Tittle : Rotting To The Core
Cast : Kim Sunggyu, Nam Woohyun, Kim Kibum
Chapter : Last Part
Happy Reading ^^
Kau sudah menyakitiku . .
Aku membencinya mu Woohyun ah . .sangat membencimu. .
Namun aku lebih menginginkanmu!
Woohyun POV
Indah, hanya itu yang terlintas dalam pikiranku saat aku melihat senyumannya. Ini untuk pertama kalinya, aku melihat sosok lain dari seorang Kim Sunggyu. Sosok yang sebelumnya selalu menampilkan keangkuhan itu, terlihat lebih lembut saat berbaur dengan putihnya salju. Kurasa ia dan salju sangat serasi, jika dituangkan dalam sebuah kanvas lukisan mereka akan menjadi sebuah gambaran indah surgawi, sempat terlintas dalam pikiranku jika ia adalah salah satu bidadari penghuninya. Ck, Nam Woohyun apa kau ingin menjadi seorang pujangga? Tapi apa yang kupikirkan memang benar, dia adalah seorang bidadari yang diturunkan Tuhan dari langit. Ia sempurna seperti bidadari.
Dan kini aku melihatnya menangis. Tertunduk dalam di antara kedua lututnya. Rasa sesak itu kian menjalar saat kudengar ia semakin sesegukan. Ia menangis setelah mendengar pengumuman pernikahanku dengan Key, bolehkah aku berpikir sedikit berlebihan dengan menganggap kalau ia merasa cemburu? Aku yakin kalau ia menyukaiku!
Benar saja, aku tak dapat menolak kebahagiaan yang datang dalam hatiku saat kudengar ia menginginkanku. Rasanya seperti mendapati kaus kaki natal yang kau gantung di cerobong asap rumah berisi hadiah natal yang kau inginkan. Jantungku hampir saja melompat dari tempatnya karena terlalu bahagia, hingga tanpa sadar aku melukainya kembali dengan memaksakan sebuah ciuman padanya.
Maafkan aku Hyung, aku juga benar benar menginginkanmu. Dan akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidupku jika aku melepaskanmu.
Author POV
"Mwo? Seminggu? Pulau Jeju?" Kim Minjung tak dapat menyembunyikan keterkejutan saat mendengar penuturan keponakan kesayangannya. Suasana sarapan pagi di kediaman keluarga Kim itu dibuka dengan pemberitahuan mengenai keberangkatan Sunggyu selama seminggu ke Pulau Jeju.
"Nde Eomma, pameran yang kali ini aku ikuti diadakan di Pulau Jeju. Dan aku harus mempersiapkan semuanya beberapa hari sebelum pameran"
"Tapi sayaang, minggu depan itu.." dan kalimat Minjung kembali terhenti saat Sunggyu memicingkan matanya, ok wanita cantik itu hampir saja lupa mengenai ketidaksukaan Sunggyu terhadap natal.
"Ehm, paling tidak ajaklah Key untuk menemanimu Sunggyu ya.." ujar Young Woon memecah kekakuan antara Sunggyu dan Minjung.
"Aniyaa, tak perlu. Aku tak mau merepotkan kalian atau Key. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula, Pulau Jeju masih di Korea, kalian tak perlu khawatir"
Kim Young Woon dan Kim Minjung menghela nafas perlahan, sangat sulit memaksakan kehendak terhadap Sunggyu. Dan lagi lagi yang dapat mereka lakukan hanya mengikuti apa kemauan Sunggyu.
"Aku dan Woohyun akan ikut dengan mu Hyung!" Key tiba tiba datang bersama Woohyun yang mengikutinya dari belakang. Ia tersenyum dengan penuh arti membuat Sunggyu memutar bola matanya dengan malas, sepagi ini dan ia harus berhadapan dengan Woohyun. Ck, ia bahkan belum sarapan untuk mendapatkan energinya di pagi itu.
"Morning Woohyunie. Sarapan bersama kami?" sapa Minjung dengan hangat.
"Tentu saja Ahjumma" Woohyun menarik kursi tepat di sebelah Sunggyu, sepertinya pria tampan itu sengaja melakukannya agar Sunggyu mendapat serangan jantung.
"Apa maksudmu tadi Key?" tanya Sunggyu dengan ketus.
"Maksudku yang mana?" jawab Key namun mengulang pertanyaan Sunggyu.
"Ck, apa maksudmu ikut denganku ke Pulau Jeju bersama Woohyun?"
"Aku memang berniat berlibur natal disana!" ujar Key dengan santai kemudian mengambil sepotong roti tawar beserta selai kacang favoritnya.
"Kuharap kau menyewa hotel yang berbeda denganku"
"Sayangnya doamu tak akan terkabul Hyung, aku sudah booked hotel yang sama denganmu. Ini akan menyenangkan, kau, aku dan Woohyun akan berlibur bersama. Tentu saja setelah pameran itu berakhir" ujar Key dengan mata yang berbinar membuat Young Woon dan Minjung menggelengkan kepalanya karena kelakuan Key yang terus saja menggoda Sunggyu.
"Kenapa dia harus ikut juga?" nada suara Sunggyu mulai terdengar tak menerima keputusan sepihak dari Key.
"Wae? Dia calon suamiku! Apa masalahnya kalau dia ikut?"
"Eeerrrgghh, terserah!" Sunggyu beranjak dari duduknya dan meninggalkan roti berselai strawberry yang baru separuh ia makan.
"Kau mau kemana sayaang?" teriak Minjung setelah Sunggyu berjalan jauh.
"Menenangkan pikiran Eomma!" sahut Sunggyu.
. . .
Sunggyu sedang terfokus dengan tab ditangannya saat Woohyun datang ke ruang melukis pribadi itu.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Sunggyu masih dengan nada sarkastik, Jangan tanyakan, ia masih sangat marah karena kejadian sarapan pagi tadi.
"Kau tak ingin aku ikut denganmu ke Pulau Jeju Hyung?"
"Kenapa kau selalu membahas sesuatu yang tak penting Woohyun ah?" jawab Sunggyu namun tak mengalihkan fokusnya dari tab yang ia pegang.
"Kalau kau marah soal malam itu, aku benar benar serius Hyung. Tapi, aku butuh waktu untuk memastikan smuanya. Aku tak mau menyakiti Key"
"Apa aku pernah membuatmu untuk memilih Hyun? Kau tak perlu memikirkannya. Saat itu aku hanya sedikit terbawa perasaan, dan sedikit mabuk kurasa. Tenang saja, aku akan segera melupakan smuanya, tentang ciuman itu dan tentang perasaanku padamu" Kalimat yang Sunggyu katakan nyatanya hanya seperti sebuah kebohongan yang coba ia paksaan, karena Woohyun sama sekali tak melihat kejujuran dari sorot matanya. Sunggyu menutup tab yang ia genggam, dan mencoba mengalihkan pikirannya yang masih dipenuhi dengan ucapan Woohyun mengenai 'ia butuh waktu untuk memikirkannya'. Seperti berharap salju turun di musim panas, dan Sunggyu tau kalau hal itu sangat mustahil.
Grab, secara tiba tiba Woohyun memeluk Sunggyu dari belakang. Ia menempelkan dagu runcingnya pada bahu pria yang memiliki garis kecantikan pada wajahnya itu. Dan demi apapun, Woohyun bersumpah kalau itu adalah posisi ternyaman yang pernah ia rasakan. Tercium aroma lembut yang menyeruak dari tubuh Sunggyu, membuat Woohyun semakin tak ingin terlepas dari posisinya.
"Kumohon berikan aku kesempatan Hyung. Bukan hanya kau saja yang menginginkannya.. Aku juga, tapi aku butuh waktu untuk mengakuinya di hadapan Key. Kau juga tak mau menyakitinya kan?"
Seandainya Sunggyu memiliki kepercayaan diri bahwa Tuhan akan selalu mengabulkan setiap doa yang ia panjatkan, mungkin ia akan meminta Sang Penguasa langit dan bumi itu agar menghentikan waktu saat ini juga, agar ia dapat kembali mendengar kalimat terindah yang baru saja Woohyun ungkapkan.
. . .
Pulau Jeju..
"Waahhh, hotel ini betul betul strategis, aku tak menyangka kalau pemandangannya bisa sebagus ini. Tak heran harga sewanya sangat mahal"
Key tak henti hentinya memuji hotel tempat mereka menginap selama di Pulau Jeju saat mereka tiba di hotel tersebut, tak berlebihan memang karena hotel itu benar benar menawarkan pemandangan yang memanjakan mata. Setiap beranda kamar hotel mengarah langsung ke arah laut biru, bahkan aroma laut dapat tercium dari setiap kamar, membuat siapapun yang merasakannya menjadi rileks. Namun yang membuat Sunggyu menambah jumlah lipatan pada keningnya adalah karena Key dan Woohyun menyewa kamar tepat di sebelah kamar Sunggyu! Bahkan pria bermata kucing itu terus saja mengikuti Sunggyu hingga ke kamarnya. Seolah kamar Sunggyu lebih menarik daripada kamarnya sendiri. Ia lebih mengerikan daripada seorang sasaeng fans.
"Hyung, menurutmu romantis tidak kalau aku melakukan candle light dinner dengan Woohyun di pinggir pantai?"
"Aku bukan type orang yang romantis, kau searching saja di internet!" Sunggyu benar benar sedang tak ingin melayani ocehan Key, hingga ia lebih memilih menyibukkan diri dengan membenahi barang barang yang dibawanya.
"Hyuuunggg.." kali ini Key lebih kepada merajuk, bahkan pria manis itu kini memeluk pria lain yang tak kalah cantik itu dari belakang.
"Kau kenapa Key? Tak salah makan obat kan?" ujar Sunggyu memastikan.
"Aku benar benar menyayangimu Hyung. Walaupun kau sering bersikap menyebalkan"
"Euh, kurasa kau benar benar salah makan obat"
"Katakan sesuatu yang dapat membuatmu bahagia Hyung. Mungkin aku dapat memberikannya" terdengar sangat tulus, bahkan Sunggyu tak dapat menyembunyikan senyumannya karena mendengar ucapan polos Key.
"Aku cukup bahagia dengan keadaanku saat ini Key"
"Jangan berbohong lagi Hyung"
Sunggyu secara perlahan melepaskan ikatan tangan Key yang membelenggu tubuhnya dan berbalik menghadap adik kesayangannya itu. Ia membelai lembut rambut pirang Key, lalu beralih mengusap pipi tirus Key.
"Aku tak berbohong, saat ini aku tak butuh apapun karena aku cukup bahagia. Tapi terima kasih atas perhatianmu" ujar Sunggyu dengan berusaha terlihat sejujur mungkin.
Apa yang aku inginkan, adalah apa yang kau miliki Key ah..
. . .
"Hyung dengarkan aku dulu!" Woohyun berusaha membuka paksa pintu yang hampir ditutup Sunggyu. Kedatangan pria tampan itu bersamaan setelah Key keluar dari kamar Sunggyu.
"Eeerrgh, menyingkir Nam Woohyun, aku tak mau Key salah paham jika melihatmu di kamarku!" Seru Sunggyu sambil terus berusaha menutup pintu kamarnya. Namun, dilihat dari sudut manapun, kekuatan Woohyun memang lebih besar daripada tenaga Sunggyu hingga dapat dipastikan aksi dorong mendorong pintu itu berakhir dengan Sunggyu yang jatuh terjerembab dan Woohyun yang berhasil membuka secara paksa pintu tersebut. Pria tampan itu segera mengunci kembali pintu kamar Sunggyu sesaat setelah ia masuk kedalamnya.
Sunggyu merenggut, ia bangkit dari posisi jatuhnya tanpa bicara sepatah kata apapun.
"Aku sudah putuskan Hyung!"
Tak ada sahutan dari Sunggyu, karena memang ia tak mengerti arah pembicaraan Woohyun.
"Aku akan mengajukan pembatalan rencana pernikahan kepada orangtuaku setelah kita pulang dari Pulau Jeju nanti"
"Berhenti bermain main Hyun. Kau bisa kena kutukan!"
"Kukira kau bukan type orang yang percaya dengan Tuhan?"
"Bukan Tuhan yang akan mengutukmu, tapi aku"
Woohyun berusaha mengatur nafas dan kalimat yang sekiranya tak akan mengundang kalimat ketus Sunggyu kembali. Ia mendekati Sunggyu yang masih berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Aku benar benar mencintaimu Hyung, dan aku akan membuktikannya kepadamu"
"Aku tak butuh cinta Tuan Nam!" tukas Sunggyu.
"Benarkah seperti itu?"
Woohyun tersenyum dengan sedikit seringaian pada wajah tampannya, kemudian ia menarik pelan wajah Sunggyu yang masih enggan menatapnya. Untuk kedua kalinya, Woohyun menempelkan kembali bibirnya dengan bibir tipis Sunggyu, hanya menekan lembut dan sedikit melumat tanpa paksaan seperti ciuman mereka sebelumnya. Tak ada penolakan dari Sunggyu, bahkan kini ia memejamkan kedua mata sipitnya, menikmati setiap gerakan bibir Woohyun yang begitu memanjakannya. Ciuman itu baru berhenti setelah keduanya merasakan desakan kebutuhan oksigen pada paru paru mereka. Seolah tak ingin melewatkan kesempatan manis ini, Woohyun kembali menautkan bibirnya, hanya sekilas karena ia kemudian lebih memilih menempelkan keningnya dengan kening Sunggyu. Menikmati setiap deru nafas yang semakin cepat setelah ciuman mereka berakhir.
"Kalau kau tak butuh cinta, mungkin ciuman yang kau butuhkan" ujar Woohyun kemudian menarik kembali Sunggyu dalam hangatnya sebuah pelukan. Sunggyu menyambut pelukan Woohyun dengan menautkan kedua tangannya pada pinggang Woohyun. Pikiran pria manis itu kembali bergejolak, untuk pertama kalinya ia ingin bersikap egois dengan tak ingin mengalah atas apa yang ia inginkan.
Key, maafkan aku, tapi aku benar benar menginginkannya..
. . .
"Karya karya mu memang selalu spektakuler Sunggyu ya!"
"Nick.. Kau datang!" tanpa sadar Sunggyu berteriak dan meluapkan kegembiraan saat bertemu dengan kawan lamanya dengan berlari ke pelukan pria berkebangsaan Thailand itu. Bukan pelukan biasa, karena Sunggyu mengangkat kedua kakinya saat memeluk Nickhun, semacam pelukan ala koala. Bahkan aksi Sunggyu itu membuat Woohyun yang datang ke pameran lukisan Sunggyu bersama Key memicingkan matanya sebagai tanda ketidaksukaan.
"Aku benar benar merindukanmu. Suatu kejutan kau menyempatkan diri datang ke pameranku"
"Tentu saja aku datang, aku khawatir kau benar benar akan terjun dari atap Namsan Tower seperti ancamanmu jika aku tak datang ke pameranmu kali ini" Sunggyu tersenyum geli mendengar penuturan Nickhun. Ia turun dari pangkuan pria Thailand itu dan mencubit gemas pipinya.
"Tapi itu berhasil bukan, kau jadi lebih memilih datang ke pameranku daripada mengurus pekerjaan menyebalkanmu di Thailand" Sunggyu merenggut, ia mempoutkan bibir tipisnya hanya untuk sekedar menggoda Nickhun. Dan ia tak menyadari aura kecemburuan yang semakin ditampakkan Woohyun.
"Kau ini.." karena gemas, Nickhun mengacak acak surai madu Sunggyu dan jangan tanyakan kesalnya Woohyun karena adegan itu.
"Akkh, aku lupa mengenalkan sepupuku. Kau masih ingat dengan Key bukan?"
"Anyeong Hyung" Key membungkukkan tubuhnya dan tersenyum lebar pada Nickhun.
"Tentu saja aku masih ingat anak manja ini, hahaha"
"Dan dia-" ucapan Sunggyu terhenti saat ia melihat tatapan Woohyun seperti seekor singa yang siap menelan Nickhun. Ia bergidik ngeri! Nam Woohyun, kau ingin membuat Sunggyu mati berdiri!
"Dia? Siapa?" tanya Nickhun, mata bulatnya menatap Woohyun yang berada tepat di sebelah Key.
"Dia kekasih Key, namanya Woohyun" jawab Sunggyu akhirnya, ia sama sekali tak berani menatap ke arah Woohyun yang semakin menunjukkan aura kecemburuan.
"Senang berkenalan denganmu Woohyun shii" Nick mengulurkan tangannya di hadapan Woohyun, dan disambut oleh Woohyun walau ia masih belum berhenti memicingkan matanya.
"Kajja Nick, kutunjukkan beberapa lukisanku lagi" ajak Sunggyu sambil membawa Nickhun menjauh dari Woohyun, ia hanya berpikir bukan ide bagus membiarkan Nick terus berada disamping Woohyun. Pria tampan itu bisa menelan Nick bulat bulat.
. . .
"Kau sengaja ya?"
Sunggyu menatap wajah Woohyun yang berada dibelakangnya dari refleksi cermin yang ada dihadapannya. Saat ini mereka berada di kamar mandi gedung pameran, lebih tepatnya Sunggyu yang ingin pergi ke toilet karna Woohyun hanya mengambil kesempatan untuk berbicara berdua saja dengannya saat tak ada Key atau Nickhun diantara mereka.
"Maksudmu?" tanya Sunggyu dengan tatapan tak mengerti.
"Kau sengaja membuatku cemburu Hyung!"
"Kau cemburu?"
Woohyun kembali memandang wajah Sunggyu frustasi. Ia menjambak rambut hitamnya, dan berdecak kencang. Woohyun mendekati Sunggyu yang masih sibuk membersihkan tangannya. Ia menarik lengan Sunggyu, dan merapatkan tubuhnya pada dinding kamar mandi, kedua tangan Woohyun mengungkung rapat tubuh Sunggyu dengan menumpu pada dinding belakangnya hingga pria manis itu kehilangan ruang gerak.
"Kau sebenarnya kenapa Hyun?" maki Sunggyu, ia merasa kesal karena merasakan sakit pada punggungnya akibat dorongan Woohyun.
"Aku tak suka kau bersikap kekanakan pada pria Thailand yang sok tampan itu!"
"Mwo? Apa hakmu memerintahku seperti itu? Nick sahabatku dari kecil, dan kurasa wajar jika aku dekat dengannya"
"Kau milikku Hyung. Dan aku tak suka jika ada orang lain yang mengambil apa yang menjadi milikku!"
"Kau gila Nam Woohyun!"
"Ya, aku gila karenamu. Kumohon jangan berpura pura lagi, sejak awal kau menginginkanku. Kenapa kau sama sekali tak mau membantuku untuk memperjuangkannya!" teriakan Woohyun tak kalah terdengar frustasi dengan teriakan Sunggyu sebelumnya. Mereka beruntung, karena toilet sedang dalam keadaan sepi hingga Sunggyu dan Woohyun tak perlu khawatir menjadi pusat perhatian karena saling memaki seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Aku tak mau menyakiti Key" akhirnya Sunggyu mengalah dengan mengurangi kadar emosi dalam kalimatnya. Tentu itu membuat hati Woohyun menjadi melemah dan memilih membelai pipi chubby Sunggyu agar degup jantungnya kembali normal.
"Tak akan ada yang tersakiti, jika kita melakukannya dengan benar Hyung"
"Smua salah pada awalnya, seharusnya aku tak membiarkan rasa ingin memilikimu ini semakin kuat" Sunggyu tak dapat menahan airmata yang semakin medesak keluar dari pelupuk matanya.
"Mianhae Hyung" Woohyun hendak meraih kembali tubuh lemah Sunggyu dalam pelukannya, saat tangan pria manis itu menahannya dengan mendorong pelan dada bidang Woohyun.
"Biarkan seperti ini dulu Hyun. Aku butuh waktu untuk memikirkannya" seandainya Woohyun dapat mengklaim ucapan Sunggyu yang telah mengkopi perkataannya sebelumnya. Namun, lidah pria tampan itu terasa semakin kelu saat cairan bening itu semakin membanjiri mata sipit kesayangannya. Dan apa yang dapat ia lakukan hanya membiarkan Sunggyu terlepas dari kurungan tangannya, tanpa berniat untuk mengejar pria manis itu sedikit pun yang telah menghilang dari pandangan mata.
. . .
"Hyung, jadi apa saja yang kau lakukan di Thailand?"
Sunggyu, Nickhun, Key dan Woohyun merayakan kesuksesan pameran lukisan Sunggyu dengan minum minum di kedai soju yang terletak tak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Sunggyu sempat menolak acara minum minum ini karena ia masih merasa tak enak jika harus memandang wajah Woohyun, tetapi ia tak dapat mengelak saat Nickhun dan Key terus memaksanya, dan berakhir dengan mengikuti mereka tanpa bicara sepatah kata pun.
"Tak banyak, hanya melanjutkan perusahaan milik keluargaku. Walaupun aku lebih ingin menghabiskan waktu dengan melukis seperti Sunggyu, tapi sepertinya aku harus mengubur impianku itu dalam dalam"
"Waktu kalian masih sekolah bersama, kulihat kau sangat akbrab dengan Sunggyu Hyung?"
"Ye, kami sangat. Bukan begitu Gyu?" Nickhun melirik ke arah Sunggyu dengan mengedipkan sebelah matanya mengundang Woohyun berdecak pelan.
"Tentu saja, kau sahabat terbaikku" Sunggyu mengangguk.
"Kau yakin hanya sahabat Hyung?" kali ini pertanyaan Key diiringi dengan tatapan nakal pria bermata kucing itu.
"Maksudmu?" Sunggyu mendelik tak mengerti dengan arah pembicaraan Key.
"Oh ayolah Hyung, bukankah kau menolak mempunyai kekasih karena menunggu Nick Hyung pulang dari Thailand bukan? Aku rasa kalian cocok"
"Ck, aku sedang malas bercanda Key"
"Benarkah seperti itu Kibum ah? Aku tak percaya kalau Sunggyu menyukaiku, hahahaha" Nickhun tertawa keras mendengar penuturan Key, mereka tak menyadari candaan itu sedikit berlebihan untuk dicerna indera pendengaran Woohyun hingga ia lebih memilih diam sambil menikmati soju yang tersedia di atas meja.
"Hey, panggil aku Key, Hyung! Itu sangat tidak keren!" sungut Key karena Nickhun memanggilnya dengan nama aslinya.
"Mianhae mianhae, aku lupaa" ujar Nickhun sambil mengusak rambut pirang Key.
Perbincangan antara Key dan Nickhun terhenti saat daging yang mereka bakar telah siap untuk disantap. Key melanjutkan candaan kecil dengan Nickhun, sepertinya mereka sangat akbrab terutama saat candaan mereka menyinggung soal Sunggyu. Sedangkan Woohyun, sejak awal mereka masuk kedai, pria tampan itu sama sekali tak mengeluarkan suaranya, ia bahkan tak menyentuh daging panggangnya sama sekali dan lebih banyak minum soju.
"Ayo kita lakukan permainan putar botol" secara tiba tiba Key mengusulkan sebuah permainan setelah mereka selesai makan malam.
"Itu permainan anak kecil, Key ah" sahut Sunggyu dengan mata setengah mengantuk, efek dari beberapa gelas soju yang diminumnya mulai terasa karena Sunggyu mudah sekali mabuk. Ia akan benar benar mabuk jika ditambah beberapa gelas lagi.
Key sama sekali tak menghiraukan protes Sunggyu, ia membereskan beberapa piring kotor di atas meja dan meletakan botol soju yang sudah kosong sebagai penggantinya.
"Siapapun yang ditunjuk botol soju ini harus menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jujur. Jika tak bisa menjawab, sebagai hukumannya meminum satu mangkuk penuh soju" Key menjelaskan dengan semangat aturan permainan yang dibuatnya, hanya Nickhun yang terlihat antusias dengan penjelasan Key, berbanding terbalik dengan Woohyun dan Sunggyu yang sama sekali terlihat tak berminat.
"Jjaa, kalau begitu. Aku yang pertama memutar botolnya" Key mulai memutar botol kosong dalam genggamannya.
Putaran pertama botol mengarah tepat di hadapan Nickhun.
"Omo, kenapa aku yang pertama" keluh Nickhun, kemudian menuangkan penuh soju dalam mangkuk di hadapannya.
"Biar aku yang mengajukan pertanyaannya" seru Key dengan mata berbinar.
"Hyung, jujurlah pada kami. Kau menyukai Sunggyu Hyung bukan?" tanya Key dengan raut wajah penuh keseriusan, ia menggunakan botol soju kosong lainnya untuk mengimitasikannya sebagai mic yang disodorkan kepada Nickhun.
Pria Thailand itu terlihat terdiam, namun kemudian tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Key.
"Bagaimana ini? Aku ingin sekali meminum soju ini, tapi aku juga benar benar menyukai Sunggyu"
Perkataan Nickhun membuat Sunggyu kembali ke alam sadarnya setelah ia sempat setengah mengantuk. Bukan hanya karena Nickhun yang sudah terlanjur jujur ataupun Key yang bersorak karena pengakuannya, tetapi juga karena Sunggyu semakin merasakan aura ketidaksukaan Woohyun terhadap pria Thailand itu. Dan sebelum Woohyun berkata yang tidak tidak, Sunggyu meraih botol soju kosong itu dan memutarnya kembali.
Putaran kedua botol kosong mengarah tepat di hadapan Key.
"Whoaaa, kuharap kalian tak menanyakan hal yang tidak tidak"
"Kau terlalu percaya diri Key!" decak Sunggyu.
"Lalu siapa yang akan bertanya padaku?"
Tak ada jawaban, namun Sunggyu kemudian mengangkat tangannya.
"Seberapa banyak kau mencintai Woohyun?" tanya Sunggyu.
"Hmm, pertanyaanmu sangat sulit untuk dijawab Hyung. Tapi kalau kau mau tau, aku bisa mati jika kehilangan Woohyun. Dia adalah nafasku"
Ucapan Key membuat rasa bersalah menyeruak dari dalam hati Sunggyu. Ia merasa seperti pengkhianat yang sudah menusuk Key dari belakang, kakak macam apa yang tega menginginkan nafas yang menjadi hidup sang adik. Ia pantas berada dibawah penghukuman guilotine karena sudah berkhianat terhadap orang yang telah mengasihinya. Pemikiran semacam itu membuat Sunggyu tertunduk dalam dan tak mampu menatap Key lebih lama, hingga ia tak sadar saat putaran botol soju selanjutnya mengarah kehadapannya.
"Kau kena Hyung!" seru Key membuat Sunggyu terbangun dari lamunannya.
"Biar aku yang bertanya" Woohyun yang diam seribu bahasa sejak awal mereka mulai makan malam, tiba tiba mengajukan diri untuk bertanya kepada Sunggyu.
Sunggyu menahan nafasnya berharap pertanyaan yang diajukan Woohyun bukanlah sesuatu yang menjebaknya dalam situasi yang semakin tak nyaman.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan Hyung?" tanya Woohyun dengan memicingkan matanya.
"Mwo?"
"Key pernah bertanya padamu apa yang paling kau inginkan dalam hidupmu, dan kau sama sekali belum menjawabnya"
"Woohyun benar Hyung, kau belum menjawab pertanyaanku, dan itu membuatku frustasi karena penasaran" Key mendukung penuh atas apa yang ditanyakan Woohyun hingga membuat Sunggyu semakin terdesak.
"Aku pilih minum saja" Sunggyu meraih mangkuk berisi soju dan meminumnya dengan sekali tegak. Ia menatap Woohyun yang ada dihadapannya dengan tatapan memohon. Saat ini Sunggyu hanya berharap segera menyelesaikan permainan konyol yang dibuat Key, dan segera meninggalkan situasi yang benar benar bisa membuat jantungnya berhenti berdetak dengan mendadak.
Woohyun POV
Sunggyu Hyung dan Key tertidur di atas meja setelah beberapa kali mereka harus meminum soju karena tak mau menjawab pertanyaan yang ditanyakan pada mereka. Bukan peminum yang baik, namun lebih memilihnya karena ingin menghindar dari pertanyaan konyol, ck. Dan sekarang aku harus menghadapi si pemuda Thailand itu, karena hanya aku dan dia yang masih terjaga dari mabuk.
"Kurasa mereka benar benar tertidur. Akan sangat sulit membangunkannya" ujarnya berusaha memecahkan kecanggungan antara kami.
"Nde, mereka harus digendong sampai ke hotel" sahutku.
"Kau bawalah Key, biar aku yang mengantar Sunggyu ke kamarnya"
"Nickhun shii, boleh kuminta tolong kau yang antarkan Key ke kamarnya. Biar aku yang mengantar Sunggyu Hyung" sebisa mungkin aku mencegah Nickhun yang sudah bersiap mengangkat tubuh Sunggyu Hyung. Aku tak ingin pemuda Thailand itu mendekati milikku lagi, dan tak akan pernah kubiarkan itu terjadi.
"Tapi Woohyun shii.." Nick terlihat kebingungan dengan permintaanku, mungkin ia merasa sedikit aneh denganku yang lebih memilih mengantarkan Sunggyu Hyung daripada kekasihku sendiri.
"Kumohon.." kubuat suaraku lebih memelas kali ini.
Nickhun menghela nafasnya pelan, kemudian bergeser untuk menaikkan tubuh Key ke atas punggungnya.
"Terserah kau saja, pastikan Sunggyu selamat sampai kamarnya"
"Kau bisa memastikannya sendiri, kamar Key tepat bersebelahan dengan kamar Sunggyu Hyung" ujarku dengan suara mantap.
Kami mengangkat tubuh dua pria yang sudah mabuk berat itu untuk diantarkan ke kamar mereka masing masing.
Saat kami tiba di depan pintu kamar hotel, Nick segera membawa masuk Key ke dalam kamarnya. Aku menyusul dengan membawa Sunggyu Hyung menuju tempat istirahatnya.
Kuletakkan secara perlahan dan hati hati tubuh Sunggyu Hyung di atas bednya, seolah ia adalah barang pecah belah yang sangat berharga dan tak ingin kugores sedikitpun. Kubelai lembut surai madu itu, dan sedikit mencuri ciuman dari bibir ranumnya, namun bibir itu benar benar menghipnotisku hingga tanpa sadar aku melumatnya perlahan.
"Aku benar benar mencintaimu Hyung!" ucapku dengan perlahan tepat ditelinganya.
Dan saat aku beranjak akan meninggalkan kamar tersebut, sebuah pelukan dari belakang membuat langkahku terhenti dan membuatku memutuskan untuk lebih lama berada di kamar tersebut.
Author POV
Sunggyu memeluk erat tubuh Woohyun dari belakang.
"Aku juga sangat mencintaimu Hyun, kumohon jangan tinggalkan aku" lirih pemuda manis itu. Woohyun berani bersumpah ia rela melepaskan semua yang dimilikinya hanya untuk mendengar kalimat yang baru saja Sunggyu ucapkan walaupun pria itu tau Sunggyu mengatakannya dalam keadaan setengah mabuk.
"Kau mabuk Hyung!"
Woohyun dapat merasakan Sunggyu menggeleng dipunggungnya.
"Aku memang setengah mabuk saat ini, namun aku tak dapat menahannya lagi. Walaupun Key bilang kalau kau adalah nafasnya tapi dia bisa bertahan hidup dengan bantuan udara lain. Namun bagiku, kau adalah jiwaku dan aku sama sekali tak dapat hidup tanpa sebuah jiwa" kalimat Sunggyu selanjutnya membuat senyum mengembang di wajah tampan Woohyun. Ia membalikkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Sunggyu. Dengan perlahan Woohyun menarik dagu Sunggyu hingga pria manis itu mendongak untuk menatapnya.
"Katakan lagi Hyung" pinta Woohyun.
"Apa?"
"Kalimat yang baru saja kau ucapkan barusan!"
Sunggyu tersenyum, jemarinya menyusuri setiap inchi wajah tampan Woohyun kemudian berhenti tepat di bibir tebalnya dan mengusapnya secara perlahan.
"Aku mencintaimu Nam Woohyun, kau adalah jiwaku dan aku tak akan bisa hidup tanpamu disisiku" dengan penuh keyakinan Sunggyu mengucapkan sebuah ikrar yang dirasanya akan meminta banyak pengorbanan. Namun ia tak peduli, hasrat untuk memiliki Woohyun semakin tak terbendung dan demi penguasa langit dan bumi, Sunggyu rela melakukan apapun agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Toh, Woohyun pun menginginkannya seperti Sunggyu menginginkan Woohyun.
Dan dalam hitungan detik Woohyun menarik tubuh Sunggyu untuk bergumul dalam manisnya sebuah dosa.
. . .
Woohyun menghadiahi Sunggyu dengan ciuman panas dalam dinginnya malam di Pulau Jeju. Ia melumat dengan intens bibir ranum pria dihadapannya dan dengan perlahan mendesak Sunggyu untuk tidur di atas bednya. Saat Sunggyu telah tertidur di tengah bed king size itu, tanpa ragu Woohyun menindih tubuh rapuh itu hingga mengundangnya untuk mendesah.
Ciuman Woohyun berlanjut bahkan semakin liar saat mereka sudah merebahkan diri di atas bed. Tangan pria tampan itu bergerilya melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan Sunggyu. Mantel dan kemeja yang berhasil dilepaskannya, ia buang ke sembarang arah, sedangkan fokus pria tampan itu hanya pada gerakan bibirnya yang terus menjelajahi seluruh pemukaan kulit Sunggyu.
"Nnngggg" Sunggyu tak dapat menahan desahannya, saat sapuan bibir Woohyun mengenai titik titik sensitif di area lehernya. Ia mencengkeram kerah kemeja Woohyun saat menahan sensasi mengelitik itu.
"Oooh, Hyuunnn" Sunggyu semakin meracau tak jelas saat Woohyun melumat perlahan salah satu tonjolan di dada putihnya, sedangkan tonjolan yang satunya diusap pelahan oleh jemari Woohyun, rasanya seperti geli yang kau rasakan saat menaiki roller coaster.
Woohyun merasakan sesuatu di antara selangkang Sunggyu telah menegang, ia meraup perlahan tonjolan tersebut dan mengusapnya pelan.
"Cepat sekali kau tegang Hyung? Aku bahkan baru mulai permainanku" ujar Woohyun dengan seringaian penuh pada wajahnya.
"Oughhh, berhenti.. bermain main Hyuunn" Sunggyu semakin tak dapat menahan desahannya saat Woohyun meremas perlahan tonjolan tersebut dan mengusap dengan seduktif kedua paha Sunggyu.
"Hmm, kalau begitu aku tak akan bermain main lagi" Woohyun kemudian melepaskan celana yang Sunggyu kenakan termasuk dalaman pria manis itu. Dan sesuatu mencuat saat dalaman berhasil dilepaskan. Tanpa ragu Woohyun segera mengulum milik Sunggyu yang telah tegang itu, dan menenggelamkannya dalam mulut hangatnya.
"Eeerrhhh, Hyuuun" desahan itu berubah menjadi erangan karena Sunggyu semakin tak dapat menahan hasratnya. Woohyun melakukan gerakan mulutnya yang mengulum milik Sunggyu secara konstan dan semakin cepat saat benda dalam mulutnya mulai berkedut.
"Hyyuunn, lepaskann. Sebentar lagii" pinta Sunggyu.
"Kumohon Hyunn, akan keluar" Sunggyu setengah memelas memohon kepada Woohyun.
"Hyuunn" dan setelahnya cairan putih itu memenuhi mulut Woohyun membuat Woohyun melepaskan milik Sunggyu yang masih setengah tegang.
"Omo, mianhae. Sudah kubilang untuk melepaskannya. Aku jadi mengotori wajah tampanmu" Sunggyu bangkit dari posisi tidurnya dan mengusap pelan bibir Woohyun yang masih dipenuhi cairan percumnya. Woohyun menautkan bibirnya kembali dengan bibir Sunggyu kemudian merebahkan tubuh telanjang Sunggyu yang berada dibawah kendalinya.
"Tak apa Hyung, rasanya manis sepertimu" ucapan Woohyun membuat semburat berwarna merah jambu itu hadir di kedua pipi chubby Sunggyu, bahkan Woohyun dapat melihatnya meski dalam cahaya remang seperti di kamar Sunggyu.
Woohyun merasakannya celananya semakin terasa ketat, ia menatap Sunggyu yang masih tertunduk di bawahnya, menarik dagunya pelan kemudian berbisik.
"Hyung, boleh kulakukan?" pinta pria tampan tersebut.
Sunggyu mengecup pelan bibir Woohyun dan mengangguk. Dengan gerakan cepat, Woohyun menanggalkan seluruh pakaiannya, menampilkan tubuh atletis yang membuat Sunggyu semakin tertunduk malu. Woohyun memposisikan tubuhnya untuk mempermudah penyatuan tubuhnya dengan tubuh Sunggyu.
"Aaakk" Sunggyu memekik perlahan saat merasakan panas yang menjalar dibagian bawah tubuhnya saat Woohyun menyatukan tubuh mereka.
"Mianhae Hyung. Aku akan pelan"
Dengan perlahan Woohyun berusaha melakukan penyatuan tubuhnya kembali yang sempat terhenti karena teriakan Sunggyu. Dan saat tubuh keduanya telah menyatu sempurna, membuat sang pecinta kembali melepaskan erangan.
"Bergeraklah" perintah Sunggyu.
Woohyun mengangguk, ia mulai bergerak secara perlahan memaju mundurkan miliknya yang telah terbenam sempurna di dalam hole Sunggyu. Sunggyu meringis kesakitan karena gesekan milik Woohyun dengan holenya menimbulkan sakit yang luar biasa. Namun, ia tak mungkin menyiksa Woohyun dengan meminta Woohyun untuk menghentikannya sekarang. Untuk mengurangi rasa sakit yang semakin terasa, tanpa sadar Sunggyu mengigit dengan kencang baru Woohyun yang dijadikan penopangnya.
"Nggghh, oowwhh, yeess, there Hyuunn" Sunggyu semakin mengerang saat gerakan Woohyun sampai pada titik kenikmatannya.
Woohyun semakin menyeringai, gerakan tubuhnya ia fokuskan pada spot kenikmatan milik Sunggyu dan secara perlahan ia menaikkan tingkat kecepatan gerakannya.
"Ngghhh, Woohyun aah"
"Mendesahlah terus Hyung, desahanmu membuatku semakin bersemangat" ujar Woohyun di sela gerakannya yang semakin konstan.
"Aaakhh, aku mencintaimu Nam Woohyun pabbo" erang Sunggyu. Woohyun kembali tersenyum, ia kembali melumat bibir tipis Sunggyu dan tak lama keduanya mencapai puncak kenikmatan dari kegiatan bercinta mereka.
Cairan itu membasahi kedua tubuh telanjang yang telah basah oleh peluh masing masing, membuat tubuh keduanya semakin menempel karena lengket. Woohyun berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah setelah mengalami puncak kenikmatan. Ia mendongakan kepalanya menatap kedua mata Sunggyu yang setengah memejam karena sedang mengatur nafasnya juga. Bibir tipis itu setengah terbuka, berusaha meraup banyak oksigen untuk memenuhi kebutuhan paru parunya.
"Gwaenchana?" tanya Woohyun sambil mensejajarkan pandangannya dengan mata sipit Sunggyu tanpa melepaskan ikatan tubuh mereka. Sunggyu mengangguk, masih dengan mata setengah terpejam.
"Mmm, Hyung boleh aku melakukannya lagi?" tatapan Woohyun kali ini seperti anak kucing yang berharap mendapatkan makan malam kedua dari majikannya. Membuat Sunggyu sama sekali tak tega jika harus menolaknya.
Dan lagi lagi mereka harus terjerumus dalam manisnya dosa pengkhianatan. Bahkan jika Tuhan menakdirkan Sunggyu untuk menjadi seorang pengkhianat yang membusuk hingga ke inti, pria manis tersebut rela karena demi apapun ia tak akan melepaskan keinginannya yang satu ini, dan ia akan memperjuangkannya meski ia harus berhadapan langsung dengan sang penguasa bumi dan langit..
. . .
Sunggyu POV
Cahaya pagi yang menembus kaca jendela kamar hotel tempatku menginap sedikit mengusik mataku yang belum terbuka sempurna. Apa aku lupa menutup jendela semalaman? Bagaimana mungkin aku bisa sepikun itu bahkan hanya untuk menutup jendela kamar, beruntung tak ada yang memergoki kegiatanku dan Woohyun semalam.
Semalam? Oh, pipiku terasa semakin panas saat mengingat kembali apa yang aku dan Woohyun lakukan tadi malam. Semalam adalah hal yang paling indah yang pernah kualami, dan selamanya akan membekas di salah satu sudut hatiku.
Pikiranku kembali bergejolak saat kurasakan sebuah lengan membelenggu tubuh telanjangku. Tangan itu terasa hangat menyelubungi tubuhku yang masih tertutupi selimut tebal. Kuberanikan diri membalikkan tubuhku menghadap pria tampan yang sangat aku cintai, dan tak dapat kusembunyikan senyuman ini saat kudapati wajah damainya yang masih tertidur pulas.
Aku tersenyum simpul, Woohyun benar benar terlihat sangat tampan bahkan ketika sedang tertidur. Tanpa sadar jemariku menari di permukaan kulit wajahnya, membelai dengan lembut dan kemudian kuberanikan diri mencuri sebuah ciuman lembut dari bibir tebalnya. Aku bersumpah itu hanya sebuah kecupan, namun aku sangat terkejut saat kemudian senyum kepuasan tercetak jelas di wajah tampan Woohyun.
"Dasar pencuri" tuduh Woohyun kemudian membuka kedua foxy matanya.
"Dasar pembohong, kupikir kau masih tertidur" aku berusaha mengalihkan rasa malu yang kurasakan karena ketauan mencuri ciuman di bibir Woohyun ketika pria tampan itu masih tertidur dengan berusaha bangkit dari posisi tidurku. Namun tangan kekar Woohyun menahanku dengan semakin mempererat tautannya di pinggangku, dan sialnya aku jadi terjatuh di atas tubuh Woohyun yang juga masih tanpa sehelai benang yang menutupinya. Kurasa pipiku sudah semerah tomat saat ini, tubuh kami yang sama sama telanjang membuatku malu setengah mati.
"Kau mau kemana chagii?" sial, suara Woohyun benar benar terdengar menggoda di indera pendengaranku hingga aku tak sanggup untuk menatap wajahnya hanya untuk sekedar mengucapkan 'selamat pagi'.
"Kau kenapa?" tanyanya lagi, kali ini aku menangkap sedikit kekhawatiran dari nada suaranya.
Aku menggeleng..
"Aku baik baik saja, hanya sedikit bingung Hyun" akhirnya kuberanikan diri menatap mata yang penuh keteduhan. Kusandarkan daguku pada dada atletisnya, posisi ini benar benar membuatku nyaman.
"Bingung?" ia terlihat sedikit keheranan.
"Hmm, aku bingung bagaimana menghadapi Key nanti"
Woohyun tersenyum, ia menarik tubuhku agar berada di bawah tubuhnya kembali. Ck, mengapa ia tak sadar juga kalau tubuh nakednya benar benar menggodaku hingga aku mati matian menahan hasrat yang tak jelas ini.
"Kita akan menghadapi bersama sama chagi, kau tak perlu khawatir"
"Rasanya sedikit aneh kau memanggilku chagi"
"Lalu kau mau aku memanggilmu apa? Honey atau yeobo? Ah, karena kita akan segera menikah lebih baik kita saling memanggil yeobo mulai saat ini?" kalimat Woohyun kali ini benar benar membuatku merasa malu dan tanpa segan segan aku menjitak kepalanya.
"Siapa bilang aku mau menikah denganmu!" sedikit berakting marah kurasa tak akan mengurangi kadar cintanya kepadaku.
"Yak! Kau tak mau menikah denganku?" aku mengangguk mengiyakan kalimat Woohyun. Pria tampan itu terlihat membuat pose berpikir, dan aku sedikit merasa ngeri saat seringaian itu kembali muncul di bibir sexy nya.
"Kalau kau tak mau menikah denganku, setidaknya kita lakukan lagi seperti yang semalam. Kudengar morning sex baik untuk kesehatan tubuh"
"Mwo? Shireoooo, bokongku masih terasa sakit bodoh!" Woohyun tak menghiraukan teriakanku dan lebih memilih menarik selimut tebal untuk menutupi kembali tubuh telanjang kami.
. . .
Setelah melakukan kembali, ehm apa yang Woohyun bilang? Morning sex? Oh aku benar benar gila jika kembali membayangkannya, pria itu seperti memiliki cadangan energi pada tubuhnya, bahkan setelah semalaman melakukannya, ia masih sanggup untuk melakukannya beberapa kali pagi ini. Aku bahkan tak memiliki tenaga lagi untuk sekedar mandi dan berganti pakaian dan lebih memilih hanya mengenakan kemeja yang sebelumnya dikenakan Woohyun, sedangkan pria tampan itu sendiri hanya mengenakan kaus dalam putih yang sedikit transparan juga boxer berwarna putih, menampilkan setiap lekukan tubuhnya yang tercetak jelas dari balik kaus tersebut. Dia benar benar sexy.
Kau beruntung mendapatkannya Kim Sunggyu..
Seperti yang kubilang sebelumnya, karena aku tak sanggup untuk pergi mencari sarapan pagi di lobby hotel, kuputuskan untuk memesannya melalui jasa layanan kamar hotel. Selain itu, aku tak ingin menemui Key dengan menggunakan syal tebal. Ck, Woohyun benar benar ingin membuatku mati berdiri, kenapa ia membuat tanda kepemilikan di seluruh permukaan kulitku, sepertinya bekas ini tak akan hilang selama beberapa hari ke depan.
"Kau mau sarapan apa Hyun?" sambil mengantungkan telepon yang masih menghubungkanku dengan bagian Room Service aku mengguncangkan tubuh Woohyun yang masih tertidur di atas bed.
"Apa saja chagi, aku belum begitu lapar. Hanya mengantuk!" Betul kan, dia benar benar sebuah terminator, ia bahkan tak merasakan lapar sama sekali setelah kegiatan yang menguras tenaga. Aku menghela nafas pelan, sebelum akhirnya memutuskan untuk memesan dua caramel macchiato dan dua menu sandwich, jika Woohyun tak mau memakannya kurasa perutku yang terasa sangat lapar masih sanggup untuk menampungnya.
"Apa kau akan terus tidur Pangeran tampan?" ujarku sembari mengambil posisi untuk tidur di sebelah Woohyun.
"Apa yang kau butuhkan Putri cantik?"
"Ck, bodoh. Aku ini pria, bagaimana mungkin kau menyebutku cantik. Kau sudah menghinaku!"
"Jangan mengelak chagi, bahkan setiap cermin yang kau gunakan pasti setuju untuk lebih memanggilmu cantik daripada tampan?"
Errrghh, entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada makhluk yang memerlukan pertolongan jiwa seperti dia? Ck, aku berdecak tak percaya karena pada akhirnya aku lebih memilih untuk naik keatas tubuhnya, menarik kerah kausnya hingga tubuh Woohyun sedikit terangkat dari bed. Woohyun terbangun paksa dari tidurnya saat aku mulai melumat ganas bibir sexynya. Ia segera membalasku, dengan menahan tengkuk belakangku, membuat ciuman kami semakin dalam dan liar. Tangan kirinya bertumpu pada bed untuk menopang tubuhku yang masih berada di atas perutnya. Bunyi kecipak saliva terdengar di antara kegiatan berciuman kami, menandakan betapa bergairahnya aktivitas yang kami lakukan.
"Mau adu kekuatan cantik?" tanyanya dengan senyum penuh gairah.
"Kukira kau sedang mengantuk?"
"Oh, aku selalu siap jika harus melayanimu Sir" ujarnya membuatku tersenyum geli.
Kudekatkan wajahku dengan wajah tampan Woohyun, hembusan nafasnya terasa lembut menyapu wajahku saat jarak antara kami semakin tereliminasi, dan membuatku ehm, semakin bergairah. Rasa menggelitik yang menyerang perutku semakin tak terkontrol.
"Aku butuh sebuah ciuman hangat lagi, apa kau bisa memberikannya kepadaku Sir?" Aku membuat suaraku yang keluar terdengar seseduktif mungkin. Demi tuhan, ini pertama kalinya aku bersikap liar seperti ini, dan kuharap apa yang aku lakukan tak membuat kedua orangtuaku gelisah di pembaringan terakhir mereka.
"Anytime" suara Woohyun tak kalah seduktif saat menjawab permintaanku.
Ia kembali meraih bibirku dan menarikku dalam sebuah ciuman hangat. Kurasa baik aku ataupun Woohyun tak akan pernah bosan dengan manisnya ciuman yang kami lakukan. Saat kami masih sibuk dengan kegiatan saling melumat, terdengar bunyi ketukan di pintu kamarku.
"Ehmpp, Hyun.. pintunyaa" aku berusaha melepaskan diri dari lumatan bibir dan cengkraman pelukan Woohyun yang membuatku tak bisa bergerak.
Woohyun tak menghiraukan rintihanku mengenai ketukan pintu dan lebih memilih untuk terus memanjakan bibirku dengan ciumannya. Akhirnya dengan berat hati aku mendorong kencang tubuh Woohyun hingga pria itu jatuh terlentang di atas bed.
"Wae?" serunya kesal.
"Kubilang ada yang mengetuk pintu, kenapa kau pura pura tuli?"
"Ck, seharusnya aku protes pada pemilik hotel ini karena petugas Room Service yang sangat senang mengganggu aktivitas sarapan pagi tamunya"
"Dasar Konyol!" umpatku, kemudian melemparkan bantal di wajah Woohyun dan beranjak turun dari bed.
Sedikit merasa aneh karena aku baru saja memesan sarapan beberapa menit yang lalu, dan sekarang bagian pelayanan kamar sudah mengantarnya. Walaupun begitu, aku tak ragu sama sekali saat membuka pintu kamarku tanpa mengecek siapa yang berada di balik pintu tersebut melalui lubang pintu. Dan keterkejutan itu muncul saat aku harus menghadapi sesuatu yang justru aku coba hindari pagi ini.
Author POV
"Key!" pekik Sunggyu saat ia mendapati adik sepupunya yang berdiri dibalik pintu yang ia buka.
"Hyung, lama sekali kau membuka pintu? Aku ingin mengajakmu mencari sarapan! Apa Woohyun ada di kamarmu. Kudengar dari Nick Hyung kalo dia yang mengantarmu semalam?"
Lidah Sunggyu terasa kelu, ia tak tau harus menjawab apa ocehan Key kali ini. Dan yang ia bisa lakukan hanya berusaha menutupi tanda merah di lehernya dengan menarik ke atas kerah kemeja Woohyun yang ia kenakan.
"Apa mereka sudah bangun?" belum hilang keterkejutan Sunggyu dengan hadirnya Key di balik pintu kamarnya pagi ini, Sunggyu harus kembali menelan saliva karena Nickhun muncul dari belakang tubuh Key. Tak seperti Key yang masih belum menyadari apa yang sudah terjadi, Nickhun sepertinya mengerti dengan hanya melihat penampilan Sunggyu yang berantakan pagi ini. Ia hanya menatap tak percaya dengan membuka setengah mulutnya, membuat Sunggyu semakin ketakutan setengah mati.
Key membulatkan matanya, sepertinya ia sudah menyadari sesuatu yang salah pada keadaan Sunggyu.
"Kau kenapa Hyung? Kenapa kau memakai kemeja yang Woohyun pakai semalam? Dan apa yang kau tutupi dilehermu?" akhirnya apa yang Sunggyu takutkan terjadi, ia melihat aura kemarahan yang terpancar dari sorot mata Key saat ia melihat tanda kemerahan yang tercetak jelas di seluruh leher Sunggyu.
"Apa yang kau lakukan semalam dengan Woohyun?" airmata mulai menggenang di pelupuk mata Key, namun sama sekali tak mengurangi aura kemarahan dari tatapan matanya. Ia mendorong kasar tubuh Sunggyu hingga pria manis itu jatuh terjerembab tepat di dekat bed membuat Woohyun yang sedang tidur di atas bed tersebut ikut terlonjak karena kaget.
"Apa kalian melakukan sex semalam?" sindir Key, ia berjalan mendekat arah Sunggyu yang masih duduk terdiam di lantai dengan raut wajah penuh ketakutan.
Woohyun yang langsung menyadari apa yang terjadi segera menghampiri Sunggyu yang masih terlihat shock. Ia meraih tubuh Sunggyu dan membantunya untuk berdiri, namun Sunggyu seperti kehilangan kekuatan kakinya hingga ia sempat akan terjatuh kembali sebelum kemudian Woohyun membantunya berdiri kembali. Ia segera menyembunyikan Sunggyu di belakang tubuhnya agar tak terjangkau dari Key jika pria manis itu tiba tiba kehilangan kendali untuk menyakiti Sunggyu.
"JAWAB AKU" kali ini Key berteriak histeris.
"Ya, kami melakukannya. Aku dan Sunggyu Hyung saling mencintai, Key ah. Dan berniat memberitahumu setelah kita pulang ke Seoul nanti, tapi ternyata kau harus melihatnya sekarang" Woohyun menjawab teriakan Key dengan nada lirih.
"MWO?" Key berdecak frustasi, ia memijat kening kemudian menghapus airmata yang terjatuh di sudut matanya dengan kasar.
"Nappeun..." lirih Key.
"Marahlah padaku. Tolong jangan salahkan Sunggyu Hyung, aku yang memaksanya."
"Kalian benar benar jahat. Kenapa kalian tega melakukannya?" isak Key, airmata yang sebelumnya telah mengering kembali membentuk aliran di pipi tirus Key.
"Maaf…" Sunggyu tak dapat menahan isakannya kali ini, ia menangis sesegukan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Maaf? Hanya itu yang bisa kau katakan HYUNG?"
"Aku tak tau harus berbicara apalagi? Dan kuterima semua penghukuman darimu. Tapi untuk kali ini aku tak bisa mengalah, aku benar benar mencintai Woohyun, Key ah" Sunggyu kembali berusaha mendapat pengampunan dari Key yang terlihat semakin tak dapat mengontrol emosinya.
"CUKUP!" Key kembali berteriak histeris, ia mendorong tubuh Woohyun yang melindungi Sunggyu dan menarik kasar pria manis itu saat Woohyun jatuh terjerembab.
"Ikut aku!" tegas Key dengan mata yang melotot sempurna. Ia menarik Sunggyu keluar dari kamar diiringi dengan tatapan bingung dari Nickhun. Pria Thailand itu tak tau harus berbuat apa, ia hanya bisa membiarkan Key membawa pergi Sunggyu yang meronta ronta meminta dilepaskan dan berusaha mencegah Woohyun yang bangkit untuk mengejar mereka.
"Lepaskan aku!" teriak Woohyun.
"Biarkan mereka menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum kau masuk di antara mereka kembali Woohyun shii" ucapan Nick terdengar paling lembut setelah sebelumnya hanya terdengar teriakan teriakan dari kamar tersebut.
Woohyun menjambak rambutnya dengan frustasi, kemudian dengan gerakan cepat ia mengenakan celana yang masih tergeletak di atas bed dengan terburu buru.
"Aku tak bisa menunggu" ujarnya sambil berlari melewati Nickhun untuk mengejar Key yang telah jauh membawa pergi Sunggyu.
. . .
"Key, kumohon lepaskan aku!" Sunggyu terus memohon dan meronta agar Key melepaskannya, namun cengkraman tangan Key terlalu kuat membuat energi Sunggyu menjadi terbuang sia sia.
Pria bermata kucing itu terus menyeret Sunggyu hingga pelataran parkir. Key bahkan tak menghiraukan tatapan aneh dari setiap tamu hotel yang memandanginya saat ia melewati lobby hotel. Bagaimana mereka tak heran, selain karena teriakan teriakan Sunggyu tentu mereka juga akan merasa aneh dengan kondisi Sunggyu yang hanya mengenakan kemeja yang longgar di tubuhnya.
Brukk. Key mendorong tubuh Sunggyu masuk kedalam mobil, ia menempatkan Sunggyu di kursi samping pengemudi dan setelahnya ia kembali menutup pintu mobil dengan kasar.
Sunggyu meringis. Cengkraman kuat Key menciptakan bekas kemerahan yang menimbulkan perih di pergelangan tangannya.
Key berjalan memutari mobil, ia segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah ia berada di bangku kemudi. Tatapan matanya tak dapat ditebak, terpancar jelas kemarahan, kekecewaan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu membuat rasa bersalah dalam hati Sunggyu semakin membesar.
Sunggyu melirik ke arah kaca mobil, ia berusaha mengenali jalanan pagi berkabut yang ditembus kecepatan tinggi mobil Key. Matanya membulat, saat sadar Key sedang membawanya menuju bandara.
"Key.. kau mau membawaku kemana?" tanya Sunggyu pelan, ia tak mau menambah jumlah kerutan pada kening Key yang sedang menahan amarah.
"Kita akan segera pulang ke Seoul, aku akan mengadukanmu pada Appa dan Eomma" dengan memicingkan matanya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Sunggyu, Key terus melajukan mobil hitamnya.
"Andwae, kumohon. Bukan dengan cara seperti ini memberitahu mereka" Sunggyu menggeleng sambil terus memohon kepada Key.
"Kau punya ide yang lebih baik? Berkacalah Hyung! Kau benar benar penipu ulung, berpura pura membenci Woohyun, tapi kau merebutnya di belakangku! Kau benar benar manusia jahat yang tau berterima kasih Kim Sunggyu!" akhirnya Key kembali mengeluarkan kalimat makian yang membuat paru paru Sunggyu kembali terasa sesak.
"Kumohon Key, aku tak tak mau menyakiti Appa dan Eomma" isak Sunggyu.
"Mereka bukan orangtuamu Hyung, berhentilah seolah olah kau memiliki mereka!"
Sunggyu tersentak, untuk pertama kalinya Key bersikap bahwa Sunggyu adalah orang asing dalam kehidupan keluarga Paman Kim. Sungguh demi apapun, itu kembali membuat lubang keperihan dalam hati Sunggyu.
"Kau benar Key. Aku memang jahat dan tak tau berterima kasih. Dan karena itu, aku tak akan membiarkan kita sampai di Seoul"
"Mwo?"
Sunggyu menarik stir kemudi yang dipegang Key, ia berusaha membalikkan arah kemudi tersebut, namun masih terhalang kedua tangan Key.
"Yak, kau mau apa brengsek!" teriak Key.
Sunggyu tak menghiraukan teriakan Key, ia kembali berusaha menguasai stir dengan mendekatkan dirinya kepada Key. Terjadi aksi saling merebut stir kemudi antara dua pria manis itu membuat mobil mereka hilang kendali dengan bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Key, tepikan mobil ini dan kita bicara baik baik dulu"
"Aku tak mau bicara dengan seorang pengkhianat!"
Saat mereka berdua masih berseteru dengan argument masing masing, keduanya tak menyadari kalau mobil yang mereka kendarai telah masuk ke jalur yang berlawanan. Sebuah truk melaju dengan kencang menghampiri mobil Key yang masih hilang kendali. Sopir truk berusaha memberi peringatan dengan membunyikan klason dengan panjang.
Sunggyu yang menyadari adanya truk di depan laju mobil, segera membanting stir kemudi ke arah samping untuk menghindari tabrakan dengan truk tersebut.
Namun, kecepatan mobil Key berada di atas batas kecepatan maksimum membuat mobil berputar tak terkendali.
"AAAAA" Sunggyu dan Key memekik secara bersamaan saat mobil yang mereka kendarai terguling dan baru berhenti berputar saat menabrak pembatas jalan. Sunggyu terpelanting keluar melalui kaca jendela mobil yang pecah tepat sebelum hantaman antara mobil dan pembatas jalan terjadi.
Dan selanjutnya yang terdengar adalah bunyi ledakan yang berasal dari tangki bensin yang bocor karena gesekan.
. . .
Sunggyu POV
"Hyuuungg" sayup sayup kudengar Key memanggilku. Saat kubuka kedua mata ini, baru kusadari darah mengalir deras dari kepalaku menimbulkan sakit yang luar biasa. Pandanganku mengabur, aku tak dapat menangkap jelas apa yang sebenarnya terjadi, hanya teriakan Key yang membuatku tetap terjaga.
"Hyuuuung. Tolong aku, aku tak bisa keluar!" Key kembali berteriak , kali ini lebih kencang. Aku bangkit dari posisi tidurku dan berusaha berjalan ke arah Key yang masih berada di dalam mobil yang terbalik. Sakit kembali kurasakan pada kedua kaki dan tanganku, kurasa tangan kananku patah karena aku sama sekali tak dapat menggerakkan.
"Hikss, tolong aku Hyung. Aku tak mau mati!" kali ini Key tedengar menangis kencang. Oh, apa yang harus kulakukan? Sakit yang menyerang seluruh syarafku membuat gerakanku semakin melambat. Dapat kulihat jarakku hanya beberapa meter dengan mobil Key, namun kenapa aku belum sampai juga ketempatnya.
Aku tak dapat menopangnya lagi dan kembali terjatuh. Kemana orang orang? Kenapa sama sekali belum ada pertolongan.
"To..loong" suara parau yang keluar dari tenggorokanku sama sekali tak membuatku melihat adanya pertolongan.
"Hyung, tolong aku! Mobil ini akan meledak!" suara Key terdengar semakin frustasi.
Kucoba untuk bangkit kembali agar dapat segera menyelamatkan Key, namun tubuhku terasa seperti lumpuh, aku menangis berusaha untuk terus menggapai Key.
Namun lagi lagi hanya kegagalan yang kualami, dan selanjutnya bunyi ledakan mobil itu membuatku benar benar tertarik dalam ketidaksadaran.
. . .
"Ayo kita pulang yeobo" Paman Kim berusaha menjauhkan Bibi Kim yang masih tersedu di pusara yang masih basah karena hujan turun dengan lebat.
"Hiks, aku tak bisa mengikhlaskannya Young Woon ah!" lirih Bibi Kim, ia terlihat semakin terpukul dan menimbulkan kesakitan baru dalam hatiku.
"Ayo kita pulang, kau harus beristirahat!" Paman Kim kembali berusaha kembali mengajak Bibi Kim untuk pergi dari makam tersebut, kali ini diikuti dengan anggukan dari Bibi Kim.
"Kau mau pulang bersama kami Sunggyu ya?" ia bertanya kepadaku.
"Aniya Appa, aku masih mau disini." Jawabku.
Kulihat ia mengangguk, dan berjalan pelan dengan memegang kedua bahu Bibi Kim. Setelah semua orang pergi, aku mendekati kembali makam basah dihadapanku. Dengan perlahan kuletakkan bunga lili putih tepat di atas nisannya.
"Key aah" panggilku pelan.
"Aku minta minta maaf atas segalanya. Kau boleh mengutukku dari alam sana, karena aku tak memaksamu untuk memaafkanku"
Aku menghela nafas pelan, sebelum kembali melanjutkan monologku.
"Kau pernah bertanya, apa yang dapat kau lakukan untuk membuatku bahagia. Dan kau tau, yang paling dapat membuatku bahagia adalah Woohyun yang terus berada di sampingku, dan kedua orangtua yang kembali utuh. Maafkan aku Key, tapi dengan kepergianmu, kau sudah memberikan dua hal yang paling kuinginkan itu." kuusap perlahan nisan basah itu dan sedikit kuberi kecupan.
"Beristirahatlah dengan tenang. Aku benar benar menyayangimu Key"
Aku tau apa yang kukatakan pada makam Key akan membuatku semakin jauh dengan Tuhan, namun kegelisahanku berangsur menghilang saat kulihat Woohyun yang menungguku di pelataran parkir pemakaman. Senyumannya yang penuh keteduhan, membuatku semakin yakin bahwa yang kulakukan bukanlah sebuah kesalahan.
Key, maafkan aku..
*kabur setelah dilempar benda tajam oleh para Locket, wkwkwk. RCL pleasee^^
