"Kenapa kamu tidak membuang boneka itu?"

Naruto tersedak dalam sarapannya membuat sang Mama alias Kushina terkejut, menepuk punggungnya lembut.

"Hati-hati kalau makan, Naruto. Lihat kamu tersedak begini." Kushina memberikan gelas berisi air ke Naruto, membantunya minum. "Sebelum makan, berdoa dulu supaya kamu tidak tersedak kedua kalinya."

"Maaf, Ma." Mata biru tersebut menatap sosok di depannya, berdiri menjulang meminta jawaban pasti. Kalau dilihat-lihat, Kushina tidak melihat gadis itu tepat di belakangnya. "Nanti saja aku menjawabnya, kamu lebih baik ke sana saja dulu," bisiknya lirih.

"Tidak mau," tolaknya.

"Kamu bicara sama siapa, Naruto?" tanya Kushina sembari dari tadi melirik anak satu-satunya, lalu menoleh ke belakang. Tetapi, tidak ada apa-apa di sana. "Di sini hanya kita berdua, apa kamu berhalusinasi?"

"Mana mungkin, Ma!" Naruto cemberut karena Hinata merusak suasana sarapan pagi ini berbarengan bersama Mamanya, yang jarang sekali pulang ke rumah. "Pergilah sana. Jangan ganggu aku!" katanya kembali ke belakang, tetapi sosok tersebut tiba-tiba menghilang.

TING TONG! TING TONG!

"Siapa ya, pagi-pagi begini?"

Kushina bangkit berdiri, kemudian berjalan ke pintu masuk rumahnya. Beberapa semenit kemudian, dia datang bersama gadis berambut biru. Naruto membuka mulutnya, ternganga lebar dan sendok yang dipegangnya terjatuh, melihat gadis itu tiba-tiba menghilang dan muncul di hadapannya. Kushina merangkul bahu Hinata, tersenyum.

"Ke-kenapa dia ada di sini, Ma?" Naruto bertanya sambil menunjuk Hinata lurus-lurus.

"Bukannya dia temanmu?"

"Hah? Apa?"

Naruto menatap Hinata yang tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya. Naruto terperangah dan dia jadi tidak mengerti pada gadis ini. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Gadis ini bikin dirinya mendapatkan kejutan. Surprise!

.

Galaxies Goddess

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi

WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.

.

Chapter 05: I Love U, Star

Karena Kushina harus kembali ke tempat kerjanya, Naruto lebih memilih mengajak jalan-jalan Hinata yang sedari tadi tersenyum lebar dan Naruto malah dongkol. Selalu bikin kaget, takjub, tidak percaya dan apa-apa saja membuat dirinya tidak mampu mengkhayal seperti apa kehidupan Hinata di sana.

"Ngapain kamu masuk-masuk, padahal tadi menghilang?" ucap Naruto memulai percakapan.

"Itu supaya kamu tidak berbicara sama tembok. Lebih baik seperti kemarin, ada orang-orang yang melihat keberadaanku," sahut Hinata tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke orang-orang berlalu lalang. Naruto sontak menurunkan tangan gadis itu, jengkel.

"Jangan tebar pesona. Seperti baru melihat manusia berjalan."

"Huh." Hinata manyun.

Pemuda berambut kuning emas menghela napas. "Seandainya Mama kembali ke masa-masa dulu di mana dia menyukai bintang-bintang, pasti aku sangat bahagia. Begitu juga orang itu."

"Bintang? Suka? Orang itu?"

Mata Naruto menyipit menatap Hinata. "Kalau mau bertanya, jangan cepat-cepat. Mirip rel kereta api saja." Hinata kembali manyun.

"Aku 'kan penasaran seperti apa permohonanmu yang kedua."

"Kedua apa?" Naruto balik bertanya. "Jangan bilang kamu sudah mengabulkan permohonanku yang pertama?" tanyanya tidak percaya.

"Ah, sudah. Cepat katakan apa yang membebanimu sampai sekarang? Kenapa kamu selalu terlihat tidak senang melihat boneka itu, lalu siapa orang itu? Apa orang itu punya hubungan masa lalu dengan Ibumu?"

"Bawel."

Naruto mempercepat langkahnya, kemudian berhenti. Napasnya jadi sesak, akhirnya tiba sudah dia menceritakan hal sebenarnya yang selama ini mengganjal terus di hatinya. Dia pun menoleh menatap Hinata.

"Aku sebenarnya punya Ayah." Hinata mau bertanya, lagi. Naruto tahu apa yang di pikiran gadis itu. "Dia masih hidup." Hinata mengerti. "Tapi, dia kawin lagi dengan orang yang tidak ingin aku dengar karena orang dinikahinya adalah Ibu dari dia." Hinata menyimaknya.

Naruto kembali melanjutkan, "Mama dan Ayah adalah seorang astronot, mempelajari angkasa dan pernah tinggal di sana selama beberapa minggu. Di sana pula, mereka menjalin kasih hingga aku lahir. Waktu aku berusia 6 tahun, Ayah meninggalkan kami dan pergi bersama keluarga barunya. Aku tidak tahu kenapa Ayah melakukan itu padanya hingga aku bertengkar dengan dia yang merupakan orang paling mengerti diriku selain Sasuke maupun Sakura."

"Dia siapa?"

"Aku belum selesai ngomong." Hinata menutup mulutnya. Naruto melanjutkan. "Sampai sekarang aku tidak bisa ngomong satu sama lain dengannya. Hubunganku hancur seketika dan tidak bisa diperbaiki lagi." Naruto menoleh ke Hinata. "Apa kamu tahu, kalau aku lahir di Mars?"

Mata perak Hinata terbelalak kaget. "Apa? Masa, sih?" tanyanya tidak percaya.

"Biarpun kamu tidak percaya, aku sungguh-sungguh lahir di Mars. Mereka pernah tinggal di salah satu kota dibuat oleh Manusia-Manusia di Bumi. Di sanalah aku lahir. Makanya aku sangat mencintai bintang. Dan berharap ada dewi yang bisa menemaniku di sini, seperti sekarang ini, bersamamu."

"Ini adalah takdir." Hinata mengedipkan sebelah matanya, Naruto terkekeh geli.

"Aku mau semuanya berubah. Sejak Ayah dan Mama berpisah, Mama berubah profesi dari astronot ke pegawai biasa. Dia selalu membelikanku macam-macam dan membiayai semuanya sampai dia kecapekkan dan sering sakit-sakitan. Aku tidak mau Mama sakit." Naruto merunduk. Hinata menepuk pelan bahunya, namun obrolan mereka terhenti karena mendengar suara di kejauhan.

"Naruto! Hinata!"

Kedua pasang mata mereka menatap saat kepala mereka terangkat naik. Di sana ada gadis berambut pirang berkuncir satu, pemuda berambut hitam klimis, pemuda berkacamata dan sangat judes, pemuda beralis tebal dan pemuda berambut merah.

Naruto dan Hinata berdiri. Wajah Naruto jadi tegang saat melihat dia yang tidak seharusnya berada di sini. Meskipun ada sahabat-sahabat lainnya. Hinata sangat mengetahui keresahan dan dendam di dalam benak pemuda di sampingnya.

"Kenapa kalian ada di sini?" Ino meneliti mereka secara bergantian, menyikut dada Naruto. "Kalian kencan?" tanyanya.

"Tidak. Kami sedang berjalan-jalan," tandas Hinata penuh kelembutan. Naruto tidak menjawab.

"Kalian mau bareng kami?" ajak Sai melihat wajah gelisah Naruto. Dia sangat menyakini wajah Naruto pasti karena sebab dan tidak lain dikarenakan orang dibawanya. Sai harus melakukan sesuatu. "Kami mau ke tempat terenak di hari Minggu ini bersama mereka. Ada Sasuke dan Sakura, juga. Sisanya, mereka ada les mingguan. Kalian mau 'kan?" tawar Sai penuh harap dan permohonan di balik matanya, tetapi Naruto mengacuhkannya karena terus melihat dia yang juga berbalik melihatnya.

"Tentu saja," respon Hinata merangkul lengan Naruto, menyetujui tawaran Sai. "Mari kita jalan-jalan!" sahutnya gembira sambil mengangkat kapalan tinju ke atas. Naruto menyetujui asalkan Hinata dan sahabat-sahabatnya bersamanya.

Dia, cowok yang ingin semuanya kembali seperti dulu. Ada kegembiraan, senyuman, kebahagiaan, kebersamaan dan rasa penuh suka duka. Tetapi, semuanya hancur hingga saat ini. Gara-gara kejadian saat umurnya 6 tahun, dia masih menyalahkan pria yang telah mengambil hati Ibunya. Gara-gara pria itu, hubungan dia sama Naruto jadi renggang dan hancur. Seketika. Berkeping-keping.

Dia ingin kembali. Berharap Naruto memaafkan dirinya, karena hanya Naruto-lah dia mengerti arti hidup selama ini. Dia ingin Naruto kembali, sama seperti mereka menyukai bintang-bintang saat kecil dulu. Itu saja. Tidak ada yang lain.

-To be continued-

.

A/N: Apa kalian tahu kalau sebenarnya di per chapter ada judul yang sangat mirip dengan judul fict saya? Itu benar sekali! Sengaja dan sangat cocok buat cerita ini. Hehehe… XD

Signature,

Zecka Fujioka

Makassar, 28 Maret 2014