Raja Iblis's POV
WDZA
by: Odeee_
Raja iblis menatap langit melalui jendela kamarnya, meskipun itu adalah pagi hari saat ini namun langit berwarna gelap dengan guyuran hujan. Sama seperti hari-hari yang lalu.
Satu bulan berlalu setelah kepergian Raja Naga, sahabatnya selama ribuan tahun.
Setiap pagi dunia iblis diguyur hujan. Ada anak nakal yang menurunkan hujan setiap pagi. Anak nakal yang menangis diam-diam. Anak nakal yang masih tidak mau bangun bahkan setelah satu bulan lamanya dia tertidur.
Hechan mencari keberadaan Jeongguk, menerawang disetiap sudut hanya untuk menemukan satu kepingan miliknya, namun itu tidak tersisa satupun.
Dia benar-benar sudah tidak ada lagi.
Sahabatnya yang menghabiskan ribuan tahun bergosip dengannya benar-benar tidak ada lagi.
Raja iblis tersenyum dengan pahit, kemudian menutup jendela kamarnya.
.
.
"Selamat pagi Tuan."
"Selamat pagi." Hechan telah terbiasa dengan sapaan dari semua rakyat iblis setiap kali mereka melihatnya, dia tersenyum, "Maaf pagi ini hujan lagi."
Iblis dengan payung ditangannya itu menggeleng, wajahnya mengkerut dengan sedih, "Tidak apa-apa, sungguh. Hanya... hatiku sakit setiap kali melihat hujan ini."
Hechan mendorong pintu tempat Nara tertidur atau beristirahat.
Dia melembutkan tatapannya saat dia menemukan putranya meringkuk di sebelah tubuh naga kecil Nara.
Sejak saat itu Bola api tidak pernah meninggalkan Nara, anak itu menangis, meraung dan bahkan memohon untuk temannya.
Hechan tidak pernah melihat putra nakalnya akan menangis sehebat itu. Air mata bercucuran tanpa henti, dia terisak bahkan kesulitan berbicara.
Sekarang anak itu meringkuk dengan wujud anak berusia lima tahun, tidur di sebelah Naga kecil yang tak kunjung membuka matanya.
"Bola api... kau tidak akan makan?"
Hechan tau anak itu tidak tidur, tetapi dia tidak mau membuka matanya seolah tertidur.
"Bola api, ibumu mengkhawatirkanmu."
Anak itu akhirnya membuka matanya, tetapi hal yang pertama kali dia lihat adalah Naga emas kecil yang meringkuk di sebelahnya. Dan dia kembali menangis.
"Aigo .. berapa usiamu?" Hechan mendekati putranya, "Mengapa masih menangis ketika bangun tidur?"
Bola api terisak, "Aku ... aku terus saja bangun... berapa kalipun aku tidur... aku akan bangun tapi Nara... ayah... dia tidak bangun bangun..."
"Ayah ... aku tidak dapat melakukan apapun untuk temanku..." Anak itu mengusap air matanya tetapi itu masih akan mengalir, "Aku... ingin temanku bangun..."
.
.
.
Hechan menatap bola sihir di depannya dengan pandangan kosong.
Dia telah mencari keberadaan Jeongguk selama ini, tetapi bola sihir tidak menunjukkan apapun. Hanya gelap, tidak ada satupun cahaya.
"Apa bedanya kau dengan putramu?"
Hechan menoleh, istrinya bersandar diambang pintu dengan tangan terlipat di dada.
"Kau adalah Raja Iblis, kau punya tanggung jawab besar disini lalu apa yang kau lakukan sekarang?"
Hechan kembali menatap bola sihir didepannya, dia berkata, "Menunggu temanku."
.
.
.
Berpuluh-puluh tahun telah berlalu, namun bola sihir masih tidak menunjukkan apa yang ingin dia lihat.
Kaisar langit mungkin tidak membiarkannya mengintip kehidupan manusia.
Hechan ingin memberontak, akan naik ke dunia manusia atau bahkan ke istana langit untuk menantang Kaisar langit. Namun istrinya menahannya, mengatakan jika apa yang dia lakukan tidak hanya berpengaruh pada dunia iblis tetapi juga Jeongguk itu sendiri.
Bagaimana jika Jeongguk terlahir sebagai manusia biasa? Maka Hechan akan membuat hidupnya dibungkus dalam kegelapan jika dirinya yang merupakan seorang Raja Iblis terus memperhatikannya.
Hechan menatap sebuah kuburan putih bersih melalui bola sihirnya.
Berpuluh-puluh tahun telah berlalu, orang itu juga telah tiada. Manusia yang dicintai oleh Raja Naga, dia juga sudah tidak ada lagi.
Manusia itu... dia melihatnya tersenyum saat dia menghembuskan napas terakhirnya.
Tidak ada siapapun disisinya, tetapi orang itu masih tersenyum, seolah berterimakasih untuk hidup yang dia jalani selama ini.
Hechan mulai mengerti, jika Taehyung tidak lemah meskipun dia hanya manusia. Dia bahkan sangat kuat, jika itu adalah dia sendiri maka...
Berpuluh-puluh tahun telah berlalu, Bola api sudah dewasa.
Anak nakal itu... dia telah berhasil memetik bulan untuk diletakkan di pelukannya.
Membawanya bersamanya kemanapun dia pergi dan tidak melepaskannya.
Dia akan datang untuk mengunjungi Nara beberapa kali, anak itu tidak lagi menangis, dia benar-benar sudah dewasa, pikirnya.
Namun Hechan tau, jika putranya masih menangis di dalam hatinya.
.
.
.
"Nara, hyungmu tidak akan datang lagi."
Naga kecil itu tidak menjawab.
"Bola nasi, bagaimana jika kau menyusul hyungmu?"
Naga kecil tidak mengeluarkan reaksi apapun.
"Aku... Hechan hyung berpikir akan lebih baik jika kau juga menyusulnya dan bertemu dengannya disana."
Hechan menatap Naga kecil saat dia berkata, "Hyungmu... mungkin juga menunggumu."
.
.
.
Ribuan tahun telah berlalu lagi.
Hechan menatap langit dengan tatapan kosong, langit telah kembali cerah sejak ribuan tahun lalu. Tidak ada lagi hujan di pagi hari.
Kali ini hujan tidak datang dari langit, melainkan dari dalam matanya.
