Cr Song :
#Christian Bautista - I Remember The Girl
#Kim Jong Kook - Thank You
Source(s) : google, youtube, jpopasia, metrolyrics
= FINAL CHAPTER =
...
...
Delapan tahun kemudian….
"Killua, Snowy Green Tea sudah habis! Bisa tolong oven satu loyang lagi?" tanya Gon sembari berdiri di depan mesin kasir.
"Oke~..."
Killua dengan gesit mengambil satu loyang yang berisi 12 donat dan memasukkannya ke dalam oven. Setelah itu Killua kembali ke meja yang ada di dekat Gon sembari membawa nampan berisi secangkir cokelat hangat dan memberikannya kepada orang yang ada di balik etalase.
"Terima kasih. Selamat menikmati," ucapnya ramah disertai dengan senyum.
Sementara Gon sibuk melayani para pelanggan yang membayar, Killua sibuk menyiapkan kopi yang telah dipesan. Killua yang begitu cekatan dalam membuat kopi dan hiasannya -namun tetap tenang- telah menyita perhatian banyak gadis yang ada di sana. Saat Killua menyerahkan kopi yang telah ia buat kepada para gadis itu, mereka terlihat senang dan malu-malu.
Gon hanya tersenyum setiap kali melihatnya.
Heaven's Cup & Plate sedang ramai saat itu. Kedai kopi dan dessert yang dibangun oleh Gon, Killua, Leo Rio, dan Kurapika tersebut memang tidak pernah sepi pengunjung sejak dibuka pada jam 7 pagi hingga jam 11 malam. Walau usianya baru menginjak hampir setahun, kafe itu sudah memiliki tujuh pegawai dan mampu memberikan keuntungan yang cukup besar untuk dibagi berempat.
Gon, Killua, Kurapika, dan Leo Rio yang berstatus sebagai pemilik di sana tetap ikut campur dalam pengelolaan kedai itu. Seperti sekarang. Berhubung Gon sedang tidak ada kerjaan yang berhubungan dengan profesi Hunternya, ia datang ke kafe itu untuk melayani pelanggan di bagian kasir. Killua sendiri bekerja sebagai chef, pembuat kopi, serta controller produk di sana.
Usaha itu didirikan atas dasar berbagai kebutuhan dari masing-masing, baik Gon, Killua, Kurapika, maupun Leo Rio. Bagi Gon, usaha itu dapat menghilangkan rasa jemu akan tugas-tugasnya sebagai Hunter. Dengan adanya kafe itu, Gon dapat tetap beraktivitas ringan selama ia tidak mendapat panggilan atau belum mendapat ide untuk mengerjakan sesuatu. Selain itu, kafe yang hampir semua produk dessertnya dibuat sesuai dengan resep dari bibi Mito tersebut dapat menambah pundi-pundi uang bagi keluarga Gon yang ada di Kujira Island. Bagi Kurapika, usaha itu akan membantu menambah tabungan untuk menjalankan misinya, yaitu mendapatkan semua mata merah yang tersebar di seluruh dunia. Bagi Leo Rio, usaha itu dapat menambah tabungannya untuk membangun rumah sakit sendiri dan mendanai yayasan khusus bagi orang-orang sakit yang sudah didirikan olehnya. Terakhir, bagi Killua usaha yang menjadi idenya itu dapat menambah tabungannya untuk menyukupi kebutuhan dirinya dan anak-anaknya beberapa tahun lagi. Selain itu, usaha Heaven's Cup & Plate yang didirikan tepat dua kilometer dari Sky Ring dapat membuatnya tetap berada di dekat anak-anaknya sekaligus melakukan hal yang berguna. Yeah. Kedua anak Killua kini sedang menjadi peserta di Sky Ring sejak dua tahun yang lalu. Memang sudah menjadi tradisi Zaoldyeck untuk mengirimkan anak-anak mereka ke Sky Ring pada saat usia mereka menginjak 6 tahun.
"Halo?" sapa seseorang pada Killua dan Gon.
Gon dan Killua menoleh. "Leo Rio? Kurapika?!" seru mereka berdua.
Leo Rio dan Kurapika tersenyum balik menyapa mereka. "Hoi, apa kabar kalian berdua? Wah, kafenya makin rame, ya? Syukurlah," ujar Leo Rio sambil melihat ke sekeliling.
"Baik. Leo Rio dan Kurapika kenapa tidak telepon dulu? Kalau kalian telepon dulu kami kan bisa menyisakan tempat," ujar Gon pada Leo Rio dan Kurapika.
"Ahh… tidak apa-apa kok. Kami kan bisa menunggu. Lagipula kami memang mendadak."
"Kalian ini…," komen Killua.
"Ah! Ada tempat kosong. Ayo Leo Rio kita duduk di sana?" ajak Kurapika begitu melihat ada satu tempat kosong di daerah teras.
"Oke. Kami duduk di sana ya, Gon, Killua?" Leo Rio menunjuk ke spot yang dimaksud.
"Oke. Akan kami bawakan cemilan dan kopi untuk kalian~!" seru Gon yang lalu pergi ke belakang dan diikuti oleh Killua.
Saat menyiapkan cemilan dan kopi untuk kedua temannya, Gon dan Killua terlihat begitu senang. Setelah Gon dan Killu selesai menyiapkan hidangan untuk Leo Rio dan Kurapika, Gon meminta tolong salah satu karyawan mereka untuk mengantarkannya ke meja dua sohib terbaiknya itu. Gon kembali ke kasir ketika melihat antrian yang sebelumnya sudah sepi kini ramai kembali.
Sementara itu, Kurapika dan Leo Rio menikmati sajian yang dihidangkan oleh kedua teman mereka. Suasana pagi yang cerah saat itu begitu terasa nikmat dengan secangkir kopi ringan buatan Killua dan kue yang dibuat berdasarkan resep dari Bibi Mito. Berbeda dengan Leo Rio yang menikmati dengan 'heboh', Kurapika menikmati kopi dan kue yang ada dengan begitu lembut. Di tengah – tengah ketenangannya menyeruput kopi buatan Killua, mata Kurapika teralih pada satu hal. Sepasang mata miliknya tidak bisa lepas dari hal itu.
"Hei, Kurapika? Kau kenapa?" tanya Leo Rio yang mendapati Kurapika sedang terpatung dan terus menatap ke arah belakang Leo Rio. Leo Rio yang penasaran mengikuti ke mana arah mata Kurapika tertuju. Saat Leo Rio melihat ke belakang, ia juga tidak bisa berhenti melepaskan pandangannya seperti Kurapika. "Di…dia kan…," gumam Leo Rio terbata-bata.
Di sisi lain, Gon masih melayani para pelanggan di kasir. Satu demi satu pelanggan ia layani dengan ramah.
"Selamat pagi, ada yang… " Sambutan Gon terhenti manakala ia melihat siapa konsumen yang sedang ia layani.
"Hmmm… aku mau pesan dua sandwich tuna dan dua coklat panas. Semuanya take away, ya."
Gon terpaku melihat seseorang di hadapannya.
"Jadi, berapa?" tanya konsumen di depan Gon yang akhirnya menyadarkannya.
Gon jadi gugup. "Ah, dua sandwich tuna dan dua coklat panas, ya? Semuanya jadi 15.000 Zeny."
Orang itu memberikan uangnya dan Gon memberikan struk belanja. "Silahkan ditunggu, ya? Nomor antriannya 34. Terima kasih banyak," ujar Gon.
Konsumen yang dilayaninya itu tersenyum dan bergeser untuk menunggu pesanannya datang. Gon yang masih berdiri di depan kasir sempat terdiam sejenak melirik ke arah konsumen yang dilayaninya barusan. Setelah itu, ia disibukkan lagi dengan melayani para pelanggan yang hendak memesan dan membayar.
Tidak berapa lama, Killua menghampiri meja antrian dengan membawa satu paper bag berukuran sedang yang berisi dua bungkus sandwich tuna dan dua cup coklat panas.
"Silahkan menik….." Killua mematung ketika ia menyodorkan paper bag itu pada orang yang memesannya.
Orang itu mirip sekali dengan Hiju. Sangat sangat mirip. Bagaikan pinang dibelah dua dengan model rambut dan postur tubuh yang berbeda, perempuan itu terlihat sibuk mengotak-atik gadget yang ada di tangannya. Penampilannya sungguh rapi. Ia memakai setelan kantor dengan model rambut sebahu berwarna hitam kecoklatan dan poninya dijepit ke belakang. Secara fisik, ia sedikit lebih pendek dari Hiju.
Perempuan itu melihat ke depan. Ia memandang Killua lalu tersenyum. "Untukku?" tanyanya.
"Eh, i..iyaa…," jawab Killua dengan agak canggung.
Perempuan itu tersenyum kembali dan mengambil paper bagnya. "Terima kasih~…," ujarnya pada Killua lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Kedua mata Killua terus mengikuti kepergian perempuan itu. Matanya tidak bisa teralih dan Gon tahu. Saat pelanggan di kasir sudah habis, Gon menghampiri temannya yang masih terpaku karena melihat perempuan tadi.
"Killu?"
Killua melirik ke arah Gon dan Gon terlihat cemas memandangi Killua.
Killua tersenyum dan matanya berubah sendu. "… Dia mirip sekali dengannya. Namun bagaimanapun juga, perempuan itu bukan dia."
Hati Killua terasa hampa mendadak. Ia jadi ingat perempuan yang mengisi hatinya dulu dan hingga sekarang. Killua terkadang masih merasa bersalah karena ia pernah menyakiti hati orang yang sangat ia cintai itu. Namun kini Killua lebih cepat menyadari keadaan. Saat itu ia sedang bekerja dan sangatlah tidak pantas baginya jika mood pribadi mengganggu bisnis yang sedang dijalankan.
"Ayo kerja lagi?" ajak Killua mencoba bersemangat.
Gon mengangguk dan tersenyum.
Tidak jauh dari sana, perempuan itu terus berjalan menuju sebuah mobil yang diparkir di seberang Heaven's Cup & Plate. Begitu perempuan itu masuk, ia menyerahkan paper bag yang ia bawa pada seseorang di sampingnya.
"Kau dapat melihatnya?" tanya perempuan itu sambil membenahi posisi duduk.
"Ya. Pantas saja aku merasa seperti mengenal bayi itu. Bayi itu memang mirip sekali dengan ayahnya," jawab seseorang di samping perempuan tadi yang ternyata adalah Feitan.
"Sebegitu miripnya? Hmmm… aku jadi benar-benar penasaran dengan anak dari Kak Hiju. Jika memang mirip sekali dengan pelayan yang tadi, berarti anaknya sangat tampan, ya?" gumam perempuan itu.
"Biasa saja," ujar Feitan dengan nada agak kesal.
"Tentu saja pasti dia tampan. Aku tidak heran jika Kak Hiju begitu mencintainya. Dia tampan dan ada bau darah pada tubuhnya. Kak Feitan sih terlalu lama menganggurkan Kak Hiju."
"Berisik, ah."
Perempuan itu tersenyum. "Ayo makan sandwich tunanya. Kata orang-orang, menu ini yang paling enak dari kedai itu."
Feitan dan perempuan itu masing-masing mengambil sebuah kotak dari paper bag yang ada di tangan Feitan. Setelah itu, mereka berdua menyantap isinya.
"Hmmm.. enak sekali!" seru perempuan itu.
"Iya, aku akui memang enak," timpal Feitan.
Feitan melirik ke arah perempuan di sampingnya. "Jadi bagaimana dengan kehidupanmu, Lina? Apa kau tertarik bergabung dengan kami?" tanya Feitan.
"Hmm… entahlah. Kau tahu sendiri kan bagaimana kemampuanku? Nenku tidak cukup kuat jika dibandingkan dengan kalian. Dengan kakak pun, aku sangat lemah. Lagipula, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang."
"Kau yakin akan tetap memilih untuk menjadi seorang pengacara daripada menjadi pembunuh dan perampok seperti dulu? Kurasa nenmu juga tidak begitu lemah. Kau hanya kurang pengalaman."
"Hehe, aku masih tidak tahu. Beri aku kesempatan untuk memikirkannya lagi, bagaimana?" tanyanya ramah pada Feitan.
Feitan menghembuskan nafas panjang. "Baiklah. Seminggu lagi aku akan mengunjungimu. Terima kasih untuk sandwichnya."
..
..
..
Sudah pukul empat sore. Killu dan Gon memutuskan untuk kembali ke kehidupan mereka dan menyerahkan pekerjaan di kafe sepenuhnya pada para karyawan yang ada di sana.
"Kau mau ke mana, Gon?" tanya Killu sambil melepas apron.
"Aku rasa aku harus kembali ke Pulau Kujira. Bibi Mito membuat kreasi baru lagi untuk kue di sini. Ia ingin aku pulang dan mencicipinya terlebih dulu. Killua sendiri?"
"Oh, begitu. Aku akan menjemput Vestal dan Colin lalu membawa mereka pulang. Besok adalah ulang tahun Hiju." Tatapan Killu berubah lembut.
"Hmm, baiklah. Sampai nanti, Killua. Sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuknya, ya?"
"Ahh." Killua tersenyum sembari mengangguk.
Setelahnya mereka berdua berjalan keluar dari kedai. Di sana Gon dan Killua berpisah dan mengambil jalan yang berbeda. Gon mengambil arah ke timur untuk menuju pelabuhan, sementara Killua menuju ke arah barat.
Killu memperhatikan jam tangannya. Ia berjanji untuk menemui Vestal dan Colin satu jam lagi di taman. Sambil menunggu waktu, Killua memutuskan untuk pergi ke alun-alun dan menikmati beberapa burger di sana. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh lima menit baginya untuk sampai di alun-alun dan menghabiskan empat burger serta dua soft drink di sebuah kursi - meja taman. Ia memandang ke langit begitu menyadari kalau semua makanannya telah habis. Ada banyak burung merpati berterbangan di antara awan. Killua memperhatikan mereka : begitu bebas, begitu cantik, dan begitu lembut.
Today, I heard them play that song again
An old familiar strain from way back when
Lima belas menit lagi waktu akan menunjukkan pukul 17.00. Killua meninggalkan tempat duduknya dan berjalan dengan tenang menuju taman kota yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari sana. Langkahnya begitu tenang, hampir tidak menimbulkan suara sedikit pun dan arah pandangannya terus menuju ke arah bawah. Tiba-tiba..
BRUUUKKK!
"Ma… maaf… aku tidak sengaja."
Killua mengangkat sedikit kepala dan melihat ke arah orang yang baru saja menabrak tubuhnya. Ia terdiam kaget melihat sosok perempuan yang ada di hadapannya.
Every note and every line
Its always been a favorite song of mine
Gadis yang menabraknya persis seperti Hiju. Dengan wajah penuh rasa menyesal ia membungkukkan tubuhnya pada Killu dan berulang kali meminta maaf. Killua yang hanya terus terdiam membuat perempuan itu bingung.
"Kau tidak apa-apa?" tanya perempuan itu.
It used to haunt me so some years ago
Reminds me of a girl I used to know
Mendengar itu Killua jadi tersadar. "Oh, ah, iya.. tidak apa-apa, kok."
"Aku benar-benar minta maaf sekali lagi. Aku tidak sengaja menabrak tubuhmu karena aku sedang terburu-buru. Maaf, ya?"
"Iyaa… tidak apa-apa," jawab Killua canggung.
Perempuan itu tersenyum. " Terima kasih, permisi?" perempuan itu pergi meninggalkan Killu.
Killu pun melanjutkan langkahnya.
Killu terus berjalan dengan pikirannya yang melayang. Sudah delapan tahun berlalu sejak Hiju meninggalkannya. Killu pun kini sudah jauh lebih dewasa, jauh lebih kuat, jauh lebih banyak pengalaman, jauh lebih bijak, dan jauh lebih sibuk dari sebelumnya, baik sebagai Hunter maupun sebagai pengelola kafe. Kadang ia berpikir kalau ia benar-benar sudah melupakan perempuan itu. Namun mengingat kejadian pagi tadi, di mana ia bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan Hiju, kenangan itu rasanya kembali lagi. Hiju kembali ke pikirannya –walaupun sebenarnya Hiju memang tidak pernah pergi dari sana-.
And although the melody lives on
The memories and the girl are all but gone
Killu terus berjalan di tengah kerumunan orang banyak dengan pandangan yang kosong. Langkahnya begitu teratur di antara kerumunan itu. Pikirannya masih terus melambung, memikirkan ibu dari kedua anaknya.
And while the song still brings that certain glow
And the world still sing of love I know
It isn't quite the way it was before
Ketika Killu mengangkat kepalanya, ia sadar ada di kerumunan banyak orang yang berjalan melalui dirinya. Semua orang di sana terlihat seperti Hiju. Tidak ada yang berbeda.
Killua terdiam di tengah kerumunan Hiju yang berlalu lalang di sekelilingnya.
I remember the girl
But I don't remember the feeling anymore.
'Ada apa denganku? Sebegini rindunya kah aku padanya?'
Delapan menit kemudian Killua sampai di tempat yang dituju, taman alun-alun. Di sanalah kedua buah hatinya berada. Killu tersenyum dari kejauhan saat melihat Vestal dan Colin sedang sibuk main di kolam pasir. Mereka tampak senang dan polos saat sibuk main berdua.
The promises we made seemed easier then
As if we knew our love would never end
Killu terus berjalan menghampiri mereka. Walau belum sampai, Vestal dan Colin dapat merasakan kehadiran sang ayah di dekat sana. Mereka melihat ke sebelah kiri dan tersenyum lebar ketika mendapati ayah mereka sedang berjalan menghampiri.
"Papa?!" seru mereka berdua kegirangan.
Tanpa menunggu, Vestal dan Colin segera bangkit dari kotak pasir dan berlari menghampiri ayah mereka. Keduanya segera memeluk Killu saat sudah berhadapan satu sama lain. Killu pun memeluk kedua anaknya dengan erat sembari tersenyum melepas kangen.
But seasons change and time erases the tears
As swiftly as the ripples disappear
"Apa kabar, Vestal? Colin?" tanya Killu pada kedua anaknya.
Kedua anak kecil itu melepas pelukannya sambil menjawab pertanyaan sang ayah secara bersamaan. "Baik, paa!"
"Bagaimana pertarungannya?"
"Keren! Aku berhasil mengalahkan Bon Bon pada pertarungan tadi siang!" jawab Colin penuh antusias.
"Wah, hebat. Pasti kau lelah sekali, kan?"
"Biasa saja," jawab Colin dengan nada angkuh ala papanya.
"Bohong, pa! Tadi Colin mengeluh kecapekan, kok!" timpal Vestal.
"Gak, ah!" Colin menyerang balik.
Killu hanya tertawa kecil. "Jadi, berapa lama kalian bisa libur?"
"Kami harus kembali tanggal 14 Juli untuk mengatur pertandingan," jawab Vestal.
Killu tersenyum manis saat memandang anak perempuannya. Pada wajah gadis kecil itu, terpasang mata hitam yang sangat mirip dengan milik ibunya. Tidak hanya itu. Jika Vestal mengikat rambutnya seperti yang Hiju lakukan, ia akan benar-benar terlihat seperti Hiju dalam bentuk kecil.
So while the song still brings that certain glow
And the world still sing of love I know
"Tumben kau mengurai rambutmu, kenapa?" tanya Killua lembut.
"Habis… kalau aku mengikat rambutku, papa pasti akan terus bicara kalau aku mirip ibu!" Vestal mengomel manja.
It isn't quite the way it was before
"Huh, dasar anak perempuan! Manja amat, sih!" gumam Colin penuh kecemburuan. Walau dari luar Colin terlihat sombong, dingin, dan angkuh, sebenarnya Colin cukup merasa cemburu pada Vestal. Vestal yang terlalu mirip dengan Hiju membuat Killu lebih sering menunjukkan perhatian manisnya pada anak perempuan itu. Colin juga sangat ingin mendapatkan perhatian romantis dari sang ayah. Ia yang mirip ayahnya cenderung lebih sering dimanja oleh Silva.
"Jadi, sekarang kita ke toko bunga lalu kita makan es krim. Bagaimana?" tanya Killu pada kedua anaknya.
"Asyik! Oke, paaa~!" seru kedua bocah Killu.
Killua dan kedua anaknya pergi meninggalkan taman sore itu. Mereka berjalan bersama dengan saling bergandengan tangan. Tangan kiri Killu menggandeng tangan Vestal dan tangan kanan Killu menggandeng tangan Colin. Mereka bertiga berjalan sambil bernyanyi dengan riang, terlihat polos, dan sangat bahagia.
I remember the girl
But I don't remember the feeling anymore
Setelah sekitar tujuh menit Killua dan kedua anaknya berjalan, mereka sampai di sebuah toko bunga kecil di daerah pertokoan. Di depan toko terlihat seorang wanita dengan postur tinggi-kurus, berambut panjang dan diikat satu, berkulit putih dengan hidung tinggi lancip, berwajah tirus dengan dagu lancip, bermata biru, dan memiliki bibir tipis berwarna merah. Senyumnya terlihat indah setiap kali ia memberikan pelayanannya pada setiap pelanggan yang datang.
"Bibi Autumn~!" kedua anak Killua berlari menghampiri perempuan itu dengan penuh keceriaan.
Saat perempuan bernama Autumn itu melihat ke arah kiri, ia melihat dua anak manis berlari menuju dirinya dengan kedua tangan terbuka lebar. Autumn tersenyum ketika ia mengetahui bahwa dua anak tersebut adalah Colin dan Vestal.
"Colin? Vestal?" sapa Autumn dengan senyum ramahnya.
Colin, Vestal, dan Autumn berpelukan.
Killua tersenyum hangat dari jauh lalu berjalan menghampiri mereka bertiga.
"Hai?" sapa Killua pada Autumn.
Saat Autumn menengok ke depan-atas, ia melihat sosok Killu berdiri sambil tersenyum cool ke arahnya. Melihat itu, wajah Autumn memerah dan ia jadi malu.
"Ah… hai, Killu," balas Autumn malu-malu.
"Bibi Autumn, aku, Vestal, dan papa akan pulang ke rumah malam ini. Besok mama ulang tahun. Kami ingin memberi hadiah bunga pada mama. Bibi Autumn mau membantu kami memilih bunga, kan?" tanya Colin.
"Ahh~... Kalian benar-benar manis, ya? Ayo masuk ke dalam? Banyak sekali bunga segar yang baru saja datang dan mekar."
"Okee~..."
Vestal dan Colin segera masuk ke dalam toko sementara Killu dan Autumn masih ada di luar.
"Autumn?" Panggil Killua pada perempuan di hadapannya.
"Eh, iya?" Autumn menoleh dengan kemerahan di wajah.
"Terima kasih karena begitu perhatian pada kami selama ini. Selain untuk mencari bunga, aku ke sini untuk mengucapkan rasa terima kasih. Aku dan anak-anak hendak pamit juga karena akan pulang malam ini," ujar Killua dengan senyum.
Wajah Autumn memerah. Ia mengangguk malu. "I..iya. Aku senang kok bisa membantu kalian di sini. Bagaimana dengan Sky Ring-nya?"
"Colin dan Vestal harus kembali tanggal 14 Juli nanti. Mereka baru mencapai lantai 170. Jadi kurasa mereka akan tinggal beberapa minggu saat kembali."
"Mereka anak-anak yang hebat, sama sepertimu."
"Tidak. Mereka sehebat ibunya. Hanya mereka yang sanggup hidup sebagai pembunuh bayaran sekaligus sebagai orang biasa di keluarga kami. Keluarga kami cenderung hanya hidup pada satu sisi sedangkan mereka tidak." Killua bicara sambil memperhatikan anak-anaknya yang ada di dalam toko.
"Begitu, ya? Oh iya, ayo masuk, Killu? Aku akan membuatkan minum untuk kalian selagi kalian melihat-lihat bunga," ajak Autumn.
"Ah, terima kasih."
Saat di dalam toko..
"Papa, yang ini bagus ya?" tiba-tiba Vestal memanggil ayahnya yang sedang memperhatikan isi toko.
Mendengar anaknya berteriak, Killua menghampiri Vestal dan ikut memperhatikan apa yang anaknya lihat.
"Bagus kan, pa?" tanya Vestal lagi.
Killu terdiam takjub ketika melihat bunga yang dimaksud Vestal. Bunga itu adalah bunga tulip putih dengan semburat biru pada kelopaknya. Cantik sekali.
"Itu Variegated Tulip. Cantik sekali, bukan?" tiba-tiba Autumn ikut memperhatikan. "Bunga ini berarti 'mata yang indah'," tambah Autumn sambil memandang lembut bunga tulip putih-biru tersebut.
Mendengarnya Killu merasa senang. "Vestal, matamu memang bagus."
"Bibi Autumn, bunga ini artinya apa?" tiba-tiba Colin berseru dari jauh.
Autumn segera menghampiri Colin yang ada di belakang. Ternyata Colin sedang berhadapan dengan bunga Carnation putih.
"Ah, ini artinya cinta yang murni. Jika Colin hendak memberikannya untuk mama yang ulang tahun besok, bunga ini sangat cocok," jawab Autumn sambil tersenyum ramah.
Mendengar itu membuat kedua mata Colin melebar. "Bibi, aku mau mencari bunga lagi. Aku ingin memberi mama bunga yang banyak!"
Autumn mengangguk sambil tersenyum.
Malam itu Colin, Vestal, dan Killu pulang ke Gunung Kukuru dengan menggunakan pesawat pribadi mereka. Mereka membawa banyak sekali bunga : Variegated Tulip, White Carnation, Daffodil, Azalea, Red Tulip, Lavender Rose, Red Camellia, Daisy, dan Lily of The Valley.
Killu memperhatikan bunga-bunga itu. Ada sembilan jenis bunga yang dibawa dan tujuh dari sembilan itu adalah bunga yang merepresentasikan isi hatinya pada Hiju. Hiju yang ada di hatinya adalah Hiju yang cantik, berulang tahun, spesial, apa adanya, dan akan selalu berada di hatinya hingga kapan pun. Tujuh adalah angka kesukaan Hiju dan Killu ingat itu. Oleh karena itulah Killu sengaja membeli tujuh jenis bunga untuk kekasihnya yang kini sudah tiada.
"Papa?"
Suara itu mengalihkan perhatian Killu.
Di samping kirinya, Vestal berdiri sambil mengucek-ngucek mata. Rupanya Vestal terbangun karena ingin ke kamar mandi.
"Papa sedang apa?" tanyanya dengan mata yang menyipit karena mengantuk.
Killu tersenyum dan menghampiri anaknya. "Mau papa temani Vestal ke kamar mandi?"
"Boleh."
Dengan lembut Killu mengangkat tubuh Vestal dan menggendongnya. Ia membawa Vestal ke kamar mandi seraya mengelus bidadari mungilnya itu.
"Papa?"
"Iya?"
"Bibi Autumn cantik, ya? Dia juga pintar."
"Iya, benar," ujar Killu sambil tersenyum. "Tapi ibumu masih jauh lebih cantik dan pintar daripada dia."
Keesokkan harinya Killu dan kedua anaknya mengunjungi makam Hiju di teritori istana Zaoldyeck. Makam dengan nisan yang terbuat dari batu menyerupai simbol perempuan itu memang sengaja dibuat sederhana karena di atas makam itu berdiri sebuah pohon mawar putih yang sangat besar. Cabang dari pohon mawar itu sudah tak terhitung jumlahnya dan menjalar ke sekeliling hingga membentuk pohon. Bunga-bunga mawarnya bermekaran dan kelopaknya banyak yang jatuh gugur ke tanah. Jika dilihat dari kejauhan, pohon mawar itu akan terlihat seperti pohon bunga sakura yang memiliki warna hijau dari daun dan putih dari bunganya sendiri.
Killua memang sengaja memakamkan Hiju di bawah pohon bunga mawar yang menjadi kado ulang tahunnya dulu. Ia ingin Hiju tetap hidup walaupun dalam bentuk yang lain. Killu yakin di alam sana, Hiju akan menyukai idenya ini.
Di pohon itu, sekitar satu setengah meter dari tanah, terdapat kotak kaca sebesar kartu pos yang sengaja dibuat oleh Killu. Di dalam kotak kaca itu terpasang sebuah foto Hiju yang sudah hampir menguning. Walau begitu, Hiju tetap manis untuk dilihat bagi Killu.
Mereka bertiga menyimpan semua bunga yang mereka beli kemarin di atas akar pohon mawar. Setelah itu mereka duduk di sana dan berdoa untuk Hiju sambil menutup mata. Vestal, Colin, dan Killu terlihat begitu tenang mendoakan Hiju. Sekitar satu menit kemudian mereka membuka mata dan tersenyum memandangi foto Hiju yang ada di pohon. Seakan membalas senyum mereka, ada satu mawar yang jatuh ke atas Colin. Bunga yang jatuh itu terlihat paling indah di antara yang lain.
Killu, Vestal, dan Colin dibuat tersenyum lagi.
Tiba-tiba…
"HAP!" Alluka memeluk Vestal dan Colin dari belakang sambil berjongkok agar mampu menyamai tinggi badan keponakannya.
"Ah, paman Alluka!" Colin dan Vestal segera memeluk paman ramah mereka.
"Wah, kalian sudah semakin kuat, ya?" ujar Alluka sambil mengelus punggung kedua keponakannya.
"Vesta, Colin, mau kue dango?" tiba-tiba Kalluto ada di dekat mereka sambil menyodorkan satu kantung kue dango.
"Paman Kalluto?!" Vestal dan Colin kini beralih memeluk kedua kaki Kalluto. Kalluto pun berjongkok untuk membalas pelukan mereka berdua dengan senyum mengembang di bibir.
"Hei, bagaimana kalau kita menikmati kue ini di sini sekarang? Cuacanya sedang bagus," tawar Kalluto pada dua keponakannya.
"Asyikk~!" seru Colin, Vestal, dan Alluka.
Killu tersenyum memandangi keakraban di antara kedua adik dan kedua anaknya. Ia beralih menatap ke arah foto Hiju dengan tatapan yang lembut sambil berkata di dalam hatinya…
(BGM : Kim Jong Kook - Thank You / Gomapda)
From now, what I am saying
The thing that I never said
Although its embarrassing and awkward
From the day I first met you
'Terima kasih, Hiju..'
The thing I said through my smiles
The thing I always said through my eyes
'Benar-benar terima kasih…'
While holding your hand, while greeting each other's lips
While holding you close, while hugging you tight
The thing my heart said
'Sebelum bertemu denganmu, aku adalah orang yang tidak punya tujuan hidup dan tidak ada mimpi yang hendak aku capai. Aku hanya ekor yang selalu ikut ke mana Gon pergi. Aku juga bersyukur karena aku yang berinisiatif mencari apa yang aku mau. Karena jika tidak, aku tidak akan bertemu denganmu hari itu.'
Thanks, for coming to me. Thanks for waiting
So I wont be lonely, because you're right here with me
'Setelah aku mengenalmu, aku tidak merasa hampa dan kosong. Aku juga tahu apa yang aku mau dan ingin aku capai, yaitu bersamamu. Hidup sebagai orang biasa tidak akan terasa sempurna jika tanpa dirimu. Aku sangat senang karena kau mampu menerimaku apa adanya seperti apa yang Gon lakukan. Kalian yang terbaik dalam hidupku.'
If I didn't meet you, if I didn't know this happiness
If I couldn't experience this amazing love
I wouldn't have known how beautiful this world is, and just live passed all that
'Terima kasih karena telah menemaniku selama beberapa waktu. Terima kasih karena sudah sabar menghadapi aku yang begitu egois. Terima kasih karena telah mengajariku untuk menjadi seorang pengasih seperti dirimu. Terima kasih karena telah membuatku menjadi pribadi yang lebih tangguh dan dewasa. Maaf karena aku pernah menyakitimu dan membiarkanmu sendirian terlalu lama. Aku memang terlalu bodoh untuk menghindari kenyataan padahal aku belum mencoba untuk berdiri dan menghadapinya, tapi kau tahu kan mengapa?
Kau kuat lebih daripada aku. Yang bisa aku lakukan hanya membunuh. Berbeda denganmu yang mampu menjadi apa saja dan selalu berhasil membuatku takjub sebagai pengagum terbesarmu.'
I will not forget, I will not change
If living takes all the strength I have
For you, you will wipe my tears but shed more tears In repay
I will keep this heart, forever
'Walaupun kau sudah pergi, aku akan tetap mengagumimu sampai kapan pun. Jika aku mati, aku akan mencarimu dan aku harap kita akan kembali bersama lalu memperhatikan kedua anak kita dari dunia itu.'
Thanks, for coming to me. Thanks for waiting
So I wont be lonely, because you're right here with me
'Kau adalah orang kedua yang mengerti aku. Terima kasih karena sudah mau melahirkan mereka, dua anak hebat sebagai bukti kalau dulu kita pernah bersama dan saling menyukai satu sama lain. Aku sangat bersyukur karena bisa bersama dengan mereka saat ini.'
Killua memandang ke arah Vestal, Hiju mini yang sedang menikmati kue dango.
Thanks for giving me someone that can tell me they love me
I thank you that you're my woman, that you're the one
'Dia mirip sekali denganmu. Kau ingat betapa inginnya aku untuk memiliki sesuatu yang mengingatkanku padamu? Liontin tidak seberapa jika dibandingkan dengannya dan juga Colin.'
As time passes by, in the future far far ahead
I will probably be thankful once again, having the memories to look back upon
'Aku akan terus menjaga mereka sampai nanti. Ayah mengizinkanku untuk membawa mereka keluar dari sini begitu mereka menginjak 12 tahun. Akan aku bawa mereka mengelilingi dunia bersama Gon. Aku akan menjadikan mereka kuat dan tangguh seperti apa yang kau mau.'
This thankful heart
'Terima kasih Hiju..'
Stay here so I can repay you for as long as I live
'Kau adalah satu-satunya yang mengerti aku seutuhnya. Aku akan terus mencintaimu sampai akhir.'
Let me live as your man
'Beristirahatlah dengan tenang…
Dari orang yang amat mencintaimu, Killua..'
I thank you that you're my woman, that you're the one…
"Papa~..!" seru Vestal dan Colin dari jauh.
Killua menengok.
"Kakek mencari kita~!" ujar Colin.
Killua tersenyum. "Oke."
Killua berjalan mendekati Colin, Vestal, Alluka, dan Kalluto. Setelah berada di dekat mereka, Killua segera menggendong Vestal dan menggandeng tangan Colin. Di samping kiri dan kanan ayah-anak itu, dua Zaoldyeck yang lain mengiringi mereka untuk berjalan bersama menuju kastil.
"Bankir korup, Zumkivich Vandov, 50 tahun, kapal laut Messierchuza, senin pagi hingga rabu malam. Ayah akan menerangkan lebih detail mengenai strategi untuk membunuhnya," ujar Kalluto sembari mereka berjalan bersama.
"Baiklah," timpal Killua.
..
..
= FIN =
