Title : "That Call" – Part Three: Found You, My PS's Caller!

Genre : Romance, Humour, et-ce-tra…

Rating : I bringing Rated-T again! *mianT^T

Casts : KyuMin!~~slight HaeHyuk~

Length : Still counting -_-"

Disclaimer : KyuMin MUTLAK milik Tuhan YME, dirinya sendiri, keluarganya, dan saling memiliki! But as usual, the story is MINE ^^

Summary : Mata tajamnya mendelik pada ponsel Android yang diam tak bergerak disana. Rasanya sepertisedang menunggu sesuatu. / Ia tidak mungkin salah, suara...ah ralat, desahan yang didengarnya barusan sama persis dengan milik orang 'itu'. Ahh~ jangan lupakan namanya yang tersebut / "Jadi 'dia' ada disekolah ini?" / Part Three - Rated T! / Absurd-plot! / Yaoi! / KyuMin / DLDR! / Just RnR if u wanna :) /

Warning : Yaoi-BL-BxB ,, A.N.E.H ,, OOC ,, Typo(s) ,, EY(T)D ,, de-el-el .. m(_ _)m *deep bow*

Again and again, I beg u guys so much…please do not puke just because of this story! -_-

Let's enJoY it with patient~~~^^

.

.

Don't Like Don't Read, Okay…

.

^^~Don't Copas Without Permission~^^

.

HAPPY READING

.

.

Disinilah Eunhyuk sekarang. Masih terdiam, masih mencerna kejadian kemarin seperti yang Sungmin katakan. Akhirnya satu kesimpulan berhasil didapat Eunhyuk…

"JADI DIA BENAR-BENAR MELAKUKAN PHONE-SEX?"

Hahh.. untung saja saat ini Eunhyuk tidak sedang berada didaerah rawan. Entah bagaimana nasibnya jika ada salah satu guru, selain Sungmin, yang mendengar teriakan –agak– frontalnya barusan? Mungkin masih bisa bersyukur kalau ia tidak dianggap sebagai guru yang yadong, walaupun yah… begitulah dia.

Pluk!

"Chagiya, sedang apa disini?"

"Huwaaaaaaaaaa!" Eunhyuk terlonjak sejadi-jadinya. Tak sadarkah ia teriakannya itu dapat membangkitkan orang mati. Lupakan kalimat terakhir -_-

Ah, nampaknya pengecualian untuk makhluk bertag-line 'Fishy' yang satu ini. Lee Donghae. Masih kalian masih ingat dengan semboyan "dimana ada anchovy disitu ada nemo, dimana ada Eunhyuk disitu ada Donghae"?

Baik. Lupakan lagi.

"Yah, chagi.. jangan teriak-teriak ditelingaku!" tangan kanan Donghae dengan sigap membekap mulut sexy sang namjachingu, sedangkan tangan kirinya bergerak fokus mengusap telinganya yang terserang lengkingan 'merdu' suara Eunhyuk.

"Mmmpphh!" Eunhyuk mencoba mengeluarkan suaranya dalam dekapan tangan Donghae, setelah mendengus pelan Donghae pun menyingkirkan tangannya dari mulut Eunhyuk. "Kenapa kau ada disini? Ini kan sudah masuk jam keempat, kalau kau telat bagaimana?" berondong Eunhyuk tiba-tiba.

Donghae mendecak samar. "Aku yang bertanya padamu duluan kenapa kau malah balik bertanya padaku, sedang apa kau disini hah? Dan jangan coba bertanya lagi kenapa aku tidak masuk kelas, kau tau persis aku tidak suka dengan si botak itu!"

"Ah.." Eunhyuk mengangguk paham. Si botak yang dimaksud Donghae adalah guru sejarah Korea. Guru itu entah kenapa sepertinya memiliki dendam kesumat pada Donghae, hampir setiap hari Donghae akan selalu menjadi bulan-bulanan guru tersebut.

"Jadi, kenapa kau disini? Kenapa kau berteriak-teriak tentang 'phone-sex'?" Donghae sedikit memelankan kata terakhir yang ia ucapkan.

Eunhyuk mengalihkan pandangan kesekelilingnya. Setelah dirasa aman, ia pun menarik tengkuk Donghae dan mendekatkan kepala Donghae kewajahnya. Jangan berharap Eunhyuk akan mencium Donghae, karena sasaran Eunhyuk sekarang adalah telinga namja ikan itu.

Begitu telinga kanan Donghae tepat berada didepan bibirnya, ia pun membisik.

"…"

"EEEEEEEEEEEEEEEEHHH?!" reaksi Donghae sudah diduga oleh Eunhyuk sebenarnya, tapi ia tidak berusaha menutup mulut Donghae. Suara Donghae yang memenuhi hampir disepanjang lorong itu ia biarkan saja, karena seperti Donghae, ia pun juga masih sedikit shock. " Jinjja?! Jeongmal? Dia benar-benar melakukannya?!"

Eunhyuk mengangguk cepat.

Donghae mengerjap perlahan.

Hening.

Hening.

Hening.

"Ya, Hae.. kenapa kau diam?" Eunhyuk yang merasa jengah dengan keterdiaman mereka, akhirnya membuka suara.

Donghae masih mengerjap pelan.

"Ya! Lee Dong—"

"Hyukie, menurutmu apa reaksi Kyuhyun kalau ia tahu yang melakukan itu adalah Sungmin?"

Pertanyaan Donghae membuat Eunhyuk bungkam.

"Huh, jadi ini alasan kenapa ia tidak masuk hari ini." senyum nakal Donghae terpancar diwajah childish-nya.

Dan Eunhyuk?

Ia hanya memandang heran namja tampannya yang tersenyum aneh.

.

KyuMin

.

_SKIP TIME_

.

In Somewhere Room.

Srat srat.

Namja itu menggeliat pelan dalam selimutnya. Entah sudah berapa kali ia mengganti-ganti posisi tidur, bahkan seprai halus nan lembut yang menjadi pembungkus kasurnya sudah tak beraturan lagi bentuknya. Terdengar geraman samar dari bibir tebal namja berwajah kelewat tampan itu. Agaknya ia kesal karena kantuknya belum juga datang sejak setengah jam ia mencoba untuk tertidur.

Srak!

Dengan kasar ia membuka selimut birunya. Mata obsidiannya mengalih menuju jam weker yang bertengger manis diatas meja nakas samping tempat tidur. Pukul 20:00 KTS. Pantas! Ini baru pukul delapan, terang saja ia belum mengantuk. Rasanya sangat aneh kalau kau tidur pada waktu sore hari, paling tidak 'sore' menurut versinya ini. Kembali ia menggeram pelan.

Namja itu Cho Kyuhyun.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya yang entah ditujukan untuk siapa.

Tubuhnya kini mulai berangsut untuk duduk diatas bed. Kyuhyun tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan dirinya sendiri terlalu malas membunuh waktu dengan bermain PSP malam ini. Entah kenapa.. ia memang merasa agak tidak mood untuk memainkan benda portable yang sudah di-klaim sebagai soulmate-nya itu.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Dan di menit kelima ia menyerah. Kyuhyun memutuskan untuk sekali lagi menggulung tubuhnya diatas kasur. Mungkin jika ia menutup kepala dengan bantal dan dalam waktu yang lama kantuknya akan datang. Bukan hanya kantuk yang datang tapi juga kematian, Cho!

Mata Kyuhyun terpejam, sekali lagi ia mencoba untuk tidur. Kali ini seluruh wajahnya ia timbun dengan bantal ditambah dengan singsingan lengan kirinya.

"Ahhhh ohhh…"

Nng?

"Ohhh, ah, ah, ahhhss!"

Apa itu? Kenapa terdengar seperti suara…

"Ah! Ah! Ah! Oohh… ah! Ah! Ahhhhsss!"

—desahan?

LAGI?!

Srak!

Brugh!

Kyuhyun menghempaskan dengan kasar bantalnya kebawah lantai. Selimutnya pun ia rebahkan sembarangan hingga menjuntai dipinggiran bed. Mata Kyuhyun membulat penuh.

"Apa yang kupikirkan?" tanyanya kembali pada diri sendiri. Kali ini nafasnya sedikit memburu.

Drrrtt drrrtt drrrtt.

Kyuhyun terlonjak berlebihan. Getar ponsel, batinnya.

Mata Kyuhyun mengarah pada ponsel biru metalik yang tergeletak tepat disamping jam weker. Tangannya terulur malas pada benda canggih itu. Hari ini ia juga terlalu malas menerima panggilan dari siapapun itu. Panggilan dari Changmin saat siang tadi saja ia abaikan, Changmin ingin menanyakan alasan kenapa ia tidak masuk sekolah tadi –menurutnya. Bahkan panggilan dari eomma-nya pun ia acuhkan.

Deg!

Namun seketika itu pula rasa malasnya terangkat tanpa hambatan.

Unknown Number.

Begitulah apa yang terpampang dilayar sentuh itu.

Glek.

Namja berambut agak ikal itu tanpa sadar menelan saliva-nya dengan berat. Matanya terfokus pada layar, namun jantungnya berdetak tidak karuan. Meski demikian, jari panjang miliknya terulur begitu saja pada keypad penunjuk keterangan 'answer' disana.

Klik.

Pip!

"Yeo...yeoboseyo?" Kyuhyun sedikit merutuki kegagapannya dalam bicara sekarang. Ia merasa seperti orang bodoh, jujur saja.

"Kyu, ini aku Lee Donghae!"

Dan Kyuhyun ingin sekali menghanyutkan sang penelepon saat ini. Ia merasa seperti terbang keatas awan, lalu dijatuhkan kebumi tanpa parasut. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, sepertinya itu istilah yang tepat untuk Kyuhyun sekarang.

Cih, memang apa yang kau harapkan tuan Cho?

"Hng, ada apa?" suara Kyuhyun terdengar ogah-ogahan kali ini. Masih merasakan sakit jatuh dari bumi mungkin.

"Kau tidak bertanya darimana aku tahu nomormu?"

Pertanyaan tidak penting. Batin Kyuhyun.

"Kau teman sekelasku, kau juga tahu aku akrab dengan Changmin, ada begitu banyak kemungkinan dan alasan yang membuatmu tahu nomor ponselku.. kenapa aku harus repot-repot mengurusi hal itu?" ucapan yang diselingi kesal. Begitulah Kyuhyun.

"Oh, hahaha~" tawa renyah itu terdengar. "Tidak salah kau menjadi juara umum bertahun-tahun, Kyu!" puji Donghae.

"Sekarang, ada apa kau menghubungiku?" Kyuhyun mengacuhkan pujian yang dilontarkan Donghae, pujian 'pintar' baginya sudah terdengar biasa. "Apa kau ingin bertanya kenapa aku tidak masuk hari ini hah?"

"Tidak Kyu, bukan itu. Kalau alasanmu tidak masuk aku rasa aku tahu."

Kyuhyun mengerjap.

"Apa mak—"

"Bukan itu alasan aku meneleponmu." potong Donghae. "Aku hanya ingin memberitahu-mu, dipelajaran ketiga lusa aku dan kau harus memeriksa tugas sejarah Korea anak-anak sekelas. Si botak-maksudku, Park seonsaengnim, ia menugasi kita untuk itu jadi kau tidak perlu ikut pelajaran ketiga. Ia akan meminta izin dari guru yang saat itu mengajar, jadi kita tidak dianggap absen." jelas Donghae panjang-lebar.

"Kenapa harus aku?" respon yang terlalu pendek dan sedikit kejam.

"Karena tadi kau tidak masuk, bodoh!"

Kyuhyun mendecih. Tidak bisa membantah, alias itu memang kenyataan. Mau bagaimana lagi~

"Terserahlah. Lalu? Apa itu saja yang ingin kau katakan?"

"Hem..." dehem Donghae. Kyuhyun menafsir kalau Donghae saat ini sedang mengangguk.

"Ya sudah aku akan menutup teleponnya."

"Ne! Annyeong, Kyu~" suara Donghae sedikit membuat Kyuhyun harus menjauhkan ponselnya dari telinga.

Kali ini Kyuhyun yang berdehem.

Klik!

Tut tut tut.

Begitu panggilan sudah terputus, Kyuhyun kembali menaruh ponsel smartphone itu ketempat semula. Tangan kirinya menggapai bantal yang tadi sempat ia lempar begitu saja, tangannya yang lain pun menarik selimutnya yang menjuntai. Kembali ia merebahkan tubuhnya. Rasa penat memikirkan besok lusa ia harus berkutat dengan banyak tulisan sejarah, membuat matanya sedikit mengantuk. Belum melihat langsung saja ia sudah malas, apalagi terpampang nyata dibawah hidungnya. Ia tidak suka sejarah, itu saja. Berbeda dengan Donghae yang didasari ketidaksukaannya terhadap si guru, Kyuhyun lebih pada si pelajarannya itu sendiri. Tulisan yang membahas masa lalu menurutnya tidak menarik, ia lebih tertarik menyaksikan langsung peristiwa masa lampau. Jika harus memilih pelajaran menghapal apa yang ia sukai, mungkin ia akan memilih pelajaran Biologi yang masih terdapat sedikit hitung-menghitung dalam materinya.

Ah, ngomong-ngomong soal Biologi...

"Jam ketiga lusa besok adalah pelajaran Biologi. Berarti aku akan dua kali ketinggalan materi dari Lee seonsaengnim?"

Kyuhyun menghembuskan napasnya lewat mulut. Biarlah.. batinnya.

Kepala Kyuhyun sedikit menoleh kearah meja nakas. Mata tajamnya mendelik pada ponsel Android yang diam tak bergerak disana.

Rasanya seperti...sedang menunggu sesuatu.

Tapi apa?

.

...

KyuMin

...

.

_NEXT DAY_

.

KYUHYUN POV

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Persis seperti dugaanku, namja pemakan segalanya ini pasti akan kembali menanyai alasan aku tidak masuk kemarin, jangan lupakan alasan aku tidak mengangkat penggilannya. Si pemakan segalanya, Shim Changmin, langsung memberondongku dengan pertanyaan. Bersabarlah kau Cho Kyuhyun, biar bagaimana pun ia adalah sahabatmu sejak Elementary School.

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa Max!" Kyuhyun sedikit menaikan nada suaranya. Ia ingin kekantin, tapi namja tinggi itu malah menariknya untuk kembali duduk.

"Itu tidak menjawab pertanyaanku, magnae!"

"Ya! Kau yang lebih muda dariku!"

"Lupakan soal itu!"

"Kenapa jadi kau yang kesal, Shim Changmin!"

"Karena jawabanmu tidak sesuai dengan pertanyaanku, Cho Kyuhyun!"

"Aku-baik-baik-saja. Aku rasa itu sudah menjawab pertanyaanmu!"

"Tidak sama sekali, pabbo!"

"Ya!"

Ctak.

Ctak.

Dapat kurasakan sebuah jitakan mengenai telak kening indahku. Kulihat Changmin juga mengalami hal yang sama. Seperti boneka marionette, kami bergerak secara bersamaan. Melihat sang penjitak dikening kami masing-masing. Ternyata—

"Kalian berisik sekali."

Ah, sepertinya empat sudut siku sudah tergambar jelas diatas kepalaku dan Changmin.

"LEE DONGHAEEEEEEEEEEEEEEEE!"

.

.

.

Canteen.

Aku menyeruput minumanku dengan malas. Entahlah, sejak kemarin aku begitu malas untuk berbuat apapun. Dan hal itu semakin bertambah sejak tadi pagi. Jika kalian pernah merasa seperti menunggu sesuatu tapi ternyata kalian tidak mendapatkannya, bagaimana perasaan kalian?

"Cih."

"Ya, dari tadi kau mendecih terus. Ada apa?" namja berambut brunette disampingku menghentikan suapan sendoknya. Kami bertiga sedang menikmati makan siang kami dikantin. Namja brunette ini duduk disebelahku dan Changmin duduk didepan kursi kami. Kalau dipikir-pikir, sejak kapan aku akrab dengan namja ini? Sudahlah.

"Tidak ada." jawabku acuh.

"Pantas saja tadi Changmin membentakmu, jawaban yang kau berikan memang sangat abstrak." Donghae menggeleng pelan, dan kulihat didepan kami Changmin mengangguk penuh semangat. Donghae pun kembali memasukan suapan sendok kedalam mulutnya.

Grek.

"Aku ingin ketoilet." ucapku singkat.

Mereka pun menjawab dengan anggukan. Mulut mereka memang sedang penuh makanan.

.

.

Tap tap tap.

Langkahku menggema disepanjang lorong menuju toilet. Kuabaikan semua pandangan mata yang mengarah kepadaku. Jangan kira aku tidak tahu, pengalaman begini juga pernah kulalui saat Junior High dulu. Pandangan mengagumi dan menginginkan -versi Changmin-, begitulah arti padangan mereka kepadaku. Keluargaku memang bukan dari kalangan atas, tapi wajahku tetap tampan kan? Oh, jangan lupakan kepintaranku yang sudah tidak asing lagi ini. Kurasa itu alasan kenapa banyak yang menaruh minat padaku. Banyak yeoja yang berharap aku memilih mereka jadi kekasihku. Tidak jarang pula aku menerima pernyataan cinta dari seorang namja.

Tidak tahukah mereka kalau aku ini adalah…

Cklek.

"Ahhh..."

Eh?

Kualihkan mataku kesalah satu bilik yang tertutup. Saat ini kakiku sudah menginjak lantai toilet murid pria. Seingatku toilet ini sangat jarang didatangi oleh murid, well, karena letak toilet ini yang memang sedikit diujung lorong lantai satu dan berdekatan dengan gudang. Para murid lebih memilih toilet yang terletak disamping ruang musik dan tidak terlalu terpencil. Aku memilih toilet disini hanya karena dekat dengan kantin, kukira tidak ada satu pun murid yang akan ketoilet ini. Rupanya ada.

Aku pun kembali menoleh kearah depan dan memilih untuk menuntaskan niatku. Namun saat jemariku hampir bergerak untuk membuka restleting celana seragam-

"Ohhhh Kyuhhh… ahhhhss~~"

DEG!

Tubuhku tersentak secara tiba-tiba.

KYUHYUN POV END

Drrrtt drrrtt drrrtt.

Kyuhyun hampir saja terlonjak. Getaran ponsel terasa disaku kemejanya. Tangannya dengan cepat dan tergesa-gesa langsung meraih ponsel birunya.

Eomma calling.

Ia tahu eomma-nya pasti akan menelepon. Alasannya ada dua, menanyakan kenapa tidak menjawab panggilannya kemarin, atau Changmin sudah mengadu pada eomma-nya perihal ia yang tidak masuk.

"Kyuhhh… ah!"

Shit!

Drap drap!

Cklek.

Dengan tergesa Kyuhyun mengarahkan kakinya menuju keluar toilet, hasrat buang air kecilnya menghilang begitu saja. Ia tidak mau diamuk eomma-nya dan alhasil ia akan diseret dari apartemen-nya saat ini.

Dalam langkahnya yang tergesa Kyuhyun mengangkat panggilan eomma-nya. Mulutnya dengan lihai menjawab setiap kalimat yang dilontarkan sang eomma, ia tidak yakin bagaimana nada bicaranya saat ini. Entah bagaimana, pikiran dan hatinya sedang tidak bekerja sama dengan baik sekarang. Pikirannya memang dengan lancar berbicara dengan eomma-nya, tapi tidak dengan hatinya yang berdegup kencang…dan berteriak nyaring. Ia tidak mungkin salah orang, suara…ah ralat, desahan yang didengarnya barusan sama persis dengan milik orang 'itu'. Ahh~ jangan lupakan namanya yang tersebut dalam desahan yang baru ia dengar.

Jadi 'dia' ada disekolah ini?

Kyuhyun tidak tahu bagaimana persisnya, namun yang pasti.. dengan cepat sudut bibir miliknya tersungging senyum miring khas Cho Kyuhyun. Smirking.

.

.

.

The End — Part Three

.

.

A/N ::

Maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaappppppppppppppppppp pppppp telaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttttttttt updaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttttttttt eeeeeeeeeeeeeee! T^T

Komputerku ram-nya mulai bermasalah. Netbook-ku malah udah nyebur kelaut duluan. Alhasil aku mesti pinjem laptop sodara-ku.. tapi karena minjem punya orang, aku jadi gak bebas buat bikin adegan-adegan Rated-M kalo bukan dirumah sendiri -_-" makanya mianhae ne, untuk chapter ini aku kasih rating T lagi.. mudah-mudahan besok bisa kutingktkan jadi T+, terus chapter-chapter akhir jadi rating M!

.

Apakah perkembangan cerita ini semakin aneh?

Jujur, aku sedikit gak pe-de kalo bikin satu FF dengan lebih dari three-chapter.. aku takut ada yang bosen, atau bahkan gak berminat baca lagi~~ TToTT

Mohon beri dukungan! m(_ _)m *deep bow*

.

THANK YOU FOR ALL READERS AND REVIEWERS!

Bahagia sekali dapet respon positif di dua chapter sebelumnya~ neomu, neomu haengbokhaseyo~~ that's really means a lot for me! \(=^w^=)9

.

Jja, r u still wanna gimme a R-E-V-I-E-W for this chapter? ^O^/