REVIEW SECTION :
Marciana & Astro : thank you buat pujiannya.. :)
WARNING : MATURE CONTENT!
Killua keluar di next chap jadi chap yang ini bisa di lewat kalau mau.. hehe..
..
.. ENJOY..
..
Pagi hari, Eclair dikejutkan dengan kabar mengenai hilangnya Don Vermont dan beberapa bodyguard yang menjaganya semalam. Kurapika yang kebetulan ada di ruangan Eclair dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk. Setelah Eclair menutup teleponnya, Eclair menatap ke arah Kurapika dari jauh.
"Don Vermont. Dia menghilang tanpa kabar," ujar Eclair. "Aku tidak percaya ini."
"Bagaimana bisa?" tanya Kurapika.
"Entahlah. Orang yang meneleponku barusan adalah salah satu panitia dari acara pelelangan semalam. Katanya, Vermont menghilang begitu saja tanpa jejak. Panitia yang menghubungiku itu punya temu janji dengan Vermont untuk sarapan bersama pagi ini. Sayangnya, Vermont menghilang begitu saja. Tidak ada kabar, tidak ada jawaban saat panitia itu menghubunginya. Anehnya, semua properti miliknya masih ada di kamar yang ia tempati semalam."
Kurapika memandangi wajah nona mudanya. Ia melihat bagaimana Eclair berusaha keras menutupi rasa penasaran dan ketidakpercayaannya akan hal ini dengan bersikap dingin.
"Kurapika?"
"Iya, nona?"
"Aku ingin kau ikut menyelidiki kasus Vermont. Walaupun bukan orang baik, dia merupakan salah satu orang yang penting bagi bisnis keluargaku. Jika kau mendapatkan sesuatu, tolong laporkan padaku secepatnya."
"Baik, nona."
Kamar 574 yang ditempati oleh Vermont semalam belum sepi pengunjung sejak pagi hari. Dari pagi hingga malam komunitas mafia terus berdatangan untuk menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan Vermont.
Vermont yang hilang bersama dengan seluruh bodyguardnya semalam menyisakan misteri besar. Satu-satunya petunjuk yang didapatkan penyelidik dari mafia adalah rekaman CCTV yang diperoleh dari lantai lima, sebelah tenggara kamar 574. Pada rekaman itu terlihat beberapa bodyguard yang berjaga pada posisinya masing-masing. Di tengah malam itu, tiba-tiba perhatian mereka semua teralih ke arah kamar majikan mereka. Setelah itu, satu per satu dari mereka memasuki kamar hingga tidak ada yang tersisa di luar.
Satu jam, dua jam, tiga jam, dan seterusnya, tidak ada satu pun bodyguard yang keluar lagi setelah memasuki kamar Vermont.
Kurapika ada di sana. Ia ikut memeriksa TKP dan berusaha menemukan petunjuk dengan melihat rekaman CCTV. Setelah Kurapika merasa cukup berada di sana, ia kembali ke Ashlyn Hotel untuk melaporkan semua temuannya pada Eclair.
"Mafia tidak menemukan petunjuk sedikit pun mengenai hilangnya Don Vermont beserta para bodyguardnya. Berdasarkan keterangan saksi, salah satu anak buah dari panitia pelelangan menjemput Don Vermont ke kamarnya tadi pagi. Hal itu dilakukan setelah Don Vermont tidak menjawab panggilan dari panitia pelelangan beberapa kali. Anak buah itu terus mengetuk pintu kamarnya tanpa ada satu orang pun yang menjawab. Karena penasaran, anak buah panitia itu mencoba memutar kenop pintu kamar dan ia terkejut saat mengetahui kalau kamar itu tidak kunci. Berdasarkan cerita yang saya peroleh darinya langsung, awalnya ia ragu-ragu untuk memasuki kamar itu. Setelah ia melihat ke sekeliling kamar, ia tidak menemukan siapa pun di sana. Anehnya, kamar itu tidak seperti kamar yang ditinggalkan pemiliknya karena mereka check out atau pergi keluar. Ponsel Vermont ditemukan di dekat ranjang dan jendela kamar terbuka sangat lebar. Untuk orang penting seperti Vermont, meninggalkan ponsel di ruang hotel yang tidak dikunci dan tanpa bodyguard seperti itu rasanya tidak mungkin. Semua properti Vermont masih ada di sana, kecuali KItab Salib Terbalik yang kemarin dimenangkan olehnya. Benda itu pun dilaporkan hilang," ujar Kurapika pada Eclair.
Eclair meneguk teh hangat miliknya sambil memandangi pemandangan kota York Shin malam itu. "Begitu ya? Oh, bagaimana dengan perempuan yang ia kencani semalam itu?" tanya Eclair yang masih menikmati pemandangan di luar jendelanya.
"Mafia menemukan beberapa bercak cairan semen di atas ranjang. Diduga Vermont sempat berhubungan intim dengan gadis itu sebelum ia menghilang. Sayangnya, gadis itu juga menghilang tanpa jejak. Pada rekaman CCTV yang saya lihat, tidak ada lagi orang yang keluar dari kamar itu setelah para bodyguard masuk. Hal ini menandakan kalau perempuan itu juga tidak pernah keluar dari kamar setelah ia masuk bersama Vermont. Oh iya, mafia menemukan clutch bag yang dipakai oleh perempuan itu saat menemani Vermont di pelelangan."
"Apa pemeriksaan sudah selesai dilakukan?"
"Belum. Mafia masih menyelidiki lebih jauh. Konon salah satu staf menemukan sesuatu yang berkilau di karpet kamar. Karena dikhawatirkan benda berkilau itu merupakan petunjuk, mereka berniat meninjau ulang semua temuan di kamar itu."
"Baiklah. Terus ikuti kasus ini dan selalu laporkan padaku penemuan setiap harinya."
"Baik, nona."
Keesokkan harinya Kurapika mendatangi salah satu institusi mafia yang menangani kasus Vermont. Bersama dengan salah satu kepala bagian, Kurapika diajak untuk melihat proses penyelidikan kasus itu di sebuah lab. Di lab itu, Kurapika mendapatkan sesuatu yang mencengangkan. Apa yang ia dengar dan lihat hari itu, ia sampaikan pada Eclair sore harinya.
"Kaleng. Debu berkilauan yang menempel di karpet itu adalah debu kaleng."
Eclair cukup bingung saat mendengarnya. "Apa maksudmu?"
"Debu berkilauan yang menempel di karpet adalah debu yang berasal dari kaleng. Mafia awalnya mengira bahwa debu itu akan memberi petunjuk pasti mengenai keberadaan Vermont atau yang lain, baik masih hidup ataupun sudah mati. Kenyataannya debu itu membuat kita berpikir kalau Vermont dan para bodyguardnya mungkin tidak akan pernah kita jumpai lagi."
Eclair terdiam mendengarkan.
"Debu kaleng itu tersebar secara tidak merata. Hanya saja, arah tebaran debu itu sama, yaitu ke arah jendela. Penemuan arah debu ini membuat mafia menemukan debu lain yang ada di sana. Debu yang lain ini bersifat organik. Yang dikhawatirkan adalah debu itu berasal dari pembakaran tubuh manusia."
"Jadi… maksudmu..?"
"Saya belum dapat memastikannya. Selain itu, ada penemuan lain mengenai cairan semen yang ditemukan di atas ranjang. Cairan semen itu diklaim berasal dari tubuh seorang laki-laki. Mafia pun sudah melakukan tes DNA dan hasilnya, ternyata cairan semen itu bukan milik Don Vermont."
Eclair terdiam. "Aku mengerti. Jadi, ada orang lain yang membunuh Vermont dan berhubungan dengan gadis itu? Jika gadis itu berhubungan dengan pria lain atau diperkosa orang lain, mungkinkah alasan para bodyguard memasuki kamar mereka karena mendengar Hiju berteriak dari dalam? Tapi tidak mungkin. Bagaimana caranya mereka tahu kalau Hiju sedang diperkosa orang lain? Bisa saja Hiju berteriak karena memang sedang melayani Vermont. Bodyguard juga tidak akan masuk jika bukan karena majikan mereka yang memanggil dari dalam."
"Boleh saya tanya sesuatu, nona?" tanya Kurapika.
"Apa itu?"
"Perempuan itu adalah anak buah dari Madame Toussire, bukan? Jika benar bahwa dia adalah anak buahnya, bukankah seharusnya madame itu kelabakan seperti kita sekarang? Selama saya berkumpul di komunitas mafia, rasanya tidak ada perwakilan dari Madame Toussire sendiri."
Mendengar kata-kata Kurapika, Eclair seperti mendapatkan angin segar. "Benar juga katamu. Sebaiknya kita menemui Madame Toussire secepatnya. Segera siapkan perjalananku ke Jannes."
Di tempat lain, Hiju sedang duduk di bangku sebuah club berkelas dengan segelas mariyuana di depannya.
"Hei, sendirian saja?" seorang pria tampan tiba-tiba menghampiri Hiju yang sedang melamun. Ia tersenyum sangat manis. Dilihat dari cara berpakaiannya, cowok itu terlihat santai namun sangat berkharisma.
"Namaku Hazu. Boleh aku tahu siapa namamu?" tanyanya dengan ramah.
"Hiju."
"Hmm? Hiju? Nama yang bagus. Kau sendirian saja?"
Hiju tidak menjawab. Ia hanya memandangi Hazu dengan tatapan datar.
Hazu tersenyum. "Jadi, apa yang membuatmu berada di sini sendirian? Kau tahu? Kau tidak terlihat seperti gadis yang sering datang ke tempat seperti ini. Kau tampak sangat polos."
Hiju menatap ke arah minumannya. "Aku ada pekerjaan di sini."
Hazu menaikkan alisnya. "Jadi.. kau? Apa ini yang pertama?" tanya Hazu dengan tatapan khawatir.
"Tidak," jawab Hiju singkat.
Hazu memperhatikan Hiju dengan begitu lekat. "Melihat ekspresimu sepertinya kau tidak suka, ya?"
"Biasa saja."
"Benarkah? Aku tidak melihat ekspresi biasa saja di wajahmu."
Hiju hanya terdiam.
"Maaf, sepertinya aku terlalu banyak bicara. Aku sudah memperhatikanmu sejak kau masuk. Sejak awal melihatmu, aku yakin kau bukan perempuan yang ….. kau tahulah maksudku. Tidak hanya aku, hampir semua laki-laki yang ada di sini memperhatikanmu sejak kau masuk. Kau cantik, seksi, manis dan terlihat sangat polos. Jika laki-laki lain memperhatikanmu dengan tatapan yang tidak sopan, aku tidak begitu. Jujur, aku sangat simpati padamu. Itulah sebabnya mengapa aku mendekatimu."
"Bukankah sudah kubilang tadi kalau aku ada pekerjaan? Sebaiknya kau tinggalkan aku sendiri."
Hazu agak terkejut saat Hiju bicara seperti itu padanya. Tatapan Hazu menyendu. "Baiklah, aku akan pergi."
Hazu meninggalkan Hiju sendirian.
Seperginya Hazu, Hiju melirik pada seseorang yang duduk di arah jam satu-nya. Di sana duduk seorang pria setengah baya yang dikelilingi banyak wanita cantik.
Francois, seorang distributor kayu ilegal dari sebuah negara di belahan timur. Umurnya sekitar 50 tahun. Ia gagah, tampan untuk usianya, dan seorang konglomerat. Francois memenangkan Ruby Mummy pada saat pelelangan kemarin.
Kali ini Hiju ditugaskan untuk mengambil Ruby Mummy itu. Ia sudah menguntit Francois sejak sore hari. Hingga detik itu, Hiju belum mendapat kesempatan sedikit pun untuk mendekati sang target.
Sekitar tengah malam, Francois meninggalkan tempat ia berada tadi dan pergi menuju toilet. Tanpa menunggu, Hiju segera menguntit Francois dan menunggunya untuk keluar dari toilet pada jarak sekitar beberapa meter. Begitu Hiju merasa Francois akan muncul, ia mulai berjalan menghampiri Francois dengan cara yang sangat anggun. Saat mereka berdua berpapasan, Hiju dengan sengaja menyentuh bagian abdomen Francois sembari lewat dengan santai.
Francois yang merasakan sentuhan itu segera memanggil Hiju yang baru saja melewatinya.
"Hei?" panggilnya pada Hiju.
Hiju berhenti melangkah lalu menengok ke belakang, ke arah Francois. "Ya?" balas Hiju sambil memasang wajah polos.
Melihat perempuan yang begitu cantik di sana, Francois speechless. Apalagi melihat penampilan Hiju yang terlihat sangat cantik, anggun, dan seksi. Hiju menggunakan gaun gold backless yang memamerkan betapa mulus punggung panjangnya yang berwarna kuning.
Perempuan yang dibaluti gaun emas adalah favorit Francois. Baginya mereka terlihat berkelas, anggun, menawan, dan cantik seperti ratu. Seperti itulah Hiju di mata Francois. Jika seorang ratu adalah sosok berkelas dengan pakaian terlampau sopan yang harus di hormati, Hiju adalah sosok yang terlalu seksi untuk dia abaikan.
Francois mematung karena melihat penampilan Hiju. Tanpa ia sadari, Hiju sudah berdiri berhadapan dengannya.
"Ada apa? Apa anda memanggil saya tadi?"
"Ah, iya. Tadi kau baru saja…"
"Mau membicarakan ini di tempat yang sepi, tuan?" potong Hiju dengan senyum manisnya.
Francois cukup terkejut mendengarnya, lalu ia tersenyum." Wah, boleh juga penawarannya. Sudah cantik, pintar, seksi pula," ujar Francois sambil menempelkan tangannya pada bagian dalam paha Hiju. Jari-jari panjangnya dengan cepat menggerayangi bagian dalam paha Hiju yang tidak tertutup rok untuk mencapai bagian yang paling sensitif. Namun sebelum ia menemukan 'itu', Hiju segera menepis tangan Francois dan tersenyum ramah.
"Jangan di sini, tuan. Bagaimana kalau di kamar saja? Aku khawatir aku akan ketagihan. Bagaimana?" tanya Hiju sambil mengelus pipi Francois dengan lembut.
Mendapat sentuhan dan rayuan dari gadis cantik di depannya, Francois langsung luluh. "O..oke."
Setelah itu, Hiju dan Francois jalan bersama. Mereka berjalan berdampingan dan Francois memanfaatkan kesempatan itu untuk berjalan sambil terus menggerayangi punggung telanjang Hiju. Hiju hanya tersenyum selama perjalanan ke kamar sementara Francois merasa bergairah setelah merasakan betapa mulusnya punggung tersebut.
Setelah sampai di kamar, Francois segera mengunci pintu kamar itu dan menuangkan secangkir wine putih yang ada di meja dekat pintu. Sementara itu, Hiju duduk di atas ranjang dengan posisi kaki bersilang. Saat Francois membawakan wine untuk Hiju, ia dapat melihat bagaimana padatnya paha perempuan yang siap 'dilahap'nya malam itu.
Francois menelan ludahnya.
"Ini untukmu." Francois menyodorkan segelas wine pada Hiju lalu duduk di sampingnya.
"Terima kasih," ujar Hiju sambil mengambil wine yang ditawarkan padanya. Setelah meminumnya sampai habis, Hiju berdiri dari tempatnya dan menaruh gelas kosong itu di atas lemari kecil dekat ranjang.
Saat kembali, Hiju mengambil duduk di pangkuan Francois dengan kaki yang mengapit pinggang pria itu. Hiju juga mengalungkan kedua tangannya di pundak Francois. Dengan lembut, Hiju menyumbu Francois yang masih terpesona dengan keseksiannya. Ciuman hangat itu berubah menjadi semakin panas dan penuh gairah. Dari ciuman di bibir, Francois turun untuk menciumi leher Hiju dan membuat kiss mark di sana. Hiju mendesah dan mencengkeram punggung Francois dengan kuat.
Setelah beberapa lama berkutat di daerah leher, Francois menghentikan cumbuannya dan membuka satu per satu baju yang ia pakai. Hiju hanya memperhatikannya sambil terus tersenyum sembari berpindah tempat. Ia yang tadinya duduk di pangkuan si pria kini mengambil duduk di tengah ranjang. Setelah selesai, Francois menghampiri Hiju yang sudah duduk di atas ranjang dengan posisi kaki dilipat seperti katak.
Melihat keseksian perempuan di hadapannya, Francois tergoda untuk bermain lebih serius. Ia melakukan french kiss pada Hiju dengan rakus. Sebagai reaksi atas perlakuan dahsyat dari pria malam itu, Hiju meraba-raba tubuh Francois dengan sesekali mencengkeram dan mencakar.
Beberapa menit kemudian, saat yang ditunggu datang. Sama seperti Vermont, kini Francois harus menanggung rasa panas terbakar UV dari Hiju. Sementara Francois kesakitan, Hiju membenahi dirinya dengan tenang lalu mencari Ruby Mummy di pakaian Francois yang berserakan di lantai.
Setelah menemukannya, Hiju membuka jendela seperti apa yang dilakukannya kemarin. Merasa semuanya sudah beres, Hiju melarikan diri melalui lubang udara yang ada di langit-langit. Tempat itu cukup pendek sehingga tak butuh waktu lama bagi Hiju untuk segera menemukan jalan keluar. Jalan keluar itu akan membawanya menuju lubang udara di atap. Sekeluarnya dari sana, Hiju menutup pintu udara itu dan berjalan menuju tembok di ujung gedung. Dia sudah berjanji pada Phinx untuk menunggu di sana.
Sambil ditiup angin yang kencang, Hiju memperhatikan bentangan kota yang terhampar luas di depannya. Sangat indah malam itu.
"Sendirian lagi?" ujar seseorang dari sebelah kanan Hiju.
"Eh, kau?" gumam Hiju.
Hazu tersenyum ramah.
"Kau terlihat tidak senang. Ada apa? Apa Francois berlaku kasar padamu?" tanya cowok itu dengan ekspresi sangat khawatir.
Hiju menggeleng.
"Lalu kenapa?" tanya cowok itu lagi.
"Tidak apa-apa," jawab Hiju.
Hazu berdiri di samping Hiju dan terus memandangi perempuan itu dengan senyum manisnya. "Kau cantik, ya?" pujinya pada Hiju.
Hiju melirik Hazu dengan tatapan agak terganggu. "Apa maksudmu?"
Hazu tersenyum dan menunjukkan eye smile.
"Kau terlalu cantik untuk menjadi seorang pembunuh."
Perempuan di sampingnya agak terkejut saat mendengar kata-kata Hazu. "Kau..?"
"Aku tahu, kok," potong Hazu. "Sejak awal melihatmu masuk ke club, aku tahu kau bukan perempuan biasa. Memang penampilanmu sangat menipu : kau cantik, terlalu seksi, punya wajah polos, anggun, tapi sorot matamu tidak bisa menipuku. Kau sangat cerdas dan kharismatik tapi dingin di saat yang bersamaan. Apa kau bertipe Tokushitsu?"
Hiju tersenyum kecil. "Ya. Henka juga."
"Wah? Aku pun begitu, Tokushitsu dan Kyoka. Kebetulan sekali."
Hiju membalas senyum lelaki di sampingnya. Sekilas cowok ini sangat mirip dengan Kuroro. "Jadi, siapa dirimu?"
"Namaku Hazu. Sebenarnya aku datang ke sini juga untuk bekerja. Mungkin sama sepertimu."
Hiju terus memperhatikan lelaki itu. Perlahan, Hazu mendekati Hiju dan membelai pipi perempuan itu dengan telunjuknya.
"Aku datang ke sini juga untuk membunuh Francois. Tapi aku tidak berbohong padamu saat aku bilang aku tertarik padamu. Dan aku semakin tertarik saat melihatmu membunuh Francois dari kaca jendela. Kau lupa menutup gordennya, sayang."
"…Kau akan membunuhku juga?"
Hazu menatap heran pada Hiju tapi masih tetap mengembangkan senyumnya.
"Hmm? Tidak. Aku jujur kalau aku menyukaimu. Menemukan pasangan untuk pembunuh bayaran sepertiku tentu sangat sulit. Tapi denganmu, kurasa akan baik-baik saja."
"…Kau? ..Pembunuh bayaran?" tanya Hiju dengan ekspresi agak kaget.
Hazu tersenyum sangat manis. "Iya. Kau juga, kan?"
Hiju terdiam sebentar lalu tersenyum manis dan mengangguk. "Iya. Aku juga pembunuh bayaran."
Hazu tersenyum dan semakin berani menyentuh Hiju. Ia melingkarkan kedua tangannya untuk merangkul pinggang perempuan bergaun emas di sana. Dengan tatapan dan nada bicara yang lembut serta romantis, Hazu bertanya…
"Jadi, bagaimana? Kau mau bersamaku?"
Hiju menatap dalam pada mata Hazu. Mata Hazu kurang lebih sama persis dengan mata yang ia punya. "Ya, tentu. Aku juga bosan sendirian."
Pelan-pelan Hazu mendekatkan wajahnya pada Hiju. Hanya butuh waktu sekitar tiga detik bagi Hazu untuk menempelkan bibirnya pada bibir tipis Hiju dan mencumbu perempuan itu dengan penuh kemesraan. Tanpa ia kira, tangan panjang Hiju kini merayapi tubuhnya dari perut menuju atas. Sentuhan Hiju membuat Hazu semakin bernafsu untuk mencumbunya. Cumbuan itu semakin panas manakala Hiju meraba-raba dada kiri Hazu yang bidang.
Ciuman itu masih berlanjut dan kini Hazu semakin turun untuk membuat kiss mark di leher panjang Hiju. Wangi tubuh Hiju seakan membuat Hazu melayang.
Saat Hazu sedang berada di puncaknya, tiba-tiba ia berhenti karena merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Saat itu juga ia kehilangan nyawanya dan jatuh terbaring dengan wajah menatap langit-langit.
"Maaf, aku punya pengalaman buruk dengan orang sepertimu. Sebagai informasi, aku benci pembunuh bayaran."
"Hiju?" suara itu mengalihkan perhatian Hiju dari mayat pria di lantai.
"Phinx? Dari mana saja kau?" tanya Hiju.
"Maaf. Tadi aku harus membereskan sesuatu dulu jadi aku terlambat."
"Hmm." Hiju menatap mayat pria di bawahnya lagi.
Phinx juga ikut melihat. "Kau menghanguskan jantungnya?"
"Iya," jawab Hiju dengan tenang.
Phinx menghembuskan nafas panjang. "Ya sudah, tinggalkan saja dia. Ayo kita pergi dari sini? Feitan sudah menunggu terlalu lama."
"Oke."
Hiju dan Phinx naik ke balon udara dan membiarkan mayat Hazu terbaring di sana.
Jannes di pagi itu begitu cerah dengan suasana klasik di mana-mana. Para penduduk yang ramah, udara yang bersih, taman lavender di pinggiran kota, dan jalan yang bebas macet membuat suasana hidup sangat nyaman di kota itu. Suasana kota yang begitu damai sangat berbanding terbalik dengan suasana hati Eclair dan Kurapika. Mereka baru saja turun dari pesawat dan kini sedang melaju menuju kediaman Madame Toussire.
Kediaman Madame Toussire layaknya istana. Begitu sampai di depan rumahnya, Kurapika dan Eclair dapat melihat hamparan hijau yang begitu luas dengan beberapa taman bunga dan sebuah kastil klasik berdiri jauh di dalam pagar. Saking jauhnya, kastil itu terlihat sangat kecil dari luar pagar.
Eclair dan Kurapika memasuki halaman kediaman sang madame dan sopir terus melajukan mobilnya hingga sampai di depan pintu utama. Begitu sampai di kastil, Kurapika dan Eclair segera menemui Madame Tousirre dengan dipandu oleh salah satu butler yang bekerja di sana. Mereka berdua dibawa ke ruang bersantai Madame Toussire.
Setelah sampai, kedua tamu kastil siang itu dapat melihat Madame Toussire yang sedang meneguk secangkir teh hangat di sebuah meja bundar. Begitu melihat Eclair dan Kurapika, ia tersenyum menyambut.
Madame Toussire, umur 50 tahun, rambut keriting sebahu, agak gendut, bermata bulat, dan sangat berkelas.
"Silakan duduk," sapanya pada Kurapika dan Eclair yang baru datang.
"Terima kasih," timpal Eclair sambil mengambil duduk di dekat meja bundar. Kurapika juga ikut duduk di samping Eclair.
"Jadi, apa yang membuat kalian kemari?" tanya Madame Toussire dengan lembut.
"Ini mengenai anak buahmu, madame," jawab Eclair.
"Anak buahku? Ada apa dengan mereka?"
"Anak buahmu… Pada pelelangan kemarin, salah satu peserta datang ke sana bersama seorang perempuan yang katanya adalah anak buahmu. Apa kau ingat?" tanya Eclair.
"Vermont? Hmm… Ah! Karin? Jadi, apa ada kabar mengenai dirinya?"
Kurapika dan Eclair saling berpandangan. "Karin?" gumam mereka berdua.
"Iya, Karin. Terakhir kali Vermont menghubungiku adalah untuk meminta perempuan. Untuk memenuhi permintaannya, aku mengirim Karin ke York Shin. Seharusnya ia pergi ke sana beberapa hari yang lalu. Memangnya ada apa dengannya?"
Eclair dan Kurapika terdiam bingung.
"Madame, bukankah nama anak buahmu yang bersama Vermont adalah Hiju?"
"Hiju?" kali ini madame yang terlihat bingung.
"Ini foto dan identitasnya. Siapa tahu anda lupa." Kurapika menyodorkan satu buah kartu identitas dengan foto Hiju yang tertempel di sana.
Madame meraih kartu itu dan memperhatikannya dengan seksama. Suasana berubah hening sesaat hingga akhirnya…
"Bukan dia. Aku tidak pernah memiliki anak buah seperti ini. Lagipula yang aku kirimkan adalah Karin. Karin berambut merah dan bermata biru. Jika Hiju adalah samaran dari Karin, rasanya pun tidak mungkin." Madame Toussire mengembalikan kartu itu ke tangan Kurapika.
"Apa anda serius bahwa anda tidak mengenali perempuan ini, nyonya?"
Madame mengangguk yakin. "Anak buahku semuanya adalah hasil rekrut dariku. Aku sangat yakin kalau aku tidak memiliki anak buah bernama Hiju atau yang memiliki wajah seperti itu."
"Lalu, apakah ada kabar dari Karin setelah dia pergi?"
"Entahlah. Maksudku, terkadang anak buahku tidak memberi kabar mengenai tugas dan keadaan mereka saat bekerja. Lagipula, biasanya para klien meminta waktu yang lebih panjang dan klienku-lah yang mengabariku soal semuanya. Mereka akan pulang setelah beberapa hari pergi bersama klien-klienku."
"Bisakah anda membantu kami? Kami harap anda bisa menghubungi Karin. Perempuan yang menjadi anak buah anda -entah siapapun itu- memiliki informasi yang sangat penting untuk kemajuan kasus Don Vermont."
"Baiklah. Akan aku kabari kalian setelah aku berhasil menghubunginya."
Sepanjang perjalanan pulang menuju hotel mereka di York Shin, Kurapika dan Eclair terus terdiam. Masih ada sisa waktu delapan jam perjalanan lagi bagi mereka untuk sampai ke Ashlyn.
"Kurapika?"
Kurapika menoleh ke arah Eclair.
"Dari mana asalmu?" tanya Eclair sambil tetap menatap ke depan.
"Eh?" tanya Kurapika heran.
Eclair tersenyum. "Pakaianmu sangat mencolok jadi kurasa kau berasal dari suku tertentu."
"Iya, benar," jawab Kurapika pelan.
"Suku apa?"
"Kuruta."
"Hmm.. Suku Kuruta, ya? Kalau tidak salah mereka kini sudah punah, bukan?"
"Benar."
"Mengapa?"
Kurapika hanya terdiam. Terasa amat berat sekali baginya untuk melanjutkan.
"Mata merah itu adalah kelebihan yang dimiliki oleh sukumu, kan?" tanya Eclair lagi.
"Benar."
"Hmm.. kurasa aku mulai mengerti mengapa kau memilih pekerjaan ini. Yah, aku punya suatu rencana. Jika semuanya berjalan sesuai dengan dugaanku, akan aku beritahukan kau apa langkah selanjutnya. Kau akan untung dalam situasi ini, percayalah."
Eclair bersenandung ringan sambil tersenyum lebar.
