Frenemies?
Pairing: MyungJoe, slash!WoohyunxLjoe
Rating: T
Disclaimer: Teen Top belongs to Top Media, Infinite belongs to Woolim ent., Topp Dogg belongs to Stardom Ent.
Warning: Sho-ai, AU, OOC, Typo(s)
Note: pure from my own imagination, DLDR!, do not bash or flame
.
.
.
Tik Tik
Suara detik pada jam tangan Byunghun seolah menemaninya. Ia tengah duduk di ruang kelas. Jam belajar mengajar sudah selesai dari tadi. Ia menungguinya.
Tas milik Myungsoo masih ada di mejanya. Kemungkinan besar, Myungsoo tertidur di perpustakaan, UKS, atau di pohon belakang sekolah.
GREEK
"Ah, Byunghun-ah!" Nam Woohyun. Namja itu masuk lalu menutup pintu kelas dan duduk di hadapan Byunghun.
"Kenapa kau di sini?"
"Menggantikan Ricky. Seharusnya hari ini gilirannya untuk patroli, tapi dia sudah kabur ke game center." keluh Woohyun, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kau masih di sini? Aku sudah mau mengunci kelas ini tadi."
"Byunghun, aku menunggunya."
"Tadi dia tertidur di UKS. Aku sudah membangunkannya, sebentar lagi dia sudah di sini."
GREEK
"Ah, itu dia."
Myungsoo, dengan tampangnya yang masih mengantuk, masuk dan mengambil tasnya. Ia tidak menoleh ke arah Byunghun atau Wooohyun sedikitpun. Meskipun begitu, Woohyun menyadari bahwa Myungsoo sesekali melirik ke arah mereka. Woohyun menyeringai lalu memajukan badannya, membuat jarak antara wajahnya dengan Byunghun cukup dekat.
"Kalau begitu aku patroli lagi, ne?" ucap Woohyun. Woohyun memajukan badannya lagi dan mengecup bibir Byunghun. Ia lalu berjalan keluar kelas, melambaikan tangannya ke Byunghun. "Annyeong, Byunghun-ah."
Byunghun terdiam untuk beberapa saat. Saat otaknya mulai berfungsi kembali, ia menggigit bibirnya kesal.
"Woohyun, kau namja sialan~!"
.
.
.
Woohyun menggumamkan lagu favoritnyal seraya mengecek setiap kelas yang kosong dan menguncinya. Tetapi berbeda dengan ruang musik. Ada seseorang di situ.
"Ah, Myungsoo!" Woohyun tersenyum senang saat melihat Myungsoo yang tengah duduk di ruang musik. Myungsoo hanya menjawab dengan 'Hm'. "Kenapa kau belum pulang? Kupikir kau sudah pulang. Byunghun juga belum pulang, kalian mau pulang ber-?"
"Apa maumu?"
"Eh?"
"Apa maumu dengan Byunghun? Aku melihatnya tadi." tanya Myungsoo. Matanya tidak menatap Woohyun melainkan poster-poster musik di dinding. Raut wajah Woohyun menunjukkan bahwa dia bingung. "Aku lihat kau mencium Byunghun tadi."
"Oh, yang itu." Woohyun menepuk jidatnya, tersenyum tanpa dosa. "Aku tertarik padanya. Tidak apa kan kalau dia untukku saja? Toh, kau kan tidak ada hubungan dengannya."
Myungsoo mengepalkan tangan kanannya. Woohyun menyeringai melihat reaksi Myungsoo, seperti yang ia harapkan. 'Sebetulnya, ini hanya rencana remeh sih.' pikirnya.
"Tapi mungkin aku akan berhenti mendekati Byunghun, kalau kau menuruti rencanaku."
"Jinjja?" tanya Myungsoo ragu yang dijawab dengan anggukkan oleh Woohyun. "Apa yang harus kulakukan?"
.
.
.
Byunghun berjalan keluar kelas. Toh, Myungsoo sudah pulang untuk apa ia menungguinya lagi. Berjalan sambil melamun, membuat konsentrasinya buyar. Tanpa sadar, ia melewatkan salah satu anak tangga, membuatnya jatuh tersandung. Tubuhnya terguling hingga anak tangga paling dasar.
"Awh!" rintih Byunghun. Beruntung kepalanya tidak terbentur. Ia mengecek tubuhnya. Ia tidak apa-apa, tetapi pergelangan kaki kirinya terkilir. "Aku bahkan khawatir aku bisa berjalan sampai ke rumah."
Dengan begitu, Byunghun berjalan pulang dengan langkah pincang. Langkahnya berhenti saat ia melihat seorang anak kecil-namja- tengah duduk di trotoar sambil menangis tersedu-sedu. Ia memutuskan untuk menghampirinya. Bukan hanya karena itu etika, tetapi anak itu mengingatkannya akan diri Myungsoo dulu.
"Annyeong... Gwaenchanayo?" sapanya. Anak itu menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk lututnya kedua lututnya yang lecet dan pergelangan kakinya yang bengkak.
"Kau... Kakimu terkilir?" Anak itu mengangguk.
"Bisa berjalan?" Anak itu menggeleng. Byunghun pun berinsiatif untuk mengantarkan anak itu pulang. Ia berjongkok di hadapan anak itu. "Ayo naik ke punggung hyung. Kau akan ku antar pulang."
Anak itu naik ke punggung Byunghun, memeluk lehernya erat. Byunghun perlahan berdiri. Ah, ia lupa kakinya terkilir. Keseimbangannya hilang dan ia terjatuh ke depan.
GREB
"Dasar wakil bodoh." Seseorang memeluk pinggang Byunghun, menahannya agar tidak terjatuh. Byunghun menoleh dan menggeram kesal.
"Yak! Kim Myungsoo!" gerutunya. Myungsoo mengabaikannya dan mengambil (?) anak itu lalu menggendongnya di punggungnya sendiri. "Ya! Wae?! Aku bisa menggendongnya sendiri!"
"Bodoh, kalau begitu tadi itu apa?" tanya Myungsoo, merujuk ke saat Byunghun hampir terjatuh. Byunghun mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. "Emosional."
"Mworago?! Tidak berperasaan!"
"Sok gentleman."
"Pembangkang!"
"Bodoh."
"Tidak pedulian!"
"Pendek."
"Aish! Kim Myungsoo menyebalkan!"
.
.
.
"Lalu belok kiri?" Byunghun bertanya pada anak kecil itu. Anak kecil itu mengangguk dengan semangat. Entah bagaimana caranya, sedari tadi Myungsoo bisa membuat anak bernama Jiho (Myungsoo sudah menanyakannya) itu tertawa. Anak itu berteriak kegirangan saat melihat sebuah rumah berpagar kayu, Myungsoo hampir saja menjatuhkan anak itu. Mereka memencet bel rumah itu, dan seorang ahjumma keluar dari dalam.
"Ah! Kalian mengantar Jiho pulang? Gamsahamnida!" tanya ahjumma itu. Myungsoo perlahan menurunkan Jiho, Jiho berjalan-dengan pincang- ke arah ahjumma itu. "Ya! Nappeun! Sudah kubilang jangan membuat masalah! Jeosonghamnida, ne? Jiho membuat masalah lagi?"
"Ah, ani. Tadi kami menemukannya tengah menangis karena kakinya terkilir." jawab Byunghun.
"Sekali lagi gamsahamnida! Kami pamit, ya!" Ahjumma itu menggandeng Jiho dan masuk ke rumah. Sebelumnya, Jiho sempat berteriak.
"Annyeong Myungcoo hyung dan pacalnya Myungcoo hyung!" teriak Jiho. Byunghun shock dan mendeathglare Myungsoo.
"I'm not involved. Jiho sendiri yang bilang seperti itu. Dia bilang, 'Myungsoo hyung, namja itu (re:Byunghun) pacar hyung ya? Soalnya di film yang suka Jiho tonton, kalau suka berantem, pasti ternyata mereka pacaran.'"
"Too much k-drama." keluh Byunghun. Byunghun berbalik, hendak berjalan pulang saat Myungsoo menghentikannya. Myungsoo pun berjongkok di hadapan Byunghun. "Mwo?"
"Naik. Biar kugendong, toh rumah kita bersebrangan."
"Ani, aku akan berjalan saja." tolak Byunghun, berjalan meninggalkan Myungsoo bangkit dan mengejar Byunghun. Ia mengangkat pinggang Byunghun dan ia memanggulnya di pundaknya, seperti karung. "Ya! Apa yang kau lakukan, hah?! Turunkan aku!"
"Ani. Salah sendiri, sekarang diamlah." ucap Myungsoo, menepuk pantat Byunghun.
"Gyah! Pelecehan seksual!" teriak Byunghun. Byunghun terus meronta, membuatnya hampir terjatuh berkali-kali. Myungsoo mendecih kesal, ia pun menurunkan Byunghun.
"Pilih. Kugendong di punggung atau kau jalan kaki pulang? Tapi aku tidak bertanggung jawab kalau lebammu tambah parah." ucap Myungsoo. Byunghun mencibir mendengarnya.
"Baiklah, tapi awas kalau kau berbuat yang aneh-aneh." Byunghun naik ke punggung Myungsoo, memeluk lehernya. Kedua tangan Myungsoo menahan beban Byunghun di belakang lututnya. "Hei Myungsoo."
"Hm?"
"Kau merasa familiar dengan Jiho tidak?" Myungsoo menggeleng. "Dia mirip denganmu kau tahu? Saat dulu aku menghampirimu."
"Ani."
"Dia anak baik, aku menyukainya."
"Kau bukan pedo kan?" Byunghun refleks memukul belakang kepala Myungsoo. "Ah! Hei! Aku bisa jadi bodoh!"
"Bukannya kau memang sudah bodoh?"
"Baiklah, turun. Aku akan pulang sendiri." Myungsoo sudah membungkukkan badannya, ingin menurunkan Byunghun. Byughun buru-buru mempererat pelukannya di leher Myungsoo.
"Ya! Ya! Hajimaa!" teriak Byunghun. Myungsoo tertawa lepas dan mengeratkan pegangannya pada kaki Byunghun.
"Ha ha! Seharusnya kau lihat tampangmu tadi!" Myungsoo masih terus tertawa, dan sepertinya masih tidak akan berhenti. Byunghun senang melihatnya, dan ikut tertawa. Setelah beberapa saat, mereka berhenti tertawa.
"Hei, Myungsoo?"
"Hm?"
"Bisakah kau berjanji satu hal?"
"Nde."
"Teruslah tersenyum dan tertawa seperti tadi, nde?" pinta Byunghun. Myungsoo hanya diam mendengarnya. Ia tidak ingin membuat janji yang belum tentu bisa ia tepati. Ia tipe orang yang akan stress jika ia tidak bisa menepati janjinya. Apalagi dengan orang yang berharga baginya.
"Semoga."
.
.
.
"Jadi, sampai ketemu besok di sekolah?" tanya Byunghun. Myungsoo mengantarnya sampai di depan pintu rumahnya. Toh, rumah Myungsoo bersebrangan dengan rumah Byunghun, jadi tidak apa. Myungsoo mengangguk dan berbalik meninggalkan Byunghun. Byunghun hendak masuk dan teringat sesuatu.
"A-ah! Myungsoo! Ingat permintaanku tadi, ne?!" teriak Byunghun. Myungsoo hanya mengakat tangannya, tanda ia mengerti. Byunghun tersenyum, dan masuk ke rumahnya.
"Bersenang-senang dengan Myungsoo?" Sebuah suara mengagetkan Byunghun. Ia melihat eommanya sudah berdiri di sampingnya, tersenyum jahil. Byunghun menjulurkan lidahnya, mengejek, dan berjalan menuju kamarnya dengan tertatih-tatih. "Omo! Sepertinya Myungsoo bermain kasar denganmu!"
"Eomma berhenti fangirling! Aku dan Myungsoo bahkan sudah tidak berteman! Dan lagi, tadi aku terkilir lalu Myungsoo menggendongku pulang." terang Byunghun. Eommanya menghembuskan nafas. 'Memangnya apa salahnya menjadi fangirl anaknya sendiri?' pikirnya.
"Haish, aku ingin menjodohkan kalian rasanya."
"Eomma!"
.
.
.
Myungsoo berjalan santai di lorong sekolah. Sebuah earphone menutupi kedua telinganya, kedua tangannya ia masukan ke saku jaketnya. Tanpa disadarinya, Byunghun tengah mengejarnya. Namja yang lebih ekhem-pendek-ekhem itu kesusahan mengejar Myungsoo. Salahkan kakinya yang terkilir itu.
Byunghun terbentur punggung seseorang, membuatnya kehilangan Myungsoo. Ia mengelus dahinya dan mendongak, menatap orang itu.
"A-ah!"
"Annyeong, Byunghun-ah."
TBC
Akhirnya update, padahal tadinya storylinenya beda banget sama yang ini ._. Dan Xero, mian, aku minjam namamu ._.
Annyeong~
