Mulut mereka sontak menganga, melihat rumah di depannya. Suerr, angker banget. Dikerumuni pohon-pohon menjulang tinggi menutup langit. Tanah baru dikena hujan diselimuti daun-daun gugur yang jarang dibersihkan. Rumahnya unik dan serba temaram karena cahaya lampu tertempel di dindingnya.

Semuanya menatap Gaara yang melihat mereka hanya bisa bengong. "Ini rumahku. Kalian pikir, rumahku super mewah seperti kata Temari? Temari tinggal dengan Nenekku sejak Ayah meninggal. Makanya kalian anggap rumah mewahku dan Temari adalah rumah Nenekku yang kebanyakan pelayan daripada pemiliknya," katanya polos walau bengong melihat raut muka mereka yang terkesan lucu.

"Kereeen!"

Hanya Hinata saja yang terkagum-kagum melihat rumah angker ini, mengguncang-guncang lengan Naruto sekilas tadi tidak sanggup membayangkan apa isi dalamnya, dengan mata berbinar-binar baru pertama kali melihat rumah semewah ini.

"Lihat, Naruto! Ini rumah impianku yang aku idam-idamkan selama ini." Hinata menari-nari sambil mengayunkan lengan Naruto bak mirip penari dansa. Sekelilingnya berbunga-bunga dan mengkhayal. "Kalau aku nikah nanti, aku meminta suamiku membelikanku rumah ini dan kita tinggal bersama dalam suka dan duka."

Semuanya yang berada di sana ternganga mendengar khayalan tingkat tinggi Hinata. Sungguh aneh dengan cewek ini. Orang sekarang pasti tidak suka memilih tinggal di sini, mending cari tempat lain. Eh, ini… malah berharap bisa tinggal. Ada-ada saja nih, cewek.

"Berapa harga rumah ini yang kamu jual, Gaara?" tanya Hinata menoleh menatap Gaara yang tadi bingung pada tingkah laku Hinata, jadi salah tingkah.

"Umm… rumah ini bakalan dijual kalau Ibu kembali ke Nenek. Ibu… tidak bisa meninggalkan Ayah Naruto." Sesaat Gaara melihat wajah Naruto pucat. "Kalian akan melihatnya setelah kalian masuk." Hinata menatap lurus-lurus ke Gaara, pemuda itu jadi meringis. "Harganya 70 juta yen, kalau kamu mampu."

Hinata menjetikkan kedua jarinya. "Itu kecil asalkan ada change money di sini."

Mereka bertambah terperangah saat Hinata mengatakan begitu. Naruto menutup wajahnya dengan sebelah tangan, ampun-ampun deh, sama sikap gadis di sampingnya.

"Ayo, masuk," tawar Gaara mengajak mereka. Tetapi…

"Aku tidak deh," tolak Lee kabur duluan. Mereka membatu.

Hinata bertolak pinggang, cemberut. "Apa-apaan itu! Belum lihat di dalamnya, langsung kabur duluan. Dasar cowok penakut." Hinata merangkul Naruto yang ketakutan di tempat. "Yuk, Naruto, Sasuke, Sakura, Gaara. Kita masuk. Eh, di mana Sai, Ino dan Shino?" tanyanya celingak celinguk ke sana kemari. Gaara menghela napas.

"Mereka kabur, menyusul Lee tadi."

"Mereka benar-benar penakut!"

Mereka tidak membantah lagi ajakkan Hinata. Mereka menerimanya saat Gaara membuka pintu rumahnya. Mereka jadi serba takjub, kaget, terperangah dan mulutnya terbuka maksimal. Tidak bisa terkatup lagi saking wah-nya melihat isi rumah tersebut. Apalagi Hinata… -_-"

.

Galaxies Goddess

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi

WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.

.

Chapter 07: Change

"Ini sangat kereeen!"

Sedari tadi Hinata berseliweran ke sana kemari, mengamati setiap lekuk ruangan dan isinya. Gaara mengizinkannya. Ketiganya membatu melihat kemegahan dalam rumah unik super angker (hanya di luarnya saja), tetapi di dalamnya… wah banget.

Di dalam ruang tamu mirip ruang bersejarah seperti museum, banyak barang antic di dalamnya. Dipadukan warna emas dan cokelat juga putih pucat. Di balik jendela bisa terbuka sendiri, ada taman terindah pernah dilihat oleh mereka. Rumah ini super megah, mirip rumah kerajaan. Hanya saja kebanyakan patung, melotot ke ketiganya. Padahal Cuma patung doang.

"Tidak usah takut sama patung-patung itu. Ibu mengoleksinya waktu dia masih berusia seperti kita-kita ini." Gaara menyakinkan ketiganya bahwa ini semua milik Ibunya, mereka semakin tercengang. "Patung-patung itu tidak bergerak, Cuma bergeser sedikit kalau tengah malam."

Itu kan malah lebih seram lagi, batin mereka bertiga.

"Hai, patung! Kalau di tempatku, patung sepertimu bisa menjaga museum, bank, supermarket dan gubernuran. Bisa bergerak lagi, karena aku—ummph!" sebelum Hinata berbicara panjang lebar, Naruto cepat-cepat membekap mulutnya.

"Jangan ngomong di sini, bodoh," bisiknya lirih.

Hinata cengengesan sambil mengacungkan dua jari tanda kedamaian dan minta maaf. "Sorry…"

"Mana Paman Minato?"

Gaara tersentak kaget mendengar pertanyaan Sasuke. "Dia ada di kamar. Tapi… itu…"

"Boleh aku melihatnya?" tanya Naruto kembali diliputi kecemasan saat dilepaskannya mulut Hinata yang terus cengengesan sambil melirik ke patung.

"Itu…"

PRAAANG!

"Ada pencuri!" sontak saja Hinata berteriak lantang mirip orang kesurupan. Justru itulah Naruto, Sakura, Gaara, dan Sasuke kaget setengah mati bukan karena pecahan kaca, tetapi teriakan Hinata. Menggelegar, bo!

"Hentikan, Hinata! Kamu bikin kami jantungan, tahu tidak!" teriaknya memprotes, mengelus dadanya yang terasa sakit.

"Kushina! Di mana kamu!?"

Gaara cepat-cepat bangkit berdiri. Dia buru-buru meminta mereka sembunyi di belakang sofa dan di dekat patung, sekalian menyamar jadi patung. Gaara tetap berdiri di depan, menghembuskan napas yang semakin sesak dihembuskannya.

"Kushina!"

"Paman!" teriak Gaara menenangkan. "Kushina tidak ada sini. Kami mohon, Paman tenanglah. Ibuku akan kembali pulang."

Sosok menjulang tinggi, rambut kuning keemasan dan jabrik. Wajahnya garang. Rahangnya mengatup keras. Bibirnya pucat pasi begitu pula kedua matanya membentuk bola hitam di bawahnya.

Naruto tercengang, menggigit bibir. Inikah Ayahnya selama ini dia benci karena meninggalkannya? Kenapa berubah sangat drastic? Bukan terpancar kebahagiaan setelah meninggalkannya? Melainkan sebuah amarah sambil memanggil-manggil nama Mamanya, Kushina. Ada apa dengan semua ini?

"Diam kamu!" Minato melayangkan pukulan telak di pipi Gaara hingga terjungkal ke belakang. Naruto mau menolong, tetapi Minato sangat menyeramkan. "Jangan bicara kamu ya! Gara-gara Ibumu, aku tidak bisa melakukan itu pada Kushina. Dia telah mengambil milikku! Karierku! Kerja kerasku! Dan kedua anakku yang telah meninggal dunia!" teriaknya membahana.

"Apa maksudnya?" bisik Naruto dalam kebingungan. "Kedua anak? Karier? Kerja keras? Aku tidak mengerti sama sekali," katanya menyipit, berpikir keras.

"Paman…," Gaara terbatuk-batuk akibat pukulan keras tersebut. "Kami sengaja membawamu ke sini karena Ibuku tidak mau Paman menyalahkan, menuduh, dan memukuli Bibi Kushina lagi semenjak karier Paman musnah dan adik-adik Naruto yang belum sempat lahir karena meninggal dunia waktu kecelakaan itu." Gaara sengaja menjelaskan permasalahannya yang dari dulu dia sembunyikan kepada Naruto.

Di tempat Naruto tidak mampu berbicara. Inikah kenapa Ayahnya pergi dari dirinya? Karena pernah memukuli Mamanya yang selalu pucat pasi? Dia jadi lemas. Dia merasa bersalah pada Gaara selama bertahun-tahun. Dia terisak di dalam kebisuan.

"Kamu tahu apa, hah?" dengus Minato. "Kamu hanya anak bau kencur, masih butuh bimbingan dari orangtua!" Lagi-lagi Minato memukuli tubuh Gaara dengan kakinya, namun itu digagalkan karena sebuah patung tiba-tiba menindihnya dari belakang.

Minato pingsan di tempat karena kepalanya tertumbuk kepala patung. Hinata di belakang patung tadi terjatuh, menatap jengkel Ayah Naruto.

"Itu adalah masa lalu. Semuanya takdir Kami-sama. Kamu tidak pantas ngomong begitu, dasar kakek tua!"

Semuanya cepat berlalu. Ambulans datang membawa Minato ke Rumah Sakit terdekat, memeriksa kesehatan jiwanya. Naruto duduk lunglai di tempatnya, perasaannya jadi campur aduk. Hinata menemaninya dan menenangkannya.

Belum ada respon dari jawaban ini. Mungkin setelah selesai merawat Gaara yang terluka, barulah dia bicara tentang perubahan ini. Perubahan tidak diketahuinya semenjak usianya baru 6 tahun.

-To be continued-

.

A/N: Chapter 7 update! Kalian pasti berpikir, kenapa saya mengetik pendek-pendek dan tanggalnya sama? Itu karena saya membuatnya lebih dari satu. Sengaja diperbanyak karena saya mau buat drabbles lagi. Hehehe… :P

Signature,

Zecka Fujioka

Makassar, 28 Maret 2014