Mereka terus berdiri dalam diam, karena melihat Naruto sibuk berpikir. Mereka mengatakan hati Naruto tidak digenggam Sakura lagi, melainkan oleh orang lain, sejak seminggu yang lalu.
Pernahkah Naruto menyukai gadis lain, sementara sahabat-sahabat perempuannya hanya segelintir saja?
Dia belum mampu mengungkapkannya, sementara hujan turun dengan derasnya. Sasuke menarik Sakura menuju tempat berteduh, meninggalkan Naruto dipayungi oleh Hinata. Lelaki tersebut menatap gadis itu, masih dalam keadaan bingung.
"Kamu belum menuntaskan perasaanmu, Naruto. Tadi sempat tertunda karena hujan ini."
Pandangan Naruto ke Sakura dipeluk erat oleh Sasuke. Memang ada rasa cemburu di dalam hatinya, tetapi itu hanya sedikit. Cuma secuil sebutir beras. Yang mengganjal di hatinya, Naruto belum benar-benar mengungkapkan semuanya.
"Mau aku temani?" tawar Hinata tersenyum.
"Kalau bisa…,"
"Sampai kapan pun, semampu aku bisa." Hinata menepuk pelan lengan Naruto, menenangkannya.
Ikut masuk ke dalam tempat berteduh. Diiringi sorot mata tajam, entah siapa yang punya. Tetapi itu pasti tidak lain salah satu di antaranya adalah sahabat Naruto sendiri.
.
Galaxies Goddess
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi
WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.
.
Chapter 03: Always…
Hening.
Tidak ada percakapan yang dimulai dari salah satu empat orang saling berhadapan ini. Hinata, hanya memandangi mereka bergantian, tidak mau ikut campur sebelum orang disampingnya mengizinkannya. Sasuke dan Sakura, terdiam cukup lama sambil mengetahui apa yang dikatakan Naruto nantinya.
"Cih! Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?!" decak Sasuke memulainya, tidak sabar. "Apa kamu ingin kita terus menunggu di sini sampai kamu berbicara?"
"Sasuke…,"
"Diamlah, Sakura! Ini ada hubungan denganku juga!" selanya memotong. Sasuke terus menatap tajam dan lurus ke Naruto, tidak mengalihkannya. "Kenapa baru sekarang ngomong? Hm?" tanyanya penasaran.
Naruto tidak menjawab.
Sasuke menggebrak meja. "Kenapa baru sekarang!" teriaknya frustasi dan kesal setengah mati, sampai ke ubun-ubun kepala.
Naruto menghela napas dalam-dalam, mendongak menatapnya. "Karena aku takut, ini bisa menimbulkan kehancurannya persahabatan kita. Makanya aku rela hanya demi kebahagiaan sahabatku sendiri."
Pemuda berambut biru mengangkat alis, heran. "Karena itu? Sepertinya bukan." Sasuke mendesis kesal, lagi. "Apa kamu tahu, aku selalu khawatir padamu setiap kita pulang bersama-sama atau pergi bareng dengan yang lainnya. Kukira ini ada masalah dengan keluargamu, ternyata masih ada lagi. Aku penasaran, mau meminta jawaban darimu. Tapi, kamu selalu menghindariku. Selalu memilih sendirian kalau berada di café atau tempat nongkrong."
"…,"
Naruto menunduk. Hinata menatap Naruto sekilas, sekarang tahu apa pengabulan permohonan Naruto selanjutnya.
"Hentikan dengan sikapmu ini. Aku merasa kamu bukan Naruto yang ceria dan bisa aku saingi bila berhadapan dengan mata pelajaran olahraga. Kamu bukan Naruto yang aku kenal."
Sakura menyentuh paha Sasuke, menyuruhnya diam. Membiarkan cewek ini memulai pembicaraan pembahasan sempat tertunda itu. Sakura menatap Naruto dalam-dalam, "Apa benar kamu menyukaiku? Bisa jelaskan, sejak kapan?" tanyanya.
"Sejak kita kecil, aku belum menyukaimu karena aku selalu menganggapmu saudaraku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari aku menyukaimu. Itu semenjak kita masuk SMA, awal-awalnya." Naruto membalas tatapan itu, tersenyum sedih. "Waktu SMA pula, kamu berpacaran dengan Sasuke, sahabatku sendiri, sahabat kita. Akhirnya aku menyadari bahwa mungkinkah ini cinta bertepuk sebelah tangan sementara hatiku kamu ambil."
"Apa karena aku mengambil hatimu, kamu belum mau mengizinkan cewek-cewek memasuki hatimu?" tanya Sakura membuat Naruto tergelak. Napasnya jadi sesak. "Atau ada yang lain?" tanyanya penuh selidik.
"Itu…,"
Naruto memalingkan muka ke arah lain, tidak mampu menceritakan apa akan dia jelaskan selanjutnya. Sementara Hinata dan Sasuke terus melirik Naruto, merasa ada yang ganjil.
Sakura tersenyum. "Kamu tidak memberikan hatimu padaku, Naruto. Kamu… terlalu trauma pada masa lalu. Masa lalu yang tidak pernah kamu ceritakan pada kami, pada kita-kita. Kamu hanya melarikan diri sebelum kamu memperbaikinya."
Sepuluh jari berubah jadi kepalan di pangkuannya, badannya gemetaran. Fokus matanya tidak tertuju pada cewek di depannya. Hatinya kemudian tertutup, diselimuti oleh bayangan hitam entah dari mana. Di benaknya bermunculan saat-saat terindah dan juga rasa sakit hati. Mungkinkah dendam ini membutakan dirinya, dan terus melarikan diri?
Tangan terulur di sampingnya menyentuh pelan sepuluh jari kepalan di sana. Naruto tersadar dari lamunan dan mimpi buruk. Dia menolehkan kepalanya menatap gadis berambut biru, tersenyum ke arahnya dan berkata, "semuanya baik-baik saja".
Ada rasa kelegaan di dalam hatinya, dia kembali menatap kedua sahabat yang paling mengerti akan dirinya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Maafkan aku selama ini, tidak mengatakan hal sebenarnya pada kalian. Jika suatu saat nanti aku berbicara panjang lebar pada kalian tentang masa laluku, apa kalian mau menjadi sahabatku, lagi?"
Tangan seseorang sedang mengulurkan tangan, membentuk kapalan tinju dan menjitak kepala durian Naruto. Sasuke mendengus. "Sekali lagi kamu ngomong begitu pada kami, aku bakalan menyeburkanmu di sungai Manhattin." Kepala durian itu pun diacaknya. "Selalu, Naruto. Selalu menjadi sahabatmu. Sahabat kita semua."
"Teme!" seru Naruto gembira mendengarnya.
"Aku juga. Kita akan selalu menjadi sahabat." Sakura bangkit berdiri, mendekatinya dan memeluknya. "Selalu bersama-sama, selamanya. Camkan itu!" katanya sambil menjitak kepala durian Naruto.
"Terima kasih, Sakura!"
Hinata tersenyum bahagia melihat tiga sahabat ini telah melepaskan permasalahannya. Dia bisa merasakan kelegaan sarat di dalam tubuh Naruto, Sasuke dan Sakura. Semoga ke depannya, hubungan ketiganya masih terus berlanjut. Hinata berharap akan hal itu.
Di samping itu, di sudut sana, seseorang terus menatap tajam ke arah ketiganya. Mulai dari mereka duduk sampai mereka tertawa bersama-sama. Dia tidak suka pada hubungan ketiganya, karena dia sangat cemburu. Cemburu pada persahabatan alami tersebut.
"Kamu kenapa melihat mereka?" tanya Ino menyenggol lengannya. "Kamu tidak ke sana, menyuruh mereka membeli minuman hangat?"
"Ah, tidak." Dia menggeleng. "Aku tidak mau merusak suasana bahagia itu. Aku malah cemburu."
"Cemburu? Pada siapa?" tanya Tenten di sampingnya, cewek bercempol dua dengan warna cokelat.
"Entahlah. Mungkin Sasuke, Naruto atau Sakura."
"Sepertinya tidak mungkin kamu cemburu pada ketiganya apalagi pada anak baru," ucap Sai, cowok hitam klimis berwajah putih pucat, terkikik geli. "Kamu terlalu berpikir tidak-tidak. Makanya minum minuman hangat biar encer itu otak. Nih!" Sai menaruhkan minuman plastik di depannya, dia tersenyum.
"Terima kasih.
Di saat kebahagiaan itu masih terus berlanjut, Hinata tidak sengaja melihat orang itu menatap ketiganya. Rasa penasaran muncul di benaknya. Sepertinya ini ada hubungannya dengan kehidupan Naruto yang dulu ataukah…
"Lebih baik aku memastikannya," ucapnya di dalam hati.
-To be continued-
.
A/N: Chapter tiga update! Makasih atas pembaca semuanya yang sudah membaca cerita saya aneh ini. Walau dialognya agak… aneh. Gara-gara saya membaca novel dan melihat sekitar. Hehehe…
Signature,
Zecka Fujioka
Makassar, 26 Maret 2014
