Game

Pairing: KrisKai

Rating: K+

Warning: OOC, AU, Sho-ai Typo(s)

Notes: ceritanya semacam remake dari episode 'Sherlock' yang 'A Scandal in Belgravia'.

DLDR! No bash or flame!

Preview Last Chapter

"Gomawo..." ucap Jongin pelan. Egonya terlalu tinggi untuk mengucapkannya dengan jelas. Jongin rasa wajahnya mulai memerah sekarang. Yifan bangkit dan mengulurkan tangannya, Jongin hanya menatapnya bingung.

"Ayo pulang." ucap Yifan. Dengan ragu, Jongin menerima uluran tangannya. Ini pertama kalinya, seseorang bersikap sebaik itu padanya.

.

.

.

"Ah, kalian pergi ke mana? Ini sudah larut." Suara lembut Joonmyeon menyapa mereka saat mereka baru sampai. Yifan dan Jongin melepas sepatu dan kaus kaki mereka yang basah kuyup. Well, mereka tidak menyangka kalau hari ini akan turun hujan. Yifan tadi membawa motornya, karena itu apa boleh buat.

"Bertemu Zitao lalu kehujanan." jawab Yifan. Jongin berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan jejak kaki becek sepanjang jalan. Joonmyeon menggerutu soal membersihkan sesuatu, entahlah. "Kau masak apa? Dan bukankah seharusnya kau menyambut Himchan?"

"Ah, badanku sakit semua jadi aku membelikanmu pizza. Himchan kabur ke rumah namjachingunya, katanya dia malas menghadiri acara keluarga seperti itu. Jadi aku izin menginap di sini." terang Joonmyeon. Bibirnya mengerucut saat menceritakan perihal Himchan. Sepupunya itu memang seenaknya. Yifan terkekeh dan mengusak rambut Joonmyeon. "Hya! Basah, hyung!"

"Dasar, makanya kalau 'Bermain', jangan kasar." ucapan Yifan membuat wajah Joonmyeon seketika memerah. Ia memukul Yifan sementara Yifan hanya menjulurkan lidahnya.

"Mandilah hyung, gunakan kamar mandi di kamar Hyungjin. Aku berani bertaruh pasti Jongin tengah berendam di bath tubmu hyung."

.

.

.

.

Jongin sibuk memggumamkan lagu seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia sudah mengganti bajunya dengan kaus hitam dan celana kain panjang bermotif kotak-kotak.

"Jongin-ah, kau ingin makan? Ada pizza." tanya Joonmyeon seraya mendudukkan dirinya di samping Jongin di sofa. Jongin mengangguk, tapi tidak beranjak di sofa. Dia malah membuat puppy eyes kepada Joonmyeon. "Aish, arraseo. Akan kuambilkan."

"Yayyy! Saranghae Joonie hyung~"

Joonmyeon beranjak ke dapur mengambil box pizza. Jongin merebahkan dirinya di sofa, memeluk bantal di sampingnya.

"Hey, minggir. Aku mau duduk." Jongin menaikkan kakinya, memberi tempat bagi Joonmyeon untuk duduk di ujung sofa. Joonmyeon meletakkan box pizza itu di coffee table, mengambil satu slice pizza lalu memakannya. Jongin juga mengambil satu slice lalu menegakkan dirinya dan bersandar pada sandaran ujung sofa. Kedua kakinya tetap ia selonjorkan di sofa.

"So, Joonie-"

"Joonmyeon."

"Ok ok, Joonmyeon hyung. Apa hubunganmu dengan Yifan." tanya Jongin. Joonmyeon hanya menjawab kalem sembari memakan pizzanya.

"Dulu,*munch* aku dan Yifan hyung *munch* juga Hyungjin *munch*-" ucapan Joonmyeon dipotong oleh Jongin yang langsung merebut pizzanya.

"Hentikan makanmu. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."Joonmyeon mengangguk saja.

"Dulu, aku, Yifan hyung dan Hyungjin-namdongsaeng Yifan-sering bermain bersama. Awalnya, kami hanya berteman akrab. Tapi eommaku dan māmā Yifan hyung memberitahu kalau kami sepupu. Sejak itu, kami makin akrab dan selalu pergi ke manapun bertiga." Joonmyeon menarik nafas sebentar. "Lalu, 2 tahun lalu Hyungjin pindah ke Kanada. Ia ingin menemani māmā mereka juga bersekolah di sana. Jadi, sekarang di rumah ini hanya ada Yifan hyung. Appa kandung Yifan hyung sudah meninggal, sementara appa tirinya juga tinggal di Kanada hanya saja dia sibuk."

"Aku turut berduka."

"Gwaenchana, tapi gomawo." Joonmyeon melanjutkan ceritanya. "Setidaknya, dengan Hyungjin pindah aku tidak harus repot mengurus dua tiang yang sifatnya tidak berbeda jauh itu. Mereka berdua sama-sama tidak perduli dengan diri mereka sendiri. Mereka jarang makan dan tidur pun selalu kurang."

"Sepertinya mereka sangat menyayangimu dan over kepadamu."

"Eum, bahkan kata eomma dia setuju saja menikahkan kami bertiga." Mendengarnya, Jongin tiba-tiba tersedak pizzanya sendiri. Ia buru-buru menelannya dan menormalkan nafasnya. "Dan lagi māmā juga menyetujuinya. Seumur hidup, aku baru pernah pacaran satu kali. Itupun dengan Hyungjin. Karena mereka berdua yang over, banyak namja dan yeoja yang takut denganku. Karean itu aku tidak ada yang mau berpacaran denganku. Park sonsaengnim saja yang cukup gila untuk mendekatiku."

"Must be hard for you."

"Bicara bahasa korea."

"Itu pasti sulit bagimu." Joonmyeon mengangguk sebagai jawaban.

"Oh iya! Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan dengan fotoku dan Park seonsaeng?" tanya Joonmyeon.

"Entah, aku sudah menghapusnya." jawaban Jongin sontak membuat Joonmyeon terkaget.

"Mwo?! Kenapa kau tidak memberi tahu Yifan hyung?!"

"Biarkan, aku suka melihatnya mengejar-ngejarku seperti ini." Jongin menyunggingkan smirknya. Joonmyeon menutup mulutnya dengan tangannya, tanda ia tidak akan membocorkannya.

"Jongin-ah, sepertinya kau menyukai Yifan hyung ya?"

"Ani, aku hanya suka melihatnya berusaha seperti saat ini."

"Ya memang, dia terlihat keren kalau dia sedang terfokus seperti ini." Jongin mengangguk menanggapi ucapan Joonmyeon. "Padahal biasanya dia hanya tidur seharian seperti beruang berhibernasi."

"Haha, bisa kubayangkan." Jongin tertawa dengan tulus. Well, seorang Kim Jongin tertawa adalah hal yang langka. Tertawanya selalu palsu atau hanya tawa meremehkan. "Dan setiap kau menyuruhnya bangun, pasti dia akan mengeluh dan makin bergelung di selimut."

"Yap, itulah Yifan hyung. Bahkan aku saja lebih dewasa darinya."

"Tapi itu yang menarik darinya." ucapan Jongin membuat Joonmyeon menoleh ke arahnya. Untuk sementara, ekspresi Jongin terlihat melembut.

"Joonmyeon-ah, aku lapar." Tiba-tiba Yifan sudah berbaring di lantai di bawah sofa. Joonmyeon terkekeh lalu menunjuk ke arah box pizza di atas coffee table. Yifan langsung mengambil satu slice lalu menggigitnya. "Hei, apa yang tadi kalian bicarakan?"

Jongin menyeringai ke arah Joonmyeon. Ia menempelkan telunjuk kanannya di depan bibibirnya seraya mengedipkan sebelah matanya. "Ra. Ha. Si. A."

"Joonmyeon-ah?"

"Ini obrolan rahasia kami berdua hyung." Joonmyeon tertawa melihat reaksi hyungnya yang seolah tengah merajuk itu. Jongin? Ingin rasanya ia memotret ekspresi Yifan dengan polaroidnya.

"Ya sudah, kalau begitu."

.

.

.

Tiba-tiba Yifan melemparkan sesuatu kepada Jongin. Handphonenya. "Seperti yang kau bilang waktu di cafe, tunjukkan informasi keluarga Park padaku."

"Kau memang benar mengikuti kami waktu itu." ucap Jongin. Jari-jarinya mengetik password tersebut.

'WRONG PASSCODE

3 ATTEMPTS REMAINING'

"Salah." ucap Jongin dengan senyum meremehkan di wajahnya.

"Yap, karena itu hanya duplikat yang kubuat." Yifan merebut handphone duplikat itu, dan mengeluarkan handphone yang asli dari sakunya. "Dan tadi kulihat kau mengetik 141. Kupikir kau akan menggunakan kode yang lebih rahasia."

Yifan pun mengetik '141' di handphone Jongin, yang asli tentunya. Jongin tidak memperhatikan, ia asyik memainkan rambutnya. Joonmyeon? Daripada menjadi obat nyamuk, ia lebih memilih pergi.

'WRONG PASSCODE

3 ATTEMPTS REMAINING'

"Handphone itu nyawaku. Aku tahu mana yang asli." jawab Jongin. Seringain di bibirnya makin melebar.

"Aha, pintar." Yifan memberikan handphone itu. Jongin melirik ke arah Yifan, seolah menyuruhnya untuk tidak melihat. Yifan langsung mengalihkan pandangannya. Jongin buru-buru mengetik passwordnya dan mencari informasi tentang keluarga Park.

"Igo." Jongin memberikan handphonenya pada Yifan. Yifan menscroll ke bawah, membaca macam-macam informasi keluarga Park yang didapatnya.

"Wow." Yifan bersiul kagum melihat informasi yang dimiliki Jongin. Ia rela memberikan apa saja untuk memiliki handphone ini. Jongin tersenyum puas melihatnya dan mengambil handphonenya kembali.

"Kalau kau ingin, silahkan menebak." ucap Jongin. Ia mematikan handphonenya dan memberikannya ke Yifan. "Oiya, 3 minggu lagi libur Chuseok kan? Aku akan pergi berlibur. Kalau ingin menangkapku, lakukan sebelum itu. Atau kau akan kehilanganku." Jongin membisikkan kalimat terakhir di telinga Yifan.

"Annyeong, Wu-Yi-Fan~"

.

.

.

TBC

Akhirnya update ._.
Setelah sekian lama ._.
Jeongmal mianhae! Kupikir chapter ini masih banyak yang harus kutulis, ternyata tinggal sedikit jadi aku lanjutin. Jeongmal mianhae!

Chapter berikutnya, aku nggak tahu bakal lama atau nggak updatenya. Terima kasih buat yang udah mau nunggu fanfic ini

Dan aku minjem nama Eden buat jadi adik tirinya Kris. Because they're both canadian, tall, handsome, fluent in english, rapper of the group, and they both have deep voice.

Annyeong~