Summary : Akashi melakukan acara paranormal activite dirumahnya, apa yang mereka rencanakan? Dapatkah kita mengetahui apa yang Mayuzumi bicarakan?
Disclaimer : Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki
Warning : Humor garing, horror gagal
Misteri Rumah Baru Akashi
.
.
.
Akashi nampak tersenyum sembari menatap kearah monitor rusak didepannya, sekarang ini dia berada dikamarnya. Akashi mengambil kaleng yang telah diikati benang disampingnya, dia menarik kaleng itu dan meletakkan ditelinganya.
"Emperor kepada Rabbit-Shooter, bagaimana dengan setatusmu? Ganti."
"Oy Akashi! Jangan seenaknya menentukan code name orang!"
"..."
"Oy! Akashi! Jawab aku!"
"..."
"Ganti-nanodayo."
"Aku melakukan apapun yang kuinginkan Shintarou. Jadi bagaimana kau berhasil memasang kameranya? Ganti."
"Tidak. Ganti."
"Apa yang kau lakukan. Malam tidak akan menunggu kita Shintarou, kitalah yang menunggu malam. Selesaikan dengan cepat, ganti."
"KAU KIRA GAMPANG APA MASANG DIATAS POHON! Konoyaro...ganti."Itu memang benar. Akashi menugaskan Midorima untuk memasang kamera pengintai diatas pohon depan pagar mereka, dan walaupun tinggi Midorima hampir sejajar dengan leher pohon itu tetap saja, sangat susah untuk menjangkau tempat yang berada diatas.
"...kau bisa menempelkan dibatang pohon Shintarou." Shintarou membulatkan matanya, kenapa dia tidak memikirkan hal itu, apakah ke-idiot-an Aomine Daiki sudah merasuki dirinya. Sepertinya, dia perlu tes kesehatan jiwa saat semua ini telah selesai. Dengan begitu Shintarou menempelkan kamera tersebut dibatang pohon yang berada disampingnya.
"Aku sudah selesai disini. Ganti, nanodayo." Midorima menghela nafasnya dan berjalan kedalam, tanpa diketahuinya, pohon tersebut bergoyang sendiri tanpa adanya angin. Pada akhirnya indra keenamnya aktif, firasatnya mengatakan bahwa jangan menatap kearah belakang. Tapi sepertinya rasa penasarannya lebih besar dari ketakutannya. Jadi dengan slow motion Midorima menatap kearah belakangnya, disana terlihat perempuan yang sepertinya masih duduk dibangku SMP, terlihat jelas dia sampe bawa bangkunya dan duduk dihadapannya, dengan seragam Teiko dan berambut cokelat matanya tertutupi dengan poninya jadi tidak kelihatan wajahnya dengan jelas.
Perempuan itu menjulurkan tangannya kedepan, tangan putih pucat dan perlahan mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah yang tidak mempunyai mata dengan beberapa bercak darah, dan bolongan bola matanya nampak lebih besar dan terlihat sedikit tak beraturan, seperti matanya dicongkel dengan paksa.
"Aku ingin matamu..."
"GHHHAAAAA! nanodayo." Midorima langsung melakukan sprint kedalam rumah dan naik kelantai dua sebelum melakukan salto keranjang Akashi dan bersembunyi dibalik selimut. Akashi yang menatapnya hanya bisa memasang tampang EGP, bertanda bahwa dia tidak perduli dengan tingkah laku dan akrobat Midorima saat melompat kekasurnya, saat itu yang dia lihat adalah seekor kelinci yang jungkir balik kekasurnya.
"Emperor kepada Copy-Lala, ganti."
"Akashicchi, kenapa Copy-Lala, tunggu apa juga itu Lala? Ganti." Akashi nampak melebarkan matanya dan terlihat meminum air putih sebelum menyemburkannya, sepertinya Akashi memang tidak bisa lepas dari namanya kenarsisan mengikuti tindakkan seperti dipilem-pilem gitu.
"Kau tau tidak tentang pilem lama yang saat itu penomenal! Pilem dimana itu melambangkan warna merah, kuning, hijau, biru, acara yang membuat hari-hari para pemuda, salah, para anak sd berkobar-kabir, acara tipi yang berjudul teletubis!...ganti." Oke, mulailah kenistaan Akashi Seijuuro.
"...Akashicchi, hidoi-ssu! Aku bukan Lala, dan itu juga namanya telet*bis bukan teletubis!"
"Jadi, apakah kau sudah selesai memasang kameranya." Merasa tidak ingin ambil pusing, Akashi menganti subjek pembicaraan "Ganti."
"Aku sudah setengah jalan –ssu. Selain itu mengapa aku dapat tugas diatap, Akashicchi hidoi-ssu." Ucap Kise sembari berliangan air mata. Memang benar dia berada diatap dan kalian tau atap Akashi itu tanjakkannya tipis, jadinya Kise keatas sembari membawa pipa untuk menyeimbangkan dirinya agar tidak jatuh kekanan atau kekiri. Akashi menyuruhnya untuk menempelkan 4 kamera disana dan tersisa satu lagi yang menunjukkan kamera halaman melakang. Selain itu juga, langit sudah mulai berganti warna.
"Cepat selesaikan Ryouta. Bentar lagi matahari akan tenggelam." Kise menemukan spot yang cocok untuk kamera keempat yang diletakkannya diujung sisi atap.
"Akhirnya selesai–ssu." Dengan begitu Kise bersiap-siap untuk turun dari atap, sebelum tiba-tiba saja dia mendengarkan langkah kaki dari belakangnya. Kise berhenti dan langkah itu ikut berhenti, Kise melangkah 1 kali dan langkah itu kembali terdengar. Perlahan dengan takut Kise mengintip kebelakang dan melihat sosok perempuan bergaun pengantin yang nampak memandangnya "AAAHHH! HELEP MEEHH –SSUU!" Seru Kise dan nampak melakukan lompat lembing dengan bantuan pipanya dan mendarat dengan mulus kelantai dua, diapun berlari kearah kamar Akashi dan bersembunyi dibalik selimut, sebelum Midorima menendangnya keluar dan dia berpindah kesamping sudut pojokkan.
Lagi Akashi tidak memikirkan mereka dan fokus ke walkie-talkie kalengnya.
"Emperor kepada Ahodaki dan Vaninilla-Saltdown, ganti."
"Oy! Akashi! Kenapa code name-ku itu!"
"Akashi-kun, pemberian namamu masih buruk, tapi terima kasih, aku suka dengan Vanilla, walaupun kau menyebutkannya seperti Vani-Nilla. Ganti."
"Tetusya, aku akan mengurusmu nanti. Daiki, itu adalah nama yang melambangkan dirimu. Jadi apakah kalian sudah selesai? Ganti."
"Teme..."
"Kami setengah jalan Akashi-kun. Aomine-kun tengah berusaha memasang ditiang lampu." Akashi menyuruh keduanya untuk berpartner disisi rumah, mereka meletakkan paling banyak 6 kamera, tiga dikiri dan tiga dikanan, karena itu pekerjaan mereka sedikit makan waktu lama dan Akashi memutuskan untuk membuat keduanya berkerja sama.
"Oy Tetsu, katakan pada Akashi kamera terakhir telah dipasang." Ucap Aomine sembari menghela nafas legah.
"Akashi-kun, kamera terakhir telah terpasang. Kita sudah selesa disini ganti." Ucap Kuroko dan nampak menghadap kearah Aomine "Aomine-kun mari kita kemba-."
"Hm, ada apa Tetsu?" Kuroko nampak terdiam masih dengan wajah datarnya dan nampak menunjuk kearah belakang Aomine "Ja-jangan bilang jika ada sesuatu dibelakangnku." Kuroko mengangguk seolah itu adalah hal yang wajar.
"Ah, Aomine-kun, dia ingin menyentuh pundakmu." Tepat setelah Kuroko mengatakan hal itu, Aomine dapat merasakan sebuah tangan berada dipundaknya. Perlahan Aomine menoleh dengan gaya patah-patah kebelakangnya dan melihat sosok, tidak ada siapa-siapa disana, yang ada hanyalah tangan yang menyentuh pundaknya saja.
"AAHHH! LARI TETSU!" Kuroko mengangguk dan berlari kedalam, sementara itu Aomine nampak mematung saat merasakan tangan lain menyentuh kakinya. Dia melirik kebawah dan melihat sebuah tangan yang muncul dari tanah dan memegang kakinya, dan ada sebuah kepala dibelakang tangan itu, kepala tersebut nampak penuh lumpur dan wajahnya sangat sulit terlihat "AAAAAAHHHHHHH!" Dengan sigap Aomine menendang kepala itu lalu melemparkan kedua tangan kesembarang arah sebelum berlari masuk kedalam kamar Akashi dan menutup pintu sebelum berlari kepojokkan lainnya.
"Ah, kau selamat Aomine-kun." Ucap Kuroko yang nampak duduk dikasur saat melihat Aomine masuk "Ngomong-ngomong nice shoot."
"KAU MELIHATKU DAN MEMILIH UNTUK TIDAK MENOLONGKU!" Seru Aomine kesal.
"Emperor kepada Snacky-Platform, ganti."
"Kenapa harus Platform, Aka-chin? Selain itu aku sudah selesai, aku akan kembali setelah menyelesaikan maibou-ku, ganti."
"Baiklah, dengan begini semua telah siap." Ucap Akashi saat melihat Murasakibara masuk kedalam.
"Oy, kau tidak bertemu dengan apapun dikolam berenang?" Tanya Aomine dan Murasakibara hanya menggelengkan kepalanya sebelum mencoba mengingat.
"Ah, tadi yang sedang mandi dikolam renangnya Aka-chin, tapi saat aku ingin lihat lebih jelas sosok itu sudah menghilang." Ucap Murasakibara dan Akashi nampak mengangguk-angguk kepada dirinya sendiri.
"Apakah kau tau sesuatu tentang rumah barumu ini Akashi?" Tanya Midorima yang nampak sudah mendapatkan kembali kekuatannya. Akashi menatap kearah jendela dan melihat matahari yang masih berada dilangit.
"Baiklah sebagai pembunuh waktu, aku akan mencerita kalian semua tentang rumah baruku. Ini adalah gosip yang kudengar." Ucap Akashi dan nampak memasang wajah serius, semuanya nampak menatap kearahnya "Kejadian ini dimulai 10 tahun yang lalu."
Aku mendengar bahwa sebelum rumah ini dijual pemiliknya adalah sepasang kekasih yang sebentar lagi akan merayakan pernikahan mereka. Keduanya diberikan waktu 7 hari untuk bersiap-siap sebelum dimulainya acara pernikahan. Mereka mendekorasi semuanya dengan pernak-pernik yang indah dan juga taman-taman yang dihiasi. Para tentangga sangat suka dengan kedua pasangan itu karena kebaikan mereka. Tapi yang tidak mereka ketahui adalah rumah itu telah menjadi sasaran dan tempat persembunyian komplotan pencuri bersenjata.
7 hari berlalu dan hari H bagi para pengantin telah tiba. Dan malamnya semuanya nampak menjadi kacau saat para pencuri memasuki rumah tersebut. Hanya ada segelintir orang yang mengetahui tentang insiden itu, semua keluarga pengantin tersebut dihabisi, yang selamat nampak tidak ingin mengungkit-ungkit tentang hal dipernikahan itu dan mereka memilih untuk pindah dari komplek perumahan ini. Tempat ini pernah disebut sebagai komplek mati. 1 minggu, komplek ini tidak pernah ditempatin, tapi ada beberapa penjalan kaki yang melihat beberapa orang berjalan-jalan disana sini, serta sebuah pesta pengantin, saat mereka mendekat kesana semuanya nampak menghilang seakan bahwa tidak terjadi apa-apa dari awal.
Pada akhirnya komplek ini kembali dipenuhi oleh orang-orang dari kota luar. Tapi setiap kali ada orang yang memilih rumah ini, mereka pasti akan pindah tidak sampai 1 hari setelah berada disini. Dikabarkan bahwa beberapa tetangga sering melihat perempuan bergaun pengantin yang nampak berdiri didepan pintu dan seorang anak berseragam yang terkadang berdiri disamping pohon besar yang nampak mempunyai bercak darah.
Beberapa orang terkadang merinding melewati depan gerbang rumah itu. Terkadang terdengar suara langkah kaki, dan saat mereka menengok kebelakang tidak ditemukan apapun, tapi saat mereka berbalik kedepan, sosok perempuan berbaju pengantin nampak berdiri dihadapan mereka, dan...banyak yang bilang bahwa pengantin itu memperlihatkan wajahnya yang hancur seperti disobek dengan benda tumpul. Pada akhirnya tidak ada satupun yang ingin mendekati rumah ini.
"Lalu mengapa kau memilih rumah ini?" Tanya Kuroko yang nampak tertarik dengan motip Akashi yang memilih rumah ini. Kalau berhantu untuk apa dibeli?
"Itu karena, rumah ini adalah yang paling murah dari rumah-rumah lainnya dan mempunyai fasilitas kolam renang luar." Jawab Akashi dengan penuh keyakinan seolah semuanya adalah hal yang wajar "Ah lihat, matahari telah tenggelam. Waktunya kita memulai, paranormal activity kita." Ucap Akashi dan terlihat yang lainnya nampak menatap kearah pintu seolah seseorang akan muncul disana dan memakan mereka.
"Jadi apa yang akan kita lakukan Akashi-kun?" Tanya Kuroko dan Akashi mengeluarkan enam senter dengan warna yang melambangkan diri mereka dan sebuah toples yang terlihat diisi dengan kertas.
"Kita akan acak urutannya, siapa yang akan berkeliling diluar rumah dan didalam rumah serta yang memperhatikan monitor." Ucap Akashi dan mengoyangkan toples itu "Jadi, siapa yang ingin deluan?" Semua nampak terdiam sebelum Kuroko mengangkat tangannya dengan penuh semangat "Baiklah kau deluan Tetsuya." Kuroko menguncang dan mengambil satu kertas disana sebelum membacanya.
"Atap." Akashi mengangguk-angguk dan menyondorkan kearah Kise.
"Uhh..Kolam renang-ssu." Akashi menyondorkan kearah Midorima.
"Kamar, nanodayo." Kini kearah Aomine.
"Ruang Tamu." Lalu kearah Murasakibara.
"Halaman depan." Akashi mengangguk-angguk.
"Jadi itu artinya aku halaman belakang." Dengan begitu dia mengambil senternya dan nampak berdiri didepan pintu, yang lain mengikutinya "Waktunya kita mulai operasi kita, Ranger. Kisedai Paranormal Activity!" Ucap Akashi dengan efek rambut mereka semua berkibar bagaikan bendera.
.
.
To Be Continued
Aria : Aku ngak pernah berpikir bahwa akan jadi begini ceritanya di chapter ini.
Neth : Ya, karena Silver sudah mengasihkan plot-nya jadi mau bagaimana lagi.
Aria : Ya, maaf jika jadi humor garing atau kesan horrornya kurang..kalian tau saya tidak ahli dalam membuat humor dan horrornya kayak gini gara-gara ada Neth.
Neth : Ngomong-ngomong dimana Silver?
Aria : Oh, tuh anak entah kenapa udah masang wajah madesu pas pelajaran jam terakhir. Kutanya kenapa katanya dia itu dapat nilai rendah terus kelasnya pada dimarahin sama guru, benar-benar anak SMP jaman sekarang.
Neth : Aku turut perihatin, seharusnya dia masuk B aja. Ya dari pada bacot disini, akhir kata saja.
Aria & Neth : Kami harap kalian menikmati chapter ini. Dan Silver cheer-up oke.
See You in Next Chapter!
