.
.
.
.
.
Please Be Cute For Me! (Extra Chapter : Please Be More Cute, Sei-chan!)
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Note : Ini adalah extra chapter untuk omake yang ada di chapter 1. Jadi supaya ngerti, saya sarankan baca chapter 1-nya dulu ya ;) Dan juga untuk kalian-kalian yang pengen ada chapter lanjutan, semoga chapter ini bisa memuaskan xD Saa, selamat menikmati~~ #wink
.
.
.
.
"Onee-chan, daisuki.. Onee-chan, daisuki.. Onee-chan, daisuki.."
Rekaman suara Sei-chan yang memanggilku berulang-ulang mengalun indah dari earphone yang kukenakan, mengiringi langkah-langkah kecilku menuju gym SMA Rakuzan. Dekapanku pada bento yang sengaja kubuat untuk Sei-chan kupererat. Sepanjang perjalanan, senyum tak henti-hentinya mengembang menghiasi bibirku. Sungguh, rekaman suara adikku ini adalah lagu yang paling manis diantara semua lagu di ponselku.
Ya, semenjak hari Minggu cerah itu, Sei-chan telah membangkitkan lagi rasa cintaku terhadapnya. Kini aku tidak ragu lagi untuk memanggilnya kembali dengan panggilan sayangku padanya. Meskipun hanya pada hari itu saja aku mendengarnya memanggilku kakak, aku tidak peduli. Yang penting aku punya Sei-chan sebagai adikku yang paling manis.
"Onee-chan, daisuki.. Onee-chan, daisuki.. Onee-chan, daisuki.."
Uh Sei-chan, suara merdumu sungguh membuatku dimabuk kepayang~
"Doumo, Akashi-senpai~~"
Di tengah euforia batinku, sebuah tangan besar tiba-tiba menepuk bahuku dari belakang, membuatku refleks melepas earphoneku dan menoleh ke sang sumber suara. Disana, tampak tiga orang yang kukenali sebagai kouhai satu tingkat di bawahku sekaligusrekan tim basket adikku. Mereka tengah memasang senyum manis. Tunggu, sepertinya aku merasakan hawa orang keempat, tapi.. Ah, sudahlah.
"Ah Mibuchi-kun, Hayama-kun, Nebuya-kun, ohisashiburi desu!"
Aku pun melempar senyumku pada mereka. Aku memang sudah lama tidak bertemu dengan kouhai-kouhai manisku ini karena terlalu sibuk dengan persiapan ujian. Sudah sepantasnya aku membalas keramahan mereka.
"Ohisashiburi! Senpai akan ke gym?"
Hayama yang terlihat paling ceria menyapaku yang akhirnya pertama kali membuka percakapan diantara kami.
"Tentu saja, aku ingin mengantarkan bento untuk Sei-chan. Kalian ingin ke gym 'kan? Lebih baik kita jalan bersama saja!"
Dalam sekejap saja, wajah mereka bertiga mendadak mendung. Mereka tidak langsung menerima ajakanku, seakan sangat enggan pergi ke gym. Mibuchi sejenak menggaruk tengkuknya, lalu membuka suara mewakili teman-temannya.
"Eh anoo.. Bukannya kami tidak ingin pergi bersama.. Tapi sebaiknya sekarang kita jangan ke gym dulu,demi keselamatan."
Ah sepertinya aku mulai paham. Sei-chan pasti sudah membuat mereka ketakutan lagi. Adikku itu memang benar-benar titisan iblis, senpai-senpainya saja bisa dia buat bertekuk lutut. Aku pun akhirnya menggelengkan kepalaku, kemudian kembali memasang senyum.
"Daijoubu yo, kita akan ke gym bersama. Sebisa mungkin aku akan melindungi kalian, nee?"
.
.
.
Pintu gym telah berada di depan mata. Sebelum membuka pintu jelmaan gerbang neraka itu, aku memposisikan diriku di barisan paling depan rombongan kami.
Selama perjalanan kesini, aku sudah mendengar cerita dari kouhai-kouhaiku tentang Sei-chan. Rupa-rupanya, mereka baru saja kabur dari gym demi menyelamatkan diri dari amukan gunting keramat kaptennya tersebut, namun tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali lagi ke gym. Dari cerita itu, aku menyimpulkan bahwa mood Sei-chan hari ini sedang berada di ambang batas paling dasar.
Kini tanganku sudah siap mendorong pintu.
"Ganbatte, senpai!"
"Un."
Kami berempat sama-sama menelan ludah. Perlahan tapi pasti, kudorong pintu gym tersebut dengan sebelah tanganku, sedangkan yang satunya lagi kugunakan untuk mendekap erat bento. Bunyi derit pintu membuat keringat dingin kami semakin mengucur deras.
DLEB!
Segera setelah pintu gym terbuka lebar, sebuah gunting melayang dan menancap di tembok sebelahku.
Kouhai-kouhai di belakangku sudah merinding disko ketika melihat wujud iblis cilik bersurai merah beberapa meter di depan kami. Namun tidak bagiku. Aku lebih tertarik untuk menelusuri setiap sudut gym yang tembok-temboknya sudah penuh dengan lubang hasil rajaman gunting. Sungguh, ruangan ini lebih pantas disebut ruang penyiksaan dibandingkan dengan gym.
"Reo, Kotarou, Eikichi.."
Suara bariton khas Sei-chan yang mengabsen rekan setimnya membuyarkan ketakjubanku.
"..dan Chihiro."
Chihiro? Maksudnya Mayuzumi? Rasa penasaranku membuatku menoleh ke belakang dan langsung mendapati sosok pemuda expressionless tersebut. Yang bersangkutan sepertinya menyadari tatapanku. Ia langsung melambaikan tangannya padaku dan membalas tatapanku dengan tatapan aku-sudah-dibelakangmu-sejak-tadi.
"Latihan kalian kulipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat."
Sepuluh kali lipat? Itu bahkan lebih parah dari hukuman yang biasanya ia berikan untukku!
"Chotto mate! Apa itu tidak terlalu berat? Kasihan mereka!"
Dengan segenap keberanian, aku berusaha membela Mibuchi, Hayama, Nebuya, dan Mayuzumi. Mau bagaimanapun, aku sudah berjanji untuk melindungi mereka.
Adikku itu kemudian membalikkan badannya memunggungi kami sembari berdecak.
"..Ah jadi kau yang membawa mereka kembali kesini? Jangan coba-coba membantahku. Perintahku absolut, harusnya kau sudah tahu."
Iya, aku paham tentang itu, wahai tuan yang tidak pernah salah. Namun, bukan itu masalahnya. Jika kau bisa memperlihatkan sisi lembutmu padaku, sekali-sekali mengapa tidak ke teman-temanmu juga?
Tiba-tiba aku teringat dengan tujuan awalku kesini. Aku pun berlari kecil menghampiri Sei-chan dan langsung mengambil posisi menghadapnya. Tanpa basa-basi, aku langsung menyodorkan bento yang kupegang dan memasang senyum termanisku, berharap hatinya bisa sedikit luluh dengan pemberianku ini.
"Hora, aku sudah membuatkan bento khusus untuk Sei-chan. Jika kau bersedia meringankan hukuman mereka, aku akan berikan ini untukmu!"
Selama beberapa detik, Sei-chan hanya menatap tajam bento buatanku. Tentu saja itu membuatku tegang karena secara tidak langsung, barusan aku sudah berani menentangnya dengan cara yang halus. Di seberang sana pun, aku bisa melihat keempat orang yang kubela ikut-ikutan menegang. Terlebih Mibuchi dan Hayama yang tampaknya sedang berkomat-kamit memanjatkan doa keselamatan untukku dan juga nasib mereka ke depannya.
Tunggu, sudah berapa detik yang terlewatkan? Aku perlahan mulai pesimis. Tampaknya rencanaku tidak berjalan mulus.
"..A-ada tofunya tidak?"
Oke, berikan aku waktu untuk mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Sei-chan barusan. Wajah Sei-chan yang jika dilihat dengan teliti menjadi sedikit bersemu, sepasang nekomimi dan nekoshippo imajiner mendadak tumbuh dari dalam tubuhnya, sertatatapan what-the-hell-is-going-there dari empat orang tim basket lain. Apa itu artinya rencanaku berhasil jika aku memasukan tofu ke dalam menu makan siangnya ini?
"Umm, tentu saja ada.. Kau kan selalu memintaku membuatkan itu untuk sarapan, jadi aku tidak mungkin lu–"
"Baiklah. Karena aku sedang baik, latihan kalian hanya ditambah tiga kali lipat!"
Hei, bahkan aku belum menyelesaikan kalimatku. Kekuatan seonggok tofu memang luar biasa.
Setelah memerintah anak buahnya, Sei-chan langsung merebut bento pada peganganku dan bergegas menuju bench di pinggir gym. Dengan tergopoh, aku membuntuti langkah Sei-chan sembari menoleh pada empat orang yang masih berdiam diri di depan pintu. Mibuchi, Hayama, dan Nebuya tampak memberikan gestur berterimakasih kepadaku sebelum akhirnya berlari ke tengah lapangan untuk melaksanakan titah kaptennya. Sedangkan Mayuzumi? Entahlah, dia memang punya hobi menghilang dari peradaban.
Pada menit selanjutnya, aku sudah duduk berdampingan dengan Sei-chan di bench. Ia memakan bento buatanku dengan lahap–terutama ketika mengambil potongan tofu. Sebenarnya aku heran dengan metabolisme tubuhnya selama ini. Ia makan begini lahapnya setiap hari disertai dengan latihan keras basket, tapi kenapa pertumbuhannya agak tersendat?
"Dengan kata lain, kau ingin bilang aku pendek?"
Tubuhku langsung tersetrum ketika ia tiba-tiba menyindirku. Uh lagi-lagi dia berhasil membaca pikiranku.
"T-tidak kok, sungguh. Aku hanya berpikir jika seandainya Sei-chan tidak bertumbuh dan tetap dalam tubuh mungil seperti ini, aku pasti akan semakin menyayangimu."
"..Hari Minggu yang akan datang, ingatkan aku untuk melipatgandakan tugasmu."
Oh tidak, sepertinya tadi aku salah bicara.
"Mou, Sei-chan hidoi.."
Bibirku mengerucut beberapa senti. Jika sedang tidak manis, Sei-chan memang sangat-sangat-sangat menyebalkan–meskipun pada kenyataannya dia memang tidak pernah manis selain pada hari Minggu cerah itu. Namun untuk sekarang, aku sudah tidak bermasalah lagi dengan itu. Belakangan aku menyadari bahwa aku ini masochist jika sudah menyangkut adikku.
Maa, daripada jengah menghadapi sikap arogan Sei-chan, pada akhirnya aku kembali mengeluarkan ponsel dan earphone. Setelah memasang earphone di telinga, jari-jariku bergerak lincah pada layar touch screen ponselku, mencari-cari video super langka dengan Sei-chan sebagai tokoh utamanya. Ya, video ketika aku mendandaninya dengan atribut berbau kucing, yang bisa membuat setiap orang yang melihatnya tidak akan pernah menyangka bahwa sang tokoh utama adalah titisan iblis paling kejam sejagad raya.
"Nee, Sei-chan, ayo panggil aku lagi~"
"O-o-.. O-onee-ch-chan.."
"Mou, kau terlalu kaku! Ulangi lagi ya, rileks saja!"
"O-o-onee-chan.."
"Sedikit lagi sempurna! Sei-chan, ganbatte ne!"
"Onee-chan.."
"Kyaaaaaaaa~~ Hontou ni kawaii~~~"
Video ini sukses mengembangkan senyum lebar di wajahku. Aku sudah benar-benar jatuh cinta pada keimutan Sei-chan pada video ini. Jika saja waktu bisa diulang..
"Meskipun bisa mengulang waktu, jangan harap aku mau melakukannya lagi."
Setelah selesai berucap,–yang membuatku kembali bergidik akibat kemampuannya yang mengerikan itu–Sei-chan lantas memasukan suapan terakhir bento buatanku ke mulutnya. Ah mungkin lain kali aku harus melatih otakku agar hati-hati dalam memikirkan sesuatu jika sedang bersamanya.
"Sei-chan ingin menontonnya juga?"
Bermaksud mengalihkan pembicaraan, aku pun melepas sebelah earphoneku dan memasangkannya pada telinga Sei-chan. Sei-chan lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku, membuat beberapa helai surai merahnya menjuntai menggelitiki pipiku.
Tombol rewind pun memutar ulang video dari awal.
"Nee, Sei-chan, ayo panggil aku lagi~"
Sosok Sei-chan dengan nekomiminya mengawali dimulainya video. Suaraku terdengar membuka percakapan. Belum apa-apa, aku sudah tidak tahan untuk menahan senyum geliku ketika melihat Sei-chan di layar ponsel.
"O-o-.. O-onee-ch-chan.."
Kali ini suara gagap Sei-chan terdengar menyahut permintaanku. Aku mulai terkikik. Namun, satu kesalahan fatal yang tidak kusadari sekarang adalah aura negatif yang mulai menguar tepat di sebelahku.
"Mou, kau terlalu kaku! Ulangi lagi ya, rileks saja!"
Pada bagian ini, wajah Sei-chan mulai menunjukan semburat di sekitar pipinya. Sungguh, aku sudah tidak tahan lagi menunggu adegan selanjutnya.
"O-o-onee-chan.."
Aku masih juga tidak menyadari aura negatif yang berangsur berganti menjadi aura membunuh. Wajah imut beserta gerak-gerik Sei-chan pada video ini seolah membiusku untuk tidak memperhatikan sekitar.
"Sedikit lagi sempurna! Sei-chan, ganbatte ne!"
Dengan semangat dan pancaran binar mata, ponsel pada pangkuanku sedikit demi sedikit kuangkat mendekati wajah kami. Tanganku bergetar karena tidak kuasa menahan kebahagiaan yang sebentar lagi tersuguh pada puncak video ini. Ketika semburat wajah Sei-chan mulai menyebar ke seluruh bagian wajah lain, napasku otomatis tertahan di pangkal hidung. Perlahan mulutnya mulai terbuka untuk mengucapkan sebuah kata yang sudah kunanti-nantikan sejak lama.
KLIK.
Layar ponsel tiba-tiba mati–tidak, tepatnya sengaja dimatikan oleh Sei-chan. Sebelah tangannya mendadak sudah merangkul leherku sembari menempelkan sebuah gunting tajam disana. Detik ini juga, akhirnya aku menyadari sinyal psikopat yang diberikan Sei-chan. Oh tidak, jangan lagi, Sei-chan.
"Jangan pernah tunjukan lagi video aib itu padaku. Ah tidak, lebih baik kau hapus saja. Mengerti?"
Kurasakan leherku semakin tertekan oleh gunting keramat andalannya. Sebenarnya aku sudah biasa mengalami ini, namun itu tetap saja tidak membuatku kebal. Sebagai seorang manusia normal, tentu saja siapapun akan merasa waswas jika ditodong benda tajam seperti halnya aku sekarang, 'kan?
Aku tidak bisa menjawabnya. Lidahku terasa kelu akibat rasa ngeri akan disakiti lagi oleh Sei-chan. Entah sejak kapan pula, perlakuan Sei-chan terhadapku telah menjadi tontonan horor bagi Mibuchi, Hayama, Nebuya, dan Mayuzumi yang baru beberapa detik yang lalu masih sibuk memainkan bola-bola oranye di lapangan.
"Kenapa berhenti? Cepat lanjutkan lagi atau akan kutambah porsi latihan kalian."
"S-sei-chan! Itu anekimu lho, jangan dibunuh!"
Ah, Mibuchi-kun, kau sungguh berani dan juga baik hati.
Mendengar kalimat yang seakan memerintah dari Mibuchi tersebut, Sei-chan kemudian menuntunku paksa untuk berdiri tanpa melepaskan rangkulannya. Aku hanya bisa pasrah menerima perlakuan tidak mengenakan dari adikku ini, dan memang itulah yang biasanya aku lakukan ketika menjadi pelayannya di hari Minggu.
"Kalian.. Berbarislah di tengah lapangan."
Keempat rekan setim Sei-chan yang sudah mandi keringat dingin itu serempak menuruti apa yang dikatakannya.
"..Berbalik."
Dan lagi-lagi mereka menurut dengan patuh.
DLEB DLEB DLEB DLEB!
Empat buah gunting meluncur di atas kepala masing-masing manusia malang yang sedang berjejer tersebut. Sei-chan dengan mudahnya membidik dengan sebelah tangan. Entahlah, mungkin itulah hasil latihannya selama ini dengan menggunakanku sebagai kelinci percobaan.
"Tetap diam seperti itu sebelum aku memberikan perintah selanjutnya."
Samar-samar kulihat mereka berempat mengangguk-angguk sambil berusaha menahan getaran pada sekujur tubuhnya. Sekarang aku benar-benar mengerti bagaimana perasaan mereka ketika mereka bilang kabur dari gym.
"Dan kau.."
Ia merendahkan volume suaranya hingga mencapai taraf bisikan. Aku tahu, sekarang Sei-chan tengah beralih berbicara padaku, mengingat volume suaranya yang terlampau kecil namun mengandung ketajaman serta delikan mata dwiwarnanya padaku. Aku pun refleks memejamkan mataku erat-erat ketika merasakan kembali tekanan gunting pada leherku.
Kami-sama, selamatkanlah kami berlima dari siksaan dunia ini..
CUP.
"Itu balasan karena kau telah membawa mereka berempat kembali kesini."
Aku seketika membuka mata lebar-lebar ketika merasakan kecupan lembut di pipi kananku. Di sampingku kini, kedua belah pipi Sei-chan telah berbalut semburat merah muda. Belum sempat aku menyadari apa yang sedang terjadi, Sei-chan langsung beralih melirik bagian wajah sebelah kiriku.
CUP.
"Itu balasan untuk bento yang kau buatkan untukku."
Lagi-lagi aku merasakan kecupan di wajahku, kali ini pada pipi kiri. Wajahku kini berangsur memanas disertai dengan detak jantung yang bekerja dua kali lebih cepat. Sei-chan telah menciumku dua kali?
Seakan belum puas, dengan gerakan cepat, Sei-chan memutar tubuhku menghadapnya dan menatapku dalam-dalam. Tatapan itu memberikan kesan lembut yang membuatku menahan napas tidak percaya. Tangan kekarnya kemudian menggenggam kedua bahuku.
"Aku hanya bercanda soal perkataanku tentang video tadi kok. Kau boleh menyimpannya sesuka hatimu sebagai bagian dari servisku pada hari itu."
CUP.
Sebuah kecupan penutup dari Sei-chan mendarat di dahiku. Bibirnya kemudian turun ke telingaku, menyapu setiap bagian wajahku yang dilewatinya. Sentuhan itu memberikanku efek luar biasa dimana aku bisa merasakan sengatan geli yang sangat kentara.
"Onee-chan, daisuki."
Detik itu adalah hari kedua aku mendengarnya memanggilku kakak. Dan lagi-lagi, aku merasa bahagia karenanya.
.
.
.
.
Owari
.
.
.
.
Omake~~
"S-sei-chan, sampai kapan kita harus begini terus..?"
Ketika mendengar keluhan pelan dari Mibuchi, aku yang sedang sibuk berguling-guling di lantai demi memuaskan hasratku memeluk dan menciumi Sei-chan–yang tentunya dibalas Sei-chan dengan rontaan–refleks menoleh pada empat orang yang sempat terlupakan itu. Mereka masih setia berdiri tegak menghadap tembok dan tampaknya tidak menyadari apa yang sedari tadi kami berdua lakukan di belakang mereka. Aku pun mengalihkan pandanganku lagi pada Sei-chan yang berada di bawahku. Dengan volume pelan, aku pun berbisik pada adikku itu.
"Apa yang akan kau katakan pada mereka?"
Sei-chan tampak menggendikan bahunya sembari melempar pandang ke arah lain.
"Terserah kau saja."
"Hihihi~ Baiklah~"
Kuhela napas perlahan kemudian membesarkan lagi volume suaraku.
"Sei-chan bilang, tetaplah seperti itu sampai 30 menit ke depan~"
"E-eeeeh, kenapa Akashi-senpai jadi ikut-ikutan kejam?! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!"
Hayama berteriak heran. Ia lalu menunjukan tanda-tanda akan berbalik badan, namun..
DLEB!
Lagi-lagi sebuah gunting melayang tepat di atas kepalanya.
"Apa kau tidak dengar perkataannya, Kotarou?"
"H-hai.. Sumimasen.."
.
.
.
Hehe akhirnya selesai juga chapter ini #syalala Semoga bisa memuaskan reader-san ya ;)
Saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya bagi reader-san yang udah mampir dan membaca fic ini, dan juga yang sudah ngereview, fave, dan follow :'D Kalian semua adalah penyemangat saya untuk tetap menulis, uhiks ;') #alaydetected
Saya selalu mengharapkan kritik dan saran dari reader-san, jadi sudikah ngasih saya beberapa? :D
