Game

Pairing: KrisKai

Rating: T

Warning: OOC, AU, Sho-ai Typo(s)

Notes: ceritanya semacam remake dari episode 'Sherlock' yang 'A Scandal in Belgravia'.

DLDR! No bash or flame!

.

.

.

Preview Last Chapter

"Joonmyeon-ah.."

"Ah, Yifan hyung. Wae?"

"Sepertinya besok kita akan mendapat kabar buruk."

"Apa maksudmu, hyung?"

"Sepertinya Jongin meninggal."

.

.

.

"Anak-anak, seonsaengnim ingin menyampaikan kabar duka. Salah satu teman kalian, Kim Jongin meninggal."

Beberapa murid terlihat shock dan ada juga yang bersorak senang. Yifan sendiri, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia hanya memasang ekspresi bitchfacenya seperti biasa. Sementara itu, Joonmyeon merasa lega tapi merasa sedih juga.

"Seonsaengnim, saya izin ke toilet." ucap Kris. Ia langsung keluar kelas, sebelum permintaannya itu diiyakan gurunya.

"Ya! Wu-"

"Saya juga, seonsaengnim!" Belum sempat sang seonsaengnim menyelasaikan kalimatnya, Joonmyeon sudah memotongnya. Ia langsung keluar kelas mengikuti Yifan, membuat sang seonsaengnim menggerutu tidak jelas.

Joonmyeon mengikuti Yifan hingga ke atap. Tempat favorit mereka. Ia melihat Yifan yang menyandarkan tengah terlentang sembari menatap ke arah langit.

"Hyung, gwaenchana?" Joonmyeon mendudukkan dirinya di sebelah Yifan.

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu." Yifan masih terus memandangi langit. Joonmyeon menghela nafas dan menempelkan pipinya ke lututnya yang ditekuk. Tangan putihnya melingkari kakinya sendiri.

"Tentang Jongin?"

"Eum."

"H-hyung, aku minta maaf jika aku merepotkanmu. Kalau kau tidak mau, kau tidak harus melakukannya." ucap Joonmyeon. Yifan tersenyum lalu beranjak duduk. Ia mengacak rambut Joonmyeon, membuat gerutuan kesal keluar dari mulut namja manis itu.

"Aniyo, aku tidak kerepotan. Lagipula kau sudah seperti adik kandungku, kau tahu? Aku akan melakukan apapun untukmu." jawaban Yifan membuat Joonmyeon tersenyum. Tiba-tiba ia teringat satu hal yang menggangunya.

"Tapi hyung, bagaimana kau tahu Jongin akan meninggal?" pertanyaan Joonmyeon membuat Yifan seketika membatu.

"Handphonenya..."

"Eh? Apa, hyung?"

"Handphone berharganya ada padaku."

"EH?!" mendengar jawaban Yifan, Joonmyeon sontak berteriak. "Tapi apa hubungannya, hyung?"

"Dia bilang handphone itu adalah hidupnya, nyawanya. Mana mungkin kita memberikan nyawa kita pada orang lain, kecuali kita meninggal?"

"Hyung, aku bingung."

"Haha, paboya Joonmyeon-ah."

.

.

.

Hari itu, Joonmyeon baru akan membuka pintu rumahnya saat seorang pria berjas menghampirinya.

"Kim Joonmyeon?"

"Ah, nde."

"Bisakah kau ikut kami? Kami tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, ini berhubungan dengan Wu Yifan." Mendengar nama sepupunya, Joonmyeon menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti pria berjas itu menaiki mobil. Mobil itu membawa mereka ke Yangwon SHS. Joonmyeon terus mengikuti pria itu hingga ke gudang belakang sekolah. Di dalam gudang, ia melihat seorang namja mengenakan coat cokelat tua berdiri membelakanginya.

"Err, permisi. Apa yang ingin anda bicarakan tentang Yifan?" tanya Joonmyeom takut-takut. Orang itu membalikkan badannya membuat Joonmyeon terperangah.

"K-kau..."

"Annyeong, Joonmyeon-ah."

.

.

.

"Jadi kau memalsukan kematianmu, karena beberapa orang mengincarmu?" Joonmyeon tidak tahu harus berkata apa. Melihat orang yang 2 minggu yang lalu dikabarkan meninggal, kini tengah meminum Frappucino di depannya. "Jongin, jawab aku."

"Kan tadi sudah kubilang, kenapa kau bertanya lagi?" jawab Jongin cuek seraya meminum Frappucinonya.

Ya, orang yang tadi itu Jongin. Kim Jongin. Ia terlalu sibuk melamun, membuatnya tidak mendengarkan Jongin. Dan ia juga tidak tahu, kenapa sekarang Jongin mengenakan coat lengan panjang, topi, kacamata hitam dan masker.

"Bisa tolong jelaskan lagi? Aku masih tidak mengerti." pinta Joonmyeon. Jongin memutar bola matanya kesal seraya menghela nafas.

"Aku memiliki info tentang keluarga Park. Dan kalau kau bertanya-tanya, aku mendapatkannya dari hoobae bernama Park Jimin, bukan dari seonsaengnim kesayanganmu itu." ucapan Jongin membuat Joonmyeon menggeram kesal. "Info itu bisa membuat keluarga mafia tersebut berada di ambang kekalahan atau yang lebih buruk, hancur. Karena itu, mereka mengirim pembunuh bayaran untuk mencariku."

"Lalu untuk apa kau mencariku? Dan apa hubungannya dengan Yifan?"

"Nah, aku memerlukan handphoneku kembali. Aku menitipkannya pada Yifan agar handphone itu aman selama aku 'meninggal'. Aku mencarimu, karena kau adalah orang yang paling dekat dengannya." terang Jongin.

"Mian, tapi aku tidak tahu di mana handphonemu itu." jawab Joonmyeon to-the-point.

"Ah, sudah kuduga."

"Hei, kau tahu? Yifan jadi sering melamun saat kau 'meninggal'." Joonmyeon asal saja bicara, ia sedikit kesal dengan Jongin.

"Ah, begitu?" Jongin masih sibuk menyeruput Frappucinonya. "Oiya, bisakah kau membantuku mencari handphone itu? Kalau kau mau, fotomu akan kuhapus, bagaimana?"

"Ani." Bagaimanapun juga bagi Joonmyeon, Yifan adalah orang yang paling disayanginya setelah orangtuanya. "Yifan hyung orang yang paling penting bagiku. Mana mungkin aku akan berbuat seperti itu?"

"Hmpft!" Jongin mempoutkan bibirnya kesal.

"Kau lebih baik beri tahu Yifan bahwa kau masih hidup."

"Untuk apa? Dia tidak pernah menjawab pesanku. Bahkan aku sudah menggunakan ringtone spesial." Perkataan Jongin membuat sesuatu menjadi jelas bagi Joonmyeon.

"Jadi?! Kau yang memasang ringtone 'itu'?!"

"Eum, aku hanya ingin dianggap spesial olehnya."

"Kau tahu?! Yifan hyung kira aku yang mendesah!" omel Joonmyeon. "Pokoknya kau harus memberi tahu Yifan hyung kalau kau masih hidup! End of story!"

"Baiklah~.. 'Yifannie, aku masih hidup. Masih tertarik untuk menebak passwordnya?' There. Aku sudah mengirimnya." ucap Jongin seraya menekan tombol 'send'.

'Ahhhn~'

Bersamaan dengan mereka melihat ke sekeliling café, seorang namja tinggi dengan rambut pirangnya baru saja keluar dari café.

"Shit! Sepertinya Yifan hyung membuntutiku!" gerutu Joonmyeon.

.

.

.

Jongin masih hidup.

Itulah yang ada di benak Yifan. Ya, tadi dia memang membuntuti Joonmyeon. Ia melihat sepupu kesayangannya itu memasuki mobil orang asing karena itu dia memutuskan untuk mengikutinya, memastikan tidak terjadi apa-apa. Tidak disangkanya dia malah mengetahui fakta yang mengejutkan.

"Jongin.. Dia masih hidup.." Sedari tadi, itulah yang dia gumamkan.

Ia tidak tahu, apa yang ia rasakan. Senang? Tidak. Sedih? Tidak. Lega? Hmm, mungkin itu lebih cocok. Yifan masih melamun di tempat tidurnya saat pintu kamarnya dibuka dengan kasar.

"Hyung! Kau tadi membuntutiku kan?!" Yifan duduk bersandar di tempat tidurnya, memperhatikan Joonmyeon yang tampaknya begitu kelelahan.

"Ah, nde. Mian, aku hanya mengkhawatirkanmu." Pandangan Yifan kembali teralihkan ke langit-langit kamarnya.

"Gwaenchana, bukan itu yang kumaksud." Joonmyeon beranjak duduk di samping Yifan. "Hyung, aku berani bersumpah, aku tidak tahu apapun tentang Jongin kecuali setelah dia memberitahuku tadi."

"Nde, aku tahu. Aku tadi menguping, babo." Yifan menyunggingkan smirknya dan mengacak rambut Joonmyeon. Joonmyeon menggerutu seraya merapihkan rambutnya lagi. "Hanya saja, kenapa dia tidak memberitahuku langsung?"

.

.

.

"Hyung, kau ingin kumasakkan sekarang?" Joonmyeon meletakkan kantung belanjaannya di meja dapur, sementara Yifan sedang melepas sepatunya. Memang ini rutinitas mereka. Setiap 2 minggu sekali, Joonmyeon akan memasak untuk Yifan di apartment Yifan. Mengingat sifat Yifan yang tidak pedulian, kadang Joonmyeon malah merasa seharusnya ia tinggal dengan Yifan.

"Ah, aniyo. Aku masih belum lapar." jawab Yifan. Ia menjatuhkan tasnya sembarangan di lantai lalu merebahkan tubuhnya di sofa dengan kaki yang menggantung (salahkan tubuhnya yang kelewat tinggi). Joonmyeon mulai memasukkan barang-barang belanjaanya ke kulkas dan lemari.

"Bagaimana kabar Hyungjin? Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya di Korea." Park Hyungjin. Adik tiri Yifan yang berbeda ayah dengannya. Tapi, ia tetap menyayanginya layaknya ia menyayangi Joonmyeon. Kini, Hyungjin tinggal di Kanada dan bersekolah di sana.

"Entah, terakhir kuingat dia memberitahuku bahwa namanya di sana adalah Jayden Park bukan Park Hyungjin. Katanya agar teman-temannya mudah memanggilnya." jawab Yifan malas. Adik kesayangannya itu sudah lebih dari 4 bulan tidak menghubunginya.

"Oh, geuraeyo? Semoga dia cepat kembali aku lumayan merindukannya."

"Bukankah waktu itu kau ngambek padaku dan Hyungjin karena kami membuatmu terlihat kecil." Yifan terkekeh mengingat waktu itu. Mereka bertiga pergi jalan-jalan dan Joonmyeon harus memerima nasibnya yang terlihat seperti anak kecil di antara 2 menara yang menjulang tinggi. Setelah itu, Joonmyeon merajuk selama 4 hari.

"Ya! Salahkan kalian yang tinggi-tinggi!" Joonmyeon sudah selesai membereskan barang belanjaannya. Ia menghampiri Yifan lalu merebahkan dirinya di atas Yifan, menindihnya.

"Bangunlah, kau berat."

"Tidak mungkin, paling beratku hanya sepertiga berat badanmu." Yifan akhirnya bangkit dengan paksa membuat Joonmyeon hampir terjungkal. Ia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Joonmyeon yang mengomel tidak jelas. Ia menyalakan lampunya saat matanya menangkap sesuatu di tidurnya. Ia menyunggingkan smirknya sebelum berbicara kepada Joonmyeon. "Joonmyeon, sepertinya kau bisa memasak sekarang."

"Eh?"

"Sepertinya kita kedatangan tamu."

TBC

Aku mengalamai writers block, duh. Mungkin ff ini akan selesai dalam 2-3 chapter lagi. Tapi aku akan ada UTS karena itu aku harus belajar dulu. Ah, aku benci belajar!

RnR, Annyeong!