Disclaimer : Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki.
Warning : Humor garing, horror gagal
Summary : Akhirnya Akashi dan para Kisedai sampai dirumah tersebut, belum sampai beberapa jam sudah ada tanda-tanda aneh.
Misteri Rumah Baru Akashi
Aomine, Midorima, Kise dan Murasakibara pergi menuju kearah depan rumah dengan box-box yang mereka angkat. Ya, box-box yang berbobot 5 kilo bagaikan beras 1 karung terpaksa mereka seret, awalnya sih, tapi mereka langsung mengingat betapa iblisnya sang pemilik box, mereka langsung menggotong box tersebut menuju keluar. Diluar sudah ada sebuah truk yang seperti mirip dengan replika pilem transfomer yaitu mentimun frime salah optimus prime.
"Ini mah kegedaan!" Seru mereka semua menatap truk itu.
"Akashi! Kita ini mau bawa barang-barang! Bukan bawa patung atau kolam renang!" Seru Midorima yang merasakan bahwa tangannya hampir saja mengambil lucky item-nya yaitu sebuah pisau dan melakukan shoot terhebatnya ke-Akashi. Sayangnya jika dia melakukan itu maka dia akan nambah dosa.
"Ini adalah truk kebangaanku Shintarou. Aku sudah menabung uang setengah umurku untuk membeli truk ini. Dan aku tau bahwa kau hanya iri karena aku bisa membeli mobil keren ini." Dengan begitu Akashi langsung jumawa kepada teman-temannya.
"Udah deh, sebaiknya kamu ngak usah jumawa, Akashi." Dan dengan begitu yang lainnya meletakkan barang-barang dibelakang truk tersebut. Merekapun berjalan kearah depan dan melihat bahwa tempat duduk hanya ada dua saja.
"Oy, dimana kita duduk?!" Tanya Aomine begitu melihat tempat duduk terakhir telah dimasuki oleh Murasakibara yang saat ini tengah nyemil Maibo. Kuroko berada diantara Akashi dan Murasakibara yang saat ini tengah dengan tenang menatap kearah jalan dengan mata blink-blink, sepertinya dia dan Akashi telah merencakan sesuatu. Dan itu makin terbukti saat Kuroko angkat bicara.
"Tentu saja dibelakang, masih muat untuk kalian." Awalnya mereka mau protes, tapi karena perkataan Kuroko ditemani oleh gunting yang lagi panduan suara, nyali mereka jadi ciut dan akhirnya bergegas kearah truk belakang.
"Aku tak pernah menduga bahwa Akashi akan menyusahkan seperti ini." Ucap Midorima menghela nafasnya.
"Disini sangat panas!" Ucap Aomine mengeluh, dia positip bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi lebih gosong dari ini. Bisa-bisa kulitnya berubah warna jadi pantat panci.
"Tapi aku penasaran, siapa yang akan menyentir-ssu. Bukannya Murasakibaracchi ngak bisa menyentir, begitu juga dengan Kurokocchi dan Akashicchi, mereka kan pendek." Ucap Kise dan ketiga orang tersebut terdiam, mereka berharap bahwa kenyataan tidak seperti dipikiran mereka. Mereka masih bisa menjauh, masih ada kesempatan terakhir sebelum truk nista ini cabut dari tujuan dan juga demi keselamatan jiwa mereka.
Tapi sayang sekali, kesempatan mereka pergi saat truk melesat dengan cepat.
"#$%#$%#% $! BERHENTI!" Seru ketiganya nampak ketakutan. Siapa sih yang ngak bakal ketakutan saat berada dimobil truk yang belakangnya hanya ditahan dengan sebuah besi malah ukuran besinya pendek lagi, tapi untuk aja bisa nahan semuanya.
"OY! Siapa saja yang nyetir tolong berhenti!" Dengan sigap ketiganya menuju kearah kaca yang ada didepan dan mengintip kedalam, disana terlihat Murasakibara yang nampak mengatur gigi truk, Kuroko yang nampak berada dibawah untuk menekan tanjakkan gas dan Akashi yang nampak memegang stir dengan mata blink-blink. Ketiga orang tersebut menjadi batu.
"Anjrot! Gue ngak mau mati deluan!"
"Maaf Mai-chan! Harusnya aku tidak datang kepertemuan ini!"
"Selamatkan aku –ssu!" Teriakkan masih membahana dan mereka melirik dari samping ada sebuah perempatan jalan. Merasa bahwa Akashi masih tetap melajukan mobilnya mereka berpikir bahwa akan tetap lurus, ironisnya takdir berkata lain. Dengan sigap Mursakibara menganti gigi, Kuroko menekan pedal rem dan Akashi membanting stir kekiri. Dengan begitu truk tersebut melakukan putaran 360 derajat.
"AAAAAA! #$#%^*%&!" Truk terlihat berhenti dan membuat ketiga orang itu menahan nafas legah, hanya untuk dilanjutkan dengan laju mobil yang masih menambah cepat. Lagi mereka semua kembali berteriak.
"Sudah kuduga! Membawa Akashi ketempat trek mobil bukanlah ide bagus!" Seru Aomine meruntukkin nasibnya yang sebentar lagi akan menjadi tumbal kecelakaan. Mereka semua nampak bersyukur saat mendengarkan suara mobil polisi. Sepertinya penderitaan mereka akan berakhir sekarang saat mobil polisi itu menghentikan truk ini dan memenjarakan Akashi untuk ketenangan mereka semua.
Sementara itu Akashi yang masih berada didalam mobil hanya dapat berdecak kesal begitu melihat mobil polisi yang mengikuti mereka.
"Tetsuya, tambah kecepatan penuh. Atsushi, ganti gigi." Keduanya pun menurutin perintah yang diberikan kepada mereka. Lagi pula, mereka serasa seperti dipilem begitu, balapan-balapan dengan polisi. Tapi sepertinya pikiran itu tidak masuk kedalam 3 orang yang berada didalam bagian belakang truk karena mereka kembali berteriak.
Dan sayangnya dewi fortuna tidak berada disisi ketiganya saat melihat mobil polisi makin lama makin mengecil.
Akashi menghentikan mobilnya saat tiba ditujuan mereka lalu membuka pintu dan turun kebawah disusul dengan Kuroko dan Murasakibara yang nampak masih memasang wajah senang karena bisa bermain kejar-kejaran bersama dengan polisi. Mereka menuju kebelakang dan melihat tiga orang yang mempunyai warna rambut melambangkan, rumput, laut dan matahari, yang saat ini tengah terbaring dengan wajah bahagia sembari mencium-cium tanah yang berada dibawah mereka.
"Terima kasih! Aku masih hidup –ssu!" Kise nampak tersenyum senang dengan deretan air terjun yang keluar dari matanya.
"Semua ini berkat Oha-asa!" Midorima mengangkat kedua tangannya nampak bersyukur.
"Mai-chan! Kau sangat senang karena aku tidak jadi mati kan!" Ucap Aomine merebahkan tubuhnya ditanah dengan liangan air mata diujung matanya.
"Kalian heboh sekali." Ucap Kuroko menatapi sohib-sohibnya yang udah kayak selamat dari kejaran banci.
"Sudah cukup ber-lebay-lebay-nya, sekarang kita angkut semua box ini kedalam." Ucap Akashi nampak menatap kearah rumahnya.
"Siapa yang menyebabkan ini semua coba?!" Midorima mengambil box dan menshootnya yang menghasilkan kepala Akashi kenak hantaman box tersebut, membuat si empunya tekapar ditanah.
"Midorima-kun, jika Akashi-kun pingsan, bagaimana mungkin kita masuk kedalam?" Tanya Kuroko dan terlihat Murasakibara menunduk disamping Akashi.
"Aka-chin, bangun. Diluar sangat panas kau tau. Ayo masuk kedalam." Ucap Murasakibara menoel-noel pipi Akashi.
"Hanya ada satu cara." Ucap Amonie mendekat kearah Kuroko yang menatapnya bingung, dengan sigap Aomine mendorong kuat Kuroko hingga terjatuh kebawah dan menghantam Akashi yang berada dibawahnya.
"AAAHH! Semuanya berlindung! Ada banteng ngamuk!" Seru Akashi saat sadar dan melirik kearah sekelilingnya, melihat teman-temannya mengasihkan dirinya tatapan aneh, diapun duduk dengan menahan Kuroko yang pingsan karena terjangan Aomine "Apa yang masih kalian lakukan disini, cepat masukkan box-box tersebut kedalam!"
"Aka-chin, kuncinya?" Tanya Murasakibara dan Akashi melemparkan kunci kearahnya, merekapun dengan sigap dan tanggap mengambil box-box tersebut. Kuroko yang masih pingsan nampak ditaruh di sofa yang saat ini digotong oleh Midorima, Kise dan Aomine.
"Rumah ini sangat sederhana sekali, Akashi." Ucap Midorima menatap kesekelilingnya, benar, rumah itu sangat sederhana dengan hanya beberapa pintu untuk keruang makan, kamar mandi, kamar tidur dan halaman belakang serta sebuah tangga yang memiliki pintu disisinya.
"Baiklah, kita akan bagi tugas. Midorima, Murasakibara dan aku akan meletakkan barang-barang ini dilantai 2 sedangkan kalian meletakkannya dilantai 1." Dengan begitu mereka semua melakukan tugas yang diberikan oleh sanga ranger merah, maksudku Akashi.
"Kise, kau letakkan barang-barang itu ditempatnya." Ucap Aomine sembari mengarah kearah sofa dan duduk disana.
"Ehh, bukankah harusnya kita berdua yang melakukannya Aominecchi?" Tanya Kise sedangkan Aomine terlihat menutup matanya. Merasa bahwa tidak akan menang berdebat Kise mengambil box yang terdapat tempelan sebuah tempat tidur kepintu yang berada dikirinya, ternyata yang dibukanya adalah pintu gudang. Merasa bahwa gudang tersebut menakutkan dengan sigap Kise menutupnya, karena dia membalikkan tubuhnya dia tidak melihat sebuah bayangan yang melintas didalam gudang tersebut.
Kita berpindah ke regu ababil diatas, ehem, maksudnya regu kedua yang saat ini tengah berjalan karah kamar Akashi yang posisinya berada tusuk sate, ya lagi pula memang itu saja pintu yang berada dilantai 2.
"Shintarou, Atsushi, kalian letakkan barang-barang ini dihalaman belakang." Ucap Akashi saat sampia diatas tangga dan keduanya pergi dari sana.
Akashi menuju kearah pintu itu dan membuka kamarnya, kamar tersebut cukup luas untuk 1 tempat tidur, 1 meja dan 2 lemari, ada 2 jendela disana. Setidaknya Akashi dapat bernarsis ria didalam kamarnya, sebuah pripasi yang sangat dia butuhkan. Akashi menatap kearah pintu yang berada disampingnya sebelum membukanya, menampilkan kamar mandi kecil untuknya. Akashi masuk kedalam sana, dan dia tidak melihat sosok perempuan berambut panjang yang menutupi wajahnya memakai gaun pengantin nampak duduk dikasurnya.
Kita beralih kearah Midorima dan Murasakibara yang berada dihalam belakang.
"Kolam renang Aka-chin sangat bagus." Ucap Murasakibara sembari menatap kearah kolam renang itu.
"Murasakibara, tugas kita adalah meletakkan barang-barang ini." Ucap Midorima nampak meletakkan box tersebut disamping pintu, saat dia berdiri dia tidak melihat sebuah kepala yang berada disebelah kanannya.
"Aku akan melakukannya nanti Mido-chin." Ucap Murasakibara sembari menatap kearah Midorima, matanya menangkap sosok seseorang dikamar Akashi "Aka-chin crossdress lagi. Tapi sejak kapan Aka-chin mau jadi pengantin?"
"Ayo masuk Murasakibara." Ucap Midorima dan Murasakibara mengikutinya, lagi pula diluar juga cukup panas. Tiba-tiba saja akan melangkah Murasakibara merasakan dirinya ditarik kebelakang dan tercebut kedalam kolam.
Midorima menatap kearah belakang hanya untuk melihat Murasakibara tidak mengikutinya, diapun mendekat kearah sana dan menatap kearah kolam berenang dimana disana Murasakibara nampak menatap bingung.
"Mido-chin, kau menarikku kedalam kolam?" Tanya Murasakibara terlihat kebingungan, ya mungkin saja yang menariknya adalah Midorima yang mau balas dendam karena dia tidak membantunya tadi.
"Bagaimana mungkin aku membantumu jika aku saja berada didepanmu. Jangan bercanda Mursakibara." Ucap Midorima nampak sedikit ketakutan saat merasakan indra keenamnya yang berada dibelakang leher berdisko ria. Dan disaat itulah mereka mendengar suara jeritan.
Kita beralih kearah Akashi yang saat ini masih mengecek kamar mandinya. Ya modelnya tidak buruk-buruk juga, malah bagus lagi. Akashi mendekat kearah cermin besar disana sembari memperhatikan baik-baik lekuk-lekuk cermin itu. Dia melihat sesuatu seperti menganjal disana dan saat akan meraihnya tiba-tiba saja ponselnya yang diletakkannya disamping terjatuh.
"Sial...hp mahal lagi." Akahi memungut ponsel tersebut, dan ditempatnya tadi berdiri terlihat perempuan bergaun pengantin yang nampak menyisir rambutnya. Baru saja akan kecermin lagi sebuah teriakkan mengejutkannya.
Kita kembali kearah Kise, Aomine dan Kuroko [yang masih pingsan].
"Tsk, kau harusnya meletakkan poto itu diatas tv." Ucap Aomine saat melihat Kise yang meletakkan lukisan Mona Lisa yang memegang gunting, diletakkan diatas kursi.
"Kenapa tidak kau saja yang menaruhnya Aominecchi." Ucap Kise cemburut, bagaimana tidak. Dalam hal-hal meletakkan barang didinding selalu dia yang melakukannya, dia bahkan tidak melihat Aomine selesai dari box yang pertama.
"Aku sedang sibuk." Ucap Aomine malas.
"Membaca Mai-chan itu artinya kau mempunyai waktu luang Aominecchi!" Saat keduanya masih berdebat mereka tidak memperhatikan sosok perempuan yang nampak duduk disamping Kuroko dan perlahan perempuan itu menarik Kuroko menjauh dari sana.
"Dasar." Ucap Kise saat merasakan dirinya kalah dalam perdebatan, diapun berbalik untuk melihat Kuroko yang nampak ditarik oleh sosok tersebut, "AAAAAHHHHH! KUROKOCCHI!/TETSU!" Serunya sembari mengambil sebuah vas bunga dan melemparkannya, tentu saja hasilnya tembus dan sosok itu menghilang. Karena teriakkan Kise, Aomine sempat menoleh dan membatu saat melihat hantu tersebut, sebelum dia juga ikut meneriaki nama Kuroko.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Midorima sembari berjalan keruang tamu bersama dengan Murasakibara yang masih kebasahan. Tak lama terlihat Akashi datang.
"A-a-a-ada perempuan yang mencoba menarik Kurokocchi pergi! Dan Kurokocchi belum sadar!" Seru Kise sembari berlianggan air mata, sedangkan Aomine nampak berada dipojokkan sembari meringkuk.
"Ini aneh, tadi juga ada yang menarik Mursakibara kedalam kolam." Ucap Midorima sembari menaikkan kacamatanya yang nampak turun.
"Itu artinya kita harus memecahkan misteri ini." Ucap Akashi dan semua menatap kearahnya, apa yang dikatakan selanjutnya membuat keempatnya-karena Kuroko masih pingsan-menyesal telah menerima tawaran Akashi kemarin lusa.
"Kita akan melakukannya seperti di pilem paranormal activity, dan mengusir hantu-hantu itu dari rumahku."
Apakah Akashi akan berhasil mengusir hantu tersebut? Akankah ada korban? Kapankah Kuroko akan sadar? Masih tetap saja, apa yang dikatakan oleh Mayuzumi di chapter sebelumnya? Nantikan di chapter berikutnya.
X-x-x-x==x-x-x-X
Aria : Ya, karena Silver sepertinya lagi bergulat dengan buku-buku'nya dikarnakan dia akan melakukan try out senin ini. Silver jadi tidak bisa melanjutkan cerita ini, dan katanya dia minta tolong kepadaku untuk melanjutkannya selama dia melaksanakan try out. Ya sorry kalau garing, saya tidak berbakat dalam membuat humor, dan saya hanya bisa sedikit membuat horror, keduanya tuh keahlian Silver sama Neth.
Jadi saya harap kalian menikmati cerita ini *membungkuk*
See You in Next Chapter...!
