Di sebuah pusat kota tercanggih dan serba teknologi. Di mana semua benda-benda seperti mobil melayang di udara. Rumah berbentuk aneh dengan sepasang pelindung yang tidak mudah dihancurkan. Udara tidak berpolusi. Langit tidak berbentuk. Orang-orang berpakaian aneh, mirip cosplayer. Binatang-binatang bisa berdiri, berjalan selayaknya seperti manusia. Robot-robot di sekitar mereka untuk membantu dan masih banyak lagi yang unik.
Di salah satu rumah milik keluarga Hyuuga, di sanalah Hinata berdiri diam memandangi pemandangan kota kelahirannya, kota Galaksi. Hatinya tidak mampu meredakan kegelisahan setelah pulang dari Bumi, tempat tinggal laki-laki itu.
Hinata menyandarkan kepalanya di atas punggung lengannya sambil berdiri, menahan kesedihan selama berbulan-bulan. Sejak meninggalkan tempat itu, Hinata tidak mau lagi keluar dan berceria seperti saat dulu. Semuanya hilang dalam sekejap.
"Hinata."
Gadis itu melirik lewat bahunya, sosok kakak berdiri di sana. Tersenyum kecil melihat adiknya bersedih terus sepanjang beberapa bulan terakhir ini.
"Kamu tidak jalan-jalan bersama Hanabi?" tanyanya mendekati Hinata dan berdiri di sampingnya.
Hinata terus membenamkan kepalanya, tidak menjawab. Kalau sudah jelas, buat apa bertanya.
"Ada apa denganmu hari ini? Kenapa tidak bersemangat?" tanyanya kembali, tapi pertanyaan yang berbeda.
"Aku hanya tidak mood saja," jawabnya acuh.
Neji mengembuskan napas berat, ada nada sedih di dalamnya. Hinata tahu itu, tetapi memilih diam. Dia tidak mau mengucapkan kalimat-kalimat yang bikin lelaki di sampingnya bersedih karena ulahnya.
"Kamu memikirkan dia?"
"Buat apa bertanya." Hinata kembali acuh, tidak mau menatap Neji apalagi meliriknya.
"Dia sudah bahagia di sana." Barulah Hinata bergerak, menatap tajam pada Neji. Namun, di saat mata itu tertuju lurus dan tajam. Selaput itu berkabut, Neji tahu akan hal itu. Hinata menangis di dalam hati, tetapi ditahannya. "Hinata…,"
"Aku tidak mau mendengarnya. Yang kuinginkan, ingin bersamanya sejak dulu. Sejak aku bertemu dengannya di Planet itu. Planet di mana dia lahir dan tumbuh besar di sana bersama kedua orangtuanya!" teriak Hinata akhirnya mengeluarkan air mata yang membasahi pipi manisnya.
"Hinata…,"
"Aku mau pulang! Di mana dia berada! Hatiku sudah ada di tangannya, tidak aku bisa raih lagi. Aku mau bersamanya, Neji-nii!" teriaknya histeris.
Neji meraih Hinata ke pelukannya, menenangkan adiknya. "Kalau kamu mau pergi, pergilah. Tapi kamu harus berjanji satu hal, jika pemuda itu memilih jadi astronot. Kamu mengizinkannya agar kamu bisa pulang. Hiduplah bersama dengannya." Neji mendorong tubuh Hinata dan menghapus sisa-sisa air mata tersebut. "Pergilah…," katanya lembut.
Hinata tersenyum lebar, memutar tubuhnya. Kedua kakinya terangkat ke pijakan pembatas di beranda. Loncat ke bawah, seperti burung bersayap yang terbang bebas.
Neji melihatnya sungguh bahagia bisa melihat adiknya telah menemukan belahan jiwanya.
.
Galaxies Goddess
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Kishimoto Masashi
WARNING: OOC, AU, deskripsi seadanya. Drabbles. 1000 kata maksimal. Italic adalah masa lalu.
.
EPILOGUE
"Hei! Melamun saja!"
Kibasan tangan di depan wajah Naruto membuat pemuda itu terkejut, mendongak melihat cowok berambut merah menatapnya kebingungan. Dia tadi terkejut langsung mengusap dada, menampilkan wajah biasa saja.
"Ada apa sih, Gaara? Kamu mengejutkanku saja."
"Justru aku yang bilang begitu dengan bertanya 'ada apa'. Kok kamu jadi bertanya balik?" katanya melipat kedua tangan dan menatap Naruto lurus-lurus. Pemuda durian itu memalingkan muka. Gaara menyeringai. "Apa karena Hinata? Anak itu pada ke mana? Tidak kelihatan sejak tadi."
"Dia sudah pergi," sahut Naruto lirih, menutup kedua matanya lewat poninya. Gaara melongo ingin melihat wajah sahabatnya.
"Kamu mulai menyukainya? Apa karena kemarin?" tanyanya.
"Hah?" Naruto menoleh ke Gaara, bingung. "Maksudnya apa?" Kedua matanya terbelalak lebar. "Kamu telah mengetahuinya sejak—"
"Sejak kedatangan Hinata dan keseringan kamu melamun di minggu yang lalu. Jelas?" Gaara memotong kalimat Naruto membuat sang pemilik merona malu dan salah tingkah. Dia pun jadi menunduk dan Gaara menyeringai licik.
Pintu bergeser terbuka, di sana muncullah Kushina membawakan handuk bersih dan beberapa air minum buat anaknya dan sahabat anaknya. Mata Kushina melirik Naruto yang cemberut, tersenyum mengerti.
"Merindukan Hinata? Kenapa tidak berdoa supaya dia datang ke sini?" tanya Kushina sambil meletakkan handuk bersih itu di meja samping tempat tidur Minato yang tertidur.
Naruto kebingungan pada kalimat mutar-mutar sang Mama, begitu pula dengan Gaara. Tetapi keinginan buat bertanya terhenti, karena pria bernama Minato telah terjaga dari tidurnya yang panjang. Kushina buru-buru mendekatinya, menggenggam tangannya yang menyuruhnya untuk digenggam.
"Ayah…,"
"Minato…,"
Dua pemilik suara memberikan Minato sebuah sunggingan terbentuk di bibirnya. Dia sangat kangen pada keluarganya. Keluarga yang tidak akan pernah ditinggalkannya selama hidupnya. Dia berjanji, esok nanti dia tidak pernah meninggalkan kedua orang dicintainya lagi. Pasti!
"Kalian… baik-baik saja, ya?" tanyanya lirih, berbisik.
Kushina menangis, mencium punggung tangan Minato. Naruto mengusap kedua lengan Ibunya, menenangkan. Sekarang, mereka pasti bersama-sama lagi. Beberapa hari ini, hubungan mereka sudah berjalan baik dan kejadian sebenarnya sudah diceritakan. Mereka akan kembali jadi keluarga seutuhnya.
.
.
Pulang dari Rumah Sakit, Naruto tadi bertemu Sakura dan Sasuke. Tersenyum melihat mereka bersama dan berdoa supaya keduanya tetap bersama selamanya. Tetapi, hatinya entah pergi ke mana. Tidak ada satu pun yang mengetahuinya, kecuali Kushina dan Gaara. Kedua orang itu paling sangat memahaminya.
Saat kedua kakinya melangkah, tiba-tiba dari atas ada suara teriakan. Sebelum Naruto sempat menyadarinya, sosok bayangan jatuh dari langit tidak sengaja menabrak kepala durian Naruto. Naruto membeku dan jatuh tersungkur—untungnya penyebrangan jalan yang tidak banyak dilalui orang-orang—di tengah jalan.
Sosok aneh itu duduk dan kaget melihat orang ditubruknya—masih sadar—tetapi matanya berkunang-kunang, karena kepalanya pusing. Sosok itu mengguncang tubuh Naruto.
"Bangun! Jangan tidur di sini!"
Naruto akhirnya terbangun, mengerjapkan mata berkali-kali. Dia kaget melihat sosok di depannya adalah Hinata. Dia bangkit dari tidur terlentangnya, meraih Hinata ke dalam dekapannya.
"Kamu, Hinata! Ini bukan mimpi!" serunya terus memeluk Hinata tanpa melepaskannya.
"Na-Naruto…,"
Baru Naruto tersadar, mendorong tubuh Hinata. Keningnya berkerut. "Bukankah dua hari yang lalu kamu pulang?" tanyanya masih rada kebingungan.
"Eh? Benarkah?" Hinata juga bingung, malah menghitung hari menggunakan kesepuluh jari-jarinya. Dia cengengesan, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Di tempatku sana, satu hari di sini sama 1 bulan di sana. Jadi, sudah 2 bulan aku merasa kita tidak bertemu."
Mulut Naruto terbuka lebar sangat maksimal, sampai-sampai Hinata merona malu karena ditatap seperti itu. Masih dalam keadaan terbuka, Naruto mempertanyakan hal tabu bagi wanita.
"Berapa usiamu sekarang?"
"Ng…," Hinata berpikir keras, menerawang. "Usiaku sudah mencapai 150 tahun dalam tahun kecepatan cahaya. Memangnya kenapa?"
Akhirnya Naruto pingsan setelah itu. Mulutnya masih terbuka saking terkejutnya. Dia tidak mampu mencerna apa kata-kata dilontarkan Hinata. Sungguh! Dia sangat kaget kalau usia mereka hanya berbeda, Hinata 150 tahun dan Naruto 15 tahun. Coba dibagi saja.
.
.
"Waaah… indahnya…," katanya bersemangat melihat betapa indahnya bintang-bintang di langit tidak berbatas ini. Dia menoleh ke wanita berambut merah panjang, tertawa lebar. "Kamu lihat, Ma. Bintangnya sangat banyak dan Naruto sangat menyukainya," kata anak berusia 4 tahun.
"Kamu pantas melihat ini semua karena kamu terlahir di sini," sahut Kushina, wanita dipanggil Mama oleh si kecil Naruto. Mengusap kepala anaknya, "Mama senang bisa melihatmu senang, Naruto."
Naruto mengangguk senang, kembali memandangi bintang-bintang lewat pesawat ulang alik.
Kedua mata birunya menangkap sosok gadis kecil melambaikan tangan ke arahnya. Naruto yang tidak mengerti tentang apa pun, membalas lambaian itu. Entah kenapa jantungnya bergetar hebat saat melihat gadis di luar sana sedang tersenyum lembut.
Pertemuan pertama yang tidak mereka ketahui.
.
.
"Naruto!"
Hinata mengguncang tubuh Naruto, keras-keras. Sang pemilik bangun dan mengembuskan napas. Sepertinya dia menyerah dengan keadaan ini apabila berhadapan dengan gadis berambut biru panjang ini.
Pemuda berambut kuning jabrik duduk, meraih tangan Hinata. "Seperti yang kukatakan dua hari yang lalu, kalau kamu datang kamu tidak akan ke mana-mana lagi. Kamu akan tetap ada di sini bersamaku, Hinata."
"Deal!"
Naruto terkekeh geli pada kata Hinata. Anaknya benar-benar unik. Dia berterima kasih pada Kami-sama telah mempertemukan dirinya dengan seorang gadis super cuek dan juga unik. Mungkin ke depannya mereka akan bersama-sama. Selamanya.
"Kalau kita menikah…," Hinata merona malu saat bermimpi tentang masa depan. "Aku mau kamu membelikanku rumah seperti rumah Gaara. Ya?" pinta Hinata dengan mata berbinar-binar mirip anak kucing.
Hal inilah paling tidak bisa dilakukannya. Naruto paling benci rumah angker!
-The End-
.
A/N: Yes! Ending! Ending!
Saya sudah menyelesaikan cerita ini juga, akhirnya. Makasih buat kalian yang review, fave, and follow. Fict drabbles selanjutnya adalah Without You. Dipublish bersamaan dengan update-nya ini fict GG. Heu heu heu #MiripSuaraFoxyDiOP
Sign,
Zecka Fujioka
Makassar, 05 April 2014
