Chapter 8 : The Lady

Review Section :

Latifun Kanurilkomari : thank you buat pujiannya.. seneng banget karena ide cerita fic ini dipuji.. X'D. Btw, untuk penulisan kata/kalimat, saya memang akuin kalau saya emang paling lemah itu di bagian ini ._. . Itu deh yang jadi alasan kenapa saya kalau apdet fic lama banget karena buat saya menulis dengan baik itu super duper susah (kelamaan ngedit dan mikirin kata-kata yang pas agar reader bisa ngerti maksud saya). Buat yang satu Killu itu, sebenarnya kalau diperjelas maksudnya itu kayak gini : kalau satu Killua aja gak bisa dapet, kenapa gak dapet dua (anak-anaknya). Hehehe.. tuh kan nyatanya reader juga ada yang bingung baca kalimatnya X'(

Terus buat yang soal Killu dan Hiju POV, sebenarnya tadinya emang mau saya bikin (sebenarnya fic ini udah selesai, cuma tinggal diedit aja kata-kata gak puguhnya), cuma ada ketakutan di saya kalau nanti saya malah bikin kesan Killu dan Hiju mellow di sini. Padahal di fic ini saya pingin banget bikin kesan walaupun Hiju dan Killu itu menderita, mereka itu orangnya kuat. Saya takut saya gak bisa bikin kesan 'sakit tapi kuat'nya itu, makanya akhirnya saya gak bikin POV mereka. **Mengingat di fic First Spring & Last Autumn saya gagal bikin imej Levi yang dingin tapi hangat dan kasar**. Saya persilahkan reader aja buat berimajinasi ngebayangin perasaan Hiju-Killu kayak gimana :)

Gak apa-apa, kok. Saya suka kritik dari kamu karena menunjukkan kelemahan fic ini ke saya. Terima kasih, ya.. :)

Mohon maaf kalau masih bakal banyak ditemuin kata-kata atau kalimat gak jelas karena menulis emang bukan bidang yang saya tekuni habis-habisan. Saya cuma seneng berimajinasi mikirin cerita dan ngebagi ide cerita itu ke banyak orang. Buat numpahinnya ke tulisan, saya gak begitu mumpuni.. hehe.. ^^

Thank you ya.. :)

dikdik717 : Thank you buat pujiannya.. saya juga suka anime ini, apalagi yang versi 1999... Killuanya ganteng.. :D *plak

Marciana : Hehe.. ini baru apdet sayang.. makasih ya udah dukung fic ini sampe chapter 7.. ^^

Tsu : Yah, begitulah orang dengan brother complex problem.. apa aja boleeehh.. #apaan sih..

..

..

Cr : Hunter X Hunter by Yoshihiro Togashi dan Ouran High School Host Club by Bisco Hatori (Eclair Tonnerre)

..

..


..

..

"Tuan Yoshi, apa ada orang lain selain polisi yang datang kemari?" tanya seorang berambut putih dengan seragam polisi lokal.

"Tidak ada. Begitu kami menghubungi polisi kemarin malam, polisi langsung datang dan mereka hanya melihat-lihat TKP ini saja," jawab Yoshi atau kakek Yoshi yang merupakan pemilik dari sebuah kondo.

"Lalu, apa kata mereka?"

"Mereka mengaku belum bisa memutuskan mengenai apa yang terjadi. Nona yang menghuni tempat ini beserta kedua anaknya pun menghilang begitu saja."

"A..anak?"

"Iya, nona itu datang kemari dalam keadaan hamil muda. Ia bilang kalau suaminya meninggal saat bertugas menangkap penjahat. Karena aku kasihan melihatnya, aku izinkan dia untuk tinggal di sini. Sekitar pertengahan Maret kemarin dia melahirkan anak kembar : satu anak laki-laki sebagai kakak dan satu anak perempuan sebagai adik. Sejak suara gaduh itu terdengar, dia menghilang dan kamar ini juga hancur." Yoshi terlihat kesal karena salah satu kamar usahanya hancur berantakan.

"Tuan Yoshi, biar aku saja yang mengganti kerugian untuk kondo ini. Tuliskan saja berapa yang harus aku bayar," ujar laki-laki berpakaian polisi.

"Eh? Benarkah? Tapi, kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku melakukan ini karena aku pernah kehilangan istri yang sedang hamil muda. Aku mengecewakannya dan pergi begitu saja. Aku merasa menyesal dan saat aku mencarinya ke mana pun, aku tidak bisa menemukannya. Mendengar cerita mengenai nona yang tinggal di sini, aku yakin situasi yang ia hadapi sangat tidak mudah."

"Baiklah, tentu saja aku sangat senang jika ada yang mau mengganti kerugian ini. Hahahahahaahaha.."

"Syukurlah jika anda senang. Sekarang, bisakah anda meninggalkan saya di sini sebentar untuk melihat-lihat?"

"Tentu saja. Hahahaha. Selamat bekerja, Inspektur Vizzy."

"Terima kasih, kakek."

Yoshi segera meninggalkan si rambut putih dengan ekspresi senang. Seperginya Yoshi dari kamar Hiju, si rambut putih memasuki kamar itu lebih dalam dan mendapati betapa 'mengerikannya' kondisi kamar itu. Ia melihat ke sekeliling, lantai dan sudut-sudut kamar untuk mendapatkan secuil petunjuk. Ia juga memeriksa lemari dan meja yang ada di sana. Semua pakaian dan isi laci meja masih ada. Saat si rambut putih melihat ke arah box bayi, ia masih dapat mencium aroma hangat dan innocent dari kedua bayi yang pernah ada di sana. Ia juga dapat merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu terhadap anak mereka yang baru berusia sekitar 6 bulan.

Si rambut putih tersenyum. "Anak laki-laki dan perempuan, ya? Siapa nama mereka, Hiju? Aku ingin sekali bertemu dengan mereka."

Beberapa jam telah berlalu. Siang itu Yoshi tertidur pulas di kursi panjang ruangannya. Dari kejauhan Yoshi mendengar ada suara sirine mobil polisi yang semakin lama semakin mendekat. Yoshi yang tertidur pulas menjadi sedikit tersadar karenanya. Saat ia membuka setengah mata, ia merasa ada sesuatu yang sedang menimpa sepasang indera visualnya itu. Benda itu begitu tipis dan ringan. Ketika Yoshi meraih benda tersebut, betapa terkejut dan senangnya ia karena benda itu adalah cek senilai uang yang ia minta pada Inspektur Vizzy tadi pagi.

Kesenangan Yoshi membuyar saat ia mendengar suara sirine dan seseorang dari luar kondominium miliknya.

"PERHATIAN PERHATIAN?! KAMI MEMINTA TUAN YOSHITAKA ABE UNTUK SEGERA KELUAR MENEMUI KAMI, TERIMA KASIH."

Begitu mendengarnya Yoshi segera keluar dari ruangan dan berjalan menuju pintu depan kondo. Dari teras kondo ia dapat melihat lima mobil beserta tim investigasi polisi. Salah satu dari mereka ada yang berpakaian berbeda. Ia memakai kemeja, dasi, dan setelan jas yang senada. Rambutnya keriting, badannya tinggi besar, dan matanya berwarna abu-abu. Orang itu maju dan menghadap Yoshi seraya menujukkan identitas kepolisian miliknya.

"Selamat siang, pak? Saya Inspektur Vizzy dari Kepolisian Virgo City Timur. Saya datang ke sini untuk menyelidiki kamar 177 yang dikabarkan seluruh penghuninya telah menghilang tanpa jejak yang jelas. Apa anda bersedia memberi keterangan untuk membantu penyelidikan kami?"

"I... Inspektur Vizzy?! Dari Kepolisian Virgo City Timur?! Bagaimana bisa?! Tadi pagi ada orang berkulit pucat, bermata biru, dan berambut putih datang kemari dan mengatakan hal yang sama. Ia bilang kalau dia adalah Inspektur Vizzy dari Kepolisian Virgo City Timur!"

Mendengar itu, seseorang yang bernama Vizzy menjadi heran dan bingung. Untuk membuktikan perkataannya, Yoshi segera membawa Vizzy ke kamar yang dimaksud. Saat mereka sampai di sana, mereka menemukan satu set pakaian polisi yang terlipat rapi di atas meja. Di baju itu tertera nama 'Vizzy Klauss'.

Melihat baju itu, Yoshi menjadi bingung. "Lalu siapa orang itu?"

Pria berambut keriting yang mengaku bernama Vizzy terdiam sejenak memandangi seragam yang terlipat di depan matanya. "Siapa dia? Apa mungkin dia adalah teman dari penghuni kondo ini? Ah, oh iya, kalau boleh tahu, siapa nama orang yang menghuni tempat ini?"

"Namanya Marsh Hiju."

"Seperti apa orangnya?"

"Jika yang anda tanyakan berupa penampilan fisik, saya akan menjawab kalau dia tinggi, berhidung kecil dan lancip, matanya besar berwarna hitam, rambutnya panjang dan keriting pada ujungnya, dan kulitnya kuning pucat. Orangnya sangat pendiam. Dulu dia datang kemari dalam kondisi hamil muda. Malam saat ia datang dan mendaftar sebagai penghuni kondo adalah malam pertama dan terakhir saya melihatnya. Ia jarang keluar dari kondo dan selalu membayar sewa per bulannya dengan cara mentransfer ke rekening saya. Saya dan semua penghuni di sini tidak tahu banyak hal mengenai nona Hiju."

"Begitu, ya? Hamil? Hmm, semuanya cocok dengan dia."

"Cocok dengan siapa?"

"Oh, anda pernah mendengar kasus pembunuhan seorang pemilik Pet Shop bernama Hoitte Rozu?"

"Tidak."

"Yah, kasus itu sangat populer di wilayah York Shin dan sekitarnya. Tidak heran jika berita itu tidak sampai ke sini mengingat kota ini tidak satu benua dengan kota York Shin. Kasus itu sangat menyita publik selama seminggu. Pada kasus itu, korban yang bernama Rozu dibunuh dengan cara disiksa secara perlahan-lahan. Sadis sekali. Saat itu korban tinggal bersama seorang perempuan yang bernama Marsh Hiju. Sayangnya, Marsh Hiju meninggalkan tempat itu selama beberapa minggu sebelum Rozu dibunuh. Saat polisi melakukan investigasi di TKP, mereka menemukan test pack di dalam kamar nona Hiju. Polisi sempat menduga kalau test pack itu adalah properti miliknya. Polisi juga sempat menduga kalau Hiju hamil oleh Rozu lalu ia pergi meninggalkan rumah tersebut. Beberapa minggu kemudian, Rozu ditemukan telah meninggal akibat kehabisan darah dan infeksi pada beberapa bagian tubuhnya yang dimutilasi. Polisi di sana jadi berkesimpulan kalau Hiju-lah yang menjadi pelaku pembunuhan ini dengan motif dendam. Beberapa tetangga mengatakan kalau Hiju dan Rozu sempat bertengkar hebat pada malam di mana Hiju terakhir kali terlihat di sana."

"Jadi, nona Hiju adalah…"

"Benar, dia buronan polisi York Shin. Harga penangkapannya sekitar 100 juta zeny walaupun sebenarnya masih diragukan kalau dia adalah pembunuh sebenarnya. Saat kami mewawancarai anak dari Rozu yang baru saja pulang dari luar negeri, ia mengatakan kalau sangat aneh bagi Hiju untuk melakukan itu. Ia mengatakan bahwa Rozu sudah seperti kakek bagi Hiju sendiri dan Hiju sangat menyayanginya. Namun bagaimana pun juga, menangkap Hiju hidup-hidup sangat penting untuk saat ini. Tidak peduli apakah ia pembunuh sebenarnya atau bukan. Jika ia berhasil ditangkap hidup-hidup, polisi dapat memperoleh keterangan langsung darinya. Setelah itu, polisi dapat menentukan apakah dia pelaku yang sebenarnya atau bukan."

"Begitu, ya?"

"Orang ini juga sama." Inspektur Vizzy meneruskan kata-katanya sembari melihat ke arah seragam polisi di meja. "Jika orang ini terbukti sebagai teman dari Marsh Hiju…. tidak peduli apapun tujuannya, ia telah menyamar sebagai diriku dan datang ke sini dengan sengaja. Ia juga dapat dihukum karena itu."

Sementara itu di tempat lain, Killua sedang duduk santai di atas batang pohon taman dekat kondo yang baru saja dikunjunginya. Di antara kedua jarinya terselip foto dua bayi yang tertidur di atas sebuah kasur. Killu terus memandangi foto itu seraya tersenyum sendu.

"Dia mirip sekali denganmu, ya? Dia punya rambut hitam dan kulit kuning sepertimu."

Killu membalik foto tersebut. Di belakangnya tertulis :

Colin & Vestal

Senyum sendu Killu semakin melebar. "Aku benar-benar ingin bertemu mereka."


Di tempat yang lain atau tepatnya di Gunung Kukuru, kediaman pelayan dihebohkan dengan kedatangan 'tamu' baru di keluarga mereka -atau calon majikan baru tepatnya. Semua pelayan membicarakan tamu mereka dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang takut, ada yang senang, ada yang biasa saja, ada yang sedih, ada yang terharu, dan ada yang menyayangkan.

Tamu mereka datang siang itu dalam pangkuan Illumi. Selama kedua bayi itu ada di pangkuannya, mereka tidak menangis maupun merengek sama sekali. Mereka terus diam hingga akhirnya Illumi sampai di kastil keluarga.

Saat di kastil, satu per satu anggota keluarga melihat bagaimana rupa dua bayi Killua. Kikyo begitu histeris ketika melihat bagaimana Colin memperhatikan dirinya dengan tatapan yang sangat dingin. Sementara itu, Zeno tersenyum saat melihat ada anak perempuan di sana. Vestal pun membalas senyum Zeno dengan begitu tulus. Beda lagi dengan Silva. Saat melihat Silva, kedua anak itu terdiam segan memandangi kakek mereka. Terdiamnya kedua bayi itu persis seperti ketika mereka berhadapan dengan Illumi dan Kalluto. Terakhir, ketika melihat Milluki, Colin dan Vestal menangis dengan kencang.

Karena keluarga Zaoldyeck tidak terbiasa dengan tangisan kencang dua bayi secara bersamaan, mereka memutuskan untuk menitipkan kedua bayi tersebut di kediaman pelayan. Semua yang ada di sana terlihat sangat senang ketika mendapat kunjungan dari kedua anak tuan muda mereka. Setiap kali ada pelayan yang beristirahat, mereka selalu menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Colin dan Vestal.

"Yang ini mirip sekali dengan tuan muda, ya? Rambut, mata, hidung dan kulitnya sama persis seperti ayahnya," ujar salah satu pelayan saat ia menyuapi Colin susu bayi.

"Benar. Sementara yang ini mirip sekali dengan nona Hiju. Mata dan rambutnya sangat hitam sedangkan kulitnya berwarna kuning. Senyumnya juga mirip sekali dengan nona itu," timpal yang satunya lagi saat meninabobokan Vestal.

"Benar, mereka seperti ayah dan ibu mereka. Sebenarnya aku sudah menduga kalau tuan Killua dan nona itu pasti akan berhubungan lebih jauh. Sayang, nona itu tidak bisa masuk ke keluarga ini."

"Kasihan sekali, ya? Aku sangat tersentuh melihat perjuangan tuan muda Killua yang rela bertarung mati-matian agar bisa kembali lagi bersama nona Hiju. Tapi bagaimana bisa anak tuan muda ada di sini tanpa ibu atau ayahnya?"

"Kurasa anak ini hendak dijadikan 'pancingan' agar tuan muda mau pulang kemari. Tuan muda kan penerus bisnis keluarga."

"Lalu nona Hiju bagaimana?"

"Entahlah. Kemungkinan terburuk yang sangat mungkin terjadi pada nona Hiju adalah dia meninggal. Bisa saja tuan Illumi membunuhnya saat mengambil bayi ini bukan?"


Di tempat lain yang sangat gersang dan penuh angin, duduklah beberapa orang anggota Genei Ryodan di atas bebatuan, sedang menunggu sesuatu. Arah tatapan mata mereka sama.

"Kau yakin dia akan datang?" tanya Nobunaga pada Shalnark.

"Tentu saja, aku sangat yakin," jawab Shalnark dengan senyumnya. "Menurutmu bagaimana, Machi?"

"Mungkin saja."

"Hhh~… apa kalian benar-benar yakin? Ini sudah lama sekali sejak berlalunya pertemuan malam itu. Lagipula, bukankah dia sudah punya anak?" Nobunaga mulai kehilangan asa menunggu di sana.

"Ssst, ada yang datang," ujar Machi tiba-tiba.

Seketika semua teman-teman Machi bersiaga. Mereka semua melihat ke arah mata Machi tertuju.

Pada jarak empat meter di kejauhan, mereka merasa ada seseorang tengah berjalan ke arah mereka dengan aura yang lumayan kuat. Sedikit demi sedikit sosok itu muncul. Sosok itu berjalan menuju tempat di mana Shalnark dan yang lainnya berkumpul. Beberapa detik kemudian, Hiju berdiri di hadapan mereka. Dengan kemeja tosca lembut dan celana panjang hitam, Hiju terlihat terlalu 'normal' untuk menjadi anggota Genei Ryodan yang baru –setelah beberapa tahun berlalu. Tidak hanya itu, potongan rambutnya pun berubah menjadi bob panjang sebahu dengan poni depan menggantung di keningnya.

"Hiju-chan?" sapa Shalnark pada perempuan berekspresi datar yang berdiri di hadapannya.

"UV milikmu… auranya kuat," ujar Feitan.

"Jadi, kau memutuskan untuk bergabung dengan kami?" tanya Nobunaga.

Hiju mengangguk pelan disertai ketegasan di wajahnya. "Aku akan ikut kalian."

"Syukurlah, nyatanya kita tidak sia-sia menunggumu di sini selama beberapa hari," timpal Shalnark.

"Hiju?" Feitan menghampiri Hiju. "Nen milikmu, apa kau mau berlatih sebentar? Kau sudah lama tidak menggunakannya, kan?"

HIju terdiam berpikir. "Boleh juga."

"Kalau begitu, ayo kita pergi?" ujar Machi, yang akhirnya membawa teman-temannya termasuk Hiju pergi dari tempat itu.


"Sayang, tidak mungkin anak-anak itu mampu menjadi pembunuh! Kau tahu, kan? Ibu mereka bukan pembunuh! Berapa peluang terbesar untuk anak-anak itu agar mereka dapat menjadi seperti kita?!" Kikyo berbicara dengan lantang pada suaminya, Silva.

"Mereka anak-anak Killua. Mereka punya darah dari keluarga ini. Jawabannya, tentu saja mereka dapat menjadi seperti kita."

"Itu benar, Kikyo. Siapapun dapat menjadi pembunuh bayaran seperti kita. Kurasa tidak ada salahnya untuk mengajari bayi-bayi itu," timpal Zeno.

"Tapi ayah, bukankah jika kita mengajari anak-anak itu Killu akan tahu? Sampai sekarang Killu tidak tahu kalau kita yang membawa anak-anaknya. Jika ia tahu, bukankah ia akan membawa mereka keluar dari sini? Lalu untuk apa kita bersusah payah mengajari bayi-bayi itu jika pada akhirnya mereka keluar dari rumah ini?!" Kikyo masih bersikeras.

"Kita bisa mengisolasi mereka seperti Alluka, bukan? Jika Killu pulang kita juga akan mengetahuinya. Apabila pada akhirnya Killu bersikeras untuk membawa mereka keluar dari sini, kita biarkan saja." Silva menimpali dengan sangat tenang.

"Hah?! Membiarkannya begitu saja?!"

"Tenang, Kikyo. Jika pada akhirnya nanti mereka keluar dari sini, apa yang telah kita berikan pada mereka akan berguna bagi mereka nantinya. Jangan lupa kalau Killu hidup dengan cara kita membesarkannya. Tentu ia juga akan memberi sedikit cara membesarkan anak ala keluarga Zaoldyeck. Walaupun bukan untuk membunuh, anak-anak itu tetap akan belajar menjadi seperti kita cepat atau lambat," tambah Zeno.

"Itu benar. Sebaiknya, kita mulai membesarkan mereka dengan cara Zaoldyeck sebelum Killua kemari."


Sementara itu…

Di tempat lain yang jauh dari Gunung Kukuru maupun York Shin, hidup seorang perempuan cantik bernama Éclair Tonnerre. Ia memiliki mata bulat besar berwarna biru dengan tatapan yang sangat dalam, alis ramping dengan ujung tajam, bentuk wajah membulat dengan dagu lancip, rambut merah keemasan yang begitu lembut dan jatuh terurai, kulit seputih susu tanpa noda setitik pun, bibir merah tipis, dahi lebar yang indah, hidung mancung yang kecil dan lancip, gigi-gigi kecil yang tersusun rapi di dalam mulutnya dan tubuh tinggi semampai dengan tungkai – tungkai panjang nan kecil. Pesonanya sungguh luar biasa. Ia memiliki aura kharismatik yang dapat membuat siapapun jatuh cinta padanya.

Sayangnya, Éclair yang begitu cantik dan muda tidak memiliki hati secantik wajah dan penampilannya. Takdirnya sebagai seorang putri tunggal dari salah satu bos besar di dunia mafia telah membuatnya terbiasa melihat berbagai hal yang keji dan mengerikan. Pada umur dua belas tahun, dia sudah melihat bagaimana sang ayah membunuh sopir pribadinya karena terlambat menjemput.

Saat itu Éclair diculik oleh beberapa bawahan saingan sang ayah karena sang sopir terlambat datang untuk menjemputnya. Begitu tahu bahwa Éclair telah diculik, ayahnya murka dan menyewa seseorang untuk membunuh saingannya tersebut dan menyelamatkan Éclair . Pada saat Éclair sampai di rumah, ia melihat Archard Tonnerre –ayahnya- mengikat kedua tangan sopir pribadinya. Dengan samurai yang telah disiapkan sebelumnya, Archard memenggal sopir tersebut di depan mata Éclair secara langsung. Pembunuhan itu adalah pembunuhan pertama yang Éclair lihat. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mulai terbiasa dengan hal keji semacam itu.

Sejak hari pemenggalan sopir, Éclair yang semakin dewasa semakin sering diajak oleh ayahnya untuk ikut melakukan tugas mafia. Archard berniat untuk mengajarkan semua hal tentang bisnisnya selama ini pada satu-satunya putri yang begitu ia cintai. Ia sangat berharap pada Éclair agar mampu menjalankan tugasnya sebagai pewaris kelak. Selama perjalanannya dalam mempelajari seluk beluk dunia gelap, Éclair terlalu banyak melihat pembunuhan sadis yang terjadi.

Satu demi satu pembunuhan menjadi sangat memorial dalam benak Éclair. Semua kenangan mengenai bagaimana orang-orang sial itu meninggal telah membuat Éclair tertarik akan satu hal, yaitu mata. Setiap orang yang meninggal di hadapannya akan memperlihatkan ekspresi mata yang berbeda. Éclair dapat mengetahui bagaimana perasaan orang-orang yang mati di hadapannya hanya dengan melihat mata mereka. Bagi Éclair, mata adalah benda yang mampu membuat manusia terlihat sangat hidup.

Éclair menjadi sangat terobsesi dengan mata. Pada pembunuhan ke seratus di depan matanya, Éclair mulai meminta mata korban untuk dibawanya pulang dan dijadikan hiasan. Sejak hari itu, setiap kali ada orang yang mati di depan matanya maupun di tangan bawahannya, ia selalu meminta mata korban tersebut sebagai oleh-oleh.

Obsesi Éclair akan mata semakin bertambah setiap harinya. Ketika koleksi mata dari setiap orang yang menjadi korban keganasan mereka semakin banyak, Éclair mulai selektif dalam memilih mata cocok untuk dijadikan koleksinya. Ia yang dulu selalu mengambil mata para korban –tidak peduli siapa dia dan dari mana asalnya-, kini tidak seintens itu. Jika baginya mata sang korban sangat indah, ia akan mengambilnya. Jika tidak, ia akan membiarkan mereka tetap pada sang pemilik. Buruknya, Éclair mulai membunuh siapapun yang memiliki mata indah walaupun orang itu tidak pernah bermasalah dengan kelompok mafianya. Ia akan dengan sangat rela menyewa anak buah atau seorang pembunuh untuk mendapatkan mata indah yang dikehendaki. Obsesi inilah yang membuatnya mendapatkan 'gelar' sebagai kolektor tubuh manusia.

Éclair yang menyukai mata tentu menyimpan rasa kagum pada mata dari suku Kuruta yang berwarna merah cerah. Begitu tahu bagaimana hancurnya keluarga Nostrade yang selaku relasi keluarganya, Éclair memutuskan untuk membeli mata merah milik keluarga itu. Mata merah itu ia pajang di atas piano, benda kedua yang ia cintai di dunia ini.

Sore itu, Lady Éclair bermain piano seperti biasa. Di saat itulah ia ingat satu event besar yang akan diselenggarakan pada bulan September nanti.

Pelelangan bawah tanah di York Shin City.

Berdasarkan katalog yang ia peroleh beberapa bulan lalu, pelelangan kali ini akan diramaikan dengan barang-barang berumur ratusan hingga berabad-abad dari seluruh penjuru dunia. Salah satu barang yang akan dilelang adalah mata buta kepala suku Porroy yang lahir sekitar dua abad lalu. Mata itu sangat menarik perhatiannya karena bentuknya yang menyerupai mutiara. Kepala suku Porroy yang memiliki mata itu konon terkenal dengan kemampuan melihat masa depan dan masa lalu seseorang. Ia dianggap sebagai raja pada masanya dan meninggal karena terbunuh pada saat terjadi perang antarsuku.

"Kurapika?" panggil Lady Éclair pada satu pengawalnya yang ada di sana.

"Ya, nona?" pria yang diyakini bernama Kurapika menyahut.

"Aku ingin kita pergi ke York Shin dengan cara yang biasa : tidak usah ada jet pribadi dan tidak banyak pengawal. Pelelangan kali ini sangat menarik. Pasti akan ada banyak sekali saingan ayah dan keluarga kita di sana. Jika mereka mengetahui kedatanganku, aku yakin mereka dapat menghalangi jalanku untuk mendapatkan mata itu. Bisakah kau mengatur semuanya? Aku ingin kau mempersiapkan segalanya dan aku ingin hanya kau yang mengawalku ke sana. Apa kau mampu menemaniku?" Lady Éclair bicara sambil terus memijat tuts piano.

"Tentu saja, nona," jawab Kurapika.

"Baguslah. Kau boleh pergi," ujar nona bermata biru itu.


Pada tengah malam, Kurapika yang tidak bisa tidur berjalan-jalan di sekitar mansion Tonnerre sendirian. Semua orang sudah terlelap tidur pada jam itu. Ketika Kurapika melewati sebuah lorong besar dengan koleksi barang berharga keluarga Tonnerre di sepanjang jalannya, Kurapika memandangi sesuatu yang selalu menarik perhatian kedua manik hidupnya, mata merah.

Mata merah yang dibeli dari majikannya terdahulu kini dijadikan sebagai salah satu pajangan terpenting di rumah itu. Kurapika selalu berhenti memandanginya setiap kali ia lewat sana. Dalam lubuk hati Kurapika, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri : kapan aku berhasil mengumpulkan semua?

Di saat ia berpikir mengenai cita-citanya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh satu suara dari arah belakang.

"Kurapika?"

Kurapika menoleh. "Nona Éclair?"

Éclair berdiri menatap dalam mata Kurapika. Ekspresinya tenang dan dingin. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"

"Saya hanya tidak bisa tidur, nona. Jadi saya putuskan untuk berjalan-jalan sebentar."

Éclair masih menatap dalam pada Kurapika. "Kau bohong."

"Tidak, nona. Saya benar-benar sedang tidak bisa tidur, jadi…"

"Bukan itu yang aku maksud," potong Éclair.

Nona muda di sana berjalan mendekati Kurapika dan menatap matanya dalam-dalam. "Aku selalu memperhatikanmu, Kurapika." Éclair tersenyum.

Kurapika blushing sekaligus menatap Éclair heran.

Éclair beralih pandang ke arah mata merah yang dipajang di samping mereka. "Kau pengawal paling tampan di sini. Selain aku, aku yakin banyak sekali pelayan perempuan yang ikut memperhatikanmu juga. Kau tampan, cerdas, kuat, mandiri, dan mampu berpikir dengan cepat. Sulit sekali mendapatkan pengawal sepertimu. Itu sebabnya mengapa mudah sekali bagi orang lain untuk memperhatikanmu, Kurapika."

Kurapika menatap Éclair dengan seksama.

"Karena itu, aku selalu memperhatikanmu memandangi mata merah itu. Kapanpun itu, termasuk saat tadi aku menemukanmu di sini. Apa kau tertarik pada mereka?" lanjut Éclair.

Kurapika terdiam.

Mendapati keterdiaman, Éclair menghembuskan nafas.

"Ya sudah kalau kau tidak mau cerita padaku. Jika ini hal pribadimu, aku tidak akan memaksa." Éclair pergi meninggalkan Kurapika sendirian di sana.


Esok harinya Kurapika mengurus segala kebutuhan Éclair dan dirinya untuk pergi ke York Shin. Ketika ia sedang beristirahat untuk makan siang, ia mendapat pesan singkat di ponselnya. Saat ia membuka pesan itu, Kurapika tersenyum dengan mata yang berbinar. Pada pesan itu tertulis :

"Kurapika, apakah keluarga Tonnerre akan menghadiri pelelangan di York Shin? Jika iya, ayo kita bertemu di York Shin? Aku punya informasi mengenai beberapa orang yang memiliki mata merah asli. Aku juga sudah mengajak Leo Rio dan Killua untuk bertemu di sana. Kita akan bertemu setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu, bagaimana?" Gon

Kurapika tersenyum saat membaca pesan itu. Dengan cepat ia membalas.

"Baiklah. Kita akan bertemu di sana. Aku akan mengabarimu jika pekerjaanku telah selesai."

Tidak berapa lama kemudian, Gon membalasnya :

"Baiklah, sampai bertemu nanti."


Tibalah hari di mana Kurapika dan Éclair pergi ke York Shin. Setelah menempuh perjalanan selama sehari penuh, mereka akhirnya sampai di bandara. Dari bandara, mereka melanjutkan perjalanan ke hotel dengan menggunakan taksi.

"Kurapika?"

"Ya, nona?"

"Kurasa aku akan berada di sini lebih lama dari perjanjian sebelumnya. Semalam Vermont mengabariku dan meminta janji untuk bertemu membicarakan bisnis di sini. Bisa jadi ini lebih lama beberapa hari karenanya. Kau bersedia menemaniku sampai selesai?"

Kurapika teringat akan janjinya bersama Gon. "Saya tidak keberatan tapi bolehkah saya meminta sesuatu?"

"Apa itu?"

"Sebelumnya anda bicara mengenai kepulangan anda begitu pelelangan selesai dan saya mendapatkan jatah libur untuk sementara. Saya sudah berjanji pada teman saya untuk bertemu di waktu libur itu. Karena ada perubahan mendadak, bolehkah saya menemui mereka setelah pelelangan nanti?"

"Tentu saja. Vermont adalah rekan bisnis ayahku sejak lama. Saat kau pergi, kurasa dia tidak akan keberatan untuk meminjamkan beberapa bodyguard terhebatnya untukku."

"Terima kasih, nona."

Éclair tersenyum anggun. "Besok kita akan pergi sekitar jam 6 sore ke pelelangan. Pelelangan akan di mulai pada jam sembilan hingga jam dua belas malam. Aku ingin pergi berbelanja dan menata rambutku sejak siang hari."

"Baik, nona. Saya akan menemani anda."