WARNING : MATURE CONTENT!
Di chapter ini Killua gak akan keluar, jadi buat yang baca karena Killua, bisa skip chapter ini. Killua kemungkinan bakal keluar di dua chapter mendatang.
REVIEW SECTION :
#dikdik : seepp.. b
..
..
York Shin City, 1 September..
Sebuah pelelangan bawah tanah terbesar akan diadakan malam itu. Pelelangan kali ini akan diwarnai dengan beberapa benda berumur sangat tua. Harga penawaran di katalog yang terbilang fantastis membangkitkan gengsi para mafia di seluruh dunia. Bisa dibilang pelelangan kali ini adalah pelelangan yang paling mahal yang pernah ada. Kuantitas barang yang ditawarkan tidak seberapa jika dibandingkan dengan harga-harga dahsyat yang melabeli mereka.
Tingginya nilai barang yang ditawarkan tidak hanya menarik perhatian para petinggi di dunia mafia saja. Di pinggiran Kota York Shin terdapat kompleks gedung-gedung tua yang sudah terabaikan sejak lama. Di salah satu gedung itu Genei Ryodan sudah berkumpul.
"Malam ini si pengguna rantai mungkin akan menunjukkan dirinya. Kau yakin tidak apa-apa untuk membiarkan dia pergi sendiri, Feitan?" tanya Nobunaga kepada Feitan yang sedang asyik membaca buku The Art of Torture.
"Tidak apa-apa. Lagipula ini saat yang tepat bagi Hiju untuk menunjukkan hasil latihannya selama beberapa minggu. Jika kita ikut datang ke pelelangan, pengguna rantai dapat menghabisi kita semua. Hanya Hiju satu-satunya yang belum ia temui, bukan? Biarkan Hiju pergi sendiri."
"Benar apa yang dikatakan Feitan. Jika Hiju yang pergi sendiri, pengguna rantai tidak akan sadar. Ini kesempatan yang bagus. Jika pengguna rantai menyadari kalau Hiju adalah salah satu dari kita, setidaknya ia bisa menggunakan UV miliknya untuk bertarung dengan pengguna rantai," tambah Machi.
"Hiju benar-benar hebat! Padahal baru sekitar sebulan tapi dia sudah mampu menambahkan jurus baru pada nen miliknya! Tokushitsu dan Henka di saat bersamaan," Shalnark ikut komentar.
"Benar-benar mengerikan dia itu. Lihat saja mereka. Hanya dengan melihat ke arah matanya, mereka bisa buta. Melihat tubuhnya, mereka bisa terkena kanker kulit bahkan hancur menjadi debu. Dia benar-benar mengerikan," ujar Nobunaga sambil melihat ke arah tumpukan kain yang ada di dekat mereka.
"Lima puluh pria mata keranjang dan delapan belas penyiksa binatang mati di tangannya dengan mudah. Dia benar-benar ingin menghancurkan para pendosa," tambah Phinks.
"Hiju benar-benar mengerikan. Tapi di antara kita semua, hanya dia yang mampu memilih korban," Shalnark kembali berbicara.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari kejauhan yang semakin mendekat ke arah Ryodan yang sedang berkumpul. Tidak berapa lama kemudian, pemilik langkah kaki itu muncul. Dia berkulit kuning mulus, mata hitam legam berkilau, wajah tanpa ekspresi, dan rambut bob sepanjang bahu. Ia memakai mini cocktail dress berwarna tosca dengan potongan ketat pada bagian pahanya dan backless dengan bentuk V besar di bagian belakang. Untuk panjangnya, gaun itu hanya menutupi setengah paha Hiju yang lancip. Hiju terlihat sangat cantik, elegan, dan seksi dengan gaun yang sedang dikenakan olehnya. Untuk sepatunya, Hiju menggunakan stiletto heels setinggi 7 cm berwarna tosca, sepadan dengan gaunnya.
Melihat penampilan Hiju malam itu, Shalnark dan Phinx blushing.
"Hiju-chan, kau sangat cantik dengan gaun itu!" Shalnark memuji.
Sementara itu, Phinx bersiul dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Hiju. Apalagi ketika Hiju berjalan mendekati Shalnark yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana dengannya?" tanya Hiju pada Shalnark.
"Sudah beres. Kau tinggal menemuinya di Pandora Hotel. Kamarnya nomor 574." Shalnark memberikan beberapa kartu pada Hiju.
Phinx masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hiju. "Hiju, kau yakin sudah punya dua anak? Tubuhmu tidak mengatakan hal itu."
"Phinx, jangan mengganggunya." Feitan mengingatkan dari jauh.
"Tch. Baiklah, Feitan. Aku hanya ingin memuji kalau tubuhnya benar-benar bagus. Itu saja!"
"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Phinx. Jangan sekali-kali memikirkannya lagi," tambah Feitan.
Phinx hanya terdiam kesal.
"Kalau begitu kami pergi. Sampai nanti?" Shalnark bangkit dari tempat duduknya dan melambaikan tangan pada yang lain untuk pamit dari sana.
"Eh?! Kau pergi juga?!" Phinx terkejut saat Shalnark berpamitan.
"Tentu saja. Dengan penampilannya yang seperti ini, Hiju harus naik taksi atau mobil bagus. Tidak mungkin kan menyewa taksi kemari? Jadi aku harus mengantarnya."
Phinx melipat kedua tangannya di dada dan bicara dengan kesal. "Huh! Sebaiknya jaga pandanganmu agar tetap melihat ke arah jalan! Bukan ke samping!"
"Aku tahu itu, Phinx. Sampai nanti, semuanya…"
Shalnark dan Hiju melangkah pergi dari tempat itu. Setelah mereka sudah tidak terlihat lagi…
"Oi oi, aku ingin tahu pendapat kalian soal Hiju." Nobunaga memandangi teman-temannya satu per satu. "Menurut kalian, apa yang membuat Hiju begitu berbeda? Kurasa aku hampir tidak mengenalnya. Hiju yang aku kenal dulu tidak semengerikan sekarang. Bahkan ketika kita menemuinya tiga tahun yang lalu, dia seperti tidak berubah sama sekali. Sekarang… entah mengapa, aku merasa ada yang tidak beres dengannya."
"Maksudmu seperti apa?" Feitan menimpali sembari tetap membaca buku.
"Entahlah. Dia benar-benar berbeda. Apa kalian tidak merasakannya?"
Semuanya terdiam.
"Tentu saja aku merasakannya." Tiba-tiba Machi membuka mulut. "Saat kita menemuinya di Virgo City, aku sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda dengannya. Sepertinya ia telah mengalami banyak hal sulit. Dia lebih jarang berekspresi sekarang."
"Ekspresinya terlalu datar seperti pimpinan." Phinx memberikan komentar.
TAP
Feitan menutup bukunya. "Apapun yang terjadi padanya, aku yakin itu bukanlah sesuatu yang mudah. Sesuatu yang menyakitkan pernah dialami Hiju. Aku tidak tahu apa itu, tapi hingga saat ini Hiju masih tidak dapat melupakannya. Aku bisa merasakan amarahnya yang amat besar. Mungkin itu jugalah yang membuatnya memutuskan untuk bergabung kembali dengan kita. Siapapun dia, aku berterima kasih karena telah menjadikan Hiju monster seperti kita sekarang."
Malam itu adalah hari di mana semua mafia berkumpul di satu tempat yang sama. Walaupun ada sejarah mengerikan mengenai hilangnya semua peserta lelang beberapa tahun yang lalu, nampaknya hal itu tidak menyiutkan pengadaan lelang untuk tahun-tahun berikutnya. Pelelangan tetap ramai oleh para mafia yang sangat mengutamakan nama mereka di dunia hitam.
Malam itu, semua mafia berkumpul di ballroom sebuah hotel berkelas. Saat itu adalah jam perjamuan dan pengadaan pesta kecil untuk membuat para mafia tidak bosan menunggu dimulainya pelelangan.
Shalnark mengantar Hiju sampai ke basement hotel lalu meninggalkannya dan memutuskan untuk menunggu di tempat lain. Dari basement, Hiju melangkah menuju kamar 574 sesuai instruksi dari Shalnark.
Setelah jalan beberapa menit, Hiju menemukan kamar yang ia tuju. Kamar itu dijaga oleh beberapa bodyguard yang terlihat sangat siaga. Mereka memakai kacamata hitam dan –sepertinya- terus menatap ke depan. Nyatanya, mata mereka tidak bisa berpaling dari Hiju begitu Hiju melewati mereka. Ketika Hiju sampai di depan pintu kamar, dua orang bodyguard menghalanginya.
"Maaf, siapa anda?" tanya salah satu bodyguard.
Hiju dengan santai mengeluarkan sebuah kartu dari clutch bag dan menunjukkan kartu itu pada kedua bodyguard. Kedua bodyguard yang ada di depannya membaca kartu itu lalu saling berpandangan. Dari balik kacamata hitam keduanya, Hiju dapat melihat mata mereka saling berkedip, seolah berniat untuk melakukan sesuatu pada Hiju.
"Kami tidak bisa membiarkan anda masuk begitu saja. Identitas seperti ini sangat mudah sekali dibuat. Kami dengan sangat terpaksa harus memastikan kalau bos kami benar-benar aman menerima anda."
Hiju tahu apa maksud dari kedua bodyguard itu.
"Silahkan, geledah saja aku. Aku tidak membawa senjata apapun."
Kedua bodyguard itu tersenyum kecil dan Hiju membiarkan kedua bodyguard itu meraba-raba tubuhnya yang memang sudah sangat mencuri perhatian. Para bodyguard lain yang tidak berkesempatan untuk meraba Hiju hanya memperhatikan dengan wajah penuh rasa iri. Kedua bodyguard itu cukup lama berkutat di tubuh Hiju. Setelah Hiju merasa mereka meraba terlalu lama…
"Maaf, bolehkah aku masuk?" tanya Hiju pada mereka.
Kedua bodyguard itu gugup. "Ah, iya. Silahkan."
Salah satu dari mereka mengetuk pintu kamar. Tidak lama kemudian, Vermont membuka pintu itu dan matanya langsung tertuju pada Hiju yang tersenyum sangat manis kepadanya.
"Tuan, dia adalah anak buah Madame Toussire. Kami sudah memastikan kalau dia tidak membawa senjata apapun," ujar bodyguard itu.
Nampaknya Vermont tidak mempedulikan ucapan mereka. Matanya sibuk memperhatikan Hiju dari ujung kepala hingga ujung kaki. Darah Vermont berdesir cepat melihat bagaimana mulusnya kulit, padatnya tungkai bawah, dan indahnya dada Hiju. Vermont sudah memikirkan bagaimana ia akan melewati malam dengan penuh kesenangan. Ia juga sudah memikirkan mengenai apa yang akan ia lakukan untuk menikmati gadis manis di depannya. Setidaknya, itu yang ia pikirkan.
"Baiklah, silakan masuk." Vermont mempersilakan Hiju untuk masuk ke kamarnya.
Saat Hiju melangkah masuk, dengan sengaja Vermont menyentuh pinggul Hiju yang terlihat sangat mencolok. Hiju terlihat tidak peduli dan terus melangkah masuk. Ketika ia sudah berada di tengah kamar, Vermont menutup pintu dan menguncinya. Pria tua itu segera berjalan menghampiri Hiju yang masih melihat-lihat sekeliling.
"Hei, siapa namamu?" tanya Vermont dari belakang.
Hiju berbalik menghadap Vermont yang lebih pendek darinya. "Namaku? Namaku Hiju. Panggil saja aku itu, tuan." Hiju tersenyum sangat manis.
Vermont seakan mabuk cinta melihat bidadari cantik dan seksi di hadapannya.
"Tuan? Hmm, panggil saja aku Vermont. Ah, kau pasti lelah karena penerbangan yang jauh, ya? Bagaimana kalau kita berbaring sebentar sambil mengobrol?"
"Baiklah." Hiju dengan inisiatifnya segera duduk di pinggir ranjang dengan menyilangkan kedua kaki. Tubuhnya ia tahan dengan kedua tangan yang menyentuh kasur di belakang. "Hhhh~,, panasnya~…," ujar Hiju sambil menatap langit-langit kamar.
Vermont speechless melihat posisi Hiju saat itu. Hiju yang menatap langit telah memperlihatkan lehernya yang begitu jenjang. Pandangan Vermont turun dan ia melihat bagian tengah tubuh Hiju yang sangat mulus dengan bentuk dada yang amat sangat sempurna di matanya.
Tatapan Vermont semakin turun ke bawah. Kali ini ia melihat bagaimana padat dan lancipnya paha yang saling bersilangan. Hanya perlu sedikit gerakan tangan untuk menyingkap apa yang ada di balik paha perempuan berbalut tosca tersebut.
"Tuan Vermont, apa yang anda lakukan? Kenapa hanya berdiri saja?" Hiju membuyarkan fantasi Vermont yang mulai meliar.
"Ah, tidak. Euhmm… benar katamu. Di sini panas sekali. Bahkan AC pun tidak mampu membuat ruangan ini dingin."
Vermont melangkah mendekati Hiju dan berlutut di hadapan gadis itu. Wangi tubuh Hiju yang merasuk ke dalam hidungnya membuat Vermont makin merasa 'lapar'.
"Bagaimana jika aku membantumu melepaskan gaun ini?"
Tangan Vermont sudah bersiap untuk melonggarkan kain yang bersarang di pundak Hiju. Saat tangannya sudah menyentuh kain, tangan Hiju menghentikannya.
Vermont memandang heran dan Hiju menyingkirkan kedua tangan Vermont dari gaunnya dengan lembut.
"Tuan, kurasa kita masih punya skedul untuk dilakukan. Bagaimana jika kita melakukannya ketika pelelangan telah selesai? Kita punya malam yang panjang, bukan? Kau dapat melakukan apapun padaku sesukamu tanpa batas waktu. Aku akan membuatmu berteriak nanti malam karena pekerjaanku, percayalah~.." Hiju berbisik di telinga Vermont dengan nada yang sangat menggoda.
Vermont tersenyum mesum sambil memandangi Hiju. "Baiklah, tapi kau harus berjanji akan memuaskanku nanti malam."
Hiju tersenyum manis. "Kau tidak perlu khawatir tuan. Akan aku pastikan kalau malam ini tuan akan benar-benar berteriak setelah tahu bagaimana aku."
Semua peserta lelang telah berkumpul di ballroom. Mereka mengobrol dan menikmati berbagai suguhan yang ada. Makanan, minuman, live music, semua disajikan dengan penuh kelas.
Eclair dan Kurapika juga sudah hadir di sana. Kurapika yang berdiri di samping Eclair terus memasang mata waspada dan memperhatikan sekeliling. Nona cantik yang duduk di sampingnya sedang menikmati segelas wine merah sembari memejamkan mata untuk menikmati musik yang disuguhkan. Dibalut dress hitam panjang dengan belahan yang tinggi pada bagian kiri bawah, kalung dan anting mutiara, serta rambut yang ditata sangat elegan membuat Eclair terlihat sangat cantik dan berkelas malam itu. Sekilas, ia tidak terlihat seperti gadis yang terbiasa melihat pemenggalan kepala atau mengoleksi mata. Ia terlihat seperti gadis kaya bermasa depan cerah dengan sedikit keangkuhan.
"Eclair Tonnerre?" suara itu membuat Eclair membuka matanya dan menoleh ke samping Kurapika. Di situ berdiri Vermont dengan gadis sewaan berbalut dress tosca yang akan diajaknya berkencan nanti malam.
"Don Vermont? Oh, apa kabar?" Eclair menjabat tangan Vermont.
"Baik sekali, Eclair. Kau makin cantik sekarang. Bagaimana kabar ayahmu?"
"Ayah baik-baik saja. Dia sedang sibuk mempersiapan 'proyek' dengan Tuan Moo sejak dua bulan yang lalu."
"Tuan Moo? Ah, pengusaha opium itu? Haahahaha…. ya, baiklah. Oh iya, perkenalkan. Hiju," ujar Vermont sambil menunjuk ke arah Hiju.
Hiju tersenyum manis dan membungkukkan tubuhnya sedikit pada Eclair. "Selamat malam, nama saya Hiju."
Eclair terpatung melihat Hiju yang berdiri di samping Vermont. Mata Hiju yang begitu hitam, gelap, dalam, dan berkilau seperti kristal telah mencuri perhatiannya. Sepasang mata milik Hiju mampu membangkitkan obsesi Eclair pada mata saat itu.
"Hehehehe… dia cantik kan, Eclair?"
Eclair tersadar dari lamunannya dan kembali menatap Vermont. "Ah, iya. Dia sangat cantik. Apa dia anak buah Madame Toussire?"
"Ya, anak baru. Seperti kue yang baru saja keluar dari oven, dia sangat segar bukan?" Tangan nakal Vermont yang tadinya merangkul pundak Hiju kini turun ke pinggul dan menggerayang di sana.
Kurapika hanya terdiam menahan rasa jijiknya pada Vermont. Dia cukup simpati pada Hiju yang terus tersenyum pada petinggi mafia di sampingnya. Namun di sisi lain, Kurapika merasakan ada sesuatu yang janggal. Ia merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya saat ini.
"Oh iya Don Vermont, berhubung pembicaraan kita yang terakhir kali membuatku harus menetap di sini lebih lama, bisa tidak jika aku meminta bantuanmu untuk memberikan lima bodyguard terbaikmu untukku?"
"Hohoho, tentu saja. Itu sangat mudah! Akan aku beri kau sepuluh bodyguard sekaligus! Hahahaha!"
"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong apa yang kau incar kali ini, Don Vermont?"
"Kali ini aku mengincar dua benda. Satu adalah kepala Stiletto Cat yang hidup ribuan tahun lalu dan satu lagi adalah KItab Salib Terbalik."
"Dua benda itu adalah benda yang dipasang dengan harga termahal di katalog, bukan? Anda benar-benar berani untuk mempertaruhkan banyak uang," komen Eclair.
"Hahahaha. Itu harus Eclair. Rahasia kesuksesan di dunia mafia bukan hanya karena jaringan yang luas. Mempertaruhkan uang dalam jumlah besar juga termasuk hal yang harus dilakukan!"
Eclair tersenyum. Ia kembali menatap ke arah Hiju.
"Berapa umurmu, Hiju?"
"Umurku 20 tahun saat ini, nona."
Senyum Eclair makin tersungging. "Apa kau menggunakan lensa kontak?"
"Tidak, nona."
"Hoo… matamu sangat indah. Kau harus bersyukur karena kau memilikinya saat ini."
Hiju hanya tersenyum.
"Ah, Eclair. Kurasa aku harus pergi. Petras sudah menungguku di dekat bar untuk membicarakan proyek lain. Hahahaha. Sampai nanti, ya?" Vermont dan Hiju melangkah pergi meninggalkan Kurapika dan Eclair.
Kurapika terus memandangi mereka berdua dari belakang. Tangan Vermont masih bersarang di pinggul gadis itu, membuat Kurapika ingin sekali menghajar Vermont.
"Kau sangat menghormati manusia, Kurapika," ujar Eclair tiba-tiba.
Kurapika menoleh ke arah Eclair.
"Aku melihat reaksi matamu saat Vermont menyentuh pinggul gadis itu. Begitulah nasib anak buah Madame Toussire. Kecantikan seolah mengutuk diri mereka sendiri. Usianya masih sangat muda, cantik, pintar, dan terlihat sangat polos. Begitulah semua anak buah Madame Toussire. Hampir semua anak buah dari madame adalah orang terlantar dan hasil penculikan. Menghajar Vermont tidak akan ada gunanya. Jika kau mau, kau bisa membunuh Madame Toussire. Dengan begitu, hal menjijikkan ini akan berakhir."
Kurapika hanya terdiam.
"Pelelangan akan dimulai. Ayo kita pergi." Eclair melangkahkan kakinya, diikuti oleh Kurapika. Saat Kurapika melangkahkan kakinya mengikuti Eclair, ia melihat dari jauh bagaimana Hiju yang terlihat sangat polos dikerubungi oleh banyak pria mafia. Semuanya memandangi Hiju dengan tatapan mesum dan Kurapika sempat melihat beberapa dari mereka menyentuh tubuh Hiju dengan sengaja. Hiju hanya tersenyum dan tertawa.
Beberapa menit kemudian pelelangan dimulai. Ruangan bawah tanah kini dipenuhi banyak orang. Hiju dan Vermont duduk di tengah kerumunan sementara Kurapika dan Eclair duduk di tengah, agak ke belakang.
Pelelangan berlangsung alot. Persaingan ketat terjadi selama tiga jam di dalam ruangan itu. Selama pelelangan berlangsung, Kurapika terus memperhatikan Hiju yang berada jauh di depan. Entah mengapa sosok perempuan itu begitu menyita perhatiannya.
Setelah tiga jam persaingan berlangsung, pelelangan selesai dengan aman. Eclair berhasil mendapatkan mata yang ia inginkan dan memutuskan untuk kembali ke hotel yang berjarak 5 km dari Hotel Pandora, tempat dilaksanakannya lelang saat itu. Ketika Kurapika dan Eclair keluar dari aula bawah tanah, mereka melihat Vermont dan Hiju yang sedang berjalan menuju lift. Ada satu kardus kecil di tangan Vermont. Ternyata pria itu telah mendapatkan benda incarannya juga. Kurapika dan Eclair tetap melanjutkan perjalanan mereka.
Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Kurapika dan Eclair hanya terdiam. Kurapika sibuk mengawasi sekeliling untuk memastikan kalau nona mudanya aman dari siapapun dan apapun.
Sementara itu, Don Vermont dan Hiju kembali ke kamar 574, tempat di mana Don Vermont akan menghabiskan malamnya dalam suasana romantis bersama Hiju. Seharusnya.
Begitu masuk ke kamar, Hiju melepas sepatunya dan berlari menuju kulkas untuk mencari minuman. Dari dalam kulkas Hiju mengambil satu kaleng cola dan berniat untuk meminumnya. Namun sebelum hal itu terjadi, ia menengok ke belakang dan mendapati Don Vermont sedang membuka sebuah brankas kecil di ujung ruangan. Pria itu berniat menaruh barang pelelangan di dalam sana. Hiju memperhatikan dari jauh.
Tiba-tiba Vermont mendengar suara jeritan dari Hiju. Vermont yang terkejut segera menengok ke arah sumber suara dan melihat Hiju yang terlihat sangat panik. Vermont segera menghampirinya.
"Hi..Hiju, ada apa?" tanyanya.
Hiju membalikkan tubuhnya dan Vermont melihat Hiju kebasahan. Soda yang menyeruak keluar dari botol bir itu membasahi wajah dan tubuh Hiju. Melihat wajah dan tubuh Hiju yang basah, Vermont kembali terpatung dan wajahnya memerah. Terutama ketika ia melihat bagian dada Hiju yang dibasahi cola. Vermont makin merasa panas.
"Tuan, apa kau punya handuk?" tanya Hiju sambil menaruh colanya di atas kulkas.
"Eh, i..iya.. akan aku ambilkan," ujar Vermont gugup sambil berlari kecil ke arah kamar mandi untuk mengambil satu helai handuk dari samping wastafel. Sementara itu, Hiju berjalan ke arah jendela untuk menutup gorden. Setelah Vermont mendapatkan handuk, ia keluar dari kamar mandi dan berdiri di dekat ranjang. "Ini, Hiju?"
Hiju menoleh ke belakang lalu berlari ke arah Vermont dengan ekspresi senang. Saat Hiju berlari ke arahnya, Vermont merasakan godaan yang sangat kuat untuk menyentuh Hiju. Apalagi saat Hiju berada persis di hadapannya dan mengelap sekujur tubuhnya dengan handuk. Ia memperhatikan dengan begitu teliti setiap gerakan Hiju saat mengelap tubuh mulusnya. Terutama ketika Hiju menyelipkan handuk dan tangannya ke balik kain untuk mengelap dadanya. Vermont tidak mampu melepaskan tatapannya dari gerakan tangan perempuan itu.
Vermont sudah tidak tahan. Ia memegangi kedua tangan Hiju agar berhenti mengelap dan mendorong perempuan itu sehingga ia terduduk di pinggir ranjang. Vermont masih memegangi tangan Hiju sambil berlutut.
"Mengelap dengan handuk saja sepertinya tidak akan membantu. Handuk masih menyisakan lengket. Bagaimana jika aku membantumu?"
Hiju memasang wajah polosnya. "Benarkah? Aku pikir tuan akan keberatan…" Hiju tersenyum polos dan blushing.
"Siapa yang keberatan membantu gadis secantik dirimu? Aku mulai, ya…" Vermont mulai mendekatkan kepalanya menuju tubuh Hiju yang persis ada di depan. Tiba-tiba tangan Hiju menahan wajah Vermont.
"Tuan benar. Cola meninggalkan rasa lengket. Bajuku juga basah dan badanku terasa lengket sekali." Hiju berdiri dan melangkah agak jauh ke arah cermin yang ada di depan ranjang. Di situ Hiju berdiri menghadap Vermont yang masih terduduk memperhatikan Hiju dengan wajah mesum. Tepat di hadapan Vermont, Hiju menanggalkan terusan mini toscanya.
Lepas sudah gaun yang menyelimutinya tadi. Satu-satunya kain yang tersisa di tubuh Hiju adalah celana dalam transparan yang masih menyelimuti pinggul dan kewanitaannya. Selain itu, Hiju 'bebas' tanpa apapun.
Melihat bagaimana moleknya tubuh Hiju, Vermont jadi terpatung. Dengan senyum manis maut miliknya, Hiju melangkah ke arah Vermont lalu berlutut di hadapan pria itu. Dengan lembut, Hiju melepaskan helai demi helai pakaian Vermont hingga tidak ada satu pakaian pun yang menempel di tubuh pria itu.
"Tuan mau melakukannya di sini atau sambil berbaring di ranjang?" tanya Hiju dengan manis.
"…Kau, duduklah di pinggir ranjang," ujar Vermont dengan gugup.
Dengan patuh, Hiju menuruti kata-kata Vermont. Ia duduk di pinggir ranjang dengan manis. Setelah Hiju duduk, Vermont berlutut di hadapan Hiju dan romansa malam itu di buka dengan kedua tangan Vermont yang melakukan aksi nakal di tubuh lawan mainnya. Vermont merasa tubuhnya panas sekali malam itu ketika kedua tangannya bekerja semakin keras. Dua kelenjar yang ada di tangannya begitu sesuai dengan harapan : mereka kencang dan sangat kenyal. Setelah Vermont merasa cukup bermain dengan kedua tangannya, Vermont melihat bagaimana keras dan lancipnya daging mungil kemerahan pada dua buah kembar yang ada di hadapannya. Sungguh menambah indah pemandangan dua gunung itu.
Vermont tentu semakin tergiur. Ia mulai mendekatkan bibirnya ke bagian itu sementara satu tangannya sibuk bekerja memuaskan bagian yang satunya. Diawali dengan mengecup daging lancip itu dan sekitarnya. Setelah itu, Vermont melanjutkan dengan mengulum bagian tersebut dengan penuh nafsu. Vermont melakukan hal itu berulang-ulang dan semakin penuh dengan nafsu saat melakukannya. Setelah berkutat di sana selama beberapa menit, Vermont mulai mengulum seluruh bagian itu semaksimal mungkin. Ia mengulum bagian itu seperti sedang melumat es krim. Sesekali ia menjilat, sesekali ia menggigit.
Hiju yang 'sedang' berusaha dipuaskan hanya terdiam dan menggelinjang sesekali. Ia tidak bisa seperti pekerja tuna susila lainnya yang mampu berteriak atau pura-pura mendesah. Ia hanya bisa diam dan menahan rasa geli yang menjalar di sekujur tubuhnya. Namun akting tetap harus berlanjut.
"Umurmu 20 tahun dan ukuran ini terlalu besar untukmu."
"Tuan tidak boleh meremehkan remaja berumur 20 tahun sepertiku~.." Hiju meraih leher Vermont dengan kedua tangan dan menariknya agar menempel di belahan dadanya. Vermont yang ada di sana segera mengecup dan menciumi daerah itu
"Dari semua pria, mereka bilang bagian ini adalah bagian yang paling wangi dari tubuhku. Apa tuan setuju?" tanya Hiju sambil mendekap erat kepala Vermont di belahan dadanya yang cukup berkeringat.
Vermont yang sedang keasyikan menjawab sambil terengah-engah. "Iya, aku setuju. Ini wangi sekali. Wangi khas perempuan~.."
"Kalau begitu nikmatilah," ujar Hiju lagi sambil melepaskan dekapannya.
Vermont menurut dan agak lama berkutat di sana. Tubuhnya terasa terbakar oleh nafsu. Ia merasa seluruh tubuhnya sangat panas. Setelah beberapa detik, Vermont menyadari bahwa panas yang timbul bukanlah panas biasa. Ia merasa ada panas dominan yang menyelimuti pundaknya. Vermont terdiam untuk memastikan kebenaran perasaannya itu. Setelah sekian lama berdiam diri, panas itu makin terasa dan kini, kulitnya terasa terbakar api. Sakit sekali.
Saat Vermont hendak berteriak, Hiju segera melakukan french kiss pada Vermont. Hiju sangat aktif memainkan lidahnya di sekitar mulut dan bibir pria itu. Sekitar tiga detik kemudian, Hiju melepaskan cumbuannya. Kini Vermont merasa tidak hanya pundak saja yang seperti terbakar, tapi mulutnya juga. Ia tidak bisa berteriak bahkan bicara sama sekali.
Hiju di depannya hanya memperhatikan. "Maafkan aku, tuan. Orang seperti tuan seharusnya memang tidak pernah ada. Apa tuan merasakannya? Sakit seperti terkena bara api?"
Hiju memandang ke arah lain. "Aku pernah kenal satu orang laki-laki. Dia tampan, manis, pintar, dan aku sangat menyukainya. Ia bilang kalau dia sangat mencintaiku. Yah, aku memang bodoh saat itu karena aku percaya padanya. Bodoh sekali hingga aku rela menunggunya, menangis karenanya, bahkan hingga memberikan sesuatu yang sangat berharga. Aku mengandung anaknya dan saat itu aku yakin kalau dia akan senang jika mengetahuinya. Namun aku salah. Orang tua yang membesarkanku marah besar ketika aku jujur padanya. Dia memberiku pilihan : pergi dari rumah atau gugurkan janin dalam perutku. Ketika aku berniat untuk menggugurkannya, aku tidak bisa. Akhirnya aku memilih untuk keluar dari rumah itu dengan perut yang agak buncit. Tidak tahu harus ke mana, minta tolong pada siapa, aku benar-benar sendiri. Saat aku berharap pada lelaki itu, ia malah meninggalkanku dan seakan tidak peduli. Sejak saat itu aku hidup sendiri hingga menjadi buronan polisi. Aku benci sekali pada diriku saat itu. Sangat bodoh karena percaya dengan kata-kata manisnya. Aku benci sekali padanya hingga hari ini. Namun, terkadang aku merasa kalau aku masih mengharapkannya untuk datang dan meminta maaf. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, bukan? Karena kalian berdua itu sama, tuan Vermont. Kau juga tidak akan minta maaf pada semua perempuan yang kau tiduri, bukan?"
Vermont di depannya terlihat sangat kesakitan. Sedikit demi sedikit bibirnya menghilang.
Hiju tersenyum. "Akan aku beritahu. Yang tuan rasakan di pundak dan mulut adalah lintah UV. Mereka tidak menghisap darah, mereka hanya menempel di sana untuk terus memberikan efek sinar UV hingga panas matahari pada kulit. Aku dapat mengatur tingkat kekuatannya semauku. Untukmu, aku memberikan efek hingga penghancuran. Efeknya seperti vampir yang terkena sinar matahari. Kau akan hancur seperti itu. Bersyukurlah karena kau tidak bisa melihatnya. Karena jika iya, kau juga akan mengalami kebutaan. Kau tidak mau hidup dengan penyakit kanker kan, tuan? Jadi mati adalah hal yang pas untukmu," ujar Hiju sambil tersenyum sementara Vermont yang ada di hadapannya hanya meringkuk kesakitan tanpa mampu bicara sama sekali.
Hiju berdiri dan berjalan ke arah kulkas untuk mengambil cola yang tadi ia simpan. Ia meneguknya sampai habis lalu dengan kekuatan UV-nya, Hiju menghancurkan kaleng cola tersebut hingga menjadi debu. Setelah itu, Hiju berjalan menuju brankas yang masih terbuka dan memeriksa isi kardus kecil yang ada di sana. Dari atas Hiju dapat melihat Kitab Salib Terbalik yang baru saja dimenangkan oleh Vermont.
"Bagus, misi selesai," gumam Hiju.
Hiju kembali berjalan untuk melihat Vermont. Saat Hiju menengok, hampir separuh wajah dan setengah punggung Vermont sudah hilang karena berubah menjadi debu.
"Ah, iya. Aku hampir saja lupa," ujar Hiju saat ia teringat sesuatu. Hiju segera mematikan semua lampu dan berjalan menuju jendela untuk menyingkirkan gorden dan membuka jendela lebar-lebar. Begitu jendela terbuka, Hiju dapat merasakan angin yang berhembus pada dirinya. Dengan dibukanya jendela itu, debu-debu pembakaran tubuh Vermont dapat terbawa angin ke luar. Hal ini dilakukan Hiju agar tidak ada jejak yang tertinggal.
Sementara itu, Phinx bersiul karena melihat Hiju tanpa pakaian -dengan teropongnya- dari kejauhan. "Gadisku sudah selesai."
Hiju menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan dari jauh. Dari jauh Phinx dapat melihat Hiju tersenyum dan menggoyangkan telunjuk ke arahnya, seolah memberi isyarat untuk datang ke kamar tempat ia berada. Phinx yang memang sedang terbakar asmara malam itu segera berlari dari atap gedung tinggi tempat ia berdiri menuju lokasi Hiju. Phinx berpindah dengan sangat cepat dan masuk melalui jendela kamar yang terbuka.
Begitu masuk, Hiju tersenyum menyambut Phinx dan Phinx membalas senyuman Hiju. Ia juga memandangi Hiju dari ujung kepala hingga ujung kaki. Phinx bersiul panjang.
"Kau mau aku melemaskan otot-otot tegangmu, Phinx?" tanya Hiju dengan manis.
"Dengan senang hati," jawab Phinx. "Tapi kurasa lebih baik untuk menghabiskan yang ada di luar terlebih dulu."
Hiju mengangguk. "Baiklah."
..
..
Beberapa menit kemudian, kamar 574 penuh dengan mayat berkondisi mengenaskan. Sedikit demi sedikit dari mereka berubah menjadi debu yang di bawa ke luar oleh angin. Sementara itu, Hiju dan Phinx sedang sibuk menyatukan tubuh mereka satu sama lain. Kali ini Hiju tidak diam seperti saat dia sedang melakukannya bersama Vermont. Kali ini Hiju bereaksi seperti gadis pada umumnya saat menikmati malam pertama mereka. Hiju berkeringat, mendesah, berteriak, dan tubuhnya menggelinjang dengan hebat. Phinx terlihat begitu puas. Ia tersenyum dan berkali-kali mencumbu Hiju yang sedang klimaks.
Malam itu, Hiju melakukan hal yang sama untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan berlalu. Hanya saja, dulu ia melakukan itu dengan seseorang yang sangat ia suka, seseorang yang spesial, seseorang yang memperlakukannya dengan sangat lembut. Berbeda dengan Phinx yang begitu liar dan Hiju tidak memiliki perasaan apapun pada pria yang sedang bermain dengan tubuhnya sekarang.
Sekitar jam 4 pagi, Hiju dan Phinx selesai berhubungan. Mereka berdua memakai pakaian masing-masing dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Mereka keluar melalui jendela. Phinx membopong Hiju yang baru saja ia kencani lalu melompat dari satu atap ke atap yang lain dan berlari menuju mobil Shalnark.
Di mobil yang terparkir sekitar sepuluh kilometer dari hotel, Shalnark terbangun dari tidur saat Hiju dan Phinx datang memasuki mobilnya.
"Duh, kalian dari mana saja? Lama sekali…" komen Shalnark saat mendapati Hiju dan Phinx duduk di bagian belakang mobil.
"Bukan 'dari mana', Shal. Yang tepat adalah 'habis apa'." Phinx tersenyum sambil melirik ke arah Hiju.
Hiju membalas dengan senyuman juga.
Melihat ekspresi keduanya, Shalnark tersenyum mengerti.
"Begitu, ya? Ya sudah, ayo kita pulang~…"
Dini hari itu diakhiri dengan Shalnark yang mengemudikan mobil menuju markas mereka.
