergabung, datanglah ke sana," ujar Shalnark.
Hiju mengangguk. "Baiklah."
"Kalau begitu, sampai nanti lagi, ya? Dah."
Shalnark dan teman-temannya keluar dari kamar itu melewati pintu kecuali Feitan yang masih berdiam diri di dekat box bayi dan memandangi mereka yang sedang tertidur.
"Feitan, ada apa?"
"Hiju, siapa yang menjadi ayah anak-anak ini?"
"Ah, bukan siapa-siapa."
"Anak yang ada di sebelah kiri mengingatkanku pada seseorang. Aku lupa dia siapa tapi rasanya aku beberapa kali bertemu dengannya dulu."
"Benarkah?" tanya Hiju.
"Ya. Mungkin saja dia salah satu korban dari kegiatan kita. Siapa tahu. Sudah terlalu banyak orang yang kita temui dan kita bunuh. Beberapa wajah dari mereka masih sering muncul di pikiranku."
Hiju memandangi anak yang dibicarakan Feitan. Jika dilihat baik-baik, wajah anak itu memang mirip dengan Killua. Hiju juga ingat cerita Killua mengenai pertemuannya dengan Ryodan beberapa tahun yang lalu.
"Yah, maaf sudah mengganggu malam-malam begini. Sampai nanti, ya." Feitan keluar dari kamar Hiju dan menutup pintunya.
Malam itu Killu mencoba mencari Hiju melalui website Hunter. Ia ingat kalau Hiju pernah diduga sebagai pembunuh Rozu dan hingga saat ini Hiju belum ditemukan. Saat Killu mencoba pencarian dengan menggunakan kasus Rozu, ia berhasil menemukan foto Hiju beserta janji fee sebesar 100 juta zeny yang akan diberikan jika Hiju berhasil ditangkap. Selain itu, ada informasi mengenai test pack yang ditemukan di kamar Hiju. Test pack itu diduga sebagai kepunyaan Hiju dan alasan Hiju pergi dari rumah. Polisi juga sempat menduga kalau Hiju hamil oleh Rozu lalu ia pergi dari rumah karena hal itu. Hiju lalu kembali untuk membunuh Rozu karena motif dendam. Hanya tiga hal itu saja yang Killu temukan. Selain itu, tidak ada informasi lain mengenai keberadaannya.
Di saat itu ia ingat kemampuan Milluki. Dengan segera Killu menghubungi kakaknya itu dan meminta bantuan. Tentu saja tidak ada yang gratis. Killu harus membayar 115 juta zeny untuk membayar jasa Milluki. Killua tidak keberatan. Fee akan dibayar jika Milluki sudah menemukan gadis itu.
"Jadi, Killu belum bertemu dengan gadis itu?" tanya Silva.
"Benar, ayah. Buktinya dia memintaku untuk mencari di mana keberadaannya. Berarti Killu belum bertemu dan tidak tahu harus mencari perempuan itu ke mana perginya, bukan?"
"Kalau begitu, carikan Hiju untuk ayah. Ayah akan membayarmu dua kali lipat dari yang Killu beri padamu, bagaimana?"
"Benarkah? Horeee! Baiklah, aku akan menemukannya secepat mungkin!"
Empat hari telah berlalu. Hiju terus memandangi amulet yang diberikan oleh Shalnark untuknya. Hiju masih bingung dengan semua yang terjadi dan akan terjadi padanya. Jika Hiju bergabung dengan Ryodan, bagaimana dengan nasib kedua anaknya? Sementara itu, dirinya masih dalam pengejaran polisi. Akan sulit juga baginya untuk melindungi kedua anaknya tanpa menggunakan nen. Jika ia menggunakan amulet itu dan tidak menemui Ryodan, Ryodan akan tahu hal itu dan ia akan dianggap berkhianat sehingga akan mengancam kedua anaknya juga.
Hiju sudah berpikir terlalu panjang pada empat malam terakhir, hingga akhirnya…
"Hiju?"
Suara itu mengagetkan Hiju yang hampir tertidur karena memikirkan keputusannya. Dari dalam gelap, muncul sesosok lelaki bertubuh besar dan berambut panjang.
"Si..siapa kau?"
"Aku Illumi. Kakak dari Killua."
"Ki..Killua? Kakaknya?"
Illumi terdiam memandangi Hiju.
"Ada apa?" tanya Hiju sambil memasang tatapan curiga.
Illumi mendekati box bayi. Di situ ia melihat ada dua bayi tertidur sangat pulas. Yang satu mirip sekali dengan Killua.
"Aku mau mengambil mereka," jawab Illumi tenang sambil menunjuk ke arah para bayi di dalam box.
Hiju terkejut. "Apa? Apa maksudmu dengan 'mengambil' mereka?"
"Oh, ini perintah dari ayahku. Mereka berdua ini anak dari Killu bukan? Ayah ingin melihat cucu-cucunya, itu saja."
"Tidak mungkin. Kau akan membunuhnya, kan?"
"Siapa yang bilang begitu?"
"Killu."
"Hmm, kurasa Killu salah. Atau mungkin membohongimu."
"A..apa?"
"Hiju, apa Killu pernah berbicara padamu mengenai alasan mengapa ia jarang menemuimu dan lainnya?"
Hiju terdiam. Ia mencoba mengingat 'mengapa'.
"Karena kau bukanlah seorang pembunuh. Killu ditakdirkan untuk menjadi penerus utama keluarga Zaoldyeck. Jika anggota biasa harus menikahi seorang pembunuh, sudah sangat jelas bukan kalau Killu juga harus menikahi seorang pembunuh? Karena kau bukanlah pembunuh, Killu tidak bisa menerimamu, kami pun tidak bisa menerimamu. Kau sadar kalau Killu hanya bermain-main denganmu? Jika dia bosan, ia akan datang menemuimu lalu ia pergi lagi. Begitu bukan?"
Hiju terdiam mendengarkan.
"Kau mengerti kan sekarang? Kau mengerti mengapa Killu begitu jarang menghubungimu? Karena sejak awal dia hanya bermain-main denganmu. Kau terlalu bodoh karena menganggapnya serius. Lihat saja dua anak ini. Apa yang Killu lakukan? Menelantarkannya bukan?"
Ingin rasanya bagi Hiju untuk tidak mempercayai kata-kata Illumi. Sayangnya, pertemuan terakhir antara Hiju dan Killu berakhir buruk. Saat itu, Killu pun sepertinya enggan menerima kehadiran bayi mereka.
"Jika aku membawa mereka sekarang kepada ayah, aku jamin ia tidak akan membunuh dua bayimu ini. Ayah sangat menyayangi Killua. Tidak mungkin rasanya membunuh dua cucu dari anak kesayangannya. Jika aku membawa mereka, kau dapat meneruskan hidupmu kembali. Bukankah sangat menyakitkan melihat dua anak ini? Kau akan terus mengingat Killu tapi Killu tidak akan mengingatmu. Sungguh menyedihkan, Hiju."
Hiju menunduk terdiam. "Jadi, semuanya terjadi karena aku bukan pembunuh seperti kalian?"
"Benar sekali."
"Begitu, ya. Sayangnya, walaupun Killu sudah menelantarkanku seperti ini, aku tidak menganggap kalau anak-anak itu adalah bagian buruk dari kehidupanku. Aku sangat menyayangi mereka melebihi apapun. Tapi jika kau ingin merebut mereka, kurasa aku tidak punya pilihan lain. Aku harus melawanmu, bukan?"
"Kau tahu itu."
Malam itu, seluruh penghuni di kondominium Hiju mendengar suara gemuruh dari kamar tempat Hiju berada. Awalnya mereka yang sudah tertidur mengira ada gempa yang akan membuat kondo rubuh. Setelah mereka menyadari bahwa gempa yang mereka pikirkan tidak ada, mereka segera berlari menuju sumber suara di kamar Hiju dan menemukan kalau kamar itu sudah hancur. Banyak perabotan di sana yang masih ada namun bentuknya sudah tampak terlantar untuk waktu yang lama sekali, bahkan ada yang rusak. Perabotan itu berantakan, dinding retak dan seperti ada bekas terbakar pada bagian dinding di dekat jendela. Sementara penghuninya, tidak ditemukan satu orang pun. Hiju tidak ada di sana dan para bayi juga tidak ditemukan.
