"Jadi…," Naruto menggantung kalimatnya, tidak sanggup menatap Ibu Gaara. "Bibi melakukan ini untuk menyelamatkan Mama?" Akhirnya Naruto mengangkat kepalanya, melihat wajah wanita kurus tersenyum penuh arti.

"Bibi dan Mamamu, Kushina, adalah sahabat lama, sama-sama menyukai bintang juga pernah bekerja di NASA. Sejak suami Bibi meninggal, Bibi memilih tinggal sendirian di rumah itu bersama Gaara. Sedangkan Temari, memilih tinggal dengan Neneknya." Wanita berambut merah pendek terus tersenyum, tetapi tersenyum sedih. "Saat Kushina menikah dengan Ayahmu, kebahagiaan ada untuk mereka. Semuanya berjalan lancar, tapi…,"

"Tapi apa, Bibi?"

Wanita itu meneteskan air mata, menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. "Setelah kamu lahir, usiamu baru 5 tahun hampir mencapai 6 tahun. Kushina mengandung anak kembar, tapi kecelakaan menimpanya hingga dia keguguran. Akibat kecelakaan, dia tidak bisa hamil lagi." Ibu Gaara menghela napas. "Karena itulah, Minato frustasi. Dia menyalahkan Kushina karena tidak bisa menjaga kandungannya. Minato tidak bisa mengatakan padamu, Naruto. Dia tidak mau menyakitimu, karena dia menyayangimu."

"Ayah menyayangiku?"

Ibu Gaara mengangguk. "Makanya dia membelikanmu boneka itu, selalu dan setiap hari."

"Tidak mungkin."

"Kamu boleh tidak mempercayai Bibi, tapi itulah kenyataannya. Dia dari dulu memang sangat menyayangi anak kecil, itulah mengapa dia menyayangimu. Tapi karena keadaan, dia meninggalkanmu bersama Ibumu. Kushina histeris waktu itu, Minato pun meninggalkannya." Ibu Gaara melanjutkan ceritanya, Naruto terenyuh.

"Kami tidak menikah, Naruto. Bibi menyarankan Minato untuk tinggal bersama Bibi dan Gaara agar Minato tidak terbebankan lagi. Sayangnya, hari demi hari dia semakin aneh mulai dari tingkah lakunya kemudian sikapnya kepada anak-anak." Ibu Gaara lagi-lagi menghela napas. "Kemudian, Bibi membawanya ke Rumah Sakit. Tapi dia sama sekali belum sembuh sepenuhnya."

"Mama tahu?"

Ibu Gaara menggeleng. "Dia tidak pernah tahu, tidak akan. Alasannya, dia pasti bersedih melihat suaminya seperti itu."

"Begitukah? Jadi, selama ini Ayah tidak meninggalkanku dan bercerai dengan Mama?"

"Tidak, Sayang." Ibu Gaara tersenyum, mengelus kepala Naruto. "Sampai kapan pun, mereka tidak mungkin melakukan itu karena cinta mereka masih ada." Tangannya mengelus rambut jabrik kuning Naruto, sayang. "Hanya butuh waktu saja untuk melewati semuanya. Seperti kamu dan Gaara."

"Aku tahu." Pertama kali Naruto tersenyum melepaskan semua beban yang menyangkut di kedua bahunya. "Terima kasih atas penjelasannya, Bibi."

.

Galaxies Goddess

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi

WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.

.

Chapter 08: The Letter

"Bagaimana?"

Saat Naruto sudah berbicara dengan Ibu Gaara, lelaki itu memintanya untuk tunggu di luar, di ruang tamu. Hinata, gadis yang telah membantunya sampai saat ini. Pemuda itu tersenyum gembira, mengacungkan jempolnya kepada gadis di depannya. Hinata bertepuk tangan, ikut gembira.

"Syukurlah, semuanya telah kembali baik-baik saja."

"Ini berkat dirimu." Naruto tersenyum lembut pada Hinata dan menatap lurus-lurus. Hinata memerah merona, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Ini bukan dari diriku. Mungkin ini juga doa dari Ibumu, berharap keutuhan keluargamu cepat kembali."

Naruto mengerutkan kening, tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya.

Gadis berambut biru mengeluarkan sepucuk surat yang masih terbungkus rapi, memperlihatkannya kepada Naruto. Di sana ada tulisan dikenal Naruto, tulisan Mamanya. Cepat-cepat Naruto mengambilnya, merobek surat tersebut. Membaca kertas tersebut, terbelalak maksimal.

"I-ini…,"

"Dia, Mamamu, sudah mengetahuinya kalau Minato sengaja meninggalkannya." Mata perak Hinata menerawang ke langit-langit. "Karena keegoisan dan kemarahannya akibat masa lalu, Minato memilih pergi darimu dan Ibumu. Tapi, waktu terus berlalu, kehidupan Minato semakin memburuk. Dia menjadi frustasi, histeris dan gila. Mungkin dikarenakan emosi mengingat masa lalu."

Tubuh Naruto lunglai, lemas seketika. Jatuh terduduk hingga akhirnya menabrak dinding di belakangnya, tetapi pemuda itu tidak merasakan sakitnya. Di dalam hati dan pikiran, Naruto menyangka Minato sengaja melakukan ini semua demi meninggalkan kenangan yang ada di belakang.

"Minato setengah sadar melakukan hal itu. Membuat isterinya terluka hari demi hari. Setelah menyadari dia telah memukul dan melukai isterinya, dia menyesal dan mengurung diri di dalam kamar mandi tanpa diketahui Ibumu." Hinata melanjutkan. "Akhirnya dia memilih jalan ini, meninggalkan kalian supaya sewaktu-waktu kejadian itu tidak terulang, lagi. Sayangnya, itu terjadi pada Gaara saat Ibunya Gaara pergi bekerja."

"Gaara tersakiti?"

Hinata mengangkat sebelah alisnya. "Kamu tidak tahu?"

"Aku tidak pernah tahu." Naruto menggeleng. Kemudian, menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Bahunya terguncang, dia bersedih. "Aku tidak pernah mengetahui bahwa Ayah menyakiti Gaara selama ini. Aku telah merasa bersalah pada Gaara."

"Penyesalan memang selalu datang belakangan." Hinata berjongkok di depan Naruto, menepuk bahunya lembut. "Tapi, kalau kita sudah mengerti hal yang sebenarnya, penyesalan itu bisa berubah menjadi keikhlasan. Ini sudah ditakdirkan oleh Kami-sama."

Barulah Naruto mengangkat kepalanya, menatap Hinata yang tersenyum. Naruto pun tersenyum kecil. Sangat mengerti. Bahunya pun turun, bebannya setengah terangkat. Hatinya lega.

"Lebih baik kamu bertemu Ibumu di ruang rawat Ayahmu. Di sana, kamu akan tahu betapa besar cinta mereka selama ini. Rela mengorbankan segalanya."

Naruto bangkit berdiri, berjalan melewati lorong berwarna putih. Sesampainya di depan kamar rawat Minato, Naruto membuka pintu tersebut. Dia melihatnya lewat celah kecil pintu terbuka itu. Mata birunya terpaku memandangi pemandangan luar biasa. Yang menggugah hati siapa pun yang melihatnya.

Pemandangan Kushina menunggu suaminya, Minato, terbangun. Dengan memegang tangannya yang semakin kurus. Tersenyum lembut sekali-sekali mengusap rambut kuning jabrik milik suaminya dan mengecup pipinya.

Pemandangan tersebut memberikan Naruto jawaban, mereka tidak pernah sekali pun bercerai. Mereka memilih jalan ini, agar tidak saling menyakiti. Walaupun hati yang tersiksa. Bagaimanapun juga, hati mereka tetap bersatu. Selamanya.

"Mereka romantis."

Suara di belakangnya mengguncang Naruto, dia pun menutup pintu pelan-pelan agar tidak mengganggu pemandangan penuh anugerah tersebut. Dia menghembuskan napas lega.

"Semuanya selesai."

Hinata tertawa lebar, memeluk Naruto. "Kamu bisa melaluinya."

Pemuda itu membalasnya dengan membenamkan dagunya di bahu mungil Hinata. Tubuhnya sangat lemas karena kelegaan yang sarat. Hinata limbung. Untung saja, Hinata kuat dalam ukuran gadis seusianya. Ternyata Naruto tertidur.

"Sepertinya aku salah menafsirkannya." Hinata memiringkan kepalanya, menimbulkan beberapa bentuk tanda tanya di atas kepalanya, mengetuk-ngetuk dagunya. "Permohonan kedua telah terkabul, tapi apa permohonan ketiganya?"

"Hanya kamu dan dia sendiri yang tahu."

Suara orang di samping gadis dan pemuda itu—tengah memeluk—sontak menoleh. Hinata terpaku melihat sosok tinggi menjulang dengan rambut cokelat diterangi lampu putih yang cerah. Senyuman menghiasi wajahnya yang dingin dan kaku. Hinata tahu siapa orang di sampingnya, senyum gadis itu melebar, membalas senyuman sosok itu.

"Neji-nii," sahutnya.

"Berapa lama kamu tidak pulang ke rumah, Hinata?" tanya lelaki bernama Neji.

"Aku tidak tahu." Gadis itu menggeleng. "Yang aku tahu, aku di sini sudah 3 hari. Kalau di galaksi sana, aku belum tahu."

Neji menghela napas, menggeleng. "Sudahlah, tidak perlu dibahas. Aku sengaja datang ke sini buat dirimu dan dirinya," tunjuk Neji ke Naruto yang tertidur di pundak Hinata. "Kamu belum menyadari permohonan ketiga anak ini."

"Apa Neji-nii bisa memberikan jawabannya?"

"Kan aku sudah bilang, hanya kamu dan dia yang tahu soal begituan." Neji berbalik pergi. "Waktumu sampai besok, Hinata. Kamu harus mengerti, tentang rasa pengorbanan." Hinata mengerutkan kening, tanda tidak mengerti.

"Eh? Maksud Neji-nii, apa?"

"Kakak tunggu besok di taman kamu meninggalkan dia seminggu yang lalu." Neji melambaikan sebelah tangan. "Sampai jumpa lagi, adikku."

Hinata ingin mengejar Neji, tetapi sia-sia. Di dalam pelukannya, Naruto tertidur nyenyak. Hati Hinata jadi pilu, entah apa yang dirasakannya. Kalau sudah selesai permohonan ketiga, apa dia bakalan berpisah dengan Naruto?

"Perasaan apa ini?"

-To be continued-

.

A/N: Chapter 8 update! Buat kalian yang sudah menunggu kisah cinta mereka selanjutnya bagaimana. Saya memberikan cinta manis bukan cinta yang rumit walau perjalanan mereka yang sering rumit. Hehehe
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca cerita saya! ^^

Sign,

Zecka Fujioka

Makassar, 02 April 2014