"Narutoo!"
Bocah kecil berambut kuning jabrik menoleh ke suara orang yang memanggilnya, kemudian tersenyum lebar. "Akhirnya kamu datang juga!" serunya senang.
Langkah kaki temannya tersebut berhenti tepat di depannya, mukanya tiba-tiba kusut. Naruto, sapaan akrab, meneliti wajah kusutnya dan tiba-tiba dirinya diliputi perasaan cemas. Naruto tidak tahu ada apa di balik wajah yang kemarin-kemarin ceria bersamanya, berubah kusut.
"Ada apa?"
"Aku…," dia jadi gelagapan, tidak bisa ngomong kepada sahabatnya yang sebenarnya. Mata beningnya menatapnya lurus-lurus. "Aku akan pindah ke Osaka bersama Ibuku dan…," kalimat tersebut terpotong seiring dia menelan air liur yang mengganjal di tenggorokan. "… bersama Ayahmu."
Mata biru tersebut terbelalak total, mulutnya menganga. Mainan di pegangnya jatuh seketika di atas tanah, pecah berkeping-keping padahal itu adalah mainan Ayahnya yang jarang pulang ke rumah.
"Kamu bohong!" teriaknya.
"Maafkan aku, Naruto!" dia menunduk, serba salah.
"Bukan itu! Aku tidak memarahimu! Aku memarahi Ayahku!" teriaknya kesal, marah dan frustasi. "Dia selalu jarang pulang ke rumah, bikin Mama sedih. Memangnya dia siapa? Seenaknya pulang-pulang dan memberitakan kabar ini melalui kamu!" Naruto jatuh lunglai, menahan tangis.
"Naruto… kita…,"
"Pergilah! Ambil saja orang itu!" teriaknya selama Naruto menunduk. "Kalau mau kembali, jangan sampai kamu mengucapkan kata "Ayah" di depanku! Aku tidak pernah kenal dia! Mengerti!" katanya bangkit berdiri, berlari meninggalkan temannya.
"Narutooo!" panggilnya melihat sahabatnya berlari menjauh. Menjauh dari dirinya.
.
Galaxies Goddess
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi
WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.
.
Chapter 04: Truth of My Destiny
"Naruto! Bangun!"
Pemuda berambut kuning jabrik menggeliat karena mendengar suara samar di dekatnya, lebih memilih melanjutkan tidur. Dia berguling ke samping, malas mendengar suara tersebut. Namun, dirinya tidak tahu kalau orang yang memanggilnya adalah gadis yang tidak sengaja dia bawa ke rumah.
"Dasar! Tidak bangun-bangun juga!" gerutunya kesal sambil bertolak pinggang. Berpikir mencari-cari alat yang bisa membangunkan anak masih tidur ini. "Nah!" dia mendapatkan ide brilian, mengambil alat itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hei! Kalau kamu tidak bangun-bangun juga, aku bisa melemparmu pakai ini."
"Apaan, sih?" tanya Naruto kembali berguling di mana arah datangnya suara, melebar total melihat gadis itu mengangkat kursi—beratnya luar biasa—tinggi-tinggi. "He-hei! Turunkan kursi itu. Bisa hancur tubuhku kalau kamu melakukannya."
Hinata memasang wajah tidak berdosa, mendongak ke benda dipegangnya tinggi-tinggi. "Kenapa memangnya? Bukankah ini cara supaya kamu tetap bangun, daripada teriak-teriak. Capek, tahu," sambungnya cemberut.
"Iya! Aku sudah bangun! Jadi, letakkan kursi itu!" pintanya kepada Hinata, menyuruh menaruh kursi tersebut ke tempat semula.
"Iya, iya."
Hinata meletakkan kursi tersebut di tempatnya semula. Kembali bertolak pinggang, menatap Naruto yang pucat pasi. Di dalam hatinya, Hinata merasakan kegundahan amat dalam dirasakan pemuda di depannya. Melangkah maju, dan menatap Naruto tepat di depan wajahnya.
"Kamu bersedih lagi?"
"Apa?" tanyanya mengernyit bingung. "Maksudnya apa, sih?"
"Lihat, mukamu kusut." Hinata menunjuk wajah Naruto, seketika pemuda itu jadi salah tingkah. Buru-buru kabur dengan cara bangkit dari tempatnya. "Ada apa, sih? Kenapa malah kabur?"
"Aku mau mandi. Enak saja kabur," jawabnya meraih handuk dan masuk kamar mandi. Saat Hinata mau mengikutinya, Naruto mengangkat tangannya ke atas, menghentikannya. "Anak perempuan tidak boleh masuk. Ini privacy untuk cowok."
"Apa kamu tahu, di bumi galaksi sana, aku sering melihat kakakku mandi."
Kepala Naruto melongo ke luar. "Apa?! Kamu cewek waras atau tidak, hah?" tanyanya tidak percaya.
"Tentu saja aku waras, bodoh," sela Hinata merasa dituduh begitu. "Di galaksi sana, kami tidak memakai air. Kami memakai tempat yang tidak membuat orang bertelanjang. Tetap memakai pakaian lengkap, makanya beda di sini beda di sana. Teknologi duniaku beda juga di sini. Kamu mengerti."
"I-iya…," Naruto kembali salah tingkah. "Tapi, bukan berarti kamu melihatku mandi. Lebih baik kamu tunggu di sana. 5 menit aku selesai." Pintunya pun tertutup dengan kerasnya, bikin Hinata mengernyit pada sikap Naruto yang ada-ada saja.
Sementara Naruto mandi, Hinata mengelilingi ruangan tersebut sungguh mengagumi interior di dalamnya. Ada lukisan, foto-foto bersama Ibunya, meja belajar, TV, komputer, lemari, tempat tidur dan… sebuah boneka.
"Kenapa ada boneka di sini?"
"Jangan sentuh boneka itu!" serunya setelah keluar kamar mandi, Naruto berpakaian lengkap dengan baju memang sengaja diambilnya di lemari, mengambil paksa boneka tersebut di tangan Hinata. Gadis itu tidak tersinggung, tetapi malah ketawa cekikikan. "Kenapa ketawa?"
"Heran saja, biasanya boneka itu khusus buat anak perempuan. Kenapa anak laki-laki sepertimu bisa memilikinya?" tanyanya bersedekap, meminta jawaban.
"Bukan urusanmu!" Naruto cemberut padahal wajahnya malu merona. "Kalau kamu punya apa di sana?"
Hinata menghela napas mendengar Naruto mengalihkan topik pembicaraan. "Kambing."
"Apa?" Ekspresi kaget Naruto menatap Hinata tidak percaya. "Boneka kambing, maksudnya?"
"Salah." Hinata menggeleng. "Maksudnya kambing yang bisa berdiri. Semua hewan-hewan di sini tidak bisa berbicara, kalau di sana mereka berbicara. Berdiri, apalagi. Bicara pakai bahasa kami, juga mereka mengerti."
Takjub. Tidak menyangka Hinata mengatakan hal sebenarnya begitu. Di depannya. Gadis, entah dari mana muncul tiba-tiba akan mengabulkan permintaan hatinya yang selama ini bersedih, kesal, dendam dan marah. Perlahan-lahan dikabulkannya, contohnya kemarin di mana dirinya berhasil membuat Sakura dan Sasuke menceritakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Apakah ini takdir?
"Naruto, kamu sudah pulang?"
Lamunan Naruto buyar, menoleh ke arah pintu. Suara orang yang jarang banget pulang ke rumah, membukakan pintu tersebut. Wajah kuyu sang Mama membuatnya sedih. Sudah lebih dari 11 tahun, Mamanya berubah menjadi pucat begini dan gila kerja.
"Mama sakit?"
Wanita berambut merah panjang tersebut mengangkat tangannya, membelai sayang di kepala Naruto, menggeleng. "Tidak. Mama hanya capek saja. Maafkan Mama tidak membuatkanmu makanan buat sarapan pagi ini, tapi malah kamu yang buat."
"Hah?"
"Iya, kamu yang buat sarapan ini kan?" tanyanya mengulangi lagi pertanyaannya.
Naruto menoleh ke belakang, tempat Hinata berdiri, tetapi gadis itu menghilang. Apakah jangan-jangan Hinata yang memasak untuknya? Apa dia mengerti cara membuat masakan di Bumi? Ataukah memakai cara di dunianya, dunia Galaksi? Yang tidak perlu panci, wajan, blender, penanak nasi dan macam-macam yang tersedia di dapur?
"Bagaimana kalau kita sarapan?"
"Boleh."
Naruto menutup kamarnya, meninggalkan sebuah boneka entah kapan dimilikinya dulu. Malah dipegang oleh Hinata. Boneka. Boneka manis mirip kelinci. Sepertinya boneka ini dibuat saat seseorang melakukan perjalanan ke luar angkasa dan memberikannya kepada Naruto. Tapi siapa?
"Saatnya permohonan kedua dimulai, Naruto."
-To be continued-
.
A/N: Maaf! Apakah agak lama saya tidak update? Padahal sebenarnya agak mudah membuat drabbles, tapi kepala saya sering blank. Dan itu susah sekali membuatnya sesuai apa yang ada di kepala. Maaf… dan terima kasih sudah mau membaca! ^^
Signature,
Zecka Fujioka
Makassar, 27 Maret 2014
