"Hei!"
Sapaan dari cowok berambut biru dongker kepada sahabat-sahabat lainnya. Buru-buru Naruto kabur dari sana. Itu membuatnya tidak tahan dekat-dekat dengan dia, memilih meja yang dekat dengan Sasuke dan Sakura.
"Kamu kenapa?" tanya Sakura mengawasi wajah kusut Naruto sedari dia masuk ke restoran ini. "Mukamu pucat dan sangat kusut, Naruto."
"Bukan apa-apa kok, Sakura. Dia hanya lapar." Hinata membalas pernyataan Sakura sebelum cewek itu memberikan pertanyaan bertubi-tubi. Gadis itu pun mengerti.
Hinata duduk di depan Naruto, sambil melihat kerumunan cowok-cewek di sampingnya. Wajah orang itu sama seperti wajah Naruto. Kusut. Pucat. Gelisah. Yang satu penuh dendam. Yang satu berharap semuanya kembali. Hinata jadi menghela napas berat.
"Apa kamu tidak bisa berlaku lebih baik di depannya?"
"Siapa?" Naruto baru mendongak dan menatapnya. "Dia?" Berharap pertanyaan itu tidak tertoleh ke orang itu, tetapi Hinata malah mengangguk. Naruto mendengus. "Kamu tidak tahu apa-apa. Lebih baik kamu pesan makanan. Aku tidak lapar, seperti kamu maksudkan."
Hinata cemberut, tidak suka dialihkan topic pembicaraannya. Dia mencubit hidung lelaki itu, Naruto meringis kesakitan memegang hidungnya.
"Aduh… kalau nyubit jangan keras-keras. Dendam sama aku?"
"Kamu yang dendam. Apa kamu tahu, dendam itu tidak baik?!" Hinata marah, menggebrak meja. Semua sahabat-sahabat Naruto menoleh ke arahnya. Hinata menyipit marah. "Aku marah karena dia!" tunjuknya ke wajah Naruto lurus-lurus. "Kalau mau salahkan, salahkan dia bukan aku!" dengusnya marah sambil bangkit berdiri.
"Hinata!" panggil Naruto meraih tangannya. "Jangan marah, dong. Masa karena itu kamu marah-marah sama aku," ucapnya memelas berharap Hinata memenuhi permohonannya.
"Boleh. Aku tidak bakalan marah sama kamu. Asalkan kamu belikan aku sesuatu, apa yang aku minta." Hinata tersenyum misterius. Naruto jadi bergidik. "Setuju?" katanya jelas.
"Setuju, deh."
"Bagus."
Naruto dan Hinata memesan makanan begitu pun sahabat-sahabat di sampingnya. Mereka memesan makanan dalam keheningan yang amat dalam, takut kena amukan dari Hinata yang… sadis!
.
Galaxies Goddess
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi
WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.
Chapter 06: The First And Last Love
.
Beberapa jam kemudian, Naruto terduduk lemas di meja makan. Mukanya pucat pasi. Lebih pucat, lagi ketimbang yang tadi. Karena mata birunya menatap piring-piring kotor di depannya, sambil melihat gadis super cuek yang tadi telah menghabisi makanannya dalam waktu kurang dari dua jam dengan porsi aduhai.
"Tidak menyangka kamu bisa memakan habis semua ini, Hinata," salut Sakura menatap piring-piring kotor bertumpuk. "Ancaman kamu memang hebat, sampai Naruto jadi tidak sanggup bicara." Sakura kasihan melihat Naruto super pucat seputih kapas. "Hingga menguras uang bulanannya."
"Siapa suruh," sahut Hinata cuek. Lalu, dia melihat orang itu di sampingnya rada kasihan pada Naruto. Hinata tersenyum. "Aku mau bicara dengan kalian, enam mata," katanya sambil menyeka mulutnya pakai serbet.
Naruto terperanjat. "Tidak mau!" Naruto berdiri, memasang wajah garang. "Aku 'kan sudah penuhi permintaanmu, jadi aku tidak mau mendengarnya lagi. Dan aku tidak mau berbicara dengan dia."
DUAGH!
Naruto terlentang lemas dengan kepala benjol yang dilakukan Sasuke kepadanya. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada, kesal. "Jangan jadi anak kecil, bodoh. Kami sudah capek melihat tingkah lakumu." Sasuke dengan sadisnya duduk di atas punggung Naruto. "Kalau kalian berdua tidak selesaikan ini secara baik-baik, aku tidak akan melepaskan kalian berdua. Benar 'kan, Sakura?"
"Benar sekali."
"Sekarang apa yang kamu pikirkan, Dobe?"
"Umm…,"
Sasuke menurunkan setengah tubuhnya, mendekatkan ke wajah Naruto yang tidak terlihat karena terbenam di lantai. "Aku tidak mendengarnya, Naruto."
Kepala Naruto melongo, menatap kesal pada sikap Sasuke. "Singkirkan pantatmu di punggungku, bodoh! Aku tidak bisa bergerak apalagi bernapas!"
"Oh, sorry."
Sasuke bangkit. Naruto membalikkan tubuhnya dan menatap langit-langit, menghela napas dalam-dalam. Mata birunya tertangkap mata bening itu, tersenyum kecut. Dia pun bangkit dan duduk sambil menyilang kaki.
"Sudah kubilang, aku tidak marah padamu. Aku hanya jengkel karena Ayah lebih memilih kamu dan Ibumu daripada aku dan Mama." Kembali dirinya menghembuskan napas, berat dan panjang. "Tapi, aku semakin membencimu karena kamu tidak mengatakan apa pun padaku sejak awal. Mungkin aku bisa menerima, tapi hatiku tidak."
Dia pun duduk di depan Naruto, tersenyum. "Hei, kamu itu sahabatku. Sampai sekarang. Biarpun kamu membencimu karena hatimu yang kamu tutup. Aku dengar percakapan kalian, dan itu sangat membuatku kaget. Dari dulu aku tahu, kamu menyukai Sakura lebih dari seorang sahabat dan saudara beda dengan suka sebagai cewek. Sekarang aku mengerti."
"Mengerti apanya?" dengus Sasuke mendengar penjelasan dia. "Kamu terlalu percaya diri…," Sasuke tersenyum bersahabat. "… Gaara."
Pemuda berambut merah tersebut membalas senyuman itu. "Hei, aku lebih mengetahuinya daripada kamu." Semuanya tertawa bersamaan. Naruto menjadi rileks, bebannya satu per satu menghilang.
"Apa kamu tahu, Naruto, kalau Gaara ini cinta padamu dari pertama dan terakhir," Ino melanjutkan perbincangan ini, menahan tawanya melihat wajah Naruto pucat.
"Ka-kamu bukan seorang…," kalimat Naruto terpotong karena kepalanya kena jitakkan dua pasang tangan, dari Sasuke dan Gaara. Naruto mengaduh, menahan isak tangis dan rasa sakit. "Tidak bisakah kalian berhenti menjitakku?"
"Kamu cepat sekali percaya sama omongannya Ino. Mana mungkin!" serunya kembali menjitak pelan kepala sahabatnya.
"Kenapa kamu malah sewot, Teme?" Naruto jadi mencurigai Sasuke. "Jangan-jangan kamu…," sebelum Naruto sempat mengatakannya, kejadian itu pun berubah cepat.
BUAGH!
Semuanya tercengang melihat kemarahan Sakura. Naruto meringis kesakitan dibantu Hinata mengipasi kepalanya yang benjol bertingkat-tingkat. Hinata sekilas melirik, jadi malas bicara karena melihat rahang mengatup keras di tenggorokan Sakura.
"Jangan berpikiran seperti itu, bodoh!" teriaknya jengkel. "Mulai detik ini, aku mau kamu bertemu Paman Minato. Dia membutuhkanmu dan aku sangat yakin, dia pasti punya alasan kenapa dia meninggalkanmu dan Bibi Kushina," katanya mengalihkan topik ke arah semula.
"Iya, iya. Tapi jangan asal memukul, dong." Tangannya mengelus pelan bukit kembar di atas kepalanya, sambil meringis. Dia menatap Gaara. "Urusanku denganmu sudah selesai. Maafkan aku selama ini, Gaara."
"Yo, saudaraku."
Semuanya tertawa bersamaan. Hinata tersenyum lebar, sepertinya permintaannya telah selesai walau belum seratus persen permintaan kedua terpenuhi. Naruto belum berbicara dengan orang yang menyebabkan dirinya terus gelisah. Hinata harus menuntaskannya sebelum waktunya dia dipanggil pulang.
"Mari kita ke rumahnya Gaara!" teriak Hinata gembira, mengacungkan kapalan tinju ke atas.
Semuanya terperangah melihat kegembiraan Hinata. Gadis itu bukannya malu, tetapi mengedipkan sebelah mata ke mereka dan tersenyum lebar.
"Peace! Tanda kedamaian." Hinata mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah. Naruto terkekeh geli melihat Hinata polos, cuek, dan selalu berpikiran lurus. Ada sesuatu di benak Naruto yang tidak disadarinya.
Apakah mungkin itu cinta?
-To be continued-
.
A/N: Belum 100% keinginan kedua di dalam hati Naruto terpenuhi oleh Hinata. Chapter selanjutnya segera menanti, dimohon tunggu sampai subuh ya. Saya hanya bisa sampai subuh update-nya. Dan Facebook saya lagi deactive sampai 20 April. Hehehe…
Signature,
Zecka Fujioka
Makassar, 28 Maret 2014
