Hai... ketemu lagi dengan aku... lama tidak berjumpa yah. Aku sedang sibuk buat tugas tugas dari para senseiku hehhe... tapi aku sudah berusaha untuk lanjutin fic ini... so, semoga kalian suka ya
Mau balas review dulu ya
Wilhelm Wigworthy : Thank's you. I have finishing the story (chapter 2) i hope you like it.
Birupink : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa...
Tafis: terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa...
Sofi asat : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa...
Eysha CherryBlossom : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... aku emang teledor hehe, aku usahakan untuk menyurangi typo dalam fic ya.
: terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... uhm, dari namamu apa kamu tinggal di tridaya bekasikah? Hehhe maaf pertanyaan yang aneh.
Jigan : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa...
Anisha Ryuzaki : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... aku seneng deh kalo kamu bilang cerita ini menarik terimakasih banyak.
Hanazono yuri : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa...
Kira 136 : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... iya aku bakal perhatiin lagi.
Uchiharuka : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... iya cerita ini memang menyedihkan :'(
Kumada Chiyu : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... Sakura jadi seperti itu ada penyebabnya kok, nanti akan terungkap. Oiya, fic yg Itachi version punya senpai kapan lanjut lagi ? aku nugguin loh :D
Miura-chan : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... aww.. kamu fansgirl Itachikah? Wah *lirikitachi *smirk wakkaka... umh, memang kamu mendugakan apa? Ohoho yadi penasaran wks, : -D
Haruchan ? emg, ada dua review dengan nama yg sama, apa kalian orang yang sama?
Haruchan : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... yap, akan kubuktikan hahhah
Haruchan : terimakasih sudah baca dan review ini sudah dilanjut maaf lama lanjutnya yaa... eit' fic ini rate T, sepertinya pikiranmu tidak sama denganku entahlah hehehe. Iya dong Sasu aku buat characternya seperti itu kerenkan Sasukenya? Heheh
So, it's the show?
.
.
.
.
Watashi No Tame Ni Hikari
Chapter 2
Naruto Masashi Kishimoto
By : Kyouka Hime
'SasuSaku'
.
.
.
...
"Tou-san aku mau permen kapas itu. Lucu yah, seperti rambutku Tou-san."
...
"Sakura, Kaa-san dan Tou-san berencana liburan ke Pulau pribadi Tou-san Saku mau ikut?"
"Benarkah? Tentu saja Sakura mau Kaa-san."
...
"Sakura, aku mencintaimu."
"Apa? Kau aneh Sasuke-kun."
...
"Sakura nanti malam makan malam dirumahku yah, Kaa-san rindu denganmu."
...
"Sasuke, aku sedang bersiap. Sebentar lagi aku akan berangkat menuju bertemu."
...
Brakk ~
"Sakura, cepat lari dari rumah ini, lewat pintu belakang. Cepat."
"Kaa-san ada apa?"
"Kumohon Sakura, selamatkan dirimu. Aku menyayangimu."
Hiks- hiks-
"Tapi Kaa-san..."
"Cepat Sakura."
Cklek~
"Kau mau melarikan diri rupanya."
Dor~
Darah... kaa-san... peluru... penjahat...
"KAA-SAN."
"Ma-af Sa- a-ku-ra...Kaa-sa...me-nya-a-ngi-mu..."
"Hiks.. Kaa-san jangan tinggalkan Saku.. hiks."
"Jangan main opera aku!"
Sregg~
"Jangan menyentuhku pembunuh. Lepassss..."
"Jangan membantah!"
...
"Lihat bukankah dia orang yang paling kau banggakan?"
Degg~
Darah...
Darah...
Darah...
"Tou-san... hiks... Tou-san... jangan tinggalkan Saku... hiks Tou-san."
"Berisik! Tutup mulutmu. Tangisanmu membuatku semakin muak."
"Apa yang kalian lakukan hah?kenapa kalian melakukan ini hiks..."
"Ow... ternyata berani juga kau menatapku, kulihat tubuhmu lumaayan juga. Ah, kau tahu? Orang tua bajinganmu ini berhutang banyak denganku. Mungkin kau bisa membayar hutang-hutang mereka ha?"
"Tidak mungkin!jangan membual."
Plakk~
"Bahkan orang tuamu menjualmu untuk membayar hutang mereka. sekarang siapa yang kau sebut pembual hah?!"
"Tou-san dan Kaa-san tidak seperti itu! Mereka menyayangiku."
"Benarkah? Tidak ada yang menginginkanmu didunia ini. bahkan kau hanya anak pungut."
Degg~
"tidak mungkin! Kau tidak tahu apa-apa."
"Ah, aku lelah mengoceh terus bawa dia ke mobil pastikan jejak kita tak tertinggal."
...
"Cepat masuk!"
"Tidak!"
"Paksa saja dia! aku sudah tidak sabar menikmatinya."
"Lepas! Hiks~ "
...
Normal POV
Sakura terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu tak beraturan. Tatapan matanya kosong. Tangannya terus menjambak rambutnya sendiri. Sprei,bantal,selimut sudah tidak beraturan. Pagi yang buruk untuk Sakura.
~Cklek
"Ohayou Sakura." Sapa seorang pemuda tampan yang baru saja masuk kedalam sebuah kamar rawat. Pemuda tersebut heran dan khawatir dengan keadaan Sakura langsung menghampiri Sakura.
"Sakura kau kenapa?" tidak ada jawaban dari Sakura. Perempuan tersebut masih saja menjambaki rambutnya sendiri sambil menatap kosong pemuda dihadapannya.
"Hentikan Sakura." Sasuke mencoba menarik tangan Sakura untuk menhentikan perempuan tersebut yang terus terusan menjambaki rambutnya. Sakura terus berontak dan tanpa sengaja tangannya mengenai vas bunga yang terletak di meja disamping tempat tidurnya.
~prang..
"Sakura cukup! kau kenapa Sakura?" Sasuke mencoba memeluk Sakura dan menghentikan aksi menjambak rambut sendiri.
Sakura diam tanpa suara. Sasuke semakin panik dan segera menghubungi sang kakak sekaligus dokter yang bertanggung jawab atas Sakura.
Sakura terus memberontak dalam dekapan Sasuke. Sasuke pikir ia berontak karena Sakura merasa sesak, akhirnya Sasuke melonggarkan dekapannya.
Ternyata tindakannya salah Sakura kembali memberontak dan mencakari tangannya sendiri. Sasuke mencoba mengjauhakn tangan kanan Sakura dan tangan kiri Sakura. Sakura masih memberontak. Sasuke makin kualahan menghadapi Sakura.
Brakk~
Akhirnya orang yang ditunggu datang juga. Itachi yang baru masuk ruangan tersebut segera menghampiri Sasuke dan membantunya menenangkan Sakura. Dengan cepat Itachi mengambil obat penenang dan memindahkannya dalam suatu suntikan.
"Tahan pergerakannya Sasuke."
Sasuke tahu apa yang akan kakaknya lakukan dengan digap Sasuke menahan tubuh Sakura agar tidak memberontak. Melihat Sakura diam Itachi segera menyuntikan obat tersebut.
Sasuke sebenarnya tidak tega juga melihat Sakura. Ditatapnya dengan tatapan sendu. Sasuke melihat mata Sakura berubah merah dan mulai menerjunkan air matanya. Sasuke melepaskan tangannya dari perempuan tersebut yang mungkin terlalu keras dan membuat Sakura menangis.
"Sakura kau kenapa? Jangan menangis. maaf kalau aku berlaku kasar." Sasuke mencoba menenagkan perempuan tersebut dengan lembut. Itachi yang melihat hal tersebut menatap sendu dua sejoli dihadapannya, betapa banyak rintangan yang harus Sasuke dan Sakura lewati.
"Sudah Sakura, aku disini." Sasuke mengelus rambut Sakura yang acak-acakan dan menghapus air mata Sakura.
Sasuke terus melakukan hal tersebut sampai Sakura tertidur. Mungkin efek oat yang itachi berikan telah bekerja.
.
.
.
.
.
"Nii-san, apa yang terjadi dengan Sakura?" Sasuke terus bertanya kepada kakaknya tentang keadaan Sakura.
"Aku sudah menduganya, self injury." Itachi menatap serius sang adik.
"Apa itu?" tanya Sasuke
"Sebuah kecendruangan manuasia untuk melukai tubuhnya sendiri. orang yang memiliki kecendrungan tersebut merasa bahagia setelah melukai dirinya sendiri. bahkan ada yang sampai melakuan bunuh diri agar merasa puas. Kebiasaan ini dilakuan untuk meluapkan emosi. Namun, sepertinya kasus Sakura agak berbeda. Aku masih belum mengetahui secara detail trauma Sakura. yang aku takutkan kebiasaan ini bisa membunuhnya. Atau bahkan membunuh orang lain secara sengaja." Jelas Itachi.
Sasuke terkejut dengan penjelasan Itachi. Sasuke tidak mau kehilangan Sakura. Sasuke bertekat untuk menyembuhkan Sakura. Apapun caranya Sasuke akan melakukan itu untuk kesembuhan Sakura.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Tidak ada yang mengerti diriku. Tidak ada yang peduli denganku. Tidak ada yang menginginkanku hidup. Semuanya busuk! Aku ingin mati! Kenapa tidak ada ygn membiarkanku mati! Kenapa semua ingin aku terus menderita? Kenapa mereka terus menyuruhku minum obat? Apakah kalian tau itu sangat menyakitkan? Aku hanya sampah botol bekas. Aku tidak berguna. Aku hanya alat. kenapa kalian mencuri semua kesenanganku! Kenapa kalian malah membuatku lemas tak berdaya? Ah aku tau, aku memang tidak berguna. Tidak ada yang menginginkanku! Tidak ada yang mau aku hidup tidak ada yang mau menerimaku lagi sekarang. Aku tidak ingin terkait dengan dunia lagi. Aku ingin bebas! Bebas! Bebas dari apapun yang terus menghalangiku! Jangan menghalangiku!
Pranggg~
Ne, hanya itu pecahan kaca itu yang mengerti diriku. Mereka memang bisa membuatku bahagia. Kenapa semua orang menjauhiku dengan mereka.
Aku mengambil pecahan kaca tersebut dan tersenyum. Menggenggamnya erat dan menggoreskannya kepipiku. Lihat! Banyak darah yang keluar. Darah itu terus menggelitikku karena terjun dengan sangat lambat. Hihihi... aku memang cantik kalau seperti ini.
.
.
.
.
.
Sasuke POV~
Aku terus memikirkan Sakura dan sekarang kejiwaannya semakin bertambah buruk. Aku ingin dia sembuh. Kembali seperti Sakura yang sangat cerewet seperti dulu.
Aku sudah berada didepan pintu kamar Sakura. Kuketuk pintu tersebut dan masuk kedalam.
"SAKURA!"
Aku melihat Sakura duduk dipojok kamarnya. Rabutnya berantakan. Disekitarnya terdapat banyak pecahan gelaS. Ada darah disekitar pipi dan tangnnya. Apa lagi sekarang.
"CUKUP SAKURA!" aku segera mengambil serpihan kaca ditangnnya dan menggendongnya menuju tempat tidur. Sakura hanya diam. Kududukkan dia di tempat tidur sambil lerus menahan kedua tangannya. Sakura memberontak. Aku panik dan segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter. Sakura masih terus mencoba melepas kan tangannya dari genggamanku. Aku melihat beberapa sayatan di kedua pipinya.
"Kenapa kau melukai dirimu lagi Sakura?" aku mencoba bertanya dengan Sakura. tak ada jawaban seperti biasanya. Sakura hanya menundukan kepalanya.
Brakk~
"Sasuke." Aku merasa terpanggil dan segera menoleh. Nii-san datang dan langsung berlari mendekati kami. Aku melihat Nii-san juga kaget melihat keadaan Sakura.
"Tahan dia Sasuke aku akan memanggil suster."
Nii-san berlari keluar dan dengan cepat kembali kekamar diikuti satu perawat yang membawa berbagai macam alat.
"Apa yang terjadi Sasuke." Nii-san mulai membersihkan darah yang ada pada Sakura dan mengobatinya sambil dibantu perawat tadi.
"Aku datang dan ia melukai dirinya sendiri dengan pecahan gelas itu." Jelasku. Nii-san terus mengobati luka Sakura.
Setelah selesai Nii-san menyuruh perawat tadi untuk keluar ruangan. Tersisa kami bertiga disini. Aku masih menahan tangan Sakura. Sakura diam tidak bergeming.
"Sakura. kenapa kau melakukan semua ini?" Nii-san bertanya kepada Sakura.
Sakura tidak menjawab dan mencoba melepaskan diri dari genggamanku. Aku semakin erat memegang tangannya.
"Lepas." Aku mendengar suara Sakura yang sangat kecil. kata pertama yang ia ucapkan setelah sekian lama berpisah. Tidak adakah kata yang lebih indah Sakura?
"Tidak." Ucapku tegas.
Sakura terus berusaha melepaskan tangannya.
"Kau ingin dia melepaskan tanganmu?" tanya aniki.
Sakura mengangguk.
"Tapi kau harus berjanji untuk tidak mengulangi hal tadi. Janji?"
"Lepas."Sakura berkata kembali.
"Berjanjilah." Jawab Aniki.
Beberapa saat tidak ada jawaban dari Sakura. aku semakin khawatir akan dirinya.
"Janji?" ulang aniki.
Sakura mengangguk, Nii-san memberi kode untuk melepaskannya. Aku melepaskannya dan segera kupeluk dia.
"Hentikan semua ini Saku. Aku ingin melihatmu yang dulu. Sakura yang ceria dan cerewet. Jangan sakiti dirimu lagi. Ada aku disini Saku. Kalau kau mau aku akan mendengar semua ceritamu. Jangan pendam sendiri Sakura. Ne, aku mencintaimu." Aku beisik ditelinganya. Berharap sekali ia akan mendengarkanku.
.
.
.
.
.
Normal POV
Dua hari berlalu sudah sejak aksi terkhir Sakura melukai tubuhnya sendiri. Sakura sudah berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi. Namun ternyata dia melanggar janjinya sendiri. Itachi menghubungi Sasuke tentang Keadaan Sakura. Sasuke dengan panik langsung pergi menuju rumah sakit.
Beberapa menit sampailah Sasuke dirumah sakit tempat Sakura dirawat. Dengan gesit Sasuke menuju kamar rawat Sakura.
"Nii-san!" panggil Sasuke.
Itachi melihat adiknya telah datang. Dan Sasuke langsung menghampiri keduanya.
"Kenapa dengan Sakura?" tanya Sasuke. Sasuke kaget melihat tangan dan kaki Sakura yng diikat pada ranjang. Beberapa perbanpun menempel pada tubuhnya.
"Maaf aku mengikatnya. Sakura membenturkan kepalanya ke tembok berulangkali sampai banyak luka lebam dikepalanya, aku takut ia akan memberturkan kepalanya terusmenerus dan merusak sistem kerja otak atau sarafnya. Aku terpaksa mengikatnya.
Sasuke melihat tangan Sakura yang diikat pada ranjang dengan sebuah tali khusus dan perban yang melingkar dibagian kepalanya. Sasuke menghela nafas dan menatap sendu Sakura.
"Kenapa kau melakukan ini Sakura? Kau sudah berjanji untuk tidak menyakiti dirimu lagi." Sasuke mengelus kepala Sakura sedangkan Itachi hanya memandangi mereka.
"Sekarang kau diikat. Kau tidak maukan seperti ini?" Tanya Sasuke.
Tidak ada jawaban dari Sakura. Sakura masih saja menatap Sasuke dengan tatapan kosong.
"Jangan menyakiti dirimu lagi Sakura." Sasuke mengelus pipi Sakura dengan lembut. Mencoba meyakinkan Sakura.
Sakura menatap Sasuke lagi. Tatapannya berbeda. Bukan tatapan kosong, melaikan tatapan dalam dan penuh ketegasan.
"Mati..."
.
.
.
.
.
To Be Continue.
.
.
Maaf ficnya ga jelas banget kayak gini. Semoga kalian suka yah. Dan maaf juga baru bisa updet.
Oh iya untuk kalian yang tahu fic aku 'look at me nii-san' maaf belum aku lanjut. Ku lupa alurnya*dzgih* hehhehehe... engga sih. Aku sudah ada gambaran untuk chap depannya. Tapi entah kenapa aku lebih duluin ngetik fic ini. hehhehe.. dan karena sesuatu juga aku ga tau bakal lajutin fic itu atau engga. Maaf ya... maaf banyet mengecewakan kalian. Tapi kalau sudah saatnya mungkin akan ku updet .
Hm. Akhir kata. Terimakasih untuk semua yang sudah baca dan review ya... semoga kalian review dan fav n follow cerita ini. terimakasih.
Kyouka Hime.
.
.
.
Dont' forget to review
