Hinata mengacak-acak kepalanya yang tidak gatal, berjalan mondar mandir mirip setrikaan. Pikirannya selalu terpusat pada perkataan Neji, kakaknya, waktu di Rumah Sakit tadi malam. Sampai-sampai gadis—entah berapa usianya—tidak bisa tidur walau sebenarnya memang tidak bisa tidur kalau bukan pakai kapsul.
"Gyaaa! Kenapa aku tidak bisa mengetahui permohonan terakhir?!" teriaknya histeris sambil mengacak-acak rambutnya.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Naruto yang barusan sarapan pagi masuk ke kamarnya lagi untuk memanggil Hinata. Tercengang di tempat. Dia gemetaran, menunjuk-nunjuk Hinata sampai mulut dan matanya terbuka maksimal.
"A-apa-apaan rambutmu itu?!"
"He? Apa?"
"Kenapa dengan rambutmu? Mirip rambut kribo!" tunjuknya bergetar hebat mengarah pada rambut biru yang membesar, bukan seperti rambut hitam berkilauan. "Kenapa bisa seperti itu?"
Hinata cengengesan, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal berulang-ulang kali. Naruto jadi pucat pasi, karena tindakan gadis di depannya, rambut indahnya berubah jadi sangat mengerikan. Tambah mengerikan saat rambutnya berubah besar, lagi.
"Tidak bisakah rambutmu kembali seperti semula?" tanyanya, menyipitkan matanya.
"Tidak bisa." Hinata menggeleng, menggaruk-garuk pelipisnya. "Aku butuh angin topan untuk mengembalikan rambutku seperti semula. Aku tidak butuh hairdryer atau pencuci rambut buat mengatasi rambutku ini." Tangannya
"Kamu benar-benar aneh dan unik." Kepala Naruto tertunduk, tidak tahan bacotan unik keluar dari mulut gadis di depannya. Gadis yang merupakan dewi galaksi. "Ah, sudahlah. Sekarang kita mau pergi ke mana?"
Gadis tadinya berambut biru panjang berkilauan, mendadak kribo, memiringkan kepalanya untuk mencari tempat yang cocok. Hari ini adalah hari terakhir di mana dirinya harus meninggalkan Bumi dan kembali ke tempat asalnya.
"Kita ke tempat di mana kita berpisah, bagaimana?" sarannya berharap itu mampu.
Pemuda itu juga ingin mengatakan hal sebenarnya pada Hinata, mengangguk setuju. "Baiklah." Wajahnya kembali suram, seketika. "Tapi, jangan dekat-dekat denganku. Kamu jauh-jauh dariku."
"Memangnya kenapa?"
Naruto menoleh ke arah lain. "Kamu akan tahu."
.
Galaxies Goddess
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi
WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal.
.
Chapter 09: Back to Home
Semua mata memandang dan mereka rata-rata tertawa geli melihat rambut besar berbentuk bola dan kusut. Sampai anak kecil tercengang melihatnya, tidak sanggup berkata-kata. Dan sisanya, tertawa keras setelah sang pusat melewati mereka.
Naruto, tidak suka cara perlakuan mereka memandangi seseorang, membuatnya malas melirik ke sana kemari. Terlihat lesu dan pucat pasi sampai-sampai berkeringat dingin. Tentu saja sambil berjalan.
Hinata, gadis yang sangat cuek, lebih memilih menyapa mereka dan tidak pernah tahu bahwa setelah Hinata selesai, mereka malah tertawa di belakang. Dia juga tidak peduli pada rambutnya yang semakin membesar.
"Hentikan itu, Hinata."
"Apanya?" tanya gadis itu menghentikan lambaiannya.
"Kita jadi pusat perhatian, kamu tahu." Naruto sekilas melirik mereka yang menahan geli, menghela napas. Setelah mengeluarkan napas berat, pemuda itu meraih tangan Hinata dan membawanya pergi dari sana. "Kita pergi dari sini!" serunya.
"Eh?"
Mereka berlari meninggalkan tempat itu, di mana semua orang tertawa dan bertanya-tanya. Kedua orang tadi juga tidak tahu kalau Neji mengikutinya sejak tadi. Dia terdiam membisu menatap lurus-lurus Naruto menarik Hinata, langsung tertawa geli. Lalu, kembali seperti semula saat keluar dari tempat persembunyian.
.
.
"Mau ke mana, Naruto?"
Tidak ada jawaban.
Hinata tidak berbicara apa-apa lagi. Seiring mereka berlari, Hinata melihat pemandangan di depannya. Ini adalah tempat yang sama saat dia mengucapkan perpisahan dengan Naruto, dulu. Entah kenapa hatinya tidak mau meninggalkan pemuda yang menarik tangannya.
Langkah Naruto terhenti, Hinata juga berhenti. Gadis kribo memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti mengapa Naruto berhenti berlari padahal ini masih separuh jalan.
Saat Naruto berbalik badan, Hinata terperangah melihat keseriusan wajah pemuda di depannya. Sekarang, Hinata bersemu merah karena ditatap lurus seperti itu oleh Naruto, memilih menatap ke arah lain.
"Kemarin, aku tidak tahu tentang itu." Barulah Hinata menatap kembali ke pemuda tersebut. "Sekarang aku mengerti setelah datang ke tempat ini untuk kedua kalinya."
Hinata terus menatap Naruto, tidak memberikan respon.
"Mungkin aku menyayangimu."
Mata perak Hinata terbelalak maksimal. Dia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, menahan air mata. Jantungnya berpacu cepat mirip mobil balapan. Perutnya berputar-putar, seperti ada kupu-kupu di dalamnya.
"Aku tidak mau kamu meninggalkanku, Hinata." Tatapan Naruto lembut. Hinata menunduk, menahan isakan tangis sebentar lagi datang. "Ini adalah permohonanku yang ketiga," ucapnya sembari mengembuskan napas kelegaan.
HInata tidak mampu menjawab.
Kepala Naruto menengadah ke atas, melihat langit-langit biru seperti warna matanya. Senyuman tersungging di bibirnya. "Selama ini, aku menutup hatiku karena masa laluku. Aku juga tidak pernah menggubris perasaan-perasaan cewek-cewek di sekolahku. Cuman satu orang di mataku. Kuanggap sebagai teman, saudara dan cewek di sekitarku. Dialah Sakura," katanya.
"Seperti kata Sasuke, aku tidak pernah sekalipun menyukai Sakura. Aku hanya terpusat pada masa laluku yang kelam, aku mengira seperti itu." Naruto menghirup udara segar, melegakan batinnya saat itu juga. "Seperti dikatakan sobatku itu, aku telah jatuh cinta pada seorang gadis yang datang ke tempat ini beberapa waktu lalu, kuanggap seminggu yang lalu. Dan kamulah gadis itu, Hinata."
Wajah Hinata yang tertunduk, mengeluarkan setetes air mata. Jatuh ke bawah, di atas jalan beraspal. Bayangannya menutupi berkilauan sang air mata. Sebelum Naruto mengucapkan kalimat selanjutnya, angin topan muncul. Mengibaskan apa yang ada di sana.
Naruto cepat-cepat memeluk Hinata, serta merta melindunginya dari serangan tersebut. Selama angin topan tersebut mengayunkan mereka, rambut kribo Hinata berubah kembali seperti semula. Rambut panjang yang berkilauan.
Kedua matanya tertangkap basah menangkap sosok di balik pepohonan di sana. Neji! Neji-nii telah melakukan semua ini, memanggil angin topan. Entah kenapa, Hinata sangat bersyukur bisa memiliki kakak sehebat Neji.
Angin topan berhenti, melegakan Naruto yang terus memeluk Hinata untuk melindunginya. Naruto mendorong tubuh Hinata, terkejut melihat rambut Hinata kembali seperti semula.
"Lihat! Rambutmu kembali seperti semula!" seru Naruto menunjuk ke rambut Hinata, tersenyum senang.
Hinata meraih sehelai rambutnya yang kembali lurus, tersenyum lega pada senyuman senang Naruto. Mengangguk sambil tersenyum lembut.
Pemuda itu meraih kedua tangan Hinata, menggenggamnya erat. "Apa kamu mau dan mengabulkan permohonanku tentang kita bersama-sama di sini, selamanya? Tanpa harus kamu kembali ke duniamu?" tanyanya.
Sontak Hinata terperanjat, kembali menahan air mata di kala dia sedih. Memalingkan muka. Naruto melanjutkan kalimatnya.
"Jika kamu memang tidak bisa, tidak apa-apa." Kedua tangan Naruto menggenggamnya erat-erat. "Tapi, saat kita bertemu lagi, aku mohon tetaplah di sampingku dan jangan pernah kembali lagi!" pintanya sambil berlutut di depan Hinata. Cewek itu terpaku, bergeming.
Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu, Naruto menangis terisak-isak tanpa suara. Akhirnya Hinata melakukan serangan terakhir karena siang atau sore berganti malam. Melepaskan tangannya digenggaman Naruto, mengulurkan tangannya lembut ke sisi wajah pemuda di depannya, mengangkatnya untuk menatapnya.
"Aku… selalu menyayangimu sejak aku datang ke sini pertama kali. Akulah orang yang tahu penderitaanmu selama ini, Naruto. Makanya aku sengaja datang ke sini untuk mengabulkan permohonan hatimu yang gelisah setiap pagi dan malam." Air mata Naruto membasahi pipinya, menutup mata merasakan kehangatan telapak tangan di pipinya. "Tapi, aku harus pergi. Aku sudah mengetahui permohonanmu yang ketiga."
"Hinata…," isak Naruto dalam tangis.
"Maafkan aku." Wajah Hinata terdorong ke depan, mengecup bibir Naruto. "Maafkan aku. Aku harus pergi." Air mata Hinata membasahi punggung tangan Naruto.
Saat mengerjapkan kedua mata biru langitnya, sosok Hinata menghilang ditelan Bumi. Hanya malam yang menggantikan kesepian ini. Naruto menangis di malam tenang tersebut.
Di langit sana, dua bintang naik ke atas. Bercampur dengan bintang-bintang jatuh di sana. Bersamaan dengan cahaya-cahaya kota. Sungguh sangat indah.
Apakah ini menjadi terakhir buat Naruto, tidak bersama dengan kekasih hatinya?
-To be continued-
.
A/N: Chapter 9 update! Sungguh mengharukan Hinata meninggalkan Naruto karena permohonan ketiga telah terselesaikan T^T
Apakah ada epilog? #CariDiKompie
Ternyata ada! Selamat membaca epilog-nya besok, ya! ^^
Terima kasih pada semua orang yang telah membaca cerita saya ini.
Signature,
Zecka Fujioka
Makassar, 04 Maret 2014
