REVIEW SECTION :
#Astro O'connor : Ehmmm... saya gak tau harus jawab ini sad ending atau happy ending.. ._.v
#leci rasa jeruk : seppp... ^^b
#dikdik717 : wahahaha... saya senang akhirnya ada yang benci ma Hiju... XD artinya saya berhasil bikin Hiju gak sempurna di fic ini.. X'D Hiju gak akan tahu, soalnya...
#G : Iya nih, maaf baru bisa apdet sekarang.. kemarin masa-masa ngurus kontrak kredit di kampus.. ^^" thank you buat pujiannya.. :D ketemu gak nya kejawab di chap ini.. :)
#Juvia Hanaka : Waduh, panggilan saya Jeje, nona.. bukan Lily... ^^"
..
Cr Song : Christian Bautista - You
..
..
Tak butuh waktu lama bagi Kurapika dan Eclair untuk mendapatkan berita mengenai hilangnya satu petinggi lagi di dunia mafia. Kabar mengenai hilangnya Francois sudah tersebar cepat di kalangan mafia seluruh dunia. Ditambah lagi dengan penemuan mayat Hazu di atas atap gedung. Hasil pemeriksaan postmortem yang menunjukkan hal mengerikan mengenai hilangnya jantung pada tubuh Hazu membuat berita hilangnya Francois semakin 'membumbung tinggi'. Pada pemeriksaan juga ditemukan hal janggal mengenai pembuluh darah yang sepertinya sedikit terbakar pada ujungnya. Hal ini seolah mengindikasikan bahwa pelaku yang membunuh Hazu adalah orang yang menyebabkan Vermount berubah menjadi debu.
Ketika Eclair dan Kurapika mencerna isi berita itu, Madame Toussire menelepon Eclair dan mengatakan kalau memang tidak pernah ada satu anah buah pun darinya yang memiliki ciri-ciri fisik seperti Hiju ataupun menggunakan nama Hiju. Anak buahnya yang bernama Karin pun belum dapat ditemukan hingga kini.
Kabar dari Madame Toussire membuat Eclair tersenyum lebar. Begitu telepon dari Madame Toussire ditutup, Eclair melirik ke arah Kurapika yang masih berusaha menganalisis penemuan mafia pada kasus Francois dan Hazu.
"Kurapika?"
Perhatian Kurapika teralih pada Eclair.
"Aku akan menyerahkan bola mata merah milikku padamu," ujar Eclair.
Kurapika yang mendengar itu merasa sedikit heran dan curiga. "Mengapa, nona? Apa maksudnya?"
Eclair tersenyum. "Aku pernah bicara padamu mengenai situasi yang menguntungkan di antara kita, kan? Inilah yang aku maksud. Aku memberikanmu keuntungan untuk memiliki bola mata merah yang aku punya tapi, dengan satu syarat."
Kurapika semakin penasaran. "Apa itu?"
"Bawakan aku sepasang mata milik Hiju."
Kedua mata Kurapika melebar saat mendengar sebuah syarat 'unik' dari bibir nona mudanya. "Kenapa dia?"
Nona muda memasang pandangan tajam dan senyum yang lebar, seperti menghina Kurapika yang masih belum mengerti apapun. "Hiju adalah pelaku dari semua kejadian ini. Sebenarnya aku sudah menduga, hanya saja sangat terlalu dini jika menuduh orang lebih awal tanpa bukti yang kuat, benar kan? Hiju malam itu datang bersama Vermount ke pelelangan dan Vermount mengatakan bahwa ia adalah anak buah Madame Toussire, padahal utusan Madame Toussire yang dikirimkan waktu itu bernama Karin. Jika Karin menggunakan nama Hiju, tentu kita telah memperoleh informasi itu saat kita datang mengunjungi madame. Alasannya : jika hanya nama yang diubah, kita tetap dapat mengetahui identitas Karin yang asli hanya dengan melihat ciri-ciri fisik. Sayangnya, Hiju dan Karin sangat berbeda dan bukan orang yang sama.
Di malam kematian Vermount, Hiju menghilang tanpa bekas sedikit pun. Tidak ada debu yang diduga berasal dari tubuh perempuan, bukan? Yang tersisa darinya hanya clutch bag tosca yang tersimpan di atas meja. Barang lelang yang dimenangkan oleh Vermount pun lenyap. Selain itu, ada juga penemuan mengenai cairan semen di atas ranjang. Hal ini seperti menunjukkan pada kita bahwa malam itu Hiju sempat berhubungan dengan pria lain yang masih belum diketahui siapa. Bisa dipastikan bahwa pria ini dan Hiju adalah rekan. Jika pria ini adalah pria tidak dikenal yang membunuh Vermount dan para pengawalnya lalu memperkosa Hiju di sana, pasti dia tidak ingin meninggalkan saksi dan dapat dengan mudah mengubah Hiju menjadi seperti korbannya yang lain. Tapi hal itu tidak terjadi. Tidak ada penemuan debu dari tubuh perempuan di TKP.
Dan pada kasus yang sedang ramai sekarang, kau akan melihat dengan matamu sendiri."
Dengan tungkai-tungkai atasnya yang panjang semampai, Eclair menyalakan laptopnya dan terlihat seperti mengurus sesuatu di sana. Kurapika menunggu di situ sambil terus berpikir mengenai kalimat-kalimat fakta yang beberapa menit lalu baru saja keluar dari bibir si nona muda.
"Ah, ini dia. Kurapika, lihatlah ini dan kau akan percaya."
Kurapika berjalan mendekati monitor laptop yang ada di hadapan majikannya. Pada monitor itu, Eclair memutar satu video CCTV yang menunjukkan detik-detik terakhir kematian Hazu di atas atap. Pada video itu terlihat jelas sosok Hazu yang terbaring tak berdaya setelah berciuman dengan Hiju di sana. Tidak berapa lama kemudian, Kurapika melihat sosok yang ia kenal -Phinx.
"Video ini diambil dari CCTV TKP. Madame Toussire mengirimkan ini padaku begitu aku menutup telepon. Bagaimana Kurapika? Apa kau masih mengasihi perempuan malang ini?"
Melihat video itu Kurapika yang beberapa menit lalu masih tenang kini berubah. Matanya merah, tubuhnya bergetar, dan ada ekspresi marah pada wajahnya. "Genei Ryodan," gumamnya.
Eclair melirik ke arah Kurapika. Ia melihat bagaimana mata merah pada tubuh pria itu begitu indah saat menunjukkan emosi si pengguna. Eclair hanya tersenyum.
"Genei Ryodan, ya? Jadi, bagaimana Kurapika? Kau bersedia menerima tawaranku?" tanya Eclair dengan tenang.
Kurapika masih emosi hingga video itu berakhir. Saat video berakhir, Kurapika mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah beberapa detik merendam emosi, mata merahnya kembali normal dan ia merasa dirinya sudah lebih tenang.
"Baiklah. Akan aku bawa matanya ke sini."
Kurapika mengambil langkah untuk keluar dari kamar Éclair. Namun sebelum ia mencapai pintu..
"Oh iya. Aku hendak berpesan satu hal padamu."
Kurapika melirik majikannya yang masih duduk menghadap meja.
"Aku ingin kau membuatnya mati terkejut. Mata yang ia miliki akan sangat bagus jika cahaya kehidupannya hilang secara spontan. Buat dia mati dengan cepat terlebih dulu, lalu ambil matanya. Untuk mengambil mata tersebut, jangan sampai lewat dari empat detik setelah kematiannya. Jika kau gagal, jangan anggap kau akan mendapatkan mata merah dariku."
"Itu masalah mudah. Saya pergi dulu." Kurapika pamit seraya berjalan keluar dari kamar Eclair. Eclair sendiri memandang indahnya pemandangan malam dari jendela besarnya. Pada pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri tersungging sangat lebar. Senyum itu adalah senyum yang selalu ia tunjukkan ketika akan memperoleh apa yang selalu menjadi obsesinya.
Kurapika berjalan ke kamarnya. Setelah masuk, ia menghampiri satu meja yang ada di depan ranjang. Di meja itu, tersimpan clutch bag yang dibawa oleh Hiju saat menemani Vermount di pelelangan. Dengan kemampuan dari dowsing chain miliknya, Kurapika mencoba melacak keberadaan Hiju.
..
Malam itu Kurapika berjalan sendirian untuk menemui seseorang. Dengan perasaan gundah, penuh amarah, dan kuat ia terus berjalan menyusuri jalanan kota yang masih hidup. Pandangannya lurus ke depan, wajahnya tegang, dan langkahnya berat.
Setelah beberapa jam melangkah, Kurapika sampai di sebuah tempat yang begitu sunyi. Tempat itu merupakan pinggiran kota York Shin yang memang cenderung sepi.
Dari kejauhan Kurapika dapat menemukan sosok yang ia cari. Sosok perempuan yang beberapa hari lalu mendapat rasa simpatinya, kini sedang duduk bersandar pada bebatuan sembari memberi makan beberapa kucing liar. Jika Kurapika tidak mengetahui fakta mengerikan kalau perempuan itu adalah seorang pembunuh, mungkin Kurapika akan merasa biasa saja. Hiju memang pembunuh, tapi bagi Kurapika Hiju terlihat seperti gadis normal pada umumnya. Dia cantik, manis, dan penuh kasih sayang. Setidaknya, beberapa kucing yang bermanja-manja di sekitar Hiju memberikan gambaran seperti itu.
Kurapika terus berjalan mendekati Hiju hingga jarak mereka hanya berkisar satu meter.
"Hmm… kau sudah menyadarinya, Kurapika?" tanya Hiju dengan senyum ramah.
Kurapika tidak membalas senyum itu. Wajahnya serius.
"Hmmm.. baiklah. Kalian pergi dulu, ya? Sampai nanti~..," ujar Hiju pada beberapa kucing di sekitarnya seraya mengusir mereka.
"Kau… Genei Ryodan?" tanya Kurapika dengan nada bicara yang berat.
Hiju berdiri dari tempat duduknya barusan. "Secara tidak langsung sih begitu."
"Apa maksudmu? Kenapa kau membunuh orang-orang itu?"
Hiju tertawa kecil. "Sebenarnya aku adalah mantan anggota dari Genei Ryodan. Karena suatu hal mendesak akhirnya aku kembali bersama mereka. Untuk alasan membunuh, alasannya sudah jelas, bukan? Tentu saja karena kami adalah perampok. Mengambil apa yang kami inginkan dan membunuh siapapun yang perlu. Selain itu, pria-pria cabul tidak layak hidup."
Kurapika terdiam sejenak.
"Kau tahu mengenai mata merah?" tanya Kurapika.
"Mata merah? Apa itu? Aku tidak tahu apapun mengenai mata merah. Jika yang kau tanyakan adalah salah satu barang curian kami, maaf saja, aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya bergabung dengan Ryodan sekitar dua tahun. Aku berumur kurang dari 10 tahun saat keluar."
"Di mana anggota Genei Ryodan yang lain?" tanya Kurapika sambil mencoba menahan emosinya.
"Suatu tempat. Tapi berhubung aku ada di sini, bagaimana jika bermain denganku dulu?" tanya Hiju dengan nada yang ramah namun tatapan yang berubah tajam.
"Baiklah, jika itu memang keinginanmu," timpal Kurapika sembari mempersiapkan kekuatan nennya.
Hiju juga sama. Ia tengah mempersiapkan dirinya untuk bertarung dengan Kurapika.
"Kau sudah siap?" tanya Hiju.
Tanpa menjawab, Kurapika segera menyerang Hiju dengan menggunakan chain jail. Mengetahui itu, Hiju tidak kalah cepat segera mengeluarkan UV Barriernya. UV Barrier adalah nen yang dapat bergerak secara fleksibel untuk melindungi Hiju dari serangan apapun. Dengan kekuatan Hiju, UV Barrier dapat menyatu dengan En miliknya sejauh 30 meter. UV Barrier ini dapat membutakan siapapun yang melihatnya pada jarak kurang dari satu meter dan menghancurkan apapun yang menyentuhnya. Kekuatan dari UV Barrier sendiri dapat Hiju atur sesuka hati. Jika ia 'baik', manusia yang menyentuhnya mungkin hanya terkena kanker. Tapi jika Hiju serius, orang itu dapat ia hancurkan dengan mudah seperti Vermount.
Kurapika yang mendapati rantainya hancur karena terkena UV Barrier milik Hiju sempat terdiam sejenak. Ini merupakan pertama kalinya rantai Kurapika dapat hancur karena mencoba menerobos barrier nen dari seorang lawan.
Masih agak kaget dengan kekuatan Hiju, Kurapika jadi kurang berkonsentrasi. Pada saat itulah Hiju mengeluarkan jurus lainnya, yaitu UV Falcon. UV Falcon adalah burung Falcon yang terbuat dari aura dengan kekuatan UV seperti jurus-jurus Hiju sebelumnya. UV Falcon sengaja dibuat untuk menyerang musuh yang jauh dari Hiju dan berada di udara. Bisa juga dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai mata-mata. UV Falcon dapat bergerak lebih lincah dibandingkan dengan UV Wolf, yaitu serigala aura dengan ukuran sangat besar yang hanya bisa melakukan serangan di atas tanah saja. UV Wolf sendiri diciptakan untuk menyerang musuh dalam jumlah besar pada satu area atau untuk membunuh musuh yang memiliki kekuatan besar. Kelebihan dari UV Wolf dibandingkan dengan UV Falcon adalah ia memiliki kekuatan tiga kali lebih besar.
Untuk sekarang Hiju hanya mampu mengeluarkan satu kali UV Wolf atau dua UV Falcon dalam waktu tujuh jam sehari. Dua jurus itu sangat menyita kekuatan nen miliknya dibandingkan dengan UV Barrier, UV En Barrier, UV Post atau UV Blade. Selain itu, Hiju yang memiliki nen tipe Tokushitsu dan Henka belum dapat menguasai nen tipe Kyoka lebih dari tiga puluh persen. Hal ini tentu berpengaruh pada kekuatan jurus yang ia keluarkan dan kecepatan pemulihan HP maupun SP dalam dirinya.
Kurapika sadar kalau lawannya 'sulit disentuh'. Setelah berpikir beberapa saat, Kurapika memutuskan untuk terus menghindar dari UV Falcon milik Hiju. Saat UV Falcon semakin dekat dengan matanya, Kurapika juga menyadari kalau ia harus menutup matanya saat melawan Hiju. Kini Kurapika terus bergerak menghindari UV Falcon sambil menutup matanya. Sedangkan Hiju, ia belum bergerak dari tempat awal ia berdiri.
Sang bodyguard terus menghindar sambil terus berpikir bagaimana caranya agar ia mampu menyentuh tubuh Hiju dan tidak terbakar oleh UV Falcon yang terus mengejarnya.
Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh keempat sahabat, yaitu Gon, Killua, Leo Rio, dan Kurapika. Hari itu mereka berjanji untuk melakukan temu di York Shin City, tepatnya di Coffee Pastry yang terletak di dekat alun-alun kota atas ide dari Killua. Walaupun langit kelihatan tidak bersahabat, perjanjian tetap harus berjalan sesuai rencana.
Selama perjalanan menuju tempat perjanjian, Killu terus bernostalgia akan kenangan setahun sebelumnya. Ia ingat bagaimana alun-alun kota menjadi tempat yang sangat penuh sejarah baginya. Di alun-alun itu ia sempat berpikir untuk bertemu dengan Gon kedua. Killu bahkan masih ingat apa yang ia pikirkan saat itu mengenai Gon kedua. Ajaibnya, saat itu juga, Killu bertemu dengan seseorang. Seseorang itu punya sesuatu yang hampir sama dengan Gon. Orang itu penuh dengan kasih sayang, ramah, ceria, bercahaya, dan hangat. Orang itu datang ke hidup Killu dan memberikan warna tersendiri selama beberapa bulan setelahnya hingga akhirnya mereka berpisah.
You give me hope,
The strength, the will to keep on;
No one else can make me feel this way
Walaupun sudah beberapa bulan berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu, Killu masih menyimpan semua ingatannya mengenai orang itu dengan apik. Ia masih ingat bagaimana lembutnya bibir orang itu saat Killu mencumbunya dengan penuh rasa ingin memiliki, ia ingat akan bagaimana lembutnya belaian orang tersebut ketika Killu merasa sedang dalam situasi sulit, ia juga ingat semua percakapan yang terjadi antara dirinya dan orang itu. Killu ingat semuanya.
And only you
Can bring out all the best I can do;
I believe you turn the tide
And make me feel real good inside.
Ingatannya terus melayang pada memori-memori indah bersama sang tuan putri di hatinya. Putri itu masih ada di hatinya dan akan terus ada di sana. Putri itu yang membuat Killua tahu apa yang ia mau, belajar untuk memperjuangkannya, dan berharap untuk segala sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang lebih baik adalah ketika Killu berhasil menemukan separuh jiwa dan dua darah dagingnya yang akan ia besarkan bersama kekasihnya itu.
You pushed me up
When I'm about to give up;
You're on my side when no one seems to listen
'Cause it's you
Who fills the emptiness in me;
It changes ev'rything, you see,
When I know I've got you with me.
Suara lonceng angin bergema ketika Killu membuka pintu Coffee Pastry. Di saat itulah ia mendengar suara yang amat sangat akrab di telinganya.
"Killuaaa~!"
Killua menengok ke arah sumber suara lalu tersenyum hangat. "Gon."
Selain Gon, ada juga Leo Rio di sana. Ia melambaikan tangan pada Killua dan tersenyum khas.
Killua mendekati kedua temannya yang duduk di pinggir jendela.
"Apa kabar, Gon? Wah, kau masih tetap lebih pendek dariku, ya?! Ahahahahaha!" ejek Killua saat berjabat tangan dengan Gon.
Gon membalas dengan gayanya. "Aku baik-baik saja, Killu. Kau sendiri? Huh, kau ini! Tetap tidak berubah!"
"Hehehehe… maaf-maaf.. Kabarku baik-baik saja."
"Wah, Killu. Kau tampak lebih kuat ya sekarang? Kau latihan di mana?" tanya Gon yang memuji Killua saat itu. Setelah Killu berhasil mengecoh ayah dan kakeknya, Killu kini tampil lebih percaya diri dan terlihat lebih kuat.
"Ahh.. cuma latihan insentif. Biasa lah~.."
"Woi, Killu. Apa kabar?" sapa Leo Rio.
"Ah, kau paman. Apa kabar?"
Leo Rio yang dipanggil paman merasa tersinggung.
"Enak saja! Usia kita kan tidak jauh berbedaa!"
"Terserah, buatku kau tetap seperti om-om."
"Dasar kau ini!" Leo Rio agak jengkel.
"Sudah..sudah… Killu, ayo duduk?" Gon berusaha menengahi.
Killu duduk di samping Gon lalu melihat ke sekeliling. "Lho? Kurapika mana?" tanyanya.
"Entahlah, aku sudah berkali-kali menghubunginya, tapi tidak bisa. Sudah dua hari ini aku tidak dapat menguhubunginya. Apa dia sedang sibuk, ya?" jawab Gon.
"Mungkin saja. Kudengar ia bekerja pada seorang kolektor mata yang terkenal aktif di dunia mafia. Sepertinya ia ada tugas khusus. Maklum, pelelangan kan baru saja selesai." Leo Rio memberikan pendapat.
"Ah, begitu ya?"
Selama beberapa menit, Killua, Gon, dan Leo Rio menghabiskan waktu mereka untuk bercerita satu sama lain mengenai kehidupan mereka belakangan ini. Hingga akhirnya….
"Oh iya Killua, mana pacarmu itu?" tanya Gon dengan senyum ramahnya.
"Aaaahhh?! Kau sudah punya pacar lagi?! Wah, kau sudah dewasa ya, Killu?" Leo Rio menimpali sambil membetulkan posisi kacamatanya.
Raut wajah Killu mendadak terlihat sedih dan bingung. "Ah, itu…"
Gon dan Leo Rio memperhatikan perubahan raut wajah Killua.
"Kenapa Killu? Kau tampak bingung?" tanya Gon.
"… Sebenarnya aku sangat ingin memperkenalkannya pada kalian, tapi.. kita sempat bertengkar dan sudah setahun ini aku belum bertemu dengannya lagi."
"Ehh? Kok marahan? Ayo perbaiki!" seru Gon.
"Bagaimana caranya? Untuk menemukannya saja aku tidak bisa. Dia bisa berada di mana saja."
"Bagaimana kalau minta tolong Kurapika?" usul Gon memberi ide. "Kurapika dapat mengetahui keberadaan seseorang dengan menggunakan rantainya, kan?"
Killua butuh waktu untuk memikirkan kata-kata Gon selama beberapa detik hingga akhirnya ia ingat akan kemampuan Kurapika yang satu itu. "Oh iya! Aku lupa Kurapika punya kemampuan itu! Boleh juga!" Killua terlihat sangat senang.
"Hei, Killu. Itu apa yang ada di lehermu?" tiba-tiba Leo Rio bertanya.
"Oh. Oh iya, walaupun aku tidak bisa membawanya kemari, tapi kalian dapat melihat seperti apa Hiju. Mau lihat?" tanya Killu sembari memegang liontinnya.
"Mauuu!" seru Gon dan Leo Rio bersamaan.
Killu melepas kalungnya dan membuka liontin itu. Saat liontin itu terbuka, Gon dan Leo Rio dapat melihat senyum termanis dari Killua tersungging di wajahnya. Mata Killua berubah menjadi lebih lembut dengan pipi yang agak merona. Gon dan Leo Rio menjadi semakin yakin kalau Killu benar-benar mencintai pacarnya itu.
"Ini dia." Killu memperlihatkan isi liontinnya pada Leo Rio dan Gon. Gon dan Leo Rio yang melihat ke dalam liontin itu langsung memuji kagum.
"Wah~… dia cantik sekali, ya?!" seru dua sohib dari Killua.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan perempuan secantik ini, Kill? Ayo beritahu rahasiamu~..," rayu Leo Rio sambil mendekatkan wajahnya pada Killu sementara Gon terus memperhatikan foto Hiju.
Sementara Killu dan Leo Rio ribut mengenai masalah gadis dan Gon keasyikkan memandangi Hiju, Kurapika datang dan menghampiri meja mereka. "Hai Gon, Killua, Leo Rio?"
Begitu mendengar suara teman mereka, Killua, Gon, dan Leo Rio segera menoleh ke arah samping meja.
"KURAPIKAAA?!" seru mereka bertiga.
Dengan segera, mereka bertiga memeluk Kurapika yang masih berdiri di samping meja.
"Wah, sudah lama sekali ya, Kurapika?" ujar Gon sambil memeluk erat.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Leo Rio dengan senyum khasnya.
"Baik. Aku hanya lelah setelah menjalani sebuah tugas kemarin."
"Kau sibuk sekali, ya?" tanya Killua.
Kurapika mengambil duduk di samping Leo Rio dan Gon kembali ke tempat duduknya yang semula. "Tidak juga. Sekitar dua hari yang lalu aku ada tugas khusus yang cukup menyita energi. Nona Tonnerre sudah mengizinkanku beristirahat sejak kemarin, hanya saja rasanya tubuh ini masih belum segar."
"Hmm, begitu ya? Oh iya! Kurapika, kau dapat melacak keberadaan seseorang dengan rantaimu itu, kan?" tanya Gon dengan penuh antusias.
"Iya, kenapa?" tanya Kurapika sembari memegang pelipisnya, ia merasa pusing.
"Killua sudah punya pacar. Ia ingin meminta bantuanmu untuk mencari keberadaannya," jawab Leo Rio dengan nada menggoda Killu.
"Wah, Killu sudah punya pacar?" Kurapika ikut menggodai Killu.
Killu agak sebal. "Huh! Kenapa banyak yang tidak percaya sih kalau aku bisa punya pacar?!"
"Habis, kau terlalu terang-terangan dan cuek," jawab Gon.
Killu makin bete mendengarnya.
Leo Rio dan Kurapika tertawa melihat Killu dan Gon di depan mereka.
"Tentu aku mau membantumu, Killu. Apa kau punya fotonya mungkin?"
"Ah, tentu saja. Terima kasih banyak ya, Kurapika?" Killu menyerahkan liontin yang sebelumnya ada di meja kepada Kurapika.
"Dia cantik sekali lho, Kurapika. Jika saja aku duluan yang bertemu dengannya, pasti dia sudah menjadi pacarku sekarang," gumam Leo Rio pada Kurapika.
"Cerewet. Mana mau dia sama cowok sepertimu!" timpal Killu.
"Apa kau bilang? Memangnya aku cowok macam apa, huh?!"
"Hei kalian, sudahlah. Malu kan ini tempat umum?" Gon menengahi sambil tersenyum canggung.
Berbeda dengan ketiga temannya yang masih bercanda satu sama lain, Kurapika berkeringat dingin saat melihat isi liontin Killua. Tubuhnya tegang dan jantungnya berdegup tidak beraturan. Kurapika merasa amat bersalah.
"… Killu..?"
Ketiga temannya menoleh ke arah Kurapika. Mereka melihat wajah Kurapika yang tegang dan penuh ekspresi bersalah.
"… Killu.. maafkan aku. Tolong, maafkan aku..." Suara Kurapika berubah menjadi sangat berat. Lelaki pirang itu menunduk dengan segudang perasaan bersalah bersarang di hatinya. Tangannya yang menggenggam liontin bergetar hebat.
Leo Rio dan Gon hanya terdiam bingung melihat ekspresi Kurapika. Killua juga demikian. Hanya saja saat itu, ia merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres.
And if you go,
You know the tears can't help but show
You'll break this heart and tear it apart;
Then suddenly the madness starts
Hujan turun hari itu, tidak deras namun juga tidak gerimis. Langit gelap dan suara petir sesekali bergemuruh ringan. Di depannya, Killu melihat sebuah gundukan tanah yang masih sangat baru. Di kaki ia merasakan banyak lumpur yang menempel pada sepatu putihnya. Sekujur tubuhnya basah namun ia tidak peduli. Killua mematung di depan gundukan tanah itu sementara ketiga temannya berdiri di belakang dengan raut wajah penuh rasa simpati. Kurapika di sana, masih merasa bersalah.
It's your smile,
Your face, your lips that I miss,
Those sweet little eyes that stare at me and make me say,
I'm with you through all the way.
"Maafkan aku, Killu. Awalnya aku juga tidak menyangka kalau dia adalah anggota dari Genei Ryodan dan pembunuh dari banyak orang selama ini. Aku juga sempat ragu padanya. Tapi begitu kau melihat bagaimana dia menggunakan nen, kau akan tahu betapa mengerikannya dia. Dia seperti lili, cantik namun beracun. Aku bahkan hampir buta saat melawannya. Selama hampir dua jam aku terus menghindari serangannya dan dia hanya terdiam memandangiku."
And if you go,
You know the tears can't help but show
You'll break this heart and tear it apart;
Then suddenly the madness starts
Killua hanya terdiam lalu mengambil sekop yang ada di dekat gundukan tanah itu. Dengan sekop yang ada di tangannya, Killu menggali gundukan tanah tersebut sedikit demi sedikit. Ia tidak mempedulikan hujan yang terus menghantamnya.
Teman-temannya di belakang hanya terdiam memperhatikan dengan raut wajah kasihan.
"Killua," gumam Gon saat melihat temannya dengan konstan terus menggali tanah. Ia tahu Killua sedang mengalami kesedihan yang amat berat. Killu juga pasti masih tidak percaya dengan semua hal yang telah terjadi.
Pelan-pelan Gon berjalan ke samping Killua. Setelah ada di sampingnya, Gon membagi payung yang ia gunakan dengan Kill. Dengan kekuatan nen-nya, Gon mampu membuat ukuran payung itu menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Killua terus menggali tanpa mempedulikan Gon. Tak apa bagi Gon. Gon pun tidak berniat mengganggu Killu. Gon sudah cukup lemas dan sedih melihat air mata Killu yang terus mengalir saat itu.
"Gon," gumam Killua.
"Ya?" jawab Gon.
"Jika suatu hari nanti kau bertemu dengan orang yang amat kau sukai, jangan pernah meninggalkannya. Walaupun hanya satu detik. Kau tidak akan tahu kapan kau akan kehilangan dia. Kau juga tidak akan tahu kapan kau akan melihatnya lagi. Merindukan lalu kehilangan itu... sakit sekali."
'Cause it's you
Who fills the emptiness in me;
Killua masih terus menggali gundukan tanah itu dengan ditemani hujan dan ketiga temannya.
Setelah sekian lama menggali, Killua akhirnya dapat melihat apa yang ada di balik gundukan tanah itu. Di sanalah Hiju berbaring dan tanpa nyawa.
It changes ev'rything, you see,
When I know I've got you with me.
Killua memperhatikan pujaan hatinya yang kini tidak akan bangun lagi. Air mata turun semakin cepat dari kedua ujung matanya. Penyesalan pun kian menumpuk dalam relung hati Killua. Jika saja saat itu ia tidak mencampakkan Hiju sendirian, mungkin bukan ini yang akan terjadi.
Hujan semakin deras saat itu. Killua tidak bisa lagi membedakan antara air hujan dan air mata yang terus membasahi wajahnya.
It's your smile,
Your face, your lips that I miss,
Those sweet little eyes that stare at me and make me say,
I'm with you through all the way
Hujan masih terus turun saat Killua berjalan di teritori Zaoldyeck sambil menggendong satu bingkisan besar di pundaknya. Suasana hatinya masih sesuram langit yang hitam mendung. Langkahnya pun gontai hingga ia merasa tidak tahu kapan akan sampai di tempat yang ia tuju. Pandangan Killu kosong entah dibawa ke mana. Air mata masih mengalir dari sepasang mata birunya. Kepergian Hiju yang tiba-tiba seperti membawa hatinya pergi ke tempat yang sangat jauh, tempat yang tidak akan pernah mungkin Killu temukan di dunia ini.
Killua terus berjalan walau sepatunya telah basah dan penuh dengan lumpur. Ia terus berjalan hingga sesuatu membuat langkahnya terhenti.
Killua menatap ke depan.
Di depannya berdiri Kalluto –yang untuk pertama kalinya sejak belasan tahun berlalu- dengan potongan rambut pendek, kaos sleeveless berhoodie warna abu-abu, celana panjang berwarna hitam dan sepatu sport berwarna putih.
Kalluto terlihat seperti laki-laki yang seharusnya hari itu. Model rambutnya pendek dengan potongan layer. Baju sleeveless yang ia pakai memperlihatkan bagaimana seksinya kedua lengan Kalluto dengan otot-otot kecil namun padat. Celana yang ia pakai memperlihatkan bagaimana kedua kaki miliknya begitu panjang dan kokoh. Killua nyaris tidak mengenali adiknya itu.
Kalluto yang baru kini berdiri jauh di depan kakaknya sambil menggendong sesuatu. Tidak hanya Kalluto. Killu juga melihat ada Alluka yang berdiri di samping Kalluto. Alluka tetap seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Tangan kanan Alluka memegang ujung gagang payung yang melindungi dirinya dan Kalluto dari hujan saat itu sementara satu tangan Alluka yang lain terlihat seperti sedang memegang sesuatu.
Killua melanjutkan langkahnya sambil terus memandang ke arah mereka. Saat Killua semakin dekat dengan kedua adiknya, Killua semakin menyadari apa yang ada di tangan Kalluto dan Alluka.
Apa yang dipegang Alluka dan Kalluto adalah makhluk hidup dan mereka tertidur dengan lelap. Mereka begitu lucu dan menggemaskan.
Mata Killu tidak bisa berhenti memandangi mereka, kedua makhluk lucu tersebut. Sedikit demi sedikit ujung bibir Killu tertarik ke samping. Dalam sekejap, Killua terlihat seperti orang yang menemukan kebahagiaan. Air mata yang turun dari matanya kini bukanlah air mata kesedihan. Kali ini, Killua meneteskan air mata kebahagiaan yang amat sangat. Pencariannya kini telah usai ketika ia melihat Vestal dan Colin yang sedang tertidur lelap di tangan kedua adiknya.
