Bunyi tanda sekolah telah usai. Semua anak-anak sekolah keluar dari sekolah, beranjak pergi untuk pulang. Mereka tidak mau lagi menunggu gadis itu, karena pasti digamit pacar-pacar dua orang yang paling ditakuti seantaro sekolah. Siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura dan Yamanaka Ino.

Kecuali Naruto alias tidak takut pada sikap Sasuke bak bagaikan penjahat di dalam sekolah karena membuat seluruh anak-anak di dalamnya menjadi pada takut, terutama Sakura merupakan karateka wanita sepanjang masa, yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun. Juga Ino, gadis bisa berceloteh ke mana-mana langsung saja kalimatnya bikin orang-orang pada dongkol, karena kalimat itu tepat sasaran.

"Kalian ngaca diri dulu, dong. Sebelum syirik, perbaiki itu hati. Cantik kan itu relatif, tapi hati itu lebih luar biasa lagi. Tahu!"

Keren 'kan, kalimatnya. Gara-gara kalimat itu, satu per satu para perempuan-perempuan mengaca dirinya namun belum ada yang berhasil. Mereka juga mesti memakai dokter psikolog supaya mereka mengetahui apa yang salah. Tetapi Ino menambahkan.

"Rajin beribadah! Jangan hanya Cuma mengoles wajah, memakai kekerasan dan juga…," Ino meneliti dari ujung kaki sampai ujung kepala, menyeringai geli. "… ubah penampilan kalian. Norak banget!" katanya ketus.

Sontak mereka terperangah. Merasa dongkol. Akhirnya memilih jalan, diam saja dulu karena pasti ada perubahan walau itu belum secepat mereka bisa.

Perkataan Ino benar-benar mengerikan! Ck, ck, ck!

.

Galaxies Goddess

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi

WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.

.

Chapter 2: STILL...

Hinata bersedia pulang bersama para geng luar biasa ini di Konoha High School. Di antaranya Naruto (tentu saja), Uchiha Sasuke, Shimura Sai, Nara Shikamaru, Aburame Shino, Akimichi Chouji, Inuzuka Kiba, Rock Lee, Tenten, Sabaku Gaara, Sabaku Temari, Haruno Sakura dan Yamanaka Ino.

Ketakjuban Hinata benar-benar tepat sasaran, Naruto dikelilingi oleh orang-orang yang mengerti dirinya. Tetapi kenapa, Naruto tidak senang. Apakah masih ada keganjalan di dalam hatinya?

Mereka mampir di café, sengaja untuk menghilangkan rasa haus karena huru hara karena gadis mungil, imut dan manis ini. Mereka memilih di pojokkan, sementara Naruto berada di meja dekat jendela—berjauhan dari teman-temannya—takut didengar oleh mereka bersama Hinata.

"Kenapa kamu malah terlihat di depan orang banyak? Aku hampir jantungan saat anak-anak mengatakan mau berkenalan denganmu. Kukira kamu tidak bisa dilihat, kenapa baru sekarang? Kemarin tidak, kok." Naruto memberikan pertanyaan bertubi-tubi ke Hinata. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. "Kenapa malah kedip-kedip sih, mata kamu sakit?"

"Sengaja. Biar keren kelihatannya. Kakakku tidak bakalan melarang."

"Aneh deh, sama otakmu." Naruto menggeleng. Kembali berwajah sedih.

"Aku mau tahu…," Hinata menopang dagunya di atas punggung tangannya dan siku lengan jadi penyangganya. "… kenapa kamu tidak senang pada keadaan di mana kamu dikerubungi teman-temanmu?"

Naruto tersentak kaget, terperangah. "Kamu tahu? Kamu tahu, aku tidak senang?"

"Kamu senang bersama mereka, tapi ada yang mengganjal. Semoga saja itu bukan perasaan aku saja."

Mata Naruto melirik ke sekumpulan teman-temannya, menatap iri pada pasangan yang sedang tertawa satu sama lain. Hinata mengikutinya, terbelalak. Sangat mengetahui kalau lelaki di depannya pernah mengagumi salah satu gadis di sana.

"Kamu menyukainya?"

Naruto mengalihkan pandangan dari sekumpulan sahabatnya ke Hinata, tersenyum samar. "Dari dulu, malah. Aku menyukainya sejak pada pandangan pertama. Mungkin masih sampai sekarang."

"Kamu belum menyatakan kepadanya?"

"Menyatakan apa?"

"Rasa sukamu padanya."

"Gila kamu! Aku bisa dibunuh sama sohib aku, tahu!" Naruto menolak mentah-mentah.

"Sepertinya dia tidak bakalan bunuh kamu. Dia hanya ingin kamu jujur saja. Dia butuh pengakuanmu, Naruto." Hinata mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik lirih. "Dia, sahabatmu, sangat sayang padamu. Biarpun kalian selalu bersama sejak kecil, dia pasti mengerti."

"Aku tidak sanggup mengatakannya," Naruto menggeleng kuat. Hinata menarik tubuhnya, cemberut.

"Ya sudah!"

Naruto menghela napas dalam-dalam, sekilas melirik di antara sekelompok geng yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Iri pada sahabatnya yang mendapatkan gadis pujaannya, tertawa bersama-sama. Tatapan mereka bertemu, Naruto langsung buang muka.

"Naruto!" panggil seseorang di ujung sana. "Ke sini!"

Naruto pun bangkit berdiri, tidak diikuti Hinata. Dia mendekati meja di mana teman-temannya berkumpul. "Kenapa kamu memanggilku, Ino? Apa kamu tidak tahu, aku malas bersama kalian yang kebanyakan sudah punya pasangan."

"Mentang-mentang kamu tidak punya, Naruto." Ino berdecak kesal, tetapi tersenyum. "Daripada kamu bengong sendiri sama Hinata, lebih baik ikut bersama kami saja. Nih, aku belikan kamu minuman kesukaanmu. Itu juga dibayar oleh Sasuke dan Sai. Patungan!" Ino tertawa geli.

Lelaki itu cemberut, meraih minuman tersebut. Sempat-sempat melirik Hinata yang memandanginya, tetapi jadi cuek pandangannya yang mengarah ke arah lain. Naruto berdecak kesal, memilih duduk di tempat teman-temannya.

Perasaan Naruto semakin tidak enak. Karena ini! Harus duduk berhadapan dengan gadis disukainya. Gadis yang selama ini masih mencuri hatinya dan belum sempat dikembalikan. Mau menyatakannya, takut kena geplakan dari sahabatnya yang memacari gadis tersebut. Susah-susah gampanglah.

Waktu mereka terus berjalan hingga sore hari, karena percakapan ini sungguh asyik sampai mereka kelaparan. Yang bayar, tentu saja Sasuke sama Sai. Karena mereka terkenal, suka membayar ini itu tanpa minta imbalan.

Menjelang sore, Naruto dan para gengnya beranjak dari café tersebut. Diiringi tawa yang khas dari salah satunya, membuat dia jadi kesal di dalam hati. Sudah dua tahun belakangan ini, Naruto tidak bisa mengungkapkannya. Sampai ke bawa mimpi.

Akhirnya Hinata mengabulkan permohonan Naruto, yaitu mengungkapkan isi hatinya sebelum Naruto mati diakibatkan pernyataan tidak selesai-selesai dan bisa makan hati. Hinata menutup mata peraknya, menyuruh langit untuk ditutupi awan gelap. Langsung saja, semuanya mencari tempat teduh.

Hinata pun menggamit lengan Naruto, membimbingnya menuju gadis disukainya. Naruto jadi salah tingkah, gelagapan. "Aku mau bicara denganmu. Bisa?"

Gadis yang dimaksud menganggukkan kepala begitu pun di sebelahnya yang rada kebingungan. "Ada apa, Hinata?"

"Bukan aku yang ngomong, tapi Naruto." Hinata mendorong tubuh Naruto ke gadis di depannya, memberikannya semangat. "Katakan sebenarnya! Aku mengabulkan permohonanmu lho."

"Aku…," Naruto gugup. Menghela napas dalam-dalam, lalu mengelurkannya. "Aku… aku… aku menyukaimu, Sakura! Sejak lama! Dan itu masih membuat aku tidak bisa berpaling ke arah lain, karena kamu mengambil hatiku."

Keduanya tercengang pada pernyataan suka Naruto terutama sahabat-sahabatnya yang lebih memilih berteduh kecuali Hinata yang tersenyum dalam hati, "… akhirnya."

"Kamu… menyukaiku?" tanya Sakura berharap telinganya tidak budeg.

"Begitulah." Naruto menunduk.

"Tapi aku…,"

"Aku tahu! Kamu menyukai Sasuke sejak kita kecil. Aku hanya mau memintamu mengembalikan hati yang kamu ambil. Setelah itu, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau!" seru Naruto tidak mau mendengar penolakan itu.

"Bukan begitu…," Sakura melirik Sasuke. Lelaki itu tahu apa yang akan dilakukannya.

"Bukannya sudah lama sekali, kamu tidak menyukai Sakura, Dobe? Aku sudah tahu, dari dulu. Mungkin sejak seminggu yang lalu." Penjelasan Sasuke bikin Naruto bingung. "Hanya saja, kamu belum menyadarinya."

Naruto terpana. Apakah memang hatinya bukan pada Sakura lagi? Lalu, sama siapa?

-To be continued-

.

A/N: Kalian kira Ino ya? Padahal Sakura. Wuahaha…
Tapi, ini belum berakhir karena masih ada permohonan pertama season kedua. Nanti di baca di chapter 3, ya.
Soal MC yang lain, saya belum update. Alasan saya harus baca ulang. Fufufu…

Signature,

Zecka Fujioka

Makassar, 24 Maret 2014