Game
Pairing: KrisKai
Rating: K+
Warning: OOC, AU, Sho-ai Typo(s)
Notes: ceritanya semacam remake dari episode 'Sherlock' yang 'A Scandal in Belgravia'.
DLDR! No bash or flame!
Preview Last Chapter
"Joonmyeon, sepertinya kau bisa memasak sekarang."
"Eh?"
"Sepertinya kita kedatangan tamu."
.
.
.
"Ahh~, sarapanmu benar-benar enak Joonie hyung~" Jongin tersenyum puas setelah selesai menghabiskan mac and cheese buatan Joonmyeon. Joonmyeon hanya menatapnya datar sementara Yifan menyunggingkan smirknya.
Bagaimana Jongin bisa ada di apartment Yifan? Ayo kita kembali ke beberapa jam yang lalu.
FLASHBACK
"Joonmyeon, sepertinya kau bisa memasak sekarang."
"Eh?"
"Sepertinya kita kedatangan tamu."
Saat ini, Kim Jongin tengah tertidur di kasur Yifan. Selimutnya menutupi ujung kaki hingga pundaknya, menyisakan surai hitam kecoklatannya dan wajahnya yang damai. Mendengar perintah Yifan, Joonmyeon buru-buru menghampiri Yifan, membuatnya terkejut.
"K-Kim.. Jongin?"
"Yap."
"Dia.. Kasurmu.."
"Yeah."
"Tidur..."
"Bukankah itu sudah jelas?" Yifan sudah hafal dengan kebiasaan sepupunya itu. Jika melihat sesuatu yang membuatnya terkejut atau kaget, ia akan speechless.
"Bagaimana..?"
"Dunno, let him sleep for now. But first thing in the morning, i'll ask him how did he get in and what do he wants." Melihat wajah bingung sepupunya, membuat Yifan tertawa.
"Hyung! Kau kan tahu, aku tidak jago bahasa inggris!"
"Haha, mian. Sekarang, biarkan dia tidur. Besok pagi akan kutanyakan." Joonmyeon membulatkan mulutnya membentuk huruf 'o' dan mengangguk tanda mengerti. "Aku sudah lapar, tolong masak makan malamnya sekarang."
"Nde."
End of Flashback
KRTK
"Agh!" Yifan sedang meregangkan ototnya yang kaku. Semalam ia tidur di sofa di ruang tamu, sementara Jongin tidur di kamarnya dan Joonmyeon tidur di kamar Hyungjin yang kosong.
"Sudah kubilang, seharusnya hyung saja yang tidur di kamar Hyungjin." omel Joonmyeon. Ia mengangkat piring-piring kotor di meja dan meletakkannya di wastafel. Ia terlalu malas untuk mencuci. "Dan Jongin, jangan memanggilku Joonie hyung. Menggelikan jika kau yang memanggilnya.
"Tapi kau kan biasa tidur di situ, lagipula kau kan tamu. Bagiku, tamu itu raja." terang Yifan. Joonmyeon mempoutkan bibirnya lalu memukul belakang kepala Yifan. "Aw!"
"Babbo."
Sementara Jongin? Dia terlalu sibuk menonton Pororo di TV di ruang tamu.
Yifan bangkit lalu duduk di samping Jongin. Jongin masih sibuk menonton sementara Yifan sibuk dengan pikirannya.
"... Ah, ne. Tunggu aku sekitar 20 menit. Aku akan ke sana." Joonmyeon menutup sambungannya.
"Siapa?"
"Park seonsaeng. Dia 'membutuhkanku' sekarang." ucap Joonmyeon. Ia mengambil tasnya di kamar sebelum menghampiri Yifan. "Aku pergi dulu, hyung. Nanti malam, mungkin aku tidak akan menginap.
Sepupuku yang pencandu kopi itu akan datang."
"Yang kekanakan atau yang diva?"
"Yang seperti diva."
"Oh, sampaikan salamku untuk Himchan."
"Nde. Bye, hyung~" bersamaan dengan itu, pintu depan tertutup. Meninggalkan Jongin dan Yifan sendirian.
"Jadi?"
"Aku ingin meminta handphoneku lagi." jawab Jongin tanpa mengalihkan pandangannya. "Kembalikan."
"Ani."
Jongin mempoutkan bibirnya, lalu beranjak duduk di pangkuan Yifan. Ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Yifan. Mempoutkan bibirnya, dan membuat matanya menjadi memelas.
"Jebal, Yifan. Nanti kau akan kuberikan 'hadiah'." ucap Jongin, diakhiri dengan 'wink'. Yifan terkekeh pelan. Tangannya beranjak mengelus sisi luar paha Jongin yang berada di samping kedua sisi tubuhnya. Dan-entah kebetulan atau tidak-, Jongin memilih hari ini untuk mengenakan loose t-shirt berwarna putih dan denim short pants yang menutupi tidak lebih dari setengah pahanya. Jongin menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya, saat...
'Do you remember we were sitting there by the water?
You put your arm around me for the first time'
Yifan buru-buru mengambil handphonenya, membuat Jongin yang menahan tawanya hampir terjungkal.
"Lol. Yifan, kau... Hahahaha!" Jongin sudah tidak kuat menahan tawanya. Yifan hanya mendeath glarenya lalu membaca pesan tersebut.
'From: Zitao :3
Subject: None
Gege, bisakah nanti kita bertemu di café 'The Classics' di mall? Aku ingin membicarakan sesuatu perihal Jongin.'
Yifan melirik ke arah Jongin yang masih tertawa, sebelum membalas pesan itu.
'To: Zitao :3
Subject: re: none
Sure, bagaimana kalau sekarang? Kebetulan aku sedang membolos.'
'From: Zitao :3
Subject: re: none
Eish! Jangan suka membolos, ge. Baiklah, nanti jam 2 di 'The Classics'. Annyeong!'
"Jongin, aku mau keluar. Kau mau ikut atau tidak?" Jongin menjawabnya dengan anggukkan.
"Aku mau mencari CD baru, kudengar belakangan ini banyak lagu baru."
"Kalau begitu, ganti baju sana."
"Haii~"
.
.
.
"Temui aku di depan departement store pukul 2 jam lagi, selama itu kau bebas mau pergi ke mana." perintah Yifan. Sebelum Jongin benar-benar pergi, ia masih sempat berteriak. "Hati-hati terhadap orang-orang yang mencurigakan! Percuma kalau kau coba kabur, handphonenya masih ada padaku!"
"Hum, ndeee~" jawab Jongin. Ia berjalan menjauh, masih dengan menggerutu. Yifan tersenyum lalu mendorong pintu masuk café itu. Wangi kopi yang baru digiling langsung menyambutnya. Ia menghampiri meja seorang namja berambut dirty blonde yang berpakaian formal.
"Annyeong, Zitao." Yifan duduk di depan namja itu. Namja itu segera mengalihkan perhatiannya dari handphonenya dan tersenyum.
"Ah, annyeong Yifan-ge." sapa Zitao. "Aku tau gege tidak suka bertele-tele, karena itu aku akan langsung saja. Aku mewakili kepolisian Seoul, meminta bantuan gege."
"Maksudmu?"
"Keluarga mafia Park itu sudah kami buru bertahun-tahun. Tetapi, tetap saja mereka selalu berhasil lolos. Kami tahu kalau Jongin mempunyai informasi keluarga Park di handphonenya, karena itu kami memerlukan bantuanmu. Tolong berikan kami informasi di handphone Jongin."
"Percuma, kau tahu? Aku tidak tahu passwordnya." Yifan mengaduk lattenya yang baru saja datang.
"Tapi, ge~" Zitao mengangkat kedua tangannya yang terkepal. "Bbuing buing~"
"Aishh, arraseo."
"Yayyy! Wo ai ni, Yifan-ge."
.
.
.
.
"Haha! Dan kau harus melihat wajah Joonmyeon saat itu!" ucap Yifan seraya tertawa lepas. Di depannya, Zitao memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa
RIIING
'Untung aku sudah mengganti ringtoneku.' batin Yifan. Ia membuka handphonenya dan melihat caller IDnya.
'Kim-fuckin'-Jongin
Calling'
"Anny-"
"Ya! Wu Yifan, Li Jiaheng, Kris Wu, Kevin Wu atau siapalah namamu, cepatlah! Aku sudah selesai lebih dari setengah jam yang lalu!" Belum sempat ia menyelesaikan sapaan-nya, teriakan Jongin sudah menyambutnya. Ia menjauhkan handphonenya sedikit, tidak ingin merusak gendang telinganya.
"Sebentar." bisiknya pada Zitao. Zitao mengangguk dan kembali bermain dengan handphonenya. "Haishh, arraseo! Tunggu aku 15 menit lagi!"
"5 menit!"
"Haishh, arraseo! Jinjja, kau benar-benar merepotkan!" Dengan itu, Yifan memutuskan hubungan secara sepihak.
"Nugu?"
"Jongin." Yifan mendorong kursinya dan bangkit. "Aku duluan, ne? Kau yang traktir ya?"
"Aishh! Gege pelit!" Zitao menggerutu, sementara Yifan tertawa evil seraya keluar dari café. Ia melngkahkan kakinya ke department store. Di depannya, ia melihat Jongin yang tengah duduk di bangku mall dengan bibir yang dipoutkan. Di tangannya terdapat plastik dengan merek salah satu CD store.
"Yo." sapa Yifan. Melihatnya, Jongin makin mempoutkan bibirnya. Yifan menghela nafas dan duduk di samping Jongin. "Wae? Kau marah?"
"Oh tidak, kalau kau maksud aku marah karena kau telat lebih dari setengah jam, aku tidak marah kok, Wu Yifan." jawab Jongin dengan nada sinis dan penekanan pada kata Wu Yifan. Yifan menghela nafas (lagi). Tiba-tiba Jongin merasa pipinya dingin.
"Here." Yifan menempelkan segelas Frapppucino ke pipi Jongin. Jongin mengambil gelas yang disodorkannya.
"Gomawo..." ucap Jongin pelan. Egonya terlalu tinggi untuk mengucapkannya dengan jelas. Jongin rasa wajahnya mulai memerah sekarang. Yifan bangkit dan mengulurkan tangannya, Jongin hanya menatapnya bingung.
"Ayo pulang." ucap Yifan. Dengan ragu, Jongin menerima uluran tangannya. Ini pertama kalinya, seseorang bersikap sebaik itu padanya.
"Nde."
TBC
Ahhh! Writer's block! Chapter yang ini lama kutulisnya. Aku juga minta maaf kalau di sini kurang fokus sama jalan ceritanya. Chapter ini nggak terlalu ada hubungannya. Tapi aku merasa enjoy setiap menulis percakapan KrisHo. Entah kenapa aku suka brothership!KrisHo.
Dan soal UTS... untunglah gak ada yang remedial meskipun pas-pasan nilainya. Oh ya, ada yang suka DGM atau HOTD gak?
RnR, annyeong!
